Auman suara binatang buas itu tampak sangat menakutkan. Di tengah sejuknya udara kota Cina, sangat berbanding berbalik dengan sebuah ruangan besar di salah satu bangunan di sana. Dalam ruangan itu, seorang Pria tampan menatap wanita yang sujud di kakinya. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi kecuali kedinginan yang mendalam. Mata kelamnya bahkan mampu menusukkan ribuan jarum runcing. Membuat semua mata tertekan hingga jurang terdalam. Di sisi kanannya, binatang peliharaannya, Serigala putih tinggi yang bersih, duduk bersimpuh dengan auman yang mematikan. Matanya menatap nikmat pada hidangan yang akan ia dapatkan. Membuat semua orang, menahan napas berat dalam atmosfer udara yang tertekan.
Di sisi kirinya, seorang wanita cantik dengan kecantikan yang tak terkalahkan. Tersenyum puas dengan pemandangan di depan matanya. Ia bahkan sama sekali tak memiliki rasa iba, membuat keadaan kian runyam dengan senyum lembut di balik wajah cantiknya. Keanggunan yang memikat di padu dengan kelembutan yang kuat, membuat gadis ini benar-benar cantik mempesona.
"Kau benar-benar tak berperasaan, Kak. Bagaimana kau bisa membuat malu keluarga Rexton dan menghianati Suamimu sendiri," bujuknya sedih, dengan nada manja yang lembut menggoda. Membuat pria yang duduk di sampingnya mengeras karena mendengar kata-katanya.
"Bagaimana aku menyampaikan ini semua. Bagaimana kita keluarga? Sedangkan kau dan aku sangat berbeda? Aku bahkan tak menyangka kau melakukan ini semua," tambahnya membuat keadaan kian tak terkendalikan.
Wanita yang bersimpuh itu menggeleng kuat. Tangisnya pecah dengan mata sayu yang menatap ampunan pada pria yang duduk di depannya. "Ken, aku tak melakukan itu semua. Aku tak benar-benar menghianatimu. Lexsi bahkan ada di sana. Benar, Lexsi katakan sesuatu. Kau melihat semuanya," ucapnya lelah.
Wanita di samping pria itu tersenyum lembut. "Kak, apa yang kau katakan? Aku tengah belanja bersama Ibu saat kejadianmu. Bagaimana mungkin aku berada di sana bersamamu?"
Kiltan putus asa terlihat jelas di wanita yang bersimpuh. Tidak, ia sangat ingat, bahwa adik perempuannya lah yang mengajaknya menghadiri pesta itu. Pesta besar yang berakhir ia tak sadarkan diri lalu berakhir di dalam sebuah hotel dengan lima lelaki tak di kenal. Ia hancur, bagaikan gelas kaca yang remuk. Dan hal yang tak dapat ia mengerti, adiknya, Lexsi, tak mengakui itu semua. Apa yang terjadi?
"Le-lexsi," ucapnya bingung. Matanya menatap pria dk hadapannya. "Kenzie, sungguh. Aku ingat semuanya, aku--"
Sudut bibir pria itu melengkung. Menatap wanita di bawah kakinya. "Kau kotor dan menjijkkan!"
Mendengar jawaban ini, sudah meremukkan hatinya. Tapi ia tak berharap, bahwa pengampunan itu tak akan ia dapatkan.
"Lakukan sesuai perintahku. Aku tak ingin melihatnya lagi!"
Ucapan itu tanda terakhir yang bisa di dengar. Kenzie bangkit lalu berlalu. Tak menoleh sedikitpun meski tangis wanita di kakinya menggema.
"Berhentilah menangis. Kenzie tak akan menatapmu, Ellina! Kini selesai sudah semuanya. Aku akan menggantikan posisimu, menjadi Nyonya Reegan yang sesungguhnya. Tentu, karena aku juga telah lelah bersama Aaric!"
Sebuah kenyataan bagaikan petir yang menyambar. Ia di jebak, oleh adiknya sendiri. Bahkan keluarganya telah memutuskan surat pengadopsi untuk dirinya. Ia di buang! Ke dasar jurang tak berujung. Setelah semua yang telah ia berikan dengan seluruh kebaikan dan ketulusan, sama sekali tak membuat hidupnya bahagia.
Menjadi anak pungut di keluarga Rexton, ia telah melakukan semua hal yang terbaik agar semua orang menyayanginya. Namun sejak kelahiran Lexsi, semua keadaan berbeda. Ia harus menyerah dengan semua hal-hal yang ia sukai, selalu tersisih dan melakukan semua hal atas nama adiknya. Ia bertahan cukup lama dengan semuanya, termasuk menggantikan pertunangan dan pernihakan dengan Tuan Muda dari keluarga Reegan. Meninggalkan kuliahnya dan belajar menjadi calon istri yang sempurna. Setidaknya itulah yang di katakan Ibunya, namun siapa yang tahu, bahwa Ibunya melakukan itu agar Ellina menjauh dari kekasihnya, Aaric Leighton Blade, Tuan Muda dari keluarga Blade.
Kini semua terlihat jelas di matanya. Semua telah di rencanakan. Tapi kenapa?
"Kenapa?" tanya Ellina lirih tak dapat mengendalikan rasa terkejutnya. "Kenapa kalian melakukan semua ini padaku?"
Lexsi tersenyum tipis mendengar perkataan lembut itu. Ia menunduk dan berbisik. "Karena aku ingin menjadi satu-satunya. Siapa yang menyangka kau akan mempercayai kami semua. Bahkan suamimu sendiri tak peduli dan akan membunuhmu. Bukankah itu akhir yang sangat bagus untukmu, Cinderella?"
Tubuh Ellina membeku sebelum ia bisa mencerna semuanya. Semua ini telah di rencakan. Dan semua keluarga mendukungnya. Hal-hal ini semakin mudah karena Suaminya selama ini tak pernah menatap atau peduli padanya. Tapi bukan berarti ia bisa lari dengan mudah. Ia adalah Kenzie. Kenzie Alexis Reegan, Ceo muda tampan yang sangat sempurna. Di gilai banyak wanita namun terkenal dingin dan tak berperasaan. Tak ada yang tahu bahwa mereka telah menikah. Semua pernikahan di atur antara dua keluarga secara diam-diam. Dan Ellina menyetujui itu. Tanpa tahu, ia selalu berusaha keras untuk menjadi wanita idaman Kenzie. Tentu saja, dengan semua informasi palsu yang Lexsi berikan, membuat hubungan rumah tangganya tak membaik tapi jauh lebih buruk.
"Selesai. Lepaskan!"
Ucapan dingin Kenzie terdengar di ambang pintu dengan langkah Lexsi yang kian menjauh. Sudut matanya terbuka lebar saat melihat raut takut Ellina. Rasa puas terlihat jelas di wajahnya. Namun semua niat buruknya, di bungkus dalam wajah cantik nan lembut. Siapa yang menduga, gadis cantik itu tak seindah yang di lihat. Penuh trik dan licik.
"Kenzie ... Kenzie ... Kenzie ...!"
Teriakan Ellina menggema dengan tubuh berlari cepat menuju pintu yang perlahan tertutup. Serigala putih itu baru saja di lepas tepat setelah mereka semua meninggalkan ruangan. Auman kelaparan itu membuat seluruh gedung bergetar, seakan melenyapkan kota dengan satu bidikan.
Berlari dan mencoba menyelamatkan diri. Itu adalah usaha yang sia-sia. Ellina tak memiliki jalan keluarnya. Ia mencoba semuanya, sebelum serigala itu kian mendekat. Dengan tetesan air liur yang menetes ke lantai. Menatapnya penuh minat dengan auman rendah yang mengerikan. Ia tak bisa bergerak, terlalu takut untuk pindah, hingga kesakitan luar biasa itu menyengat seluruh inderanya.
Darah mulai tercecer saat kaki kanannya mulai di terkam. Ia menyumpah dengan seluruh kata terbaik di dunia, berharap keajaiban akan datang menyelamatkannya. Namun ternyata rasa sakit itu kian terasa. Menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan mata sayu, ia menatap mata tajam serigala tersebut. Sebelum akhirnya perutnya koyak dengan seluruh organ tercecer di mana-mana. Kesadarannya hilang, dalam rasa sakit yang luar biasa. Menyambut gelapnya dunia dalam rasa sesal seumur hidupnya. Merobek setiap ingatannya dalam potongan-potongan kecil yang menyakitkan. Dan hatinya tak dapat menerima itu semua.
Aku tak bisa mati seperni ini! Tidak! Itu tak adil. Aku tak bisa mati dalam keadaan seperti ini sedangkan mereka bahagia!
Udara terasa sesak dalam gelap tak berujung. Rasa sakit yang nyata itu melumpuhkan setiap inderanya namun meningkatkan semua ingatannya. Setiap kesalahan, setiap perbuatan, dan setiap ia menuruti semuanya. Bukan bahagia yang ia dapatkan. Tapi luka dalam tak berujung. Terasa perih dan semakin perih saat ia menelan getir itu semua.
Dalam kegelapan itu, Ellina meringkuk memegang perutnya yang sakit. Sakit itu luar biasa. Bayangan auman serigala itu masih terasa. Seluruh darah dan tubuhnya tercecer tanpa sisa. Dan serigala itu melahapnya. Tanpa sisa!
Sedangkan suaminya tak kebaratan dengan itu semua. Hanya punggung dingin yang selalu berlalu dalam ingatannya. Lalu saudara angkatnya, dan kedua orangtua angkanya, juga telah merencanakan itu semua. Sebenarnya sejak kapan? Hingga akhirnya ia bisa melihat kekasihnya sendiri menghianatinya. Lalu berakhir dia menggantikan pertunangan dan pernihakan adiknya.
Semua tak adil!
Itu adalah pikiran yang selalu terpatri di hatinya. Ruangan itu kian terasa sesak. Tubuhnya menegang hebat dengan peluh deras di dahinya. Sebuah sentakan ingatan di mana para lelaki suruhan adiknya itu menyentuh tubuhnya terasa menjijikkan. Menodainya tanpa ampun hingga berujung kematian untuk nasipnya. Kematian yang tak layak meski ia memohon untuk bebas.
"Kau kotor dan menjijkkan!"
Lalu ucapan Kenzie selalu terngiang. Sejak lima tahun pernikahan mereka, ia sama sekali tak mendapat tempat di hati Kenzie. Lelaki itu terlalu dingin hingga tak pernah sekalipun menatapnya atau menyentuhnya. Dan semua hal yang ia lakukan sia-sia. Semua hal hingga merubahnya menjadi image dewasa yang liar karena kata Lexsi dan ibunya lelaki menyukai tipe yang seperti itu. Lalu ia dengan bodohnya menuruti semuanya. Memakai make up tebal hingga menyembunyikan warna asli kecantikannya. Berpakaian serba ketat dan sangat pendek untuk menarik perhatian. Dan hal yang ia terima adalah punggung berlalu dengan rasa jijik tak terkira dari suaminya.
Kini ia sadar. Ia terlalu bodoh!
"Ahkkkk ...!" teriaknya frustasi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ingatan itu terlalu menyakitkan. Dan rasa sakit koyakan di perutnya itu terlalu perih.
Matanya terbuka lebar saat sebuah tangan menyentuh pergelangan tangannya. Lalu suara lembut itu terasa familiar.
"Kakak, kau baik-baik saja? Kak, kau mimpi buruk?"
Mata Ellina terbuka lebar dengan tangan meremas perutnya kuat. Ruangan itu terasa akrab di matanya. Lalu wajah khawatir di hadapan terlihat begitu palsu. Matanya menatap lurus ke langit kamar lalu beralih pada wajah khawatir Lexsi. Ia mencoba duduk dan memegang keningnya. Itu nyata! Lalu beralih oada cubitan tangan di pipi dan kakinya. Itu benar-benar nyata.
Aku masih hidup! Aku di lahirkan kembali!
Raut bahagia tak terkira dari rasa sakit yang tersisa menguap di udara. Ellina menahan gejolak di hatinya dengan rasa bahagia tak terkira.
"Kak, kau baik-baik saja? Apakah kau mimpi buruk lagi?"
Kini tatapan Ellina jatuh pada wajah cantik di hadapannya. Wajah lembut dengan kata-kata manis menggoda itu telah meracuni pikirannya sejak lama. Dan ia tertipu! Alih-alih menjawab perkataan Lexsi, ia lebih memilih menanyakan hal lain.
"Tanggal dan tahun berapa sekarang?"
Lexsi menautkan alisnya pada pertanyaan Ellina. Ia tersenyum lembut dan tertawa tipis. "Tahun xxxx dan tanggal x di bulan x,"
Mata Ellina berbinar. Ia di lahirkan kembali. Ia di lahirkan kembali dalam waktu 7 tahun kebelakang. Ia bergegas turun dan berlari untuk menatap wajahnya di cermin. Itu adalah dia. Dengan piyama dan make up tebal yang belum terhapus. Namun ia masih bisa merasakan, betapa halus kulitnya saat ini. Dan penyesalan datang kemudian.
"Kak, ada apa? Kau bertingkah sangat aneh,"
Ellina menoleh. Menatap manik mata adiknya lekat. Bagaimana mungkin ia tak menyadari itu semua. Kepalsuan itu. Senyum bias itu. Bukankah ia telah hidup terlalu bodoh!
"Aku baik-baik saja," jawabnya dingin dengan kilatan kebencian di mata. Bagaimama aku baik-baik saja saat kau menipu dan menghancurkan hidupku. Kau jahat, Lexsi. Kau jahat!
Senyum lembut menyapa. Dan entah kenapa Ellina muak dengan senyum itu. "Kalau begitu baguslah. Jangan lupa untuk pertemuan keluarga sore ini dengan keluarga Reegan. Seluruh pakaian akan aku kirim dengan kualitas terbaik siang ini. Kakak harus memakainya."
Ada kilatan dingin di mata Ellina saat mendengar itu semua. Benar inilah yang di lakukan Lexsi pada masa lalu. Selalu mendukungnya dan memberi pakaian menjijkkan yang merubah citranya. Dan dia dengan polos menganggap itu perhatian dari kasih sayang keluarga padanya. Sungguh sangat palsu.
Ellina tak menjawab dan hanya mengangguk. Ia tak akan tertipu dua kali. Tidak, dalam kehidupan ke dua yang telah Tuhan berikan ini, dia tak akan menyia-nyiakan hidupnya. Ia tak akan jatuh pada lubang yang sama. Lalu kilatan benci yang mendalam dengan rasa muak menguar.
"Kak, kenapa kau menatapku seperti itu?"
Ada nada sedih dalam ucapan adiknya. Ellina tersenyum tipis dan mencoba menguasai amarahnya. Kau benar-benar memiliki akting yang bagus dengan wajah dan kata-kata lembutmu, Adikku! Tapi aku tak akan tertipu.
"Terimakasih atas perhatianmu," jawab Ellina dengan binar bahagia di matanya. Tentu saja, itu palsu.
Wajah Lexsi yang sempat curiga dan merasa aneh kembali normal. Ini sungguh di luar pikirannya saat Ellina terlihat berpikir akan ucapannya. Biasanya kakaknya yang bodoh itu akan sangat antusias pada kata 'Reegan dan pakaian terbaik' saat ia mengucapkam itu semua. Tapi kali ini ada yang berbeda. Kakaknya terlihat dingin. Dan aneh! Dengan pertanyaan tanggal dan tahun saat pertama bangun. Lalu sikap dinginnya. Ia bisa merasakan itu semua. Tapi Lexsi lebih suka memendamnya.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku."
Ellina mengangguk dengan keputusan itu. Ia bahkan tak bisa berlama-lama lagi bersama adiknya. Ia merasa akan muntah atau maju untuk menampar wajah cantiknya. Tidak, ia tak bisa melakukan itu. Jika tak ingin semuanya kacau.
Ellina terduduk lemas saat pintu kamarnya tertutup dengan sosok Lexsi yang berlalu. Ia memandang wajahnya sekali lagi di kaca. Tersenyum lega dan bahagia. Tuhan benar-benar memenuhi permintaannya dan kehidupan kedua datang untuk menyelamatkannya. Dalam kehidupan ini, ia berjanji akan merubah nasip dan takdirnya. Ia tak akan menuruti atau jatuh pada lubang yang sama.
Tidak! Aku tak sebodoh itu sekarang!
***
Siang ini Ellina mengurung dirinya di dalam kamar. Semua kepalsuan keluarganya kini terlihat jelas di matanya. Tidak, jika ia tak pernah mati sebelumnya dan mengetahui itu semua, apakah ia akan lebih sadar akan sekitarnya. Merasa sangat tak berdaya akan kebodohannya di masa lalu itu membuat tubuhnya diliputi kebencian yang mendalam.
Tidak, ia tak bisa terus seperti ini. Di kehidupan sebelumnya, ia dengan rela meninggalkan kuliahnya demi menjalani semua hal yang di butuhkan untuk menjadi seorang istri yang pantas bagi Kenzie. Terlepas dari itu semua tak ada sesuatu pun yang ia dapatkan. Kecuali kebencian dan punggung dingin suaminya. Jika dari awal ia tahu, bahwa semua usahanya akan sia-sia. Ia tak akan melakukan semua itu. Bahkan meninggalkan semua hal yang ia sukai demi pria dingin tak berperasaan sepertinya.
Saat wajah pria itu terbayang, tubuhnya bergetar takut. Secara naluri, bayangan hewan peliharaan suaminya itu tak terlupakan. Saat kakinya di terkam lalu kuku-kuku tajam itu mengoyakkan perutnya. Sakitnya luar biasa. Bahkan perutnya nyeri membayangkan itu semua. Dan mulai hari ini, ia mengambil langkah. Untuk menjauhi pria itu. Akan berusaha sekuat tenaga untuk membatalkan pertunangan apalagi pernikahan yang menyiksa. Ia harus lari. Lari jauh agar takdirnya tak berputar di titik yang sama.
Ia membuka lemarinya dan memilih beberapa pakaian. Hari ini ia memiliki kelas kuliah. Di masa lalu, ia dengan bodohnya tak memperhatikan semua nilai. Hanya mengikuti tren mode dan membeli semua make up mahal yang bahkan tak cocok untuk kulitnya. Semua membuat nilainya turun hingga medapat gelar monster buruk rupa. Sungguh, wajahnya yang penuh dengan make up tebal di nilai bagai noda di kelas jurusan komputer yang ia ambil. Meski begitu, dulu dengan tak tahu malunya ia tetap tersenyum pada dunia. Percaya akan kata-kata Lexsi yang mengatakan mereka semua iri dengan kecantikannya.
Keningnya mengernyit saat menyadari tak satupun pakaian santai untuk umurnya yang masih 20 tahun. Semua pakaian yang ia miliki sungguh membuatnya miris. Betapa bodohnya ia dahulu. Begitu mempercayai adiknya hingga menguras semua tabungan untuk membeli seluruh pakaian tak bermoral. Ia pasti sudah gila karena menyukai pakaian seperti itu.
Pilihannya jatuh pada sebuah gaun putih tulang dengan print bunga sakura yang jatuh di atas lututnya. Itu tak buruk untuk kulitnya. Di usianya yang masih 20 tahun, kulitnya masih halus meski ia telah menggunakan berbagai perawatan berat yang tak cocok untuk usianya. Ia memakai itu dengan segera. Lalu menatap cermin dan duduk di sana berlama-lama.
"Berkat Tuhan karena memberiku satu kehidupan lagi. Aku tak akan menyiakan kesempatan kali ini."
Dengan cepat ia membubuhkan semua make up tebal pada wajahnya. Menyembunyikan kecantikan alaminya dengan make up berat yang sangat mengerikan. Lalu mengambil sebuah wig rambut dengan warna coklat terang. Ia harus bermain dengan baik di kehidupan ini. Ia tak akan membiarkan satu orang pun curiga akan perubahan hidupnya.
Ia melangkah turun dari kamar. Di sambut senyum Lexsi yang familiar. "Kak, mari berangkat bersama."
Ellina tertegun. Dirinya yang dahulu akan dengan sangat cepat mengangguk ajakan adikknya. Lalu perbandingan wajahnya akan terasa nyata saat mereka turun dari mobil yang sama. Bagaikan itik cantik dan buruk rupa. Itu lah perbandingan antara dirinya dan Lexsi. Ia yang dulu tak menghiraukan itu semua. Tapi ia yang sekarang, akan berpikir dua kali. Ia tak akan jatuh pada lubang yang sama.
"Aku akan mengantarmu ke universitas dahulu lalu akan memilihkan baju untuk pertemuanmu nanti."
"Pertemuan?"
Lexsi mengangguk. "Kakak, ada apa denganmu? Jangan bilang kau lupa pada pertemuan keluarga sore ini. Kali ini kau akan bertunangan dengan Tuan Muda keluarga Reegan."
Hatinya teriris saat nama Reegan itu kembali di sebutkan. "Bisakah kita membatalkannya?"
Wajah Lexsi berubah pias. "Ap-apa? Kenapa? Bukannya kau dengan sukarela menggantikanku? Kak, aku tahu ini permintaanku yang tak tahu malu. Tapi aku akan membalas kebaikanmu seumur hidupku."
Kata-kata lembut dengan nada penuh manja dan tatapan yang menggemaskan itu. Telah menipunya berkali-kali di kehidupan sebelumnya. Ia ingat saat itu. Tak ada yang pernah bertemu dengan Kenzie Alexis Reegan sebelumnya. Hingga malam pernikahan itu. Awalnya Lexsi dan seluruh keluarganya, berpikir Kenzie pria dewasa cabul yang gendut dan bodoh. Hingga beraninya menginginkan Lexsi sebagai tunangannya. Hingga akhirnya keluarganya menawarkan dirinya sebagai pertukaran. Dan keluarga Reegan tak keberatan demi berlangsungnya persahabatan keluarga yang telah lama terjalin.
"Kak, apa kau benar-benar tak ingin menggantikanku? Kudengar ia sangat menyukaimu. Aku akan--"
"Baiklah. Baiklah. Hentikan. Aku akan menyetujuinya," potong Ellina. Ia muak melihat ekspresi itu. Senyum sinisnya terukir sesaat. Sangat menyukaiku? Dari mana kau tahu saat tak ada satu orangpun pernah bertemu dengannya? Jika dia sangat menyukaiku, kenapa aku mati di bawah hewan peliharaannya?
"Kau memang kakakku yang terbaik."
Sebuah pelukan membuat tubuh Ellina kaku. Ia dengan cepat mendorong tubuh Lexsi. Lexsi cukup terkejut akan perlakuan Ellina.
"Kak, apa yang salah? Kau sangat aneh dari semalam."
Bagaimana aku bisa bersikap sama saat kutahu kau penyebab pertama aku mati. Kau tak mengharapkan aku menjilat kakimu sampai mati kan?
Ellina menggeleng dan mencoba bersikap seperti biasanya. "Tidak. Kurasa aku akan telat."
"Baiklah, ayo bergegas."
***
Hyroniemus university terlihat jelas di depan sana. Ellina turun dan melambaikan tangannya saat mobil Lexsi pergi meninggalkannya. Mereka berada dalam universitas yang sama tapi jurusan yang berbeda. Jika ia mengambil IT maka Lexsi mengambil design fashion. Itu terlihat jelas pada gaya Lexsi yang selalu update dan fashionible. Meski begitu ia sangat bersyukur akan satu hal. Setidaknya mereka berada di satu universitas terbaik yang bergengsi di negara ini.
Jika di masa lalu ia meninggalkan kuliahnya demi Kenzie. Di masa ini ia bertekad untuk mempelajari dan melakukan hal-hal yang ia sukai. Ia sangat ingat, saat kejadian pesta yang membawa kabar buruk itu tersebar. Orangtuanya memutuskan surat adopsinya dan membuangnya. Ia tak memiliki satu sen pun tabungan untuk memulai hidupnya. Juga tak memiliki sertifikat kelulusan hingga tak dapat menemukan pekerjaan yang layak. Lalu berakhir menjadi santapan serigala putih yang menakutkan.
Ia menggeleng dan mulai melangkah. Mulai hari ini ia memutuskan untuk melakukan semua hal terbaik dalam hidupnya. Setidaknya itu yang harus ia lakukan jika ingin hidup layak saat orang tua membuangnya. Ia harus mendapatkan pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya. Jadi meski pernikahan itu batal, ia tetap akan bisa bertahan hidup.
Ruangan itu tampak ramai lalu sepi saat ia melangkah. Bisikan ejekan itu terdengar jelas di telinganya. Di masa lalu ia sangat terbiasa akan hal ini. Dan di masa ini pun itu bukan masalah besar. Ia duduk di bangku belakang. Menatap teman sebangkunya yang terlihat asik dengan laptopnya.
"Kau datang lebih awal?" sapa Nero saat Ellina baru saja duduk.
Ellina mengangguk. Nero adalah satu-satunya orang yang biasa berbicara padanya di dalam kelas. Selain itu, semua orang menjauhinya karena malu. Ia adalah kecacatan dalam jurusan IT.
Riuk keramaian kembali terdengar keras saat wajah-wajah tampan berdiri di ambang pintu. Itu adalah Alvian Raitrama D. R. dan Lykaios Canuto dari keluarga Canuto. Dua pangeran tampan ini sudah menjadi idola sejak lama. Tak ada yang mengetahui nama keluarga Alvian. Karena ia tak pernah mencantumkan kepanjangan namanya.
Lykaios duduk di bangku depan saat Alvian maju di depan kelas dan menepuk-nepukkan tangannya agar suasana tenang. Ia tersenyum semangat lalu menghidupkan laptopnya.
"Semuanya dengar. Aku telah menciptakan pertahan baru untuk keamanan akses universitas kita. Aku bertaruh tak ada satu orangpun di sini yang dapat meretasnya."
Decakan kagum itu terdengar riuh. Namun mata Ellina berkelip minat. Di masa lalu ia sangat ingat, bahwa kemampuan komputernya sangat luar biasa. Namun karena kebodohan perjodohan keluarga itu semua hancur. Kali ini ia tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Benarkah?" jawab Ellina dengan senyum remeh. "Bagaimana jika salah seorang dari kita dapat meretasnya?"
Seluruh tatapan mengarah ke Ellina. Senyum mengejek itu tercetak jelas di setiap wajah.
"Hei, kau kecacatan kelas. Diam saja jika sudah bodoh dan tak tahu apa yang kami bicarakan."
Itu adalah suara Ariella Aldercy. Sang dewi kecantikan dari jurusan IT. Menyandang gelar gadis tercantik setelah Lexsi Larissa, adiknya.
"Mengapa kami memiliki monster hidup sepertimu di jurusan kami?"
"Ahkkk, sangat memalukan."
"Aku bahkan tak bisa berpikir saat menatap wajahnya. Sangat mengerikan!"
Itu adalah suara Valerie dan antek-anteknya. Mereka adalah pengikut Ariella yang sejati.
Mendengar itu Ellina tersenyum tipis. "Bagaimana jika salah satu dari kita dapat meretasnya?" ulangnya menatap Alvian di depan sana.
Wajah Alvian mengeras. Ia menatap Ellina sekilas. "Kupastikan tak akan ada yang dapat meretasnya. Ini adalah pertahanan tingkat tinggi."
Mendengar itu minat Ellina kian bangkit. "Ayo bertaruh." ajunya memecahkan keterkejutan. "Tentu, satu universitas boleh mengikuti ini jika mampu."
"Bertaruh?" Lykaios menatap minat. "Tak buruk. Itu dapat di coba. Jika ada yang dapat melebihi IQ Alvian dalam membobol pertahanan ini, maka aku akan bertaruh pada laptopku untuk pemenangnya."
Suara riuh itu kembali gaduh. Itu adalah laptop sang Pangeran. Sudah pasti dalam mode versi terbaru dan kecepatan yang luar biasa.
Ellina tersenyum senang. Bagus, ia tak memiliki laptop baru sekarang. Laptopnya sangat usang. Dan seluruh tabungannya tak bersisa untuk membeli laptop baru yang layak. "Menarik. Aku akan menerimanya."
Kilatan kesal terlintas di mata Alvian. "Lalu jika kau kalah, apa yang kau taruhkan?"
Ellina diam. Ia tak nemiliki apa-apa sekarang. Bukankah hidup ini masih tak adil meski ia telah hidup dua kali?
"Apa yang kau minta?"
Mesku begitu, Ellina tak gentar sama sekali. Suaranya terdengar tenang, ia sangat yakin kemampuannya belum berkurang. Meski ia tak pernah menyentuhkan jarinya pada keyboard tujuh tahun lalu. Tapi ia butuh perubahan sekarang. Di masa depan ia akan butuh pekerjaan. Dan ini bisa menjadi latihan untuknya.
Tatapan menjijikkan pada kata-kata Ellina mengundang api dalam benci. Seluruh ruangan berdecih muak pada omong kosong yang Ellina ajukan.
"Jika kau dapat meretas pertahanan yang aku ciptakan, aku juga akan memberikan laptopku. Di tambah milik Lykaios, jadi pemenangnya akan memiliki dua laptop."
Seruan kejutan kembali terdengar menyambut kata-kata Alvian. Dua laptop dan dari dua Pangeran tampan. Ini sudah pasti berkah dari surga.
Ellina tersenyum tipis. Wajahnya menunjukkan penuh minat. Ia menoleh pada pria di sampingnya. "Nero, kau menginginkan laptop siapa?"
Nero terperangah. "Kau tak bermaksud melawan mereka kan? Hentikan. Mereka dari kalangan atas. Pertahanan keamanan itu juga sudah pasti sulit di tembus. Jangan terlalu bermimpi."
"Kau tak menginginkannya?" tanya Ellina sambil memicingkan matanya. "Pinjamkan aku laptopmu. Dan saat aku menang, kau bebas memilih dari keduanya."
"Kau yakin?" tanya Nero serius. Dan Ellina hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku lebih minat milik Alvian."
"Alvian, baiklah. Pinjamkan aku Laptopmu." Ellina menarik Laptop Nero ke hadapannya. Lalu beralih pada Alvian di depan sana. "Aku menerima tantanganmu."
Alvian tertawa sinis. Gadis ini sungguh berani. Ia tak pernah mengganggu orang sebelum ini, namun hari ini, ia tampak berbeda. Ini baru pertama kalinya, ia berbicara pada kecacatan di jurusannya. Dan gadis itu menentangnya!
"Jika kau kalah, aku ingin kau menunjukkan wajah aslimu tanpa make up! Lalu angkat kaki dari jurusan IT!" teriak Alvian membuat keputusan.
Lykaios mendelikkan matanya. Tampak tak setuju. "Apa kau gila? Make up saja sudah cukup mengganggu. Apa lagi tanpa make up. Kau ingin aku muntah?"
"Setuju!"
"Ini akan jadi tamparan untuknya. Beraninya melawan Pangeran kelas kita."
"Apa dia sudah gila? Dia tak pernah berulah sebelumnya, tapi kali ini dia cari mati!"
Seru-seruan itu terus berlanjut. Ellina tersenyum pada keinginan Alvian. Itu sangat mudah untuknya. Lagi pula, wajahnya mulai terasa berat dengan make up tebal setiap hari. Di masa lalu ia melakukan semua ini untuk suaminya. Tapi kali ini, ia tak akan melakukannya lagi. Ia lelah.
"Apa kau tak akan menyesal? Kau bisa saja tergila-gila padaku," ucap Ellina menyulut massa.
Tawa menyambut. Itu adalah kesadaran tingkat tinggi yang pertama kali ia kumandangkan. Biasanya Ellina sangat jauh dari masalah apa lagi menciptakan hal gila seperti ini.
"Apa kau waras? Aku tergila pada wajahmu! Bermimpilah sampai kau mati!" maki Alvian keras. Habis sudah kesabarannya.
"Baiklah, aku terima. Silahkan siapkan make up remover sebanyak mungkin."
Ariella dan Valerie langsung mengeluarkan make up remover dari dalam tas mereka.
"Ada di sini," ucap mereka bersamaan.
Tawa puas terdengar dari seluruh ruangan.
"Ini akan menjadi hari terakhir kecacatan sekolah!"
Itu adalah keyakinan pasti dari mereka. Namun Ellina sama sekali tak goyah. Wajahnya tetap tenang dengan tangan memegang laptop di depannya.
"Tunggu apa lagi. Aku ingin ke ruangan siar universitas. Biarkan mereka semua tahu wajah aslimu!"
Ellina bangkit dan tak keberatan. "Bersiaplah untuk laptopmu,"
Rombongan itu bergegas pada ruangan siar di universitas. Berita ini menyebar dengan cepat. Kecacatan IT VS Pangeran tampan. Itu adalah kata ucap pertama yang langsung naik kepermukaan. Menjadi sangat heboh di seluruh universitas dengan tingkat keramaian yang maksimal karena ingin menyaksikan semuanya. Ruangan itu siap merekam. Dua orang itu saling duduk berhadapan dengan laptop di hadapannya masing-masing.
"Jika kau tak menembusnya dalam waktu satu jam, maka kau harus mengangkat semua kotoran di wajahmu!"
Ellina mengangguk pada kata-kata Alvian. Ini adalah pertandingan pertama sejak tajuh tahun lalu kehidupannya. Dan ia tak akan kalah semudah itu.
"Mulai,"
Satu ruangan itu tegang. Semua yang menonton melalui Handphone mereka juga tegang. Wajah serius dari dua orang yang ada di layar membuat jantung mereka berdebar. Jari cantik Ellina menari cepat di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa. Kode-kode rahasia dengan deretan angka berganti cepat. Matanya menatap lurus pada satu fokus yang tak akan putus. Ini adalah salah satu hal yang ia sukai. Dan ia tak akan berhenti sebelum menang.
Suara-suara jari dari atas keyboard menyisakan kesepian yang mencekam. Tak ada satu pun yang berbicara. Semua mata menatap fokus pada layar. Kecepatan jari dari keduanya sungguh luar biasa. Mengundang kekaguman dan decakan hebat dari setiap bibir. Ini adalah pertama kalinya mereka menemukan lawan seimbang untuk Alvian.
White Fox adalah Id name dari Ellina. Sedangkan The Prince DR adalah Id Alvian. Keduanya saling bertarung dalam diam. Hingga waktu berlalu tanpa terasa. Lalu Alvian berdiri dan berseru.
"Kalah!" tunjuknya tepat di wajah Ellina. "Kau kalah!"
Ellina tersenyum. Ia menunduk. "Mari bertarung sekali lagi,"
Kilatan benci terlihat di mata Alvian. Ia sangat muak sekarang. Dan orang di depannya sangat membual. "Kau masih menantangku? Tentu, setelah seluruh riasan di wajah mu terhapus."
Tanpa ada yang memerintah, Ariella dan Valerie maju. Membawa setumpuk bungkus kapas dan make up remover. Lalu teriakan menyambut riuh. Ellina duduk dan menyandarkan kepala. Memejamkan matanya dan begitu siap menerima konsekuensi kekalahannya.
Akhirnya! Datang juga hari ini. Di mana aku harus melepas topeng make up yang merepotkan!
Alvian, Lykaios dan yang lainnya menunggu dengan senyum sinis. Ini adalah akhir dari kecacatan jurusannya. Dan setelah satu pertandingan lagi, gadis itu akan benar-benar keluar dari kelas. Setiap mata menunggu hasil yang perlahan terungkap. Gerakan tangan Ariella begitu luwes. Sedangkan Valerie mendekatkan kamera handphonenya yang telah terhubung langsung pada siaran universitas. Tentu, hal ini menjadi bahan perhatian semua mahasiswa.
Satu per satu make up tebal itu terhapus. Sepasang bulu mata lentik itu terlihat tebal dan subur. Kulit putih halus menyambut setelahnya. Bibir tipis dengan rona merah muda alami terlihat sangat menggoda. Lalu saat Ellina membuka matanya, binar matanya seakan bersinar seperti kerlap-kerlip bintang di angkasa.
Ariella terhuyung kebelakang saat tangannya telah selesai menghapus semua make up Ellina. Tangan Valerie bergetar halus dengan mata tak berkedip. Suasana hening mendominasi. Lalu saat Ellina menarik wig yang ia pakai, rambut panjang tipisnya tergerai mencapai pinggang. Dengan santai, ia mengikat rambutnya asal. Tersenyum pada keadaan yang sangat berbeda dari dugaaannya.
"Shitt! Apa semua ini nyata?" maki Alvian memecah kesunyian. "Apa dia benar-benar sang monster kecacatan jurusan kita?!"
"Aku sedang tak bermimpikan?" kini Lykaios tertegun pada pandangan lurus.
Kulit putih halus itu. Binar mata yang memikat, dengan bibir ranum yang menggoda. Ia adalah kecantikan nyata. Seperti batu giok yang yang sangat mahal. Tampak alami dan sangat memikat hati.
"Dewi kecantikan alami,"
"Bagaimama mungkin itu adalah Ellina?"
"Jadi ini adalah alasan ia menutupi wajahnya dengan make up tebal? Karena tak ingin kecantikannya terekspos dan menghancurkan fokus setiap orang."
"Dia adalah dewi kecantikan yang sesungguhnya!"
"Dia adalah gadis tercantik di satu universitas kita,"
"Mulai sekarang aku akan mengidolakannya!"
"Persetan dengan jurusan. Apakah mereka semua buta? Menyebut seoarang dewi dengan kecacatan?!"
Ungkapan-ungkapan itu terdengar keras. Kecantikan Ellina menguncang Hyroniemous University. Lalu pandangan-pandangan memuja itu datang silih berganti. Bahkan banyak pria mengambil potretnya untuk wallpaper handphone mereka.
"Bagiamana dengan pertandingan kedua?" tanya Ellina halus. Suaranya begitu merdu namun tetap tenang.
Untuk kesekian kalinya keheningan mendominasi. Lalu kembali riuh dengan pujian-pujian dan sanjungan. Ariella dan Valerie mundur teratur. Alvian dan Lykaios masih terpaku namun cepat tersadar saat sosok Ellina merosot menatap laptopnya.
"Ten-tentu, kita akan bertanding sekali lagi." jawab Alvian gugup dan mengatur kesibukan jantungnya.
"Persetan dengan pertandingan. Apakah dia benar-benar dewi kecacatan kita?" tanya Lykaios masih tak percaya.
Tak akan ada yang percaya jika mereka tak melihat nyata. Alvian mencoba fokus pada layar monitornya dan mencuri pandang sesaat pada Ellina.
"Setengah jam," ucap Alvian ragu. Apaka aku terlalu kejam pada dewi kecantikan jurusan?
"Terlalu lama," jawab Ellina. "Ayo mulai,"
"Eh, oh, ok."
Suasana kembali mencekam dengan suara keyboard saling mengetuk. Kecepatan mereka setara. Jari-jari itu perpindah cepat seiring angka yang terus muncul dan berganti.
Ding!
Satu pertahanan Alvian sudah di bobol. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Hal itu memciptakan decakan kagum. Namun mereka memilih diam karena tak ingin membuat keributan.
Ding!
Nada kedua terdengar. Keamanan Alvian kembali terbobol dalam waktu kurang dari lima menit. Bahkan Alvian kesulitan membalas dan melindungi privasinya.
Ding!
Keamanan terakhir pun jebol. Hanya dalam waktu tiga menit. Alvian membelalakkan matanya saat melihat layar monitornya mati lalu menampilkan layar putih. Laptopnya benar-benar di teras dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Dan itu kecacatan jurusan yang melalukannya.
"Selesai. Kurang dari sepuluh menit," ucap Ellina sambil berdiri dan menaikkan sudut bibirnya. Ia terlihat puas dengan hasil yang ia capai. Di awal pertandingan ia mempelajari semua ketertinggalannya pada teknologi terbaru. Dan pertandingan ke dua adalah sebuah arus yang dapat ia ikuti dengan cepat.
Lykaios menatap Ellina tak percaya. "Monster macam apa dia? Dia baru saja menjelma menjadi wanita cantik lalu meretas komputermu dalam waktu singkat. Benar-benar tak bisa di percaya."
"Aku kalah? Keamanan yang aku banggakan. Hanya sepuluh menit." ungkap Alvian kacau karena terkejut.
Lalu suara tepuk tangan terdengar keras. Semua orang penuh cita menyambut kemenangan Ellina. Dan ada keheningan tertentu yang terjadi di mata Alvian dan Lykaios.
"Berikan laptop kalian,"
Suara itu kembali nenyadarkan mereka saat sosok Ellina begitu dekat. Mereka bahkan berani bertaruh bahwa Ellina begitu cantik saat dilihat dari dekat. Tanpa kata, Lykaios dan Alvian menyerahkan laptop masing-masing dan langsung di bawa oleh Ellina.
"Nero," panggil Ellina setengah berteriak.
Lalu bisikan-bisikan iri terdengar saat langkah kaki Nero mendekat. Ada binar takjup di matanya. Dan terharu saat Ellina menyerahkan dua laptop padanya.
"Hadiah untukmu dan milikmu. Aku menepati janjiku kan?"
Nero tertegun dan mengangguk. Belum sempat menjawab, Ellina telah melangkah dan keluar dari ruangan. Di ikuti kerumunan pria yang mengikutinya dari belakang. Mencoba mendekatinya meski tatapan dingin Ellina terlihat jelas.
***
Saat pertandingan Meretas itu siap, hari telah menjelang sore. Ellina menghabiskan seluruh waktu yang tersisa dengan menjelajahi dunia melalui laptop Lykaios yang ia dapatkan. Matanya fokus pada saru titik, tak peduli kegaduhan yang telah ia ciptakan di luar kelasnya. Matanya sama sekali tak menoleh pada titik lainnya meski kelasnya telah begitu ramai layaknya pasar karena banyaknya pria yang ingin mengenalnya.
Di dalam kelas, tak satupun orang ingin keluar. Ini merupakan anugerah untuk mereka karena dapat melihat dewi kecantikan mereka secara dekat. Diam-diam Alvian dan Lykaios mengamati tanpa kata. Lalu beralih pada luar ruangan yang telah ramai dengan semua pria dengan hadiah kecil di tangan mereka.
Bukankah ini menyebalkan? Kenapa mereka menghalangi pintu?
Aku sangat sadar akan daya tariknya, tapi bukan berarti aku harus menanggung tatapan semua orang, oke? Sejak kapan wanita itu mahir dalam laptop?
Itu adalah suara Lykaios dan Alvian yang mulai mengeluh. Belum lagi suara-suara gadis dalam kelas yang menatap sebal pada ketidakpedulian Ellina. Ia bahkan lupa pada janji pertemuan keluarga. Hingga saat langit telah begitu sore, ia baru bangkit dari duduknya. Dan dalam waktu bersamaan, semua orang dalam ruangan refleks bangkit mengikutinya.
Ellina menoleh heran. Mengerutkan keningnya pada reaksi orang satu ruangannya lalu pada keramaian di luar sana. Tatapannya tak mengerti, seakan bertanya; kenapa dengan tatapan mereka semua?
Mereka semua ingin melihatmu, oke?!
Dia bahkan tak sadar bahwa dunia telah berputar di kakinya!
Bisakah kau lebih sadar akan sekitarmu? Kau membuat mereka mendatangi jurusan IT layaknya artis top yang naik daun.
Dari itu semua, kenapa aku ikut merasakan ketidaknyamanan yang tercipta!
Dan itu adalah berbagai jawaban dari tatapan tak mengerti Ellina dari berbagai sudut. Ellina melangkah pelan dengan tas di bahu kanannya. Melewati Alvian dan Lykaios begitu saja tanpa kata. Membuat Alvian kesal setengah mati pada kekalahannya. Sedangkan keramaian itu mulai melonggar seakan menciptakan jalan untuk Ellina berlalu. Dan mereka bahagia, mengikuti langkah Ellina dari belakang dengan ajakan-ajakan kencan yang memikat. Tapi Ellina menolak itu semua.
Tepat saat ia menunduk, sepasang sepatu biru navy hadir di hadapannya. Ia mendongakkan wajahnya saat wajah tak asing itu menyapa.
"Ellina," panggil pria itu memastikan. Tangannya jelas menatap video pertandingan antara Ellina dan Alvian dan semua saat Ariella melucuti make up Ellina.
Ellina membeku. Wajah itu, jika di masa lalu ia sangat mencintainya hingga ingin mati, namun saat ini ada rasa dingin yang menyapa. Ia sangat ingat, bagaimana pun ia menjelaskan, kekasih masa lalunya itu tetap meninggalkannya dan lebih memilih Lexsi sebagai pilihan hidupnya. Senyum dingin Ellina mengudara, rasa sakit dan kilatan benci itu terlihat.
"Aku tak salah. Kau memang Ellina," ucap Aaric lega pada akhirnya. Ia tak pernah menyangka bahwa gadis di depannya bisa berubah sangat cantik dalam hitungan detik. Ia bahkan terpesona.
"Kau mencariku?" tanya Ellina dingin. Ia ingat, di masa lalu ia hanyalah umpan untuk mendekati Lexsi.
"Hmm," tanpa banyak kata Aaric mengambil alih tas Ellina. "Mari pulang." tangannya dengan cepat menggengam tangan Ellina untuk berjalan. Dan cacian marah terdengar dengan riuh.
Ellina menarik tangannya. "Aku pulang sendiri,"
Aaric mengerutkan keningnya. "Ell, ada apa denganmu? Apa kau lupa pada hari jadi kita? Hari ini adalah Anyversary kita yang setahun."
Ellina terlihat linglung. Menghitung waktu mundur dan mencoba mengingat kejadian di masa lalu. Ia sangat ingat pada hari ini, Aaric tak datang dan membiarkannya menunggu di jalan hingga malam. Saat ia pulang sendiri ke rumah, ia melihat Lexsi dan Aaric berpelukan lalu amarah datang dari orangtuanya karena keterlambatan pada pertemuan.
Pertemuan!
Kata itu membuat Ellina sadar. Ia menarik tasnya dari tangan Aaric lalu beralih melangkah cepat. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan pertemuan keluarga itu!
"Ell, Ell, ada apa?" tanya Aaric menahan tangan Ellina.
"Kita putus!" ucap Ellina sejurus tanpa pikir.
Wajah Aaric mengeras. "Apa katamu?"
Langkah Ellina tertahan. Matanya menatap wajah di depannya lekat. "Kita putus!" ulangnya jelas. Membuat suasana bahagia di sisi lain ruangan.
Aaric tertawa kecut. "Jangan becanda. Kita sudah satu tahun bersama--"
"Bersama Lexsi?" potong Ellina membuat riak di wajah Aaric berubah. "Aku tahu semuanya."
"Apa yang kau katakan?" tanya Aaric tak mengerti. Hari ini kekasihnya benar-benar aneh. Bahkan terlihat sangat berbeda. Biasanya ia akan menempel padanya layaknya lem hingga ia merasa jijik. Tapi hari ini, ia memiliki kata-kata putus. Tentu saja itu tak bisa di terima!
"Tak ada yang perlu di jelaskan. Kau cocok bersama--"
"Lexsi?" potong Aaric. "Kau benar! Aku memang menyukainya pada awalnya. Tapi hari ini sangat berbeda--"
"Tak ada yang beda. Aku tak menerima cintamu. Aku juga telah buta karena memilihmu!"
Mulut Aaric ternganga pada kejujuran Ellina. Kata-kata Ellina menyambut tawa puas dan pandangan remeh dari setiap pria. Wajah Aaric mengeras. Ia membiarkan Ellina melangkah menjauhinya. Ia sadar, ia baru saja di tolak dan putus saat baru saja ingin memperbaiki segalanya. Tapi siapa yang peduli, harusnya ia senang. Karena mulai sekarang, ia bebas besama Lexsi. Tapi kenapa hatinya merasa tak rela?
Alvian dan Lykaios yang melihat itu semua tertawa terbahak-bahak. Tawa sama pun menyambut. Aaric menatap kesal lalu meninggalkan kelas IT dengan cepat. Menggerutu karena malu setelah semua yang terjadi.
"Putus?" ucap Alvian lirih. "Bagus! Kecantikan kita tak harus bersama idola kelas lain. Akan lebih bagus jika hanya menjadi milik jurusan kita saja,"
Lykaios tak banyak berkomentar. "Kurasa kita harus melihat kelas kita ramai setiap saat,"
Alvian menatap sekitarnya. "Kenapa mereka masih disini?" tanyanya tak mengerti padahal Ellina telah pergi. Namun kelas itu tetap ramai.
***
Hari telah menjelang malam saat Ellina baru saja sampai di pintu gerbang rumahnya. Rumah itu tampak sunyi hingga ia yakin bahwa pertemuan itu pasti di undur. Dalam masa lalu, ia ingat saat itu, Kenzie sama sekali tak datang pada setiap pertemuan hingga menjelang hari pernikahan. Memikirkan hal itu, hatinya cukup lega. Bagaimanapun ia belum sanggup jika harus bertemu dengan Kenzie sekarang.
Pintu rumah itu terbuka saat Ellina baru saja memegang gagang pintu. Tubuhnya bergetar kaku dengan ekspresi terkejut yang luar biasa. Ia bahkan tak berkedip saat sosok di hadapannya menatap wajahnya dengan dingin. Ketakutan, kebencian dan kemarahan bercampur aduk menjadi satu. Hingga ia tak tahu harus berbuat apa.
"Menyingkir!"
Perintah dingin itu sontak membuat tubuh menepi dari sisi pintu. Membiarkan sosok tinggi dengan balutan jas rapi itu melewatinya tanpa sepatah kata. Menatap punggung itu menjauh, tubuh Ellina bergetar hebat. Tiba-tiba perutnya terasa ngilu dengan bayangan masa lalu yang menyesakkan.
Lalu Lexsi melenggang pergi dengan sangat buru-buru. Ellina memicingkan matanya karena merasa Lexsi sama sekali tak sadar akan keberadaannya.
"Tunggu," teriak Lexsi menghentikan sosok itu.
Ellina menaikkan satu alisnya saat sosok itu berlalik dan tatapan matanya langsung tertuju pada matanya. Refleks, pandangannya turun dengan wajah menunduk takut. Kenapa ia datang pada malam pertemuan ini? Tidak, harusnya mereka tak bertemu sekarang. Di masa lalu ia sama sekali tak pernah datang. Tapi di kehidupan ini? Apa yang terjadi? Kenapa semua berubah?
"Apa kau kecewa? Maaf, aku tak bermaksud seperti itu."
Sosok itu masih diam. Hingga Ellina memilih masuk ke dalam rumah secara pelan. Berjinjit dengan kesenyapan, dan menulikan pendengarannya. Ia harus lari dari sini. Ia tak boleh berada di sini atau nyawanya tak akan selamat kemudian hari. Laki-laki itu jelas harus ia jauhi. Tapi suara dingin yang berat itu menyapa.
"Kau pencuri?"
Lexsi menoleh kebelakang sedangkan Ellina terhenti dari langkahnya.
Pencuri? Aku? Aku anak dari keluarga ini, oke.
"Kak, kau sudah pulang?" raut Lexsi berubah pias dengan penampilan Ellina. Matanya meneliti wajah Ellina dan rasa kesal datang kemudian. Ia telah merasa Kakaknya aneh tapi sekarang kecurigaan itu kian kuat.
Dimana make up nya? Kenapa dia datang sekarang? Dan ini ....
Merasa gagal, Ellina menghembuskan napas lelah. Menoleh dan mencoba tersenyum. "Aku pulang,"
"Jadi kau yang bernama Ellina?"
Satu pertanyaan itu membuat kepala Ellina menggeleng kuat. Tangannya refleks menunjuk tubuh Lexsi cepat. "Dia! Ya, dia yang bernama Ellina."
Kening Lexsi mengerut. Senyumnya melebar, namun sebuah kenyataan menghantamnya. Ia telah di Kenalkan sebagai Lexsi saat keluarga Reegan datang. Namun hari ini, entah kenapa ia akan setuju jika kakaknya menyebutnya sebagai Ellina. Calon tunangan pria yang tak jauh darinya. Sedangkan tatapan sosok itu kian dingin. Membuat tubuh Ellina kian bergetar takut.
"Kak, apa maksudmu? Dia adalah Kenzie. Calon tunanganmu," sanggah Lexsi lirih. Ada rasa penyesalan di setiap kata-kata yang terlontar.
"Aku benci di bohongi!" Kenzie berlalu tanpa ekspresi meninggalkan rumah keluarga Rexton. Ia sangat tak mengerti pada keluarga Rexton terlebih keluarganya sendiri. Perjodohan ini, ia sama sekali tak menginginkannya.
Lexsi merasa kesal dengan kelakuan Ellina, terlebih sosok itu telah pergi. Ia menghampiri Ellina dan mengerutkan dahinya. "Kau terlambat dan?" tatapannya meneliti wajah Ellina sekali lagi. Ia sangat sadar bahwa Ellina cantik, jauh lebih cantik darinya. Itu mengapa ia selalu menyarankan agar Ellina mengenakan semua make up tebal. Tapi hari ini? "Ada apa dengan wajahmu?"
Masih merasakan takut tubuh Ellina bereaksi dengan tatapan Lexsi. Ia bisa melihat dengan jelas tatapan kesal di sana. Dan kilatan benci itu terlihat meski samar-samar. "Kenapa dengan wajahku?"
Lexsi menetralkan emosinya. Tersenyun lembut dan menggandeng tangan Ellina. "Tidak. Tapi kak, kenapa kau tak menggunakan make up hari ini?"
Senyum tipis terukir di bibir Ellina. "Oh, ada kejadian di kampus."
Mata Lexsi terbelalak sesaat. Ia tak masuk kampus hari ini jadi tak tahu apapun kejadian yang telah terjadi. Tapi raut khawatir jelas tercetak di sana. "Ada apa?"
"Bukan masalah besar," jawab Ellina membangkitkan rasa penasaran adiknya.
"Ellina," kini seruan Aldric memecahkan lamunan Lexsi. Ia menatap sosok Ellina yang baru saja memasuki rumah.
"Kau terlambat?" tanya Vania lebih mirip seperti pernyataan. Matanya meneliti penampilan Ellina dari atas hingga bawah. "Apa kau tak ingat ada jadwal pertemuan keluarga sore ini?"
Ellina terdiam. Sedangkan Lexsi menengahi.
"Bu, hentikan. Kakak baru saja sampai. Ia pasti tak sengaja melakukan itu,"
Ellina tersenyum di dalam hati. Benar, selama ini Lexsi selalu melakukan ini. Berperan sebagai pembelanya namun memperburuk keadaan dengan ucapannya. Di masa lalu ia akan sangat bahagia dengan pembelaan ini. Merasa bahwa Lexsi benar-benar peduli. Tapi kali ini, ia merasa muak dan benci.
"Apa kau tak tahu apa yang kau lakukan?" tanya Aldric dingin. Wajahnya mengeras menatap Ellina. "Kau membuat kita malu."
Mengerutkan kening, Ellina sama sekali tak mengerti dengan yang terjadi.
"Ayah, hentikan. Kakak tak bisa di salahkan. Ia pasti memiliki alasan. Benar kan kak? Lagi pula ini salahku. Aku yang memintanya pertama kali untuk menggantikanku menjadi tunangannya," raut wajah Lexsi berubah mendung. Ia menatap kedua orangtuanya dengan nada memohon.
"Kau memang putri terbaik yang kami miliki," ucap Aldric jelas. Hal itu menjelaskan bahwa ia hanya memiliki satu anak saja. Sedangkan Ellina, ia enggan mengakuinya.
Ellina menatap senyum lembut Lexsi. Ia benar-benar bertaruh. Berapa banyak penghargaan yang harus diserahkan untuk akting adiknya yang sempurna? Dia benar-benar bisa tersenyum dengan menyembunyikan rasa bencinya. Semua raut bersalah itu, ia ingin sekali merobeknya.
"Ayah, maaf." ucap Ellina pada akhirnya. "Aku harus menyelesaikan --"
"Jika keluarga Reegan sampai membatalkan pertunangan ini, maka kita semua akan hidup di jalanan!" potong Aldric gusar. Ia berlalu meninggalkan Ellina dan yang lainnya.
Membatalkan pertunangan? Kenapa?
"Jika saja kau datang lebih awal. Semua tak akan seperti ini! Jika saja aku tak mengenalkan dirimu pada pertemuan sebelumnya, maka masalah tak akan seperti ini! Darah memang lebih kental dari pada air!" kali ini Vania ikut berlalu.
Ellina tertegun. Tidak, kenapa semua menjadi seperti ini. Ini sama sekali tak terjadi di masa lalu. Ia sangat yakin, bahwa semua tak seperti hari ini.
Di tengah kekalutan itu, Lexsi menggengam tangannya lembut. "Kak, jangan masukkan hati kata-kata ayah dan ibu. Kau tahu mereka tak bermaksud begitu,"
Ellina ingin sekali berteriak lalu tertawa keras dengan semua yang ia dengar. Di masa lalu ia telah mengalami hal yang lebih berat dari ini. Dan di masa ini ia benar-benar bisa melihat, adiknya berperan seakan begitu peduli padanya tapi menusuknya dari belakang. Menjebaknya dengan semua rencana yang telah tersusun matang. Dan kali ini, ia hanya tersenyum tipis.
"Keluarga Reegan datang dan menunggumu dari siang hari. Aku berkali-kali mencoba menghubungimu, namun ponselmu mati. Lalu mereka merasa bahwa kau tak menginginkan pertunangan ini. Mereka kecewa lalu pergi. Sedangkan Kenzie menunggumu hingga ... ya, kau sudah tahu sendiri."
Ellina tertegun. Mereka menunggunya dari siang. Dan semua menjadi kacau. Lalu apa tadi? Kenzie datang dari siang dan ikut menunggunya? Apakah dunia akan kiamat?
"Aku--" ucap Ellina menggantung. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Kak, aku tahu aku memintamu untuk menggantikan aku. Aku tahu ini berat untukmu. Tapi, mereka telah mengenalmu sejak awal pertemuan. Aku bisa saja mengaku menjadi dirimu, tapi kau tahu sendiri. Kedua orangtuanya telah mengenal kita sangat baik."
Ellina merasa pusing. Semua pernyataan dan perubahan kehidupan sekarang sangat berbeda dari yang telah ia alami sebelummya. Jadi ini apa? Berapa banyak takdir yang juga telah berubah semenjak kelahirannya? Kenapa semua menjadi kian rumit hingga ia tak bisa membedakan segalanya.
***