Dengan ingatan yang muncul bertahap di kepalanya, akhirnya Athea kecil berhasil membawa si anak laki-laki ke kamarnya. Ia langsung mencabut anak panah itu dengan sekuat tenaga sebelum akhirnya membiarkan anak laki-laki itu jatuh ke ranjangnya. Sejenak, jiwa dari abad 21-nya berdecak kagum melihat ornamen dan arsitektur bangunan ini. Terlebih ketika melihat perabotan yang didominasi warna perak dan emas.
Sangat mewah.
"Astaga, Archel! Sadarlah!" Athea kecil menampar dirinya sendiri.
Ia langsung bergegas mencari-cari kotak obat di seluruh laci almari. Setelah beberapa saat mencari, ia segera kembali ke ranjang. Ia mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang, membiarkan si anak laki-laki dengan posisi terlungkup.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menggunting baju si anak laki-laki, membiarkan punggung polos yang tampak dipenuhi darah itu terpampang nyata. Athea kecil buru-buru mengambil air untuk membersihkan luka bekas panah itu. Ia melakukannya dengan cepat sebelum darah si anak laki-laki semakin banyak yang keluar. Lantas, Athea kecil segera menaburkan obat bubuk pada lukanya, lalu membalutnya dengan kain kasa, melingkar sampai ke dada.
Bukan hal sulit, itu adalah sebagian dari pekerjaannya dulu di abad 21. Selesai mengobati luka si anak laki-laki, Athea kecil segera membaringkan anak itu ke ranjang dengan bertelanjang dada. Tidak benar-benar dalam telanjang dada karena sebagian dadanya tertutup lapisan kain kasa yang ia gunakan untuk menahan luka.
Setelah membereskan kotak obat dan membuang pakaian si anak laki-laki ke bak sampah, Athea kecil segera membersihkan diri karena tubuhnya sangat kotor. Namun, ia lupa membawa handuk. Walhasil, ia pun berjalan dengan tubuh polos keluar dari kamar mandi.
Lagipula, anak laki-laki itu masih tak sadarkan diri, pikirnya.
Athea dengan tubuh polos berdiri dengan sangat percaya diri di depan lemari pakaiannya yang sangat banyak. Tanpa berlama-lama, ia segera memilih satu setelan pakaian dress yang paling sederhana. Tidak ada celana di dalam sini, kecuali dalaman. Jadi, dengan sangat terpaksa ia harus menggunakan pakaian yang menurutnya sangat aneh.
Gadis kecil itu mulai memakai pakaiannya. Awalnya, tidak ada masalah, sampai tiba di mana Athea hendak menaikkan resleting di bagian punggungnya. Tangan mungilnya kesusahan menjangkau resleting yang tadi ia turunkan terlalu ke bawah sehingga sulit terjangkau.
Di saat ia kesulitan itu, tiba-tiba ia merasakan sebuah pergerakan dan sentuhan samar menerpa kulit punggungnya. Athea diam membeku ketika tatapannya refleks menghadap kaca di depannya. Bukan kaget dengan penampilan barunya yang tampak sangat feminim dan tubuh gadis kecil yang sangat cantik ini. Namun, karena kehadiran seorang anak laki-laki yang tampak membantunya menaikkan resleting dari belakang. Anak laki-laki yang lebih tinggi nyaris tiga puluh senti darinya.
Tatapan penuh keterkejutan Athea dan si anak laki-laki jatuh pada bayangan mereka. Kedua mata mereka berserobok untuk beberapa saat sebelum akhirnya kedua mata Athea terpejam erat dan gadis itu menarik napas panjang sebelum akhirnya mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga.
"Aaa ...!!!"
Teriakannya itu membuat si anak laki-laki terkejut, lantas merasa waspada dan segera membungkam mulut Athea. Wajahnya tampak panik, seolah ada sesuatu yang sangat ia takuti di sini.
Athea yang mulutnya dibekap oleh telapak tangan si anak laki-laki lantas terpaksa diam. Ia berusaha menatap wajah anak itu dari ujung matanya. Ya, meski anak itu bertubuh sangat tinggi, sebenarnya menghindar dari cekalannya bukan hal sulit. Hanya saja, Athea kecil memilih diam karena mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah luar pintu.
Si anak laki-laki berdecak, tatapannya tampak kesal ke arah pintu. Ia kembali menatap Athea.
"Bagus, kau membuat para penjaga datang kemari." Anak itu melepaskan bekapannya dari mulut Athea.
Athea menatap ke arah pintu dengan heran. "Penjaga?"
"Hah, bagaimana pun juga. Aku berterimakasih kau telah menyelamatkanku."
Athea menatap si anak laki-laki. Ia mengendikkan bahu acuh. "Tidak masalah, anak kecil. Ini impas. Kau membukakan tali yang mengikatku dan aku hanya membalas bantuanmu."
Kedua mata si anak laki-laki menyipit. "Aku empat tahun lebih tua darimu, anak bayi." Dia menegaskan dua kata terakhir untuk menyindir Athea.
Lantas Athea terkekeh. Dia wanita dewasa yang tidak perlu berdebat dengan anak kecil yang usianya entah sudah memasuki sepuluh tahun atau belum itu. Dia sudah tidak kekanakan.
"Baiklah, intinya kita impas. Kejadian barusan, harus kita lupakan, oke?"
"Baiklah."
Percakapan mereka terinterupsi oleh bunyi bunyi gagang pintu yang berusaha dibuka paksa dari luar. Terdengar pula gedoran setelahnya.
"Nona Athea, apakah Anda di dalam?"
Athea hendak berjalan mendekati pintu. Namun, langkahnya terhenti tatkala sebuah cekalan tangan menahan langkahnya. Anak laki-laki itu sengaja menghempas tubuh Athea agar mendekat padanya.
"Aku akan menjadikanmu ratuku, Nona Athea. Aku janji," ucap si anak laki-laki yang tiba-tiba mengecup bibir mungil Athea.
Kecupan itu hanya sekilas. Namun, tubuh Athea mematung beku sampai beberapa detik setelahnya. Wajah Athea bahkan sudah berubah memerah layaknya tomat bersamaan dengan kedua pipinya yang seperti terbakar.
Hei!
Seumur hidup sebagai Athea kecil atau pun Archel, ini adalah kali pertama baginya mendapatkan ciuman di bibir!
Anak laki-laki itu malah langsung beranjak setelah mencium Athea dan membuat wanita dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil itu diam membatu.
"Aku akan mencuci spreimu dan kau alihkan perhatian prajurit itu, mengerti?"
Si anak laki-laki membawa sprei Athea yang terkena noda darahnya ke kamar mandi. Langkahnya begitu santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan, meski Athea belum benar-benar menguasai kesadarannya, anak laki-laki itu masih sempatnya mengecup pipi Athea ketika anak laki-laki itu menghentikan langkahnya sejenak.
Ia harus menundukkan wajah untuk menatap Athea yang bertubuh sangat mungil. Senyum culas juga muncul di wajahnya dan hei! Athea baru sadar jika anak laki-laki itu masih belum mengenakan baju atasan!
Namun, aneh juga jika anak itu hanya berusia hanya empat tahun di atasnya, tapi sudah memiliki tulang dan otot yang kokoh di tubuhnya. Hal itu membuat kening Athea mengernyit menamatkan bentuk tubuh si anak laki-laki yang hampir seperti anak remaja.
Si anak laki-laki yang mengikuti arah pandang sepasang mata lucu itu kembali tersenyum culas. Ia tahu apa yang dipikirkan otak kecil Athea meski wajahnya tampak polos.
"Aku jamin, tubuh ini akan jauh lebih menggoda nanti. Dan aku juga akan menunggu si papan tripleks ini, apakah juga mampu membuatku tergoda." Anak laki-laki itu menatap dada Athea dengan ejekan.
Setelah berceletuk demikian, si anak laki-laki pergi ke kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya. Athea baru tersadar, dan ia refleks menutup dadanya dengan telapak tangan.
"Anak sialan!"
Atensi Athea kembali terpusat pada pintu kamarnya yang masih digedor. Ia mendengkus sejenak seraya meruntuki dirinya sendiri.
"Jaga pikiranmu, Archel. Kau sudah nyaris tiga puluh tahun dan anak itu hanya bocah ingusan yang bahkan belum berusia sepuluh tahun. Kau bukan pedofil. Kau hanya pembunuh bayaran." Athea menggumamkan kalimat itu terus menerus.
Sampai ia membuka pintu dan mendapati beberapa prajurit di sana. Dengan tenang Athea berkata, "Kalian tahu, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tadi itu aku berteriak karena terkejut."
"Nona Athea, Anda telah melanggar hukuman dan Anda harus diberi pelajaran."
Loh?
"Loh? Hukuman? Kenapa aku harus dihukum?" Athea jelas dibuat kebingungan.
Namun, alih-alih menjawab, justru prajurit itu menarik tangan Athea secara paksa. Awalnya, Athea kecil hendak memberontak. Namun, rasa penasaran membuatnya urung dan menurut saja saat prajurit itu menggiringnya mengelilingi rumah.
Apa yang membuatnya dihukum?
Ketika dalam perjalanan itu, tepat bersamaan dengan pintu ruang utama yang dibuka. Di sana menampakkan seorang pria dan wanita dewasa dengan pakaian serba hitam khas duka cita atas kematian. Di sebelah si wanita, terdapat seorang anak laki-laki yang tampak beberapa tahun lebih tua dari Athea dan anak perempuan yang tampak mungkin seusia dengannya yang sama memakai pakaian hitam berkabung.
Ketika melihat wajah si pria dewasa, seketika ingatannya jatuh pada sosok yang dipanggil Athea dewasa sebagai ayah. Pria yang meninggalkan Athea ketika wanita itu diseret paksa ke penjara. Mendadak hati Athea bergemuruh. Rasa marah membuat dadanya mendadak sesak.
Namun, Athea kecil sadar. Ia datang untuk mengubah segalanya. Meski ingatannya masih samar, tapi bisa jadi hubungan ayah anak di antara mereka memang sedikit merenggang. Jadi, mungkin ini 'lah saatnya Athea baru mencari perhatian sang ayah.
"Ayah!" panggil Athea yang seketika membuat seluruh orang terkejut. Atensi seluruh orang yang ada di ruangan itu tertuju pada Athea. Tak terkecuali Duke Aaron Dominic, sang ayah.
Pria bertubuh kekar dengan tinggi menjulang itu tampak tak mampu menyembunyikan wajah terkejutnya. Rahang kokoh dan alis tebal mencuram, wajah dingin nan sombong itu nyatanya mampu sedikit mencair ketika tampak wajahnya sedikit mengendur.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Duke Aaron Dominic seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya.
Athea terdiam sejenak karena merasa aneh diperhatikan sedemikian. Namun, ia tak mau hidup tanpa beraksi. Jadi, gadis kecil itu langsung melepaskan pegangan dua prajurit di sisinya lalu berlari ke arah Duke Aaron Dominic.
Ketika ia berlari, wajahnya harus mendongak tinggi agar bisa menatap wajah sang ayah yang nyaris tidak terlihat ketika jarak semakin menipis karena tubuhnya yang menjulang. Athea kecil berlari lalu memeluk kedua kaki Duke Aaron Dominic. Meski jijik, tetapi Athea menampakkan wajah memelas seolah minta dikasihani.
"Ayah, mereka mau menghukumku. Padahal aku tidak tahu salah apa." Athea mengadu pada Duke Aaron. Gadis mungil itu lantas menenggelamkan wajahnya ke dalam kaki Duke Aaron. Bahkan, tingginya saja hanya mencapai pinggang sang ayah.
Namun, bukannya jawaban dari Duke Aaron yang ia dapatkan. Justru si anak laki-laki 'lah yang menjawab dengan ketus.
"Justru hukuman itu berasal dari Tuan Dominic karena kau nakal!" sahut si anak laki-laki yang tak lain adalah saudara tiri Athea, Aalaric Dominic.
Ucapan itu membuat perbuatan Athea terinterupsi. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap kesal pada si anak laki-laki. Jelas sekali bahwa anak laki-laki itu sangat membencinya. Huh! Dasar saudara tiri, sialan!
"Aku salah apa?" tanya Athea masih berlagak polos.
"Kau?!" Si anak laki-laki malah tampak terperangah. "Bagaimana bisa kau melupakan kesalahanmu secepat itu?! Kesalahanmu itu sangat keterlaluan!"
Merasa bingung, Athea mendongak, menatap sang Duke. Pria itu menunduk, lalu berkata dengan tegas, "Nona Athea telah melakukan hukumannya."
Setelah berkata demikian, jelas lah wajah tak terima dari si makhluk-makhluk yang menyandang status "tiri" di samping hubungan kekeluargaan mereka. Athea tersenyum menang, menyempatkan diri untuk menjulurkan lidah ke Aalaric. Anak laki-laki itu jelas tersinggung dan balas menatap tajam Athea penuh kebencian.
Tak hanya Aalaric, si ibu tiri dan adik tiri Athea juga tampak sangat kesal pada Athea. Namun, kali ini Athea menang telak.
Satu orang yang paling penting dalam hidupnya, tetapi malah belum menampakkan diri. Athea menoleh ke sana kemari mencari sosok itu. Namun, ia tak mendapati wanita yang telah melahirkannya. Ia pun kebingungan, karena yang ia ketahui, ibu Athea masih hidup. Paling tidak sampai ia berusia tujuh tahun sebelum ibunya dibunuh dengan sadis karena ia adalah ilmuan paling berbakat yang dimiliki klan api.
Bagaimana ia tahu?
Semua ini ia ketahui karena ia baru tersadar. Nama tokoh-tokoh yang ia temui ini adalah nama tokoh antagonis dalam novel yang pernah ia baca di rumah seorang pejabat yang ia bunuh. Namun, ia malah salah masuk kamar sehingga membuatnya harus bersembunyi di kamar anaknya. Di mana anaknya ini adalah seorang penulis. Di sana, ia tak sengaja melihat laptop si pemilik kamar menyala dan tak sengaja membaca daftar nama tokoh antagonisnya.
Awalnya, Athea merasa sangat terkejut. Tapi, ya biarkan sajalah! Untung-untungan dia masih hidup. Mau jadi orang susah, sampai tokoh fiksi pun tak masalah. Apalagi, jika dia menjadi Athea, dia adalah salah satu anak bangsawan. Kurang enak apa, coba? Bukankah ini sebuah keberuntungan?
"Ayah, di mana Ibu?"
Pertanyaan itu bukannya dijawab, malah membuat Duke Aaron Dominic melepaskan tautan tangan Athea. Pria itu berjalan pergi tanpa sepatah kata. Hal itu membuat Athea kebingungan.
"Hei, Athea! Ibumu itu sudah mati. Jadi kau sudah tidak punya ibu!" ejek si bocah ingusan yang membuat Athea menyipitkan mata tajam.
"Tidak mungkin! Ibuku masih hidup. Ibuku ..."
Deg!
Kedua mata Athea terbelalak, lalu menatap semua orang dengan panik.
"Berapa usiaku? Berapa usiaku?!"
Seketika Athea panik, semua pelayan mulai bergumam membicarakannya. Sang ibu tiri memilih pergi begitu saja diikuti anak bungsunya.
"Kakak! Ayo pergi! Biarkan saja si gila itu sendirian!" teriak Alea yang berhenti sejenak mengajak kakaknya.
Aalaric menatap Athea sejenak, dingin dan acuh. "Kau pikir kami baru pulang dari mana?"
Seketika itu hati Athea semakin hancur. Meski itu bukan ibu kandung yang ia kenal di abad 21. Namun, entah mengapa ia merasa bahwa ada sebuah ikatan yang sangat kuat dalam dirinya seolah terputus dan bercerai berai begitu saja. Lubang kehampaan seolah membentang mengorek luka yang sangat menyakitkan.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" teriak Athea kecil mulai menjambak rambutnya sendiri. Ia langsung terduduk dan menangis sangat keras.
"Astaga, dia mulai gila lagi," cibir Alea seraya menggandeng kakaknya untuk segera menjauh dari sana.
Tidak.
Sikap ini seolah di luar kendali tubuh Archel. Ia menangis dengan keras, bahkan sangat keras ini tanpa bisa ia tahan. Padahal, di kehidupan sebelumnya, Archel tidak pernah menangis sama sekali. Bahkan, di hari kematian seluruh anggota keluarganya hingga ia harus berakhir di camp pembunuh, tak sekali pun ia pernah merasakan kesedihan. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda. Kesedihan yang ia rasakan begitu nyata dan sangat menyiksa.
Mengapa bisa sesakit ini?
Beberapa pelayan mendekat. Alih-alih menenangkan, mereka justru mengancam Athea.
"Nona, diamlah! Atau kami kunci Anda di kamar. Jika Anda terus seperti ini, Tuan Aaron akan semakin membenci Anda."
Hei! Apakah seperti itu cara berbicara dengan anak kecil?!
Bukannya berhenti, tangisan Athea malah semakin keras. Sekali lagi, tubuh Athea ini seolah tidak sepenuhnya dikuasai Archel. Archel tak ingin menangis. Namun, semakin ia tahan, justru tangisannya semakin meledak.
Dan hal di luar dugaan terjadi ketika dua pelayan menggendong Athea dengan masing-masing memegang tangan dan kaki Athea. Jelas, Athea berusaha mengelak dan melepaskan diri, tetapi sekali lagi, seorang pelayan datang dan menyumpali mulut Athea kecil dengan kain.
Di titik ini 'lah satu tetes air mata Archel jatuh.
Bagaimana bisa seorang Athea kecil yang bahkan baru berusia tujuh tahun diperlakukan sedemikian?
Ia sangat marah!
Akan kuingat wajah kalian!