HAPPY READING
***
Rutinitas paginya di mulai hari ini seperti biasa, ia bangun pagi, mandi. Resti memandang penampilannya di cermin, ia mengenakan celana panjang kulot putih dipadukan dengan baju crop tanpa lengan. Ia mengoles makeup pada wajahnya, lipstick berwarna nude pada bibirnya.
Setelah penampilannya rapi. Resti melangkahkan kakinya menuju kitchen. Ia mengambil roti tawar di meja, ia lalu mengoleskan roti itu dengan selai coklat ovomaltine. Ia lalu memanggangnya di pemanggangan roti, setelah roti panggang jadi, ia masukan ke dalam tempat lock & lock.
Resti melihat jam menggantung di dinding menunjukan pukul 06.45 menit, ia harus bergegas ke rumah Taran, karena ia bertugas untuk mengantar Kejora ke sekolah pagi ini, belum lagi akan macet di jalan karena aktivitas pagi macet. Resti mengenakan high heelsnya, ia ambil tas dan paperbag berisi sarapannya. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju lift menuju basement.
Setibanya di basement, Resti melangkahkan kakinya menuju mobil Pajero milik Kejora, mobil itu merupakan mobil untuk dirinya khusus mengantar jemput Kejora yang diberikan langsung oleh Taran. Ia semalam mencari tahu siapa Taran Ryder, pria itu merupakan salah satu pengusaha sukses, pendiri CT Crop yang menaungi beberapa perusahaan besar, Trans Corp, Bank Mega dan jaringan supermarket dan lainnya.
Katanya Taran ini dulunya pernah mendirikan toko peralatan kedokteran dan laboratorium, usaha kontraktor hingga rotan. Semua usaha itu tidak berjalan dengan lancar, bahkan pernah mengalami kebangkrutan berkali-kali. Hingga akhirnya seorang Taran tidak menyerah, ia membangun relasi yang sangat kuat, dia sekarang menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia katanya memiliki kekayaan 4,5 Miliar USD. Informasi itu ia dapat dari salah satu pencarian di beranda google.
Walau pria itu sukses namun perjalan cinta Taran tidak semulus rumah tangganya. Taran resmi bercerai dua tahun yang lalu. Sekarang pria itu dikenal duda paling keren sejagat raya dan pria paling diincar banyak wanita. Katanya Taran memiliki kekasih seorang artis tenama bernama Pevita, namun ia tidak menemui konfirmasi apapun di media bahwa mereka berpacaran. Sekelas Pevita mantan dari Maikel saja menyukainya. Ia mengakui bahwa Taran sekeren itu, walau dia sangat dingin.
Ia tidak mengerti kenapa pria seperti Taran mesti menerima kenyataan pahit diselingkuhi oleh istrinya. Ah, sudahlah, ia tidak ingin memikirkan terlalu banyak tentang Taran, kenapa mesti bercerai padahal umur pernikahan mereka masih sangat muda. Resti memanuver mobilnya, ia memperhatikan jarak mobil dan motor di hadapannya.
Resti menggeram karena kemacetan, ia harus tiba di rumah Taran sebelum 7.30, karena Kejora masuk sekolah pukul 08.00. Akhirnya Resti bisa melewati kemacetan, mobilnya memasuk komplek Dharmawangsa.
Ia memandang rumah berpagar, ia lalu memasukan mobilnya di halaman rumah berpagar tinggi di sambut dengan security yang berjaga. Ia melihat mobil Land Rover berwarna hitam berada di luar, ia yakin mobil berbody besar itu milik Taran.
Resti mematikan mesin mobilnya, ia melepaskan sabuk pengaman, ia lalu keluar dari mobil. Ia melihat pintu utama terbuka, ia memandang bibi sedang membersihkan halaman rumah.
“Pagi non, Resti,” ucap bibi menyambutnya dengan hangat, kemarin setelah tanda tangan kontrak ia diperkenalkan dengan orang rumah yang bekerja di sini, termasuk security.
“Pagi juga, bi,” ucap Resti.
“Kejora nya ada?”
“Ada non, lagi sarapan. Masuk aja, non,” ucap bibi kepada Resti.
“Terima kasih, ya bi.”
Resti melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia akui bahwa ia suka dengan style rumah Taran. Rumahnya sangat maskulin, tidak terlalu banyak barang-barang menumpuk. Rumahnya terkesan luas, tidak ada foto yang terpajang, kecuali beberapa lukisan abstrak yang menempel di dinding. Ia melihat ke arah ruang tengah, ia mendengar suara TV menyala.
Tatapannya beralih ke meja makan, ia menatap Kejora dan Taran di sana. Kedua bersaudara itu sedang sarapan. Kedua orang itu menyadari kehadirannya, Resti berikan senyuman terbaik kepada mereka.
“Morning,” ucap Resti.
“Morning to, mba Resti,” sahut Kejora.
“Bagiamana tidur kamu semalam?” Tanya Resti.
“Nyenyak.”
Resti mendekati Kejora, namun ia tidak bisa mengalihkan tatapannya ke arah Taran. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana slimfit berwarna abu-abu. Rambutnya tertata rapi, ia dapat mencium aroma parfume yang khas dari tubuh Taran, ia merasa parfume itu sangat kalem dan lembut. Ia bersumpah, akan membeli parfume itu nanti dan mencarinya hingga dapat.
“Udah selesai sarapannya?” Tanya Resti kepada Kejora, yang meneguk air mineralnya, mengingat jam sudah menunjukan pukul 07.30 menit.
“Iya, udah.”
Kejora, beranjak dari duduknya. Ia melihat Taran yang masih menyesap kopinya dengan tenang. Tatapan mereka saling bertemu beberapa detik.
“Kamu tidak sarapan?” Tanya Taran, memandang Resti, wanita itu seperti biasa looknya sangat bagus, ia akui dia sangat professional sangat bekerja, dia datang dengan tepat waktu. Ia pikir dihari pertama wanita itu bekerja, dia akan telat. Namun pikirannya salah, dia sangat on time.
“Terima kasih, sarapan saya ada di mobil,” ucap Resti melihat di meja ada beberapa sandwich tuna yang masih ada di piring.
“Udah, yuk mba, kita pergi,” ucap Kejora.
“Hati-hati di jalan,” ucap Taran, memandang Kejora yang sudah bersiap untuk pergi.
“Kita pergi dulu ya, mas,” Kejora pamit kepada Taran.
“Iya.”
Resti dan Kejora meninggalkan Taran yang masih duduk di kursi. Resti menghidupkan central lock pada mobil dan otomatis kunci mubil terbuka. Resti masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Kejora. Resti memperhatikan Kejora memasang sabuk pengaman.
Semenit kemudian mobil meninggalkan area rumah. Resti memanuver mobilnya tangan kiri menghidupkan audio dan tangan kanannya berada di setir. Sepanjang perjalanan mereka mendengarkan lagu, ia bersyukur bahwa rumah Taran dan sekolahnya Kejora itu tidak terlalu jauh, hanya ditempuh dengan beberapa menit saja.
“Kalau Kejora ada pekerjaan rumah, kasih tau mba ya,” ucap Resti, ia juga di sini bertugas untuk membantu pekerjaan rumah Kejora.
“Siap, mba.”
“Sekolah kamu bagaimana?”
“Baik, cuma Kejora ada kesel gitu sama Robert anak kelas sebelah,” Kejora mulai bercerita tentang sekolah.
“Yang buat Kejora kesal, itu apa?” Tanya Resti penasaran.
Kejora menarik nafas, ia menatap Resti, “Dia suka ngejek Kejora, ada aja buat kesel, sampe tas Kejora biasa diumpetin sama Robet.”
“Kamu nggak lapor ke guru, atau wali kelas kamu.”
“Udah, mba. Tapi tetep aja nggak jera.”
“Tanggapan guru kamu bagaimana?” Tanya Resti.
“Yah, udah dipanggil, cuma masih aja terus ngelakuin gitu aja terus.”
“Kalau kamu di apa-apain sama Robert, balas aja Kejora, jangan mau kalah.”
“Ah, males mba, nanti dia ke GR an, terus tambah ngelunjak.”
“Mungkin Robert nya suka sama kamu, makanya gangguin kamu.”
“Ah, masa sih?”
“Biasa sih gitu.”
“Kalau sama Robert, enggak mau. Gila aja kalau sama dia, nakal banget, nggak suka modelan nakal dan urakan kayak dia.”
“Terus maunya sama siapa?”
“Maunya Jimin.”
“Siapa Jimin?”
“Ya ampun, itu aja mba nggak tau. Dia itu personil BTS mba! Mba Resti nggak gaul nih.”
“Haduh, mba udah lama nggak nonton Korea. Yaudah, jangan ladenin, kalau Robert gangguin kamu, langsung bilang mba.”
“Oke.”
Beberapa menit kemudian mobil sudah tiba di depan gedung Binus Simprug. Resti menghentikan mobilnya tepat di depan gedung sekolah Kejora. Kejora melepas sabuk pengamannya, ia memandang mobil Jeep tepat di belakangnya. Kejora menatap Robert turun dari mobil itu.
“Apaan lo!” ucap Robert ketus.
“Ih, apaan sih! Eneh!” timpal Kejora tidak terima.
“Dasar tukang ngadu!”
“Lah, lo yang salah gangguin gue. Wajar dong, gue ngadu!” Sahut Kejora tidak kalah sengitnya.
Resti yang mendengar itu lalu mengintip dari jendela, ia menatap seorang pria muda mengenakan pakaian yang sama dengan Kejora. Ia yakin pria itu lah bernama Robert. Resti lalu keluar dari mobil, ia mendekati Kejora.
“Ada apa Kejora.”
“Itu namanya Robert, si nyebelin.”
Robert memandang wanita dewasa di samping Kejora, “Jadi itu nyokap lo?” Tanya Robert menatap Resti.
“Sok tau,” ucap Kejora, melirik Resti yang berada di sampingnya.
“Itu orangnya yang suka gangguin aku!” ucap Kejora mengadu kepada Resti.
“Robert!” Ucap seorang pria bersuara berat itu dalam mobil.
Otomatis Kejora dan Resti memandang pria yang keluar dari mobil itu. Pria itu mengenakan kemeja hitam dan celana berwarna senada. Pria itu membuka kaca mata hitamnya. Dia memiliki tubuh tinggi proporsional, rambutnya disisir rapi tatapan mereka seketika bertemu.
“Ada apa Robert?”
“Enggak apa-apa, pi,” ucap Robet.
Kejora dan Resti menjadi tahu bahwa pria tampan yang baru keluar itu adalah ayah dari Robet. Kejora menatap Resti.
“Itu bokap lo?” Ucap Kejora menunjuk pria berpakaian hitam itu.
“Apaan sih! Lo!” Sahut Robert.
Alis pria itu terangkat memandang wanita muda dan di samping wanita dewasa di sampingnya,
“Om, Robet suka gangguin aku. Dia nakal di sekolah,” ucap Kejora tidak terima.
“Wah, om baru tahu, ternyata kamu yang suka diganggu sama Robert.”
“Iya, om. Kasih tau Robert om, nakal sekalih pokoknya.”
Pria itu memandang Robert, ia tahu kelakukan anaknya seperti apa, ia pernah beberapa kali di panggil di sekolah atas kelakukan Robert. Namun ia masih memaklumi kenakalan remaja yang dilakukan Robert karena masih tahap wajar karena Robert anaknya aktif. Lagi pula nilai akademik Robert cukup baik.
“Enggak, pi. Jangan percaya. Cuma bercanda doang.”
“Emang bener! Nggak mau ngaku lagi!”
Pria itu menarik nafas ia memandang wanita dewasa di samping wanita mudah itu. Ia merasa tidak nyaman karena Robert mengganggu putrinya.
“Maafin anak saya,” ucap pria itu tenang.
“Ah, iya tidak apa-apa,” ucap Resti kepada pria itu, ia lalu memandang Kejora yang masih berada di sampingnya.
Kejora lalu berjinjit di samping Resti, mendekatkan bibirnya di telinga, “Pura-pura jadi mami aku, mba,” bisik Kejora.
Resti lalu memandang Kejora, ia melihat senyum simpul gadis itu.
“Kamu yang penyanyi itu kan?” Tanya pria itu memandang Kejora.
“Iya, om kok tau?”
“Kerena beberapa kali lihat video kamu beranda youtube saya. Om juga pernah dengar. Robert dengerin lagu yang dinyanyikan kamu.”
Kejora lalu menatap Robert, “Ngefans bilang aja, deh sama gue!”
“Idih, siapa yang ngefans. Udah ah, males ribut sama lo,” ucap Robet lalu berlari masuk ke dalam gedung.
Kejora memandang Resti, “Mami aku masuk dulu ya,” ucap Kejora ia sengaja menyaringkan ucapannya agar terdengar oleh Robert, karena Robert pernah mengejeknya bahwa ia tidak pernah di antar oleh orang tuanya selama sekolah.
“Iya, semangat ya belajarnya, ya Kejora,” ucap Resti.
“Iya, mami, tenang aja.”
Resti melihat Kejora masuk ke dalam gedung, ia melihat Robert dan Kejora menghilang dari balik gedung. Resti menarik nafas, ia menatap pria tidak jauh darinya.
“Maafkan Robert, yang sudah nakal dengan anak kamu,” ucap pria itu.
“Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak,” ucap Resti lagi.
“Perkenalkan saya Ben Hamilton, panggil saja Ben. Saya ayah dari Robert,” ucap Ben mengulurkan tangan kepada wanita berparas cantik di hadapannya.
“Saya Resti Virginia, panggil saja Resti,” ucap Resti membalas jabatan pria bernama Ben.
“Senang berkanalan dengan anda,” ucap Ben.
“Iya, sama-sama,” Resti lalu melepaskan tangannya.
“Yaudah, saya pamit dulu,” ucap Resti, ia tidak akan berbasa-basi lagi dengan pria di hadapannya ini.
“Iya,” Ben melihat Resti masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Robert naik ke mobil jeep nya.
Resti memanuver mobilnya dan ia lalu meninggalkan area gedung sekolah Binus. Ia melihat dari kaca spion, mobil Jeep itu melewati mobilnya. Resti bersandar dengan tenang, lalu membuka bekal sarapannya. Ia makan dengan tenang. Beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan klien dan beberapa musisi, karena ia sudah membalas semua pesan-pesan yang masuk di email Kejora Official. Ia akan melakukan kerja sama dengan musisi itu dan selanjutnya ia diskusikan dengan Taran.
***
“Katanya Kejora udah dapat manejer baru?” Tanya Pevita kepada Taran, dibalik speaker ponselnya.
“Iya, udah. Manejer Kejora itu dulunya manejernya Rara Adora,” ucap Taran, ia menyalakan mesin mobilnya.
Pevita mengerutkan dahi, ia pernah beberapa kali bertemu dengan menajer Rara sebelumnya di backstage. Sebanyak-banyaknya ia kenal dengan manejer artis, sejauh ini manejer Rara lah yang paling cantik, bahkan kecantikannya menyaingi Rara. Gayanya sangat kasual namun tetap fashionable. Jujur ia sebenarnya tidak suka dengan Rara, karena Rara lah yang berhasil dinikahi mantan kekasihnya Maikel.
“Kamu kenal?” Tanya Taran.
“Kenal, beberapa kali pernah bertemu di backstage. Tapi aku nggak terlalu suka dia,” ucap Pevita lagi, ia bersandar di tempat tidur.
“Why?” Taran semakin panasaran.
“Aku nggak suka ada wanita cantik kerja sama kamu, apalagi dia manejer sekaligus asisten Kejora. Pasti dia fulltime berada di lingkungan kamu.”
Taran menyungging senyum, ia akui bahwa Resti memang menarik, dari gaya bicara dan berpakaian, sangat baik. Dia memiliki style tersendiri yang khas.
“Come on, dia hanya asistennya Kejora.”
“Tapi dia akan berada di rumah kamu satu harian Taran.”
“Dia kan kerjanya sama Kejora, bukan sama aku.”
“Tapi sama aja, aku takut kamu tertarik sama dia.”
“Oh God, masa aku pacaran sama asisten adik aku sendiri,” Taran tertawa.
“Yah, aku takut aja kamu naksir dia. Kamu di mana?” Tanya Pevita lagi.
“Aku lagi di jalan mau ke kantor. Kamu syuting hari ini?” Taran memperhatikan jarak mobil dan motor di hadapannya.
“Iya. Bentar lagi aku ke lokasi syuting, asisten aku udah pada nungguin. Kamu hati-hati di jalan.”
“Iya, kamu juga.”
Taran lalu mematikan sambungan telfonnya. Sebenarnya ia tidak tahu jenis hubungan apa dengan Pevita, ia tidak pernah menyatakan cinta dengan wanita itu dan mereka seolah-olah kini berpacaran, dan banyak menganggapnya begitu. Ia hanya sekedar dekat, padahal ia tidak pernah mencium dan menyetuh Pevita.
Ia akui bahwa ia memang dekat, saling memberi perhatian, namun ia pantang menyatakan cinta kepada seorang wanita, jika ia benar-benar cinta. Jika ia pacaran dengan Pevita, sudah sejak lama ia konfirmasi kepada media bahwa mereka berpacaran. Namun ia tidak pernah melakukan itu.
***
HAPPY READING
***
Beberapa hari kemudian,
Kejora biasanya berangkat ke sekolah pukul 08.00 dan pulang pukul 15.00, selama Kejora di sekolah, ia bisa menjalankan tugasnya bertemu klien, bisa mengerjakan endorse dari klien dan bisa merekap catatan keuangan yang masuk. Jam pulang sekolah juga Kejora tidak langsung pulang ke rumah, dia harus latihan vocal dan musik selama satu jam, dan pulang ke rumah biasanya pukul 18.00.
“Itu setiap hari?” Tanya Rara di balik speaker ponselnya.
“Iya itu setiap hari,” ucap Resti menceritakan pekerjaanya kepada Rara.
“Kecuali weekend, karena itu full jadwal manggung Kejora.”
“Taran sudah tau, jadwal manggung Kejora?”
“Iya, sudah tahu. Rekap untuk satu bulan, sudah aku email ke dia.”
Jujur selama ia di rumah Taran, ia jarang sekali bertemu Taran, terakhir ia bertemu dengan Taran beberapa hari yang lalu, itu juga mereka tidak saling sapa. Ia bekerja untuk Kejora, bukan untuk Taran, jadi semua pekerjaanya tidak ada sangkut pautnya dengan Taran.
Taran pernah mengatakan padanya bahawa “Setelah tugas Kejora selesai, kamu boleh pulang. Saya ada asisten di rumah, jadi kamu tidak perlu masak dan mengerjakan tanggung jawab lainnya. Yang penting jadwal sekolah, tugas-tugas sekolah dan persiapan konser, manggung, endorse berjalan dengan baik. Sosial media seperti twitter, facebook, Instagram terkontrol dengan baik.” Itu lah kata-kata terakhir ia dengar dari bibir Taran.
Taran terlihat seperti karakter antagonis menurutnya, seolah semua perkataanya tidak terbantahkkan. Ia tidak terlalu suka dengan keberadaan pria itu, entahlah, seperti kurang sinkron dengan keinginannya, seolah didikte. Bagaimanapun ia bekerja untuk Kejora, hubungannya dengan Kejora sangat baik. Tapi Taran lah yang menggajinya.
“Terus.”
“Ya, gitu deh. Gue nggak terlalu suka sih.”
“Apa yang buat lo nggak suka sama Taran?”
“Agak keras gitu orangnya. Kayak antagonis gitu, lo tau kan antagonis.”
“Tau dong. Pasti lo sebel banget kalau lihat dia.”
“Iya, untung aja gue jarang ketemu dia,” sahut Resti lagi.
“Syukurlah kalau gitu. Taran itu Duda?”
“Iya ia duda, katanya udah cere dua tahun yang lalu.”
“Lama juga ya, tapi dia masih sendiri,” ucap Rara, karena ia yakin, pria sukses seperti Taran, sangat mudah mendapatkan pengganti istri, mau apapun profesinya seperti kelas model dan artis ternama,.
“Katanya si Taran pacaran sama si Pevita yang artis itu, bener nggak sih?” Tanya Rara.
“Iya kali. Selama gue kerja di sini, si Taran nggak pernah bawa pacarnya ke sini. Tau deh, enggak ngurusin kehidupan Taran juga,” ucap Resti.
“Lo lagi di mana?” Tanya Rara.
“Gue lagi nungguin Kejora pulang dari sekolah,” ucap Resti, ia melirik jam melingkar di tangannya menunjukan pukul 14.50 menit.
“Yaudah kalau gitu, lo semangat kerjanya.”
“Iya. Gue mau beli minum haus, banget.”
Resti mematikan sambungan telfonnya. Ia keluar daru mobil melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil menuju keluar, karena tadi ia sempat melihat ada penjual minuman di luar sana. Resti keluar dari gerbang sekolah, ia membeli aqua di warung terdekat. Setelah membeli minuman itu, Resti masuk lagi ke gerbang yang dijaga oleh security.
“Resti!”
Otomatis Resti menoleh ke arah sumber suara, ia memandang seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna abu-abu dengan lengan tergulung hingga ke siku. Ia masih ingat pria itu adalah Ben, ayah dari Robert. Lihatlah betapa tampannya pria itu ketika melangkah mendekatinya.
“Hai,” ucap Resti, ia berikan senyum terbaiknya.
“Jemput Kejora?” Tanyanya.
“Iya.”
“Sama kalau begitu, saya juga jemput Robert,” Ben melihat tangan Resti terdapat botol minuman aqua berukuran kecil.
“Bagaimana kabar kamu?” Tanya Ben, menatap penampilan Resti, wanita itu mengenakan celana kain berwarna hitam dengan tang top berwarna putih, ia akui bahwa penampilan Resti sangat baik.
“Baik, kamu?” Tanya Resti.
“Baik juga.”
“Jemput sendiri terus?” Tanya Ben, karena beberapa hari ia memperhatikan Resti menjemput Kejora seorang diri.
Resti menyungging senyum, “Iya nih. Emang siapa lagi yang jemput,” ucap Resti terkekeh.
“Suami kamu, mungkin,” ucap Ben.
Resti lalu tertawa, ia melirik Ben, “Sebenarnya saya bukan orang tuanya Kejora, saya hanya asisten sekaligus managernya Kejora. Tugas saya mengatur semua kegiatan Kejora dari dia sekolah, hingga Kejora manggung.”
Alis Ben terangkat mendengar Resti bukan ibunya Kejora, ia sudah menduga sebelumnya, bahwa wanita muda di hadapannya ini bukanlah ibunya Kejora.
“Wah, saya baru tahu.”
“Kejora meminta saya untuk menjadi ibu penggantinya di hadapan Robert kemarin.”
Ben mengangguk paham, ia memperhatikan Resti, “Terus ibunya Kejora?”
“Ada di Jerman, ayahnya ada di Singapore. Di sini Kejora tinggal dengan saudaranya. Jadi semua kegiatan Kejora saya yang pegang dan hendel.”
“Kalau Robert?”
“Ibunya Robert sudah lama meninggal, sejak melahirkan Robert.”
Alis Resti terangkat mendengar bahwa Robert tidak memiliki ibu, “Maaf, saya baru tahu.”
“Ah, tidak apa-apa.”
Resti memandang Ben, “Robert sudah remaja, apa tidak kepikiran menikah lagi?”
Ben tertawa ia melirik Resti, “Banyak sih nanya seperti itu. Ada dulu beberapa kali dekat dengan wanita, tapi Robert tidak suka. So, saya mencari istri yang bisa nerima Robert juga, saya nggak mau menjadi ayah egois. Jika Robert bahagia dan saya juga ikut bahagia.”
“Harusnya sih seperti itu. Jadi Robert bagaiamana?”
“Selama ini Robert tinggal sama mama dan papa saya. Saya sibuk dengan pekerjaan saya.”
“Begitu ternyata.”
“Iya.”
Resti tidak tahu akan bertanya lagi, ia membuka tutup botol aqua itu dan lalu menguknya. Mereka berdua hanya berdiri memperhatikan orang tua murid sudah berdatangan, rata-rata semuanya menggunakan mobil.
“Sudah lama kerja sama Kejora,” tanya Ben membuka topik pembicaraan, sambil menunggu Kejora dan Robert keluar dari kelas.
“Baru beberapa Minggu, sebelumnya saya kerja sama Rara Adora. Karena Rara sudah vakum di dunia entertainment, jadi saya menerima tawaran jadi manajer sekaligus asisten Kejora,” ucap Resti menjelaskkan kepada Ben.
“Sudah menikah?” Itu lah pertanyaan kursial yang harus ia tanyakan kepada wanita di sampingnya ini.
“Belum.”
“Sama kalau begitu,” Ben tertawa.
“Kenapa belum menikah?” Tanya Ben lagi, sambil melirik Resti.
“Mungkin belum ketemu yang cocok aja,” ucap Resti sekenanya.
“Ada yang deket?”
“Enggak ada juga,” Resti tertawa.
“Semakin dewasa, semakin susah ketemu yang cocok,” ucap Ben.
“Iya bener. Karena kita mungkin sudah lebih mengerti apa yang kita mau. Persoalan mencari pasangan tidak mau sembarangan lagi,” ucap Resti.
“Exactly. Pandangan kita tentang cinta juga tidak sesederhana saat masih remaja, terlebih saya sudah merasakan bagaimana pernikahan dan memiliki anak remaja. Kini hubungan tidak hanya lagi soal romantika,” sahut Ben.
Ben menarik nafas, ia melirik Resti, “Semakin bertambah usia, lingkup pergaulan kita semakin sempit. Sulit mengenal orang baru, karena yang diitemui itu-itu saja.”
“Sekarang bagi saya, hubungan itu selalu berorientasi ke masa depan. Dari pada menjalani hubungan dengan sembarangan, lebih baik menunggu yang tepat, itu pasti akan datang, hanya perkara waktu saja.”
Resti melirik Ben, semua yang di ucapkan pria itu benar, “Yah, kadang bukan soal orang yang tepat belum datang, tapi diri sendiri belum siap.”
“Tidak apa, hanya kamu yang tahu kapan waktu itu tiba.”
Resti dan Ben saling menatap beberapa detik, seketika ada beberapa murid berhamburan di lapangan, karena kelas sudah usai. Resti menyungging senyum kepada Ben, ia menatap Kejora di ujung sana. Wanita itu berlari ke arahnya, ia juga melihat Robert di belakang Kejora.
“Itu Robert dan Kejora,” ucap Ben.
“Iya.”
“Dah,” ucap Resti memandang Ben dan Ben menatapnya balik.
“Kamu hati-hati bawa mobil.”
“Iya.”
Resti menjauhi Ben dan membuka pintu untuk Kejora. Resti dapat melihat senyum Ben di balik kemudi setir, ia akui bahwa Ben tampan, dia jenis pria dewasa dan pria itu juga terlihat sangat mapan, bisa dilihat dari mobil yang dikendarai pria itu merupakan mobil yang dibandrol dengan harga fantastis.
Resti melihat Kejora masuk ke dalam mobil dan mendaratkan pantatnya di kursi, tidak lupa wanita itu memasang sabuk pengaman.
“Bagaimana sekolah kamu, sayang?” Tanya Resti.
“Baik.”
“Ada PR?” Tanya Resti lagi, lalu menstater mobilnya.
“Enggak ada.”
“Kok mba tadi sama papanya Robert?”
Resti menarik nafas, “Tadi kita hanya ngobrol-ngobrol aja, sambil nungguin kamu sama Robert. Robert masih suka gangguin kamu?”
“Masih lah, mba. Males banget kalau ketemu dia.”
“Mungkin Robert beneran suka sama.”
“Ih, Kejora ogah sama Robert,” Resti lalu tertawa, ia menjalankan mobilnya menuju tempat les Kejora.
Sementara di sisi lain Ben menjalankan mobilnya, meninggalkan gedung sekolah. Jujur ia senang berkanalan dengan wanita bernama Resti. Ketika mendengar bahwa wanita itu bukanlah orang tua dari Kejora ia merasa seolah ada harapan untuk mendekat.
“Tadi papi sama mamanya Kejora?” Tanya Robert, karena dari kejauhan tadi ia melihat ayahnya berbincang-bincang sambil tertawa dengan mamanya Kejora.
“Iya, emangnya kenapa?” Tanya Ben, ia melirik Robert.
“Enggak kenapa-napa sih, tanya doang.”
“Papi boleh nggak, deketin mama nya Kejora?” Tanya Ben lagi.
“Mamanya Kejora baik nggak?”
Ben menarik nafas, ia menyungging senyum sambil memanuver mobilnya, “Tadi, papi ngobrol sih baik. Ngobrol biasa aja, papi baru kenal belum tau dia seperti apa. Kamu mau kenalan sama mamanya Kejora?”
“Enggak ah, nanti ada Kejora nya.”
“Kalau nggak ada Kejora nya, kamu mau?”
Robert lalu mentap Ben, “Hemmm.”
“Mau ya?”
“Hemmmm.”
“Kalau kamu sudah lama mikirnya, berarti mau. Kejora aja bisa suka sama dia, berarti kamu pasti suka.”
“Tapi kan mama nya Kejora.”
“Kalau dia bukan mama nya Kejora kamu mau?”
“Emang dia bukan mamanya Kejora.”
“Tadi dia bilang sama papi sih bukan mamanya Kejora. Dia hanya manejer Kejora.”
“Tuh kan, feeling Robert bener, bukan mama nya Kejora. Wajahnya aja beda.”
“So …”
“Papi boleh deketin dia?”
“Hemmmm.”
“Papi boleh ajak ke rumah kita nggak, kita makan malam beriga, biar kamu bisa kenalan?”
Robert lalu mengangguk, “Iya boleh.”
“Good.”
Ada perasaan bahagia ketika Robert menyetujui usulnya, masalahnya baru kali ini Robert mau dirinya berkenalan dengan seorang wanita. Ia merasa ada angin segar masuk ke paru-parunya, ia harap Robert bisa diajak kerja sama dengan baik. Namun ia yakin bahwa Resti mampu menyeimbangi Robert, karena ia lihat Resti tipe wanita ceria dan dewasa, yang dapat menghipnotis para remaja.
***
Setelah pulang les vocal, Resti tiba di rumah tepat pukul 18.00. Resti melihat mobil Taran terparkir di halaman rumah. Ia yakin pria itu ada di dalam. Resti menatap Kejora membuka hendel pintu, lalu gadis itu masuk ke dalam.
Resti mengikuti langkah Kejora masuk ke rumah Resti mendengar suara Taran dan seorang wanita dari arah dalam. Resti tidak tahu siapa pemilik suara itu, ia meneruskan langkahnya. Ia penasaran dengan siapa Taran berbicara.
Resti menatap Taran dan seorang wanita mengenakan dress berwarna merah dengan belahan dada rendah duduk di sofa. Ia tahu betul siapa wanita itu, dia adalah Pevita, artis ternama di negri ini, bahkan wajahnya sering berseliweran di TV, karena dia mengiklankan shampo dari merek terkenal. Wajahnya sangat tidak asing, seluruh penduduk Indonesia, sudah pasti tahu siapa Pevita. Tidak hanya itu, citranya sebagai bintang film, sangat baik. Film-filmnya laris dipasaran.
Pembicaraan Taran dan Pevita terhenti ketika kehadiran Resti. Resti berikan senyuman kepada Taran dan Pevita, lalu berlalu begitu saja. Resti melangkahkan kakinya menuju kitchen, ia menatap bibi sedang menyajikan makanan, ia melihat menu-menu itu merupakan produk frozen dan kaleng.
“Masak apa bi?” Tanya Resti.
“Mau goreng ayam, sup, sama salad tuna, non. Biasa Kejora doyan makan ini,” ucap bibi.
“Ini semua frozen dan kaleng?” Resti menunjuk bahan-bahan makanan.
“Iya non, soalnya semua belanjaan diatur pak Taran.”
Resti tahu betul bahwa sisi positif makanan kaleng selain mudah, praktis dan rasanya enak. Namun ia tahu betul bahwa makanan seperti ini mengandung zat gizi lebih sedikit. Karena beberapa zat bergizi tidak tahan panas, juga ada yang rusak kandungannya, seperti vitamin larut air, yang sensitive terhadap panas, yang hilang setela melalui proses pemanasan, pemasakan dan penyimpanan.
Penelitian menunjukan bahwa makanan kaleng mengandung BPA, makanan kaleng berpindah dari lapisan kaleng ke makanan. BPA yang masuk ke dalam tubuh berhubungan langsung dengan kesehatan, menyebabkan penyakit jantung, diabetes dan penyakit lainnya. Jadi makanan seperti ini tidak baik untuk Kejora.
“Sudah lama masak-masakan seperti ini bi?” Tanya Resti.
“Sudah lama non.”
“Kenapa nggak masak makanan segar beli di pasar tradisional?” Tanya Resti lagi.
“Bapak yang suruh belanja seperti ini non, di supermarket,” ucap bibi lagi.
“Padahal belanja di pasar tradisional lebih murah.”
“Iya bener non, tapi bibi takut non sama pak Taran.”
“Yaudah mulai besok, saya yang atur makanan Kejora.”
“Tapi non.”
“Enggak apa-apa, nanti ini urusan saya. Tau apa, pak Taran masalah makanan.”
“Iya, non.”
Resti menarik nafas, “Yaudah, saya ke atas dulu ya bi.”
“Non, Resti mau teh nggak? Bibi anterin ke kamar neng Kejora.”
“Iya, boleh bi.”
Resti melirik ke belakang ia melihat Taran dan Pevita masih di sana. Jujur kehadiran Pevita membuatnya tidak nyaman dirinya berada di sini, merasa kurang leluasa.
“Pevita itu pacarnya pak Taran?” Tanya Resti kepada bibi, karena bibi lebih lama di rumah ini.
“Enggak tau non, tapi bapak jarang sih bawa non Pevita ke sini. Ini baru dua kali non Pevita ke sini.”
“Pacarnya kali ya.”
“Mungkin, non.”
“Yaudah, saya ke kamar Kejora.”
“Iya, non.”
Resti melangkahkan kakinya menuju lantai atas menuju kamar Kejora. Sementara Taran memperhatikan Resti dari kejauhan lalu tubuh wanita itu menghilang dari balik pintu kamar Kejora. Taran kembali memandang Pevita, jujur konsentrasinya buyar kehadiran Resti, seolah sulit fokus.
“Itu manejernya Kejora?”
Taran mengangguk, “Iya.”
“Selera fashionnya oke.”
“Not bad,” sahut Taran mengakui.
“Sampai di mana pembicaraan kita?” Tanya Taran, ia tidak ingin membicarakan manejer adiknya itu, karena sudah beberapa hari wanita itu di sini, sangat menganggu pikirannya.
“Owh, iya sampai kamu kemari meeting di luar kota.”
“Ah, iya. Aku kemarin keluar kota tiga hari. Kerjaan lagi banyak-banyaknya.”
***
“Kok, ada mba Pevita sih di sini!” timpal Kejora.
“Emang kenapa kalau ada mba Pevita?” Resti melihat raut wajah Kejora telihat tidak suka.
“Enggak suka aja sama dia.”
“Apa yang buat kamu nggak suka?” Tanya Resti penasaran.
“Enggak suka aja, apa ya. Pokoknya nggak suka aja gitu kalau mba Pevita deket sama mas Taran,” ucap Kejora, ia membuka almamater jasnya.
Resti menarik nafas, ia mendekati Kejora, “Yaudah, sekarang kamu mandi. Jangan mikirin Pevita. Setelah itu kita makan.”
“Iya mba.”
***