Bab 1

ku akan menawarkan pernikahan untukmu."

"Apa maksud Anda?" Geby langsung balik bertanya dengan menatap seorang Jeremy Loghan yang sepertinya juga tidak sedang bercanda.

"Aku akan menikahimu jika kau ingin tetap bisa mengurus keponakanku."

Walaupun terkejut Geby tetap wanita yang sangat masuk akal dan pastinya tidak akan asal menyetujui ide gila macam itu begitu saja. Apa lagi jika ide gila tersebut keluar dari pria seperti Jeremy Loghan yang dia tahu paling  tidak punya hati.

"Aku akan menjadikanmu seorang Loghan untuk bisa mengurusnya karena aku juga tidak mau mengurus anak itu."

Geby masih diam belum menjawab karena tetap mustahil dirinya mau menikah dengan pria seperti Jeremy Loghan. Bahkan untuk sekedar membayangkannya saja Geby tidak sanggup.

"Kau tidak perlu melakukan tugas sebagai seorang istri," tambah Jeremy. "Karena aku juga tidak akan menyentuh wanita bekas kakak laki-lakiku!"

Walau kata-kata sinis itu sempat membuat punggung Geby berjengit tegang tapi justru karena kebencian Jeremy tersebut Geby malah mengangguk setuju.

"Baiklah!"

Geby pikir, sepertinya bukan masalah jika pernikahan hanya akta tanpa harus melibatkan peran fisik dan Geby yakin jika kebencian seorang Jeremy Loghan bisa jadi benteng yang paling tebal di antara mereka.

"Tapi aku tetap ingin ada poin perjanjiannya!" Geby menambahkan.

"Katakan saja."

"Hanya di antara kita berdua, kita bisa menandatangi aktanya di depan notaris."

"Apa kau pikir aku orang yang bisa menikah diam-diam. Tidak akan ada yang mengakuimu sebagai istriku dan itu akan percuma untukmu"

Jeremy adalah putra  dari keluarga bangsawan terpandang  dan memang tidak mungkin dirinya asal menikah seperti menikahi wanita simpanan.

"Tetap akan ada pesta dan konfrensi pers jadi persiapkan saja dirimu jika setuju dan benar-benar mau mengurus keponakanku."

"Baiklah," Geby kembali setuju.

*****

Jeremy Logan sebenarnya juga bukan mahluk yang buruk, bahkan dia terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo Armani yang merekat tepat di tubuhnya yang tinggi tegap. Nyatanya jantung Geby tetap berdegup kencang ketika pria itu mengulurkan tanga padanya dengan lembut dan memasangkan sebuah cincin berlian di jarimanisnya, Geby juga memasangkan cincin senada di jari manis Jeremy Loghan dengan tanganya yang ternyata bergetar dan berkeringat dingin walapun Jeremy terlihat lebih tenang. Bagaimanapun pernikahan-tetaplah pernikahan sesuatu yang sakral, janji yang seharusnya saling ditepati hingga nafas terakhir mereka masing-masing. Jantung Geby berdegup semakin kencang ketika Jeremy menggenggam kedua tanganya di hadapan semua orang dan mulai mengucapkan ikrar janji pernikahanya yang bahkan tidak dia catat dalam kertas. Geby menatap pada matanya yang ternyata berwarna biru gelap, menatapnya seolah apa yang diucapkan pria itu nyata untuknya.

Geby mendengarkan tiap kata yang diucapkan oleh Jeremy Loghan dengan setiap tarikan napasnya yang ikut ia dengar pelan. Geby tidak tahu siapa yang sudah menyusun kalimat seindah itu untuknya tapi Geby berani bersumpah jika jantung Jeremy juga sedang berdegup kencang dan bibirnya terasa hangat ketika menciumnya.

Geby cuma kembali mengingatkan jika ini hanya permainan dan dirinya tidak boleh terperangkap dengan permainan yang sedang diperankan oleh seorang Jeremy Loghan yang bahkan masih melumat bibirnya pelan.

'Mungkin Geby hanya belum sadar jika telah meletakkan dirinya ke dalam genggaman seorang monster!'

NOTE: Baca cerita ini dengan suasana hati yang tenang agar bisa lebih menikmati alurnya, mendalami masing-masing karakter tokohnya dan menikmati seting tempatnya yang kuambil real dari sejarah dan budayanya. Cerita akan dibuka perlahan denga rangkaian misteri yang akan terus mengalir deras seperti luapan magma panas dan tidak akan bisa lagi dihentika. Akan ada rangkaian panjang dari tiap kejadian yang akan terus menuntut untuk di pecahkan, merangsang pembaca untuk ikut berpikir dan jeli.

Jumlah series;

1. HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE

2. HOT NIGHT

3. COMING SOON ....

TIGA TAHUN SEBELUMNYA

Gabriela Harlot adalah seorang wanita muda 23 tahu yang cantik, cerdas, dan berasal dari keluarga terpandang. Diam-diam Geby jatuh cinta pada James Loghan yang merupakan bosnya dan pria yang sudah beristri.

Hari masih pagi dan Geby juga baru tiba ketika James masuk ke ruanganya kemudian menutup pintu. Aroma parfum yang dipakai James  langsung ikut memenuhi seisi ruanganya. Aroma yang sangat dia kenal dan akan selalau membuat dadanya ikut menghangat.

"Hadiah apa yang kau inginkan saat ulang tahun?" tanya pria tampan dan karismatik itu ketika menghampiri meja Geby dan tersenyum.

Geby  terkejut karena ulang taunya masih lima bulan lagi dan dia juga tidak pernah bermimpi bakal ditanya hadiah seperti itu oleh seorang James Loghan, sampai James kembali melanjutkan.

"Akhir minggu ini Olivia ulang tahun dan aku tidak tahu hadiah apa yang pas untuknya." 

Ternyata yang James maksud hadiah untuk istrinya, tentu Geby langsung kecewa tapi tidak pantas bersedih karena berani mengagumi pria beristri adalah salahnya sendiri.

"Tapi kenapa Anda bertanya padaku, Mr. Loghan?" Gaby berusaha tersenyum meski hatinya masih gugup karena sempat mengira pria tampan itu memikirkan hadiah untuknya.

"Istriku sangat menyukaimu jadi kurasa kalian sepertinya juga memiliki selera yang tidak jauh berbeda."

"Tapi sungguh aku tidak tahu jika harus memilih hadiah sepenting itu untuk istri Anda."

James Loghan memiliki seorang istri yang sangat cantik, pernikahannya juga sangat bahagia dengan seorang putri berumur tiga tahun. Sama sekali tidak ada celah bagi James untuk mencintai wanita lain. Hanya Geby sendiri yang terus nekat mencintainya.

"Sebenarnya aku sudah merencanakan beberapa perjalanan ke pulau tropis atau resort sky di pegunungan Alpen?"

"Anda masih menyuruh saya memilih?" tanya Geby sambil menunjuk dirinya sendiri, karena James masih berdiri di depan mejanya dan mengangguk. Pria yang sangat tampan dan polos sekali karena tidak pernah sadar sudah lama dia cintai.

"Pilih yang mana?" pria rupawan itu benar-benar serius sedang menunggu jawaban sekertarisnya.

"Mungkin pulau tropis karena aku lebih suka yang hangat," Jawab Geby sambil menatap netra coklat James yang hangat seperti musim gugur yang tenang.

"Terimakasih, Geby."

"Sungguh ini bukan hal besar sampai Anda perlu berterima kasih, Mr. Loghan."

"Kau tahu aku kurang pandai menyenangkan wanita." Bahkan James tega mengedipkan sebelah mata pada Geby yang masih seperti tersendak pagi-pagi karena kunjungannya.

'Anda sudah sangat menyenangkan hanya dengan tersenyum, Mr. Loghan' ucap Geby dalam hati tanpa tahu jika itu adalah kali terkhir dirinya bakal melihat pria rupawan itu tersenyum seriang hari ini. Geby masih menyimpan senyum James hari itu. Memang tidak ada yang tahu kapan bencana akan terjadi. Geby hanya tahu jika dirinya telah jatuh cinta pada pria yang salah, karena menyukai pria yang sudah beristri adalah dosa. Tapi James Loghan sama sekali bukan pria yang buruk, seolah memang hanya kebaikan yang ada padanya.

******

Gabriela Harlot hanyalah seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh sang paman sampai dirinya bisa ikut menyandang nama Harlot meskipun ayah kandung Geby sebenarnya adalah seorang Meksiko dan imigran gelap ketika menikahi ibunya tanpa restu ataupun akta pernikahan. Geby sangat beruntung karena mendapatkan pendidikan yang baik dari sang paman yang memang tidak pernah membedakanya dengan anak kandungnya yang lain. Begitu lulus dari kuliahnya dengan prestasi terbaik, Geby kembali sangat beruntung sebab dia langsung bisa bekerja pada seorang James Loghan. Semua tentu tak lepas dari jasa sang paman yang memang telah puluhan tahun bekerja sebagai orang kepercayaan keluarga Loghan.

Geby sedang makan malam bersama keluarga pamanya ketika mendengar kabar kecelakan yang menimpa James dan istrinya saat berlibur di pulau tropis. Geby langsung menjatuhkan gelas di tanganya dan Mr. Harlot juga masih berdiri baru menutup telepon.

"Istrinya tidak tertolong dan James mengalami luka serius."

Geby langsung terpikir pada putri semata wayang James yang baru berumur tiga tahun dan harus kehilangan seorang ibu. Boat yang dikendarai James kehilangan kendali dan menabrak karang dengan kecepatan tinggi.

Semuanya menjadi kacau dengan begitu cepat. James Loghan mengalami cidera tulang belakang setelah tubuhnya terlempar dan terhempas ke karang. Dokter menyatakan jika cidera tersebut tidak bisa disembuhka. Artinya James hanya akan menjalani sisa hidupnya di atas kursi roda sebagai pria cacat yang tidak akan pernah bisa mengurus dirinya sendiri.

Geby ikut lemas ketika memeluk Lily, putri kecil James yang belum tahu apa-apa mengenai bencana yang menimpa orang tuanya.

Karena rasa cintanya pada James Loghan, Geby memutuskan untuk meninggalkan karir dan keluarga besarnya di Washington demi ikut James pulang ke Inggris. Geby bersumpah akan mendedikasikan hidupnya untuk mengurus James Loghan serta putri kecilnya Lily.

James Loghan adalah pemilik dari Loghan Holding Company dan pewaris tahta kekayaan keluarga Loghan yang merupakan keluarga bangsawan kaya raya dari Britania Raya. Sudah tiga tahun Geby bekerja sebagai sekretaris James dan tidak pernah bisa berhenti mengagumi pria tampan itu di dalam hatinya. Meski sekarang keluarga Loghan lebih banyak memiliki bisnis di Amerika utara, Cina, dan Jepang, tapi James tetap merasa dirinya berdarah Inggris, karena itu James ingin menghabiskan sisa hidupnya di sana seperti sangkakek. James tahu hidupnya tidak akan lama lagi sampai kelemahan fisiknya akan merenggut nyawa pelan-pelan dalam wujud buruk rupa. Wajah rupawan dan kegagahan fisiknya akan ikut hilang dalam sekejap.

Masalahnya James tidak tahu siapa yang akan menggantikanya tanggung jawabnya untuk memimpin kerajaan bisnis keluarga Loghan jika dirinya telah pergi. James hanya memiliki seorang adik laki-laki, adik laki-laki yang sangat membencinya dan telah bersumpah tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya lagi di rumah keluarga Loghan.

James harus bisa mengalah dan mengutus orang untuk membujuk Jeremy Loghan agar mau pulang.

Bab 2

Jeremy Logan baru saja mendapat kabar jika saudara laki-lakinya sedang sekarat dan mengharap kepulangannya. Sudah lewat sepuluh tahun sejak Jeremy berjanji untuk tidak lagi menginjakkan kaki di rumah keluarga Loghan yang pernah membuatnya sangat sakit hati. Bahkan beberapa tahu yang lalu ketika Jeremy mendengar kakak laki-lakinya James Loghan mengalami kecelakaan dan istrinya meninggal, dia pun tetap tidak sudi untuk pulang. Sekarang Jeremy sudah sangat sukses dengan kehidupannya sendiri dan tidak butuh sepeserpun harta dari keluarga Loghan. Tidak akan ada yang berani menyepelekannya lagi, bahkan sekarang dia sudah jauh melampaui James Loghan dengan segala kesuksesannya.

Jeremy Loghan adalah pemuda 31 tahu yang sangat tampan dengan sepasang netra biru pekat seperti laut dalam. Meskipun tatapannya selalu dingin penuh kekejian tapi ia tetap sosok yang karismatik layaknya seorang Loghan. Bahkan ketika dia hanya sekedar duduk, siapapun akan gentar menghadapinya. Termasuk Mr. Harlot yang kali ini sedang berusaha memberanikan diri bicara di hadapannya. Mr. Harlot diutus oleh James Loghan untuk membujuk adik laki-lakinya agar mau pulang.

"Saya tidak berhak ikut campur dengan masalah pribadi Anda, tapi jika James Loghan meninggal otomatis semuanya jatuh ke tangan Anda, dan itu semua bukan jumlah yang sedikit."

"Apa kau pikir aku masih membutuhkannya?"

Sekarang Jeremy Loghan adalah pemuda super kayan yang sudah cukup pantas jika ingin menyombongkan diri setelah lepas dari nama besar keluarga Loghan. Perlakuan tidak adil yang pernah dia terima sudah sama sekali tidak membuatnya gentar.

Mr. Harlot kembali menghela napas agar lebih bersabar karena tahu memang tidak akan mudah untuk membujuk seorang Jeremy Loghan agar bersedia pulang.

"Hidup saudara Anda sudah tidak lama lagi, tolong abaikan sejenak masalah apapun untuk sebentar saja," mohon Mr. Harlot yang sudah jauh-jauh datang dari Washington.

Sebenarnya Jeremy mau menemui Mr. Harlot juga karena ingat pria tua itu sudah sangat setia pada kakeknya. Jika saja yang diutus James kali ini hanya seorang notaris pasti dia sudah mengusirnya dari tadi. Selain kaya raya dan tampan, Jeremy juga dikenal sebagai pria yang keji.

"Aku masih ingat ketika kalian bermain pedang dan berlarian mengelilingi kolam air mancur di halaman belakang," tambah Mr. Harlot ketika menatap kembali anak laki-laki di depannya yang sekarang sudah sangat jauh berbeda.

"Kalian sering bertengkar kadang juga saling memukul layaknya saudara laki-laki, tapi ingat bagaimana kakek Anda tidak pernah membedakan kedua cucunya. Paling tidak lakukan untuk beliau." Mr. Harlot tahu jika bukan harta yang akan membuat seorang Jeremy Loghan luluh.

Sejak ayah dan ibu kedua anak laki-laki itu meninggal dalam kecelakaan, Sir Wiliam Loghan langsung membawa cucunya pulang ke Inggris, karena dia yakin tidak ada yang wajar dengan apapun yang menimpa keluarga Loghan, apa lagi saat itu putranya mulai terjun ke dunia politik.

"Sekarang kakak laki-laki Anda juga kembali ke Yorkshire," tambah Mr. Harlot.

Baru kali ini Jeremy terkejut meskipun tetap tidak akan mau menunjukkan hal itu pada siapapun, termasuk Mr. Harlot yang masih memohon dan menunggu untuk sedikit saja rasa simpatinya.

Keluarga Loghan memiliki komplek properti dan tanah yang sangat luas di kawasan Yorkshire. Di sana juga dulu James dan Jeremy pernah dibesarkan oleh sang kakek, menghabiskan masa anak-anak dan libur musim panas bersama. Sir Wiliam Loghan juga memilih tanah kelahirannya itu untuk menghabiskan masa tuanya dalam damai. Karena itu Mr. Harlot yakin jika rumah bersejarah tersebut juga sangat berarti bagai anak-anak Loghan.

"Terima kasih atas kedatangan Anda Mr.Harlot, sampaikan salamku untuk keluargamu, tapi maaf karena ada pertemuan lebih penting yang harus segera kuhadiri."

Mr. Harlot tidak boleh tersinggung dengan pengusiran halus yang dilakukan Jeremy Loghan. Dia tetap mengucapkan terimakasih atas waktu yang diberikan pemuda itu dan berpamitan dengan menjaga sikap hormat.

Jeremy memang sudah bersumpah utuk tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki ke tanah keluarganya jika masih ada James di sana. Penghianatan yang dilakukan orang lain jauh lebih baik dari pada penghianatan yang dilakukan oleh saudara sendiri.

Bab 3

YORKSHIRE

Jeremy sudah tidak ingat kapa terakhir dirinya melihat halam rumput keluarga Loghan. Rumah utama masih terlihat sama tidak banyak yang berubah sejak dirinya datang untuk menghadiri pemakaman sang kakek sepuluh tahun lalu. Bahkan pagar kudanya juga masih sama.

Sejak Jeremy dan James berumur belasan tahun mereka sudah tinggal di sekolah asrama elit di Washington dan hanya sesekali mengujungi sang kakek saat musim libur. Mereka akan menghabiskan masa libur dengan berkuda di tanah keluarga mereka yang luas dengan perbukitan hijau. Tanah yang sampai sekarang masih alami tak terjamah oleh moderenisasi. Seluruh tanah dan properti keluarga Loghan memang masih utuh terjaga. Semua itu adalah warisan turun temurun dari leluhur nenek moyang mereka yang pernah menjadi penguasa di perbatasan Utara Inggris.

"Oh, Tuanku sejak kapan Anda datang?" kaget salah seorang pengurus rumah begitu melihat Jeremy Loghan berdiri di ambang pintu.

Jeremy juga sudah mengenal Mr. Papkins, pria yang sekarang pipinya sudah bergelambir keriput karena telah bekerja pada keluarga Loghan sejak mendiang kakeknya masih muda. Pria itu terlihat gugup ketika mempersilahkan masuk. "Apa Anda datang sendiri?" Jeremy mengabaikan pertanyaan Mr. Papkins dan malah segera balik bertanya.

"Di mana saudaraku?"

"Tuan muda James ada di kamarnya."

"Oh." Jeremy hampir lupa jika James lumpuh sejak kecelakan yang juga merenggut istrinya dan kabarnya sekarang juga sedang sekarat.

Jeremy berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang di mana terdapat kolam air mancur. Semuanya juga masih sama tidak ada yang berubah. Halaman hijau dan perbukitan rendah terbentang sejauh mata memandang yang juga masih merupakan tanah keluarga Loghan.

"Siapa itu?" tanya Jeremy begitu melihat wanita muda yang sedang berkuda dengan seorang gadis kecil.

"Itu keponakan Anda Tuanku, dan pengurusnya nona Gabriela Harlot."

"Seorang Harlot?" heran Jeremy.

"Keponakan Mr. Harlot, dulu Nona Geby adalah sekertaris tuan muda James sebelum mengalami kecelakan dan ikut pindah kemari untuk mengurus tuan muda dan putrinya."

"Mengesankan," sarkas Jeremy karena semula sempat ingin bersimpati dengan nasib malang saudaranya yang cacat dan kehilangan istri. Ternyata James malah menikmati hidup damai di rumah besar dengan halaman hijau bersama pengasuh mudanya yang cantik dan juga seorang Harlot. 'Benar-benar konspirasi yang luar biasa' pikir Jeremy.

"Mari, Tuan, saya akan menyuruh Beatris untuk menyiapkan kamar Anda."

"Kau tidak perlu repot aku hanya akan menemui James sebentar dan tidak akan menginap."

"Mr. Papkins!" triak seorang gadis kecil yang baru diturunkan dari pelanan kuda dan sedang berlari sambil meloncat-loncat menghampirinya.

Geby masih menyerahkan kudanya pada pengurus istal dan Lily sudah berlari kembali ke dalam rumah seperti biasanya.

"Oh, kemarilah Nona kecil," pangil Mr. Papkins sambil mengulurkan tangannya. "Beri salam hormat untuk pamanmu."

Lily segera menuruti perintah Mr. Papkins seperti yang sering diajarkan Geby untuk memberi salam hormat kepada orang yang lebih tua meskipun gadis itu masih belum begitu paham dengan istilah paman yang sepertinya juga baru dia dengar.

"Aku mau puding?" kata gadis kecil itu pada Mr. Papkins setelah merasa telah menuruti perintahnya.

"Geby akan mengajakmu menemui Beatris di dapur." Mr. Papkins sedikit merunduk untuk bicara dengan nona kecilnya.

"Geby!" Lily langsung berpaling pada Geby yang baru datang menyusul sambil berjalan melepas sarung tanganya dan sepertinya dia juga baru tahu jika sedang ada tamu.

Geby tersenyum karena sudah mengenali Jeremy Loghan dari lukisan besarnya yang terpajang di dekat perapian ruang baca. Lukisannya dipajang bersebelahan dengan sang kakek dan James. Meski kesannya agak berbeda ketika melihat langsung, tapi Geby senang karena akhirnya bisa benar-benar bertemu dengan seorang Jeremy Loghan.

Berbeda dengan James yang selalu terlihat ramah, menurut Geby Jeremy memiliki tatapan yang lebih tajam dan terkesan dingin untuk didekati walapaun tetap saja dia juga tampan layaknya seorang Loghan. Sepetinya Jeremy juga lebih tinggi dari James jika sama-sama berdiri tegak. Secara keseluruhan lebih banyak Sir William Loghan pada dirinya dibanding James yang lebih mirip sang ibu jika Geby membangdingkan mereka dari lukisan yang banyak terpajang di dinding.

Jeremy juga sedang memperhatikan wanita muda itu walaupun tidak membalas keramahannya sama sekali. Jeremy hampir mengetahui semua anak-anak Mr. Harlot tapi memang baru kali ini dia tahu jika Mr. Harlot juga memiliki keponakan perempuan. Walaupun sudah saling tahu tapi Mr. Papkins tetap memperkenalkan mereka. Geby mengulurkan tangan layaknya seorang Amerika.

"Senang bertemu dengan Anda, Nona Harlot," hanya itu yang diucapkan Jeremy tanpa menghiraukan uluran tangan Geby.

Geby segera menarik kembali tangannya dengan tetap tersenyum dan menghargainya sebagai tuan muda yang layak untuk lebih dihormati meskipun jaman sudah sangat moderen dan dirinya adalah seorang Amerika yang tidak mengenal monarki.

Setelah berkenalan, Geby segera permisi untuk mengajak Lily pergi karena tidak ingin mengganggu urusan seorang Jeremy Loghan.

"Aku mau puding,"ucap gadis kecil itu ketika Geby mengajaknya berjalan pergi.

"Kita temui Beatris di dapur apa dia masih menyimpan puding untukmu."

Diam-diam Jeremy juga masih memperhatikan sampai kedua orang itu pergi dan ruangan kembali hening karena hanya ada dirinya dan Mr. Papkins.

"Aku mau bertemu James!"

{Cerita ini adalah karya asli dari penulis 'jemyadam' jika menemukan karya ini di manapun dengan nama penulis lain tolong bantuanya untuk melaporkan ke penulis melalui Instagrm 'jemyadam8' / F*B jemyadam. Dukungan pembaca sangat berarti bagai kami untuk terus bisa berkarya} Aku perlu menyisipkan pesan ini secara acak untuk menghindari pencurian karya yang pernah terjadi sebelumnya. Ceritaku dicuri besar-besaran dan dijual dengan nama penulis lain.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED