Setelah kepergian Ara Valeria Atmaja dari kehidupan Aldy Fathee, sejak saat itu dunia seakan berubah.
Sifat Aldy yang tak terlalu dingin kini sangat dingin, tak tersentuh. Tak ada yang berani melawannya, atau pun memaksanya dalam berkehendak.
Hidup Aldy layaknya mayat hidup, ia tak ada semangat dalam menjalaninya. Yang ia lakukan berangkat bekerja di pagi hari, meeting jika ada jadwal, makan jika perutnya lapar, dan pulang ketika jam pulang. Tak ada hal istimewa dalam hidupnya.
Seprti saat ini, Aldy sedang membaca email masuk. Hingga suara pintu terketuk oleh orang diluar sana.
Aldy mendongakkan kepalanya. "Masuk," katanya singkat.
"Selamat pagi pak," ucap salah satu karyawan, sambil membawa secangkir kopi yang Aldy minta.
"Hmm," jawab Aldy dengan gumaman.
Sang ob pun mengerti, ia sudah biasa mendengar menjawab singkat seperti itu dari bosnya.
Aldy menyandarkan punggungnya, ia mengeluarkan sebuah foto dan DVD dari laci mejanya. Aldy menatap foto wanita itu dengan pandangan yang tak bisa di artikan. "Kau dimana?"
Aldy memejamkan matanya, ia menghidupkan DVD, yang menggambarkan seorang wanita cantik yang tersenyum hangat ke arahnya.
"Hai Kak.
Kalo Kakak udan nontonton Vidio ini itu artinya Ara udah pergi. Ara pergi jauh Kak, Ara juga gak tau kapan Ara kembali, tapi, Ara janji akan kembali, entah itu dalam keadaan bernafas, atau terkulai lemas.
Saat itu tiba, Ara mau melihat Kakak bahagia, bersama wanita yang jauh lebih sempurna dari Ara, memiliki anak yang akan memanggil Ara Tante.
Dan jika sebaliknya, Ara mau Kakak, datang kepemakaman Ara, dengan pasangan Kakak.
Ara sayang sama Kakak. Ara tau Kakak akan beranggapan Ara bohong karna ninggalin Kakak, tapi ini juga nyakitin Ara Kak.
Bohong kalo Ara gak sedih ninggalin Kakak, bohong kalo Ara bisa hidup nyaman tanpa Kakak, semuanya bohong, tapi semua ini Ara lakukan demi Kakak, demi masa depan Kakak.
Ara harap Kakak mengerti dengan keputusan Ara. Ara gak mau jadi wanita egois hanya demi kebahagiaan Ara Kak. Kakak berhak bahagia, Kakak berhak hidup nyaman dengan wanita yang lebih sempurna dari Ara.
Terima kasih sudah mau menjadi teman kecil, Guru, pendengar, pelindung, dan kekasih Ara.
Ara mencintai Kakak, I love you sayang."
Aldy men push vidio Ara, ia menutup matanya. Perasaannya tetap sakit ketika menonton DVD itu, tapi kenapa DVD itu seakan menyuruhnya untuk menontonnya disetiap harinya.
Aldi bangkit dari duduknya, sebelum pergi ia meminum kopinya. "Kau lihat Ara? Kakak, meminum kopi. Apa kau tak mau kembali untuk melarang kakak? Kau jahat, meninggalkan kakak, dengan perasaan yang belum tuntas," ucap Aldy lalu melemparkan gelas ke lantai dengan sangat keras, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Aldy pergi menuju apartemennya yang dulu. Tempat dimana dirinya dan Ara bercanda, dan mendengarkan tangisan Ara.
Lebay, silahkan beri nilai Aldy seperti itu. Aldy tak peduli dengan penilaian orang, yang ia butuhkan Ara-nya kembali.
Aldy berjalan kearah kasurnya, dimana Ara pernah berbaring disana, dan dirinya yang dirawat Ara ketika sakit.
Meskipun kenangan itu sudah sembilan tahun lamanya, Aldy tetap tak bisa melupakan kejadian dirinya dan Ara.
Lamuanan Aldy terhenti ketika suara telepon berbunyi.
"Apa?" tanya Aldy memotong pembicaraan Alfa yang mengoceh.
"Ada meeting hari ini. Lo dimana kak?" tanya Alfa berteriak.
"Apartemen," jawab Aldy singkat.
"Udahlah kak, lo gak inget sama permintaan Ara. Lo harus bahagia kak, lo harus terus jalanin hidup lo, layaknya."
Aldy langsung memotong pembicaraan Alfa. "Gue balik," ucapnya lalu mematikan ponselnya sepihak.
Aldy yakini. Alfa pasti sudah mengumpatinya karena mematikan ponsel sebelum ucapannya selsai. Aldy tak perduli hal itu, ia tak suka ada orang yang menyuruhnya melupakan Ara. Ia lebih baik membujang seumur hidup, dari pada membuka hati kepada wanita lain.
Sesampainya di kantor, Aldy sudah di tunggu oleh beberapa karyawan, dan Alfa disana. "Siang," sapa Aldy kepada semuanya. Jangan lupakan wajah datar layaknya tembok selalu Aldy tampakkan.
Melihat hal itu, Alfa hanya bernafas panjang. Sembilan tahun sudah berlalu, tapi kenapa Aldy seakan baru kemarin kehilangan Ara. Meskipun tak seburuk dulu, tapi. Sudahlah, cinta memang bisa mengubah segalanya dengan singkat.
Tiga puluh menit berlalu, Aldy kembali ruangannya yang sudah dibersihkan oleh ob. Ia kembali menyalakan laptopnya, untuk meneruskan pekerjaannya yang tertunda.
Tiba-tiba seorang pria masuk kedalam ruangannya, tanpa salam atau pun mengetuk pintu. Pria itu Alfa yang membawa berkas yang harus Aldy tanda tangani.
"Lo masih mencintai Ara kan?" tanya Alfa sambil menyandarkan punggungnya di kursi depan Aldy.
"Hmm," jawab Aldy.
"Kalo Ara tau lo kayak gini, Ara bisa benci lo kak, Ara mau lo bahagia."
"Pergi," usir Aldy.
"Kak, gue gak mau lo kayak gini terus. Lo tau kayak apa?" tanya Alfa memberi jeda.
"Stop Alfa, pergi!" usir Aldy dengan nada penuh penekanan.
"Lo kayak mayat hidup kak. Gue tau, gue gak pernah ngerasain hal kayak lo, tapi tolong berdamai dengan perasaan lo."
Aldy menggebrak meja. Ia bangun dari duduknya, sambil menunjuk pintu keluar. "PERGI!"
Lagi-lagi Alfa diusir karena menasehati Aldy. Namun, ia tak akan pernah lelah, ia tak mau melihat kakak, satu-satunya menjalani hidup sia-sia.
Aldy pulang kerumah. Seperti biasa ia langsung menuju kamar, jika keponakan pertamanya tak menyapanya.
"Om Aldy," teriak Abel (putri pertama Alfa) dia memang selalu menyapa Aldy ketika pulang dari kantor.
Aldy menghentikan langkahnya lalu menatap Abel. "Apa?"
"Om, jangan kayak gitu mukanya, udah kayak baju gak disetrika setaun aja," jawab Abel, supaya Aldy tertawa.
"Ada apa?" tanya Aldy lagi.
"Om Abel nyuruh temen Abel Dateng, terus Abel beli eskrim, mama papa, gak tau kemana jadi Abel," ucapan Abel terhenti, ketika ia melihat uang dua ratus ribu didepannya.
Abel mengambilnya, lalu memeluk Aldy dengan erat. "Om emang paling ngerti deh om. Semoga Tante Ara cepet kembali ya om."
Setelah Abel melepaskan pelukannya, Aldy mencekal tangan Abel, menatap mata Abel penuh intimidasi. "Siapa Tante Ara?"
"Kata papa, Tante Ara itu mataharinya om, dan om adalah es batunya Tante Ara," jawab Abel jujur.
Abel mengalihkan pandangannya kearah pintu utama, ia mendengar temannya meneriaki namanya. Pasti penjual eskrim itu sudah meminta bayaran.
"Dah om," Abel mengayunkan tangannya sebagai tanda pergi.
Senyuman di bibir Aldy terbit. "Semoga Abel."
Aldy langsung pergi kekamarnya. Membuka pakaiannya, dan pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia menggunakan pakaiannya. Hanya kaos dan celana selutut.
Aldy mengambil laptopnya, melihat sosial media Ara yang tetap tak aktif. Aldy juga mencarinya di sesial media yang baru, dengan bentuk tulisan dari berbagai negara. Namun, nihil. Sepertinya Ara memang merahasiakan keberadaannya dari Aldy.
Segala cara Aldy lakukan untuk mencari Ara, tapi tetap tak dapat ditemukan. Hampir lima orang di setiap negara Aldy cari tau tentang penduduk yang bernama Ara Valeria Atmaja.
Aldy menutup laptopnya, lalu keluar kamar menuju balkon. Menatap bintang yang sangat indah itu.
"Kamu dimana sayang?" Aldy menutup matanya, tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
Hal itu dapat dilihat oleh mamanya, yang sedang menguping. Elva menghampiri putra sulungnya, duduk disamping Aldy dengan teh hangat yang ia bawa.
"Minumlah," printah Elva.
Aldy melihat kearah mamanya. "Kenapa belum tidur ma?"
"Seorang ibu mana yang bisa tidur jika anaknya sedang bersedih seperti ini?" Elva mengelus punggung Aldy.
"Sudahlah nak, lupakan dia. Apa kau tak pernah berpikir, jika dia memiliki pria lain? Atau mungkin dia sudah menikah? Ini sudah sembilan tahun Aldy, kau harus tau itu."
Aldy selalu menutup telinga tentang hal itu. "Sudahlah ma, ini urusan Aldy. Lebih baik mama istirahat."
"Kau selalu mengusir mama jika mama berkata seperti itu," jawab Elva dongkol.
"Aku tak mengusir mama," bela Aldy.
"Dasar pria dingin, ucapanmu tadi mengusir mama, meskipun secara halus." Elva bangun dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Aldy.
Selama sembilan tahun, Aldy sering berkunjung kerumah yang tak ditempati itu, meskipun tak setiap hari. Ia akan memarkirkan mobilnya didepan gerbang dan menatap rumah itu lama.
Harapannya, gerbang itu terbuka, menampakkan seorang wanita cantik yang melambaikan tangannya, dengan senyuman indahnya.
Aldy juga sering menelepon Faiz, dan Eza, hanya sekedar ingin bertanya tentang Ara. Namun, jawaban yang sama selalu Aldy dengar. Tak menemukan apa-apa.
Terkadang Aldy ingin menyerah, tapi entah kenapa mengingat kenangan manisnya dengan Ara mampu membuatnya bertahan.
Aldy ingin mengakhiri hidupnya, tapi ia berpikir jika ia tiada, ia tak bisa melihat wajah Ara-nya.
Tiba-tiba lamunannya buyar, ketika ponselnya berdering. "Sudah selesai?" tanya Aldy.
"......"
"Baiklah akan saya ambil nanti sore," jawab Aldy lalu mematikan ponselnya sepihak.
Hari ini dirinya libur. Ia hampir saja lupa jika mamanya memintanya untuk mengantar berbelanja hari ini.
Aldy langsung menancap pedal gas, dan pergi meninggalkan rumah Ara.
Sesampainya di rumah, Aldy langsung duduk di depan tv, bersama Abel, dan Zen (putra kedua Alfa). "Dimana Oma?" tanya Aldy.
"Oma pelgi, kata Oma om Aidy mau Oma mayahin," jawab Zen dengan suara cadelnya.
"Mama papa dimana?" tanya Aldy lagi. Ia bertanya karena rumah sangat sepi, hanya bibi dan kedua anak Alfa yang bermain.
"Mama sama papa, periksa kandungan om," jawab Abel, sambil menyatukan mainan legonya.
Aina adalah istri Alfa, ia memiliki dua putra dan putri. Abelia Azof Fathee, yang kedua Zen Azof Fathee, dan satu calon anaknya yang berada didalam kandungan.
Terkadang Aldy berpikir, jika dirinya juga memiliki anak, pasti lebih banyak dari Alfa. Dan mungkin anaknya lebih tua dari Abel, pastinya lebih cantik dan tampan dari Abel dan Zen.
"Om," panggil Zen.
"Hmm," jawab Aldy.
"Kita jayan-jayan yuk om," ajak Zen.
"Kemana?" tanya Aldy.
"Ke mall," jawab Abel senang.
"Ya ke moy."
"Bukan moy, tapi mall dek mall," koreksi Abel, yang membetulkan ucapan adiknya yang salah.
"Kakak jahat, Zen gak tahu biyang ey sama ey." Mata Zen berkaca-kaca, karena kakaknya mengejeknya dalam berbicara.
"Lah kan emang salah? Kakak cuman ngebetulin, biar mulut kamu gak tipo," jawab Abel yang tak mau kalah.
"Tipo apa?" tanya Zen bingung.
"Om jelasin tipo itu apa?" jawab Abel, malah menyuruh Aldy untuk menjelaskan kepada adiknya.
Aldy menatap kedua keponakannya jengah. "Jadi atau tidak?"
"Kemana?" tanya Abel.
Semua orang pasti langsung tau jika Abel adalah anak Alfa, ia jahil, suka mengundang emosi, humoris, mudah akrab, dan satu hal yang sangat sama dengan Alfa, ngeselin.
Sifat Alfa sangat sama dengan Abel. Apa anak pertama lebih cenderung sama dengan ayah dari pada dengan ibu? Sedangkan Zen, ia lebih condong kepada Aina, sifatnya yang mudah menangis dan ngambekkan.
"Ke neraka," jawab Aldy jengah.
"Om kalo mau masuk neraka jangan ajakin Abel dong, Abel itu wanita Solehah, rajin solat, baik, dan suka menabung, jadi gak mungkin Abel masuk neraka."
"Mau ke mall atau ke neraka?" tanya Aldy sekali lagi.
"Ke moy dong," jawab Zen menghampiri Aldy.
"M O L mol bukan moy, salah. Mulut tipo kok di pelihara," jawab Abel mengoreksi.
Aldy berdiri dari duduknya memegang tangan satu persatu keponakannya. "Stop, om capek dengernya."
"Makanya punya anak, biar tambah capek," celutuk Abel.
Aldy, Abel dan Zen berangkat ke mall. Kepala Aldy ingin pecah mendengar celotehan Abel dan Zen yang tak masuk akal.
"Cita-cita kamu mau jadi apa dek?" tanya Abel.
"Mau jadi supeymen," jawab Zen.
"Kenapa?" tanya Abel bingung.
"Supeymen gak peynah disayahin meskipun pakek sempak diluar, dia juga bisa terbang. Ngeng-ngeng-ngeng." Zen mengepalkan tangannya layaknya supermen yang akan terbang.
"Ngeng-ngeng-ngeng itu bunyi motor bukan terbang. Kalo terbang tuh gini. Wusssssss," beri tahu Abel.
"Oh." Zen hanya mangangguk saja. "Kayo kakak jadi apa?" tanya Zen balik.
"Jadi plakor," jawab Abel.
Seketika Aldy langsung mengerem mendadak. Untung saja dua keponakannya memakai sabuk pengaman, jadi tak sampai jatuh.
"Gak boleh ngomong kayak gitu Abel," tegur Aldy.
"Kenapa om? Plakor kan terkenal, di tv di film, sampai ada nyanyiannya loh om."
Aldy melihat Abel tak paham. Seperti apa lagu plakor. "Lagu apa?"
"Dengerin nih ya om." Abel menarik nafasnya dalam-dalam. "Plakor ada dimana-mana. Cuman gitu yang Abel tau," ucapnya.
"Kamu tau plakor itu apa?" tanya Aldy.
"Plakor adalah orang terkenal. Bisa masuk tv, dan ada dimana-mana. Wah hebatnya plakor." Abel bertepuk tangan senang, karena cita-citanya sangat hebat menurutnya.
Otak anak jaman sekarang sudah rusak akibat teknologi yang semakin canggih. Coba kalian analisa. Di jaman modern seperti sekarang tayangan di tv saja banyak yang mengandung adegan yang tak pantas dilihat oleh anak seusia Abel.
"Tau dari mana plakor?" tanya Aldy.
"Dari tv, sama teman Abel. Abel juga buat circle plakor dikelas Abel."
"Apa aku harus memindahkan kedua keponakanku ke sekolah lain? Kenapa otaknya seperti ini?" batin Aldy.
Ia menegakkan badannya, lalu kembali menancap pedal gas. Abel belum cukup umur untuk mengerti arti dari kata plakor.
Sesuai rencana yang diminta dua keponakannya. Aldy dan kedua keponakannya sedang berada di mall tempat bermain.
Meskipun tak ada senyuman yang ia tampakkan, tapi Aldy senang, melihat kedua keponakan absurdnya bermain dengan ceria.
"Om, kita makan yuk om, Abel laper," rengek Abel yang sudah ada didepan Aldy.
"Mau makan apa?" tanya Aldy.
"Ayam goreng dong om."
"Panggil Zen sana, terus kita makan."
Abel mengangguk, ia langsung menghampiri Zen, yang sedang bermain mobil-mobilan. "Kita makan Zen, aku udah laper."
"Ayo kak," jawab Zen. Ia menabrakkan mobilnya, lalu game pun kalah. Namun, Zen malah berteriak kesenangan karena gamenya kalah.
"Ye kayah. Aku gak mau menang nanti aku gak makan." Zen langsung berlari menghampiri Abel dan Aldy. "Ayo kita makan ayam goyeng. Kukkyukyuk." Zen menirukan Kokok ayam yang berada di tv.
Semua orang menatap Zen, Abel dan Aldy, karena teriakan Zen yang sangat nyaring.
"Ya Tuhan apa kesalahanku hingga mempunyai keponakan setengah waras seperti mereka," batin Aldy meringis karena malu.
Setelah acara makan selesai. Aldy dan kedua keponakannya akan pulang. Tak ada suara dari keduanya, ternyata keduanya tengah tertidur dengan kepala yang saling menyandar. Sangat lucu.
Tanpa Aldy ketahui, ia hampir saja menabrak seseorang, untung saja ia langsung mengerem, jika tidak Aldy pastikan anak kecil yang ia tabrak akan melayang ke udara.
Aldy langsung turun. Ia berjongkok, memeriksa kondisi wanita kecil dengan pakaian compang-camping, dan bungkus permen yang Aldy yakini, itu pasti wadah uang hasil mengamen. "Kamu gak papa?" tanya Aldy.
Wanita kecil yang tadinya menunduk, kini menatap Aldy dengan senyuman lembutnya. "Aku gak papa," jawabnya dengan suara lemahnya.
Aldy tertegun ketika melihat mata anak kecil itu. Mata itu sangat mirip dengan mata Ara. Tak disadari air mata Aldy jatuh begitu saja. Ia memeluk anak kecil yang memakai baju compang-camping itu tanpa rasa ragu.
Anak kecil itu hanya diam, ia tak membalas pelukan Aldy atau memberontak.
Aldy melepaskan pelukannya, ia menatap anak kecil itu nanar. "Siapa nama kamu?" tanya Aldy.
"Om kenapa menangis?" tanya anak kecil itu karena melihat bekas air mata yang turun.
"Gak papa, om gak papa. Nama kamu siapa?" tanya Aldy lagi.
"Nama aku Sisil," jawabnya dengan senyuman hangat.
"Orang tua kamu dimana?" tanya Aldy celingak-clinguk.
"Orang tua aku pergi ninggalin aku, katanya aku pembawa sial," jawabnya. Tatapannya kini menyiratkan kepediahan dan kekecewaan. Aldy bisa merasakan itu.
"Kau tinggal dengan siapa?" tanya Aldy lagi.
"Aku tinggal sendiri om."
"Dimana rumah kamu, biar om antar pulang."
"Gak usah om, rumahku banyak, jadi aku gak tau harus pulang kemana."
Anak kecil itu masih bisa tersenyum, dengan apa yang telah terjadi padanya.
Aldy tau maksud dari kata itu. Ia mengerti dengan kata rumahku banyak. "Mau ikut om?" tanya Aldy.
"Kemana om?" tanya Sisil lagi.
"Ke rumah, om," jawab Aldy dengan senyuman mengembang. Ia tak henti-hentinya menatap mata Sisil yang sangat persis dengan mata Ara.
"Ara, kakak nemuin orang yang memeliki mata yang sama, apa kamu tak mau kembali Ara?" batin Aldy.
"Gak usah om, aku harus bekerja siang ini, supaya nanti malam aku bisa makan," tolak Sisil.
"Kita makan di rumah om aja, disana makanannya gratis. Sebagai tanda maaf om karena hampir nabrak kamu."
"Gimana ya om," pikir Sisil menimang-nimang. "Oke aku mau, tapi om bukan orang jahatkan?" tanya Sisil lagi.
"Om orang baik kok," kekeh Aldy.
Akhirnya Sisil pun mau mengikuti Aldy. Ia membukakan pintu samping kemudi, untuk Sisil duduki. Tak mungkin ia dibelakang dengan kedua keponakannya.
Sisil terkejut ketika melihat dua anak yang tertidur pulas di belakang. Ia menatap Aldy takut. "Om penculik ya?" tanya Sisil dengan suara bergetar.
"Om bukan penculik. Dia keponakan om, yang ketiduran karena lelah bermain," jawab Aldy membela diri.
"Apa wajah tampanku seperti pencuri anak?" batin Aldy meringis.
Sesampainya di rumah, Aldy membangunkan kedua keponakannya. Umurnya sudah tiga puluh empat tahun. Ia tak mau sakit pinggang, tak ada yang akan memijatnya.
"Abel, Zen, udah nyampek."
Zen bangun terlebih dahulu, ia mengguncang tubuh kakaknya, dan membuat Abel bangun.
Masalah ke randoman ponakannya tak berhenti disitu. Abel membersihkan beleknya lalu mencolekkannya ke wajah Zen, yang membuat Zen akan menangis.
"Gitu aja jijik, kakak sendiri juga," balas Abel singit.
"Kakak joyok, mama papa." Zen keluar dari mobil, berlari memanggil Alfa dan Aina.
"Haaa," teriak Abel ketika melihat anak yang memakai baju compang-camping menatapnya dengan mata yang berkedip-kedip.
"Apalagi Abel?" tanya Alif jengah dengan keponakannnya satu itu.
"Kok orang dimimpi Abel keluar om? Sekarang mana raksasa yang mau makan anak itu?" tanya Abel takut. Kali ini dirinya tak berbohong.
Ia bermimpi seorang raksasa yang akan memakan seorang anak yang memakai baju compang-camping.
"Kenalin dia Sisil. Sisil kenalin dia keponakan om, namanya Abel."
Abel memajukan badannya mengucek matanya masih tak percaya. "Kamu beneran gak papa kan?" tanya Abel.
"Aku gak papa, memangnya aku kenapa?" tanya balik Sisil.
"Aku tadi mimpiin raksasa mau makan orang kayak kamu," jawab Abel.
"Udah Abel? Sekarang kamu masuk, siap-siap kena marahin mama."
Abel menjelurkan lidahnya, dan memebersihkan beleknya lagi, lalu mencolekkan ke pipi Aldy. "Harumkan belek penghuni surga kayak Abel!" Abel pergi keluar mobil.
Aldy membuang nafasnya, lalu memebersihkan wajahnya dengan tisu.
"Ayo sil, kita kerumah om."
"Aku malu," jawab Sisil menunduk.
"Kenapa malu? Hidung kamu gak berlubang? Atau mata kamu gak ada bola matanya?" tanya Alif bercanda supaya Sisil mau masuk.
"Gak papa kan om?" tanya Sisil lagi.
Aldy memegang tangan Sisil sambil tersenyum mengembang. "Gak papa."
Aldy dan Sisil masuk kedalam rumah. Melihat anggota keluarga yang berkumpul, Sisil bersembunyi dibalik badan Aldy.
"Siapa?" tanya Alfa.
Abel langsung menarik Sisil, supaya tak bersembunyi lagi.
"Mohon perhatiannya untuk segenap keluarga. Namanya Sisil, kata om Aldy. Itu artinya dia akan jadi teman Abel." Abel langsung memeluk Sisil dari samping.
"Abel, pinjemin Sisil baju kamu ya? Terus ajak main," ucap Aina. Tak mungkinkan jika satu keluarga mengintrogasi Aldy perihal Sisil didepan Sisil.
"Siap istri bapak Alfa, alias mama Abel, karena Zen anak pungut." Sebelum terkena semprotan dari Aina, Abel sudah berlari dengan Sisil menuju kamar.
"Mama, kak abey nakay ma," rengek Zen meminta pembelaan.
"Udah ya Zen, kak Abel emang gitu, kamu harus sabar," jawab Aina, supaya Zen tak jadi menangis.
"Ya ma, Zen seyayu sabay kok sama keyakuan kak Abey," jawab Zen dengan senyuman layaknya pemeran protagonis di sinetron azab.
"Ya udah sana gih main bareng mereka," suruh Elva, yang disetujui oleh Zen.
Aldy duduk disamping ibunya. "Dia anak yang hampir aku tabrak," ucap Aldy yang mengerti dengan tatapan penuh interogasi.
"Terus kenapa Lo bawa kerumah?" tanya Alfa bingung. Sisil baik-baik saja, lalu apa yang harus dihawatirkan hingga Aldy membawa kerumah.
"Gue inget Ara," jawab Aldy jujur.
"Lalu ketika kau menabrak tiga orang anak kau membawanya kerumah, hanya karena ingat dengan kekasih yang meninggalkanmu?" sambung Elva tak suka.
Ia tak suka Aldy masih terbelenggu dengan Ara, wanita jahat yang meninggalkan Aldy hingga Aldy menjadi seperti ini. Hidup tanpa semangat.
"Ma, Ara bukan wanita seperti itu," bela Aldy tak suka, jika mamanya selalu menjelek-jelekkan Ara.
"Kenapa? Salah? Mama gak mau kamu seperti ini Aldy, mama mau kamu menjadi Aldy yang penuh semangat dan ambisi."
Alfa tau Aldy menahan amarah, ia mengelus punggung mamanya, menenangkan. "Ma udah, darah tinggi mama nanti kumat."
"Maaf, ma, tapi Aldy gak bisa, buat jadi Aldy kayak dulu," jawab Aldy dan pergi meninggalkan keluarganya.
"Mama akan jodohkan kamu, dengan anak teman mama!" teriak Elva, membuat Aldy memberhentikan jalannya.
Aldy menatap mamanya bingung, dijodohkan? Suatu hal konyol. Menurut Aldy, ini sudah jaman modern, turunan Siti Nurbaya saja mungkin juga tak mau dijodohkan.
"Aldy gak bisa ma," jawab Aldy dengan terus menahan amarahnya yang sebentar lagi akan meledak.
"Mama tidak menerima penolakan. Selama ini kamu menunggu, sembilan tahun supaya wanita tak berhati itu datang, tapi apa Al? Menghubungimu saja dia tak pernah."
Aldy hanya diam. Apa penantiannya selama ini harus pupus? Bukankah Ara berjanji akan pulang? Tapi dia belum juga pulang.
"Mama benarkan Al? Cukup bertindak konyol hanya menunggu kedatangan wanita yang mungkin sudah memiliki putra diluaran sana." Elva tersenyum remeh, sambil menyilangkan kakinya.
"Aldy tetap gak bisa. Ara akan tetap pulang. Maaf." Aldy membalikkan badannya dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ma, cinta gak bisa di paksa ma. Menikah, tinggal bersama, gak menjamin kita bisa jatuh cinta," sambung Alfa.
"Tapi mama yakin anak teman mama, bisa buat Aldy jatuh cinta."
Di kamar Aldy, ia membuka bajunya, dan pergi ke balkon untuk melampiaskan amarahnya. Aldy memasang sarung tinju, untuk menghantam samsak yang biasa ia lakukan ketika ia marah.
Bugh
Bugh
Bugh
"Argh kapan kamu datang Ara!"
Aldy terduduk, ia menekuk lututnya menghantam lantai. "Argh gue capek."
Tiba-tiba sebuah tangan kecil memberikan tisu kepadanya. "Udah besar kok masih nangis?"
Aldy menatap Sisil yang sudah mandi, dan menggunakan baju milik Abel. Aldy mengambil tisu pemberian Sisil, menghapus air matanya.
"Om menangis karena aku?" tanya Sisil.
"Tidak, aku tidak menangis, aku hanya kelilipan debu tadi."
"Aku kira om menangis." Sisil duduk di samping Aldy, dengan kaki yang ia selonjorkan.
"Kenapa om memukul guling ini?" tanya Sisil polos. Ia tak tau nama benda yang Aldy tinju tadi. Jadi ia menyebutnya guling, karena mirip dengan guling.
"Aku hanya mengasah kekuatanku," jawab Aldy.
Sisil bangun dari duduknya, ia membetulkan rambut Aldy yang berantakan. "Aku tau om berbohong. Maaf tadi aku mendengar om berteriak memanggil nama Ara."
Aldy terdiam, mata anak kecil itu seakan aliran air yang mampu memadamkan api kemarahan yang Aldy rasakan saat ini. Mata itu sangat sama dengan Ara. Ia tak mungkin salah, apa mata itu milik Ara-nya?
"Om boleh peluk kamu?" tanya Aldy.
"Boleh kok om," jawab Sisil. Ia membentangkan tangannya, memberi isyrat supaya Aldy memeluknya.
~~~
Sesuai rencananya Aldy pergi ke tempat pembuatan patung. Sudah hampir setengah bulan Aldy memesan patungnya.
Patung yang diukir semirip Ara. Bukan Aldy yang mau, tapi ada dari salah satu kliennya, menawarkan patung, dengan percuma. Aldy tak nyaman jika ia menolak, dan akhirnya ia membuat patung Ara, yang akan ditempatkan di apartemennya.
Aldy terdiam ketika patung itu seperti nyata. Warna kulit yang begitu sama, rambut, dan lainnya. Bedanya patung itu terbuat dari semen.
Dengan perlahan, ia menyentuh patung Ara, mengelus pipinya dengan mata yang terpejam. "Tolong kembali sayang," lirih Aldy.
Sang pengrajin melihat Aldy menatap patung buatannya begitu dalam. Ia yakin patung itu pasti memiliki arti tersendiri.