"Ravis, jangan!" Aku berteriak pada pemuda yang berdiri pada pinggiran pembatas gedung bertingkat.
Dia menoleh, melihatku dengan senyuman terkembang di bibirnya yang tipis.
"Semua akan baik-baik saja kan, Ra?" Dia menatap sendu, membuat hatiku tersayat sembilu. Dai tidak boleh seperti ini, aku tidak bisa melihatnya begini.
"Aku mohon, turunlah." Suaraku bergetar, melipat kaki, bersimpuh padanya dengan tangan mengatup di dada. Entah sudah berapa tetes air mata yang kukeluarkan dari peraduan, dia membuatku menangis sesenggukan. Sahabat macam apa aku ini hingga tak tahu bahwa dia menderita, dan tak kuat lagi menerima semuanya.
Jarak kami sekitar lima meter, jika aku bergegas menghampirinya, menarik tangannya untuk turun, apakah bisa?
"Kalau aku mati, semua akan baik-baik aja kan, Ra?" Pemuda berseragam SMA itu tak henti-hentinya menitikkan air mata.
"Ayah pasti akan berbuat baik pada ibu kan, Ra?" lanjutnya semakin menambah genangan air bening di pelupuk mataku, mengaburkan pandangan.
"Ravis, aku mohon jangan pernah berkata seperti itu." Sungguh, ingin kudekap pemuda itu, menguatkan jiwanya, dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja sesuai inginmu.
"Ayah ... apa beliau akan kehilangan jika aku tiada?" Aku tak sanggup lagi membendung air mata mendengar perkataannya barusan. Melihat penampilannya yang berantakan, wajah babak belurnya, dan hem putih bertuliskan OSIS di saku dipenuhi darah sudah membuat hatiku teriris, nyeri dan panas.
Usia kami baru delapan belas tahun, kami bahkan baru mendapatkan secarik kertas tanda kelulusan. Entah apa yang ayah Ravis lakukan, hingga dia menjadi seperti ini. Aku tahu, beliau memang dikenal galak dan bertempramen buruk, ditambah suka sekali dengan minuman beralkohol, tetapi memukul anak sendiri bukanlah suatu kewajaran.
Pemuda bertubuh jangkung itu kembali melihat depan. "Ra ...." panggilnya membuat gemuruh dalam dada ini semakin kencang.
Aku menyusut hidung, tangan mengusap kasar pipi dan mata yang basah. "Ya, Vis," sahutku singkat.
"Aku titip ibu."
"Nggak! Itu ibumu, kamu yang harus merawatnya!"
"Bahagiakan beliau."
"Nggak! Yang seharusnya berbakti padanya itu kamu! Bukan aku!" teriakku semakin frustasi.
"Aku percaya padamu." Sontak aku berdiri saat pemuda itu membiarkan dirinya jatuh ke depan. Dia bukan burung, dia tak memiliki sayap, dia tak bisa terbang, bagaimana dia bisa menghindari aspal di bawah sana.
"Ravis ...!" Aku menjerit sekencang-kencangnya, gegas menghampiri dia yang sudah tak terlihat. Aku melongok ke bawah, di sana sudah ada raga tengkurap tak bergerak. Beberapa orang mulai mendekatinya. Mereka hanya melihat, tanpa mau menyentuh untuk sekedar memastikan bahwa dia masih bernapas.
Siapapun tolong selamatkan dia. Tolong, pastikan bahwa dia akan baik-baik saja. Aku mohon ....
Gegas aku berlari menuju tangga, menuruninya secepat yang aku bisa, satu persatu, ingin segera menemui Ravis ---sahabat karibku-- yang tergeletak tak berdaya, bersimbah darah. Sempat terpeleset dan hampir terpelanting, untung saja dengan sigap tangan memegang pinggiran tangga dan berpegang kuat.
"Ravis ....!" Kupanggil sahabatku sekuat tenaga, tetapi dia diam saja. Bibirnya terbuka, tanpa ada suara. Darah segar mengalir dari sana.
"Ravis ....!" Aku tak bisa mengendalikan kesedihanku. Perlahan tanganku menyentuh wajahnya yang mulai dingin, membelai pipi lanjut mengusap rambut cepaknya. Baju putihnya kini tersamarkan, hampir berubah merah seluruhnya.
'Ravis, bangunlah. Ravis, bangunlah,' aku bergumam seraya menggoyang-goyangkan lengannya.
"Ravis ...!" Seketika aku terduduk, tangan terulur menggenggam udara.
"Ravis ..." Aku celingukan, ini kamarku bagaimana bisa aku di sini? Segera kusingkap selimut yang menutup sebagian tubuhku, menurunkan kedua kaki dari ranjang. Namun, saat aku berdiri kaki yang bertugas sebagai pijakan bergetar, aku jatuh, terperosok di lantai. Napasku tersengal-sengal, air mata pun urung terhenti.
"Ravis ...." raungku memanggil nama pemuda yang tak terlihat di sini. Selalu saja begini, mimpi buruk yang menghantuiku beberapa tahun ke belakang.
"Rara ... Rara, kamu kenapa?" Seseorang memegang tanganku.
"Se-la-matkan dia," kataku tersendat, menatap kosong awang-awang.
"Siapa?" Bariton itu menyentak.
"Dia ...." Tanganku menunjuk ke depan. "Ravis ...." Seketika, pria itu menarikku ke dalam dadanya, merangkul erat.
"Tenangkan dirimu." Usapan lembut di punggungku malah membuat tangisku semakin pecah. Aku tergugu, meremas lengan besar yang memeluk kuat.
"Lepaskanlah semua, kamu akan merasa lebih baik," katanya mengalun lembut. Rasa bersalah saat tak bisa menyelamatkan, membuatku terus-terusan dirundung penyesalan.
Ini tak adil, seharusnya dia pun turut merasakan apa yang kini aku rasakan. Dia pun ada di sana saat itu, tapi kenapa hanya aku yang terus mengingatnya? Ini benar-benar tak adil.
Dia ... orang itu ialah Giandra, pria yang kini tengah menenangkanku di pelukannya. Sosok yang sangat aku benci, dan juga membenciku secara bersamaan.
Dia kembali, pria berbadan tinggi, tegap, itu kembali, setelah meninggalkanku satu tahun lamanya, pergi tepat setelah ijab qobul terlaksana. Ya, dialah suamiku, sekaligus musuh, dan juga mantan sahabat. Rumit bukan? Serumit kisah kami bermula.
Pria jahat yang enggan kuingat wajahnya, enggan kuingat suaranya, enggan kuingat namanya. Namun, sekuat aku melupakan, siluetnya tetap terbayang, menari-nari dalam angan.
Aku menarik napas panjang, sesenggukan masih terdengar walau tak sekeras sebelumnya. Wajahku masih basah, meski air mata sudah tak lagi ada. Aku sudah mulai tenang, biarpun hati masih terasa ada yang kurang.
Perlahan, tangan besar pria itu mengangkat tubuhku dan membaringkannya di atas peraduan.
"Kamu mimpi buruk?" tanyanya mendudukan dirinya di pinggiran ranjang, sebelahku.
Diam, aku lebih memilih menutup mulut rapat-rapat. Memiringkan badan, membelakanginya.
"Jangan salah paham, aku bersikap begini bukan karena khawatir. Melainkan tanggung jawabku sebagai seorang suami," katanya membuatku menaikkan sebelah bibir. Hah! Tanggung jawab? Suami? Yang benar saja! Kenapa baru sekarang dia mengatakan itu? Dari setahun lalu ke mana aja?
Kita memang dijodohkan, tapi tak seharusnya aku ditelantarkan. Kita memang sepakat untuk tak saling mengenal, tapi tak seharusnya aku dibiarkan tanpa perhatian.
Ah, apa sih yang bisa aku harapkan pada pria dingin tak punya hati seperti dia?
"Kamu sering seperti ini?" tanyanya lagi membuatku membuang napas panjang.
'Enggak, jarang, tapi terus berulang setiap tahunnya,' ucapku yang hanya terlontar dalam hati. Tentu saja, aku lebih memilih bungkam daripada memberi jawaban yang pastinya tak ingin dia dengar. Hentikanlah basa-basimu.
"Kalau ada yang tanya, jawab!" Suaranya mulai meninggi.
"Jika sebatas tanggung jawab, cukupkan hanya sebatas ini. Jangan menuntut banyak hal, jika seperti itu, kamu akan terlihat benar-benar mengkhawatirkanku."
"Bukankah kamu keterlaluan?" Dia bangkit, tak berselang lama derap langkah menjauh terdengar.
"Kenapa kamu kembali?" tanyaku saat derit pintu mengalun nyaring.
"Kamu, tak ingin aku kembali?" Dia bertanya balik.
"Apa ... sudah saatnya kita berpisah?" Tak ada jawaban, hanya helaan napas yang disusul suara pintu ditutup rapat.
Kuremas ujung piyama yang kukenakan, apa sekarang saatnya?
"Kenapa kamu kembali?" tanyaku saat derit pintu mengalun nyaring.
"Kamu, tak ingin aku kembali?" Dia bertanya balik.
"Dari setahun lalu, ini pertama kalinya kamu ke sini?" Dia pergi untuk 'berpura-pura' mengurus bisnisnya di negeri Jiran. Aku tahu betul, dia pergi hanya untuk menghindar dariku. Keterlaluan. Dia kira, hanya dia yang tak ingin kontak langsung? Aku juga sama. Melihat wajahmu saja membuatku mual.
"Ke sini? Itu ... seolah-olah aku hanya sekedar berkunjung. Aku pulang, bukan hanya mampir dan pergi lagi," katanya yang seketika membuatku memutar badan, menghadapnya.
"Kenapa?" Pria itu berdiri angkuh di ambang pintu.
Maksudnya apa dengan 'bukan hanya mampir, dan pergi lagi', pernyataannya mengandung banyak pertanyaan. Apa artinya dia bakal menetap? Tapi kenapa? Bukankah perjanjiannya dia akan kembali hanya untuk mengurus perceraian satu tahun lagi?
"Apa ... sudah saatnya kita berpisah?" Tak ada jawaban, hanya helaan napas yang disusul suara pintu ditutup rapat.
Kuremas ujung piyama yang kukenakan, apa sekarang saatnya? Benarkah tak ada harapan untuk hubungan yang sempat dipaksakan ini? Tak adakah bakal cinta untukku walau secuil?
Sebelum kita saling membenci, bukankah kita pernah saling menitipkan hati? Giandra Putra Gunawan, nama yang dahulu sering terucap saat tanganku menengadah ke langit.
Entah kenapa, hatiku sakit saat memikirkan perpisahan sudah semakin dekat. Aku sudah tak mencintainya, tapi kenapa ada rasa tak rela saat tanganku ingin dia lepaskan.
Aku beringsut, saat ponsel di atas nakas berpendar, memutarkan musik untuk membangunkan orang yang tertidur. Kuraih benda pipih berlayar sentuh di sana, waktu sudah menunjuk angka lima lebih tiga puluh menit. Gegas aku keluar kamar, memasuki kamar mandi sebelah dapur, hendak membasuh muka dan menyikat gigi.
Mataku memindai ke segala sudut rumah, pria itu tak nampak batang hidungnya. Mungkin masih di kamar sebelah, kamar yang disulap menjadi ruang kerjanya. Terserahlah aku tak ingin peduli apapun yang dia lakukan.
Kududukan diri di sofa ruang tamu, menyandarkan punggung seraya membuang napas berat. Sebenarnya, apa tujuan dia pulang? Tak ada kabar apapun sebelumnya. Mendadak, aku teringat perkataannya dahulu ....
"Kita nikah aja," seruannya membuatku membelalakkan mata.
"Kamu gila?! Kita tak pada hubungan yang mengharuskan kita untuk menikah!" Kutatap nyalang laki-laki berpakaian formal yang sedang duduk di hadapanku, dengan meja kayu berbentuk persegi sebagai pemisah.
"Kompromi. Kita menikah, tapi tidak menikah," ungkapnya membuatku membuang napas kasar dengan sudut bibir terangkat sebelah. Dia kira, menikah adalah sebuah lelucon yang bisa dipermainkan? Konyol.
"Nggak!" tolakku tegas.
"Dua tahun, hanya dua tahun. Selama itu, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan, dan keluargamu butuhkan. Aku bisa menjamin kesejahteraan itu padamu. Hanya dengan satu syarat ...." Dia seperti negosiator handal. Ck! Keterlaluan, dia kira semuanya bisa dibeli dengan uang? Keluargaku memang sedang kesulitan ekonomi, tapi tak seharusnya dia memanfaatkan kelemahanku itu.
"Akan kubayar seluruh hutang keluargamu, bahkan kuberikan modal untuk ayahmu menjalankan bisnisnya kembali. Bukankah ini sangat menggiurkan?" Memang tak bisa diragukan lagi kemampuannya dalam berbisnis, pantas saja cabang perusahaannya yang hampir saja bangkrut di kota sebelah langsung maju pesat setelah diambil alih olehnya. Dia pandai membuat kesepakatan.
Aku mulai goyah. Lima belas miliar ialah jumlah sisa yang harus kami bayar untuk menutup hutang. Jumlah yang sangat besar untuk kami yang tak berpenghasilan tetap. Baginya, itu bukanlah perkara sulit, tapi haruskah aku menggadaikan status pernikahan untuk itu?
"Kita hanya perlu menikah, dan kamu berpura-pura menjadi istriku, itu saja. Mudah bukan? Dan tunggu sampai ayah memberikan seluruh kuasa atas perusahaannya padaku. Ya ... sekitar dua tahun." Dia menyandarkan punggungnya, tangan bersedekap, dan kaki kiri berada di atas kaki kanannya.
"Apa ... kamu masih ....," Aku sengaja menggantung kalimat.
Dia mendengus seraya memutar bola matanya. "Jangan salah paham, hanya rasa benci yang tersisa untukmu sekarang. Dan murni karena sebuah wasiat konyol peninggalan mendiang kakek." Wajah dan sorot matanya sulit ditebak saat dia berucap.
Emosi macam apa yang dirasakannya sekarang? Jujur, aku biasa saja. Gemuruh jantung tak biasa yang dulu ada saat berada didekatnya, kini sudah lama mati.
"Ah ...." Memalukan sekali aku bertanya begitu. Jika tak ada cinta dalam sandiwara ini bukankah sangat menguntungkan untukku? Aku hanya perlu menjadi istri di atas kertasnya, dan semua inginku bakal kudapatkan kembali, seperti dulu. Bukannya matre, tapi hidup itu butuh uang. Aku hanya realistis.
"Baiklah, aku ikuti permainanmu. Tapi ...."
"Nggak usah bertele-tele, cepat katakan syarat darimu." Dia masih sama seperti dulu, tidak sabaran.
"Tidak ada kontak fisik. Kita menjadi suami istri hanya di hadapan orang-orang, selain itu anggap saja kita tak pernah saling mengenal," ucapku membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Lihat saja dirimu ...." Manik matanya bergerak dari kepala hingga dadaku. Sontak kusilangkan tangan di depan dada. Nggak sopan. "Bagaimana mau kontak fisik, melihatmu saja aku mual, tak ada gairah sama sekali." Dia menyeringai.
Ocehannya membuatku benar-benar naik pitam. Yakin tak bergairah? Jika kamu benar-benar normal, tak perlu banyak tingkah untukku membuatmu kepanasan.
Aku tersentak saat tiba-tiba pria itu bangkit dari duduknya.
"Aku tak ingin ada perjanjian hitam di atas putih, cukup perjanjian lisan. Aku tak mau, secarik kertas hitam putih membuatku kesulitan dikemudian hari," pintanya, dan langsung mendapatkan anggukan kepala dariku.
"Oke." Ibu jari kananku terangkat.
Tubuhku mendadak membeku di tempat saat pria itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya.
"Jadilah istri penurut, maka uangku akan menjadikanmu ratu," bisiknya tepat di samping telinga, hingga aku kesulitan meneguk saliva, dia terlalu dekat.
Dua tahun, hanya dua tahun, aku pasti sanggup bertahan. Demi keluarga dan kebahagiaanku sendiri. Lepas darinya, aku akan menjadi wanita mandiri yang tak butuh sosok laki-laki.
Ting!
Suara bel berbunyi, menarikku kembali dari lamunan. Gegas aku bangkit, pesanan makanan online-ku sepertinya telah sampai. Benar saja, saat pintu terbuka seorang kurir berseragam hijau berdiri di sana. Lekas kuambil bingkisan itu saat pria paruh baya itu menyerahkannya padaku.
"Terima kasih, Pak," kataku yang langsung mendapat anggukan dan senyuman ramah darinya. Segera aku menutup pintu setelah pengantar makanannya pergi.
"Sarapan?" Aku kaget bukan main, bahkan bungkusan plastik yang kutenteng hampir saja terlempar.
"Astaga ....! Bisa nggak kalau ngomong pakai aba-aba dulu!" kesalku seraya berjalan menuju dapur. Pria yang baru saja keluar dari ruangannya itu tidak menggubris, malahan mengekoriku menuju dapur.
"Ngapain sih?" sewotku melirik tajam ke arahnya.
"Makan," katanya singkat, melirik dua bungkusan styrofoam yang baru saja kuletakkan di meja granit dekat kompor.
"Enak aja! Ini milikku! Kalau lapar, beli sendiri!"
"Itu dua loh. Buat aku satu, 'kan?" Kepercayaan dirinya benar-benar bukan main.
"Nggak! Ini bubur ayam belinya di tempat favoritku. Bahkan, beli lima bungkus sekalipun tidak akan pernah merasa cukup!" Aku melengos saat dia menatapku dengan binar-binar di matanya.
"Rakus!" Seketika aku langsung menoleh padanya dengan mata membola sempurna, beraninya dia berkata begitu pada seorang wanita? Mulutnya sungguh melukai harga diriku.
Dengan langkah lebar aku berjalan menuju lemari pendingin yang tingginya lebih sedikit daripada aku, membuka pintunya, meraih sebotol air mineral ukuran sedang. Lalu berbalik, kembali ke tempat semula.
"Ini milikku, terserahku mau diapakan. Mau dimakan semua, mau dibuang satu, ataupun dibuang semuanya, itu urusanku!" Kuraih plastik berisi dua bungkus bubur ayam, memeluknya, lalu membawanya menuju kamar.
Kita sepakat untuk tak saling mengenal, kenapa dia malah melewati batas? Menyebalkan.
"Mau kemana?" Aku yang baru keluar kamar dengan dress hitam selutut dikejutkan dengan bariton tak menyenangkan.
Aku diam, melengos seraya menutup pintu.
"Aku tanya, mau kemana?! Setahun tak bersua denganmu, sepertinya kamu menjadi bisu?!" Ponsel yang kugenggam erat ingin melayang ke arahnya, tepat di wajah gagah yang selalu diagung-agungkannya.
Aku masih membungkam mulut, seolah tak mendengar cicitan kasar dari pria yang bertitel suamiku itu. Mengayunkan kaki, cepat-cepat ingin keluar dari rumah yang sejak pagi berubah menjadi neraka.
Baru dua langkah kaki mengayun, sebuah benda melewatiku secepat cahaya. Lalu ....
Prang!
Benda berbahan kaca berbenturan dengan tembok tak jauh dariku berdiri. Dia, melemparkan benda berbahaya ke arahku? Entah memang sengaja atau tidak, aku bersyukur tembakannya meleset.
Aku beringsut, memundurkan langkah seraya melindungi wajah dengan lengan. Ini berbahaya.
Belum selesai keterkejutanku, kini hal yang tak kalah mengejutkan kembali tersaji. Tangan kokoh pria berpostur tinggi tegap itu mencengkeram kuat lenganku, menariknya kasar ke belakang hingga mentok di pintu kamar.
Aku meringis, tak kuasa menarik diri. Pasrah satu-satunya cara untukku bertahan dalam kondisi tak kondusif begini.
Kupalingkan wajah saat pria berwajah kaku itu kian mendekat.
"Aku tanya, mau kemana? Sesulit itu kah menjawab?" katanya penuh penekanan. Terlalu dekat, hingga hembusan napas memburunya menerpa wajah.
Hening sejenak, rasa takut menguasai diriku.
"Bu-bukan urusanmu!" Aku tergagap.
"Oh ... bukan bisu melainkan gagu!" ejeknya semakin menguatkan genggamannya pada lenganku. Mataku terpejam, bibir bawah tergigit kuat saat tangannya yang bebas memindai wajahku.
"Awas! Aku mau pergi!" Debaran dalam rongga dadaku semakin tak terkendali. Aku ketakutan, sangat takut.
Gian mengendurkan tangannya, menarik dirinya menjauh.
"Mau kemana? Sebagai suamimu, aku berhak tahu kemana pun istriku pergi." Intonasinya menurun drastis. Ada apa dengannya? Tadi seperti kesetanan, sekarang mirip mentega dipanaskan.
Suami? Istri? Menggelikan.
Kuusap lengan yang terasa nyeri dan sepertinya merah lebam. "Ke rumah bunda."
"Bun-da?" tanyanya tak yakin dengan apa yang barusan melewati gendang telinganya. "Siapa bunda?" ulangnya.
Aku yang biasanya memanggil orang tuaku dengan ayah-ibu, dan kedua mertuaku dengan mamih-papih, kini menyebut bunda? Pasti terdengar aneh di pendengarannya.
"Bunda Tia," jawabku menyebut nama ibunda dari Ravis. "Bundanya Ravis," imbuhku saat melihat kerutan dalam di dahinya.
"Oh ...." Dia manggut-manggut, sebelah sudut bibirnya terangkat. "Rupanya kamu masih terngiang-ngiang orang mati itu?!" Tangannya bersedekap, melihatku dengan sorot ... entahlah.
"Jangan seperti itu," tegurku tak terima saat dia menyebut Ravis dengan 'orang mati itu'.
"Kenapa, kamu nggak terima?" Dia maju lagi. Dengan sigap tanganku terulur, hingga telapak tanganku menyentuh dada yang hanya tertutup singlet putih.
Apa ini? Jantungnya ... berdebar tak normal. Berpacu lebih cepat.
"Gian, kamu deg-degan?" Entah bisa disebut polos atau terhimpit keingintahuan yang kuat, aku menanyakan itu padanya.
Pria berdada bidang itu memalingkan wajah, terlihat salah tingkah terbukti dari telinganya yang memerah.
"Itu karena aku hidup!" Dia masih enggan melihatku. "Kalau nggak deg-degan aku mati!" selembut apa aku berucap, sekhawatir apa aku bertanya, jawabannya tetap tak bersahabat.
Terserahlah dia ngomong apa. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
"Aku pergi," pamitku. Belum juga kaki terangkat, dia kembali meraih lenganku. Menarik ke arahnya.
"Nggak! Aku nggak kasih ijin!" Tatapan kami bertemu.
"Diijinkan ataupun tidak, aku tetap pergi! Janganlah bertingkah seperti suami sungguhan, itu membuatku ingin terbahak!" Aku membuang wajah, tak sanggup berlama-lama bersitatap dengan sepasang mata sipit bermanik hitam pekat itu.
"Terserah mau ngomong apa! Sekarang, kembali masuk kamar!" Dia menyeretku ke ruangan pribadiku. Melemparnya hingga aku terperosok di lantai. Langkah lebarnya menuntunnya keluar seraya menutup pintu kasar.
Aku bangkit, mengejar pria yang yang kini sudah di bar dapur, tengah menenggak segelas air.
"Mau kamu apa sih?" Kutarik bahunya, membuat air yang masih tersisa dalam gelas berceceran menimpa dadanya.
Matanya melotot dengan pupil memerah, rahangnya mengeras, menciutkan nyali yang sempat berkobar.
Kuangkat wajah saat air bening yang menggenang di pelupuk mata memaksa ingin keluar.
"Kalau kamu pulang hanya untuk merenggut kebebasanku, secepatnya lepaskanlah aku!" Tangisku pecah, aku tak sanggup lagi menahan. Gegas membalikkan tubuh berjalan cepat menuju pintu.
"Rara!" panggilnya lantang, aku tak acuh, tetap mengayunkan kaki.
"Fazaira!" teriaknya membuat langkahku terhenti. Sontak memutar tubuh, menghadap pria yang masih berdiri di tempatnya. Tatapan tajamnya bagai ribuan jarum yang melesak, menusuk ulu hati.
"Apa?! Kamu bakal melempar gelas lagi padaku?!" tantangku tanpa berkedip. Sesak dalam dada mengalahkan ketakutan. Gian meletakkan gelas dari tangannya ke meja, lantas menujuku. Namun, tanganku langsung mencegahnya.
"Berhentilah, jangan mendekat lagi. Gian dewasa membuatku takut." Suaraku bergetar, menggigit bibir bawah agar tak mengeluarkan isak.
Aku membuka pintu apartemen, keluar dengan berlari. Sesekali menoleh ke belakang, syukurlah dia tidak mengejar.
***
Siang hari di makam terasa begitu syahdu. Mega kelabu tepat di atas kepalaku. Tepat pukul sebelas siang aku baru sampai di tempat Ravis berada.
"Hai, Vis. Ini aku, Rara." Tahun ini pun aku datang, ke pusara terakhirmu.
Aku berjongkok, meletakkan buket mawar putih ke atas bingkai nama yang tertera.
"Kamu jahat, jahat banget." Air mataku tumpah. "Sesulit itukah memaafkanku? Mimpi itu datang lagi, sudah tiga hari, dan datang setiap tahunnya." Aku tak ingin menangis, tapi air mata ini tak bisa diajak kerjasama.
"Tanpa kamu ingatkan pun, aku bakal tetap datang kok." Aku menyusut hidung. Membelai rerumputan hijau muda di atas makam. Sepertinya, bunda sudah datang, terlihat dari taburan kelopak mawar putih baru menyelimuti permukaannya.
"Gian pulang." Kuhela napas panjang. "Seharusnya ini momen yang aku inginkan. Rasanya sesak, dan terkekang bersamaan. Aku harus bagaimana? Aku ingin terlepas darinya, namun hati kecilku enggan menerima." Walau tak ada respon, aku tetap saja berceloteh, mencurahkan apa yang mengganjal dalam dada.
Seperti dulu, Ravis lah manusia tempatku mencurahkan isi hati.
Aku menyusut hidung, tangan mengusap pipi yang basah. "Kabarnya baik. Tidakkah kamu merindukannya? Sudah lama dia tak berkunjung kan. Apa kamu juga mengunjunginya beberapa malam ini, seperti apa yang kamu lakukan padaku?" Aku terkekeh, bertanya pun tak akan ada jawaban, jika benda mati yang kujadikan lawan berbincang.
"Rara ..." Sebuah tepukan di bahu membuatku menoleh ke belakang. Senyuman ramah dari wanita berwajah teduh itu menghangatkan hatiku.
"Bunda ...." panggilku manja, gegas bangkit dan memberikannya pelukan.
"Udah dari tadi, Ra?" tanyanya membuatku mengerutkan kening melihat tangannya yang membawa keranjang berisi kelopak bunga tabur.
"Belum lama," kataku masih memandang keranjang itu.
"Bunda, kenapa balik lagi?" Ragu-ragu memandang wajah berhias keriput halus itu.
"Balik lagi apa? Bunda baru datang, kok," ucapnya membuatku semakin kebingungan.
"Loh, kamu bawa bunga tabur juga?" Bunda melihatku penuh tanya. Aku harus jawab apa sekarang?
Jika bukan bunda yang menabur bunga, lantas siapa?