Bab 1

Suasana pagi buta yang damai kini tiba-tiba terasa mencekam saat suara gaduh di mansion itu tak hentinya terdengar. Suara tembakan sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Benda-benda jatuh dari tempatnya. Keributan seperti sangat bangga menguasai kedamaian di mansion itu.

Di sebuah kamar mewah, seorang gadis sedang meringkuk di sudut kamarnya karena ketakutan dengan suara mengerikan itu.

Suara pecahan kaca juga semakin sering terdengar.

Pintu kamarnya dibuka dari luar dengan kasar dan sebuah lengan menariknya tergesa. "Nona, ayo berdiri."

Gadis itu mendongak saat mengenali suara itu. "Fira, apa yang terjadi?" tanyanya panik saat melihat pelayan pribadinya tampak ketakutan.

Fira menutup pintu dan menguncinya. Fira menarik gadis cantik itu menuju kamar mandi dan tak lupa juga menguncinya.

"A-apa yang terjadi? Suara apa itu?" Tubuh gadis itu gemetar.

"Nona, buka baju Anda. Kita harus bertukar pakaian." Fira dengan cepat membuka seragam pelayannya.

"Maksudmu? Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu bingung dan semakin panik.

"Nona Neva, kita tak punya waktu lagi." Fira membuka paksa kancing piyama milik gadis yang ia panggil dengan Neva tadi lalu meloloskan pakaian majikannya dengan cepat.

Neva semakin bingung dan hanya menurut saat Fira membantunya memakai seragam pelayan di mansionnya.

Sedangkan Fira segera mengenakan pakaian Neva.

Setelah selesai, Fira yang satu tahun lebih tua dari Neva itu memeluk Neva dengan erat. "Ada penyerangan di mansion, Nona. Bodyguard kita banyak yang tumbang. Kita tidak tahu apa yang mereka incar. Tapi kami semua sudah disumpah oleh Tuan Albert untuk selalu setia. Kami memilih mati daripada berkhianat," jelas Fira secepat mungkin.

Fira tidak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan di sana. Kekacauan di dalam mansion menyurutkan keyakinan Fira jika mereka bisa selamat.

"Fira, apa maksudmu?"

"Mulai sekarang nama Anda adalah Fira. Dan saya Neva. Jangan pernah membongkar identitas Anda pada siapa pun." Fira menggenggam erat tangan Neva.

Suara tembakan yang disusul suara pintu didobrak pun tak memberi Neva waktu untuk mencerna ucapan Fira. Apalagi bertanya lebih jauh.

Fira memeluk Neva dengan lebih erat. Mendekap kepala gadis itu di bahunya. "Semua akan baik-baik saja, Fira," bisik Fira penuh penekanan agar Neva tak menyebutkan namanya nanti.

Brakk!

Pintu kamar mandi didobrak dari luar dan tubuh mereka diseret paksa untuk keluar.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga Neva tak bisa mengerti sama sekali dengan situasi saat ini.

Ia dimasukkan ke dalam mobil bersama pelayan lain dan tak lama mobil itu melaju meninggalkan mansion.

Fira tetap menggenggam jemari Neva, menyuruh gadis itu tetap diam apa pun yang terjadi.

Para pelayan juga tampak ketakutan karena mereka tak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya.

***

Genggaman di jemarinya membungkam Neva sampai seperti orang bisu.

Di depan matanya, Albert—ayahnya— disiksa dengan kedua tangan terikat di belakang kursi dan lebam di wajahnya benar-benar memperihatinkan.

Neva ingin berteriak pada pria-pria menyeramkan yang sedang menyiksa ayahnya untuk menghentikan perbuatan keji mereka.

Namun, para pelayan terus menatapnya dengan memohon agar Neva tak melakukannya. Terlebih lagi Fira, ia begitu melarang Neva melakukan apa pun yang pasti akan membahayakan dirinya sendiri.

Pelayan-pelayan dalam jeruji besi yang sama dengannya itu sudah bersumpah akan setia pada Albert dan akan mengabdikan hidup mereka untuk keluarga Albert. Mereka akan melakukan apa pun untuk melindungi satu-satunya harta Albert yang tersisa, putrinya. Neva Zetrix.

Neva hampir menjerit saat seorang pria melayangkan pukulan ke rahang Albert hingga pria paruh baya itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Neva tak tahan, ia menggeleng pelan pada Fira tapi Fira semakin menggenggam jemarinya dengan erat. Mengatakan jangan.

Pintu ruangan bawah tanah itu terbuka dan memunculkan tiga orang pria lain di sana.

Semua pria di dalam ruangan itu memungkuk hormat padanya, tentu saja kecuali Albert.

Neva menatap benci orang-orang itu dan meneriakkan satu nama dalam hati, 'Doren keparat!'

Kekehan puas keluar dari mulut pria yang dihormati itu saat melihat keadaan Albert yang sudah sekarat.

"Brian Anderson," ucap Albert dengan geraman samar menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Albert juga menatap tajam seorang pria muda yang berdiri di belakang Brian.

Pria yang ia panggil Brian Anderson itu tertawa kencang melihat nyali Albert yang tak surut sedikit pun walau dia hampir mati. Apalagi saat tatapan Albert langsung berpindah pada Doren di belakangnya.

"Kau masih berani menyebut namaku. Well, ini adalah mahakarya paling luar biasa yang pernah anak buahku persembahkan untukku." Brian tertawa lagi dan menangkap tatapan Albert yang masih tertuju pada orang di belakangnya. "Ah, aku hampir lupa." Brian merangkul pemuda yang tadi ada di belakangnya kini berpindah ke sampingnya karena rangkulan Brian.

"Doren Maldive. Orang kepercayaanmu Tuan Albert Zetrixo." Brian tersenyum miring. "Dia sungguh bisa menjadi orang kepercayaan. Dia yang membuka pintu selebar-lebarnya untukku masuk ke kerajaanmu dengan mudahnya."

Lalu Brian mendorong punggung Doren hingga pemuda itu tersungkur di hadapan Albert.

Doren tentu saja terkejut dan menatap Brian bingung.

"Penghianat tetaplah penghianat." Brian mengambil pistolnya dari saku di balik jasnya kemudian menodongkannya pada Doren. Tepat di kepalanya.

"Tu-Tuan ... apa salahku?" tanya Doren panik. "Aku sudah mengabdikan hidupku padamu, Tuan. Kumohon belas kasihmu. Aku bersumpah akan setia padamu, Tuan," ujar Doren takut.

Brian tersenyum sinis. "Kesetiaan adalah harga mati. Kau bekerja enam tahun dengan tua bangka ini dan menghianatinya untuk uang yang lebih besar meskipun kau sudah disumpah, Doren. Oh, maafkan aku yang tak akan sebodoh pria keparat ini dan memberimu celah berkhianat padaku juga."

Dorr!!

Tubuh Doren seketika ambruk saat Brian melepaskan satu pelurunya di kepala Doren.

Tak puas, Brian menambah satu peluru lagi di bagian lain kepala Doren. Ia benar-benar kejam dan tak kenal ampun.

Neva membeku. Doren, pria yang dulu selalu mengantarnya ke sekolah kini mati dengan cara yang keji setelah berhianat pada ayahnya. Parahnya lagi ia mati ditangan pria yang dibantunya untuk menyerang Albert. Orang yang dengan suka rela memungutnya dari jalanan dan menjadikannya orang kepercayaan.

Buruk sekali nasibmu, Doren. Kau bodoh bisa berhianat pada Albert yang jelas-jelas tulus menolongmu.

Albert shock melihat mayat Doren yang hampir menyentuh kakinya.

Ia sudah tak kasihan sedikit pun pada pemuda itu lantaran telah menghianatinya dan membuat gadis tercintanya harus melihat penyiksaan keji ayahnya.

Sedari tadi, Albert terus mencoba tidak menatap Neva. Namun, sesekali matanya memang bergerak refleks menatap putri semata wayangnya itu. Harta peninggalan istrinya yang paling berharga. Ingin sekali Albert menyuruh Neva menutup mata dan telinganya saja daripada melihat ayahnya yang sudah sekarat ini.

Bab 2

Brian meniup ujung pistolnya mengejek lantas kembali menyimpan benda kesayangannya itu di balik jas.

"Aku membantumu menghabisi penghianatmu, Albert," kekeh Brian yang disambut gelak tawa anak buahnya.

Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya. Menghisap dalam-dalam rokok itu dan menyuapkan asapnya ke udara dengan tenang, menatap cincin-cincin asapnya dengan begitu santai seolah tak terusik sedikit pun dengan ceceran darah di sana.

"Bukankah ini sangat menyenangkan?" Brian tertawa kecil, seperti mendapat mainan baru yang tidak ternilai harganya. "Ayolah tua bangka, kenapa kau hanya diam, huh?" Brian sungguh menikmati pemandangan ini.

Albert menatapnya sengit. Ia lebih baik kehilangan hidupnya daripada memberikan apa yang diinginkan Brian.

"Kau perlu sedikit permainan sepertinya." Brian menoleh ke belakang, menatap wanita-wanita yang terkurung di jeruji besi.

Brian mengisyaratkan anak buahnya ke arah tempat tahanan itu.

Perempuan-perempuan itu terlihat panik saat satu anak buah Brian membuka sel tahanan.

Fira meremas kuat jemari Neva agar tak melakukan apa pun.

Neva sudah bercucuran keringat dingin.

Anak buah Brian menarik Fira yang memakai baju berbeda dengan yang lain untuk keluar.

Neva hampir mencegahnya tapi para pelayan lain menahannya dengan tatapan memohon dan dua orang menggenggam lengannya.

Neva menggeleng pelan. Ia tak sanggup lagi. Neva tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Fira di tangan pria kejam seperti Brian.

"Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia, Nona," bisik salah satu pelayan saat Neva melangkah satu kali untuk menghentikannya.

Neva mendesah kasar. Bisakah ia melihat pelayan pribadinya tersiksa karena menggantikan posisinya?

Kenapa juga ia mau bertukar pakaian tadi dengan Fira?

Fira didorong hingga tersungkur di sebelah kaki Brian.

Pria kejam itu membungkuk dan menarik rambut belakang Fira hingga gadis itu mendongak dan meringis menahan perih di kepalanya.

"Kau cantik juga. Siapa namamu, hm?" tanya Brian begitu lembut tapi masih ada seringai mengerikan di ujung bibirnya.

Fira hanya diam dan memandang benci pada Brian. Tentu saja itu membuat amarah Brian terpancing.

Brian menarik rambut Fira semakin kuat hingga gadis malang itu memekik. "Kau ingin ayahmu bebas, Cantik?"

Dari sudut matanya, Fira mencuri pandang pada Albert yang menatapnya iba. Fira tersenyum samar, memberi tahu bahwa ia baik-baik saja. Sampai mati pun Fira bersumpah akan setia pada Albert dan keluarganya.

"Kau bisu, heh?" tanya Brian geram.

"Apa maumu?" balas Fira sinis.

Brian tertawa nista dan melempar wajah Fira ke samping begitu saja hingga perempuan itu kembali tersungkur di lantai yang kotor karena tergenang darah Doren. "Sayang sekali kau tak punya waktu lagi untuk bertanya pada ayahmu, Cantik. Jadi ...." Brian menghisap rokoknya dalam-dalam lantas mengembuskan asapnya perlahan ke udara. "Katakan saja apa kode rahasia tempat penyimpanan senjata milik ayahmu."

Brian berjongkok di hadapan Fira dan mengepulkan asap rokok di wajah gadis itu hingga Fira terbatuk-batuk dibuatnya. Brian terkekeh senang kemudian berbisik dengan suara seraknya. "Jika kau mengatakannya, aku akan membebaskan kalian. Kau, ayahmu, dan para pelayan cantikmu itu."

Fira tersenyum sinis. "Meskipun aku tahu kodenya, aku tidak akan pernah mengatakannya pada pria licik sepertimu. Iblis!"

Brian tertawa kencang karena merasa tertantang oleh gadis ini. "Oh, benarkah? Meskipun aku melakukan ini?" Brian bangkit dan menghampiri Albert, menekan ujung rokoknya pada leher Albert hingga pria berusia empat puluh tujuh tahun itu memekik kesakitan.

Fira memalingkan wajahnya karena tak kuasa melihat orang yang ia hormati merasa kesakitan seperti itu.

"Ja-ngan ka-takan apa pun Nak, argghh!!" jerit Albert menguatkan Fira pada keputusannya. Albert sengaja memancing Brian seolah Fira tahu sesuatu agar Brian tak sampai membunuh gadis itu. Juga agar Brian menyiksanya saja.

"Ck!" Brian berdecak tak suka dan berjalan cepat ke arah Fira. Sepatu besarnya menendang dada Fira hingga gadis itu terjungkal ke belakang. Tanpa belas kasih sedikit pun Brian menginjakkan sepatunya di leher Fira, membuatnya sesak napas dan mencoba menyingkirkan kaki besar Brian dari lehernya yang semakin tercekik.

Brian menekannya semakin kuat. "Bagaimana?" tanyanya pada Albert yang diam-diam berderai air mata yang bercampur darah di wajahnya menyaksikan gadis itu tersiksa karena dirinya. "Apa kode rahasia tempat penyimpanan senjatamu, Pak Tua?"

"Kau a-kan membu-suk di ne-raka," ucap Albert dengan nada parau dan terbata.

"Oh ya? Bagaimana jika aku mengajak putri cantikmu ikut aku ke neraka juga?" Brian menyeringai. "Ini benar-benar drama anak dan ayah yang menyebalkan," decak Brian dan menurunkan kakinya dari leher Fira.

Gadis itu terbatuk hebat dengan leher yang memerah.

Brian menyeringai lagi dan berjongkok di hadapannya, menarik rambut Fira dengan kuat. "Apa kau benar-benar tak takut padaku, Nona? Ayolah, katakan saja kodenya dan aku akan menghentikan penderitaanmu."

Fira meludahi wajah Brian tanpa rasa takut. "Aku tak pernah takut padamu, pria lemah! kau hanya pria lemah yang tega menyiksa wanita dengan keji. Kau tak punya perasaan. Hatimu mati, kosong, dan dingin. Apa ada hidup yang lebih menyedihkan dari perasaan milikmu yang memilukan itu? Kau bahkan tak punya cinta. Kau tak punya tujuan hidup bahagia. Kaulah yang seharusnya mengkhawatirkan hidupmu sendiri. Kau pria dengan kelainan mental, kau akan merasakan mencintai seseorang tanpa dicintai orang itu. Aku bersumpah! Aku yakin takkan ada wanita yang akan mencintaimu dengan tulus. TIDAK AKAN PRRNAH ADA!!"

BRAKK!

Brian memukul wajah Fira dengan tangan kirinya yang memegang pistol hingga mulut wanita itu memuntahkan darah segar.

Brian benar-benar tertohok dengan ucapan Fira. Tujuan hidup bahagia? Apa itu bahagia yang sesungguhnya?

"Kau wanita busuk! beraninya memberiku ceramah memuakkan seperti ini huh?!" maki Brian murka dan menendang perutnya.

Brian mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Menghitung anak buahnya yang ada di sana. "Hanya empat? Hm?" tanyanya pada diri sendiri dan seperti berpikir sesuatu. "Kalian, nikmati tubuh indah Nona Zetrix sampai tua bangka itu mau buka mulut," ucap Brian santai dan menginjak putung rokoknya kemudian keluar dari ruangan berbau anyir itu. Membiarkan empat anak buahnya melecehkan Fira dengan jerit tangis kesakitan gadis itu.

Neva menggelengkan kepalanya saat pandangannya bertemu dengan Albert. Air matanya tak henti mengalir.

Albert menatapnya sendu dan ikut menggeleng lemah. Melarang Neva melakukan apa pun.

"Bos B memberikan kesenangan yang sangat indah hari ini," ucap salah seorang anak buah Brian yang menatap mesum pada Fira dan dengan cepat merobek piyama yang Fira kenakan.

Fira menjerit-jerit dan mencoba meronta sebisanya, berharap ia masih memiliki harapan setelah ini.

Neva mengibaskan tangannya ingin menolong, tapi para pelayan menahannya agar tidak melakukan apa-apa.

Bab 3

Tangisan pilu terus terdengar di sel tahanan bawah tanah milik Brian yang sudah menguarkan bau anyir karena darah yang menggenang seperti menyiram tempat itu.

Neva meratapi nasib Fira yang entah saat ini masih hidup atau tidak. Gadis malang itu telah terbaring tak berdaya di bawah kaki Albert.

Albert sendiri sudah tak sadarkan diri setelah disiksa habis-habisan oleh Brian dan anak buahnya karena tak ingin memberi tahu kode rahasia ruang persenjataan Albert meski diancam menggunakan Fira bersama mayat Doren yang mengeluarkan banyak darah dari kepalanya yang berlubang.

"Fira." Neva bergumam lirih menatap tubuh Fira yang terdapat banyak luka lebam. Mereka memperlakukan Fira seperti binatang. Bahkan binatang pun tak layak diperlakukan seperti itu. Ingin sekali Neva memeluk gadis malang itu dan memberinya perlindungan. Namun, jeruji besi itu menghalanginya. Ia hanya bisa menangis tersedu melihat penderitaan Fira yang seharusnya ada pada dirinya saat ini.

Kepulan asap seperti membantu membuat dadanya sesak. Setelah empat anak buah Brian puas melecehkan tubuh ringkih Fira, mereka kemudian menyulut rokok dan menikmatinya dengan tenang di tepi ruangan.

Neva jijik melihatnya. Mereka bukan lagi binatang, tapi iblis!

Bagaimana orang-orang yang disebut manusia itu bisa berbuat keji pada sesamanya?

Apa mereka pikir mereka lahir dari rahim seekor buaya? Bukankah mereka juga punya wanita yang dipanggil ibu? Apa mereka tidak punya saudara perempuan? Atau bahkan mereka tak punya anak dan istri?

Apa mereka tak berpikir seandainya wanita-wanita tercintanya dilecehkan sedemikian rupa seperti apa yang telah mereka lakukan pada Fira?

Neva tak habis pikir pada orang-orang berhati iblis seperti mereka.

Fira adalah pelayan pribadinya yang ayahnya ambil dari jalanan. Gadis malang itu bekerja sebagai pengemis. Albert merasa kasihan melihatnya lantaran usianya yang hanya terpaut satu tahun lebih tua dari Neva. Mengingatkannya pada gadis kecilnya yang hidup berkecukupan di mansion.

Albert memutuskan untuk membawa Fira ke rumahnya untuk teman bermain Neva. Albert juga menyekolahkannya hingga SMA. Neva menyukai Fira yang bisa menjaganya dan menjadi temannya hingga ia beranjak dewasa. Neva sudah menganggap Fira seperti kakaknya sendiri karena Neva adalah putri semata wayang Albert.

Sedangkan Doren, dulu saat pumuda itu berusia lima belas tahun dan ketahuan mencopet di jalanan, Albert datang menolongnya dari amukan masa dan membawanya ke mansion. Albert juga memberikan pendidikan pada Doren dan membiarkan Doren mengantar Neva ke mana pun gadis itu pergi. Albert begitu mempercayai Doren yang dulunya bekerja sebagai pencopet.

Namun, sekarang inilah balasannya.

Penghianatan Doren menghancurhan Albert dan keluarganya.

Sebuah dering ponsel memecah keheningan di ruangan itu.

Salah satu dari pria itu merogoh saku celananya dan menerima telepon yang baru saja masuk.

"Halo, Bos B."

"Bagaimana? Apakah mereka mau menyerah dan mengatakan apa kodenya?"

"Belum, Bos. Mereka masih memilih bungkam."

"Pastikan mereka tetap hidup sampai mau membuka mulut!" titah Brian agak geram.

"Saya mengerti." Pria yang berumur sekitar hampir tiga puluh tahun itu beranjak untuk melihat keadaan Albert. "Dia masih hidup, Bos."

"Bagaimana dengan putrinya?"

Pria itu berpindah berjongkok di hadapan Fira dan memeriksa keadaannya. "Dia juga masih hidup, Bos. Tapi nadinya berdenyut sangat lemah."

"Jangan biarkan mereka mati begitu saja!"

"Baik, Bos B. Saya mengerti."

Sambungan pun terputus. Pria itu memakai bajunya yang tersampir di kursi. "Kita tinggalkan mereka."

Pria-pria itu keluar meninggalkan ruangan dan dua orang pria lain yang baru masuk menghampiri sel tahanan. "Kalian semua, ikuti aku!" perintahnya dengan nada tegas.

Neva dan para pelayannya hanya pasrah mengikuti langkah pria itu. Mereka dipindahkan ke ruangan lain yang juga gelap dan pengap tapi lantainya lebih bersih daripada tempat yang berceceran darah tadi.

"Tunggu saja giliran kalian bersenang-senang dengan mereka tadi," kekehnya lantas menutup pintu.

Tangis Neva pecah dan tubuhnya merosot ke lantai. Para pelayannya ikut menangis sembari mencoba menenangkan Neva.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Neva di sela isakannya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya ada bayangan buruk dalam benak mereka.

"Hana," panggil Neva pelan.

Pelayan pribadi ibunya dulu itu menatap Neva sendu. Wanita itu sedari tadi hanya diam.

"Apa kamu tahu sesuatu? Siapa orang-orang tadi?" tanya Neva dengan suara parau.

Hana mendekati Neva, gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri ia peluk dengan hangat.

Neva semakin menangis saat membalas pelukan Hana. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka menginginkan kode ruang persenjataan ayah?"

Wanita tiga puluh delapan tahun itu memilih bungkam dan mengusap rambut hitam milik Neva.

"Kau pasti tahu sesuatu, Hana. Katakan!" desak Neva kesal.

"Maafkan saya yang tidak tahu banyak, Nona." Hana melepaskan pelukannya pada Neva dan menggenggam jemari lembut majikannya. "Saya hanya tahu jika Tuan Albert dan Brian Anderson adalah musuh. Lebih tepatnya Brian yang memusuhi Tuan Albert sejak lama."

"Kenapa?"

"Saya tidak tahu, Nona. Mungkin ini sudah berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun."

Neva menghela napasnya. "Apa yang akan terjadi pada kita?" tanya Neva frustrasi. "Bagaimana keadaan ayah dan Fira? Ini semua salahku."

"Nona ...."

"Kenapa juga aku hanya berdiam diri saat melihat Fira disiksa atas namaku?!" Neva mengusap wajahnya gusar. "Aku akan mengaku pada mereka."

"Nona." Hana kembali memeluk Neva. "Tuan Albert dan Fira menaruhkan hidup mereka untuk melindungi Anda. Kami semua juga ditugaskan untuk melindungi Anda. Anda tidak boleh membiarkan pengorbanan Tuan Albert dan Fira sia-sia, Nona."

"Hana, apa kamu ingin kalian semua menderita di sini? Jika aku mengaku, mungkin saja mereka mau bernegosiasi melepaskan kalian. Setidaknya, kita tidak boleh semuanya menjadi korban." Neva bersikeras. Ia melepaskan pelukan Hana dan langsung berdiri.

Hana segera menghentikannya. "Nona, apakah Anda percaya Brian adalah orang yang sebaik itu? Mengaku atau tidak, kita semua tidak akan dibebaskan. Tapi jika Anda mengaku, Anda akan menerima siksaan yang keji. Tidak peduli jika Anda benar-benar tidak tahu kode ruang penyimpanan senjata rahasia, mereka akan memaksa Anda untuk tahu." Hana meremas jemari Neva agar lebih tenang.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Orang-orang ayah sudah mati di mansion. Mereka tidak menyisakan satu laki-laki pun hidup di sana!" Neva menyugar rambutnya ke belakang dengan putus asa.

Semua orang menjadi diam.

"Hana, maafkan aku. Aku sudah memutuskan. Kita tidak boleh hanya berdiam diri dan menunggu kematian!"

"Nona!"

"Aku tidak ingin kalian mati di sini!" bentak Neva hilang kendali.

Semua pelayan langsung berlutut di hadapan Neva, termasuk Hana. Wanita paruh baya itu berkata, "Nona, kami mohon padamu."

"Maafkan aku, aku tidak bisa."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED