Isabella terbangun karena suara pintu kamar yang dibuka pelan. Dia terlonjak, refleks melompat dari kasur di kamar pengasuh yang kini menjadi kamarnya.
"Siapa di sana?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Dia sudah tidur di Valenti Manor kurang dari dua puluh empat jam, tapi setiap bayangan terasa seperti ancaman.
"Maaf, Nyonya Moreno. Saya Lucia," suara itu milik seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu. Wanita itu memegang nampan perak berisi sarapan yang terlihat mewah. "Tuan Valenti meminta saya memastikan kebutuhanmu terpenuhi."
Lucia meletakkan nampan itu di meja samping, gerakannya cepat dan nyaris tanpa suara. Isabella menatapnya. Wanita ini, seperti setiap staf lain yang ia temui di sini, memiliki tatapan mata yang sama: hormat, tetapi dingin, dan penuh kehati-hatian. Di rumah ini, tidak ada yang bicara lebih dari yang diperlukan.
"Terima kasih," kata Isabella. Dia melirik ke jendela. Gordennya tebal, menutupi sinar matahari pagi. Dia berjalan mendekat, ingin melihat pemandangan di luar.
"Nyonya Moreno," Lucia memanggilnya, suaranya tajam namun rendah. "Sebaiknya jangan buka gordennya."
Isabella berbalik. "Kenapa? Apa ada-"
"Tidak ada. Itu hanya... aturan Tuan Valenti. Privasi. Semua gorden di sisi ini tetap tertutup kecuali di kamar Enzo. Dia sensitif terhadap cahaya terang mendadak." Lucia menjelaskan, tetapi suaranya mengandung nada peringatan.
Itu adalah aturan pertama, sekecil apa pun, yang terasa seperti rantai yang dipasangkan padanya.
"Baiklah." Isabella kembali ke tengah kamar.
Lucia lalu menunjuk ke sebuah tombol kecil di dinding dekat tempat tidur. "Jika Nyonya Moreno membutuhkan sesuatu-air, handuk, bantuan Enzo-tekan tombol ini. Jangan berkeliaran di koridor tanpa tujuan, terutama di malam hari. Staf keamanan Tuan Valenti sangat ketat."
"Aku mengerti," Isabella mengangguk, hatinya mulai mencelos. Jangan berkeliaran. Dia bukan pengasuh biasa; dia adalah tawanan yang dibayar.
Setelah Lucia pergi, Isabella menghabiskan sarapannya dengan cepat. Pikirannya dipenuhi gambaran gerbang tinggi, dinding batu, dan mata-mata yang mungkin mengintai di setiap sudut.
Dia harus pergi ke kamar Enzo. Itulah satu-satunya alasan dia ada di sini, dan satu-satunya tempat dia merasa sedikit manusiawi.
Koridor yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Enzo terasa seperti lorong penjara. Lampu kristal mahal tergantung di langit-langit, tetapi cahaya yang dipancarkannya terasa dingin.
Ketika dia sampai di kamar Enzo, bayi kecil itu baru saja terbangun, mengeluarkan rengekan pelan yang langsung menghancurkan kekakuan Isabella.
Dia menghabiskan dua jam berikutnya hanya untuk Enzo. Menyanyikan lagu yang biasa dia nyanyikan untuk Elias dulu-nada sederhana yang penuh kerinduan-mengganti popok, dan, tentu saja, memberinya makan. Saat Enzo menempel di dadanya, rasa sakit di hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ini adalah tujuan utamanya, tujuan yang membuat semua penderitaan di luar terasa sepadan.
Sekitar tengah hari, ketika Enzo kembali tertidur, Isabella memutuskan untuk berjalan-jalan, seperti yang biasa dia lakukan di taman kosnya yang sempit. Dia tidak berani melanggar perintah Lucia untuk "tidak berkeliaran", tetapi dia merasa sesak jika terus-menerus terkurung.
Dia turun ke lantai dasar, lalu menemukan pintu kaca ganda yang mengarah ke taman belakang. Taman itu megah, dengan air mancur dan patung-patung kuno. Sebuah labirin yang sempurna.
Saat dia menginjakkan kaki di rumput yang terawat, ia merasakan lega yang singkat, seolah-olah ia baru saja melarikan diri.
"Nyonya Moreno!"
Suara itu keras dan berat. Isabella menoleh. Seorang pria tinggi besar, berseragam hitam, seperti pengawal tadi malam, melangkah cepat mendekatinya. Wajahnya keras dan tidak ramah.
"Aku minta maaf," kata Isabella, suaranya mengecil. "Aku hanya... mencari udara segar."
"Daerah ini berada di luar batas," kata pria itu, tanpa basa-basi. "Kau harus kembali ke dalam. Tuan Valenti sangat tegas tentang personel yang berada di luar batas operasional mereka."
"Tapi... aku tidak melihat tanda larangan," balas Isabella, merasa tidak berdaya.
"Aturan di rumah ini tidak tertulis. Kau akan mempelajarinya. Kau adalah pengasuh, Nyonya Moreno. Wilayahmu adalah lantai dua dan kamar Enzo. Kembali ke dalam. Sekarang."
Pria itu tidak mengancamnya dengan senjata, tetapi kekuasaannya terasa lebih kuat dari apa pun. Isabella mundur, mundur dari padang rumput yang tampak bebas itu, kembali ke dalam sangkar emasnya.
Dia merasa air mata mulai menggenang. Bukan karena marah, tetapi karena menyadari sejauh mana dia telah menjual jiwanya. Dia tidak hanya terperangkap, dia diawasi. Setiap langkahnya, setiap keinginannya, dikendalikan.
Sore itu, Isabella sedang menyeterika pakaian bayi di kamar Enzo ketika dia mendengar suara-suara di luar. Suara berat Damon Valenti, bercampur dengan suara pria lain, yang lebih sinis dan sombong.
Isabella membeku. Damon telah mengatakan bahwa interaksi mereka sebatas Enzo. Dia tidak ingin berada di dekat Damon, terutama ketika Damon sedang berurusan dengan 'bisnis'nya.
Dia merapatkan pintu kamar Enzo, membiarkan sedikit celah terbuka karena rasa penasaran yang tak terhindarkan.
"Kau tahu, Damon, aku masih tidak mengerti," kata suara sombong itu. "Seorang babysitter dengan gaji yang lebih besar daripada gaji seorang wakil direktur di kotaku. Dan dia tinggal di sini. Bukankah itu berlebihan? Mengingat kau baru saja kehilangan Anya."
Jantung Isabella berdebar kencang. Mereka membicarakannya.
"Itu bukan urusanmu, Mateo," jawab Damon, suaranya dingin mematikan. "Fokuslah pada pengirimanmu. Aku membayar mahal agar kau tetap diam dan fokus."
"Tentu saja. Tentu saja. Tapi kau tahu bagaimana lidah di lingkungan kita ini, Damon. Mereka akan berbisik. Mereka akan bertanya-tanya mengapa Don Valenti yang baru, yang seharusnya berduka, tiba-tiba mempekerjakan seorang wanita baru di rumahnya. Seorang wanita yang... menarik, kurasa."
Isabella merasakan amarahnya naik. Dia bukan 'wanita baru' Damon. Dia hanyalah sebuah kebutuhan.
"Aku tidak peduli dengan bisikan mereka," kata Damon. "Enzo menolak formula. Enzo butuh ibu. Wanita itu adalah obatnya. Jangan pernah sebut nama Anya lagi, atau kau akan melupakan cara bernapasmu."
Hening. Isabella bisa membayangkan tatapan menusuk Damon yang membuat Mateo mundur.
"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, Damon. Hanya saja... hati-hati. Kelemahanmu sekarang adalah rumah ini. Dan wanita ini. Ingat, musuh mencari celah."
Langkah kaki terdengar menjauh, lalu hening lagi. Isabella menunggu sampai dia yakin Damon sudah pergi.
Malam itu, Damon Valenti tidak muncul untuk melihat Enzo. Isabella hanya bertemu dengan Lucia, yang kini membawakan makan malamnya di kamar pengasuh.
"Tuan Valenti sedang sibuk, Nyonya Moreno," kata Lucia, matanya melayang ke arah koridor.
"Dia baik-baik saja?" tanya Isabella, tanpa sadar.
Lucia menatapnya dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca. "Tuan Valenti selalu baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Fokuslah pada Enzo. Itu yang terbaik."
Itu adalah peringatan halus kedua.
Setelah makan malam, Isabella mengambil buku yang dibawanya dari rumah-novel lama tentang pelarian dan kebebasan. Tapi dia tidak bisa fokus. Setiap halaman, setiap kata, terasa kosong.
Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan sekali lagi ingin menarik gorden itu. Tiba-tiba, dia merasakan dorongan kuat untuk melanggar aturan Damon, untuk melihat apa yang ada di luar dinding batu tebal itu.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya, lalu menarik gorden itu dengan cepat.
Kegelapan. Jendela itu menghadap ke halaman belakang yang luas. Isabella tidak bisa melihat banyak, tetapi dia bisa melihat pagar tinggi dan di atas pagar itu, terpasang kawat berduri.
Itu bukan sekadar privasi. Itu adalah sistem keamanan penjara.
Dan dia melihatnya-di antara pepohonan, ada sinar kecil yang berkedip-kedip, merah dan teratur. Kamera pengintai.
Isabella melompat mundur dari jendela, jantungnya berdebar-debar liar di dalam dadanya. Dia tidak bisa melihat ke luar karena Damon tidak ingin dia tahu. Damon tidak ingin dia tahu bahwa dia benar-benar terperangkap. Setiap sudut, setiap langkah, setiap gerakan diawasi.
Dia berjalan ke pintu dan menguncinya. Lalu dia memeriksa kamar mandi, memeriksa di bawah kasur. Dia panik. Di rumah ini, yang dia pikir adalah tempatnya mencari rezeki, ternyata adalah tempat dia kehilangan semua kendali atas dirinya sendiri.
Kekuatan Valenti tidak hanya pada uang dan kekerasan. Kekuatan Valenti adalah kontrol mutlak.
Dia menyentuh dadanya. Air susunya terasa penuh, respons alami tubuhnya terhadap bayi Enzo. Ironis sekali. Hal yang paling alamiah, paling bebas, yang dimilikinya-kemampuannya untuk memberi makan-justru yang mengikatnya pada pria yang paling mengancam kebebasannya.
Isabella duduk di tepi kasur. Dia tidak menangis lagi. Air mata tidak akan membantunya.
Dia harus tenang. Dia harus fokus pada tujuannya: enam bulan. Melunasi utang. Lalu pergi.
Dia memutuskan untuk membuat daftar aturan yang tidak tertulis di Valenti Manor:
Jangan pernah buka gorden.
Jangan pernah berkeliaran di lantai dasar atau taman.
Jangan pernah bertanya tentang "bisnis" Damon.
Jangan pernah menunjukkan emosi.
Dia menambahkan aturan kelima, yang paling penting.
Jangan pernah percaya pada Damon Valenti.
Tengah malam. Isabella terbangun oleh rasa haus yang luar biasa. Dia mencoba mengabaikannya, tetapi tenggorokannya terasa kering. Dia ingat ada botol air di dapur kecil di kamar Enzo, tempat dia menyiapkan peralatan steril.
Dia bangkit perlahan, berjalan ke kamar Enzo yang bersebelahan. Bayi itu tidur nyenyak. Isabella mengambil air dan minum.
Saat dia berbalik untuk kembali ke kamarnya, matanya menangkap sesuatu di luar jendela kamar Enzo. Jendela di kamar ini tidak ditutup.
Dia mendekat. Di bawah, di halaman bebatuan, Damon Valenti sedang berdiri. Dia tidak sendiri. Dia bersama dua pria besar lainnya, dan mereka tidak sedang mengobrol.
Damon mengenakan jaket kulit yang tebal. Salah satu pria itu sedang membersihkan sesuatu dari tangan Damon dengan kain putih. Dan pria lain sedang menguburkan sesuatu di taman belakang, dengan gerakan cepat dan terampil.
Isabella menahan napas. Kain putih itu... kelihatannya merah di bawah cahaya rembulan. Darah.
Damon Valenti tidak menghabiskan malamnya dengan tidur di kamar mewah. Dia menghabiskan malamnya dengan kekerasan. Dia kembali dari 'pekerjaannya' yang pasti penuh darah.
Dan dia berdiri di sana, di bawah rembulan, tampaknya sedang menunggu dua pria itu menyelesaikan pekerjaan kotor mereka.
Tiba-tiba, Damon mendongak.
Jantung Isabella hampir berhenti berdetak. Apakah dia terlihat? Apakah Damon melihat bayangan dirinya di jendela lantai dua?
Matanya yang gelap sepertinya menusuk kegelapan, langsung menuju ke kamar Enzo. Meskipun ruangan itu redup, Isabella yakin Damon bisa merasakan kehadirannya.
Isabella bergerak mundur dengan gerakan yang sangat lambat, mundur dari jendela, kembali ke kegelapan di kamar Enzo. Dia tidak ingin Damon tahu dia telah melihat. Dia tidak ingin Damon tahu dia sekarang tahu lebih banyak.
Dindingnya tidak cukup tebal. Mansion ini tidak cukup besar. Isabella sekarang tidak hanya terperangkap, dia telah menjadi saksi, meskipun hanya sekilas. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar menjadi pengasuh.
Dia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan merangkak kembali ke kasur. Dia memeluk lututnya, berusaha mengatur napas.
Kebebasan. Uang. Bayi Enzo.
Dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak bisa melarikan diri, belum. Dia harus memainkan perannya. Dia harus menjadi Isabella yang bodoh, yang tidak tahu apa-apa, yang hanya peduli pada bayi dan gajinya.
Kekuatan yang menekan di rumah ini begitu besar, dan dia, seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya, hanyalah debu di bawah kaki sang Don.
Isabella memejamkan mata, memaksakan diri tidur, tahu bahwa dia tidak bisa tidur nyenyak lagi di Valenti Manor. Dia sekarang tahu betul dia hidup di sarang serigala. Dan dia harus menjadi yang paling tenang dan paling tidak terlihat di antara mangsanya.
Isabella sudah berada di Valenti Manor selama empat hari. Empat hari penuh dengan keheningan mencekik, pengawasan ketat, dan ketegangan yang tidak pernah mereda. Dia sudah mulai terbiasa dengan rutinitas: bangun, merawat Enzo, makan di kamar sendirian, melihat sekilas Damon Valenti yang dingin di koridor, lalu kembali ke Enzo.
Hari ini seharusnya tidak berbeda.
Saat Isabella mengambil Enzo dari buaiannya di pagi hari, dia merasakan kelegaan yang biasa: kehangatan tubuh bayi itu menenangkan jiwanya yang bergejolak. Enzo mulai terbiasa dengan aroma Isabella, dan proses menyusui berjalan lancar. Isabella bahkan sempat tersenyum kecil ketika Enzo menggenggam jarinya dengan erat, sebuah tindakan yang murni tanpa paksaan.
"Anak baik," bisik Isabella, menyandarkan dagunya di atas kepala Enzo yang lembut.
Setelah selesai sarapan, Isabella membawanya keluar dari kamar bayi, menuju ruang duduk kecil yang berdekatan yang dirancang untuk bermain. Ruangan itu penuh dengan mainan mahal, boneka beruang berukuran manusia, dan playmat yang empuk.
Isabella meletakkan Enzo perlahan di playmat itu. Dia duduk di sebelahnya, mulai menggoyangkan mainan rattle berwarna cerah di depan wajah Enzo.
Tapi hari ini, Enzo tidak bereaksi.
Enzo biasanya akan mengikuti mainan itu dengan matanya yang gelap. Kali ini, Enzo hanya berkedip, lalu wajahnya mulai memerah.
Isabella mencoba lagi, tersenyum dan membuat suara-suara aneh yang biasa dia lakukan. "Lihat, Nak. Indah, kan?"
Enzo menggerakkan kepalanya menjauh dari mainan itu, dan mulai merengek.
Rengekan itu dengan cepat berubah menjadi tangisan yang keras dan panik. Bukan tangisan lapar atau tangisan biasa, tapi tangisan yang penuh penolakan.
Isabella terkejut. Dia segera menarik Enzo ke dalam pelukannya. "Ssst, ada apa, Sayang? Ibu di sini."
Tangisan Enzo bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi. Bayi itu meronta di pelukan Isabella, menendang-nendang. Matanya basah oleh air mata dan dipenuhi kepanikan.
Isabella mencoba mengayunnya, menyanyikan lagu. Tidak berhasil. Dia mencoba menenangkannya dengan suara lembut. Enzo hanya semakin keras menangis, wajahnya kini merah tua.
Dia panik. Ini adalah kali pertama Enzo menolak dirinya secara fisik.
"Kenapa, Nak? Jangan begini," bisik Isabella, keputusasaan mulai terasa.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Damon Valenti berdiri di ambang pintu, kemejanya sudah rapi, tetapi tatapannya seperti badai.
"Apa yang terjadi?" tanyanya, suaranya rendah dan mengancam. "Mengapa dia menangis?"
"Aku... aku tidak tahu," kata Isabella, suaranya tercekat. "Dia tiba-tiba panik. Aku hanya mengajaknya bermain."
Damon melangkah masuk. Aura kekuasaan dan kemarahannya langsung memenuhi ruangan. Isabella merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Kontraknya tergantung pada kemampuannya untuk menenangkan dan memberi makan anak ini.
Damon mengambil langkah mendekat. Saat dia berdiri di samping Isabella, Enzo bereaksi.
Tangisan Enzo mereda seketika.
Isabella terkejut. Enzo mendongak ke arah Damon, air mata masih membasahi pipinya, tetapi tangisnya berhenti. Bayi itu hanya terisak kecil, menatap wajah ayahnya.
Damon mengulurkan tangannya. "Berikan dia padaku."
Isabella ragu sejenak, tapi dia tidak berani menolak. Dia menyerahkan Enzo pada Damon.
Begitu berada di pelukan ayahnya yang kaku, Enzo bersandar dengan kepala di bahu Damon, dan tangisannya hilang sepenuhnya. Bayi itu hanya mengeluarkan desahan kecil, napasnya tersengal-sengal.
Keheningan kembali ke ruangan, tetapi kali ini, keheningan itu menghakimi.
Damon menatap Enzo, lalu mengalihkan pandangannya yang tajam ke Isabella. Matanya kini penuh tuduhan yang diam.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanyanya, dingin.
"Aku bersumpah, aku tidak melakukan apa-apa," bela Isabella, rasa tidak berharga menyerangnya dengan keras. "Dia baru saja bangun dan... entahlah. Dia menolakku."
Damon mengayun Enzo perlahan, yang kini terlihat jauh lebih tenang.
"Kontrak kita, Isabella," kata Damon, suaranya tanpa emosi, "berdasarkan premis bahwa kau bisa memberikan kenyamanan yang dia tolak dari orang lain. Jika dia tidak tenang bersamamu, kau tidak berguna bagiku."
Kalimat itu-kau tidak berguna-menampar Isabella lebih keras daripada tamparan fisik. Dia datang ke sini untuk melarikan diri dari perasaan tidak berguna setelah kehilangan Elias. Kini, dia diberitahu lagi bahwa dia gagal, bahkan dalam tugas yang paling mendasar.
"Mungkin dia hanya butuh ayah, Tuan Valenti," kata Isabella, berusaha terdengar profesional. "Dia pasti merindukan kehadiranmu."
"Aku tidak membayar mu untuk menjadi terapis bayi," Damon membalas dengan kejam. "Aku membayarmu untuk menjadi ibunya, di saat aku tidak bisa. Aku harus bekerja."
Dia mengembalikan Enzo kepada Isabella. Begitu sentuhan Damon terlepas, Enzo kembali merengek, meskipun tidak sekeras tadi.
"Selesaikan ini," perintah Damon. "Aku memberimu waktu sampai sore. Jika dia terus menolakmu, kita harus mengevaluasi ulang nilaimu di rumah ini."
Damon berbalik dan pergi, meninggalkan Isabella sendirian bersama rasa takut yang dingin. Ancaman Damon jelas: jika dia gagal, dia akan diusir, dan utangnya akan menenggelamkannya.
Sisa hari itu adalah perjuangan yang melelahkan.
Setiap kali Isabella mencoba melakukan kontak fisik selain menyusui, Enzo merengek. Ketika Isabella menggendongnya sambil berdiri, dia tenang. Tetapi ketika Isabella mencoba duduk dan bermain, Enzo akan panik lagi.
Dia mencoba membayangkan dirinya sebagai Enzo. Bayi kecil yang baru saja kehilangan ibu kandungnya, dikelilingi oleh orang asing yang dingin di rumah yang sunyi. Mungkin dia hanya merindukan kehangatan yang benar-benar akrab.
Isabella membawa Enzo kembali ke kamar bayi. Dia mulai mengayunnya sambil berbisik, tidak lagi menyanyi, tetapi berbicara tentang Elias.
"Kakakmu, Nak... Elias, dia dulu juga suka rewel. Tapi dia selalu tahu, Mama di sini. Mama akan menjagamu. Walaupun Mama harus pergi nanti, Mama ingin kamu tahu, kamu kuat. Kamu harus makan, kamu harus tumbuh."
Dia berbicara tentang kesedihannya, tentang betapa hancurnya dia. Dia tidak berbicara kepada Enzo, dia berbicara kepada dirinya sendiri, mengeluarkan semua kesakitan yang terpendam.
Enzo tidak berhenti merengek, tetapi rengekannya mulai berubah. Ada jeda, seperti dia mendengarkan nada suara Isabella yang penuh rasa sakit.
Isabella duduk di kursi goyang dan menempatkan Enzo di dadanya, membiarkan kulit Enzo menyentuh kulitnya, berharap kehangatan yang lebih pribadi bisa meredakan kepanikan anak itu.
Enzo terisak di dadanya, mencengkeram kain kemejanya. Lalu, tanpa diduga, Enzo mulai bergerak. Dia tidak lagi meronta, tetapi mencoba mencari kenyamanan.
Perlahan, tubuh Enzo mengendur. Tangisannya berhenti. Dalam beberapa menit, Enzo tertidur di pelukan Isabella, napasnya teratur, wajahnya damai.
Isabella tidak bergerak. Dia takut sentuhan sekecil apa pun akan membangunkan panik Enzo lagi. Dia menyadari, Enzo tidak menolak 'makanan' darinya, tapi Enzo menolak 'peran' darinya. Enzo tahu Isabella bukan ibunya, dan dia tidak mau Isabella mencoba bertindak seperti pengasuh biasa. Enzo hanya ingin koneksi, kehangatan yang nyata.
Dia menatap wajah Enzo yang tertidur. Bayi itu sangat mirip dengan Damon-garis wajah yang tajam, rambut gelap.
Saat senja tiba, Damon Valenti kembali ke kamar Enzo. Dia tidak mengetuk. Dia hanya membuka pintu dan masuk.
Isabella masih duduk di kursi goyang, Enzo tertidur pulas di pelukannya. Pemandangan itu, Isabella dengan Enzo yang tertidur lelap, adalah gambaran damai yang kontras dengan suasana gelap di Valenti Manor.
Damon berhenti, melihat pemandangan itu. Keheningan berlangsung lama, hanya dipecahkan oleh suara napas Enzo yang lembut.
"Dia baik-baik saja," kata Isabella, suaranya lelah. "Dia hanya perlu waktu. Dia masih berduka."
Damon tidak menjawab. Dia berjalan mendekat.
Isabella merasakan jantungnya berdebar. Dia bersiap untuk kata-kata kasar Damon, kritiknya, atau bahkan ancaman untuk memotong gajinya.
Tapi Damon hanya berdiri di sana, menatap Enzo, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"Kau berhasil menenangkannya," katanya, nada suaranya datar, tetapi bukan lagi mengancam. Itu adalah fakta yang diakui.
"Aku... aku hanya membiarkannya tahu bahwa dia tidak sendirian," kata Isabella, menghindari tatapan Damon.
"Sendirian," ulang Damon, suaranya mengandung nada ironi pahit. "Aku dikelilingi oleh orang-orang, Isabella. Tapi aku sendirian."
Itu adalah kalimat paling pribadi yang pernah diucapkan Damon kepadanya. Isabella mendongak. Di mata Damon, ia melihat kelelahan dan kesedihan yang sama, yang sering ia lihat di matanya sendiri di cermin.
Mereka berdua adalah orang-orang yang kehilangan, dipaksa untuk berpura-pura kuat di tengah puing-puing hati mereka.
"Kau tidak akan dipecat," kata Damon, mengalihkan pembicaraan, kembali ke persona mafianya yang dingin. "Kau akan terus merawatnya. Tetapi aku ingin kau tahu, aku mengawasi."
Dia mencondongkan tubuh, sangat dekat, dan menatap Isabella dengan matanya yang gelap.
"Kau mendapatkan Enzo untuk tenang. Itu yang penting. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa menenangkan aku, Isabella. Jangan pernah mencoba menjalin hubungan denganku. Itu akan mengakhiri kontrak, dan mengakhiri hidupmu dengan damai."
Itu bukan hanya ancaman. Itu adalah peringatan dari seorang pria yang takut dengan keintiman dan rentan.
"Aku tahu tempatku, Tuan Valenti," jawab Isabella, mengangguk sedikit.
Damon menegakkan tubuh. "Bagus. Mulai besok, kau akan diberikan pengawal baru. Dia akan menemanimu saat kau di luar kamar. Aku tidak mau mengambil risiko."
"Pengawal? Kenapa?" tanya Isabella, kaget.
Damon menyentuh bahu Enzo dengan ujung jarinya, lalu menariknya. "Karena kau adalah sumber kehidupan anakku. Dan bagi musuhku, kau adalah kelemahan baru yang sangat berharga. Aku harus menjagamu. Seperti menjaga aset yang paling penting."
Dia tidak menjaganya karena dia peduli padanya. Dia menjaganya sebagai properti. Kata-kata itu, aset yang paling penting, membuat Isabella merasa dingin dan kecil.
"Tidurlah. Enzo aman sekarang. Aku akan mengurusnya sampai tengah malam."
Damon Valenti mengambil alih kursi goyang, mengambil Enzo ke dalam pelukannya. Isabella tidak lagi melawan. Dia hanya berdiri, melihat pemandangan itu: Raja Kejahatan, seorang Don yang penuh darah, dengan lembut mengayun bayi kecil di tengah mansionnya yang dingin.
Isabella kembali ke kamarnya, mengunci pintu. Dia tidak lagi merasa tidak berguna. Dia tahu dia adalah satu-satunya yang bisa memberikan apa yang Enzo butuhkan.
Tapi dia juga tahu, dengan keberhasilannya menenangkan Enzo, dia telah mengikat dirinya lebih erat ke dalam sarang laba-laba Damon Valenti. Kontraknya tidak hanya berlanjut, tetapi pertaruhannya kini jauh lebih tinggi. Keberhasilannya kini menjadi bahaya terbesarnya.