Bab 1

"Dare!" Thea sungguh berani untuk memilih pilihan itu.

Thea Callia. Dia adalah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang bar-bar, tetapi sebenarnya sangat lugu.

Semua kenakalan yang Thea buat tak lepas dari pengaruh keluarganya yang hancur.

Thea adalah salah satu contoh dari ribuan anak broken home yang salah jalan, masuk ke dalam pergaulan bebas yang liar.

"Cepetan kasih gue tantangan! Gue bukan pengecut kayak kalian semua!" Thea menunjuk satu per satu wajah teman-temannya.

Teman-temannya tertawa senang, saling bertos ria. Mereka rasanya ingin sekali membuat Thea yang sombong itu menjadi malu.

Hah! Mereka semua akan mempermalukan Thea di kafe yang ramai ini.

"Ok! Lo pilih dare, kan?" tanya Bara.

Bara Liondra, seorang pemuda dengan tato di lengan kanan yang notabennya adalah mantan pacar Thea selama satu Minggu.

Hah?! Iya, mereka berdua mantan, berpacaran karena napsu dan putus karena napsu nyatelah terpuaskan.

Thea mengangkat kepalanya angkuh. Dia memandang Bara dengan tatapan 'bodo amat'.

"Ya iyalah! Gue ini bukan kalian yang isinya cuman badut pengecut, terutama Lo, Bar!" seru Thea.

Bara tersenyum licik sembari meminum vodka-nya.

"Cewek sombong yang gak pernah ngaca! Oke! Sekarang tantangannya adalah ... lo pergi ke meja itu, cium bibir cowok yang ada di sana, dan ajak dia buat one night stand sama Lo malam ini juga!" Sungguh tak main-main apa yang teman-teman Thea minta.

Thea tersenyum remeh. One night stand? Thea adalah ratunya! Sejak dia lulus SMA sudah terhitung belasan kali dia mencicipi bagian bawah para pemain ONS-nya. Itu hal yang sangat biasa bagi Thea.

"Cih! Tantangan itu adalah hal yang sering gue lakuin!" ucap Thea dengan kembali menggunakan nada sombong.

Bara dan teman-temannya yang lain tersenyum licik. Sangat mudah rupanya membuat Thea jatuh ke dalam permainan mereka. Bara dan yang lainnya memang merencanakan ini, target pria yang mereka tunjuk tadi, bukanlah orang sembarangan.

Bara mengenal orang itu, orang yang akan menjadi tujuan Thea adalah sahabat dari kakak Bara.

Thea segera melangkah mendekati meja si pria yang akan menjadi sasarannya. Namun, sebelum itu suara dari teman-temannya memperingati Thea lagi.

"Dan jangan lupa buat rekam semuanya sebagai bukti!" seru salah seorang teman Thea.

Thea berbalik, mata kucingnya menatap kumpulan dari anak-anak nakal itu dengan senyuman remeh.

"Cih! Bayar kalo lo mau videonya!" ucap Thea dengan mengibaskan rambut coklat panjangnya.

Namun, Thea tak sama sekali takut. Dia langsung berjalan kembali dengan angkuh mendekati meja tempat di mana teman-temannya memintanya untuk mencium seorang pria.

Mata Thea yang memang rabun, baru menyadari jika sasarannya itu adalah seorang pria dengan spek Dewa!

'Gila! Ini sih orang ganteng. Tajir banget kayaknya dia!' batin Thea yang malah merasa bersyukur.

Sebelum sampai di hadapan si pria dengan tampilan classy itu, Thea menyempatkan diri untuk berbalik dan melihat teman-temannya.

Dia mengajukan hari tengahnya sekaligus tersenyum mengejek.

"Permisi, sir!" Thea menyapa terlebih dahulu.

Thea agak bingung bagaimana caranya untuk mencium bibir menggoda milik pria di hadapannya itu.

"Hmn?" sahut si pria dengan memandangi Thea dari ujung rambut, hingga ujung kakinya.

Thea berpakaian layaknya anak baru gede zaman sekarang. Celana rok selutut dengan stoking hitam jaring-jaring, dan jangan lupakan crop top berwarna merah darah kesuakaan Thea.

Tentu saja tampilan Thea sangat jauh berbeda dengan pria yang saat itu sedang ada di hadapan Thea. Si pria itu menggunakan setelan jas Gucci dan sepatu Balenciaga.

'Total outfit-nya bisa buat jalan-jalan keliling Korsel seminggu!' Thea membatin.

"Anu ..."

Thea menjeda kalimatnya. Kenapa Thea jadi gugup sih?! Biasanya Thea ini sangat ceplas-ceplos.

'Duh! Ni mulut gue kok jadi bodoh, sih? Ngomong Thea! Ngomong!' batin Thea yang kesal sendiri dengan dirinya.

"Gue ... gue sama teman-teman gue, gue ..." Thea tanpa sadar mengulang-ulang kata-katanya.

Teman-teman Thea yang ada di meja lain, saat itu tengah menatap puas ke arah Thea.

'Mampus! Kalo kali ini Lo gak bisa melakukan Dare ini, gue yang bakal menang, Thea!' batin Bara yang senyumannya licik.

Kembali lagi kepada Thea, dia kini semakin gugup. Bukannya malu ataupun takut, tapi sumpah demi jam tangan Spongebob, Thea baru pertama kali melihat pria setampan, dan seksi yang ada di depannya itu.

Pria itu melirik ke segerombolan anak muda yang Thea maksud. Dia kemudian tersenyum singkat kepada Thea.

"Tantangan? Dare?" tanya pria itu menebak.

"Eh? Kok Lo tahu?" tanya Thea binggung. Dia sama sekali belum memberitahu kan tadi?

Si pria mengangkat bahunya acuh, kemudian kembali memakan sushi-nya.

"Anu, sir-"

"Nama gue Alvaro. Panggil gue Al."

Yap! Dia adalah Alvaro Smith. Dia seorang pria lajang berusia dua puluh lima tahun yang mapan dan memiliki segalanya.

Thea mengedipkan matanya dua kali. Apakah ini artinya si pria tampan itu secara tak langsung mengajak Thea untuk berkenalan?!

"Lo mau apa? Come closer dan bisikin di telinga gue."

Thea menelan ludahnya sendiri. Namun dia tetap menuruti perintah dari Alvaro.

Tangan Thea langsung di tarik begitu saja oleh Alvaro. Dan saat ini Thea sudah ada di pangkuan Al. Tepat di atas paha Kokoh Al dan di depan milik Al yang Thea rasa ukurannya sangat besar.

"Tell me. Apa yang Lo mau?" tanya Al tepat di depan telinga Thea.

Thea bergerak tak nyaman. Sungguh, Thea duduk tepat di atas sesuatu milik Al, yang rasanya sangat besar, dan mengeras saat itu. 'Oh astaga!' batin Thea.

'Dia mengeras! Gue kok deg-degan?!' batin Thea.

Dengan gugup Thea menatap mata Al secara langsung. Jarak mereka saat ini sudah sangat dekat. Sangat amat dekat, hingga Thea mampu mencium aroma Vodka yang keluar dari mulut Al.

Thea kemudian melirik kembali ke arah teman-temannya. 'Gue bisa! Pokoknya gue bakal langsung cium Al, dan abis itu gue minta maaf, dan gue jadiin one night stand sebagai permintaan maaf gue nanti. Ah! Lo pinter banget sumpah The!' batin Thea yang sedang merancang skenario.

"Al, gue tahu gue gak sopan. Tapi please, wait a minute, let me kiss you-"

Cup!

Kedua bola mata Thea membulat sempurna. Denyut jantungnya terasa saling memburu. Bahkan suplai oksigen Thea seolah menyusut.

Alvaro mencium bibir Thea lebih dulu.

Alvaro yang memahami jika Thea mulai kehabisan nafas langsung melepaskan pangutan bibir mereka.

Thea bernapas lega, ini artinya dia sudah menjalankan satu Dare daru Bara sialan itu. Namun, sepertinya tak akan semudah dan sesimpel itu.

Setelah memastikan Thea mengambil nafas dan mengisinya, Al langsung melahap kembali bibir itu.

Ciuman Al bertambah menjadi lumatan yang panjang dan juga panas.

Thea terjebak masuk ke dalam permainan bibir dan lidah Al. Dia mendesah, memjamkan matanya, dan menikmati segalanya.

Thea tak bisa menyembunyikan kenikmatannya di saat Al memanjakan seiisi rongga mulut Thea.

Ciuman mereka bertambah semakin panjang. Sangat panjang, hingga bagian bawah Al semakin mengeras, katakan saja milik Al sudah terbangun dan hal itu adalah karena Thea.

"Eughhh ... eughhhn ...." lenguh Thea dan Al bersama.

Sesaat, wajah Thea memerah, bukan hanya Thea. Namun begitu juga dengan Al. Dia sebelumnya tak pernah menemukan bibir dan rongga mulut senikmat seperti milik Thea.

Al mengehentikan sejenak aksinya dalam menguasai rongga mulut Thea.

"Lo udah bikin junior gue bangun. Jadi ... Lo yang harus menidurkan Al junior di bawah sana."

Dalam hati Thea, dia sedang bersorak. Dia tak perlu repot-repot untuk menawarkan Al ber-night one stand dengannya lagi nanti.

"Sebelum itu, kenalin nama gue Thea. Thea Callia. Ini id line gue." Thea memberikan selembar sticky notes berwarna merah darah. Memasukannya secara langsung ke dalam saku celana Al.

Senyuman Thea itu lugu,tetapi juga nakal. Thea mengambil sisa Vodka yang ada di gelas milik Al. Menyesapnya, dan meninggalkan sisa lip cream merahnya di sana.

"Oke. Di hotel Berlian, jam delapan malem, gue tunggu lo di kamar gue. Kamar 170." Thea tersenyum nakal ke arah Al.

Thea lalu bangkit, dia mengibaskan rambutnya dan berjalan dengan anggun ke arah teman-temannya.

Meninggalkan Al yang merasa tertantang. Tertantang untuk segera menikmati Thea, atau ... jika Al mau, dia bisa membuat Thea yang akan tunduk kepada dirinya nanti.

"Gue bakal bikin Lo mendesah di bawah gue. I'm a dominant, and I will control you, Thea Callia!"

Bab 2

Sebuah papan tergantung di depan pintu kamar Thea. Alvaro membacanya dan langsung menggelengkan kepalanya. "Silly girl!" ucap Alvaro.

Bagaimana tidak? Thea menggantung tulisan 'I'll lick your dick, I'll take your Money.

Gila. Zaman sekarang memang apapun sudah semakin bebas. Sebebas-bebasnya burung dara tanpa tuan yang terbang di langit biru.

Di saat itu kebetulan Thea membuka pintunya. Dan mata mereka langsung bertatapan.

"Oh? Lo udah dateng? Silahkan masuk, Tuan Al!" ucap Thea dengan menganggap lucu saat dia memanggil Alvaro dengan sebutan Tuan.

Rupa-rupanya Thea baru saja selesai mandi dan mendengar suara bel kamarnya yang ditekan.

"Tubuh lo emang bagus, tapi gue gak yakin, apa tubuh itu masih perawan atau tidak," ucap Al yang sudah masuk ke dalam kamar Thea tanpa permisi.

Thea hanya mengangkat bahunya acuh. Banyak orang meragukan keperawanan Thea. Karena memang gaya hidup Thea yang terlalu bebas. Suka gonta-ganti pasangan, dan juga ... sex bebas adalah pelampiasan Thea.

"Perawan atau bukan, itu semua bukan urusan Lo! Lo udah tahu kan, dan Lo fine-fine aja tuh. Ini semua cuman sebuah Dare!" Thea mendorong tubuh tinggi Al, sehingga Al jatuh ke ranjang.

Langsung saja Thea menindih tubuh Al dari atas. Thea ini bukan cewek lemah yang menunggu untuk disentuh, Thea sangat sering menjadi pihak atas sebelumnya.

Bahkan Bara, adalah 'anjing' Thea beberapa Minggu yang lalu.

Thea itu cewek dominan ...

"Lo ganteng, Lo kaya, dan Lo pasti pinter, kan? Tapi kok Lo mau aja keseret ke urusan gue dan temen-temen gue?" tanya Thea dengan membelai rahang Alvaro yang begitu kokoh.

Al tersenyum licik. Jika Thea itu licik, maka Al lebih dari itu.

Dalam sedetik kemudian, posisi mereka kini sudah terbalik. Sekarang Al yang ada di atas tubuh Thea. Al mengurung Thea di antara Kungkungan lengan kokohnya. Lalu dia membalas pertanyaan Thea dengan suaranya yang basah dan serak, "itu juga bukan urusan Lo. Anggap aja kalo kita sekarang lagi 'win-win' Lo dapet apa yang Lo mau, dan gue juga dapet tubuh Lo malem ini." Senyuman licik tercipta lagi di wajah Al yang tampan.

Thea merasa tertarik. Bukannya takut karena posisi mereka yang sudah sangat siap untuk tempur. Thea malah mendorong tubuh Al, lalu menendang bagian bawah Al dengan kakinya.

"Shit! Sakit! Lo gila?!" Al langsung terjatuh dengan memegangi asetnya yang terasa nyeri akibat tendangan maut Thea yang tiba-tiba itu.

Thea bangun. Dia berjalan melewati tubuh Al begitu saja menuju ke lemari kecil di ujung ruangan untuk mengambil sesuatu yang berguna bagi mereka.

"Pake ini!" Thea melemparkan alat kontrasepsi kepada Al.

Ah? Kalian pasti tahu apa itu, kan? Ya, sebuah benda untuk mencegah cairan putih, yang panas menyembur masuk dan bertemu dengan sel-sel telur di dalam tubuh Thea.

"Harus?" tanya Al dengan mengangkat benda itu.

"Gue gak jual atau sewa rahim buat cowok kayak Lo! Lo emang ganteng, kaya ... tapi Lo bukan tipe gue!" Kembali Thea mengibaskan rambutnya yang sudah cetar anti badai.

Thea berjalan ke arah cermin. Mengamati dirinya sendiri dari atas, hingga ke bawah. Lalu melirik Al yang tengah memakai alat itu di bagian asetnya. Thea emudian berkata, "semoga Lo gak keberatan, karena gue bakal ambil sedikit video pas kita nglakuin malam panjang ini."

"Lo mau jual video itu?" tanya Al yang rupanya sudah memakai benda yang tadi Thea berikan kepadanya.

Thea menggeleng. "Bukan. Ini adalah salah satu Dare lain dari temen-temen iblis gue." Thea menyudahi acara bercermin miliknya.

Dia berbalik dan menghadap ke arah Al. Tangan Thea dengan perlahan membuka kimono yang ia pakai.

Kedua bola mata tajam Alvaro tak bisa berkedip. Alvaro tak bisa menyangkal jika setiap bagian yang ada di tubuh Thea begitu putih, merah muda, dan indah.

'Thea, Lo harus jadi milik gue! Hanya gue setelah ini!' Batin Alvaro yang mulai semakin menginginkan Thea, hanya untuk dirinya sendiri.

Al berjalan mendekati Thea. Oh astaga! Mata Al tak lepas dari dua bongkahan milik Thea yang menyembul dari balik lingerie merah yang Thea pakai sekarang ini.

Melihat Al yang tak bisa berkedip akan keindahan tubuhnya, Thea tersenyum bangga. Di dalam hati Thea, dia sedang mengejek Al.

'Cowok semuanya sama aja. Mereka mudah tertarik, lalu gue akan mengendalikan mereka nanti!' batin Thea yang rupanya licik.

Al langsung menarik pinggang Thea. Sehingga kini Thea ada di dalam jangkauan Al.

Tangan Al tak bisa berhenti untuk meremas pinggang Thea yang terekspos dengan sangat sempurna, karena model lingerie yang Thea pakai sangat amat terbuka di bagian pinggang, perut, dan juga dadanya.

"Apa Lo akan kuat?" tanya Al yang kini terfokus kepada mata Thea yang baru disadari oleh Al, jika kedua benda bulat itu sangat indah dan berkilau.

"Lo meremehkan gue? Gue bahkan bisa tahan sepuluh ronde!" sombong Thea.

"Oke. Lo yang bilang, jadi Jagan memohon jika Lo kesakitan! Gue gak akan berhenti sampai gue sendiri yang merasa puas!"

Belum apa-apa, Al sudah main hisap. Sasaran pertama Al adalah dua bola bulat milik Thea.

Thea memejamkan matanya, dia menikmati ini. Desahan yang Thea keluarkan sungguh terdengar sangat seksi di telinga Al saat itu.

Kalian bisa bilang Thea adalah cewek murahan atau sebagainya, tapi tahukah kalian? Semua yang Thea lakukan ini sebatas hanya karena tekanan batinnya, dan masa kecilnya yang buruk. Lingkungan, dan masa lalu membuat Thea menjadi penggila sex.

"Lihat! Desahan Lo itu ... sekarang siapa yang akan memimpin malam ini? Tentu saja, gue!" seru Al dengan gairah yang sangat memuncak.

"Akkh!!" ringis Thea.

Tanpa aba-aba, Al langsung menghujamkan asetnya yang sudah mengeras dan memanjang, masuk ke dalam bibir bagian Thea yang sudah basah di bawah sana.

Sakit! Tentu saja ... tapi Thea sudah terlalu sering merasakannya. Ini bukan pengalaman pertama Thea.

"I'll go! Lo milik gue malam ini, Thea!" seru Al ya h juga sudah mulai berkeringat

'Dan selamanya sejak malam ini. Lo hanya akan jadi milik gue!' Batin Alvaro menambahkan.

Alvaro mulai memaju-mundurkan miliknya di dalam milik Thea dengan gerakan yang erotis, keduanya saling menikmati.

"More! More! Al I'm begging you! Give me more!" Seru Thea yang sudah masuk terlalu jauh ke dalam pesona seorang Alvaro.

Thea meminta lebih. Ini adalah sensasi baru yang Thea rasakan. Sebelumnya Thea tak pernah merasa sangat bergairah ketika sedang bercinta dengan lelaki lain. Namun, Al rupanya mampu membuat Thea hampir melupakan segalanya, hanyaa karena rasa sakit dan kenikmatan yang Al berikan di bawah sana.

Keringat mereka berdua sudah saling bercucuran. Panas! Walau kamar ini ber-AC, tapi aktivitas yang Thea dan Al lakukan sungguh panas! Menggairahkan dan menggoda.

Tangan Al tak henti-hentinya untuk menyusuri setiap titik di tubuh indah milik Thea!

'Oke, now i'm obsessed! You'll be my prey! My slaves! My mine!' batin Al.

Al sudah menemukan sebuah kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan dari gadis lain. Banyak gadis dengan pantat sintal, tubuh tinggi semampai, dada bulat, tetapi tak ada yang membuat Al kecanduan seperti yang sekarang sedang Thea lakukan kepadanya.

Cairan-cairan hangat mulai menetes dari aset milik Al. Walaupun memakai benda penampung cairan putih itu, tetap saja merembes keluar.

Beruntunglah Al langsung mencabut miliknya dari dalam Thea. Sehingga ceceran cairan putih Al, tak sampai masuk dan membasahi dinding rahim milik Thea. Biar bagaimana pun, Al tetap menghargai keinginan Thea untuk tak membawa masuk benih Al ke dalam tubuh gadis ba-bar itu.

"Aagh!" Suara Thea terdengar saat Al mencabut miliknya.

Kini keduanya saling beradu napas. Mata mereka saling menatap dengan keadaan satu sama lain yang sudah hancur dalam kenikmatan.

"How? Apa Lo udah mengakui kalau gue hebat? Ini udah ronde ke sebelas!" Thea sangat bangga mengatakan itu.

Al membuang wajahnya. Dia agak merasa kalah. Al pikir, Thea akan tumbang, tapi apa? Dia masih sangat vit! Malahan semakin segar dan dua kali lipat lebih menggoda.

"Lo-"

"Come on baby, come on," ucap Thea yang tangannya kini menarik leher Al.

Al jatuh tertidur di atas dada Thea yang masih terasa semakin hangat. Dengan debaran jantung yang seirama dengan miliknya. Lalu saat itu aeah pandang mata Al tak bisa beralih. Dia memandangi bongkahan bulat milik Thea, sambil memikirkan beragam fantasi.

'Shit! I wanna taste it!' batin Al yang merasa terpancing dengan Thea.

Thea yang tahu ke mana arah mata Al melirik tersenyum licik.

"Wanna taste it more?" tanya Thea dengan nakal.

Thea kemudian menyentuh dua bongkahan miliknya yang besarnya sangat ideal. Tak terlalu besar, ataupun kecil. Sungguh sangat pas untuk diremas.

Al mengedipkan matanya. Tanpa menunggu dua kali, dia langsung menyerang benda merah muda itu. Menyesapnya, dan menggigitnya dengan gairah.

"Thea. Shit for everything we're doing this night! Tapi Lo bikin gue semakin tertarik untuk menikmati semua ini setiap hari!" Di sela-sela Al yang menghisap benda merah muda itu, Al berkata demikian.

***

Lelah. Itu adalah satu kata yang sangat pas untuk menggambarkan keadaan Thea dan Al saat Itu. Mereka berdua akhirnya mengakhiri malam panas yang panjang penuh desahan dengan sebuah kesepakatan dan perdamaian.

"Gue mau buat kesepakatan sama Lo. Jujur aja, Lo juga suka kan sama tubuh gue? Begitupun gue. I like your body too!" Al menyentuh kembali benda merah muda milik Thea yang masih terekspos.

Thea tersenyum nakal. Dia tahu ke mana arah perbincangan ini akan berlanjut.

"Eugh ..." lenguh Thea yang dengan sengaja mendudukan dirinya dibatas paha Al.

Yang mana hal itu berarti membuat aset milik Al di bawah sana kembali bangun dan berdiri tegak.

"Apa yang Lo maksud, Lo mau kita jadi FWB?" tanya Thea dengan mengedipkan mata.

"Yes, friend with benefits. But ... I'm the one who will control all of it. Lo cuman perlu pasang badan, and I'll pay you as much as you want!"

Thea mengangguk.

'Cih, liat aja nanti siapa yang bakal jadi dominan. Gue gak akan mau jadi submissive Lo! Al!' batin Thea yang sungguh licik.

"Oke, itu artinya sekarang lo dan gue terikat dalam hubungan baru ini." Al melanjutkan aksinya sampai pagi, tak peduli dengan apapun. Karena Thea di depannya jauh lebih mengesankan daari segala macam hal di dunia.

Bab 3

Sore itu semua teman sekampus Thea dihebohkan dengan kedatangan Alvaro Smith yang namanya dikenal sebagai salah satu CEO muda ter-hot di negera itu. Mereka semua berbisik sambil memberikan tatapan kagum dan memuja ke arah Alvaro.

Thea yang saat itu baru saja keluar dari kantin dengan segelas ice cokelat langsung membulatkan matanya dan membuang minumannya yang baru habis setengah ke dalam tempat sampah. Thea berlari menghampiri Al yang terlihat seperti seorang pangeran yang datang untuk menjemput Tuan Puterinya.

"Kok Lo ke sini sih?!" Thea menghampiri Al dan bertanya dengan raut wajah kesal. Segera setelah itu, Thea langsung menarik tangan Al untuk menjauh dari keramaian.

"Bikin malu aja!" Kesal Thea saat mereka sudah sampai di depan mobil Alphard milik Al.

Al hanya diam dan memandangi Thea dengan ekspresi datar nan dinginnya.

"Lo yang bikin malu." Kalimat balasan dari Al sangat amat membuat Thea kesal.

"Al! Lo kok jadi ngeselin gini sih?!" tanya Thea yang semakin merasa ada yang aneh dengan Al.

Di saat itu Al semakin mendekatkan wajahnya kepada Thea. Sedangkan Thea semakin memundurkan tubuhnya, sampai tak ada lagi tempat untuk menghindari Al. Tubuh Thea sudah stuck di pintu mobil milik pria itu.

Al menyentuh pelipis Thea, dan menikmati setiap ekspresi yang Thea ciptakan di wajah itu. Lalu pria itu membuka suaranya, "kenapa Lo gak tunggu gue? Bukannya gue udah bilang ke Lo? Lo berangkat ke kampus bareng gue."

Thea bergidik ngeri mendengar pertanyaan Al itu. Tadi pagi Thea memang sengaja pergi lebih awal. Pasalnya Thea tak mau menjadi pusat perhatian satu kampus dengan datang diantar seorang pria matang yang tampan, seksi, dan kaya. Lagipula, Thea sepertinya ingin membatalkan saja kesepakatan hubungan FWB dengan Alvaro.

Thea bukannya sudah tak terarik dengan uang Al yang dijanjikan kepadanya, akan tetapi di saat kemarin Al memberikan beberapa persyaratan yang menurut Thea sangat amat tak adil di dalam hubungan Friend Wirh Benefit yang tadinya mau mereka jalani.

"Al! Jangan deket-deket! Jauhan dikit!" seru Thea dengan mendorong dada Al degan kedua tangannya.

Thea mengambil nafasnya panjang, dan kemudian langsung berkata kepada Al, "Al! Kayaknya kita gak usah jadi partner FWB deh, gue gak mau. Kita batalin aja ya?"

Al menaikan alisnya, dahinya ikut berkerut. Sepertinya apa yang Thea katakan tak membuat Al senang.

"Why?" tanya Al dengan sangat singkat. Terlihat jelas sekali, jika Al sepertinya sangat tak menyukai apa yang Thea ucapkan beberapa saat yang lalu.

Thea memalingkan wajahnya supaya tak bertatapan langsung dengan Al. Dia gerogi, dan menjadi sedikit takut sekarang.

"Ya, gue gak mau. Lagipula kita kan udah selesai. Gue udah menang dari teman-temen gue. Dare itu-"

Lagi dan lagi, belum sempat Thea melanjutkan ucapannya, Alvaro lebih cepat memotongnya sesuka hati.

"Dare itu? Gimana kalo gue gak menganggap semuanya sebatas Dare?" tanya Al dengan serius.

"Ap-a?" Thea bertanya dengan terbata-bata.

Sebelum menjawab pertanyaan Thea lebih panjang, Alvaro memilih untuk memasukkan tubuh Thea ke dalam mobilnya. Thea sempat menolak dengan mencoba kabur lalu lari dari Alvaro, tapi Alvaro sudah lebih dulu mengantisipasi semuanya.

Dengan kekuatannya, dia mendorong masuk tubuh Thea. Setelah itu Alvaro buru-buru masuk ke pintu sampingnya dan menguncinya rapat.

"Al! Kok jadi gini, sih? Lo mau culik gue? Al! Udah turunin gue aja, please!" Thea bahkan sampai memohon. Tapi sayang sekali, Alvaro tak bergeming.

Mobil itu pun langsung melesat pergi dari area kampus. Thea kira Al akan mengantarkannya pulang, tetapi yang terjadi selanjutnya adalah sebalinya. Al membawa Thea ke sebuah mall serba ada.

"Ayo turun," ajak Alvaro yang kini membukakan pintu mobil untuk Thea.

Thea masih binggung dan diam di dalam sana, dan hal itu tak membuat Alvaro senang."Lo mau turun sendiri, atau perlu gue gendong lo keluar?" tanya Al. Entah Thea ini sedang tuli sesaat atau bagaimana, tetapi gadis itu masih diam di tempatnya. Tak ada jalan lain, Alvaro langsung menggendong tubuh Thea dengan sangat mudah keluar dari mobilnya.

"Al!" Thea yang keget langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Alvaro.

Alvaro melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall itu, dengan Thea yang ada di dalam gendongannya. Beberapa kali Thea sudah minta diturunkan, tetapi Alvaro enggan menuruti keinginan Thea tersebut.

Sampailah mereka di dalam mall itu. Thea bertambah semakin binggung saat melihat keadaan di dalam sana sangatlah sepi. Tak ada orang lain, ataupun pengunjung selain Al dan Thea.

"Al, kok sepi? Ini kan bukan tanggal tua apalagi tanggal merah, kan? Eh ... ini kenapa si?" tanya Thea yang berbisik di telinga Al. Sedangkan Alvaro hanya tersenyum miring.

Al sudah menurunkan Thea, dan langsung menautkan jarinya dengan jari Thea. "Ayo," ajak Al yang langsung membawa Thea untuk melihat sekaligus membeli apapun yang Thea mau di sini.

Sebenarnya Thea masih ingin bertanya, tetapi matanya dan keinginan hatinya terlalu sulit untuk di tahan Apalagi saat Al dengan sengaja memamerkan kartu kredit no limit miliknya dan meminta Thea untuk mengambil apapun yang gadis itu mau.

"Astaga! Lo gak bohong, Al? Lo gak bakal nagih semua belanjaan gue, kan?" Thea kalap. Sudah ada sekitar sepuluh paperbag dari brand-brand ternama menjadi miliknya.

Al hanya mengangguk, dia juga sedang membawakan barang-barang Thea. "Apa lo masih mau belanja? Kalau lo mau, gue bisa minta ke pelayan gue buat bawa semua belanjaan lo."

Thea buru-buru menggeleng. Ini saja sudah sangat banyak, dan harganya? Jangan ditanya, karean Thea tak mau tahu.

"Cukup! Ini cukup banget buat gue, Al!"

Mendengar itu membuat Al menjadi senang. Dia mengelus pelan rambut Thea. "Ayo kembali ke mobil dan kita makan bersama."

Thea saat itu tak memiliki opsi apapun, kecuali menyetujui setiap apapun yang Al katakan. Karena ya, Al sudah membelikan tas, sepatu, baju, bahkan setelan dalaman dengan bahan kulaitas premium yang harganya sangat amat mahal. Belum lagi dengan beberapa jam tangan, cincin dengan kristal bening di tengahnya, dan banyak lagi pernak-pernik aksesoris wanita yang lainnya,

Di dalam mobil Thea kembali bertanya, "Al. Kok mall-nya sepi sih? Terus kenapa mereka semua, pekerja yang ada di sana hormat banget sama lo? Mereka sampai panggil lo dengan sebutan Tuan?" Al melirik Thea dan dengan santai menjawab, "ya karena mall itu punya gue."

"Apa?!" teriak Thea tak bisa menggondisikan suaranya.

"Pu-nya lo?" tanya Thea memastikan dan langsung di balas anggukan oleh Al.

Mereka kini akhirnya sampai di sebuah restoran mewah. "Jangan bilang kalo restoran ini juga milik lo."

Al terkekeh, "bukan, tapi kalo lo mau dan suka sama semua makanan yang ada di sini, gue bisa beli restoran ini buat lo."

Thea speechless. Apa Al tak takut jika uangnya habis? Bagaimana jika tiba-tiba kebakaran di gudang uang Al, dan semua uangnya hangus? Atau bagaimana jika ada perampok? Apa Al masih bisa menyombongkan semua uanagnya?

Kembali Al membukakan pintu mobil untuk Thea. "Ayo turun," ujarnya. Thea mengangguk dan semakin kikuk. Al jelas bukan orang kaya biasa.

Thea bernafas lega. Restoran ini tak sesepi Mall tadi. Masih ada pengunjung lain. Namun, tetap saja, seperti semua orang yang ada di sana, dan para pelayan begitu menghormati Al.

Saat Al dan Thea ingin beranjak dan duduk di tempat mereka, sebuah suara memanggil nama Al.

"Al!" Al langsung menoleh. Dan wajahnya terlihat kesal saat itu.

"Kemarilah!" panggil pria tua dengan jas mahalnya.

"Huh!" Dengan berat hati Al menghampiri pria tua yang memanggilnya, dengan menarik tangan Thea untuk ikut bersamanya.

"Papah tak mengira jika kau akan datang kemari juga."

'Oh ... dia bapakya Al.' Batin Thea yang masih berdiri di sisi Al.

"Hmn." Al menjawab dengan deheman. Lalu saat ia ingin beranjak dari sana, bapak Al yang bernama Reon menghentikannya lagi.

"Mari bergabung saja dengan kami." Reon yang saat itu duduk dengan beberapa koleganya yang juga tua, tersenyum ramah.

"Dan kau juga harus berkenalan dengan anak kenalan Papa." Reon tersenyum ke arah seoraang gadis di antara para orang tua itu.

Gadis yang cantik dengan menggunakan dress sopan yang pastinya mahal, dia juga terlihat anggun, dan wajahnya seperti oraang berpendidikan yang sangat pintar. Sudah jauh berbeda kelas dengan Thea yang hanya mengenakan baju crop top santai dipadukan dengan celana kulot dan sebuah cardigan kebesaran.

Gadis itu teersnyum dan berdiri di hadapan Al, dia menjulurkan tangannya, tetapi Al msih tetap mengabaikannya. Dia lalu tersenyum kikuk, dan tetap memperkenalkan namanya. "Salam kenal, Al. Aku Micaila Anderson. Senang bisa bertemu denganmu."

Al hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi, dia kemudian melirik ke arah ayahnya. "Sudah kan? Saya akan pergi jika begitu," ucap Al sambil menarik tangan Thea.

"Al! Kau snagat tak sopan ... Mica. maafkan Al, ya? Dia memang terkadang seperti itu."

"Iya, tak apa kok Om. Aku paham." Micaila duduk kembali dan menyesap teh nya dengan anggun.

"Al dia adalah Micaila. Gadis yang akan papah tunangkan dan nikahkan denganmu."

Al nampak tak suka. Tanpa sengaja dia bahkan menekan kuat pergelangan tangan Thea.

"Awww! Al kok-"

"Sebelumnya maaf. Saya akan langsung menolaknya, papah."

Reon syok. Dia malu. Ada banyak kolega dan calon besannya di sini, dan Al menolak secara langsung.

"Tapi kenapa? Al usiamu sudah matang. Waktunya untuk serius dan tak selalu bermain dengan wanita murahan seperi yang ada di sampingmu!"

Thea merasa jika dia mulai menjadi pusat perhatian. "Om saya-"

"Dia adalah kekasih saya. Dan saya akan menikah dengannya, buka dengan Micaila."

"Heh?! Apa?! Al-"

Belum sempat Thea menyuarakan pendapatnya, Al sudah menarik tangan Thea keluar dari restoran ini.

***

Di dalam mobil, Thea sedang menagih penjelasan Al.

"Kok Lo seenaknya aja sih?! Lo itu seharusnya gak boleh ngomong gitu! Mereka salah paham nanti, Al!" Thea menguyah permen karetnya dengan kesal. Sedangkan Al hanya diam fokus mengemudi.

"Al! Jangan jadi batu deh! Kita ini cuman FWB, lagipula gue juga udah bilang, gue mau batalin aja-"

"Gak ada yang dibatalin, Thea. Anggap aja ini salah satu dari hubungan FWB kita." Jantung Thea berdebar saat Al menghentikan mobilnya, dan fokus melihat wajah Thea.

Dia mencengkram bahu Thea lumayan kuat.

"Mulai sekarang anggap aja kalo gue itu sugar Daddy Lo, dan Lo harus pura-pura jadi kekasih gue."

"Al! Tap-"

"Please, The! Gue gak mau dinikahin sama cewe yang gak gue suka. Dan Lo harus bantu gue!"

"Ya tapi kok gue?! Ada banyak cewek di luar sana, Al!"

Mereka berdua berdebat. Tak ingin mengalah satu sama lain. Hingga Al terpaksa mencium rakus bubur Thea, hingga membuat si empunya kehabisan nafas.

"Gue gak suka dibantah, Thea. Dan Lo tenang aja, uang bulanan Lo bakal aman sama gue. Lo gak perlu kerja atau one night stand sama siapapun lagi setelah ini. Lo cukup jadi kekasih pura-pura gue."

Jika begini Thea yang sangat menyukai uang bisa apa? Setelah pertimbangan yang cukup banyak, Thea mengangguk dan menyetujuinya.

"Oh iya, satu lagi. Mulai sekarang jangan pakai Lo-Gue ketika kita sedang bicara satu sama lain. Kau paham, Thea?"

"Tapi lo-"

"Kamu-aku, Thea." Suara Al menuntut. Dan bodohnya Thea langsung kicep.

"Iya, maksud aku, kamu Al ..."

"Good girl!" Al mengusap rambut Thea. Da mengantarkan kekasih pura-puranya pulang.

***

"Kau tinggal bersama denganku saja."

"Hah?! Apa? Gak mau lah! Gue gak mau Al"

"Gue- Emmphtt!!"

"Jangan pakai bahasa gaul mulai sekarang, Thea. Kekasih Al itu tak boleh berbicara kasar."

Wajah Thea merona.

"Kita kekasih pura-pura Al!" teriak Thea.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED