Bab 1

Di satu malam yang kelam, semilir angin menggoyangkan dahan pepohonan, gesekan dedaunan mengeluarkan suara yang khas, remang cahaya bulan diiringi suara burung hantu yang bertengger di dahan pohon itu.

Dari sebuah rumah, di sebuah pedesaan terpencil, berdekatan dengan rumpun bambu terdengar teriakan seorang gadis, menjerit, memekik, menahan sakit.

"Ampuuun, Ibu, jangan, sakit—" Begitulah samar-samar terdengar rintihan gadis itu.

Semakin larut dan gelap sendu malam, semakin terdengar jelas hingga kejauhan jeritan tangis itu. Sudah bukan menjadi hal tabu, bagi warga sekitar. Warga pun seakan tak mau tahu lagi.

*

“Sial!” gerutu gadis yang sedang asyik di depan layar laptopnya.

Lantas, gadis berkuncir kuda itu, membenarkan kacamata yang melorot.

“Kenapa otak aku tumpul sekali, mentok terus.” Lagi, dia bermonolog.

Tak lama kemudian dengan mata yang masih terpaku pada layar laptop gadis yang mengenakan kaos oblong longgar itu meraih cangkir yang ada di meja, dia mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Nahas, kopi di dalamnya telah tandas, dan membuatnya semakin kesal.

“Astaga, gini amat nasibku,” rutuknya, lantas mengembuskan napas berat.

Gadis bermata bulat dengan manik cokelat muda itu meletakkan kembali cangkirnya, kemudian mengusap wajah dengan kasar. Tak lama kemudian, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tempatnya tinggal.

Manik mata itu, tiba-tiba membesar menyadari kekacauan yang entah telah berapa lama dia buat. Sampah-sampah berserakan, lantai berdebu, bau tidak sedap pun begitu memenuhi ruangan tersebut.

“Apa!?” teriaknya seraya beranjak dari duduk.

“Astaga Mecca, udah berapa lama kamu mati sebenarnya?” umpatnya pada diri.

Dia masih terkesima melihat ruang tempatnya tinggal sudah seperti tempat pembuangan akhir dari satu komplek selama satu minggu. Tak ingin membiarkan kekacauan itu terus berlanjut, Mecca pun hendak membersihkan semuanya.

Dia mulai dari membuka gorden dan jendela, agar udara baru menggantikan udara lama yang telah terperangkap di ruangannya. Saat cahaya matahari menembus kaca jendela, merambat lalu kemudian mengenai wajah pucat itu, dengan spontan telapak tangannya menjadi perisai untuk menghalangi rasa silau yang dirasakan.

“Waaah, ternyata dunia masih berputar pada porosnya,” decaknya, senyum simpul pun terulas dari bibirnya yang tipis.

Sejenak dia berdiri di tepi jendela, kebetulan kamarnya berada di lantai atas sebuah rusun. Mecca menghirup udara segar yang menerobos bebas ke lubang pernapasannya. Hal itu seakan membuat dia merasa mendapatkan energi baru setelah beberapa waktu mengurung diri.

Setelah itu, Mecca mencoba merogoh ponsel yang ada di saku celana jogger yang dikenakan. Lantas, dia mengaktifkannya. Setelah itu, Mecca meletakkan ponselnya di nakas dekat jendela. Sementara dia beranjak dan berniat untuk membersihkan kamarnya itu.

Bilah notifikasi pada ponsel Mecca terus menyala dan menampakkan beberapa pemberitahuan, baik pesan maupun hal lainnya. Banyak orang yang mencarinya, terutama sebuah kontak yang bernamakan Boy, puluhan pesan yang dikirim runtun selama beberapa hari terakhir ini.

Macca masih tak mengacuhkan ponselnya, gadis yang penampilannya sudah tidak karuan itu begitu fokus pada sesi bersih-bersih, dan membereskan kekacauan di kamarnya.

Hingga setelah seharian pertempurannya dengan sampah. Kini, ruangan itu layak disebut sebagai kamar tidur.

“Fyuh,” lenguhnya, seraya tersenyum simpul.

“Akhirnya!” Gadis itu tampak lega, lantas dia meraih handuk dan bergegas ke kamar mandi.

“Sudah berapa lama aku tidak mandi, ya? Badanku sampai bau sampah.” Lagi-lagi dia bermonolog.

“Ini, apa? Shampo? Conditioner? Ini makenya yang mana dulu? Duh, sampe lupa.”

Mecca pun memilih untuk menggunakan shampo saja, lantas dia mulai membasuh seluruh tubuh dengan air yang mengalir dari shower, setelah seluruh tubuhnya basah dia mencoba meraih shampo yang ada di rak di sudut kamar mandi tanpa menoleh. Namun, tiba-tiba saja botol shampo itu tidak dapat diraihnya. Ternyata tidak ada botol apa pun di atas rak itu. Tanpa dia sadari botol-botol tersebut sudah berpindah tempat dengan sendirinya.

Mecca menoleh dan menyadari kejanggalan itu, tetapi dia memilih untuk acuh tak acuh dan tidak mau ambil pusing. Hingga dia pun menyelesaikan ritual membersihkan diri tanpa basa-basi lagi.

Drt! Drt!

Saat Mecca keluar dari kamar mandi, terdengar getar pada ponselnya, kali ini dia mencoba mengacuhkan dan menghampiri nakas tempat menyimpan ponsel tersebut.

“Sudah kuduga, Boy," desisnya.

Tak lama kemudian, dia membawa ponselnya ke arah tempat tidur. Mecca pun menelepon balik Boy, lalu menghempaskan badannya ke kasur dengan menempelkan benda pipih itu di telinga.

Sesaat setelah panggilannya dijawab, Mecca berucap, “Hei, Boy! Kau merindukanku?”

“Hei, Bodoh! Berhentilah membuat orang khawatir, kau ini selalu begitu, setiap menulis kau melupakan segalanya!" umpat seseorang bernama Boy di seberang telepon.

“Hahaha!” Mecca tergelak, mendengar kemarahan Boy.

“Dasar gadis gila!” umpat Boy sekali lagi.

“Berhentilah, memarahiku, kamu cerewet banget, seperti nenek-nenek,” ledek Mecca.

“Sudahi saja novelmu itu, atau kau akan benar-benar gila dibuatnya!” tukas Boy di seberang sana.

“Baiklah, baiklah, aku mengerti.” Tidak ingin berdebat lagi, Mecca pun memilih mengiakan apa yang dikatakan Boy.

“Tidak, kau tidak mengerti, aku yang harus selalu ngertiin kamu.” Sekali lagi Boy meluapkan kekesalannya.

“Aish, ya udah, besok jemput aku, kita ketemu, oke!” ucap Mecca.

Setelah ucapan itu Mecca pun memilih menyudahi percakapannya, karena tidak ingin terus menerus mendengarkan umpatan Boy. Lalu, untuk mengisi kekosongan dalam otaknya dia mencoba membaca berita-berita di internet. Beberapa hari ini, Mecca memang hanya fokus pada dunianya.

Ketika dia menulis, dia akan pergi dari dunia nyata. Memilih mengurung diri di kamar dan mematikan ponsel, fokusnya benar-benar tersita. Hingga dia akan lupa merawat diri sendiri, seperti kali ini. Akan tetapi, saat dia mulai kehilangan ide, dia akan kembali menjadi manusia biasa yang hidup normal. Hanya Boy yang mengerti kebiasaannya itu.

Saat asyik membaca berita-berita faktual minggu ini, fokusnya tertarik pada sebuah judul berita yang mengabarkan kematian seorang jurnalis di desa terpencil yang ada di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Mecca membacanya dengan saksama, hingga rasa penasaran pun menghampiri.

Ketika dia sedang fokus pada layar ponselnya, tanpa dia sadari sesosok bayangan hitam mengawasinya dari sudut kamar.

Brugh!

Sejurus kemudian pintu kamar mandi terbuka dan tertutup kembali dengan sendirinya. Lagi-lagi, Mecca tak mengindahkan dan masih fokus pada layar ponselnya.

“Mereka terlalu dekat hingga kita mengabaikan. Padahal, bisa saja mereka peduli atau mungkin ingin mencelakai.”

*

Setelah beberapa saat memikirkan tentang berita tersebut, Mecca memilih untuk beristirahat. Dia mengingat janjinya untuk bertemu Boy esok hari. Tepat sesaat sebelum mata Mecca terpejam sempurna. Bayang hitam itu kembali keluar dengan menembus pintu kamar mandi dan perlahan menghampiri Mecca yang sedang terbaring.

Bayang hitam itu duduk di tepi ranjang dan menatap lekat ke arah wajah gadis manis tersebut. Dengan mata yang hendak terpejam, Mecca seolah mampu melihat sosok tersebut.

Seulas senyum terukir, lantas dia bergumam, “Micail, maafkan aku ....”

Mecca pun terlelap, sosok hitam itu pun lenyap.

Bab 2

Tok! Tok! Tok!

“Ca, bangun, ini aku, Boy!” teriak pria berbadan atletis di balik pintu.

“Mecca! Ca! Mecca! Kamu enggak mati 'kan?” Boy berteriak kembali.

Sudah cukup lama Boy berada di depan pintu kamar Mecca, tetapi belum mendapatkan jawaban dari dalam sana. Bahkan, sempat Boy ditegur oleh salah satu tetangga Mecca, sebab dia begitu berisik dan mengganggu.

“Astaga, jauh-jauh datang ke sini, yang disamperin malah molor,” gerundel Boy Kesal.

Mendapati dirinya seperti orang setengah waras yang terus menggedor pintu tanpa mendapat jawaban, Boy pun memilih menyerah, lalu dia duduk di depan pintu kamar Mecca dan menyandarkan punggung lebar itu pada daun pintu yang masih tertutup rapat.

“Belum puas kamu ngerjain aku, Ca? Bukankah ini keterlaluan?” gerutu Boy, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba membangunkan Mecca dengan panggilan telepon.

Setelah beberapa kali pria berlesung mata itu melakukan panggilan. Terdengar langkah malas yang diseret di lantai di ruangan tujuh kali lima meter persegi tersebut.

Ceklek!

Suara kunci dibuka dari dalam, gagang pintu pun ditarik Mecca sekuat tenaga. Tanpa dia sadari, hal tersebut membuat Boy yang sedang bersandar di daun pintu terjengkang. Sontak hal tersebut membuat Boy semakin kesal.

“Aish! Enggak bisa, ya, kalau gak bikin masalah?” Seraya bangkit Boy mengomeli Mecca.

Dengan polos Mecca mengucek mata yang masih lengket dan seolah enggan terbuka itu.

“Kenapa kamu rebahan di lantai? Apa perjalanannya cukup melelahkan?” tanya Mecca, tanpa merasa berdosa.

“Waaah, lihat si biang kerok ini, pertanyaan macam apa yang dilontarkannya,” omel Boy.

Boy pun menerobos masuk dan mencari sesuatu untuk diminum. Lagi-lagi dia kecewa saat membuka lemari es mini yang ada di kamar itu, ternyata kosong. Hanya gumpalan bunga es yang sudah lama tidak dibersihkan.

“Yang benar saja? Manusia macam apa kamu ini, Ca?” cercanya.

“Berhentilah menggerutu, kau benar-benar seperti kakek tua, Boy!” protes Mecca seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.

Sejurus kemudian, gadis bermata bulat itu kembali menghempaskan diri ke kasur dan membungkus tubuh dengan selimut.

Melihat tingkah sahabatnya, Boy pun hanya bisa menghela napas panjang beberapa kali. Dia benar-benar tidak habis pikir. Gadis itu menjadi hancur. Seolah tidak memiliki semangat hidup. Hingga membuat keadaannya berantakan.

Tak tinggal diam, Boy pun memilih untuk keluar dan pergi berbelanja. Namun, sesaat sebelum dia keluar, pria tampan itu menyempatkan diri untuk melihat wajah Mecca yang saat ini sudah tertidur pulas kembali.

Boy duduk di tepi ranjang, kemudian membenarkan selimut Mecca. Lalu, dia menatap Mecca lekat-lekat. Terdengar dengkuran halus dari gadis itu. Boy terlihat sangat menikmati pemandangan di depannya. Hingga sekelebat bayangan tiba-tiba melintas, yang membuat fokusnya terbagi.

“Siapa di sana?” Boy yang merasakan kehadiran seseorang selain dirinya dan Mecca pun mencoba mencari tahu.

Boy mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu. Akan tetapi, tidak didapatinya siapa pun. Terlebih ruangan itu kecil, mustahil seseorang untuk bersembunyi di tempat itu.

Prang!

Tiba-tiba sebuah bingkai poto jatuh ke lantai. Sontak hal itu membuat Boy merasa kaget. Gegas dia menghampiri benda yang terjatuh itu. Berharap di menemukan seseorang. Namun, sayang, Boy tidak menemukan siapa-siapa. Herannya, Mecca sama sekali tak terganggu. Padahal, suara itu cukup kencang.

Boy mengambil bingkai yang terjatuh itu. Dilihatnya poto tersebut. Ternyata itu poto Mecca dan adiknya Micail. Lebih tepatnya saudara kembar. Micail telah wafat tiga tahun yang lalu, hal itulah yang membuat Mecca hidup berantakan seperti ini.

“Jika memang itu kamu, katakanlah pada Mecca agar bisa hidup normal seperti dulu, jelaskanlah jika semua itu bukan salahnya,” gumam Boy, seraya memindai seluruh ruangan seolah mencari seseorang.

Boy meletakkan kembali bingkai itu, lalu membereskan pecahan kaca yang berserakan. Tak lama setelah itu, Boy pun melakukan rencananya yang sempat tertunda. Namun, sebelumnya Boy pun memeriksa semua kebutuhan Mecca yang telah habis. Setelah itu, Boy mengunci pintu dari luar dan membawa kunci agar tak kesulitan untuk masuk lagi.

Boy pergi berbelanja bahan makanan dan kebutuhan lainnya di toserba terdekat. Akan tetapi, pikirannya terus melayang jauh. Hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang dengan troli yang sedang didorongnya.

“Aw, hati-hati, dong! Jalan kok sambil melamun!” bentak seseorang yang Boy tabrak.

“Maaf, Mbak, gak sengaja!” sesal Boy.

“Untung kamu cakep, kalau enggak, aku mau minta ganti rugi,” rengek si gadis yang tertabrak itu.

“Maaf, Mbak, sekali lagi, saya nyesel,” ucap Boy, benar-benar penuh penyesalan.

Tanpa menimpali ucapan Boy, gadis itu pun berlalu begitu saja. Boy pun pergi menuju kasir untuk membayar.

Sejurus kemudian, saat dia mengantre di kasir. Dia melihat sosok seorang pemuda berlumuran darah, dengan kemeja planel kotak merah dan berpadu hitam tepat di sebelahnya. Boy pun termangu.

“Ka–Ka–mu–”

Boy masih menatap kaget ke arah pria misterius yang berlumuran darah itu. Perasaannya mengatakan, sosok itu tidak asing. Akan tetapi, Boy tidak mampu mengingatnya.

Mata itu semakin menatap tajam ke arah Boy, lalu pria berwajah hancur itu menyeringai menampakkan deretan gigi yang penuh dengan darah.

Boy semakin terpaku, dia mencoba berteriak, tetapi lidahnya kelu, bibir pun membeku. Bahkan, sulit rasanya untuk memalingkan pandangan dari tatapan si pria berwajah hancur itu. Keringat dingin mulai membasahi pelipis pria berahang tegas tersebut.

“Lindungi Mecca, lindungi Mecca, lindungi Mecca,” gumam pria berlumuran darah itu.

Sontak Boy tersentak mendengar ucapan si pria yang masih belum Boy ingat. Saat Boy tersita oleh rasa heran tentang ucapan itu. Pria itu menghilang begitu saja. Tentu saja hal itu membuat Boy celingukan dan mencari keberadaan pria itu, untuk menanyakan maksud dari ucapannya.

Namun, niatnya terhalang oleh seseorang yang mengantre di belakangnya. Sejak tadi Boy hanya melongo tidak jelas dan membuat orang-orang dalam antrean itu merasa kesal. Menyadari diri telah membuat keributan, Boy pun meminta maaf. Lantas, bergegas menuju kasir yang telah kosong sejak beberapa saat tadi.

Terlihat sesekali Boy pun masih kehilangan fokusnya dan memikirkan ucapan pria itu. Untuk mengobati rasa penasaran Boy pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada kasir di hadapannya.

“Mbak, maaf, Mbak lihat pria yang penuh darah, enggak? Tadi dia berdiri di sini," tanya Boy sedikit ragu seraya menunjuk tempat pria tadi berdiri.

“Enggak, Mas,” jawab si kasir sekenanya.

“Oh, gitu, ya, emh, anu–" Boy masih penasaran.

“Apa, Mas?” sela si kasir.

“Di sini ada cctv kan, Mbak? Kalo saya lihat, boleh enggak, ya?” pinta Boy dengan ragu.

“Silakan Mas bicara sama atasan saya saja, ya, karena saya cuma kasir,” jawab perempuan muda yang masih fokus menghitung belanjaan milik Boy.

Boy menemui petugas keamanan setelah selesai membayar, lalu dia diantar untuk menemui atasan yang dimaksud si kasir. Kini, dia sampai di sebuah ruang sempit di bagian terdalam toserba. Di sana ada seorang pria paruh baya yang tengah sibuk dengan berkas di meja kerjanya.

“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” sapanya pada Boy.

“ Begini, Pak, apa boleh saya melihat cctv?” ucap Boy.

“Memangnya ada masalah apa? Apa Mas ini kehilangan sesuatu?” selidik pri paruh baya itu.

“Tidak, tapi saya harus memastikan sesuatu, Pak,” tutur Boy.

“Bisa dijelaskan, apa yang akan dipastikan tersebut?” Ternyata untuk menlihat rekaman tersebut begitu sulit.

“Begini, tadi saya lihat seseorang yang enggak dilihat orang lain. Dia benar-benar nyata, tapi sayangnya enggak ada yang percaya sama saya. Jadi, saya hanya ingin membuktikan keberadaan orang tersebut dari cctv,” jelas Boy.

“Maaf, Mas, cctv itu kamera keamanan, bukan untuk main-main!” tegas si pria menolak permintaan Boy.

Boy merengek dan memohon, tetapi pria itu justru menganggap Boy aneh dan meminta petugas keamanan yang mengantarnya untuk membawa Boy dan menyuruhnya pulang. Boy menolak dan bersikeras. Namun, tak berhasil, dia tidak bisa menonton rekaman itu.

“Sial!” umpatnya.

*

Bab 3

Mecca kali ini sudah terbangun, dia celingukan menyadari Boy sudah tidak ada di kamarnya. Beberapa kali Mecca memanggil Boy untuk memastikan.

“Boy! Boy! Kamu pulang?” teriak Mecca.

Menyadari tidak mendapat jawaban, Mecca pun menyimpulkan jika Boy telah kembali ke rumahnya. Tak mau mengambil pusing, gadis berambut hitam panjang itu memilih untuk membersihkan diri. Kali ini mandinya berlangsung cepat dan tak mengalami gangguan apa pun.

Mecca kemudian duduk di depan meja tempatnya menulis. Merasa diri sudah cukup mendapatkan energi, Mecca berusaha meneruskan tulisannya. Namun, kali ini dia tidak mampu mengetik kata apa pun. Dia benar-benar kehilangan ide untuk menulis.

“Aish!” desis Mecca seraya mengacak rambutnya yang memang belum disisir.

Lalu dia menoleh ke arah lain, dilihatnya bingkai poto yang sudah tanpa kaca itu. Dia menatap beberapa saat potret diri dan Micail. Cukup lama dia dalam posisi seperti itu, seolah sedang menerawang sesuatu yang begitu jauh dalam pikirannya. Sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Boy kembali.

“Ca!” tegur Boy.

Mecca tersentak, kemudian menjawab, “Boy?”

"Hmm, udah sadar kamu?” ledek Boy, seraya meletakkan belanjaan di meja.

“Kapan kamu datang?” Tanpa menjawab pertanyaan Boy, Mecca balik bertanya.

“Mikirin apa sih kamu? Dari tadi aku panggil-panggil, gak denger? Gimana kalo yang masuk itu maling?” gerutu Boy.

”Hehehe.” Mecca terkekeh, “aku hanya sedang ingat seseorang,” lanjut Mecca.

“Micail? Sudah dong, jangan terus begitu, biarin dia tenang,” ucap Boy seraya menghampiri Mecca dengan dua cangkir sereal instan.

“Kamu tahu sendiri, bagaimana keadaan keluargaku setelah kematiannya,” keluh Mecca.

Boy duduk di dekat Mecca dan menyodorkan satu cangkir sereal rasa kacang hijau kesukaan Mecca, lalu berkata, “Aku tahu pasti, Ca. Hidupmu jadi begini juga, karena itu 'kan? Tapi ... apa kamu yakin Micail tenang melihat saudarinya menyiksa diri seperti ini?”

Mecca meraih cangkir putih dengan gambar hati berwarna pink, lalu menyeruput sereal tersebut.

“Aku enggak berhak bahagia, itu yang ibuku katakan. Jadi, mana mungkin aku bisa bahagia, Boy,” seloroh Mecca.

“Selalu seperti ini, aku rindu Mecca yang dulu, tau gak sih!” protes Boy.

“Anggap saja dia udah mati, Boy,” celetuk Mecca.

Sontak jawaban itu membuat Boy kesal, “Ca, aku paham loh, orang tua itu gak boleh dilawan, tapi enggak harus membenarkan semua yang mereka bilang, kamu bukan pembunuh, Ca. Itu hanya sebuah tragedi.”

Mecca membisu seolah tak memiliki kata untuk membantah atau menyetujui pernyataan dari Boy.

“Kumohon, berhenti menyalahkan diri,” pinta Boy.

Mecca tetap membisu, dan masih tidak memiliki kata untuk menjawab Boy.

“Ca,” lirih Boy seraya menggenggam jemari Mecca.

Sontak Mecca menoleh ke arah Boy, menatap Boy lekat-lekat, senyum getir pun terukir.

“Hanya saja, semua kejadian berawal dari aku yang mengajak dia ke tempat itu,” ucap Mecca dengan nada tertahan, dan begitu berat.

Mata bermanik cokelat muda itu mengembun, menahan luapan air yang sebentar lagi akan menetes.

"Nangis aja, jika emang itu masih terasa berat,” ucap Boy seraya mengeratkan genggamannya.

Mendengar hal tersebut, Mecca justru memalingkan pandangannya dari Boy, lantas dia menarik jemarinya yang sedari tadi digenggam.

“Ah, maafkan aku, jadi emosional seperti ini,” elak Mecca.

Boy menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya kasar. Pandangannya masih lekat pada gadis di hadapannya. Boy benar-benar ingin Mecca kembali seperti dulu, tetapi dia tidak bisa berbuat apa pun.

“Lindungi Mecca,”

Saat Boy termenung memikirkan Mecca, bisikan itu kembali terdengar. Ucapan dari pria berlumuran darah tersebut mengusiknya dan membuat pria berahang tegas itu terperanjat.

”Kenapa Boy?”

“Boy!”

Mecca merasa sedikit khawatir karena tatapan Boy tiba-tiba menjadi kosong dan kehilangan fokus.

“Ca!"

“Ya, ya, kenapa?” tanya Mecca khawatir.

Mecca menggeserkan kursi yang diduduki ke arah Boy, lantas menatapnya dengan saksama.

“Aku kayak denger bisikan halus gitu, suaranya jelas banget, tapi aku gak tahu itu suara siapa,” terang Boy.

Pupil matanya membesar, serta berfokus pada Mecca lekat-lekat.

“Bisikan apa maksud kamu?” Mecca keherananan.

“Ya, kayak suara-suara asing gitu, tapi suara itu nyuruh aku lindungin kamu, apa aku punya indera ke enam, ya?” jelas Boy.

”Hahaha.” Sontak tawa Mecca pecah, dia mengira ucapan Boy adalah sebuah lelucon.

“Ca, aku serius!” sentak Boy.

“Jangan ngaco kamu, aku saja yang hobi nulis horor gak pernah ngerasain hal-hal aneh,” ledek Mecca.

Mendengar kata-kata Mecca, Boy sedikit menyesal telah berusaha memberi tahukan semua hal aneh yang terjadi padanya hari ini.

“Mungkin kamunya aja yang kurang peka, Ca. Padahal, selama ini mereka ada di sekitar kamu, makanya kamu gak waras,” gerundel Boy.

Lalu dia beringsut dari duduk dan dengan kasar mendorong kursi dengan kaki bagian belakangnya. Dia hendak meninggalkan Mecca yang masih termangu di hadapannya tersebut.

Sesaat sebelum Boy melangkah, Mecca memanggilnya, “Boy!”

Dengan malas Boy pun menoleh.

Mecca menatap Boy penuh keheranan, lalu bertanya, “Apa kamu serius? Tadi itu bukan bercanda?”

“Memangnya aku terlihat sedang bercanda?” Bukannya menjawab Boy justru membalikkan pertanyaan dengan sedikit tekanan pada suaranya.

Mecca termenung beberapa saat, menyadari sahabatnya tampak tidak baik-baik saja, dengan raut wajah masam yang tampak jelas. Mecca pun memilih berpaling dari tatapan tajam Boy yang seolah menghunus ke dalam jantungnya.

“Baiklah, aku minta maaf,” sesalnya.

Rasa bersalah pun menghantui hingga membuat suasana semakin kikuk. Boy yang terlanjur kesal memilih untuk duduk di sofa dekat jendela untuk menghabiskan sereal.

“Selalu saja seperti ini, kapan sih kamu mau ngertiin aku, Ca?” keluh Boy.

Mecca terperangah, gadis yang mengenakan kaus oblong kedodoran itu sejak tadi terpaku pada kesalahan dan penyesalannya. Lantas, kini pertanyaan yang dilontarkan Boy semakin membuatnya tidak tahu harus berkata apa. Napas berat beberapa kali terdengar dihembuskan. Tatapan sendu yang seolah sedang meratapi nasib terlihat jelas dari gadis berkulit kuning langsat itu.

Pandangan Boy yang tadinya menatap langit di balik jendela yang begitu cerah, teralihkan pada bingkai poto yang pecah pagi tadi. Lagi-lagi bingkai poto itu selalu berhasil menyita fokusnya.

“Ca, bukankah Micail sudah tenang di sana?” celetuk Boy.

Lagi-lagi pertanyaan Boy yang tidak terduga itu membuat Mecca kebingungan untuk menjawab.

“Jawab, Ca! Kamu masih manusia, kan? Bukan patung?” protes Boy yang mendapati diri bagai diabaikan.

Mecca yang sedikit merasa tertekan pun, balik bertanya, “Kenapa kamu tiba-tiba bahas Micail?”

“Kalau ada orang nanya itu, dijawab dulu, jangan malah balik nanya, itu gak beretika,” sindir Boy.

Mecca mendengkus, semakin kesal saja oleh kata-kata tajam dari Boy. Dia mendelik ke arah Boy, sinar laser dari kedua bola mata bulat itu seolah terpancar dan menembak tepat pada mata Boy.

“Oke baiklah, Micail mungkin tenang, atau dia masih gentayangan nyari siapa yang bunuh dia,” jawab Mecca sekenanya.

“Bukan pembunuh yang bikin dia gentayangan, tapi kamu yang belum menerima kepergian dia, yang selalu nyari tahu informasi-informasi gak jelas. Kamu mau ke Kuningan, kan? Mau pergi ke desa terkutuk itu? Buat cari penyebab kematian Micail? Iya, kan?” cecar Boy.

Mecca terdiam, mendapati niatnya sudah terbaca oleh Boy—orang yang sudah pasti menentang niatnya itu.

“Ca, ayoklah cukup orang tuamu yang menyalahkan semua itu padamu, jangan sakiti dirimu juga, dengan terus menggali sebuah tragedi, lagipula polisi kan sudah menyatakan kesimpulan penyelidikan, kalo Micail itu meninggal karena kecelakaan jatuh dari tebing,” ungkap Boy.

Kali ini wajah muram berpindah pada gadis cantik itu, dia menggaruk kepala yang tidak gatal kemudian mengusap wajah dengan kasar. Tiba-tiba tangannya menjadi gemetar karena menahan emosi, Mecca menggoyangkan kedua paha yang masih bertumpu di kursi kayu di depan meja kerjanya. Semakin lama getaran kaki semakin cepat, napas Mecca pun memburu seolah kehilangan jiwanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED