Disebuah ruang UGD rumah sakit tampak seorang lelaki yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis menempel pada tubuhnya. Dia adalah Angga Prahadie, seorang manager hotel bintang lima di Bandung yang baru saja mengalami kecelakaan mobil di jalan tol Cipularang bersama istrinya yang bernama Karina.
Karina tewas di tempat sedangkan Angga sendiri sedang menjalani masa-masa kritisnya. Di sampingnya tampak seorang lelaki muda sekitar umur 23 tahun yang duduk dengan memasang wajah acuh tak acuh. Dia adalah Martin Richard Prahadie. Putranya dari istri pertamanya di Jakarta.
Angga sengaja meminta pihak rumah sakit untuk menghubungi Martin karena merasa waktunya sudah tidak lama lagi. Martin memang datang dengan terpaksa karena sebenarnya dia sangat membenci lelaki itu. Pasalnya, Angga sudah meninggalkan Martin dan ibunya 18 tahun yang lalu saat Martin masih sangat kecil. Dan karena pendarahan yang hebat, ibunya Martin yang bernama Stela meninggal saat sedang mengandung anak keduanya dari Angga.
Sejak itu Martin sangat depresi dan tumbuh rasa benci di hatinya untuk Angga yang menurutnya tidak pantas dipanggil "ayah" lagi olehnya.
"Martin ...," suara Angga terdengar sangat berat dengan napasnya yang mulai putus-putus.
Martin membuang wajahnya jauh-jauh, dia tak ingin menatap wajah ayahnya itu yang sudah hampir menemui ajalnya.
"Nak ..." Angga meraih jemari Martin sampai menggenggamnya erat. Dipandanginya wajah putranya itu yang sangat mirip dengannya sewaktu muda.
"Ayah minta padamu, Martin. Tolong bawa Alice bersamamu ke Jakarta. Bagaimanapun dia adalah Adikmu, Nak. Alice tak punya siapa-siapa lagi," ucapan Angga membuat Martin menoleh padanya.
Tidak mungkin! Dia harus mengurus anak dari istri kedua ayahnya itu.
"Dengar pesan Ayah, Martin. Ayah mohon, kamu jaga dan lindungi Adikmu itu ya, Nak?" Angga kelihatan sangat berharap.
Namun Martin hanya diam dan mengalihkan wajahnya ke semua arah. Ya, ini sangat berat baginya.
Dia tidak bisa menerima adik dari ibu yang berbeda itu.
"Martin, berjanjilah pada Ayah, Nak.." suara Angga semakin dalam sedangkan Martin belum juga memberikan jawaban. Paling tidak sebuah anggukan mungkin bisa membuat lelaki itu pergi dengan tenang.
Martin masih membisu sampai Angga menghembuskan napas terakhirnya dengan mata yang masih menatapnya penuh harap. Para perawat dan dokter segera memeriksa dan mencatat waktu kematian lelaki berumur 50 tahun itu.
"Ayah...!!"
Teriakan seorang gadis berseragam SMA yang tiba-tiba histeris di ruang UGD. Martin mundur agak jauh dari ranjang Angga yang sudah tertutup kain putih. Dia tampak jengah melihat tangisan gadis itu. Akan tetapi, butiran air mata tanpa sadar terjun di pipinya. Ya, bagaimanapun Angga adalah ayahnya.
"Ayah bangun! Jangan tinggalkan Alice. Ayah..!!" suara histeris itu sangat menyayat hati Martin.
Ya, gadis malang itu adalah anak dari wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan ibunya. Tidak, tidak, dia tak boleh sampai simpati pada gadis itu. Karena gadis itu adalah anak haram ayahnya! Anak yang tidak seharusnya terlahir! Dia harus membencinya!
***
Setelah proses pemakaman selesai, Martin yang berdiri agak jauh mulai berbalik untuk segera meninggalkan makam Angga. Baginya kematian yang sangat mudah itu terlalu singkat untuk seorang lelaki yang sudah menelantarkan dia dan ibunya bertahun-tahun lamanya. Harusnya Angga mendapatkan hukuman yang lebih. Semoga dia membusuk dia neraka! Martin berdoa dalam hatinya
"Kak Martin!"
Terdengar suara Alice yang membuatnya menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Alice berjalan agak ragu menghampiri lelaki berkemeja hitam itu. Seperti pesan terakhir sang ayah, dia harus mengikuti Martin karena cuma pemuda itu keluarga satu-satunya yang dia miliki sekarang.
"Kak Martin mau kemana? Aku ikut ya, Kak?" Alice menatap nanar pada Martin yang malah membuang wajahnya jauh-jauh. Sangat terlihat jelas kebencian di wajah pemuda itu.
"Gue mau balik ke Jakarta," ucapan Martin dengan wajah sinisnya membuat Alice sedikit lega. Paling tidak, lelaki itu mau melihat wajahnya sekarang.
"Aku ikut ya, Kak. Ayah bilang.."
"Siap-siap sana! Gue nggak suka menunggu." Martin tak ingin berlama-lama berhadapan dengan adik sialan itu. Dia segera melanjutkan langkahnya disusul oleh Alice yang tersenyum puas mendengar ucapan sang kakak.
Setelah semuanya selesai dipacking, Alice segera meninggalkan rumahnya dan langsung memasuki mobil Martin. Pemuda itu tidak perduli sedikit pun saat dia sudah duduk di dalam mobilnya. Martin merasa sangat sial karena harus mengurus anak hasil hubungan terkutuk sang ayah.
Martin segera melajukan mobilnya menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling buka suara apa lagi mengobrol. Keduanya merasa sangat asing karena memang mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Alice sesekali menoleh pada Martin, tapi lelaki itu tidak pernah menggubrisnya.
Martin sedang mengutuk dirinya sendiri karena merasa kasihan pada Alice. Kenapa tidak ia tinggalkan saja gadis itu. Apa pedulinya? Anak haram ayahnya itu juga harus mendapatkan balasannya, bukan?
Setibanya di Jakarta mobil Martin memasuki gerbang sebuah rumah yang cukup besar. Rumah peninggalan ibunya itu dirawatnya dengan baik selama ini. Martin kesal melihat Alice yang malah tertidur dengan santainya. Gadis sialan! Dia mengumpat sampai kemudian membuka suara lantangnya.
"Heh, bangun! Lo mau tidur di mobil, hah?!"
Alice tersentak dan tampak ling lung karena suara Martin tadi cukup membuatnya kaget. Dia melihat Martin sedang memasang wajah geram padanya.
"Oh iya, Kak. Maaf, aku ketiduran tadi." Alice segera membuka pintu mobil dan menyeret kopernya keluar. Martin tidak membantunya sama sekali. Lelaki itu segera membuka pintu dan memasuki rumah.
"Bawa semua barang-barang lo ke kamar itu! Gue capek mau tidur," ucapan Martin sambil menunjuk pintu sebuah kamar yang ada di sudut ruangan.
"Iya, Kak, makasih.." Alice tersenyum padanya. Namun Martin langsung membuang muka dan berlalu menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Tak apa, Alice bisa mengerti perlakuan sang kakak padanya. Siapa sih, yang mau menerima anak dari wanita lain ayahnya.
Setibanya di kamar, Alice membuka kopernya dan segera menata semua barang-barangnya. Dia meraih sebuah figuran foto orang tuanya yang tampak sedang tersenyum manis.
Air matanya mulai menetes lagi. Mulai sekarang dia tidak bisa bermanja-manja lagi, tidak ada yang melindunginya lagi, dan tak ada tempat untuk berkeluh kesah lagi. Sekarang dia hanya menumpang pada kakak yang sangat membencinya. Entah akan seperti apa kehidupannya nanti.
Dia ingin berontak dari nasib buruk ini, dia tak mau begini! Tapi apa boleh buat, Tuhan berkehendak lain. Ayah-bundanya harus pergi, dan cuma Martin satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang. Dia harus kuat menerima kenyataan ini.
Alice tertidur dengan pipinya yang basah dan kedua tangannya mendekap figuran foto orang tuanya. Andaikan semua ini hanya mimpi, dia ingin segera bangun dari mimpi buruk ini sekarang juga!
Tok! Tok! Tok!
"Bangun!!"
Suara Martin membuatnya kaget, Alice melihat jam wekernya yang baru saja menunjuk pukul dua pagi. Mau apa kakaknya itu memintanya bangun? Meski masih mengantuk, Alice segera beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu.
"Tidur apa mati sih? Lama banget. Pakai ini, cepat keluar!" Martin langsung melemparkan sehelai pakaian berbahan tipis ke wajah Alice. Gadis itu masih bingung, lantas menjembreng pakaian itu.
Lingeri? Apa maksudnya?
"Apa ini, Kak?"
"Pake tanya lagi, elo nggak lihat itu apa?"
"Lingerie, Kak," jawab Alice dengan wajah polosnya
"Bagus kalo lo tahu. Cepat pakai itu dan temui teman-teman gue di teras belakang. Temani mereka minum."
Apah? Menemani minum? Pake baju begini? Alice masih tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Dia masih terdiam menatap wajah Martin yang tampak geram padanya
"Kenapa bengong? Cepat pakai sana!" Martin mendorong tubuh Alice.
Gadis itu benar-benar tidak menyangka kalau kakaknya itu menyuruhnya melayani temannya yang sedang pesta miras di teras belakang rumah.
Astaga, bagaimana ini? Tidak mungkin dia mengenakan pakaian tipis begitu di depan banyak lelaki.
"Kak, aku ..." Alice ingin menolaknya tapi dia tak sanggup menatap mata Martin yang sedang merongos padanya.
"Why? Lo nggak mau, gitu?!" gertak Martin sampai membuat Alice terperanjak kaget. Untuk pertama kalinya ada orang yang berkata sangat lantang padanya.
"I-iya, Kak," lirih Alice dengan sorot mata memelas berharap Martin mengasihaninya.
"Udah pake sana, lelet banget sih!" Martin lembali mendorong bahu Alice.
Gadis itu hanya bisa menggeleng dengan air matanya yang ingin segera ditumpahkan.
"Kak.."
"Jangan nangis di depan gue. Cepat pake itu! Gue tunggu di luar." Martin segera berbalik badan.
Alice hanya menelan salivanya sambil mengusap kedua pipinya. Tak ada pilihan, gadis itu terlalu takut pada Martin.
Beberapa saat kemudian..
Alice baru saja keluar dari ruang ganti. Kedua tangannya tak henti menarik-narik tepi lingerie itu yang memang sangat pendek hingga kulit putihnya terlihat jelas. Wajah gadis itu menunduk dengan pipinya yang bersemu merah. Sungguh dia sangat malu dan tidak nyaman mengenakan pakaian minim itu.
Wajar saja, karena selama ini Alice tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu. Bahkan sang bunda selalu melarangnya memakai pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Alice mengusap pipinya teringat itu.
Martin menatapnya dengan aneh seperti lelaki hidung belang yang sedang melihat seorang pelacur.
Alice mulai takut sampai jantungnya berdegup kencang.
"Bagus. Ayo ikut gue!" Tangan Martin meraih lengannya dan menyeretnya berjalan cepat menuju teras belakang dimana terlihat beberapa orang pemuda seumuran Martin yang sedang minum miras sambil tertawa tak jelas. Tampaknya mereka sudah mabuk.
"Wah, ada cewek cantik. Dapet dimana lo, Mart?" Mata seorang lelaki langsung terbelalak melihat Alice yang kelihatan sangat seksi dengan lingerie hitam itu.
Alice hanya menunduk dengan tangannya yang berusaha menarik-narik tepi lingerinya.
"Ini Adek gue, namanya Alice. Lo semua boleh seneng-seneng sama dia," ucapan Martin membuat Alice langsung menoleh padanya.
Adik? Ya, dia senang lelaki itu mengakuinya. Tapi kenapa kalimat kedua membuatnya sangat kaget. Boleh senang-senang? Apa maksudnya?
"Hai, Alice!"
"Hei, cantik. Sini!"
"Wah, cantik banget!"
Suara-suara itu seolah membuat Alice seperti sedang dijual oleh kakaknya. Tatapan mereka begitu liar seperti seekor singa yang ingin segera menerkam. Alice ingin segera pergi, dia tak mau ada di sini.
"Sana, layani mereka!" Martin mendorong punggungnya membuat Alice benar-benar ketakutan.
Gadis itu melangkah sangat lamban menuju teras dimana semua lelaki itu sedang tersenyum seringai padanya.
"Lelet banget sih!" Tangan Martin menarik lengannya dan langsung menyeret Alice ke depan semua temannya itu.
Alice yang gemetaran tak berani menatap mereka. Tatapan semua lelaki itu seperti sedang menelanjanginya.
"Hei, cantik! Sini temani gue!" perintah Rio salah satu dari mereka yang sedari tadi menatapnya dengan aneh.
Alice menoleh pada Martin. Akan tetapi lelaki itu malah membuang wajahnya seolah tak mau tahu. Astaga, bagaimana ini? Alice merasa diperlakukan seperti wanita penghibur.
"Bagus. Tambah lagi minumnya, Sayang," pinta yang lainnya.
Alice sudah tak tahan lagi. Dia ingin segera lari ke kamarnya sekarang juga daripada harus meladeni semua lelaki mabuk itu.
"Alice, lo cantik banget. Mau nggak kalo gue ajak seneng-seneng malam ini?" ucapan Rio sambil menjawil dagunya membuat Alice segera menjauh dari lelaki itu.
Apa ini? Memangnya dia pelacur! Lelaki itu berani melecehkannya.
"Heh, jangan sok jual mahal begitu. Martin udah cerita banyak sama gue. Lo anaknya istri kedua Ayahnya Martin, 'kan? Udah jelas kalo Nyokap lo juga pasti cewek murahan," ucapan Rio seenak hati. Tentu saja membuat Alice sangat tersinggung.
"Jangan ngomong sembarangan ya, Kak. Bunda bukan wanita seperti itu!" Alice langsung memasang wajah penuh emosi pada lelaki di depannya itu.
Rio tersenyum tipis melihatnya lantas berkata, "Tambah cantik aja kalo lagi marah. Ayo, sini!" Dia segera meraih lengan Alice sampai menariknya ke pelukannya.
"Lepasin! Kak Martin!" Alice berteriak pada Martin sambil berusaha berontak dari Rio yang ingin melecehkannya.
Memang, Martin ada di sana, tapi pemuda itu masa bodoh dan tidak perduli melihat Rio yang sedang kurang ajar pada adiknya itu. Dia malah pergi menuju teras balkon bersama dua temannya yang lain.
Alice mulai menangis ketakutan, dia harus melawan lelaki brengsek ini sendiri.
Dak!
Alice menendang perut Rio dan langsung kabur menunju kamarnya. Sial! Lelaki itu mengejarnya sampai membabi buta. Alice segera masuk dan langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Astaga, jantungnya seakan mau copot ketakutan.
"Alice! Buka pintunya, Sayang!"
Suara Rio dari balik pintu membuatnya sangat gemetaran.
Alice bersandar di pintu sambil menangis. Dia harus bagaimana? Kenapa Martin tidak menolongnya?
Beberapa saat kemudian suara Rio sudah tidak terdengar lagi. Alice menarik sofa untuk menahan pintu, dia takut Rio nanti datang lagi. Gadis itu segera ganti baju dan langsung naik ke atas ranjang, menarik selimut sampai ke lehernya. Jantungnya masih berdebar kencang di tambah tubuhnya yang gemetaran. Dia benar-benar sangat ketakutan.
Hari mulai pagi saat Martin mengetuk pintu kamarnya. Alice baru saja terjaga dan melihat jarum jam sudah pukul enam pagi. Ya ampun, dia sudah kesiangan karena semalam tidak bisa tidur memikirkan Rio yang menunggunya di depan pintu kamarnya semalaman.
"Alice! Buka pintunya!"
Suara Martin sangat lantang membuat jantungnya hampir copot. Alice segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu
"Lama banget, sih?! Cepat mandi sana! Gue mesti ngantar lo ke Sekolah baru, ngerti?" gertak Martin tampak begitu marah padanya. Pasalnya, lelaki itu sudah hampir lima belas menit mengetuk pintu kamarnya sedari tadi.
"Iya, Kak."
"Cepat!"
Martin segera pergi setelah Alice kembali menutup pintu.
Gadis itu mulai mandi lalu bersiap untuk ke sekolah barunya. Alice senang karena Martin masih mengijinkan dia bersekolah. Ya, bagaimanapun lelaki galak itu adalah kakaknya, bukan?
"Cepat masuk mobil! Jangan gara-gara elo, gue telat datang ke kampus." Martin tak henti mengomel membuat Alice tersenyum tipis.
Dia segera memasuki mobil.
Martin langsung melajukan mobilnya menuju SMA Gumilang High School.
Di mana Alice akan mulai sekolah dan menemukan teman-teman barunya di Jakarta.
Setelah tiba di sekolah Martin langsung menemui kepala sekolah dan mengurus semuanya agar Alice bisa segera mengikuti pelajaran.
"Kak mau kemana?" tanya Alice karena melihat Martin yang akan segera pergi
"Ke kampus, lah!" jawab lelaki itu sinis tanpa menatap wajah cantik sang Adik yang sedang tersenyum padanya
"Makasih ya, Kak." Alice meraih tangan Martin lantas diciumnya.
"Hm.."
Martin segera menarik tangannya dan berlalu meninggalkan Alice yang masih berdiri memperhatikan punggungnya yang tidak pernah akan menoleh sedetik pun padanya. Martin, lelaki tampan berkulit putih itu adalah kakaknya. Dan dia sudah menunjukan itu sekarang.
"Hai, kamu Alicia, ya. Murid baru itu?" sapa seorang wanita dewasa berpakaian batik membuat Alice tersentak dari fantasinya.
"Hm, iya Bu."
"Cantiknya. Ayo ikut Ibu ke kelas. Ibu mau kenalin kamu sama murid-murid lainnya," ucap wanita itu sambil tersenyum padanya.
Alice mengangguk sambil tersenyum kemudian mengikutinya menuju kelas.
Setibanya di kelas Ibu Renita yang tadi mengajaknya menuju kelas langsung memperkenalkan Alice pada semua murid yang menyambutnya dengan hangat. Apa lagi para murid laki-laki, mereka sampai berebut ingin berjabat tangan dengan gadis manis itu.
"Hai, Alice! Kenalin, gue Chelsea. Mulai sekarang kita berteman, ya!" sapa seorang gadis berambut pirang dengan kawat giginya yang warna-warni menyodorkan tangannya sambil tersenyum.
"Hai juga, Chelsea," balas Alice sambil tersenyum pula.
"Minggir lo!" Chelsea mengusir seorang siswi yang kelihatan culun dengan kacamata besarnya, juga dua kepang rambutnya yang tampak klasik. Tadinya dia duduk di samping Alice dan sangat senang punya teman sebangku yang cantik.
Tapi sial! Chelsea mengusirnya seperti mengusir seekor ayam. Gadis culun itu tidak melawan dan langsung pindah ke belakang sambil menyeret tasnya.
Memangnya siapa yang berani pada Chelsea Renata Gumilang? Puteri pengusaha properti nomer satu di Asia Tenggara itu. Bahkan yayasan tempat mereka sekolah pun adalah milik ayahnya. Alice agak kaget melihat sikap kasar Chelsea barusan.
"Alice, gue mau duduk di sini sama lo." Chelsea kembali menunjukan kawat giginya.
Alice hanya tersenyum simpul.
Jam istirahat pun tiba.
Chelsea mengajak Alice jajan di kantin, dan hari ini Chelsea ingin mengtraktirnya. Awalnya Alice menolak karena dia juga membawa uang jajan dari Martin tadi. Ya, meski nilainya hanya cukup untuk beli bakso dan es teh manis saja.
Chelsea tak suka Alice menolak, dia kukuh ingin menggunakan uangnya.
"Alice, lo tinggal sama siapa di sini?" tanya Chelsea usai menyesap lemon tea di depannya.
"Gue tinggal sama Kak Martin. Kakak gue yang tinggal di Jakarta."
"Kak Martin? Martin Richard Prahadie?!"
"Iya. Jadi elo kenal sama Kak Martin?"
"Kenal laah! Kak Martin temannya Kakak gue."
"Ooo ..." Alice manggut-manggut
"Kakak lo siapa namanya? lanjut Alice agak was-was. Dia curiga jika Kakaknya Chelsea adalah Rio, lelaki brengsek yang semalam kurang ajar padanya. Wajahnya sangat antusias menunggu jawaban Chelsea.
"Kakak gue namanya Devan. Devan Adipati Gumilang. Ganteng lho! Nanti gue kenalin sama lo, ya!" jawaban Chelsea membuat Alice lega. Syukurlah, ternyata nama yang di sebutkan Chelsea barusan nggak termasuk nama-nama lelaki yang semalam pesta miras di rumah Martin. Mungkin kakaknya Chelsea itu lelaki baik-baik.
"Kenapa bengong?" suara Chelsea membuat Alice tersentak.
"Enggak. Hm, kita masuk aja, yuk!" ajak Alice.
Chelsea mengangguk dan langsung beranjak dari bangkunya kemudian dia segera merangkul bahu Alice. Mereka mulai berjalan menuju kelas sambil mengobrol seru.
***
Waktu menunjukan pukul dua sore saat Alice sedang berdiri di tepi gerbang sekolahnya. Benar, dia sedang menunggu Martin yang katanya akan menjemputnya. Tapi sepertinya itu bohong karena sudah hampir dua puluh menit lelaki itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Alice!" Terdengar suara Chelsea memanggilnya.
Alice menoleh dan melihat gadis itu di dalam mobil sport warna orange yang menepi di seberang jalan.
Chelsea segera melajukan mobilnya dan menepi di depan Alice.
"Lo belum pulang? Gimana kalo gue yang antar lo pulang?" ajak Chelsea dengan senyuman penuh harap.
Alice masih terdiam, dia bingung. Sebenarnya dia memang tak punya uang lagi untuk menaiki angkutan umum, dan Martin juga belum tentu menjemputnya.
"Ayolah, jangan sungkan."
Chelsea masih setia menunggunya.
Tak ada pilihan, kalau jalan kaki tidak mungkin karena cukup jauh juga. Alice mengangguk sambil tersenyum kemudian segera memasuki mobil Chelsea. Mereka segera berlalu meninggalkan SMA Gumilang High School. Selama perjalanan mereka mengobrol banyak dan merasa sama-sama cocok.
"Makasih, ya. Udah antar gue pulang," ucap Alice saat berdiri di samping mobil Chelsea yang sudah menepi di depan gerbang rumah Martin.
"Santai aja, sekarang 'kan kita temenan." Chelsea tersenyum pada Alice dan langsung melajukan mobilnya.
Alice membalasnya dengan senyuman dan segera memasuki halaman rumah Martin. Dia melihat ada mobil Jeep warna putih terparkir di samping mobil Martin. Jantungnya mulai berdebar kencang. Dia takut Martin mengundang teman-temannya lagi untuk pesta miras.
Alice menutup pintu dari dalam, langkahnya sangat cepat. Dia ingin segera masuk kamarnya. Namun tiba-tiba dia menambrak tubuh yang cukup tinggi sampai-sampai dia terhempas ke lantai.
Aduuh!
Alice memegang pinggangnya dan menanggah pada pemuda yang sedang berdiri di hadapannya kini. Sepertinya lelaki itu yang ditabraknya tadi.
"Kamu nggak apa-apa?" suara yang sangat lembut dengan bibir kemerahan dan sorot mata yang begitu bening. Pemuda itu sangat tampan.
Alice sampai terpukau melihatnya.
"Hei, kok malah bengong begitu?" tanya pemuda itu lagi tampak heran.
Alice segera bangkit dengan matanya yang tak ingin berpaling dari pemuda itu. Pipinya bersemu merah.
"Maaf Kak. Permisi." Alice segera berlalu dengan jantungnya yang berdebar-debar. 'Siapa pemuda tampan itu? Apakah sahabat Kak Martin?' Alice bertanya-tanya dalam hati.
Lelaki itu hanya tersenyum menunjukkan dua lesung pipitnya yang semakin menegaskan letak ketampanan wajahnya.
Lelaki tampan dan kaya raya itu, namanya Devan Adipati Gumilang. Dia adalah kakaknya Celsea dan juga putra pengusaha kaya raya yang sangat disegani di Jakarta.
Devan memang bukan pemuda baik-baik, sangat berbeda dengan wajahnya yang terkesan kalem. Devan sering menyalah-gunakan kekuasaan sang ayah untuk memperdaya seseorang, termasuk Martin yang sudah sering berhutang padanya.
"Heh, Bro! Gue lihat ada cewek cakep di dalam tadi. Siapa sih?" Devan bertanya pada Martin yang sedang duduk sambil menikmati batang rokoknya di teras belakang rumah.
"Adek gue," jawab Martin singkat tanpa menoleh pada lelaki itu.
"Masa? Kok gue baru lihat?" Devan masih ingin membahas tentang gadis yang dilihatnya tadi.
"Do'i tinggal di Bandung dan baru kemarin gue ajak ke sini," jawab Martin masih enggan menoleh pada Devan yang sedang duduk di sampingnya.
Devan tersenyum miring mendengar itu. Entah apa yang ada di otaknya sekarang.
***
Pagi menjelang siang. Hujan kecil tak juga berhenti mengguyur kota Jakarta dari semalam. Alice merasa haus setelah seharian di dalam kamar guna mengerjakan tugas sekolahnya.
Dia berjalan menuju dapur dan mengambil air putih dari dalam kulkas. Rumah kelihatan sepi karena Martin tidak pulang dari semalam. Benar, ini hari minggu, mungkin Martin masih berada di tempat nongkrongnya.
Perut Alice mulai minta diisi, langkahnya terayun menuju dapur. Bibirnya mengulas senyum melihat kompor yang kelihatan sangat bersih padahal sebelumnya tidak ada sentuhan tangan wanita di sini.
Ya, Martin memang cinta kebersihan. Itu yang Alice mulai tahu tentang kakaknya.
Karena hanya ada telur dan mie instan di lemari es, Alice mencoba memasaknya meski dia sebelumnya tak pernah masuk dapur apa lagi memasak mie sendiri.
Benar, dulu hidupnya memang enak. Dia seperti seorang putri raja yang serba dilayani. Tapi sekarang dia harus mandiri karena semuanya sudah berubah. Tidak, dia tak boleh cengeng. Beruntung dia masih memiliki kakak meski Martin tak pernah mengharapkannya.
Alice mulai menyalakan kompor berlahan hingga api kebiruan itu terlihat. Dia kaget sampai loncat karenanya. Astaga, mau membuat mie saja butuh perjuangan. Alice mulai membuka kemasan mie instan-nya. Tapi tiba-tiba ada suara dari luar dan langkah kaki yang menuju dapur. Siapa itu? Apakah Rio? Alice mulai ketakutan dan segera bersembunyi di balik pintu dapur.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Alice mendekap sendok yang sedang dipegangnya di dada. Matanya terpejam sembari berdoa dalam hati. Astaga, jantungnya hampir copot ketakutan.
"Martin ..."
Suara seorang wanita? Alice kaget dan langsung keluar dari balik pintu. Benar, dia melihat seorang wanita sekitar umur 23 tahun sedang berdiri sambil menatapnya heran.
"Hei, kamu siapa?" tanya wanita itu sambil menatap pada Alice.
"Aku Alice, Kak. Adiknya Kak Martin," jawaban Alice membuat wanita itu tersenyum manis padanya
"Wah, kamu Alice Adiknya Martin yang dari Bandung itu, ya?" ucapnya mendekat sambil meraih lengannya. Alice mengangguk sambil tersenyum
"Kamu cantik banget, sih?"
"Makasih, Kak."
"Kenalin, aku Pingkan. Temannya Martin," ucapan wanita itu tampak tersipu.
Alice bisa menebak kalaulah wanita cantik itu adalah pacar Kakaknya.
"Kamu lagi ngapain, sih?" tanya Pingkan sambil menoleh pada kompor yang masih menyala.
"Sebenarnya aku mau bikin mie, tapi aku nggak ngerti gimana caranya." Alice tampak malu-malu sambil menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.
Pingkan tertawa kecil melihat gelagat gadis itu, "Astaga, sini biar Kakak aja yang bikinin. Dasar." Pingkan langsung mulai persiapan dan mengajari Alice cara memasak mie.
"Udah jadi. Kamu makan dulu sana, nanti kena magh lho!" ucapan Pingkan setelah selesai memasak mie membuat Alice merasa menemukan sosok ibu lagi.
Dia tampak terharu sampai memeluk wanita berkulit putih itu dengan erat. Pingkan hanya tersenyum, dia paham betul perasaan Alice, karena dia sudah mendengar cerita Martin selama ini. Alice tidak bersalah tapi kenapa Martin sangat membencinya.
"Lho kok malah nangis?" Pingkan mengusap kedua pipi Alice yang baru saja melepaskan pelukannya.
Gadis itu tersenyum manis padanya.
"Nggak Kak, aku cuma lagi ingat sama Bunda," jawab Alice sambil berusaha menahan tangisnya.
Pingkan tersenyum tipis mendengar ucapan polos gadis itu.