Bab 1

Telepon di atas meja bergetar, mengirimkan getaran kasar ke seluruh permukaan kayu yang lembap. Isabella tidak perlu melihat layarnya untuk tahu siapa yang menelepon. Itu adalah nomor yang sama, nomor yang sangat profesional namun menakutkan, yang menghubunginya sejak tiga hari lalu. Nomor dari dunia lain.

Ruangan kos kecil itu pengap. Bau deterjen murah bercampur dengan aroma teh celup yang sudah dingin. Isabella meringkuk di kursi rotan, memegang sebuah foto kecil. Matanya sembap, tetapi air mata sudah kehabisan persediaan sejak seminggu yang lalu. Ia hanya punya kekosongan. Kekosongan sebesar lubang di dadanya. Lubang yang ditinggalkan oleh Elias, putranya, yang kini hanya tersisa sebatas debu.

Ponsel itu bergetar lagi, lebih mendesak.

"Jawab, Bella," bisik Maria, pemilik kos yang kebetulan sedang menyetrika di ambang pintu. "Itu sudah hari ketiga. Siapa tahu itu pekerjaan, 'Nak."

Pekerjaan. Isabella mendengus. Mereka menyebutnya 'pekerjaan' karena tidak ada kata yang lebih sopan untuk mendeskripsikan transaksi yang akan ia lakukan ini. Ia menelan ludah, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya-atau mungkin sisa-sisa keputusasaannya-dan mengangkat panggilan itu.

"Ya," suaranya serak, terlalu lama tak digunakan.

"Nyonya Moreno? Ini Tuan Luciano, penasihat Tuan Valenti. Kami menunggu jawabanmu mengenai proposal yang kami ajukan." Suara di seberang sana tenang, sebersih kaca, tetapi setiap katanya membawa beban yang jauh lebih berat daripada ancaman.

Isabella menarik napas panjang. "Aku... aku sudah memikirkannya."

"Bagus. Keputusanmu?"

Ia memejamkan mata. Keputusannya. Keputusannya untuk menjual hal yang paling intim, paling personal, yang ia miliki: tubuhnya sebagai ibu. Walaupun hanya untuk memberi makan bayi lain, rasanya seperti mengkhianati kenangan Elias. Tapi rumah sakit... tagihan yang menumpuk tak mungkin dilunasi dengan bekerja di toko roti. Utangnya menjulang seperti menara yang siap menimpanya.

"Aku setuju," katanya, akhirnya. Suara 'setuju' itu terasa asing, seperti lidahnya mengucapkan kata dalam bahasa yang belum pernah ia pelajari.

Hening sejenak. Luciano tidak terdengar terkejut, tidak juga lega. Hanya efisien. "Baik. Kita atur pertemuannya malam ini. Jam sembilan. Ada mobil yang akan menjemputmu di sudut jalanmu. Jangan terlambat."

Sambungan terputus.

Isabella menjatuhkan ponsel ke kasur lusuh. Perutnya terasa seperti diaduk. Malam ini. Malam ini ia akan bertemu langsung dengan pria itu, Damon Valenti. Nama yang hanya ia dengar dalam bisik-bisik yang diselimuti ketakutan. Don Valenti. Sang Raja Kejahatan yang baru saja kehilangan ratunya.

Ia bangkit, menatap pantulan dirinya di cermin retak. Wanita kurus, pucat, dengan mata yang menyimpan badai. Apa yang akan Damon Valenti lihat? Apa yang akan dia harapkan?

"Bella?" Maria mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran yang tulus. "Kerja apa? Jangan aneh-aneh ya, Nak. Maria tahu kamu butuh uang, tapi-"

"Tidak ada yang aneh, Ma," potong Isabella cepat. Ia tak sanggup menceritakannya. "Aku hanya... akan jadi pengasuh. Pengasuh bayi yang sangat kaya. Itu saja."

Ia tahu Maria tidak percaya, tetapi dia mengangguk pelan. Isabella bergegas masuk ke kamar mandi kecil, mencuci wajahnya, mencoba menghilangkan jejak air mata dan kesedihan yang melekat. Malam ini, ia harus jadi Seraphina yang baru. Seraphina yang kuat, yang hanya peduli pada uang di rekening, bukan pada hati yang hancur.

Jam delapan empat puluh lima. Isabella berdiri di bawah tiang lampu jalan yang berkedip-kedip, membawa tas kecil berisi beberapa pakaian ganti dan dompet usang. Ia mengenakan blus putih tertutup dan rok panjang, mencoba terlihat serapih dan seprofesional mungkin di tengah kemacetan ibukota yang riuh.

Tepat jam sembilan, sebuah mobil hitam legam, yang terlihat seperti tank yang disemir, meluncur tanpa suara di depannya. Jendelanya gelap, memantulkan cahaya lampu jalan dengan dingin. Isabella ragu sejenak.

Pintu belakang terbuka. Sosok pria berpakaian serba hitam, dengan wajah tanpa ekspresi yang biasa dilihat di film-film thriller, memberi isyarat padanya untuk masuk.

"Nyonya Moreno? Silakan."

Isabella masuk ke dalam mobil, dan pintu tertutup di belakangnya dengan suara "klik" yang mematikan. Interiornya mewah, berbau kulit baru dan sesuatu yang mahal, mungkin cerutu. Rasanya seperti masuk ke dalam bunker berlapis emas.

Perjalanan terasa sangat panjang. Mereka meninggalkan hiruk pikuk jalanan utama, memasuki area yang semakin sepi dan semakin mewah. Gerbang besi tinggi, dinding batu setinggi dua kali orang dewasa, dan kemudian-mansion Valenti.

Itu bukan sekadar rumah. Itu adalah benteng. Terbuat dari batu gelap, dengan lampu-lampu sorot yang menerangi setiap sudut, dikelilingi taman yang luas dan sunyi. Rumah yang sama sekali tidak terasa hidup. Itu adalah tempat di mana kekuasaan bersemayam.

Isabella dituntun melewati koridor marmer yang panjang dan megah. Langkah kakinya, yang biasa menginjak lantai kayu reot di kos, kini bergema, membuat perutnya semakin mual. Akhirnya, ia dibawa ke sebuah ruang kerja yang besar, didominasi warna gelap dan rak buku yang menjulang.

Di balik meja kayu mahoni yang sangat besar, duduklah dia. Damon Valenti.

Ia bukan pria tua yang bungkuk, seperti yang Isabella bayangkan. Usianya mungkin baru awal tiga puluhan. Wajahnya tampan dengan ketampanan yang tajam, rahangnya keras, matanya gelap dan dingin seperti malam tanpa bintang. Ia mengenakan kemeja gelap, tanpa dasi, dan aura kekuasaan yang ia pancarkan jauh lebih nyata daripada yang pernah ia tonton di televisi. Ia adalah bahaya yang bergerak lambat.

Damon sedang memegang selembar kertas. Ia bahkan tidak mendongak ketika Isabella masuk.

"Ini dia, Tuan," ujar pria yang membawanya masuk.

Damon mengangguk tanpa melihat. "Kau bisa pergi."

Pria itu segera menghilang. Isabella ditinggalkan sendirian, berdiri canggung di tengah karpet Persia tebal. Keheningan di ruangan itu begitu berat hingga hampir menyesakkan napas.

Akhirnya, Damon meletakkan kertas itu. Matanya yang tajam menatap Isabella dari ujung kepala sampai ujung kaki, tanpa emosi, seperti sedang memeriksa komoditas.

"Isabella Moreno." Suaranya rendah dan serak, tetapi memiliki resonansi yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.

"Ya," jawab Isabella, berusaha agar suaranya tidak terdengar gemetar.

Damon bersandar, melipat tangannya di dada yang berotot. "Kau sudah membaca kontraknya. Aku ingin memastikan kau mengerti betul apa yang kau setujui."

Ia mengangkat selembar kertas, bukan kontrak formal, melainkan foto kecil. Foto bayi. Bayi yang sangat mungil, dengan rambut halus dan wajah yang polos. Damon melihat foto itu, dan untuk sepersekian detik, Isabella melihat sesuatu melintas di mata gelapnya-kesedihan yang terpendam, rasa sakit yang sama dengan miliknya.

"Namanya Enzo," kata Damon, suaranya sedikit melunak. "Dia menolak semua susu formula, setiap merek. Kami sudah mencoba segala cara. Dokter mengatakan dia tidak akan bertahan jika kondisinya terus begini."

Dia meletakkan foto itu. Aura dinginnya kembali.

"Kau," katanya, menunjuk Isabella dengan jari telunjuk yang kokoh, "Kau adalah satu-satunya solusi yang tersisa."

Isabella merasakan pipinya memanas. "Aku mengerti, Tuan Valenti. Aku harus memberikan... ASI. Dan merawatnya. Sampai dia cukup besar untuk beralih ke makanan lain."

"Bukan hanya itu," Damon memotongnya, suaranya kembali dingin seperti batu es. "Kontrak ini menetapkan batasan yang sangat jelas. Kau akan tinggal di sini. Kau tidak boleh meninggalkan properti ini tanpa izin dariku, dan selalu dengan pengawasan."

"Aku setuju," Isabella berbisik.

"Kau tidak boleh berbicara dengan siapa pun tentang apa yang terjadi di sini. Siapa nama ibunya, siapa ayahnya-kau hanya tahu kau adalah pengasuh yang dibayar mahal. Jika ada yang bertanya, kau harus katakan kau dipekerjakan penuh waktu untuk merawat anakku."

"Aku akan mengikuti aturannya."

Damon mendengus sinis. "Kau menjual waktumu, Isabella. Kau menjual tubuhmu untuk kelangsungan hidup anakku. Imbalannya besar, lebih besar daripada yang bisa kau dapatkan seumur hidupmu di luar sana. Tapi sebagai gantinya, kau kehilangan kebebasanmu, dan kau kehilangan privasi."

Konflik mulai muncul. Ini bukan hanya tentang menyusui. Ini tentang Damon yang mengambil alih seluruh hidupnya.

"Apakah... apakah aku akan memiliki kontak denganmu, Tuan Valenti?" tanya Isabella. Ia perlu tahu batas-batas yang ia hadapi.

Damon memandangnya lama, seolah sedang memikirkan kemungkinan itu. "Aku adalah ayahnya. Aku tinggal di rumah ini. Tentu saja kau akan melihatku. Tapi interaksi kita akan sebatas Enzo. Tidak ada percakapan pribadi. Tidak ada sentuhan. Tidak ada keterikatan emosional."

Ia berdiri. Damon Valenti jauh lebih tinggi dan lebih mengintimidasi saat berdiri. Ia berjalan mengelilingi meja dan berhenti tepat di depan Isabella.

"Kontrakmu berlangsung enam bulan. Setelah enam bulan, kau pergi. Kita tidak akan pernah bertemu lagi, dan rahasia ini akan ikut bersamamu. Jelas?"

"Jelas," ulang Isabella, memaksakan dirinya untuk mempertahankan kontak mata.

"Satu lagi," Damon membungkuk sedikit, suaranya turun menjadi nada ancaman yang berbahaya. "Jika kau pernah, sekalipun, membahayakan anakku, atau mencoba menggunakan posisimu untuk mendekatiku atau mendapatkan sesuatu yang bukan hakmu-kau akan berurusan langsung denganku, Isabella. Dan aku menjamin, kau tidak akan menyukainya."

Itu adalah ancaman yang terselubung dengan sempurna. Jantung Isabella berdebar kencang di tulang rusuknya. Ia tahu ia sedang berhadapan dengan binatang buas yang sedang terluka, dan Enzo adalah satu-satunya miliknya yang tersisa.

"Aku tidak tertarik padamu, Tuan Valenti," balas Isabella, tiba-tiba rasa takutnya digantikan oleh percikan kemarahan yang dingin. "Aku di sini demi uang untuk melunasi utangku. Hanya itu. Anakmu aman bersamaku."

Ekspresi Damon sedikit berubah, tampak terkejut sesaat, tetapi segera kembali datar. Mungkin dia tidak terbiasa ada yang menantangnya.

"Baiklah. Kita akan melihat seberapa lama sikap itu bertahan." Damon mengambil kontrak itu dari meja dan menyerahkannya padanya. "Tanda tangani. Sekarang."

Isabella mengambil pena yang disodorkan. Kontrak itu tebal, penuh pasal-pasal hukum yang dingin. Ia tidak perlu membacanya lagi. Ia sudah tahu isinya. Intinya adalah ini: Ia menukar dirinya untuk uang, dan sebagai gantinya, ia akan menyelamatkan nyawa seorang bayi kecil yang tak bersalah.

Ia menandatangani di bagian yang ditandai. Tanda tangan itu terasa seperti menggores batu nisan miliknya sendiri.

"Selamat datang di Valenti Manor, Isabella Moreno," kata Damon Valenti, tanpa ada nada sambutan sama sekali. "Mari kita temui Enzo."

Damon berbalik dan berjalan menuju pintu. Isabella ditinggalkan untuk mengikuti, tas di tangannya terasa semakin berat. Ia baru saja menjual enam bulan hidupnya kepada Raja Mafia. Tidak ada jalan kembali.

Mereka naik lift, bergerak ke lantai atas. Ketika pintu lift terbuka, suasananya langsung berbeda. Koridor di sini dilapisi karpet tebal, tidak ada gema, dan suhunya lebih hangat.

Damon mengarahkannya ke kamar bayi, sebuah ruangan yang sangat besar, tetapi terasa sunyi. Lampu tidur kecil menerangi buaian kayu besar di tengah ruangan.

Di buaian itu, terbaring Enzo.

Wajah Isabella langsung melunak. Segala ketakutan dan permusuhannya terhadap Damon menguap seketika. Di sana, di buaian itu, adalah bayi yang mengingatkannya pada segalanya-pada Elias. Enzo terlihat kurus, kulitnya pucat. Bibir mungilnya terlihat kering dan sedikit berkedut.

Seorang wanita paruh baya, yang tampak seperti pengasuh yang kelelahan, bangkit dari kursi di samping buaian. Matanya membulat saat melihat Damon dan Isabella.

"Tuan Valenti. Syukurlah kau kembali. Enzo baru saja bangun. Dia... dia menolak lagi. Hanya menangis."

Damon tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kepada wanita itu untuk pergi. Wanita itu, yang jelas terintimidasi, bergegas keluar.

"Dia harus makan sekarang, Isabella," perintah Damon.

Isabella mendekat ke buaian. Jantungnya berdebar, bukan karena takut pada Damon, tetapi karena kerinduan yang mendalam. Enzo adalah bayi. Bayi yang berhak hidup. Bayi yang butuh kehangatan ibu.

Isabella dengan hati-hati mengangkat Enzo dari buaian. Tubuh kecil itu terasa seringan bulu, dan tangisnya lemah. Sensasi memeluk bayi lagi... rasanya begitu menyakitkan, tetapi juga menghidupkan. Ia ingat betul bagaimana rasanya Elias dulu, begitu rapuh.

Damon mengamati dari ambang pintu, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, wajahnya tidak terbaca.

Isabella duduk di kursi goyang terdekat. Ia dengan lembut menyesuaikan posisi Enzo, mendekatkannya ke dadanya, merasakan kehangatan kulit di bawah lapisan kain. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam, mengenyahkan semua kebisingan-Damon, mafia, kontrak, uang. Hanya ada dia dan bayi ini.

Ia merasakan dorongan alami, respons tubuhnya terhadap tangisan dan kehangatan bayi.

Saat Enzo menemukan sumber susu dan mulai menghisap dengan lemah namun stabil, isak tangisnya mereda. Keheningan yang manis memenuhi ruangan. Suara isapan kecil Enzo adalah satu-satunya yang memecah keheningan maut di Valenti Manor.

Isabella membuka matanya, dan pandangannya langsung bertemu dengan Damon Valenti.

Damon masih berdiri di sana, seperti patung, tetapi kali ini, ada yang berbeda. Kekerasan di rahangnya sedikit mengendur. Matanya yang gelap, yang tadinya hanya memancarkan ancaman, kini memancarkan sesuatu yang mendekati... kelegaan. Atau mungkin kekaguman.

Ia melihat Isabella Moreno. Bukan lagi sebagai komoditas yang ia beli, tetapi sebagai sumber kehidupan bagi putranya.

Isabella merasa malu ditatap seperti itu, namun ia juga merasa kekuatan kembali padanya. Ia mungkin telah menjual dirinya, tetapi dengan memberi makan Enzo, ia menyelamatkan nyawa. Dan untuk pertama kalinya sejak Elias pergi, ia merasa berguna.

"Dia makan," kata Damon, sebuah pernyataan yang hampir tidak terdengar.

"Ya," jawab Isabella. "Dia baik-baik saja."

Malam itu, di kamar bayi yang tenang, di jantung kekuasaan mafia, Damon Valenti melihat keajaiban yang ia beli. Dan Isabella Moreno menyadari, kontrak ini jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Tidak ada batasan yang bisa menghentikan naluri seorang ibu. Dan tak ada tembok yang cukup tinggi untuk menghentikan obsesi yang baru lahir.

Bab 2

Isabella terbangun karena suara pintu kamar yang dibuka pelan. Dia terlonjak, refleks melompat dari kasur di kamar pengasuh yang kini menjadi kamarnya.

"Siapa di sana?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Dia sudah tidur di Valenti Manor kurang dari dua puluh empat jam, tapi setiap bayangan terasa seperti ancaman.

"Maaf, Nyonya Moreno. Saya Lucia," suara itu milik seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu. Wanita itu memegang nampan perak berisi sarapan yang terlihat mewah. "Tuan Valenti meminta saya memastikan kebutuhanmu terpenuhi."

Lucia meletakkan nampan itu di meja samping, gerakannya cepat dan nyaris tanpa suara. Isabella menatapnya. Wanita ini, seperti setiap staf lain yang ia temui di sini, memiliki tatapan mata yang sama: hormat, tetapi dingin, dan penuh kehati-hatian. Di rumah ini, tidak ada yang bicara lebih dari yang diperlukan.

"Terima kasih," kata Isabella. Dia melirik ke jendela. Gordennya tebal, menutupi sinar matahari pagi. Dia berjalan mendekat, ingin melihat pemandangan di luar.

"Nyonya Moreno," Lucia memanggilnya, suaranya tajam namun rendah. "Sebaiknya jangan buka gordennya."

Isabella berbalik. "Kenapa? Apa ada-"

"Tidak ada. Itu hanya... aturan Tuan Valenti. Privasi. Semua gorden di sisi ini tetap tertutup kecuali di kamar Enzo. Dia sensitif terhadap cahaya terang mendadak." Lucia menjelaskan, tetapi suaranya mengandung nada peringatan.

Itu adalah aturan pertama, sekecil apa pun, yang terasa seperti rantai yang dipasangkan padanya.

"Baiklah." Isabella kembali ke tengah kamar.

Lucia lalu menunjuk ke sebuah tombol kecil di dinding dekat tempat tidur. "Jika Nyonya Moreno membutuhkan sesuatu-air, handuk, bantuan Enzo-tekan tombol ini. Jangan berkeliaran di koridor tanpa tujuan, terutama di malam hari. Staf keamanan Tuan Valenti sangat ketat."

"Aku mengerti," Isabella mengangguk, hatinya mulai mencelos. Jangan berkeliaran. Dia bukan pengasuh biasa; dia adalah tawanan yang dibayar.

Setelah Lucia pergi, Isabella menghabiskan sarapannya dengan cepat. Pikirannya dipenuhi gambaran gerbang tinggi, dinding batu, dan mata-mata yang mungkin mengintai di setiap sudut.

Dia harus pergi ke kamar Enzo. Itulah satu-satunya alasan dia ada di sini, dan satu-satunya tempat dia merasa sedikit manusiawi.

Koridor yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Enzo terasa seperti lorong penjara. Lampu kristal mahal tergantung di langit-langit, tetapi cahaya yang dipancarkannya terasa dingin.

Ketika dia sampai di kamar Enzo, bayi kecil itu baru saja terbangun, mengeluarkan rengekan pelan yang langsung menghancurkan kekakuan Isabella.

Dia menghabiskan dua jam berikutnya hanya untuk Enzo. Menyanyikan lagu yang biasa dia nyanyikan untuk Elias dulu-nada sederhana yang penuh kerinduan-mengganti popok, dan, tentu saja, memberinya makan. Saat Enzo menempel di dadanya, rasa sakit di hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ini adalah tujuan utamanya, tujuan yang membuat semua penderitaan di luar terasa sepadan.

Sekitar tengah hari, ketika Enzo kembali tertidur, Isabella memutuskan untuk berjalan-jalan, seperti yang biasa dia lakukan di taman kosnya yang sempit. Dia tidak berani melanggar perintah Lucia untuk "tidak berkeliaran", tetapi dia merasa sesak jika terus-menerus terkurung.

Dia turun ke lantai dasar, lalu menemukan pintu kaca ganda yang mengarah ke taman belakang. Taman itu megah, dengan air mancur dan patung-patung kuno. Sebuah labirin yang sempurna.

Saat dia menginjakkan kaki di rumput yang terawat, ia merasakan lega yang singkat, seolah-olah ia baru saja melarikan diri.

"Nyonya Moreno!"

Suara itu keras dan berat. Isabella menoleh. Seorang pria tinggi besar, berseragam hitam, seperti pengawal tadi malam, melangkah cepat mendekatinya. Wajahnya keras dan tidak ramah.

"Aku minta maaf," kata Isabella, suaranya mengecil. "Aku hanya... mencari udara segar."

"Daerah ini berada di luar batas," kata pria itu, tanpa basa-basi. "Kau harus kembali ke dalam. Tuan Valenti sangat tegas tentang personel yang berada di luar batas operasional mereka."

"Tapi... aku tidak melihat tanda larangan," balas Isabella, merasa tidak berdaya.

"Aturan di rumah ini tidak tertulis. Kau akan mempelajarinya. Kau adalah pengasuh, Nyonya Moreno. Wilayahmu adalah lantai dua dan kamar Enzo. Kembali ke dalam. Sekarang."

Pria itu tidak mengancamnya dengan senjata, tetapi kekuasaannya terasa lebih kuat dari apa pun. Isabella mundur, mundur dari padang rumput yang tampak bebas itu, kembali ke dalam sangkar emasnya.

Dia merasa air mata mulai menggenang. Bukan karena marah, tetapi karena menyadari sejauh mana dia telah menjual jiwanya. Dia tidak hanya terperangkap, dia diawasi. Setiap langkahnya, setiap keinginannya, dikendalikan.

Sore itu, Isabella sedang menyeterika pakaian bayi di kamar Enzo ketika dia mendengar suara-suara di luar. Suara berat Damon Valenti, bercampur dengan suara pria lain, yang lebih sinis dan sombong.

Isabella membeku. Damon telah mengatakan bahwa interaksi mereka sebatas Enzo. Dia tidak ingin berada di dekat Damon, terutama ketika Damon sedang berurusan dengan 'bisnis'nya.

Dia merapatkan pintu kamar Enzo, membiarkan sedikit celah terbuka karena rasa penasaran yang tak terhindarkan.

"Kau tahu, Damon, aku masih tidak mengerti," kata suara sombong itu. "Seorang babysitter dengan gaji yang lebih besar daripada gaji seorang wakil direktur di kotaku. Dan dia tinggal di sini. Bukankah itu berlebihan? Mengingat kau baru saja kehilangan Anya."

Jantung Isabella berdebar kencang. Mereka membicarakannya.

"Itu bukan urusanmu, Mateo," jawab Damon, suaranya dingin mematikan. "Fokuslah pada pengirimanmu. Aku membayar mahal agar kau tetap diam dan fokus."

"Tentu saja. Tentu saja. Tapi kau tahu bagaimana lidah di lingkungan kita ini, Damon. Mereka akan berbisik. Mereka akan bertanya-tanya mengapa Don Valenti yang baru, yang seharusnya berduka, tiba-tiba mempekerjakan seorang wanita baru di rumahnya. Seorang wanita yang... menarik, kurasa."

Isabella merasakan amarahnya naik. Dia bukan 'wanita baru' Damon. Dia hanyalah sebuah kebutuhan.

"Aku tidak peduli dengan bisikan mereka," kata Damon. "Enzo menolak formula. Enzo butuh ibu. Wanita itu adalah obatnya. Jangan pernah sebut nama Anya lagi, atau kau akan melupakan cara bernapasmu."

Hening. Isabella bisa membayangkan tatapan menusuk Damon yang membuat Mateo mundur.

"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, Damon. Hanya saja... hati-hati. Kelemahanmu sekarang adalah rumah ini. Dan wanita ini. Ingat, musuh mencari celah."

Langkah kaki terdengar menjauh, lalu hening lagi. Isabella menunggu sampai dia yakin Damon sudah pergi.

Malam itu, Damon Valenti tidak muncul untuk melihat Enzo. Isabella hanya bertemu dengan Lucia, yang kini membawakan makan malamnya di kamar pengasuh.

"Tuan Valenti sedang sibuk, Nyonya Moreno," kata Lucia, matanya melayang ke arah koridor.

"Dia baik-baik saja?" tanya Isabella, tanpa sadar.

Lucia menatapnya dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca. "Tuan Valenti selalu baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Fokuslah pada Enzo. Itu yang terbaik."

Itu adalah peringatan halus kedua.

Setelah makan malam, Isabella mengambil buku yang dibawanya dari rumah-novel lama tentang pelarian dan kebebasan. Tapi dia tidak bisa fokus. Setiap halaman, setiap kata, terasa kosong.

Dia berdiri, berjalan ke jendela, dan sekali lagi ingin menarik gorden itu. Tiba-tiba, dia merasakan dorongan kuat untuk melanggar aturan Damon, untuk melihat apa yang ada di luar dinding batu tebal itu.

Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya, lalu menarik gorden itu dengan cepat.

Kegelapan. Jendela itu menghadap ke halaman belakang yang luas. Isabella tidak bisa melihat banyak, tetapi dia bisa melihat pagar tinggi dan di atas pagar itu, terpasang kawat berduri.

Itu bukan sekadar privasi. Itu adalah sistem keamanan penjara.

Dan dia melihatnya-di antara pepohonan, ada sinar kecil yang berkedip-kedip, merah dan teratur. Kamera pengintai.

Isabella melompat mundur dari jendela, jantungnya berdebar-debar liar di dalam dadanya. Dia tidak bisa melihat ke luar karena Damon tidak ingin dia tahu. Damon tidak ingin dia tahu bahwa dia benar-benar terperangkap. Setiap sudut, setiap langkah, setiap gerakan diawasi.

Dia berjalan ke pintu dan menguncinya. Lalu dia memeriksa kamar mandi, memeriksa di bawah kasur. Dia panik. Di rumah ini, yang dia pikir adalah tempatnya mencari rezeki, ternyata adalah tempat dia kehilangan semua kendali atas dirinya sendiri.

Kekuatan Valenti tidak hanya pada uang dan kekerasan. Kekuatan Valenti adalah kontrol mutlak.

Dia menyentuh dadanya. Air susunya terasa penuh, respons alami tubuhnya terhadap bayi Enzo. Ironis sekali. Hal yang paling alamiah, paling bebas, yang dimilikinya-kemampuannya untuk memberi makan-justru yang mengikatnya pada pria yang paling mengancam kebebasannya.

Isabella duduk di tepi kasur. Dia tidak menangis lagi. Air mata tidak akan membantunya.

Dia harus tenang. Dia harus fokus pada tujuannya: enam bulan. Melunasi utang. Lalu pergi.

Dia memutuskan untuk membuat daftar aturan yang tidak tertulis di Valenti Manor:

Jangan pernah buka gorden.

Jangan pernah berkeliaran di lantai dasar atau taman.

Jangan pernah bertanya tentang "bisnis" Damon.

Jangan pernah menunjukkan emosi.

Dia menambahkan aturan kelima, yang paling penting.

Jangan pernah percaya pada Damon Valenti.

Tengah malam. Isabella terbangun oleh rasa haus yang luar biasa. Dia mencoba mengabaikannya, tetapi tenggorokannya terasa kering. Dia ingat ada botol air di dapur kecil di kamar Enzo, tempat dia menyiapkan peralatan steril.

Dia bangkit perlahan, berjalan ke kamar Enzo yang bersebelahan. Bayi itu tidur nyenyak. Isabella mengambil air dan minum.

Saat dia berbalik untuk kembali ke kamarnya, matanya menangkap sesuatu di luar jendela kamar Enzo. Jendela di kamar ini tidak ditutup.

Dia mendekat. Di bawah, di halaman bebatuan, Damon Valenti sedang berdiri. Dia tidak sendiri. Dia bersama dua pria besar lainnya, dan mereka tidak sedang mengobrol.

Damon mengenakan jaket kulit yang tebal. Salah satu pria itu sedang membersihkan sesuatu dari tangan Damon dengan kain putih. Dan pria lain sedang menguburkan sesuatu di taman belakang, dengan gerakan cepat dan terampil.

Isabella menahan napas. Kain putih itu... kelihatannya merah di bawah cahaya rembulan. Darah.

Damon Valenti tidak menghabiskan malamnya dengan tidur di kamar mewah. Dia menghabiskan malamnya dengan kekerasan. Dia kembali dari 'pekerjaannya' yang pasti penuh darah.

Dan dia berdiri di sana, di bawah rembulan, tampaknya sedang menunggu dua pria itu menyelesaikan pekerjaan kotor mereka.

Tiba-tiba, Damon mendongak.

Jantung Isabella hampir berhenti berdetak. Apakah dia terlihat? Apakah Damon melihat bayangan dirinya di jendela lantai dua?

Matanya yang gelap sepertinya menusuk kegelapan, langsung menuju ke kamar Enzo. Meskipun ruangan itu redup, Isabella yakin Damon bisa merasakan kehadirannya.

Isabella bergerak mundur dengan gerakan yang sangat lambat, mundur dari jendela, kembali ke kegelapan di kamar Enzo. Dia tidak ingin Damon tahu dia telah melihat. Dia tidak ingin Damon tahu dia sekarang tahu lebih banyak.

Dindingnya tidak cukup tebal. Mansion ini tidak cukup besar. Isabella sekarang tidak hanya terperangkap, dia telah menjadi saksi, meskipun hanya sekilas. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar menjadi pengasuh.

Dia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan merangkak kembali ke kasur. Dia memeluk lututnya, berusaha mengatur napas.

Kebebasan. Uang. Bayi Enzo.

Dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak bisa melarikan diri, belum. Dia harus memainkan perannya. Dia harus menjadi Isabella yang bodoh, yang tidak tahu apa-apa, yang hanya peduli pada bayi dan gajinya.

Kekuatan yang menekan di rumah ini begitu besar, dan dia, seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya, hanyalah debu di bawah kaki sang Don.

Isabella memejamkan mata, memaksakan diri tidur, tahu bahwa dia tidak bisa tidur nyenyak lagi di Valenti Manor. Dia sekarang tahu betul dia hidup di sarang serigala. Dan dia harus menjadi yang paling tenang dan paling tidak terlihat di antara mangsanya.

Bab 3

Isabella sudah berada di Valenti Manor selama empat hari. Empat hari penuh dengan keheningan mencekik, pengawasan ketat, dan ketegangan yang tidak pernah mereda. Dia sudah mulai terbiasa dengan rutinitas: bangun, merawat Enzo, makan di kamar sendirian, melihat sekilas Damon Valenti yang dingin di koridor, lalu kembali ke Enzo.

Hari ini seharusnya tidak berbeda.

Saat Isabella mengambil Enzo dari buaiannya di pagi hari, dia merasakan kelegaan yang biasa: kehangatan tubuh bayi itu menenangkan jiwanya yang bergejolak. Enzo mulai terbiasa dengan aroma Isabella, dan proses menyusui berjalan lancar. Isabella bahkan sempat tersenyum kecil ketika Enzo menggenggam jarinya dengan erat, sebuah tindakan yang murni tanpa paksaan.

"Anak baik," bisik Isabella, menyandarkan dagunya di atas kepala Enzo yang lembut.

Setelah selesai sarapan, Isabella membawanya keluar dari kamar bayi, menuju ruang duduk kecil yang berdekatan yang dirancang untuk bermain. Ruangan itu penuh dengan mainan mahal, boneka beruang berukuran manusia, dan playmat yang empuk.

Isabella meletakkan Enzo perlahan di playmat itu. Dia duduk di sebelahnya, mulai menggoyangkan mainan rattle berwarna cerah di depan wajah Enzo.

Tapi hari ini, Enzo tidak bereaksi.

Enzo biasanya akan mengikuti mainan itu dengan matanya yang gelap. Kali ini, Enzo hanya berkedip, lalu wajahnya mulai memerah.

Isabella mencoba lagi, tersenyum dan membuat suara-suara aneh yang biasa dia lakukan. "Lihat, Nak. Indah, kan?"

Enzo menggerakkan kepalanya menjauh dari mainan itu, dan mulai merengek.

Rengekan itu dengan cepat berubah menjadi tangisan yang keras dan panik. Bukan tangisan lapar atau tangisan biasa, tapi tangisan yang penuh penolakan.

Isabella terkejut. Dia segera menarik Enzo ke dalam pelukannya. "Ssst, ada apa, Sayang? Ibu di sini."

Tangisan Enzo bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi. Bayi itu meronta di pelukan Isabella, menendang-nendang. Matanya basah oleh air mata dan dipenuhi kepanikan.

Isabella mencoba mengayunnya, menyanyikan lagu. Tidak berhasil. Dia mencoba menenangkannya dengan suara lembut. Enzo hanya semakin keras menangis, wajahnya kini merah tua.

Dia panik. Ini adalah kali pertama Enzo menolak dirinya secara fisik.

"Kenapa, Nak? Jangan begini," bisik Isabella, keputusasaan mulai terasa.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Damon Valenti berdiri di ambang pintu, kemejanya sudah rapi, tetapi tatapannya seperti badai.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, suaranya rendah dan mengancam. "Mengapa dia menangis?"

"Aku... aku tidak tahu," kata Isabella, suaranya tercekat. "Dia tiba-tiba panik. Aku hanya mengajaknya bermain."

Damon melangkah masuk. Aura kekuasaan dan kemarahannya langsung memenuhi ruangan. Isabella merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Kontraknya tergantung pada kemampuannya untuk menenangkan dan memberi makan anak ini.

Damon mengambil langkah mendekat. Saat dia berdiri di samping Isabella, Enzo bereaksi.

Tangisan Enzo mereda seketika.

Isabella terkejut. Enzo mendongak ke arah Damon, air mata masih membasahi pipinya, tetapi tangisnya berhenti. Bayi itu hanya terisak kecil, menatap wajah ayahnya.

Damon mengulurkan tangannya. "Berikan dia padaku."

Isabella ragu sejenak, tapi dia tidak berani menolak. Dia menyerahkan Enzo pada Damon.

Begitu berada di pelukan ayahnya yang kaku, Enzo bersandar dengan kepala di bahu Damon, dan tangisannya hilang sepenuhnya. Bayi itu hanya mengeluarkan desahan kecil, napasnya tersengal-sengal.

Keheningan kembali ke ruangan, tetapi kali ini, keheningan itu menghakimi.

Damon menatap Enzo, lalu mengalihkan pandangannya yang tajam ke Isabella. Matanya kini penuh tuduhan yang diam.

"Apa yang kau lakukan padanya?" tanyanya, dingin.

"Aku bersumpah, aku tidak melakukan apa-apa," bela Isabella, rasa tidak berharga menyerangnya dengan keras. "Dia baru saja bangun dan... entahlah. Dia menolakku."

Damon mengayun Enzo perlahan, yang kini terlihat jauh lebih tenang.

"Kontrak kita, Isabella," kata Damon, suaranya tanpa emosi, "berdasarkan premis bahwa kau bisa memberikan kenyamanan yang dia tolak dari orang lain. Jika dia tidak tenang bersamamu, kau tidak berguna bagiku."

Kalimat itu-kau tidak berguna-menampar Isabella lebih keras daripada tamparan fisik. Dia datang ke sini untuk melarikan diri dari perasaan tidak berguna setelah kehilangan Elias. Kini, dia diberitahu lagi bahwa dia gagal, bahkan dalam tugas yang paling mendasar.

"Mungkin dia hanya butuh ayah, Tuan Valenti," kata Isabella, berusaha terdengar profesional. "Dia pasti merindukan kehadiranmu."

"Aku tidak membayar mu untuk menjadi terapis bayi," Damon membalas dengan kejam. "Aku membayarmu untuk menjadi ibunya, di saat aku tidak bisa. Aku harus bekerja."

Dia mengembalikan Enzo kepada Isabella. Begitu sentuhan Damon terlepas, Enzo kembali merengek, meskipun tidak sekeras tadi.

"Selesaikan ini," perintah Damon. "Aku memberimu waktu sampai sore. Jika dia terus menolakmu, kita harus mengevaluasi ulang nilaimu di rumah ini."

Damon berbalik dan pergi, meninggalkan Isabella sendirian bersama rasa takut yang dingin. Ancaman Damon jelas: jika dia gagal, dia akan diusir, dan utangnya akan menenggelamkannya.

Sisa hari itu adalah perjuangan yang melelahkan.

Setiap kali Isabella mencoba melakukan kontak fisik selain menyusui, Enzo merengek. Ketika Isabella menggendongnya sambil berdiri, dia tenang. Tetapi ketika Isabella mencoba duduk dan bermain, Enzo akan panik lagi.

Dia mencoba membayangkan dirinya sebagai Enzo. Bayi kecil yang baru saja kehilangan ibu kandungnya, dikelilingi oleh orang asing yang dingin di rumah yang sunyi. Mungkin dia hanya merindukan kehangatan yang benar-benar akrab.

Isabella membawa Enzo kembali ke kamar bayi. Dia mulai mengayunnya sambil berbisik, tidak lagi menyanyi, tetapi berbicara tentang Elias.

"Kakakmu, Nak... Elias, dia dulu juga suka rewel. Tapi dia selalu tahu, Mama di sini. Mama akan menjagamu. Walaupun Mama harus pergi nanti, Mama ingin kamu tahu, kamu kuat. Kamu harus makan, kamu harus tumbuh."

Dia berbicara tentang kesedihannya, tentang betapa hancurnya dia. Dia tidak berbicara kepada Enzo, dia berbicara kepada dirinya sendiri, mengeluarkan semua kesakitan yang terpendam.

Enzo tidak berhenti merengek, tetapi rengekannya mulai berubah. Ada jeda, seperti dia mendengarkan nada suara Isabella yang penuh rasa sakit.

Isabella duduk di kursi goyang dan menempatkan Enzo di dadanya, membiarkan kulit Enzo menyentuh kulitnya, berharap kehangatan yang lebih pribadi bisa meredakan kepanikan anak itu.

Enzo terisak di dadanya, mencengkeram kain kemejanya. Lalu, tanpa diduga, Enzo mulai bergerak. Dia tidak lagi meronta, tetapi mencoba mencari kenyamanan.

Perlahan, tubuh Enzo mengendur. Tangisannya berhenti. Dalam beberapa menit, Enzo tertidur di pelukan Isabella, napasnya teratur, wajahnya damai.

Isabella tidak bergerak. Dia takut sentuhan sekecil apa pun akan membangunkan panik Enzo lagi. Dia menyadari, Enzo tidak menolak 'makanan' darinya, tapi Enzo menolak 'peran' darinya. Enzo tahu Isabella bukan ibunya, dan dia tidak mau Isabella mencoba bertindak seperti pengasuh biasa. Enzo hanya ingin koneksi, kehangatan yang nyata.

Dia menatap wajah Enzo yang tertidur. Bayi itu sangat mirip dengan Damon-garis wajah yang tajam, rambut gelap.

Saat senja tiba, Damon Valenti kembali ke kamar Enzo. Dia tidak mengetuk. Dia hanya membuka pintu dan masuk.

Isabella masih duduk di kursi goyang, Enzo tertidur pulas di pelukannya. Pemandangan itu, Isabella dengan Enzo yang tertidur lelap, adalah gambaran damai yang kontras dengan suasana gelap di Valenti Manor.

Damon berhenti, melihat pemandangan itu. Keheningan berlangsung lama, hanya dipecahkan oleh suara napas Enzo yang lembut.

"Dia baik-baik saja," kata Isabella, suaranya lelah. "Dia hanya perlu waktu. Dia masih berduka."

Damon tidak menjawab. Dia berjalan mendekat.

Isabella merasakan jantungnya berdebar. Dia bersiap untuk kata-kata kasar Damon, kritiknya, atau bahkan ancaman untuk memotong gajinya.

Tapi Damon hanya berdiri di sana, menatap Enzo, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

"Kau berhasil menenangkannya," katanya, nada suaranya datar, tetapi bukan lagi mengancam. Itu adalah fakta yang diakui.

"Aku... aku hanya membiarkannya tahu bahwa dia tidak sendirian," kata Isabella, menghindari tatapan Damon.

"Sendirian," ulang Damon, suaranya mengandung nada ironi pahit. "Aku dikelilingi oleh orang-orang, Isabella. Tapi aku sendirian."

Itu adalah kalimat paling pribadi yang pernah diucapkan Damon kepadanya. Isabella mendongak. Di mata Damon, ia melihat kelelahan dan kesedihan yang sama, yang sering ia lihat di matanya sendiri di cermin.

Mereka berdua adalah orang-orang yang kehilangan, dipaksa untuk berpura-pura kuat di tengah puing-puing hati mereka.

"Kau tidak akan dipecat," kata Damon, mengalihkan pembicaraan, kembali ke persona mafianya yang dingin. "Kau akan terus merawatnya. Tetapi aku ingin kau tahu, aku mengawasi."

Dia mencondongkan tubuh, sangat dekat, dan menatap Isabella dengan matanya yang gelap.

"Kau mendapatkan Enzo untuk tenang. Itu yang penting. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa menenangkan aku, Isabella. Jangan pernah mencoba menjalin hubungan denganku. Itu akan mengakhiri kontrak, dan mengakhiri hidupmu dengan damai."

Itu bukan hanya ancaman. Itu adalah peringatan dari seorang pria yang takut dengan keintiman dan rentan.

"Aku tahu tempatku, Tuan Valenti," jawab Isabella, mengangguk sedikit.

Damon menegakkan tubuh. "Bagus. Mulai besok, kau akan diberikan pengawal baru. Dia akan menemanimu saat kau di luar kamar. Aku tidak mau mengambil risiko."

"Pengawal? Kenapa?" tanya Isabella, kaget.

Damon menyentuh bahu Enzo dengan ujung jarinya, lalu menariknya. "Karena kau adalah sumber kehidupan anakku. Dan bagi musuhku, kau adalah kelemahan baru yang sangat berharga. Aku harus menjagamu. Seperti menjaga aset yang paling penting."

Dia tidak menjaganya karena dia peduli padanya. Dia menjaganya sebagai properti. Kata-kata itu, aset yang paling penting, membuat Isabella merasa dingin dan kecil.

"Tidurlah. Enzo aman sekarang. Aku akan mengurusnya sampai tengah malam."

Damon Valenti mengambil alih kursi goyang, mengambil Enzo ke dalam pelukannya. Isabella tidak lagi melawan. Dia hanya berdiri, melihat pemandangan itu: Raja Kejahatan, seorang Don yang penuh darah, dengan lembut mengayun bayi kecil di tengah mansionnya yang dingin.

Isabella kembali ke kamarnya, mengunci pintu. Dia tidak lagi merasa tidak berguna. Dia tahu dia adalah satu-satunya yang bisa memberikan apa yang Enzo butuhkan.

Tapi dia juga tahu, dengan keberhasilannya menenangkan Enzo, dia telah mengikat dirinya lebih erat ke dalam sarang laba-laba Damon Valenti. Kontraknya tidak hanya berlanjut, tetapi pertaruhannya kini jauh lebih tinggi. Keberhasilannya kini menjadi bahaya terbesarnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED