Bab 1

"Jangan pulang, ya, sudah sore. Sebentar lagi kabut akan turun."

"Hahahaha, mana ada kabut di sini, Tante."

Embusan napas panjang.

"Percayalah pada tante, Win. Menginaplah di sini saja malam ini, ya?"

Edwin menggelengkan kepalanya.

"Maaf, Tante, Edwin nggak takut, Insya Allah Edwin akan pulang sekarang saja."

"Edwin ...."

"Ah, Tante ini ada-ada saja. Edwin sudah besar tante. Insya Allah tidak apa-apa. Nanti Edwi telepon kalau sudah sampai kosan, ya?"

Embusan napas kecewa dari wanita setengah baya itu. Wanita itu takut keponakannya, Edwin, tidak akan pernah sampai di kosannya malam ini.

****

Edwin menaiki motornya dengan kecepatan tinggi, karena dia takut kemalaman di jalan. Tadi ketika dia meninggalkan rumah tantenya sudah pukul dua. Tadi, sih, masih terang dan cerah, tetapi saat Edwin mulai menuruni jalan kecil di bukit itu, lama-lama kabut mulai turun perlahan, dan udara yang dingin mulai menyesakkan dada.

Edwin mulai menurunkan kecepatan motornya. Dia mulai bergidik dengan kabut yang sangat tebal di sekelilingnya. Lampu depan motornya sudah dihidupkan, tetapi jarak pandang Edwin paling hanya seratus atau lima puluh meter ke depan, agak sedikit mengkhawatirkan, apalagi kalau mengingat agak banyak kendaraan wisata yang melalui jalan ini. Edwin takut akan diseruduk dari belakang oleh bis atau mobil wisata.

Edwin semakin khawatir. Kabut semakin tebal dan udara terasa semakin sesak. Edwin memutuskan untuk menghentikan motornya sebentar, sekedar untuk mengambil napas saja, Edwin hampir tidak bisa menahan sesak di dadanya.

Edwin mengembuskan napas panjang dan minum sejenak. Kabut itu begitu pekat, seakan bisa mencekiknya. Edwin merasa semakin panik, istirahat pun tidak bisa membuatnya lega, dia merasa semakin tercekam ketakutan, karena kabut itu semakin gelap, seakan melilit tubuhnya.

Tiba-tiba ada sorot lampu yang menembus kabut pekat itu. Edwin hendak berteriak minta tolong, tetapi dia tidak perlu melakukannya, karena ternyata mobil itu berhenti di dekat motor Edwin.

Edwin sangat lega ketika seorang pria keluar dari mobil itu. Pria itu langsung berlari ke arah Edwin.

"Edwin Wijanarka?" tanya pria setengah baya itu dengan napas terengah.

Edwin mengangguk pasrah.

"Ya Allah, Alhamdulillah! Akhirnya ketemu juga. Mas Edwin sudah hilang selama tiga hari, kami semua sudah mencari ke mana-mana. Ayo, kita turun! Motornya ditinggal di sini saja, ya? Ada tim susulan yang akan mengambil motor Mas Edwin," kata pria itu dengan bersemangat.

Edwin mengangguk lega. Dia segera mengikuti pria itu masuk ke dalam mobil yang ada di depan mereka. Pria itu langsung memakaikan masker oksigen kepada Edwin, dan Edwin pun bernapas dengan lega. Dia berbaring dengan penuh kelegaan di bed yang ada di dalam mobil itu.

"Kita akan segera turun!"

"Pegangan, ya?"

"Siap!"

Edwin belum bisa mencerna apa yang dimaksud dengan percakapan itu, sampai kemudian dia merasakan mobil yang ditumpanginya melorot ke bawah, terus ... terus ... dan terus ....

Edwin tidak paham dengan apa yang terjadi, karena dia tidak bisa melihat apa-apa, dia hanya melihat hitam kegelapan dan kabut yang sangat tebal.

****

"Ini foto terakhir Mia dan Rizal. Foto ini diambil sebelum mereka hilang, Ust."

Faiz ikut melihat foto itu.

"Bukankah berkabut? Apa diperbolehkan mendaki?" tanya Faiz.

Prasetya menggelengkan kepalanya.

"Kami tidak memedulikan larangan itu, Ust. Dan akhirnya Mia dan Rizal diculik nenek bungkuk itu .... " Prasetya terdiam dan menunduk.

Faiz miris. Betapa banyak orang-orang yang tidak memedulikan peraturan yang disampaikan para penjaga di setiap pos pendakian. Faiz merasa gemas pada pria di depannya itu.

"Termasuk panjenengan juga ikut mendaki?" tanya Faiz gemas.

Bambang tersenyum.

"Sabar, Mas Faiz. Biar ustadz saja yang tanya," kata Bambang.

Tiba-tiba Prasetya memeluk kaki Bambang, dia menangis tersedu.

"Kami hanya bermain-main, Ust! Kami hanya bermain-main!" seru Prasetya dalam tangisnya.

***

Malam itu rinai gerimis turun di Tintrim. Tintrim yang biasanya panas dan gerah sekarang begitu sejuk.

Annisa membuka pintu rumahnya ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Hafidz turun dan membukakan pintu untuk bapaknya.

Hafidz mencium tangan bapaknya dan ibunya. Annisa tersenyum.

"Mampir dulu, Fidz," kata Annisa.

Hafidz tertawa.

"Halah, ummi, ki, (Halah ibuk, ini,)" kata Hafidz. Annisa tertawa, tetapi kemudian wajahnya berubah agak sedih sedikit.

"Bapakmu gimana, Mas?" tanya Annisa.

Hafidz tersenyum sabar, tetapi Annisa tentu saja tahu bagaimana hati Hafidz, dan menyesal bertanya ketika melihat bulir-bulir air mata itu menetes di pipi anaknya yang pertama.

Annisa memeluk Hafidz.

"Sabar, ya, Nak," bisik Annisa, dia juga ikut menangis.

"Tadi bapak sudah ditalqin abi, Mi," kata Hafidz pelan.

Annisa terkejut sepenuhnya. Matanya membulat tak percaya. Dia melepas pelukannya dan memandang Hafidz lekat, dia juga menoleh kepada Bambang dan ... oh ... Annisa melewatkan air mata suaminya. Annisa beristighfar, dia segera mendekati Bambang. Bambang tersenyum dan mengangguk, sebulir air mata sekarang mengalir di pipinya, tetapi Bambang bisa menguasai dirinya dan tersenyum pada Annisa.

"Hafidz benar, Ndhuk. Tadi aku juga meruqyah Ustadz Setiyadi," jawab Bambang.

Annisa tidak bisa menterjemahkan kata itu. Meruqyah Ustadz Setiyadi? Hampir saja dia mengatakan kalau Bambang bohong, tetapi sepertinya wajah Bambang biasa saja, dan bahkan uraian air mata itu semakin deras saja.

"Pamit dulu, Umm. Yusuf dan Antika di rumah sendirian. Tadi ibuk sama Arini pergi ke kota sebentar," kata Hafidz. Rinaian air mata di mata Hafidz masih selayak gerimis di luar sana. Annisa memgangguk, mereka berpelukan lama dan melepaskan Hafidz pulang ke rumahnya.

Bambang tersenyum pada Annisa ketika Hafidz sudah tidak terlihat lagi. Mereka berpelukan, Annisa menangis haru. Bagaimana tidak, sahabat suaminya, yang juga sangat dikenalnya, sudah hampir mendekati akhir masa hidupnya.

"Ustadz Firman sudah diberitahu, Ust?" tanya Annisa.

Bambang mengangguk.

"Kasihan Antika. Dia masih kecil," kata Bambang. Annisa mengangguk dan memabayangkan Azkiya. Ah, apa jadinya kalau yang akan meninggal itu adalah suaminya.

Bambang tersenyum dan merangkul istrinya.

"Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Allah maha tahu apa yang terbaik untuk kita. Allah sudah menentukan jalan hidup kita sejak empat ribu tahun yang lalu. Tidak boleh khawatir dengan semua kuasa Allah pada kita, Ndhuk," kata Bambang.

Ah, Annisa tak bisa menahan harunya. Biasanya Bambang menasihatinya dengan senyum, tawa atau wajah gemas, sekarang, dia menasihati Annisa dengan deraian air mata, bahkan Bambang berhenti sejenak dan terisak. Annisa tak kuasa menahan air mata. Ah, sedih sekali. Sedih sekali.

Mereka berpelukan lagi. Rasanya kesedihan ini tak kunjung luruh juga, malah semakin memekat dan meraja. Bambang beristighfar berulang kali, mencoba meredam semua rasa yang melingkupi hatinya.

Bambang dan Setiyadi sudah saling mengenal lama sekali. Sepertinya sejak mereka masih kecil. Sejak Sapto Aji masih

terkenal menjadi preman di Tintrim. Dulu sekali sepertinya. Bambang dan Setiyadi selalu mengaji bersama dan kadang bermain bersama, mereka sering mengintip rumah Sapto di Tintrim Tengah. Mereka berdua sama-sama pendiam dan tenang, hampir tidak pernah berkelahi dan lebih memilih membaca daripada bermain di luar.

Ketika SMA, mereka berpisah jalan. Bambang melanjutkan SMA ke Karang Pandan, sementara Setiyadi, yang terhitung lebih tua daripada Bambang, lebih memilih masuk SMA di Ketanggungan. Sore harinya mereka masih selalu mengaji bersama di Tintrim Tengah, sampai Bambang melanjutkan studi ke Arab Saudi dan Setiyadi masuk pesantren di Jawa Timur.

Karir Setiyadi melaju lebih dahulu dibandingkan Bambang. Dia menjadi salah satu di antara para pengajar atau ustadz pertama di Rumah Tahfidz di Tintrim. Dua atau tiga tahun kemudian Bambang masuk ke Rumah Tahfidz dan mencetuskan ide untuk mendirikan pesantren ruqyah di Tintrim. Ide yang membuat Bambang dipilih oleh Bu Nur untuk menggantikan Bu Nur memimpin Rumah Tahfidz kalau Bu Nur meninggal.

Ah, jaman itu. Jaman mereka masih berusia tiga puluhan dan masih menikmati masa muda mereka, mada kegemilangan mereka.

Kemudian datanglah Firman.

Entahlah. Yang pasti Allah lah yang menentukan bahwa secara fisik mereka bertiga hampir sama. Kurus, tinggi, dan berkulit bersih. Ah, Bambang sudah terbiasa dipanggil Setiyadi atau Firman. Demikian pula mereka berdua. Dan itu tidak menjadi masalah bagi mereka bertiga, yang secara diam-diam menjalin persahabatan yang erat, tanpa pernah mengatakannya secara langsung.

Orientasi Firman memang cukup berbeda dengan Bambang. Firman meletup-letup dan tidak sabaran, sementara Bambang --yang sebenarnya juga tidak jauh berbeda dari Firman-- bisa mengemas semua emosinya dengan lebih baik dan apik, sehingga orang akan lebih senang bercerita atau curhat pada Bambang, padahal sebenarnya sama saja, tetapi untuk kasus Bambang, yang tahu letupan emosinya paling hanya Annisa saja. Ah, kasihan juga Annisa, ya?

Qadarullah mereka bertiga juga terlambat menikah, kata orang. Bambang menikah di pertengahan usia tiga puluhan, sementara Setiyadi dan Firman menikah menjelang usia empat puluh. Tetapi, kan, jodoh adalah hak prerogatif Allah, manusia hanya berhak menjalaninya saja.

Bambang berusaha memejamkan matanya malam itu. Dia sudah pindah kamar dua kali dan sekarang dia tidur dengan Azkiya, anak bungsunya yang baru resmi masuk taman kanak-kanak beberapa hari yang lalu, dan usia Bambang sudah masuk pertengahan enam puluh, oh, Azkiya memang selayak cucunya. Dia memeluk Azkiya erat. Pikiran Bambang sangat tidak tenang. Dia beristighfar tanpa henti, tetapi hatinya tak kunjung menemukan ketenangannya.

Bambang memutuskan untuk bangun dan berwudhu saja, dia merasa lelah ketika terus memaksa matanya untuk terpejam. Ketika Bambang hendak membuka pintu, bertepatan dengan Annisa yang membuka pintu, mereka sama-sama terkejut.

Annisa tersenyum dan memberikan HP Bambang kepada Bambang.

"Hafidz," bisik Annisa.

Hati Bambang tenggelam. Dia merasa tahu apa yang akan dikatakan Hafidz padanya.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salaam. Bi, Yusuf ke situ. Dia kuminta menjemput abi," kata Hafidz pendek, jelas dan tegas.

"Kenapa, Fidz?" tanya Bambang, berusaha meredam emosinya sendiri.

"Kami minta tolong abi untuk ke sini, njih, Bi," jawab Hafidz diplomatis.

Bambang mengiyakan dan segera mengakhiri panggilan itu. Matanya begitu pedas menahan emosi. Dia segera keluar kamar dan berwudhu, meninggalkan Annisa dan Azkiya sendirian.

Bab 2

Yusuf meneteskan air matanya. Dia tidak kuasa melihat abinya yang nyaris tak bereaksi apa-apa ketika dokter Nalendra memeriksanya. Dokter yang lembut dan tampan itu tersenyum kepada Dahlia.

"Ustadz dibawa ke rumah sakit saja, ya, Bu?" tanya Nalendra.

Dahlia mengusap air matanya. Antika, anak perempuannya memeluk erat ibunya. Dahlia menggeleng.

"Sejak kemarin ustadz ngendiko (bilang) kalau beliau tidak mau dibawa ke rumah sakit, Pak Dokter. Ustadz ngendiko badhe tilar wonten ndalem mawon, (Ustadz bilang akan meninggal di rumah saja,)" jawab Dahlia. Dia mengelus wajah Setiyadi yang teraba hangat. Setiyadi diam tak bergerak, hanya napasnya saja yang terasa berat, yang menunjukkan bahwa Setiyadi berusaha sekuat tenaga untuk mengambil oksigen ke dalam paru-parunya. Pasti rasanya sakit sekali.

"Ustaz pasti merasakan sakit sekali, Bu, di rumah sakit ustadz bisa diberi obat penghilang rasa sakit, Bu," bujuk Nalendra. Dahlia diam tak menjawab. Dia berulang kali memeluk suaminya.

Demi melihat penderitaan itu Hafidz hampir memaksa ibu mertuanya untuk membawa Setiyadi ke rumah sakit saja. Rasanya Hafidz tidak tega mendengar desah napas bapak mwrtuanya yang begitu berat dan jarang, kadang disertai dengan suara dengusan dan dengkuran. Sepertinya proses mengambil napas itu terasa berat dan sakit sekali.

Arini dan Arina hanya bisa menangis. Mereka berdua sama-sama punya anak kecil. Mereka tidak bisa bergerak bebas ke mana-mana begitu saja. Ilyas sedang ke luar kota, dan sedang dalam perjalanan ke Tintrim dengan orang-orang dari Karang Pandan. Ah, sebentar lagi Hafidz akan bertemu dengan keluarga umminya.

Hafidz mengembuskan napas panjang. Dia mendekati Dahlia.

"Bapak kita bawa ke rumah sakit saja, ya, Bu? Paling tidak kita jadi tahu bapak sakit apa," bujuk Hafidz pelan.

Dahlia menggeleng.

"Bapak tidak mau, Ustadz. Bapak tidak mau disuntik dan diberi obat macam-macam," Dahlia luruh dalam air mata. Arini dan Arina pun memeluk ibu mereka.

Hafidz merasa agak jengkel dan merasa tidak sabar menanti lagi. Dia menelpon abinya, siapa tahu abinya bisa membujuk Dahlia. Tetapi belum lagi Hafidz membuka HPnya, napas Setiyadi semakin pendek, mata Setiyadi mulai membalik perlahan. Mereka semua paham.

Nalendra terlihat agak panik, tetapi segera menguasai diri dan untunglah dia membawa seorang perawat. Nalendra segera meminta semua untuk keluar dan mulai menangani Setiyadi secara serius. Hafidz ikut membantu, dia sedikit banyak tahu bagaimana caranya melakukan CPR dan Nalendra cukup terbantu dengan tindakan Hafidz yang cepat dan tidak banyak basa basi.

Dahlia diperbolehkan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Hafidz sedang menelpon abinya dan Nalendra sedang melakukan CPR pada Setiyadi. Dahlia sangat ingin mendekati suaminya, tetapi dari keseriusan wajah Nalendra, Dahlia tahu dia harus bersabar dulu.

Tiba-tiba Setiyadi terbatuk, dia membuka matanya lebar dan agak kebingungan, nyaris seperti orang yang terbangun dari tidur karena terkejut. Dia terduduk dan melihat berkeliling dengan kebingungan.

Dahlia menjerit, sehingga anak-anak perempuannya masuk ke dalam kamar, dan semua terkejut melihat Setiyadi terduduk dengan wajah memerah. Setiyadi seperti mencari seseorang atau sesuatu.

Dahlia memeluk Setiyadi dengan penuh rasa di dadanya. Dia menangis terisak. Setiyadi paham. Dia juga memeluk istrinya dengan segenap rasa.

"Mana Ustadz Bambang?" tanya Setiyadi pendek. Dahlia menyimpan rasa jengkelnya karena yang ditanyakan suaminya malah sahabatnya dan bukan keluarganya. Dahlia sangat bersyukur dan bahagia Setiyadi sudah seperti semula.

"Sedang dalam perjalanan ke sini, Ustadz," jawab Dahlia. Setiyadi mengangguk.

Dia memeluk Dahlia erat.

"Jangan nangis, ya, Ndhuk," bisik Setiyadi. Dahlia mengangguk tanpa paham benar apa maksud Setiyadi.

Perlahan kondisi Setiyadi kembali seperti tadi. Dia hanya bisa berbaring dengan napas berat, tetapi mata masih terbuka dan dia masih sadar. Dia sama sekali tidak menolak ketika Nalendra memasang infus pada tangannya dan Setiyadi hanya tersenyum ketika Nalendra memberinya obat melalui suntikan di lengannya. Bahkan Setiyadi masih bisa mengelus kepala Dahlia yang kembali menangis di sisi Setiyadi. Mengharukan sekali.

****

Bambang sangat terkejut melihat sahabatnya nampak sudah membuka matanya. Setiyadi begitu bahagia melihat Bambang. Setiyadi duduk dan memeluk Bambang erat. Dia tersenyum.

"Ustadz sudah baikan?" tanya Bambang dengan suara yang sarat emosi.

Setiyadi mengangguk.

"Saya mau bilang sesuatu pada ustadz," bisik Setiyadi dengan suara yang parau dan terdengar menyakitkan.

Bambang mengangguk.

"Ustadz ... ada sesuatu yang hilang ... ada sesuatu yang hilang," bisik Setiyadi.

Bambang berdebar. Dia sama sekali tidak paham apa maksud Setiyadi, tetapi Bambang berusaha memakai logikanya, dia tersenyum.

"Yang hilang apa, Ustadz?" tanya Bambang pelan. Napas Setiyadi terdengar begitu berat. Setiyadi kembali berbaring tak berdaya. Dia menggenggam tangan Bambang. Tangan Setiyadi terasa lembab dan basah.

"Kabut ... hitam ... hitam, Ustadz. Hitam!" seru Setiyadi, "tolong, ya, Ust. Tolong panggilkan Dahlia!"

Bambang menelan ludah, dia mematuhi Setiyadi karena merasa waktu mereka tidak banyak lagi. Bambang menepi dan berdiri di samping Hafidz. Mereka tidak berkata-kata ketika melihat Dahlia menangis dan anak-anak Dahlia pun menangisi kepergian bapaknya.

Ah, Bambang tidak mengerti. Kenapa Setiyadi memberinya alasan untuk tetap mengingat kepergian Setiyadi dengan kebingungan sebesar ini. Bambang menangis terisak di luar kamar Setiyadi.

Mungkin benar kata Setiyadi tadi. Hilang. Bambang telah kehilangan salah satu sahabat terbaik dalam hidupnya.

****

Bab 3

Heni termasuk orang yang memiliki kenangan tersendiri dengan Tintrim. Dulu waktu pertama ke Tintrim, dia baru saja benar-benar menjadi istri Hasan dan dia harus malu dan sangat malu karena terus digoda oleh Fadli. Selain itu Tintrim juga menjadi tempat Heni pertama kali bertemu dengan Bai. Seorang ustadz fenomenal yang meruqyah dengan cara yang berbeda.

Ah, sampai sekarang Heni sangat ingin memiliki suami atau anak seperti Bai. Heni mencebik, selama ini Hasan hanya sama galaknya saja dengan Bai, selebihnya tidak ada yang sama. Heni tertawa sendiri. Dia malah jadi berpikir yang tidak-tidak.

Hasan melirik kepada Heni dengan galak dan kemudian masuk ke dalam rumah Setiyadi dengan Azzam. Heni semakin geli, benar, kan? Hasan itu galak sekali, tidak jauh beda dengan Hasna. Mereka berdua galak sekali, kalau sudah bertengkar mirip benar dengan Faiz dan Faizah.

"Budhe!" teriak seseorang, Heni menoleh dan melihat Faizah yang berlari ke arahnya. Heni senang sekali bertemu dengan keponakannya itu.

"Faizah," sapa Heni. Mereka berpelukan.

"Mana yang lain?" tanya Faizah.

Heni tahu maksud Faizah, dia mencari Faiz. Heni menggelengkan kepalanya.

"Entah. Tadi yang ikhwan langsung masuk ke dalam. Budhe di luar saja, panas, Zah," jawab Heni, "ummimu juga masuk sepertinya."

Mereka berdua menahan tawa. Mereka tahu seperti apa Hasna. Kadang Hasna galak tak terkira, kadang Hasna merajuk dan manja pada Hasan. Ah, Heni tak tega. Dia kasihan melihat Hasna tinggal sendirian di pesantren ruqyah. Dia tidak mau diajak tinggal di rumah Faiz. Alasan Hasna pun sangat mengena.

"Aku ingin meninggal di pesantren," jawab Hasna ringan.

Hasan mendelik kepadanya.

"Bilang seperti itu lagi dan kutampar kamu!" teriak Hasan. Hasna diam saja dan malah menangis.

"Aku ingin meninggal di sini seperti ummi," kata Hasna lagi. Hasan terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi kalau Hasna sudah berbicara tentang Saras --ummi mereka-- dan Galang. Kadang Heni merasa begitu iba kepada mereka berdua. Mereka seperti dua orang anak yang saling memiliki, tidak punya siapa-siapa lagi. Hasan pernah kehilangan Ami dan Hasna kehilangan Galang. Membayangkannya saja membuat Heni meneteskan air mata. Dia sangat iba pada mereka berdua.

Prosesi pemakaman akan segera dimulai. Azzam yang semula ikut Hasan, segera dikembalikan kepada Heni, karena Hasan akan ikut ke makam. Azzam pun mulai menangis karena ingin ikut abinya, Heni yang mulai merasa gerah dan kepananasa pun mulai ikut murka, untung ada Aini, istri Ilyasa, yang mengajak Azzam bermain ke rumahnya. Azzam langsung mau karena Aini menjanjikan ada adik kecil dan juga kolam ikan di rumahnya.

Heni tidak sempat berpesan apa-apa, karena dia melihat seorang wanita yang dikelilingi anak-anaknya sedang melepas kepergian imam keluarga mereka. Ah, Heni ikut menangis melihat kesedihan di wajah wanita itu. Rasanya nelangsa sekali. Wanita itu cantik molek, dengan pipi yang agak tembam sedikit dan kulit yang kuning langsat, mungkin wanita itu sudah tua, tetapi kecantikannya yang klasik tetap melekat di wajahnya. Tetapi sekarang kecantikan itu ternoda oleh kesedihan mendalam pada wajah wanita itu. Sepertinya wanita itu sangat ingin menjerit.

Heni melihat Arini, istri Ilyas, di dekat wanita cantik itu. Ah, dia juga menangis. Kasihan sekali. Dan Heni melihat perut Arini. Oh, hamil lagi nampaknya. Mau tak mau Heni tersenyum juga, dia akan mendapat cucu lagi, seperti Yasna. Ah, dia ingin seperti Yasna, punya banyak cucu.

Prosesi pemakaman itu berjalan lancar. Heni sangat terharu melihat wanita itu menangis tersedu melihat keranda suaminya diberangkatkan ke makam. Heni sangat terharu ketika melihat begitu banyak orang yang mengantarkan Setiyadi ke peristirahatannya yang terakhir. Heni tahu, seseorang itu dicintai atau tidak dilihat dari banyak atau sedikitnya orang yang mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir. Dan sekarang Heni tahu, Setiyadi dicintai begitu banyak orang.

Heni melihat banyak orang. Bahkan Heni melihat Bai. Oh, Bai berjalan bersama dengan seorang pria sepuh yang menangis tersedu ketika ikut mengantarkan jenazah itu. Bai menghibur orang itu.

Ah, Heni ikut menangis melihat betapa banyak ustadz-ustadz terkenal yang ikut mengantarkan Setiyadi ke makamnya. Sedihnya. Rasanya Heni --yang bahkan sama sekali belum mengenal Setiyadi-- merasa tidak ikhlash dengan kepergian ustadz itu. Rasanya kasihan sekali.

Heni melihat Bambang juga menangis, wajahnya basah oleh air mata. Tak heran, Setiyadi, kan asisten Bambang dalam waktu yang cukup lama, mereka pasti sudah saling mengenal satu sama lain dengan sangat dekat.

Sedihnya ....

"Ustadzah Heni?"

Heni mendongak dan melihat Annisa dan Yasna mendekatinya. Mereka berdua nampak habis menangis.

"Mampir ke rumah saya saja, njih, Ust. Sepertinya Mbak Arini dan keluarga belum dapat dikunjungi," kata Annisa. Heni mengangguk dan menyanggupi ajakan Annisa.

"Eh, tapi, tadi Azzam main dengan Aini," kata Heni khawatir.

Annisa tertawa.

"Oalah Ustadz Ilyasa? Rumahnya satu RT dengan saya. Dekat, Ustadzah, jangan khawatir. Monggo ke rumah saya saja sekalian ambil Azzam. Eh, la, tadi Asma mana, to? Katanya mau bareng?" Annisa malah kemudian pergi mencari Asma.

Yasna duduk di samping Heni.

"Panas banget, ya, Hen? Aku paling nggak suka di Tintrim karena panasnya itu, lo!" keluh Yasna. Heni tertawa. Ternyata untuk masalah tidak suka dengan panas, dia tidak sendirian.

"Salma ikut, Mbak?"

Yasna menggeleng.

"Tadi sepertinya di suruh ke pesantren saja sama Ustadz Fiki. Kita tadi sudah berangkat waktu mereka baru sampai," jawab Yasna, tetapi dia keliru, ternyata Salma malah mendekati mereka dan menyalami Yasna dan Heni.

"Astaghfirullah! La kok ikut ke sini?" tanya Yasna keheranan, sekaligus agak panik. Salma tertawa.

"Ada teman Ustadz Fiki yang dari sini, kami diminta menempati rumahnya. Kita ke sana saja, yuk, Buk. Di sini panas sekali," kata Salma.

Heni tertawa, semua mengeluhkan tentang panas, tetapi entah kenapa, sepertinya hari ini memang lebih panas dibandingkan biasanya. Panas sekali.

****

Nurul Ikhlash mendesah. Setiyadi. Nama yang sangat dikenalinya beberapa tahun yang lalu, saat dia dan Karima sedang membina beberapa rumah tahfidz di Ketanggungan dan Gang Manggis.

Nama Setiyadi adalah jaminan kesabaran, kebijakan, keteduhan dan ketenangan. Ah, sayang sekali, ustadz sepuh itu harus dipanggil Allah. Nurul Ikhlash berusaha tidak menangis, mengingat dulu dia selalu berkonsultasi pada Setiyadi tentang masyarakat Ketanggungan, tentang berbagai macam masalah dan halangan dan rintangan yang mereka hadapi. Nurul Ikhlash memejamkan matanya. Sedihnya mengingat itu semua.

Nurul Ikhlash mengingat sambutan hangat Setiyadi. Senyum dan keramahan Setiyadi yang tiada duanya, bahkan menurut Nurul Ikhlash sepertinya Setiyadi termasuk ustadz paling ramah dan paling sabar di Tintrim.

Beberapa orang menyapa dan menyalami Nurul Ikhlash, tetapi tentu saja yang paling ditunggu Nurul Ikhlash adalah bertemu dengan biang ngeyel bermata aneh itu. Ah, rupanya 'trouble maker' itu sudah melihat Nurul Ikhlash terlebih dahulu. Nurul Ikhlash berusaha bersikap tenang dan mendelik ke arah Fiki yang sepertinya akan tertawa kepadanya. Fiki sepertinya paham, dan berpura-pura menyalami dan mencium tangan Nurul Ikhlash dengan takzim.

"Assalamualaikum, sehat, Ustadz?" tanya Fiki menggoda. Nurul Ikhlash diam saja, dia tambah mendelik pada Fiki. Fiki mendongak dan menahan tawanya.

"Wau dipadosi Ustadz Nurul Islam, Ust, (Tadi dicari Ustadz Nurul Islam, Ust,)" lanjut Fiki. Nurul Ikhlash diam saja, dia menjawab dengan dengusan.

"Jangan becanda, Fik!" seru Nurul Ikhlash dalam desisan. Fiki menahan tawanya dan mengangguk. Mereka berpelukan.

"Mana anakmu?"

"Ada di rumah temanku. Aku punya teman akrab dari Tintrim dan aku diminta menempati rumahnya selama kami di sini," jawab Fiki.

"Bohong!"

"Astaghfirullah, Ustadz. Janggan suudzon dulu!" seru Fiki menggoda lagi. Nurul Ikhlash nyaris murka dan hampir saja dia mencubit Fiki agar diam, tetapi wajahnya sudah menggambarkan kegelian. Dia mencondongkan tubuhnya pada Fiki.

"Jangan sampai aku marah, Fik!" desis Nurul Ikhlash.

Mereka berdua tertawa tertahan.

"Setelah bertakziah kita ke rumah temanku saja. Kita buktikan aku bohong apa tidak," kata Fiki serius. Nurul Ikhlash menganggukkan kepalanya.

"Ada makanan? Sepertinya Karima berniat puasa, tetapi katanya dia tadi haidh dan belum sempat membatalkan puasanya," bisik Nurul Ikhlash.

Fiki terdiam sejenak, jiwa tengilnya muncul lagi.

"Mungkin ada. Kita lihat nanti," jawab Fiki menggoda. Nurul Ikhlash terpaksa harus mendelik lagi.

****

Mobil kesekian masuk ke halaman rumah yang luas itu. Fadli keheranan dari mana Fiki bisa mendapatkan pinjaman rumah sebesar ini. Ah, dia jadi curiga.

"Ustadz," sapa beberapa orang pada Fadli, Fadli agak terkejut dan melihat Fiki, Nurul Islam dan Nurul Ikhlash mendatanginya. Masya Allah, ustadz-ustadz muda yang sangat mumpuni dalam ruqyahz sekaligus sangat ngeyel dan keras kepala. Fadli nyaris tertawa membayangkan mereka bertiga saling bertengkar dan kemudian salah satu akan pergi dengan marah, dan dua yang lainnya pun melanjutkan pertengkaran lagi. Ah, mantap sekali, seharusnya mereka hidup jaman Sapto, pasti akan ramai sekali dunia ini.

"Sehat, Ust?"

"Alhamdulillah, sehat, asatidz sekalian. Panjenengan semua juga sehat, kan?"

Mereka bertiga saling mengangguk.

"Monggo ustadz masuk saja, silahkan duduk di dalam. Di sini panas sekali, kan?" kata Fiki.

Mereka semua mengikuti Fiki dan membenarkan perkataan Fiki, di luar memang panas sekali. Panas sekali.

"Ustadz mangertos griya meniko kagungane sinten? (Ustadz tahu rumah ini milik siapa?)" tanya Fadli pada Nurul Islam. Nurul Islam melengak, dia agak terkejut.

"Tidak, Ust. Fiki hanya bilang ini rumah temannya. Saya kurang tahu siapa teman yang dimaksud Fiki," jawab Nurul Islam dengan sangat sabar dan diplomatis, mengingatkan Fadli pada Bambang.

Fadli menganggukkan kepalanya. Dia malah semakin curiga.

Di dalam ramainya luar biasa. Begitu banyak anak-anak dan balita di sana. Rashif dan Aidan menarik-narik tangan Fadli.

"Mbah, di dalam ada kolam renang, lo!"

"Iya, Mbah. Bagus, Mbah! Ayo, lihat, Mbah!"

Fadli tertawa dan akhirnya mengikuti kedua cucunya itu untuk melihat kolam renang yang mereka maksud. Ah, ternyata rumah ini memiliki begitu banyak kamar. Bukan selayak rumah tinggal. Fadli semakin curiga dan dia sangat ingin berbicara dengan Fiki, tetapi rupanya Fiki sedang sibuk di dapur dengan beberapa pria yang tidak dikenali Fadli.

Iqbal dan Naim mendekati Fadli yang duduk di tepi kolam dengan kedua cucunya. Naim tersenyum.

"Ini rumahnya Ustadz Fiki, Pak. Bagus, kan? Mau jadi rumah tahfidz yang kedua di Tintrim. Tadi aku bicara sedikit dengan Haikal dan Habibi," bisik Naim.

Fadli benar-benar melongo mendengar perkataan Naim dan melewatkan adegan Iqbal menceburkan diri ke dalam kolam renang dan berenang dengan Rashif dan Aidan. Mereka berdua tertawa ketika melihat begitu banyak ibu-ibu yang resah karena tingkah laku Iqbal. Iqbal juga tertawa.

"Yang boleh masuk kolam renang yang sudah makan dulu, ya?" teriak Iqbal, membuat kehebohan baru di ruang makan. Fadli tersenyum simpul, ah, Iqbal memang pintar menjadi seorang yang menarik perhatian banyak orang. Fadli tidak memungkiri kharisma Iqbal memang luar biasa.

"Monggo, Pak, minum dulu," kata Fiki.

Fadli mengangguk dan meminta Fiki duduk di sampingnya. Fiki tersenyum, dia tahu Fadli akan mengajak bicara mengenai rumah ini.

"Kalau ustadz ingin bertanya tentang rumah ini, ya, ini adalah rumah saya, Ust. Insya Allah akan saya gunakan untuk rumah tahfidz khusus Ikhwan. Rumah tahfidz yang dulu juga akan direnovasi dan digunakan sebagai rumah tahfidz khusus akhwat ...."

"Semua biaya renovasi ditanggung oleh Ustadz Fiki, kan?" potong Naim sambil tersenyum penuh makna, semua mata memandang ke arah Naim dan kemudian Fiki. Fiki merona dan tertawa.

"Astaghfirullah, Mas Naim. Biayanya tidak seberapa. Bukan apa-apa, kok," jawab Fiki dan langsung mengalihkan pembicaraan ke masalah yang lain. Fadli paham, dia tahu Fiki malu dan tidak terlalu berkenan ketika semua yang dilakukannya diberitahukan kepada orang lain.

Fadli hanya heran, kenapa Fiki tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah orang yang sebegitu kaya dan sebegitu dermawannya. Ah, Fadli merasa tidak mengenali menantunya sendiri.

"Jadi saya sering izin ke Tintrim untuk berkonsultasi dengan Ustadz Bambang dan Ustadz Setiyadi, Ust. Beberapa bulan terakhir saya selalu ke Tintrim dan menanyakan kira-kira apa uang dibutuhkan atau dipersiapkan untuk membuat rumah tahfidz atau pesantren," kata Fiki, "dari situlah saya mengenal Ustadz Setiyadi lebih dekat. Ah, beliau sosok yang sangat sabar dan bijaksana. Salah satu nasihat beliau yang selalu saya ingat adalah bahwa kalau hendak melakukan suatu kebaikan, lebih baik kita simpan dulu dan tidak usah kita sebarluaskan ...." Fiki terdiam, dia terlihat merenung.

"Ustadz Setiyadi membina banyak rumah tahfidz di sekitar sini sampai Ketanggungan, dan tidak banyak yang tahu tentang hal itu, orang-orang hanya tahu kalau sampai sepuh pun Ustaz Setiyadi masih tetap meruqyah ke mana-mana, padahal selain meruqyah, beliau juga menengok rumah tahfidz yang beliau bina, untuk melihat perkembangan dan kemajuannya, juga untuk menanyakan masalah atau hal yang menghalangi perkembangan rumah tahfidz itu. Ah, setahu saya, Ustadz Setiyadi adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan penuh dengan kasih sayang," kata Fiki, air mata membayang di pelupuk matanya. Nurul Islam menepuk-menepuk bahu Fiki.

"Beliau memang pemimpin yang luar biasa," bisik Nurul Islam. Semua menyetujui pendapat Nurul Islam itu.

****

Fiki tahu dia berhutang penjelasan kepada bapak mertuanya, sehingga dia menyempatkan diri berduaan dengan Fadli dan menjelaskan semuanya.

"Sebenarnya saya sudah akan memberitahu bapak tentang hal ini cukup lama, tetapi Salma bilang, lebih baik bapak diberitahu setelah semua selesai saja, soalnya nanti bapak akan jadi cemas dan ikut memikirkan semuanya," kata Fiki.

Fadli tersenyum geli.

"Betul sekali, Ust. Biasanya saya selalu membagi masalah saya kepada Yasna. Kalau saya tahu hal ini, pastilah Yasna juga tahu dan dramanya akan dimulai, Ust," jawab Fadli. Mereka berdua tertawa.

"Kami berdua sama-sama histeris. Saya akan berteriak dan dia akan menangis. Penonton drama kami adalah Pak Sapto, beliau penikmat drama kami. Beliau tidak seperti orang lain yang akan mengingatkan kami, " kata Fadli, dia tertawa. Fiki tersenyum sopan, dia takut kalau tertawa dianggap anak yang tidak sopan.

Fadli memgusap air matanya.

"Saya tidak bisa berkata banyak, Ustadz. Saya hanya menyampaikan beribu rasa terima kasih saya pada ustadz sudah berpikir jauh ke depan, sangat jauh ke depan. Jazakallah sudah membuat saya sangat bangga dan bahagia, semoga apa yang dilakukan Ustadz Fiki menjadi amal jariyah Ustadz Fiki," kata Fadli, dia menangis dan memeluk Fiki.

Fiki juga menangis, walaupun hanya sedikit, tetapi dia tidak tega melihat bapak mertuanya menangis haru.

"Semoga apa yang diajarkan Ustadz Setiyadi pada ustadz menjadi amal jariyah bagi beliau, karena dengan nasihat beliau, Ustadz Fiki menjadi berbuat begitu banyak kebaikan," bisik Fadli. Fiki mengangguk takzim, dia mencium tangan Fadli untuk sekali lagi meminta doa restu pada Fadli atas semua yang akan dilakukannya.

****

Dia juga ikut melayat ke rumah ustadz yang meninggal itu. Bahkan dia juga ikut ke makam untuk mengantarkan ustadz penyabar itu ke rumahnya yang terakhir di dunia ini.

Ya, dia ikut karena selain dia adalah tetangga Setiyadi, dia juga melihat keadaan. Dia melihat seperti apa teman-teman Setiyadi yang telah sedikit mengacaukan tapa bratanya kemarin, dan dengan satu jentikan jari, dia berhasil membawa Setiyadi kembali ke alam baka.

Dia tertawa dan kemudian menyembah asap hitam yang membubung di depannya. Asap hitam hasil pembakaran menyan khusus. Dia tertawa. Kesukaan peliharaannya adalah asap hitam. Pokoknya semua yang serba hitam.

****

Bambang dan Firman duduk berdua di teras rumah Bambang setelah pemakaman Setiyadi tadi siang.

"Apa ada pesan sebelum Ustadz Setiyadi meninggal, Ust?" tanya Firman.

Bambang memgerjapkan matanya. Dia lupa tentang pesan Setiyadi padanya, karena saking sedihnya Bambang.

Bambang mengangguk dan menceritakan bisikan Setiyadi padanya malam itu. Mereka berdua berpandangan.

"Apa kiranya maksud Ustadz Setiyadi, ya, Ust?" tanya Firman mereka berpandangan dan saling menggeleng. Jelasnya mereka berdua tidak ada yang tahu.

****

Joyo Kartiko namanya. Dia sebenarnya secara resmi bukan dukun, tetapi dia bisa berkomunikasi dengan mahluk halus, bisa menjadi pawang hujan, bisa ditanyai nomor togel yang akan keluar besok, bisa mengetahui jenis kelamin janin di kandungan, dan seribu satu kemampuan Joyo Kartiko yang lain, yang akhirnya membuat Joyo Kartiko diangkat menjadi dukun jadi-jadian.

Joyo Kartiko sama sekali tidak memusingkan orang-orang yang datang kepadanya untuk minta bantuan, minta petunjuk, minta wangsit, dia tidak peduli. Yang dipedulikan Joyo Kartiko hanya satu, yaitu anak laki-lakinya.

Anak itu tidak bisa diajak kerja sama.

Joyo Kartiko sangat mengharapkan anaknya akan menggantikannya kelak, sehingga Joyo Kartiko mulai mengajarkan ilmu-ilmunya pada anaknya, tetapi anak lelakinya itu sama sekali tidak peduli. Ketika disuruh tapa berendam, anak itu malah pergi dengan teman-temannya entah ke mana, ketika disuruh tapa pendem, sekali lagi sang anak malah pergi entah ke mana. Disuruh begini malah begitu, disuruh begitu malah begini. Dan Joyo Kartiko tak sabar lagi.

Dia berulang kali menghajar, menyeret, mencambuki dan menyiksa anaknya di dalam rumah maupun di depan teman-temannya, agar anaknya menurut padanya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, anaknya malah semakin memjauhinya.

Joyo Kartiko kehabisan cara. Dia mengeluh panjang. Dia merasa lelah.

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

HITAM

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED