Kenzo menghampiri Michiko yang ketakutan. "Michi, tenang saja. Kalau mereka datang kembali telepon aku."
Pengunjung lain langsung mendatangi Michiko dan membayar tagihannya.
Setelah pengunjung pergi, Michiko memutuskan untuk menutup kafenya lebih cepat.
Kenzo membantu menutup pintu gerbang Kafe. Dan dia berpesan jika ada yang mengganggu lagi, dia menyuruh Michiko menelpon dirinya.
Lalu Kenzo pergi ke rumah Tanaka, pacar Michiko.
-------
Sesampainya di rumahTanaka.
Kenzo segera memasukkan motor sportnya ke garasi Tanaka. Rumah Tanaka sudah dia anggap seperti rumah sendiri.
"Tanaka, I'm comming ... main game melulu kamu?" sapa Kenzo.
"Eh, Kenzo? Tumben kamu ke sini? Tertiup angin apa? Aku kira kamu sudah menikah dengan gadis Jepang pilihan ayahmu?" kata Tanaka.
"Uhh, aku jengkel sekali dengan ayahku. Menjengkelkan sekali dia," ungkap Kenzo.
"Ah jangan begitu, Kenzo. Bagaimanapun juga dia itu ayahmu. Semua hartanya pasti diwariskan kepadamu. Kamu putra tunggalnya, satu-satunya kandidat penerus ayahmu."
"Siapapun orang tua pasti ingin anaknya menikah dengan pasangan yang selevel dengan tingkat ekonomi mereka. Apalagi ayahmu seorang konglomerat ternama di negeri ini. Wajar jika dia menjodohkan kamu dengan anak gadis teman ayahmu. Dan pasti gadis-gadis pilihan ayahmu juga gadis Jepang terbaik. Pasti cantik, seksi, montok, terawat, dan kaya raya."
"Jika aku menjadi kamu, aku pasti terima itu gadis-gadis yang dijodohin oleh ayahku. Aduh, Kenzo ... Kenzo. Kamu ini benar-benar orang yang tidak pernah bisa bersyukur. Tidak tahu arti dan makna bersyukur." jelas Tanaka.
Tumben otak Tanaka sedikit normal, hanya hari-hari tertentu saja dia mampu memberi 'wejangan-wejangan elit' dan kalimat bijak kepada sahabatnya itu.
"Ah, kamu juga sama sepertiku. Saat ayahmu ingin menjodohkanmu dengan Sakura gadis berkacamata terpintar di kelas kita, kamu juga menolak, bukan? Malah kamu cinta mati kepada Michi. Sudahlah, jangan ajarin aku, seperti orang tua saja kamu, Tanaka. Lihat ke cermin itu. Lihat dirimu," tukas Kenzo menunjuk cermin besar yang menempel kokoh di tembok depan mereka.
"Ihhh bawa bawa Michi, gadis Jepang paling aku cintai."
"Iya, kamu mau apa? Marah kepadaku? Mau mengajak duel denganku?! Ayo!!!" Kenzo melotot kepada Tanaka.
"Iya sih. Kita ternyata sama ya. He he he," Tanaka mengalah.
------
Kenzo berdiri melangkah ke lemari es. "Tanaka, kenapa lemari es ini penuh kotak susu cair? Kenapa tidak ada vodka sekarang? Atau sake? Atau apalah yang bisa buat kita senang!" teriaknya.
"Eh, Kenzo, sekarang aku tidak sama denganmu. Sekarang minumanku susu. Aku ingin hidup sehat seperti yang Michi sarankan kepadaku," sahut Tanaka yang masih asyik bermain game online di PC gammingnya.
"Susu? Maksud kamu? Susu si Michi yang montok itu?" teriak Kenzo.
"Uh dasar kamu Kenzo otak ngeres. Awas ya nanti aku laporin ke Michi! Biar kamu ditampar dengan 'spatula sakti'nya. Tahu rasa kamu!" kata Tanaka.
Tanaka menyesal sekali mabuk-mabukan dengan Kenzo karena dia pernah ketahuan mabuk berat berdua bersama Kenzo, Michiko datang membawa spatula dan langsung memukuli punggung Tanaka dengan spatula saktinya.
"Oh, jadi kamu trauma dipukuli lagi oleh Michi dengan spatula itu? Itu yang membuatmu tidak mau lagi aku ajak mabuk? Baguslah." kata Kenzo yang sudah berada di depan sahabatnya sambil membawa 4 liter susu cair.
"Nah, minum semua itu susu, biar sehat dan badan subur seperti badanku sekarang. Habiskan saja tidak apa-apa, nanti aku beli lagi, ha ha ha," celetuk Tanaka mentertawakan Kenzo yang akhirnya mau menenggak habis sekardus susu segar 1 literan.
"Gleg gleg gleg gleg gleg."
"Hmmm benar juga katamu," ungkap Kenzo.
Kenzo mengambil kursi gamming lama Tanaka. Lalu duduk di samping sahabatnya itu yang sejak bangun tidur bermain game online seharian. Gaya hidup Tanaka berubah total sejak dihukum Michiko, dia sekarang jarang keluar rumah dan hampir setiap hari, pagi siang sore malam, bermain game online. Tanaka bercita-cita menjadi 'atlet eSport' walau sebenarnya sudah terlambat bila dilihat dari umurnya sekarang.
------
Sambil melanjutkan game onlinenya, Tanaka melirik ke arah Kenzo yang memejeng wajah suntuk seperti lukisan abstrak yang didominasi warna merah. Tanaka tahu persis sahabatnya itu pasti sedang dalam masalah besar jika dia menunjukkan muka jengkel dan ingin mengajaknya mabuk.
"Kenzo kenapa kamu? Bertengkar lagi dengan ayahmu? Dan kenapa itu ada luka gores yang sedikit mengering di lengan kananmu?."
Tanaka mencoba mengintrogasi sahabatnya. Dia seperti petugas kepolisian yang sedang mengintrogasi anak-anak gang motor yang suka tawuran.
"Ah, biasa. Cuma sedikit tergores pisau."
"Kamu tawuran lagi?" tanya Tanaka.
"Tidak, aku hanya menghajar 5 preman yang mengganggu Michi, sebelum aku ke sini. Preman-preman itu minta paksa uang keamanan dengan kasar kepada Michi. Salah satu mereka menyentuh dada Michi. Di depan mataku lagi. Ya langsung aku hajar preman-preman," jelas Konzo.
"Aku baru saja dari kafe Michi. Aku suntuk sekali, ayahku memaksaku lagi agar aku menikah dengan gadis yang ingin dia kenalkan kepadaku. Pasti gadis Jepang, anak teman ayahku. Aku tidak suka."
"Aku langsung tolak mentah-mentah keinginan ayahku. Dia marah besar. Aku juga marah. Makanya aku pergi saja dari rumah. Tahu sendiri jika ayahku marah, siapapun tak ada yang bisa meredakannya." lanjutnya.
"Trus?" pancing Tanaka.
"Ya, aku jalan ke sana kemari saja dengan motor sportku. Sejak siang tadi. Jelang malam, perutku lapar, aku langsung ke kafe Michi. 'Tonkatsu dan es cream durian buatannya enak sekali." tambahnya.
"Iya dong, pasti. Michi pacar siapa? Ehem .. ehem ..." kata Tanaka bangga.
"Trus?" tanya Tanaka lagi.
"Waktu aku disana, di kafe Michi, aku lihat ..... " Sebelum Kenzo melanjutkan, Tanaka langsung menebak.
"Cewek cantik, tinggi putih, tubuh seksi. Ya, kan?"
"Loh kok kamu tahu? Memang pernah bertemu?" tanya Kenzo sambil melotot kepada sahabatnya itu.
"Ya, tahu lah. Michi baru saja menelponku, sebelum kamu kesini," jelas Tanaka.
"Oh, kamu tahu dari Michi, ya?" celetuk Kenzo sambil membuka susu satu literan lagi dan menenggaknya sedikit demi sedikit.
"Gleg gleg gleg."
"Iya. Gadis Rusia itu, kan? Yang cantik, cantik, putih, tinggi, langsing, seksi, waooww dia punya segalanya. Kalau motor, motor itu settingannya pas seperti setinggan motorku. Pas banget." jelas Tanaka detil.
"Kalau ... kalau .... aku ... belum resmi pacaran dengan Michi, pasti aku gebet dulu itu cewek. Ha ha ha ..." tambah Tanaka.
"Serius nih .. kamu mau juga menjadi pacar gadis Rusia itu?"
"Ok ... ok ... sekarang aku telpon juga si Michi. Aku bongkar semua kelakuan burukmu ini," kata Kenzo sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya.
"Kenzo .. Kenzo jangan. Sudah gila kamu ya? Bocorin rahasiaku ke Michi," protes Tanaka.
"Iya .. iya ... nih udah aku tekan nomor kontak Michi."
"Jangan, jangan Kenzo! Jangan gila seperti itu. Jangan buat gara-gara. Kamu sengaja ingin aku bertengkar lagi dengan Michi, cinta matiku, yang montok sekali buah .... dan super besar?" Tanaka meloncat dari kursi gammingnya memohon kepada sahabatnya, dia menyembah sembah Tanaka.
"Tut ... tut ... tut ... Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Tuttttt ..."
Tidak terhubung.
"Ha ha ha ... ternyata kamu takut juga jika rahasiamu aku ceritain kepada Michi, ha ha ha ..." Kenzo tertawa senang berhasil membuat sahabatnya panik.
--------
Setengah jam kemudian, ponsel Kenzo bergetar. Diapun mengeluarkan dari kantong celana jeans ketatnya.
Dilihatnya panggilan dari Michiko. Kenzo mengangkatnya.
"Kenzo kenapa? Tumben telpon gue!" terdengar suara Michiko keras dari loud speaker ponsel itu.
"Tidak apa-apa, hanya ... hanya ... ingin bi ... bil ..." Kenzo terbata-bata, karena Tanaka memegangi kerah kaosnya dan siap-siap menonjoknya jika dia memberitahukan bahwa dia tertarik juga dengan gadis Rusia, karyawan baru Michiko.
"Kamu mau cerita apa? Cepetan ... seperti orang akan dipukuli saja kamu!" teriak Michiko.
Michiko memang sengaja memperlakukan Kenzo sedikit kasar karena dia ingin melatih mental Kenzo yang takut pada wanita cantik. Tetapi dengan orang lain Michiko sangat lembut dan penuh perhatian.
"Em .... apa ya?" Kenzo melirik Tanaka. Tanaka mengacungkan telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh Kenzo tidak membuka rahasianya.
"Em ... Mi .. Michi, bo .. boleh aku minta tolong kamu besok?" ungkap Kenzo.
"Menolong kamu apa?" tanya Michiko.
"Em ... to .. tolong .. ke .. kenalin aku dengan karyawan baru kamu itu," lanjutnya terbata-bata.
"O .. soal itu. Mengenalkanmu dengan gadis Rusia yang cantik, putih, tinggi dan berbody seksi itu? Ok, besok aku bantu kenalin dia kepadamu. Tapi .... " kata Michiko.
Kenzo menunggu beberapa detik Michiko melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa, Michi? Kamu minta apapun pasti aku turuti. Kamu minta mobil baru aku akan belikan. Apapun yang kamu minta pasti aku turuti asal kamu kenalkan aku dengan gadis Rusia itu. Gadis yang cantik, putih, tinggi langsing, seksi dan waooowww itu yang telah membuat aku jatuh hati pada pandangan pertama itu," rinci Kenzo.
"Ok Kenzo. Tetapi turuti syarat yang aku katakan kepadamu besok. Ok?" jawab Michiko.
"Besok? Bagaimana jika sekarang saja. Biar aku tidak pusing memikirkannya." tawar Kenzo.
"Jika aku bilang besok, maka besok. Tidak ada kata sekarang. Turuti kata Michi, jika tidak mau ya sudah." bentak Michi.
"Ok ... ok Michi, jangan marah begitu. Ok, deal. Besok. Aku pasti turuti apa syarat yang kamu mau." jawab Kenzo dengan seribu persen yakin.
-------
Entah kenapa Kenzo takut mendekati cewek Rusia itu. Jika harus memilih, Kenzo memilih berkelahi melawan ratusan preman daripada harus berurusan dengan gadis cantik yang sesuai dengan 'cemistri'nya.
Kenzo sangat tertarik pada karyawan baru kafe Michiko, gadis Rusia, cantik, kulit putih, tinggi, bertubuh seksi yang baru dia lihat sekilas beberapa jam lalu.
Kenzo sungguh-sungguh memohon agar Michiko berkenan mengenalkannya dengan gadis Rusia itu. Kenzo puun akan menuruti apa saran, apa syarat, dan semua yang akan dikatakan oleh Michiko.
-------
Malam itu terasa sangat panjang dan sangat menyiksa bagi Kenzo. Kenzo tidak bisa tidur. Kenzo sangat galau.
Tidak ada pilihan lain dia menemani Tanaka yang semakin fokus bermain game online.
Kenzo duduk di kursi gamming lain di sebelah Tanaka. Kenzo sibuk berangan-angan dan menebak-nebak apa yang akan terjadi besok.
Memprediksi apa syarat yang akan diajukan oleh Michiko, mereka-reka apa yang harus dia persiapkan dan lakukan karena besok sore dia akan dikenalkan dengan gadis Rusia itu.
Kenzo senyum-senyum di samping Tanaka, angan-angannya melambung hingga ke 'verse' lain.
Tanaka beberapa kali melirik ke arahnya. "Kenzo kenapa kamu senyum-senyum sendiri, seperti orang gila!" tangan kiri Tanaka menepuk bahu sohibnya.
"He .. he .. he .. Tanaka, kamu jangan ganggu aku. Aku baru membayangkan bagaimana besok jika Michi mempertemukanku dengan gadis Rusia itu." tukas Kenzo.
"Yah terserah kamu lah. Tetapi saranku, kamu jangan terlalu berharap. Nanti kamu merana lagi. Sakit hati, seperti saat kamu kalah telak denganku yang akhirnya Michi memilih aku sebagai pacarnya, he he he," kata Tanaka sombong.
"Ah ... aku sudah tidak tertarik dengan Michi lagi. Jika dibandingkan Michi dengan gadis Rusia itu, Michi hanya menang di ukuran bra nya saja. Ha ha ha." kata Kenzo.
"Iihhh, Kenzo parah kamu, nanti aku laporin kamu pada Michi soal ukuran bra nya!" ancam Tanaka.
--------
Kenzo masih seperti orang 'ngefly'. Dia tidak menggubris ancaman Tanaka.
"Hmm ... seksi, tubuhnya seperti 'gitar Rusia'," ungkap Kenzo terbuai dengan angannya membayangkan sosok gadis yang telah memikat hatinya.
"Hah!!! Gitar Rusia???!!!" celetuk Tanaka.
"Ah, bodoh sekali. Kenapa aku pusing mikirin si Kenzo gila ini," tambahnya.
Tanaka mencoba cuek dengan apa yang dilakukan Kenzo namun matanya sering melirik ke arah sahabatnya yang sedang mabuk asmara.
------
"Aduh aku lupa menanyakan nama gadis Rusia itu kepada Michi. Kenapa aku jadi bodoh dan pelupa begini?" ungkap Kenzo sambil garuk-garuk kepala.
"Nah kamu mulai jadi bodoh, kan? Nama gadis itu saja belum tahu. Bagaimana bisa menaklukkan hatinya?" ejek Tanaka.
"Ah, masa bodoh. Yang penting besok sore Michi janji sudah berjanji akan membantuku. Menyatukanku dengan gadis Rusia yang bernama .... aduh siapa ya namanya?" ungkap Kenzo.
"Oh ... gadis .. nan cantik ... seksi tubuhmu ... seperti ... 'gitar Rusia' ...." Kenzo bersenandung lagu spontan karangannya sendiri sambil memejamkan kedua matanya menikmati buaian indahnya asa.
"Gitar Rusia??!!! Cewek bertubuh seksi seperti gitar Rusia. Mana ada lirik seperti itu? Gitar Spanyol. Ya gitar Spanyol. Itu, yang benar!" Tanaka gemes dengan kelakuan Kenzo yang sudah mulai gila.
------
Waktu seperti melompat, tak terasa sinar matahari mulai menyusup memasuki ruang gammer Tanaka. Tanaka menghilang dari kursi gammingnya, dia berpindah tidur di kamarnya.
Tanaka meninggalkan Kenzo yang masih tertidur pulas di kursi gamming lama Tanaka. Sebulan lalu Tanaka membeli kursi gamming baru yang lebih besar dan lebih nyaman. Tanaka sungguh-sungguh ingin menjadi atlet e-Sport walaupun sudah terlalu tua untuk memulai latihan menjadi atlet e-Sport skala nasional maupun internasional.
------
Pukul 11.00, Tanaka telah siap berbain game lagi. Wajahnya nampak fresh, tubuhnya telah pulih setelah semalaman begadang dengan Kenzo. Tanaka menyalakan PCnya lalu duduk di kursi gammingnya.
"Kenzo, akhirnya tertidur juga," celetuk Tanaka.
Kenzo terlihat masih tertidur pulas dengan kedua lengan berada di atas pegangan kursi.
Tanaka iseng mengambil sabuk pengaman bekas, dia mengikat tubuh Kenzo dengan menyatukannya dengan kursi gamming lamanya.
"He he he ... waktu tepat untuk isengin dia. Aku ikat saja tubuhnya dan kedua tanganya. Biar serasa naik pesawat," gumam Tanaka.
Tanaka memang usil. Dia sangat senang mengerjai sahabatnya itu.
-------
Satu jam kemudian, Kenzo terbangun. Dia terkejut.
"Apa ini? Kenapa aku diikat disini?"
Tanaka tertawa terbahak-bahak.
"Emmm biar kamu sepeti naik pesawat. Dan di depan kamu seolah berdiri pramugari-pramugari cantik yang bergantian tersenyum kepadamu. Aku hanya menolongmu agar lebih bahagia. Ha ha ha."
"Tanaka, lepaskan tali dan sabuk pengaman ini! Kamu iseng sekali. Lepaskan aku! Aku ingin kencing!" teriak Tanaka.
"Kencing saja di celana. Nanti pramugari-pramugari yang ada di benakmu akan akan mengganti pampersmu. Ha ha ha." ejek Tanaka.
"Tanaka, kamu sudah gila, ya? Lepaskan aku. Dasar kurang kerjaan kamu. Awas ya?!" teriak Kenzo.
"Awas ... awas? Kamu mengancam aku, Kenzo??? Ha ha ha," tanya Tanaka sambil cekikikan mentertawakan sahabatnya.
Keduanya memang sering berbuat iseng satu dengan lainnya. Mirip Tom and Jerry. Tetapi jika jarang berjumpa mereka saling mencari.
"Melepas ikatan di tangan saja tidak bisa masih sok jagoan mengancam aku! Ha ha ha," keisengan Tanaka semakin menjadi. Dan Kenzo pun tahu jika dilawan Tanaka pun akan menjadi semakin gila.
"Ok. Ok. Tanaka yang ganteng dan hebat seperti Herkules ... tolong buka ikatan-ikatan ini. Nanti aku belikan mouse gamming baru. Selusin jika perlu," rayu Kenzo agar Tanaka mau melepaskan ikatannya.
"Hmm .. hanya itu?" tanya Tanaka.
"Emmm ... aku juga masih mampu membeli sendiri. He he he," tambahnya.
"Emmm ... bagaimana kalau kursi gamming baru yang lebih gede. Kursi gamming yang baru saja aku beli ini terlalu sempit, kurang nyaman karena sekarang gue sedikit gendut gini. Bagaimana kalau kamu belikan akan kursi gamming? Paling seharga 2 motor matic ibu-ibu. Jika setuju maka akan aku lepaskan," kata Tanaka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Ok ... ok deal. Apapun mau kamu, akan aku belikan. Sekalian apa yang diminta oleh Michiko, jika kamu ingin aku wali kamu agar kamu dapat menikah dengan Michiko, akan aku lakukan. Asal ... kamu juga mau membantuku untuk mendapatkan gadis Rusia yang ... waoww ... lekuk tubuhnya seperti 'gitar Rusia'," loby Kenzo.
"Ok. Deal. Nanti aku juga bantu kamu agar gadis Rusia itu mau denganmu. Aku garansi kamu bisa pacari gadis itu."
Tanaka pun melepaskan ikatan di tangan dan tubuh Kenzo.
Kenzo langsung berdiri, berlari ke kamar mandi karena sejak tadi dia sudah tak tahan ingin kencing.
-------
"Dasar gila kamu, Kenzo."
"Tetapi jujur, akupun akan menjadi gila sepertimu jika sedang jatuh cinta."
Tanaka mulai mengingat kembali bagaimana dia bersaing dengan Kenzo berebut memenangkan hati Michiko. Namun akirnya dia dapat mengalahkan Kenzo yang di atas kertas lebih ganteng, lebih kaya, lebih jago berantem dan putra tunggal godfather Yakuza paling ditakuti di Jepang.
------