Saat Arizo mengangkat kepala dan melihat perempuan yang berdiri di depan pintu, dia sempat tertegun sejenak, tidak langsung mengenalinya. Baru setelah Elara membuka mulut dan menyapa "Profesor Arizo", Arizo menahan ekspresinya, lalu berkata, "Kamu sudah datang."
Elara melepas masker dan masuk ke kantor. "Profesor Arizo, lama nggak bertemu."
Arizo tersenyum lembut. "Lama nggak bertemu. Hampir saja aku nggak mengenalimu."
Elara tersenyum getir dan berkata, "Dengan kondisiku sekarang ini, aku sendiri saja merasa malu menemuimu."
Arizo bangkit, berjalan mengitari meja kerjanya, lalu berkata, "Saat hamil, bentuk tubuh berubah itu wajar. Setelah melahirkan nanti akan membaik. Duduklah."
Elara duduk di sofa.
Arizo menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya kepadanya. "Hangatkan badan."
Elara menerimanya. "Terima kasih."
Arizo melirik perutnya yang membuncit dan bertanya, "Sudah berapa bulan?"
Elara menjawab, "Enam bulan satu minggu."
Arizo berkata, "Kalau begitu, saat mulai kuliah akhir Januari tahun depan, kamu baru sampai waktu perkiraan melahirkan."
Elara memohon, "Aku ingin minta bantuan Profesor. Apa aku bisa menunda waktu masuk kuliah?"
Melahirkan adalah hal yang tidak bisa dihindari, tetapi dia benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini.
Arizo bertanya dengan serius, "Kenapa ingin pergi?"
Elara menunduk dan berkata, "Setelah anak ini lahir, Deon berencana menceraikanku. Hubungan keliru ini juga nggak ingin kulanjutkan lagi. Aku ingin memulai kembali hidupku sendiri."
Enam bulan itu tidak bisa dibilang panjang, juga tidak pendek. Namun baginya, rasanya seperti menjalani seumur hidup.
Alis Arizo tak kuasa berkerut. Gadis yang dulu ceria dan manis itu telah berubah drastis dalam waktu singkat, cukup untuk membayangkan betapa berat penderitaan fisik dan batin yang telah dia alami.
"Aku sangat lega kamu akhirnya bisa berpikir jernih dan bangkit kembali. Kamu dan Deon memang nggak cocok. Ke depannya, kamu pasti bisa bertemu orang yang benar-benar mencintaimu."
Elara menunduk dan mengangguk pelan. Dulu, Arizo sebenarnya tidak setuju Elara bekerja di sisi Deon sebagai asisten, tetapi Elara bersikeras. Pada akhirnya, dia yang menderita sendiri.
Tiba-tiba, dia bertanya lagi, "Di mata Profesor Arizo, sebenarnya Deon itu orang seperti apa?"
Arizo terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, "Seseorang yang demi mencapai tujuan, nggak segan menggunakan cara apa pun, mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Orang seperti itu kemungkinan besar nggak punya cinta."
"Begitu ya?"
Namun, kelembutan Deon pada gadis itu tidak mungkin palsu. Mungkin hanya jika mencintai setengah mati barulah dia mau merendahkan diri seperti itu. Memang hanya perempuan cantik yang pantas berdiri di sisinya.
Elara tidak bertanya lagi.
"Karena kamu sudah memutuskan, nanti aku akan membantumu mengajukan penundaan masuk kuliah."
"Terima kasih, Profesor."
Arizo memintanya mengisi satu formulir permohonan. Setelah Elara selesai mengisinya ....
"Setelah anak itu lahir, dia akan tinggal di rumah Keluarga Atmadja?" tanya Arizo tiba-tiba.
Elara tersenyum pahit. Sekalipun dia ingin membawa anak itu pergi, hal itu mustahil. Dia hanya bisa merasa bersalah pada anak tersebut. "Keluarga Atmadja seharusnya akan merawatnya dengan baik."
Arizo tidak bertanya lebih lanjut. "Kebetulan aku butuh satu asisten. Cukup satu bulan saja. Mau coba?"
Elara langsung menyetujuinya tanpa ragu. "Baik."
Sejak dia hamil, pihak Deon memindahkannya ke posisi yang nyaris tak berarti di bagian sekretariat. Dalam semalam, dia jatuh dari posisi asisten presdir menjadi figur tak terlihat. Semua usahanya seolah-olah lenyap menjadi gelembung.
Kini, dia memang membutuhkan pekerjaan baru untuk mengalihkan perhatian dan membuat hidupnya kembali berjalan. Kebetulan, ini bisa dijadikan persiapan sebelum berangkat studi lanjut.
Karena hari itu dia memang sudah mengambil cuti, Elara pun tinggal dan mulai bekerja sebagai asisten profesor. Dia sendiri adalah murid Arizo, ditambah sebelumnya pernah bekerja intens di sisi Deon. Meskipun sempat terpuruk, dia segera beradaptasi dan menangani pekerjaan dengan sangat lancar.
Saat itu, Elara seperti menemukan kembali dirinya yang dulu, menemukan kembali nilai keberadaan dirinya yang sesungguhnya.
Seperti kata Arizo, dia memang seharusnya bersinar di dunia kerja. Cinta tidak seharusnya menjadi satu-satunya pusat kehidupan.
Malam itu, Deon tidak pulang ke rumah, seperti biasanya. Dia memang hanya sesekali pulang. Kali ini, Elara sudah tidak peduli lagi.
Keesokan harinya, dia sudah menyiapkan surat pengunduran diri lebih awal.
Deon mengelola industri keuangan di bawah Grup Atmadja, termasuk bank dan perusahaan dana investasi. Di arena penuh intrik dan kepentingan seperti ini, dia mampu mewarisi industri inti Grup Atmadja dengan kekuatannya sendiri, bahkan terus melakukan ekspansi dan akuisisi.
Itu cukup membuktikan bahwa dia bukan hanya memiliki otak dan kemampuan luar biasa, tetapi juga hati yang dingin dan kejam.
Elara tiba di perusahaan dan kebetulan berpapasan dengan Deon yang baru turun dari mobil. Posturnya tegap, setelan jas rapi, tampan dan berwibawa. Kekayaan dan status membuatnya memancarkan pesona kedewasaan yang tak terbatas.
"Pak Deon." Para karyawan menunduk, memberi salam dengan hormat.
Elara tersadar dan buru-buru menunduk, lalu mundur dua langkah.
Pria itu seolah-olah tidak melihatnya sama sekali dan melangkah masuk ke dalam perusahaan.
Elara menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Shireen. Shireen adalah sekretaris Deon. Dulu, dia adalah bawahan Elara. Kini, roda nasib berputar. Elara justru menjadi bawahannya.
Saat Elara tiba-tiba diturunkan jabatannya dulu, seluruh departemen terkejut. Elara baru lulus kuliah dan langsung menjadi asisten presdir.
Posisi asisten tidak hanya menuntut kemampuan, tetapi juga penampilan. Sementara Elara, baik wajah maupun bentuk tubuhnya, sangat biasa saja. Namun, dia tetap terpilih, cukup untuk membuktikan bahwa kemampuannya mampu menutupi kekurangannya secara fisik. Presdir yang terkenal tegas bahkan pernah beberapa kali memujinya.
Namun, Shireen sangat paham. Di matanya, Elara ingin naik kelas lewat ranjang. Sehebat apa pun kemampuannya, tetap bukan orang baik. Karena itulah, Deon sangat membencinya.
Shireen melirik surat pengunduran diri itu, lalu pandangannya menyapu perut hamil Elara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.
"Orang yang bermartabat itu tahu diri. Kalau nggak ada kerjaan, sering-seringlah bercermin. Jangan mengira dengan punya anak kamu bisa memanjat ke pohon yang tinggi. Lihat dulu Keluarga Atmadja itu tempat apa dan kamu sendiri itu siapa."
Soal dirinya dan Deon yang sudah mendaftarkan pernikahan, tidak ada satu pun orang di perusahaan yang mengetahuinya.
"Analisis laporan keuangan harus selesai sebelum jam pulang siang."
Elara kembali ke meja kerjanya. Meskipun dia dipindahkan ke posisi pegawai kecil di departemen sekretaris, Shireen justru memberinya banyak tugas yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya. Semua itu pun dia terima satu per satu.
Dia terus bekerja tanpa mengeluh di perusahaan ini, sejatinya hanya bentuk penipuan diri sendiri. Deon sama sekali tidak akan meliriknya sedikit pun.
Setelah Elara menyelesaikan analisis laporan itu, dia menyerahkan versi digital beserta cetakan kertasnya kepada Shireen, lalu memesan makanan pesan antar.
Meskipun perusahaan memiliki kantin, selama ini dia selalu membawa bekal sendiri. Dia tidak ingin pergi ke tempat ramai, tidak ingin terus-menerus menjadi bahan tatapan orang lain, tidak ingin berurusan dengan siapa pun. Dia hanya ingin makan sendirian dengan tenang.
Karena pagi ini tidak sempat menyiapkan makan siang, dia pun terpaksa memesan makanan.
Saat menunggu pesanan datang, beberapa rekan kerja yang sudah makan siang masuk ke kantor sambil mengobrol dengan penuh semangat.
"Pacar Pak Deon masih sangat muda ya? Mahasiswi, 'kan?"
"Sepertinya begitu. Cantiknya luar biasa, seperti boneka."
"Tatapan Pak Deon ke dia benar-benar lembut. Tak disangka beliau yang selalu serius punya sisi selembut itu. Versi nyata presdir dominan dan istri muda!"
Kedua rekan itu terus mengobrol sambil masuk ke kantor, lalu menyadari keberadaan Elara di mejanya. Dia duduk di sana, kaku, tak bergerak, seperti patung penjaga gunung.
Sejak dipindahkan ke departemen sekretaris, selain urusan pekerjaan, dia nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun. Kini, dia bahkan semakin menyendiri, setiap hari memakai masker seolah-olah wajahnya tak pantas dilihat orang.
Sulit membayangkan bahwa setengah tahun lalu dia masih merupakan asisten presdir yang sangat disegani.
Setelah menerima telepon dari kurir makanan, Elara pun bangkit. Saat dia turun ke lantai bawah untuk mengambil pesanannya, dia kebetulan melihat dua staf hotel membawa hidangan dan bertanya ke meja resepsionis. Resepsionis menggesekkan kartu lift khusus presdir untuk mereka.
Elara melihat sebotol anggur merah di tangan salah satu staf. Harga satu botol itu sekitar 4 miliar. Bagi Deon, itu hanyalah uang yang bisa dia hasilkan dalam waktu kurang dari satu menit.
Elara membawa pesanannya dan kembali ke atas.
Pukul 2 siang, Shireen menghampirinya dan berkata, "Pak Deon mencarimu."
Jantung Elara berdegup kencang. Dalam hatinya, muncul firasat buruk yang tak bisa dijelaskan.
Firasat itu benar adanya. Begitu Elara tiba di kantor presdir, tekanan rendah langsung menyergapnya. Dia berjalan ke depan meja kerja dan menyapa pelan, "Pak Deon."
Saat Deon mengangkat pandangan ke arahnya, wajah tampannya tampak dingin dan muram. Dia mengayunkan tangan, melempar berkas di tangannya tepat ke arah wajah Elara. "Ini yang kamu sebut laporan analisis?"
Kertas A4 yang tajam itu menggesek pipi Elara. Dia merasakan perih sesaat. Berkas-berkas berserakan di kakinya. Itulah laporan yang dia kerjakan pagi tadi.
Dengan satu tangan menopang perutnya, Elara membungkuk dengan susah payah untuk memungut berkas-berkas itu.
Sepasang mata hitam pria itu menatap dingin gerakannya yang lambat saat dia berjongkok sambil menahan perut.
Elara meneliti laporan di tangannya dan langsung menyadari beberapa angka yang tidak sesuai. Dia membela diri. "Pak Deon, ini bukan laporan yang kubuat."
"Cukup. Aku nggak ingin mendengar pembelaanmu."
Elara menggenggam erat berkas itu.
Bukan Deon tidak tahu kemampuan Elara. Bukan pula dia tidak ingin mendengar penjelasan. Dia hanya memilih menganggap Elara memang pantas disalahkan.
Dibenci sampai sejauh ini oleh pria yang begitu dicintai, sungguh membuatnya merasa menyedihkan sekaligus konyol.
Elara menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dan mengumpulkan keberanian. "Aku menyimpan salinannya. Aku bisa langsung mengirimkannya untuk Pak Deon periksa. Setelah itu, Pak Deon boleh memarahiku sesuka hati."
Mata hitam Deon menyipit, kekesalan jelas terpancar.
Saraf Elara menegang. Di dalam hatinya, dia selalu menyimpan rasa takut terhadap Deon. Takut pada otoritasnya, terutama saat wajahnya sedingin ini. Biasanya, dia sama sekali tidak berani membantah.
Namun saat ini, dia memaksa dirinya untuk tenang. Lagi pula, mereka akan segera bercerai. Dia juga akan menuruti keinginan Deon, tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Dia tak akan berharap apa pun dari Deon lagi. Lalu, apa lagi yang perlu ditakuti?
"Kamu merasa sangat terzalimi?" Suara pria itu dingin seperti serpihan es, sarat ejekan.
Elara menatap balik mata hitam yang tajam itu. Ujung jarinya menancap dalam ke telapak tangan. Suaranya terdengar lebih berat. "Pak Deon menuduhku tanpa bertanya sebabnya. Apakah aku nggak pantas membuktikan diriku sendiri?"
Wajah Deon sepenuhnya suram. "Itu memang pantas kamu terima."
Hati Elara terasa seperti diremas kuat. Rasa sakit menjalar hebat, wajahnya seketika pucat.
Saat itu juga, pintu ruang istirahat terbuka. Seorang gadis muda keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra bertali tipis berwarna pink. Rambut panjangnya hitam berkilau, kulitnya putih bersinar, wajahnya begitu indah hingga sulit mengalihkan pandangan.
"Kak Deon!" Suara gadis itu lembut seperti angin musim semi, halus dan menenangkan.
Akhirnya, Elara melihat jelas wajah gadis itu. Memang secantik itu, sampai membuat orang merasa rendah diri.
Dia baru melirik sekilas ketika mendengar bentakan dingin pria itu. "Keluar!"
Elara menarik kembali pandangannya, menekan gejolak emosinya, lalu berbalik dan berjalan ke luar.
Begitu keluar dari kantor, dia mendengar suara lembut gadis itu menenangkan Deon dan pria itu pun segera menjadi tenang.
Elara mendongak, menahan air mata agar tidak jatuh. Dia pergi ke sudut tangga yang sepi. Dengan satu tangan berpegangan pada pagar, emosinya akhirnya runtuh. Air mata mengalir deras, dadanya terasa seperti diremas, perutnya pun bergejolak.
Menyingkirkan pria yang telah dia cintai selama delapan tahun dari lubuk hati terdalamnya tak ubahnya menguliti daging dan mengorek tulang. Namun, tak masalah. Semua akan membaik. Dia akan benar-benar melupakan Deon.
Entah berapa lama berlalu, akhirnya Elara menenangkan diri. Saat naik kembali menuju mejanya, dia berpapasan dengan gadis itu.
Gadis itu mengenakan busana bermerek yang dipesan khusus, tampak sempurna dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas saja sudah jelas, dia adalah gadis yang dibesarkan dengan kemewahan dan kasih sayang.
Mikie mengantarnya secara pribadi. Mikie adalah asisten khusus Deon.
Melihat Elara, gadis itu tersenyum dan melangkah mendekatinya, lalu berhenti. Dengan suara lembut, dia berkata, "Sudah nggak apa-apa. Kak Deon nggak akan menyalahkanmu lagi."
Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah mutiara dari tasnya, menggenggam tangan Elara, lalu meletakkan mutiara itu di telapak tangannya. "Ini untukmu. Jangan bersedih lagi. Luka di wajahmu jangan lupa diobati. Kalau wajah perempuan punya bekas luka, itu nggak bagus lho."
Betapa cantik dan baiknya gadis ini. Dibandingkan gadis yang memancarkan pesona ini, Elara merasa dirinya seperti badut yang hidup di dunia gelap.
Melihat Elara tidak bereaksi sama sekali, Mikie mengerutkan kening dan mengingatkan dengan dingin, "Nggak tahu berterima kasih pada Bu Doreen?"
Ternyata namanya Doreen.
Doreen Adhisti menarik kembali tangannya dan berkata, "Nggak apa-apa. Ayo kita pergi."
Keduanya pun pergi.
Elara berdiri di tempat, menatap mutiara putih berkilau biru perak di telapak tangannya. Teksturnya sempurna tanpa cela, sebersih gadis itu sendiri.
Hanya saja, dia tidak tahu apakah gadis itu mengetahui fakta bahwa Deon sudah menikah.
Setelah kembali ke mejanya, Elara mencetak ulang dokumen versi asli dan menyerahkannya ke hadapan Shireen. Saat melihatnya, tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Shireen, yang ada justru kepuasan.
"Kamu sudah lihat jelas, 'kan? Seperti apa gadis yang pantas bersanding dengan Pak Deon."
Elara membanting berkas itu ke depan Shireen dengan keras. "Aku nggak pantas, kamu juga nggak pantas. Jadi, kamu hanya bisa memainkan cara-cara murahan seperti ini? Seumur hidupmu pun kamu nggak akan punya masa depan. Sudah kepala tiga, cepat cari orang untuk nikah. Berhentilah bermimpi di siang bolong."
Ekspresi Shireen berubah. Dia menepuk meja dengan keras, lalu berdiri. "Elara!"
Elara malas menanggapinya, jadi berbalik dan pergi.
Setelah kembali ke mejanya, Elara mengeluarkan cermin kecil dan melihat sisi pipinya yang tergores tipis. Lukanya tidak dalam. Dia mengusapnya dengan tisu basah, tidak memerlukan perawatan tambahan. Lagi pula, dengan wajah seperti ini, bertambah satu bekas luka pun tidak masalah.
Pikirannya kembali pada wajah gadis tadi. Entah kenapa, terasa agak familier.
Menjelang jam pulang kerja, Elara menerima telepon dari ayahnya. Sander sudah kembali, jadi meminta Elara pulang untuk makan malam di rumah.
Elara terkejut sekaligus senang. "Kak Sander sudah pulang? Bukannya katanya tanggal 15?"
Ayah Elara menjawab, "Begitu pekerjaannya selesai, dia langsung pulang lebih awal."
"Oke, habis pulang kerja aku langsung ke sana."
Elara pun mengemudi ke rumah Keluarga Wiratama. Rumah Keluarga Wiratama berada di kawasan barat kota, di sebuah kompleks apartemen kelas menengah. Itu adalah unit besar bekas yang baru dibeli tahun ini.
Ayah Elara menjalankan perusahaan properti berskala menengah. Meskipun tidak bisa disebut keluarga terpandang, kehidupan mereka cukup berada, sehingga sejak kecil Elara tumbuh dalam kondisi berkecukupan.
Namun, kini industri properti sedang lesu. Setengah tahun lalu, perusahaan mengalami masalah keuangan serius akibat kegagalan investasi dan hampir bangkrut. Saat ayahnya mengetahui bahwa Elara mengandung anak Deon, dia tidak memaksanya pergi ke Keluarga Atmadja untuk menuntut pertanggungjawaban.
Melihat ayahnya yang semakin menua dan tampak lelah, bahkan sampai harus menjual aset keluarga untuk melunasi utang, Elara akhirnya mengambil keputusan pergi ke Keluarga Atmadja. Saat itu, sebenarnya dia menyimpan niat pribadi. Bukan semata demi ayahnya, tetapi juga demi dirinya sendiri.
Dia memang mendapatkan apa yang diinginkannya. Berkat uang mahar yang besar dari Keluarga Atmadja, utang Keluarga Wiratama berhasil dilunasi.
Namun, dia pun membayar harga yang setimpal. Jadi, semua penderitaan yang dia alami sekarang hanyalah akibat dari pilihannya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun.
Sesampainya di rumah, Larissa keluar dari dapur. "Ela, kamu sudah pulang."
Saat Elara berusia sembilan tahun, ibu dan ayahnya bercerai. Sang ibu membawa kakaknya pergi, meninggalkan Elara bersama ayahnya.
Kemudian, Larissa bertemu dengan ayahnya. Namun, mereka tidak pernah mendaftarkan pernikahan dan hanya hidup bersama sebagai pasangan.
Awalnya Elara tidak bisa menerima Larissa, bahkan sempat membencinya. Namun perlahan, Elara merasakan ketulusan Larissa. Sander juga memperlakukannya dengan sangat baik. Kehilangan kakak kandung, dia pun mendapatkan seorang kakak baru.
"Tante Larissa, Ayah dan yang lain di mana?"
"Sepertinya masih di jalan, sebentar lagi sampai. Kamu istirahat dulu."
"Oke."
Elara kembali ke kamarnya. Meskipun sudah menikah, ayahnya tetap menyisakan satu kamar tidur untuknya dan merenovasinya ulang sesuai dengan seleranya.
Begitu kembali ke rumah yang benar-benar miliknya, semua kelelahan dan kepedihan seolah-olah lenyap seketika.
Dia duduk di tepi ranjang dan melihat album foto di atas nakas. Dia mengulurkan tangan dan membukanya. Foto pertama adalah potret keluarga yang tidak lengkap.
Foto itu sudah sangat lama. Tahun itu, Elara baru berusia delapan tahun.
Ayahnya yang masih muda dan tampan menggendongnya. Di samping ayahnya berdiri sang kakak, saat itu berusia 14 tahun. Di sisi lain adalah ibunya.
Foto itu dirobek sendiri oleh Elara. Karena dia membenci ibunya. Membenci mengapa ibunya membawa kakaknya pergi dan meninggalkan dirinya serta ayahnya. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang mencabik itu kini tak lagi terasa.
Dia membalik halaman berikutnya. Dalam foto itu, seorang gadis remaja belasan tahun tampak muda dan cantik, mengenakan gaun panjang putih dan topi anyaman kecil berwarna cokelat muda, berdiri di bawah pohon ginkgo berdaun keemasan. Sinar matahari jatuh tepat pada senyuman cerah gadis itu.
Rambut panjang hitam legam, wajah oval kecil, raut wajah cerah dan menawan. Terutama sepasang matanya, berkilau seperti bintang di langit.
Namun kemudian, dia sakit parah dan harus mengonsumsi obat hormon. Tubuhnya perlahan menjadi gemuk. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba menurunkan berat badan, hasilnya tetap nihil. Dia hanya bisa menahan diri dengan kelaparan dan olahraga agar tidak semakin bertambah gemuk.
Tanpa sadar, Elara teringat pada gadis yang ditemuinya hari ini. Fitur wajahnya memiliki kemiripan dengan dirinya di foto itu, terutama sepasang mata itu.