Bab 2

Jeremy Logan baru saja mendapat kabar jika saudara laki-lakinya sedang sekarat dan mengharap kepulangannya. Sudah lewat sepuluh tahun sejak Jeremy berjanji untuk tidak lagi menginjakkan kaki di rumah keluarga Loghan yang pernah membuatnya sangat sakit hati. Bahkan beberapa tahu yang lalu ketika Jeremy mendengar kakak laki-lakinya James Loghan mengalami kecelakaan dan istrinya meninggal, dia pun tetap tidak sudi untuk pulang. Sekarang Jeremy sudah sangat sukses dengan kehidupannya sendiri dan tidak butuh sepeserpun harta dari keluarga Loghan. Tidak akan ada yang berani menyepelekannya lagi, bahkan sekarang dia sudah jauh melampaui James Loghan dengan segala kesuksesannya.

Jeremy Loghan adalah pemuda 31 tahu yang sangat tampan dengan sepasang netra biru pekat seperti laut dalam. Meskipun tatapannya selalu dingin penuh kekejian tapi ia tetap sosok yang karismatik layaknya seorang Loghan. Bahkan ketika dia hanya sekedar duduk, siapapun akan gentar menghadapinya. Termasuk Mr. Harlot yang kali ini sedang berusaha memberanikan diri bicara di hadapannya. Mr. Harlot diutus oleh James Loghan untuk membujuk adik laki-lakinya agar mau pulang.

"Saya tidak berhak ikut campur dengan masalah pribadi Anda, tapi jika James Loghan meninggal otomatis semuanya jatuh ke tangan Anda, dan itu semua bukan jumlah yang sedikit."

"Apa kau pikir aku masih membutuhkannya?"

Sekarang Jeremy Loghan adalah pemuda super kayan yang sudah cukup pantas jika ingin menyombongkan diri setelah lepas dari nama besar keluarga Loghan. Perlakuan tidak adil yang pernah dia terima sudah sama sekali tidak membuatnya gentar.

Mr. Harlot kembali menghela napas agar lebih bersabar karena tahu memang tidak akan mudah untuk membujuk seorang Jeremy Loghan agar bersedia pulang.

"Hidup saudara Anda sudah tidak lama lagi, tolong abaikan sejenak masalah apapun untuk sebentar saja," mohon Mr. Harlot yang sudah jauh-jauh datang dari Washington.

Sebenarnya Jeremy mau menemui Mr. Harlot juga karena ingat pria tua itu sudah sangat setia pada kakeknya. Jika saja yang diutus James kali ini hanya seorang notaris pasti dia sudah mengusirnya dari tadi. Selain kaya raya dan tampan, Jeremy juga dikenal sebagai pria yang keji.

"Aku masih ingat ketika kalian bermain pedang dan berlarian mengelilingi kolam air mancur di halaman belakang," tambah Mr. Harlot ketika menatap kembali anak laki-laki di depannya yang sekarang sudah sangat jauh berbeda.

"Kalian sering bertengkar kadang juga saling memukul layaknya saudara laki-laki, tapi ingat bagaimana kakek Anda tidak pernah membedakan kedua cucunya. Paling tidak lakukan untuk beliau." Mr. Harlot tahu jika bukan harta yang akan membuat seorang Jeremy Loghan luluh.

Sejak ayah dan ibu kedua anak laki-laki itu meninggal dalam kecelakaan, Sir Wiliam Loghan langsung membawa cucunya pulang ke Inggris, karena dia yakin tidak ada yang wajar dengan apapun yang menimpa keluarga Loghan, apa lagi saat itu putranya mulai terjun ke dunia politik.

"Sekarang kakak laki-laki Anda juga kembali ke Yorkshire," tambah Mr. Harlot.

Baru kali ini Jeremy terkejut meskipun tetap tidak akan mau menunjukkan hal itu pada siapapun, termasuk Mr. Harlot yang masih memohon dan menunggu untuk sedikit saja rasa simpatinya.

Keluarga Loghan memiliki komplek properti dan tanah yang sangat luas di kawasan Yorkshire. Di sana juga dulu James dan Jeremy pernah dibesarkan oleh sang kakek, menghabiskan masa anak-anak dan libur musim panas bersama. Sir Wiliam Loghan juga memilih tanah kelahirannya itu untuk menghabiskan masa tuanya dalam damai. Karena itu Mr. Harlot yakin jika rumah bersejarah tersebut juga sangat berarti bagai anak-anak Loghan.

"Terima kasih atas kedatangan Anda Mr.Harlot, sampaikan salamku untuk keluargamu, tapi maaf karena ada pertemuan lebih penting yang harus segera kuhadiri."

Mr. Harlot tidak boleh tersinggung dengan pengusiran halus yang dilakukan Jeremy Loghan. Dia tetap mengucapkan terimakasih atas waktu yang diberikan pemuda itu dan berpamitan dengan menjaga sikap hormat.

Jeremy memang sudah bersumpah utuk tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki ke tanah keluarganya jika masih ada James di sana. Penghianatan yang dilakukan orang lain jauh lebih baik dari pada penghianatan yang dilakukan oleh saudara sendiri.

Bab 3

YORKSHIRE

Jeremy sudah tidak ingat kapa terakhir dirinya melihat halam rumput keluarga Loghan. Rumah utama masih terlihat sama tidak banyak yang berubah sejak dirinya datang untuk menghadiri pemakaman sang kakek sepuluh tahun lalu. Bahkan pagar kudanya juga masih sama.

Sejak Jeremy dan James berumur belasan tahun mereka sudah tinggal di sekolah asrama elit di Washington dan hanya sesekali mengujungi sang kakek saat musim libur. Mereka akan menghabiskan masa libur dengan berkuda di tanah keluarga mereka yang luas dengan perbukitan hijau. Tanah yang sampai sekarang masih alami tak terjamah oleh moderenisasi. Seluruh tanah dan properti keluarga Loghan memang masih utuh terjaga. Semua itu adalah warisan turun temurun dari leluhur nenek moyang mereka yang pernah menjadi penguasa di perbatasan Utara Inggris.

"Oh, Tuanku sejak kapan Anda datang?" kaget salah seorang pengurus rumah begitu melihat Jeremy Loghan berdiri di ambang pintu.

Jeremy juga sudah mengenal Mr. Papkins, pria yang sekarang pipinya sudah bergelambir keriput karena telah bekerja pada keluarga Loghan sejak mendiang kakeknya masih muda. Pria itu terlihat gugup ketika mempersilahkan masuk. "Apa Anda datang sendiri?" Jeremy mengabaikan pertanyaan Mr. Papkins dan malah segera balik bertanya.

"Di mana saudaraku?"

"Tuan muda James ada di kamarnya."

"Oh." Jeremy hampir lupa jika James lumpuh sejak kecelakan yang juga merenggut istrinya dan kabarnya sekarang juga sedang sekarat.

Jeremy berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang di mana terdapat kolam air mancur. Semuanya juga masih sama tidak ada yang berubah. Halaman hijau dan perbukitan rendah terbentang sejauh mata memandang yang juga masih merupakan tanah keluarga Loghan.

"Siapa itu?" tanya Jeremy begitu melihat wanita muda yang sedang berkuda dengan seorang gadis kecil.

"Itu keponakan Anda Tuanku, dan pengurusnya nona Gabriela Harlot."

"Seorang Harlot?" heran Jeremy.

"Keponakan Mr. Harlot, dulu Nona Geby adalah sekertaris tuan muda James sebelum mengalami kecelakan dan ikut pindah kemari untuk mengurus tuan muda dan putrinya."

"Mengesankan," sarkas Jeremy karena semula sempat ingin bersimpati dengan nasib malang saudaranya yang cacat dan kehilangan istri. Ternyata James malah menikmati hidup damai di rumah besar dengan halaman hijau bersama pengasuh mudanya yang cantik dan juga seorang Harlot. 'Benar-benar konspirasi yang luar biasa' pikir Jeremy.

"Mari, Tuan, saya akan menyuruh Beatris untuk menyiapkan kamar Anda."

"Kau tidak perlu repot aku hanya akan menemui James sebentar dan tidak akan menginap."

"Mr. Papkins!" triak seorang gadis kecil yang baru diturunkan dari pelanan kuda dan sedang berlari sambil meloncat-loncat menghampirinya.

Geby masih menyerahkan kudanya pada pengurus istal dan Lily sudah berlari kembali ke dalam rumah seperti biasanya.

"Oh, kemarilah Nona kecil," pangil Mr. Papkins sambil mengulurkan tangannya. "Beri salam hormat untuk pamanmu."

Lily segera menuruti perintah Mr. Papkins seperti yang sering diajarkan Geby untuk memberi salam hormat kepada orang yang lebih tua meskipun gadis itu masih belum begitu paham dengan istilah paman yang sepertinya juga baru dia dengar.

"Aku mau puding?" kata gadis kecil itu pada Mr. Papkins setelah merasa telah menuruti perintahnya.

"Geby akan mengajakmu menemui Beatris di dapur." Mr. Papkins sedikit merunduk untuk bicara dengan nona kecilnya.

"Geby!" Lily langsung berpaling pada Geby yang baru datang menyusul sambil berjalan melepas sarung tanganya dan sepertinya dia juga baru tahu jika sedang ada tamu.

Geby tersenyum karena sudah mengenali Jeremy Loghan dari lukisan besarnya yang terpajang di dekat perapian ruang baca. Lukisannya dipajang bersebelahan dengan sang kakek dan James. Meski kesannya agak berbeda ketika melihat langsung, tapi Geby senang karena akhirnya bisa benar-benar bertemu dengan seorang Jeremy Loghan.

Berbeda dengan James yang selalu terlihat ramah, menurut Geby Jeremy memiliki tatapan yang lebih tajam dan terkesan dingin untuk didekati walapaun tetap saja dia juga tampan layaknya seorang Loghan. Sepetinya Jeremy juga lebih tinggi dari James jika sama-sama berdiri tegak. Secara keseluruhan lebih banyak Sir William Loghan pada dirinya dibanding James yang lebih mirip sang ibu jika Geby membangdingkan mereka dari lukisan yang banyak terpajang di dinding.

Jeremy juga sedang memperhatikan wanita muda itu walaupun tidak membalas keramahannya sama sekali. Jeremy hampir mengetahui semua anak-anak Mr. Harlot tapi memang baru kali ini dia tahu jika Mr. Harlot juga memiliki keponakan perempuan. Walaupun sudah saling tahu tapi Mr. Papkins tetap memperkenalkan mereka. Geby mengulurkan tangan layaknya seorang Amerika.

"Senang bertemu dengan Anda, Nona Harlot," hanya itu yang diucapkan Jeremy tanpa menghiraukan uluran tangan Geby.

Geby segera menarik kembali tangannya dengan tetap tersenyum dan menghargainya sebagai tuan muda yang layak untuk lebih dihormati meskipun jaman sudah sangat moderen dan dirinya adalah seorang Amerika yang tidak mengenal monarki.

Setelah berkenalan, Geby segera permisi untuk mengajak Lily pergi karena tidak ingin mengganggu urusan seorang Jeremy Loghan.

"Aku mau puding,"ucap gadis kecil itu ketika Geby mengajaknya berjalan pergi.

"Kita temui Beatris di dapur apa dia masih menyimpan puding untukmu."

Diam-diam Jeremy juga masih memperhatikan sampai kedua orang itu pergi dan ruangan kembali hening karena hanya ada dirinya dan Mr. Papkins.

"Aku mau bertemu James!"

{Cerita ini adalah karya asli dari penulis 'jemyadam' jika menemukan karya ini di manapun dengan nama penulis lain tolong bantuanya untuk melaporkan ke penulis melalui Instagrm 'jemyadam8' / F*B jemyadam. Dukungan pembaca sangat berarti bagai kami untuk terus bisa berkarya} Aku perlu menyisipkan pesan ini secara acak untuk menghindari pencurian karya yang pernah terjadi sebelumnya. Ceritaku dicuri besar-besaran dan dijual dengan nama penulis lain.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED