"Analisis laporan keuangan harus selesai sebelum jam pulang siang."
Elara kembali ke meja kerjanya. Meskipun dia dipindahkan ke posisi pegawai kecil di departemen sekretaris, Shireen justru memberinya banyak tugas yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya. Semua itu pun dia terima satu per satu.
Dia terus bekerja tanpa mengeluh di perusahaan ini, sejatinya hanya bentuk penipuan diri sendiri. Deon sama sekali tidak akan meliriknya sedikit pun.
Setelah Elara menyelesaikan analisis laporan itu, dia menyerahkan versi digital beserta cetakan kertasnya kepada Shireen, lalu memesan makanan pesan antar.
Meskipun perusahaan memiliki kantin, selama ini dia selalu membawa bekal sendiri. Dia tidak ingin pergi ke tempat ramai, tidak ingin terus-menerus menjadi bahan tatapan orang lain, tidak ingin berurusan dengan siapa pun. Dia hanya ingin makan sendirian dengan tenang.
Karena pagi ini tidak sempat menyiapkan makan siang, dia pun terpaksa memesan makanan.
Saat menunggu pesanan datang, beberapa rekan kerja yang sudah makan siang masuk ke kantor sambil mengobrol dengan penuh semangat.
"Pacar Pak Deon masih sangat muda ya? Mahasiswi, 'kan?"
"Sepertinya begitu. Cantiknya luar biasa, seperti boneka."
"Tatapan Pak Deon ke dia benar-benar lembut. Tak disangka beliau yang selalu serius punya sisi selembut itu. Versi nyata presdir dominan dan istri muda!"
Kedua rekan itu terus mengobrol sambil masuk ke kantor, lalu menyadari keberadaan Elara di mejanya. Dia duduk di sana, kaku, tak bergerak, seperti patung penjaga gunung.
Sejak dipindahkan ke departemen sekretaris, selain urusan pekerjaan, dia nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun. Kini, dia bahkan semakin menyendiri, setiap hari memakai masker seolah-olah wajahnya tak pantas dilihat orang.
Sulit membayangkan bahwa setengah tahun lalu dia masih merupakan asisten presdir yang sangat disegani.
Setelah menerima telepon dari kurir makanan, Elara pun bangkit. Saat dia turun ke lantai bawah untuk mengambil pesanannya, dia kebetulan melihat dua staf hotel membawa hidangan dan bertanya ke meja resepsionis. Resepsionis menggesekkan kartu lift khusus presdir untuk mereka.
Elara melihat sebotol anggur merah di tangan salah satu staf. Harga satu botol itu sekitar 4 miliar. Bagi Deon, itu hanyalah uang yang bisa dia hasilkan dalam waktu kurang dari satu menit.
Elara membawa pesanannya dan kembali ke atas.
Pukul 2 siang, Shireen menghampirinya dan berkata, "Pak Deon mencarimu."
Jantung Elara berdegup kencang. Dalam hatinya, muncul firasat buruk yang tak bisa dijelaskan.
Firasat itu benar adanya. Begitu Elara tiba di kantor presdir, tekanan rendah langsung menyergapnya. Dia berjalan ke depan meja kerja dan menyapa pelan, "Pak Deon."
Saat Deon mengangkat pandangan ke arahnya, wajah tampannya tampak dingin dan muram. Dia mengayunkan tangan, melempar berkas di tangannya tepat ke arah wajah Elara. "Ini yang kamu sebut laporan analisis?"
Kertas A4 yang tajam itu menggesek pipi Elara. Dia merasakan perih sesaat. Berkas-berkas berserakan di kakinya. Itulah laporan yang dia kerjakan pagi tadi.
Dengan satu tangan menopang perutnya, Elara membungkuk dengan susah payah untuk memungut berkas-berkas itu.
Sepasang mata hitam pria itu menatap dingin gerakannya yang lambat saat dia berjongkok sambil menahan perut.
Elara meneliti laporan di tangannya dan langsung menyadari beberapa angka yang tidak sesuai. Dia membela diri. "Pak Deon, ini bukan laporan yang kubuat."
"Cukup. Aku nggak ingin mendengar pembelaanmu."
Elara menggenggam erat berkas itu.
Bukan Deon tidak tahu kemampuan Elara. Bukan pula dia tidak ingin mendengar penjelasan. Dia hanya memilih menganggap Elara memang pantas disalahkan.
Dibenci sampai sejauh ini oleh pria yang begitu dicintai, sungguh membuatnya merasa menyedihkan sekaligus konyol.
Elara menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dan mengumpulkan keberanian. "Aku menyimpan salinannya. Aku bisa langsung mengirimkannya untuk Pak Deon periksa. Setelah itu, Pak Deon boleh memarahiku sesuka hati."
Mata hitam Deon menyipit, kekesalan jelas terpancar.
Saraf Elara menegang. Di dalam hatinya, dia selalu menyimpan rasa takut terhadap Deon. Takut pada otoritasnya, terutama saat wajahnya sedingin ini. Biasanya, dia sama sekali tidak berani membantah.
Namun saat ini, dia memaksa dirinya untuk tenang. Lagi pula, mereka akan segera bercerai. Dia juga akan menuruti keinginan Deon, tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Dia tak akan berharap apa pun dari Deon lagi. Lalu, apa lagi yang perlu ditakuti?
"Kamu merasa sangat terzalimi?" Suara pria itu dingin seperti serpihan es, sarat ejekan.
Elara menatap balik mata hitam yang tajam itu. Ujung jarinya menancap dalam ke telapak tangan. Suaranya terdengar lebih berat. "Pak Deon menuduhku tanpa bertanya sebabnya. Apakah aku nggak pantas membuktikan diriku sendiri?"
Wajah Deon sepenuhnya suram. "Itu memang pantas kamu terima."
Hati Elara terasa seperti diremas kuat. Rasa sakit menjalar hebat, wajahnya seketika pucat.
Saat itu juga, pintu ruang istirahat terbuka. Seorang gadis muda keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra bertali tipis berwarna pink. Rambut panjangnya hitam berkilau, kulitnya putih bersinar, wajahnya begitu indah hingga sulit mengalihkan pandangan.
"Kak Deon!" Suara gadis itu lembut seperti angin musim semi, halus dan menenangkan.
Akhirnya, Elara melihat jelas wajah gadis itu. Memang secantik itu, sampai membuat orang merasa rendah diri.
Dia baru melirik sekilas ketika mendengar bentakan dingin pria itu. "Keluar!"
Elara menarik kembali pandangannya, menekan gejolak emosinya, lalu berbalik dan berjalan ke luar.
Begitu keluar dari kantor, dia mendengar suara lembut gadis itu menenangkan Deon dan pria itu pun segera menjadi tenang.
Elara mendongak, menahan air mata agar tidak jatuh. Dia pergi ke sudut tangga yang sepi. Dengan satu tangan berpegangan pada pagar, emosinya akhirnya runtuh. Air mata mengalir deras, dadanya terasa seperti diremas, perutnya pun bergejolak.
Menyingkirkan pria yang telah dia cintai selama delapan tahun dari lubuk hati terdalamnya tak ubahnya menguliti daging dan mengorek tulang. Namun, tak masalah. Semua akan membaik. Dia akan benar-benar melupakan Deon.
Entah berapa lama berlalu, akhirnya Elara menenangkan diri. Saat naik kembali menuju mejanya, dia berpapasan dengan gadis itu.
Gadis itu mengenakan busana bermerek yang dipesan khusus, tampak sempurna dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas saja sudah jelas, dia adalah gadis yang dibesarkan dengan kemewahan dan kasih sayang.
Mikie mengantarnya secara pribadi. Mikie adalah asisten khusus Deon.
Melihat Elara, gadis itu tersenyum dan melangkah mendekatinya, lalu berhenti. Dengan suara lembut, dia berkata, "Sudah nggak apa-apa. Kak Deon nggak akan menyalahkanmu lagi."
Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah mutiara dari tasnya, menggenggam tangan Elara, lalu meletakkan mutiara itu di telapak tangannya. "Ini untukmu. Jangan bersedih lagi. Luka di wajahmu jangan lupa diobati. Kalau wajah perempuan punya bekas luka, itu nggak bagus lho."
Betapa cantik dan baiknya gadis ini. Dibandingkan gadis yang memancarkan pesona ini, Elara merasa dirinya seperti badut yang hidup di dunia gelap.
Melihat Elara tidak bereaksi sama sekali, Mikie mengerutkan kening dan mengingatkan dengan dingin, "Nggak tahu berterima kasih pada Bu Doreen?"
Ternyata namanya Doreen.
Doreen Adhisti menarik kembali tangannya dan berkata, "Nggak apa-apa. Ayo kita pergi."
Keduanya pun pergi.
Elara berdiri di tempat, menatap mutiara putih berkilau biru perak di telapak tangannya. Teksturnya sempurna tanpa cela, sebersih gadis itu sendiri.
Hanya saja, dia tidak tahu apakah gadis itu mengetahui fakta bahwa Deon sudah menikah.
Setelah kembali ke mejanya, Elara mencetak ulang dokumen versi asli dan menyerahkannya ke hadapan Shireen. Saat melihatnya, tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Shireen, yang ada justru kepuasan.
"Kamu sudah lihat jelas, 'kan? Seperti apa gadis yang pantas bersanding dengan Pak Deon."
Elara membanting berkas itu ke depan Shireen dengan keras. "Aku nggak pantas, kamu juga nggak pantas. Jadi, kamu hanya bisa memainkan cara-cara murahan seperti ini? Seumur hidupmu pun kamu nggak akan punya masa depan. Sudah kepala tiga, cepat cari orang untuk nikah. Berhentilah bermimpi di siang bolong."
Ekspresi Shireen berubah. Dia menepuk meja dengan keras, lalu berdiri. "Elara!"
Elara malas menanggapinya, jadi berbalik dan pergi.
Setelah kembali ke mejanya, Elara mengeluarkan cermin kecil dan melihat sisi pipinya yang tergores tipis. Lukanya tidak dalam. Dia mengusapnya dengan tisu basah, tidak memerlukan perawatan tambahan. Lagi pula, dengan wajah seperti ini, bertambah satu bekas luka pun tidak masalah.
Pikirannya kembali pada wajah gadis tadi. Entah kenapa, terasa agak familier.
Menjelang jam pulang kerja, Elara menerima telepon dari ayahnya. Sander sudah kembali, jadi meminta Elara pulang untuk makan malam di rumah.
Elara terkejut sekaligus senang. "Kak Sander sudah pulang? Bukannya katanya tanggal 15?"
Ayah Elara menjawab, "Begitu pekerjaannya selesai, dia langsung pulang lebih awal."
"Oke, habis pulang kerja aku langsung ke sana."
Elara pun mengemudi ke rumah Keluarga Wiratama. Rumah Keluarga Wiratama berada di kawasan barat kota, di sebuah kompleks apartemen kelas menengah. Itu adalah unit besar bekas yang baru dibeli tahun ini.
Ayah Elara menjalankan perusahaan properti berskala menengah. Meskipun tidak bisa disebut keluarga terpandang, kehidupan mereka cukup berada, sehingga sejak kecil Elara tumbuh dalam kondisi berkecukupan.
Namun, kini industri properti sedang lesu. Setengah tahun lalu, perusahaan mengalami masalah keuangan serius akibat kegagalan investasi dan hampir bangkrut. Saat ayahnya mengetahui bahwa Elara mengandung anak Deon, dia tidak memaksanya pergi ke Keluarga Atmadja untuk menuntut pertanggungjawaban.
Melihat ayahnya yang semakin menua dan tampak lelah, bahkan sampai harus menjual aset keluarga untuk melunasi utang, Elara akhirnya mengambil keputusan pergi ke Keluarga Atmadja. Saat itu, sebenarnya dia menyimpan niat pribadi. Bukan semata demi ayahnya, tetapi juga demi dirinya sendiri.
Dia memang mendapatkan apa yang diinginkannya. Berkat uang mahar yang besar dari Keluarga Atmadja, utang Keluarga Wiratama berhasil dilunasi.
Namun, dia pun membayar harga yang setimpal. Jadi, semua penderitaan yang dia alami sekarang hanyalah akibat dari pilihannya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun.
Sesampainya di rumah, Larissa keluar dari dapur. "Ela, kamu sudah pulang."
Saat Elara berusia sembilan tahun, ibu dan ayahnya bercerai. Sang ibu membawa kakaknya pergi, meninggalkan Elara bersama ayahnya.
Kemudian, Larissa bertemu dengan ayahnya. Namun, mereka tidak pernah mendaftarkan pernikahan dan hanya hidup bersama sebagai pasangan.
Awalnya Elara tidak bisa menerima Larissa, bahkan sempat membencinya. Namun perlahan, Elara merasakan ketulusan Larissa. Sander juga memperlakukannya dengan sangat baik. Kehilangan kakak kandung, dia pun mendapatkan seorang kakak baru.
"Tante Larissa, Ayah dan yang lain di mana?"
"Sepertinya masih di jalan, sebentar lagi sampai. Kamu istirahat dulu."
"Oke."
Elara kembali ke kamarnya. Meskipun sudah menikah, ayahnya tetap menyisakan satu kamar tidur untuknya dan merenovasinya ulang sesuai dengan seleranya.
Begitu kembali ke rumah yang benar-benar miliknya, semua kelelahan dan kepedihan seolah-olah lenyap seketika.
Dia duduk di tepi ranjang dan melihat album foto di atas nakas. Dia mengulurkan tangan dan membukanya. Foto pertama adalah potret keluarga yang tidak lengkap.
Foto itu sudah sangat lama. Tahun itu, Elara baru berusia delapan tahun.
Ayahnya yang masih muda dan tampan menggendongnya. Di samping ayahnya berdiri sang kakak, saat itu berusia 14 tahun. Di sisi lain adalah ibunya.
Foto itu dirobek sendiri oleh Elara. Karena dia membenci ibunya. Membenci mengapa ibunya membawa kakaknya pergi dan meninggalkan dirinya serta ayahnya. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang mencabik itu kini tak lagi terasa.
Dia membalik halaman berikutnya. Dalam foto itu, seorang gadis remaja belasan tahun tampak muda dan cantik, mengenakan gaun panjang putih dan topi anyaman kecil berwarna cokelat muda, berdiri di bawah pohon ginkgo berdaun keemasan. Sinar matahari jatuh tepat pada senyuman cerah gadis itu.
Rambut panjang hitam legam, wajah oval kecil, raut wajah cerah dan menawan. Terutama sepasang matanya, berkilau seperti bintang di langit.
Namun kemudian, dia sakit parah dan harus mengonsumsi obat hormon. Tubuhnya perlahan menjadi gemuk. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba menurunkan berat badan, hasilnya tetap nihil. Dia hanya bisa menahan diri dengan kelaparan dan olahraga agar tidak semakin bertambah gemuk.
Tanpa sadar, Elara teringat pada gadis yang ditemuinya hari ini. Fitur wajahnya memiliki kemiripan dengan dirinya di foto itu, terutama sepasang mata itu.
Tok, tok, tok.
"Ela, mereka sudah pulang." Larissa mengetuk pintu sambil berkata.
Elara tidak banyak berpikir lagi. Dia meletakkan album foto, bangkit, lalu keluar dari kamar. Begitu melihat dua orang yang baru masuk, dia berseru dengan gembira, "Ayah, Kakak!"
Sander dan William menatap Elara.
"Ela, aku bawakan hadiah untukmu. Sini, lihat kamu suka nggak," panggil Sander.
Elara melangkah mendekat dengan wajah berseri-seri. "Hadiah apa?"
Sander membawa banyak kantong dan meletakkannya di atas meja kopi. Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan bermerek dan menyerahkannya kepadanya. "Buka saja."
Elara menerimanya dengan senang hati. Saat dibuka, di dalamnya ada sebuah gelang emas dengan pengerjaan yang sangat halus. "Terima kasih, Kak. Aku suka sekali."
"Syukurlah kalau kamu suka." Sander mengulurkan tangan dan mengusap kepala Elara dengan penuh kasih sayang.
Sander juga membelikan Larissa sebuah gelang emas yang cocok untuknya, lalu membawakan masing-masing satu set produk perawatan kulit untuk mereka berdua. Untuk William, dia membelikan teh dan minuman beralkohol, serta membawa oleh-oleh khas daerah setempat.
Suasana terasa hangat dan harmonis. Hanya saat kembali ke rumah, Elara bisa merasakan ketenangan yang luar biasa.
"Ela, kapan perkiraan lahiran?" tanya Sander dengan perhatian. Dengan perutnya yang besar, memang terlihat seperti kehamilan akhir.
Elara menjawab, "Masih dua bulan lagi."
"Pasti anak perempuan," ujar Larissa sambil tersenyum.
Elara mengangguk. "Memang anak perempuan."
"Sudah cek jenis kelamin?" tanya William.
Larissa seolah-olah menyadari sesuatu dan ikut menegang.
"Sudah, Nenek Nami sangat memperhatikan anak ini," ujar Elara.
William menghela napas lega. "Syukurlah. Selama masih ada anak, ke depannya kamu dan Deon pasti akan perlahan membaik."
Elara menunduk. Hatinya terasa berat. Dia mendadak tidak tahu harus mulai dari mana, karena Deon sudah mengajukan perceraian kepadanya.
Namun, hal ini pasti tidak bisa disembunyikan. Lagi pula, dia sudah memutuskan untuk pindah dari Shallow Bay dan kembali tinggal di rumah. Sudahlah. Lebih baik menunggu setelah makan malam baru membicarakannya.
Larissa menyiapkan makan malam yang sangat mewah.
Kini, Sander bersama teman-temannya mendirikan sebuah perusahaan teknologi. Dua tahun lalu, saat tahap awal pendirian perusahaan, William tanpa ragu memberikan modal awal kepadanya. Saat ini perkembangan perusahaan sangat baik, terutama di bidang teknologi AI. Perjalanan dinas kali ini pun untuk membahas kerja sama dan hasilnya berjalan sangat lancar.
Sementara itu, William sedang mengurus proses penjualan perusahaannya. Meskipun sebelumnya perusahaan sempat beroperasi dengan baik berkat mahar besar dari Keluarga Atmadja, kondisi lingkungan ekonomi yang buruk membuat transformasi menjadi sangat sulit, sehingga perusahaan memang sudah tidak bisa dipertahankan.
Usianya semakin bertambah, tenaganya pun tak seperti dulu. Dia sangat optimis dengan perkembangan perusahaan Sander. Menjelang akhir tahun, perusahaan Sander akan memasuki tahap pendanaan. Dia berencana menjual perusahaan lamanya dan menginvestasikan seluruh dana itu ke perusahaan Sander.
Bersamaan dengan itu, dia juga mengumumkan kabar baik. William berencana mendaftarkan pernikahan dengan Larissa.
Mata Larissa langsung memerah. Setelah bertahun-tahun menemani, akhirnya membuahkan hasil. Elara tidak keberatan sedikit pun. Dia tahu, alasan ayahnya selama ini enggan mendaftarkan pernikahan adalah karena masih menyimpan bayangan tentang ibunya di lubuk hatinya.
Dia juga tak pernah mengerti, mengapa ibu yang memiliki suami sebaik ayahnya dulu memilih bercerai dan pergi. Namun kini, semua itu sudah tidak penting lagi. Di hari sebaik ini, Elara benar-benar tidak tega merusak suasana.
Namun pada akhirnya, dia tetap membuka mulut. "Ayah, Tante, Kak ... Deon berniat menceraikanku."
Begitu kata-kata itu terucap, suasana ruang makan langsung membeku. Wajah semua orang menegang, terutama William yang menunduk.
Hasil seperti ini seolah-olah sudah dapat diperkirakan, hanya saja tidak disangka akan datang secepat ini.
Meskipun Keluarga Wiratama dan Keluarga Atmadja telah menjadi besan, keduanya tidak pernah menggelar pesta pernikahan, hanya mendaftarkan pernikahan. Selama lebih dari setengah tahun ini, kedua keluarga hampir tidak pernah berhubungan.
Deon juga tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki ke rumah Keluarga Wiratama. Saat festival, pihak Keluarga Atmadja juga tidak pernah mengirimkan hadiah. Setiap kali Elara pulang sendirian, William dan Larissa menyiapkan hadiah perayaan untuk dibawa Elara ke Keluarga Atmadja.
Saat dia mengantarkannya ke sana, Nami memang menerimanya dengan sopan, tetapi Elara tahu bahwa hadiah-hadiah itu kemudian diberikan kepada para pelayan rumah lama.
Sementara Irma, di depan matanya sendiri, langsung menyuruh pelayan membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah. Dia bahkan sampai memperingatkan Elara agar jangan membiarkan keluarganya mengirim barang-barang yang tidak pantas seperti ini lagi.
Deon pun mengingatkannya agar tidak melakukan hal yang tidak ada artinya. Dalam pernikahan yang begitu timpang, perpisahan hanyalah masalah waktu.
Elara mengatupkan bibir, lalu melanjutkan, "Tapi harus menunggu sampai anak ini lahir. Aku juga sudah berjanji pada Profesor Arizo. Februari tahun depan aku akan berangkat ke Universitas Stafurd untuk melanjutkan studi."
Sander menjadi orang pertama yang memecah kesunyian. "Pergi lanjut studi itu bagus. Ela, kamu begitu berbakat. Kamu memang nggak seharusnya terjebak dalam pernikahan. Apa pun keputusanmu, Kakak pasti mendukungmu."
Elara tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Kak."
William menghela napas panjang. Dalam helaan napas itu tersimpan keputusasaan dan rasa bersalah yang tak terhingga. "Kalau cerai, ya cerai saja. Ini semua salah Ayah. Orang biasa seperti kita memang nggak pantas berharap tinggi pada keluarga besar seperti Keluarga Atmadja."
Mata Elara memerah. Tiba-tiba, dia merasa bahwa semua penderitaan yang dialaminya belakangan ini sebenarnya tidak seberapa. Dia memiliki dukungan keluarga. Keluarganya akan selalu menjadi sandarannya. Tidak ada rintangan yang tidak bisa dia lewati.
Melihat itu, Larissa segera mengambil tisu dan mengusap mata Elara yang memerah sambil menenangkannya.
Akhirnya, sekeluarga menghabiskan makan malam itu dengan perasaan yang kembali hangat.
Pada saat yang sama, di kawasan vila pinggiran kota selatan, sebuah kompleks vila yang telah ada lebih dari 20 tahun dan termasuk kawasan lama orang-orang kaya, dengan fasilitas yang kini sudah menua ….
Sebuah Bentley perlahan berhenti di depan gerbang vila nomor 12. Vila ini adalah vila yang dulu dijual oleh Keluarga Wiratama.
Kaca jendela mobil turun perlahan, memperlihatkan wajah samping yang tampan dan sempurna. Orang itu memandang ke arah vila yang terang benderang di dalam.
Cahaya lampu jalan berwarna kuning hangat jatuh ke dalam matanya, tak mampu menyembunyikan kerumitan dan kesepian yang tersimpan di sana. Dia menarik kembali pandangannya dan menyalakan sebatang rokok.
Saat itu, ponselnya bergetar. Dia mengangkatnya dan menjawab dengan suara lembut, "Ada apa, Doreen?"
Suara Doreen terdengar manja dari seberang sana. "Kak, kapan sampai? Aku sudah lapar sekali. Kak Deon malah nggak mengizinkanku makan dulu."
Tak lama kemudian, dari ujung telepon terdengar suara rendah yang penuh kasih sayang. "Siapa yang bilang aku harus mengingatkannya supaya menjaga mulut? Sekarang malah menyalahkanku."
Doreen mendengus pelan.
"Kalau lapar, makan saja dulu. Aku segera sampai."
Telepon ditutup.
Vidi mematikan puntung rokoknya, melirik sekali lagi ke luar jendela, lalu menaikkan kaca mobil dan mengemudi meninggalkan vila itu.