Bab 1

Awas! Jebakan konten-konten dewasa.

"Pesona apa yang kau miliki hingga membuat banyak pria mencoba berebut ingin menjadi malaikat pelindungmu, Phoebe Amaya Breslin?"

"Jangan terlalu berlebihan begitu, Tuan Levanchois. Well, karena sekarang aku telah mendapatkan apa yang kuinginkan, dan juga sudah berhasil membantumu. Jadi, kupikir kesepakatan di antara kita telah selesai," Phoebe tersenyum simpul, memahami bahwa kata-kata pria ini hanyalah sindiran belaka. Dia bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkahkan kaki, tetapi dia segera berbalik dan berkata, "Aku juga sangat penasaran, pesona apa yang kamu miliki sampai membuat semua orang selalu mematuhimu, Tuan Levanchois?"

Pria itu hanya memberinya sebuah senyuman misterius.

Saat pintu terbuka dan dia hendak pergi, tiba-tiba saja ada banyak sekali kilatan lampu kamera mengelilingi mereka. Merasa jika dia sedang dimanipulasi lagi, Phoebe menatap tajam pada pria yang sekarang berdiri tepat di sampingnya. Sebelum dia bisa mengucapkan sepatah kata pun, pria bermarga Levanchois itu meraih pinggangnya dan berbisik tepat di telinganya, "Apakah ini kekacauan lain yang kamu buat?"

Phoebe tidak bisa memberikan jawaban apa pun karena ia menjadi semakin bingung, membuat pria itu menariknya lebih dekat dan membawanya menuju ke arah lift pribadi yang berada tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.

"Apa yang baru saja terjadi? Apakah kamu yakin ini bukan trik kotor lain yang kamu rencanakan?!" Phoebe berteriak frustasi padanya dengan tatapan kesal.

"Apa yang baru saja kau tuduhkan, Wild Kitten? Trik kotor? Bukankah kamu yang selalu memainkan trik kotor?" Pria itu berbicara dengan nada tenang seperti yang selalu dia lakukan. Kemudian dia mendekat, "Karena jika itu adalah trik kotorku maka aku akan melakukan hal ini di depan orang-orang itu,"—dia memojokkan tubuh Phoebe dengan kedua tangan yang memerangkap tubuhnya—"bukannya malah membawamu pergi menjauh dari mereka." Tubuh Phoebe sekarang terjebak di antara dinding lift dan tubuh berotot milik pria yang paling mengesalkan sedunia bagi Phoebe.

"Apa yang kamu lakukan?! I hate you to the bone, Loony!" pekik Phoebe panik sambil mencoba mendorong tubuh kekar di depannya agar segera menjauhi dirinya.

"Aku hanya sedang menunjukkan trik kotor macam apa yang akan kulakukan jika memang benar akulah pelakunya." Mata elang milik pria itu terpaku pada tatapan polos Phoebe yang kini sedang terdiam seolah mencoba mencerna perkataannya, 'Aku tidak akan menggunakan trik kotor apa pun lagi. Karena jika itu adalah rencanaku maka aku lebih memilih membuatmu datang kepadaku dengan kedua kakimu sendiri and I'll make you loving me to the bone, Sweetie,' monolognya tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Phoebe barang sedetik pun.

Levanchois adalah nama lain dari mimpi buruk bagi Phoebe. Dia berusaha keras untuk melarikan diri sejauh mungkin dari cengkeraman pria paling berkuasa dan berpengaruh dari keluarga Levanchois dengan segenap kekuatan yang ia miliki. Sementara itu, Phoebe Amaya Breslin adalah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri tanpa harus mengkhawatirkan pandangan orang lain, persis sama seperti dahulu. Tentu saja, dia tidak akan pernah membiarkan gadisnya lepas lagi dengan mudah kali ini.

Ketika dua orang yang sama-sama kesulitan untuk mengungkapkan isi hati akhirnya harus bertemu di persimpangan takdir bernama,

Hello Love Sign

—✧✧✧—

Note:

Wild Kitten: Kucing liar (merujuk pada karakter yang sulit diatur)

I hate you to the bone, Loony: Aku benar-benar membencimu hingga ke tulang (sangat muak), Pria aneh.

and I'll make you loving me to the bone, Sweetie: dan aku akan membuatmu mencintaiku sampai ke tulang (sangat tergila-gila), Sayang.

Bab 2

"Aku udah nyiapin sesuatu yang spesial untuk perjalanan kita. Lusa pagi aku jemput, ya?" Terdengar rentetan kalimat dari seorang pria di seberang telepon, "Besok kamu gak bakalan lembur lagi, ‘kan?”

“Sesuatu yang spesial? Memangnya kita ada rencana ke mana?” Phoebe meencoba mengingat pembicaraan mereka tentang rencana berlibur.

"Dua bulan lalu kita udah bahas mau pergi liburan, ‘kan? Jangan bilang kamu lupa lagi, Baby,” dengus si pria menyiratkan rasa tidak suka.

“Ah, sorry. Akhir-akhir ini tim kami ada project besar, aku aja sampai punya mata panda sekarang. Berubah jadi cute panda deh aku,” rajuk Phoebe mencoba menjelaskan keadaannya agar pria itu mengerti.

“Gini melulu, sepertinya rencana kita bakalan terancam gagal lagi,” sungut pria yang akhir-akhir ini menyita perhatian Phoebe. Mereka saat ini sedang menjalin sebuah hubungan dan dia selalu ingin menjadi prioritas utama dalam hidup Phoebe, bahkan jika jadwal gadis ini sedang sangat padat.

“Aku janji kali ini kita pasti bakal tetap pergi, oke? Ayolah, jangan marah, hmm?” Phoebe masih berusaha meyakinkannya.

“Jangan bikin perjalanan kita batal lagi kali ini!” Belum sempat Phoebe menjawab kalimat itu saat pria yang sedang berbicara dengannya tiba-tiba menutup sambungan telepon mereka secara sepihak.

✧✧✧

“Astaga, gak pengertian banget sih jadi orang. Emangnya dia kira aku lembur di kantor tuh ngapain? Godain bos?!” Phoebe meluapkan kekesalannya di hadapan layar ponsel yang sudah kembali terkunci, seolah dia sedang berbicara langsung dengan Key saat ini.

“Kamu kenapa lagi? Semenjak sama dia kok jadi salty gini? Perasaan kamu jadi gampang stres pas udah tau soal masalah dia kemarin itu, bener 'kan?” celoteh seorang pria yang terlihat sibuk mengunyah keripik kentang rasa sapi panggang di samping Phoebe, "Padahal kalian berdua belum kawin loh, tapi udah ribut mulu. Emangnya kagak bosen apa?" Dia masih terus saja mencecar Phoebe dengan pertanyaan seperti seorang wartawan.

Phoebe memutar bola matanya jengah karena rekan kerjanya yang satu ini memang sangat menyebalkan, “Emang kenapa? Mau doain yang aneh-aneh? Gak suka banget lihat temennya bahagia!”

“Kok kamu jadi sewot, Babe? Kan aku tadi tanya doang. Salahin aku aja terus, ini gara-gara si kutu kupret sialan. Dia yang bikin ulah malah orang lain yang kena getahnya!” Juan menutup kasar kaleng keripik kentang dalam genggamannya, lalu melemparkan kaleng itu ke dalam laci meja kerja miliknya.

“Hey! Malah ngambek kayak anak gadis aja. Gak pantes tahu gak! Lagian lo bisa berhenti panggil gue Babe gak sih? Geli banget gue dengernya!” teriak Phoebe ke arah Juan yang kini sudah menghilang di balik pintu pantry.

“Kalian nih masih aja sukanya berantem tiap hari, ya? enggak di kantor, enggak di luar gedung ini. Emangnya enggak bosen apa?” Seorang wanita berkacamata berjalan mendekat ke arah meja kerja Phoebe sambil melontarkan keheranannya.

“Kak Christa tadi lihat sendiri, ‘kan? Kelakuan Juan tuh bikin orang gampang naik darah aja emang, sukanya nambahin kerutan orang tiap hari!” protes Phoebe kepada seniornya. Saat ini Christa menjabat sebagai salah satu kepala divisi di Unicorn’s Dream.

“Tahu gak? Kata orang kalau terlalu sering berantem tuh bisa menimbulkan benih-benih sesuatu loh, Beb,” goda Christa sambil tertawa geli. Dia sudah seperti sosok seorang kakak bagi Phoebe. Jadi, apa pun lelucon yang Christa katakan tidak akan pernah menyinggung perasaannya.

“Benih apa maksud kakak? Ganja? Wah, bener banget, Kak. Muka Juan emang minta dibasmi kayak tanaman berbahaya itu,” sindir Phoebe sambil menatap tajam ke arah Juan saat pria jangkung itu sedang berjalan melewati meja kerjanya.

“Ahahaha, jangan berlebihan gitu. Lagi pula masa depan itu siapa sih yang tahu, Beb?” Christa masih melanjutkan kalimat berbahayanya. Menggoda kedua junior sekaligus teman lamanya selalu bisa mencerahkan hari-hari sibuknya di kantor ini. Dia bahkan sampai harus beberapa kali membenarkan letak kacamata yang bertengger di batang hidungnya saat tawanya kembali meledak ketika melihat ekspresi dan bahasa tubuh kedua adik kelas di hadapannya. Sementara itu, Phoebe tiba-tiba merasa pusing mendengar omong kosong kakak kelasnya satu ini. Dia tidak bisa membayangkan jika sampai memiliki hubungan serius dengan Juan, si teman rasa musuhnya semenjak mereka bertiga bertemu di bangku sekolah menengah dulu.

“Siapa juga yang mau sama Badass Queen alias Ratu Barbar kayak kamu, Beb?! Bisa gila aku kalau tiap hari dengerin kamu muntahin dua puluh ribu kata bahkan bisa aja lebih,” cibir Juan, kembali menarik kursi di samping Phoebe.

“Hush! Minggir sana, manusia KEPO," hardik Phoebe, ia saat ini terlihat ingin sekali mendebat kata-kata beracun ala Juan. Jika saja tidak ingat jam istirahat mereka hampir berakhir, sudah pasti dia tidak segan-segan untuk kembali berdebat dengan temannya yang paling menyebalkan ini sambil mengacaukan tatanan rambut undercut ciri khasnya.

“Kak, boleh gak sih kalau aku pindah divisi aja? Ke divisi kakak yang jam kerjanya gak manusiawi juga aku rela deh. Asal aku gak perlu sering-sering ketemu makhluk ngeselin satu ini tiap hari,” pinta Phoebe dengan wajah memelas yang hanya ditanggapi kekehan oleh Christa, serta decihan Juan.

Juan memberikan tatapan kesal, “Ntar kalau beneran pindah ke divisi kak Christa bisa batal kawin beneran, kagak takut emangnya mengucapkan sayonara sama si bocah kutu kupret itu?” Juan dengan mulut cabai nerakanya memang tidak pernah kehabisan kata-kata beracun saat berhadapan dengan Phoebe.

"Lo tuh yang bocah! Keluar cari footage gih!" usir Phoebe.

—✧✧✧—

“Handphone kamu gak bisa dimatikan aja? Dari tadi berisik banget.” Tatapan tak suka yang diberikan Key membuat Phoebe merasa tidak nyaman.

Memang ponsel pintar miliknya tidak pernah berhenti berdering semenjak mereka baru berangkat ke tempat tujuan mereka saat ini.

Sebenarnya di Unicorn’s Dream mereka memberikan cuti selama satu pekan setiap tiga bulan sekali khusus untuk para editor. Mereka menyebutnya pro-cation atau project’s vacation. Biasanya mereka akan menggunakan waktu ini untuk mencari bahan mentah untuk diedit ke dalam berbagai proyek yang sedang mereka kerjakan atau bisa juga mengumpulkan beberapa bahan dasar sebelum diubah menjadi video untuk memperbarui portofolio mereka.

Namun ternyata, salah satu klien VIP mereka meminta agar proyeknya bisa diselesaikan lebih cepat, akibatnya jadwal presentasi akhir untuk proyek itu sudah pasti dimajukan. Membuat Phoebe harus stay on-call jika sewaktu-waktu timnya membutuhkan dirinya. Mereka juga tidak bisa memaksa Phoebe untuk membatalkan cutinya karena tugas Phoebe memang sudah dia serahkan sejak jauh-jauh hari.

“Terpaksa, Key. Aku kan harus tetap profesional. Lagian yang penting kita masih tetap sama rencana awal buat liburan ini, 'kan? Aku cuma stay on-call sampai meeting ini selesai, gak akan lama kok. Habis ini pasti mereka gak bakalan cari aku lagi, percaya deh,” bujuk Phoebe sambil menggenggam sebelah tangan Key yang tidak memegang setir mobil.

“Selalu aja gitu. Sepertinya emang lebih penting kerjaan kamu daripada aku,” sebuah dengusan kembali terdengar, “Apa aku harus minta kamu milih antara pekerjaanmu atau aku, kalau kita terus kayak gini?!”

Key masih merasa kesal, tetapi dia juga tidak akan membiarkan rencana liburan mereka kembali gagal kali ini. Jika ia ingin membuat Phoebe terikat dengannya maka ia harus mendapatkan gadis itu bagaimana pun caranya.

Setibanya di cottage, Key tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Phoebe. Dia memang pria yang dominan, tetapi juga lucu di saat yang bersamaan. Sifat itu diperlihatkan sampai bisnis miliknya tidak berjalan dengan baik akhir-akhir ini.

Key, kita gak salah tempat nih? Kok suasananya mirip kamar honeymoon gini sih? Mereka salah kasih kita kunci kali, iya 'kan?” tanya Phoebe mengamati tampilan cottage yang akan mereka tempati selama tiga hari ke depan.

“Bener kok, Baby. Kan aku udah bilang kalau aku udah nyiapin sesuatu yang spesial buat kamu,” Key merengkuh pinggang Phoebe, tanpa banyak bicara ia melumat bibir Phoebe. Membuat Phoebe sedikit kaget, tetapi segera membalas ciuman Key yang lambat laun menjadi semakin agresif.

Saat keduanya kehabisan pasokan oksigen, Key membenamkan wajahnya ke ceruk leher Phoebe. Kemudian membisikkan kata-kata yang menggoda, “Aku mau kamu malam ini, Baby.”

Tubuh Phoebe menegang seketika. Dia mencoba menelaah apakah Key serius ingin memiliki bayi dengannya dalam situasi seperti sekarang? Saat dia masih disibukkan dengan beberapa proyek yang semakin padat, sementara Key harus fokus dengan bisnisnya yang sedang butuh perhatian lebih.

“Kok diem aja? Kamu gak mau? Jangan bilang kamu belum siap,” desak Key menatap tajam ke manik mata Phoebe, membuat bibir gadis ini menjadi kelu. Pertanyaan dan ajakan Key bukan hanya sekali ini saja. Sebelumnya pembicaraan seperti ini selalu berakhir dengan kegagalan atau justru menggantung entah itu karena Key atau situasi Phoebe yang tidak memungkinkan. Tampaknya semesta belum mendukung penyatuan mereka hingga sejauh ini.

“Gak gitu, Key. Kamu tahu aku juga pengen punya anak tahun ini seperti kamu, 'kan? Aku cuma kaget aja karena kamu gak ada bilang apa-apa. Jadi, aku gak sempat siapin apa pun sebelum ke sini,” kelit Phoebe memberikan alasan.

“Kamu gak perlu siapin apa pun, kok. Cukup siapin diri kamu aja malam ini, Baby." Tatapan Key kembali melunak mendengar jawaban Phoebe. Bibir Key kembali menggoda leher Phoebe saat dia mengatakan, "Kamu capek gak? Mau tidur dulu? Aku mau kamu ngerasa nyaman selama kita ada di sini, My Baby Girl.”

“Mhm, sepertinya itu ide yang bagus karena nanti malam pasti kamu gak bakalan biarin aku tidur cepat, ‘kan?” Phoebe tersenyum sekilas menanggapi kerlingan Key.

“Ya udah, istirahat duluan aja. Aku mau keluar sebentar karena aku punya kejutan lain yang lagi aku siapin buat kamu, Baby.” Setelah mengecup kening Phoebe, Key segera keluar menuju suatu tempat yang tidak Phoebe ketahui.

Phoebe menatap ke arah ranjang king size yang saat ini berada di depannya dengan tatapan tidak bersemangat.

'Malam ini, ya? Apa kali ini beneran? Apa aku udah siap punya bayi sama dia?' monolog Phoebe. Ia masih belum mengalihkan tatapannya dari ranjang itu. Seharusnya ia merasa senang, bukan? Apa yang ia inginkan akan segera terealisasi dan salah satu rencana Phoebe sebentar lagi bisa terwujud. Phoebe memang memiliki target untuk segera memiliki anak, karena itu dia berusaha menyelesaikan semua project yang dialihkan pada timnya sebelum memutuskan untuk fokus pada rencana kehamilannya.

Namun, entah kenapa rasanya seperti ada suara yang terus terngiang di telinganya seakan menyuruhnya untuk memikirkan semuanya sekali lagi. Perasaannya juga mulai ragu untuk memiliki bayi bersama dengan Key ketika dia tidak sengaja melihat Key pernah mengamuk karena bisnisnya sempat goyah, tetapi ia terus berusaha menyembunyikannya dari Phoebe.

Untungnya dia memiliki orang-orang kepercayaan yang bisa mengamati Key secara diam-diam. Mereka adalah orang-orang yang memberi tahu alasan di balik perubahan sikap Key. Sejak saat dia mengetahui kebenaran itu, Phoebe merasa dia memiliki terlalu banyak alasan untuk meragukan hubungannya dengan Key.

Terutama ketika ia menyadari hubungan di antara mereka berdua hanyalah sebatas simbiosis mutualisme saja. Sejauh ini Phoebe yakin jika Key masih belum menyadari bahwa dia sudah tahu tentang rahasia-rahasia dan rencana-rencana yang menjadi alasan kenapa Key terlihat sangat berusaha keras untuk mendapatkannya. Namun sekali lagi, ide untuk memiliki bayinya sendiri membuatnya mengacuhkan semuanya termasuk kata hatinya sendiri.

✧✧✧

Tanpa terasa sore hari sudah menjelang. Phoebe baru saja menaikkan resleting midi dress-nya yang bercorak bunga-bunga saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Dia tahu pria yang memeluknya adalah Key dari pantulan cermin yang ada di depan mereka.

“Kok baru mandi jam segini? Jangan bilang kamu baru bangun. Padahal aku belum apa-apain kamu loh, Baby, tapi kamu tidur udah kayak kehabisan energi aja.” Phoebe hanya tersenyum kecil saat Key masih betah memeluk Phoebe dari belakang.

Sebelah tangan Key meraba perut Phoebe, “Sebentar lagi di sini bakal ada Key Junior. Kamu seneng gak?”

“Kalau ternyata beberapa bulan lagi di sini yang muncul Little Phoebe, gimana? Kamu gak suka?” tanya Phoebe sambil mengamati raut wajah Key dari pantulan cermin.

“No problem yang penting dia anak kita. Mau yang datang duluan Key Junior atau Little Phoebe semuanya sama aja, walaupun aku lebih pengen Key Junior yang jadi abangnya.”

“Dasar, tadi bilangnya gak masalah mau siapa duluan yang datang. Ternyata ujungnya tetap aja request,” Phoebe tertawa lepas saat mendengar jawaban konyol dari Key.

Key terpesona dengan ekspresi gadisnya yang sudah lama tidak ia lihat, rasanya ia sangat merindukan tawa memesona dari wajah bahagia Phoebe yang selalu bisa membuat jantungnya berdetak cepat karena merasakan jatuh cinta berulang kali, “Baby, rasanya aku gak bisa nunggu lebih lama lagi deh. Malam terlalu lama datang. Sekarang aja, ya? Mau, 'kan?” Suara Key mulai terdengar dalam dan berat.

Saat Phoebe menolehkan kepalanya untuk memberi jawaban, Key segera meraup rakus bibir Phoebe. Kedua tangan Key perlahan meraba naik dari pinggul Phoebe menuju ke tempat favorit bagi semua pria. Tentu saja itu membuat tubuh Phoebe mulai dijalari rasa hangat karena sentuhan yang diberikan pria ini. Perlahan Phoebe membalikkan badan menghadap Key, mereka berdua berusaha saling mendominasi dalam ciuman panas mereka.

Tiba-tiba suara panggilan telepon menggema di kamar mereka. Mereka berdua sengaja mengacuhkan dering ponsel yang berbunyi nyaris bersamaan, baik Phoebe maupun Key sedang tidak ingin diganggu saat ini.

“Engh, ganggu banget sih,” geram Key tak suka di sela cecapan lidah mereka. Saat Key berhasil meraih ponsel di saku celana jeans-nya, Phoebe segera merebut dan melemparkan ponsel itu ke arah ranjang sebelum Key sempat membanting ponsel yang baru saja pria itu beli untuk kesekian kalinya.

Setelah Phoebe memutuskan untuk mengupas semua rahasia pria ini satu per satu, orang-orang kepercayaannya selalu menemukan banyak hal baru. Bagian yang paling mencengangkan adalah kebiasaan Key yang baru diketahui Phoebe. Setiap kali Key merasa tidak suka atau terganggu dengan sesuatu, pasti ia akan membanting benda apa pun yang berada di dekatnya. Kebisasaan ini adalah yang terburuk sejauh ini.

Melihat apa yang dilakukan Phoebe, Key menyeringai di sela ciumannya. Key salah mengira dengan apa yang Phoebe lakukan dan menganggap Phoebe sudah tidak sabar, sama seperti dia saat ini.

—✧✧✧—

Note:

Jadi salty: menggambarkan seseorang yang marah, frustasi, atau menyebalkan

Undercut: gaya rambut dengan bagian samping dan belakang dibuat lebih pendek dengan ukuran panjang yang bervariasi.

Sayonara: selamat tinggal dalam bahasa Jepang.

Footage: rekaman video dengan ukuran tertentu.

Project’s vacation: liburan sekaligus menyelesaikan proyek pekerjaan.

Stay on-call: tetap bisa dihubungi meskipun sedang libur atau istirahat.

Cottage: Penginapan mirip vila. Biasanya berupa bangunan seperti pondok atau rumah kecil yang terpisah-pisah, tapi masih dalam satu area yang sama.

Midi dress: gaun yang memiliki panjang dengan ukuran di antara lutut dan mata kaki, atau kira-kira sebatas betis.

Bab 3

Tanpa melepaskan ciuman bergairah dan saling mendominasi di antara mereka, Key perlahan mendorong tubuh Phoebe agar berbaring di atas ranjang. Saat ini bibirnya sedang sibuk dengan leher mulus Phoebe sedangkan tangannya mulai menarik kaki jenjang milik Phoebe bergantian dan membuat tubuhnya berada tepat di antara kedua paha Phoebe. Pertama dia menarik kaki kirinya lalu kaki kanannya, setelah itu tangannya mulai bergerak seduktif di atas kulit kaki Phoebe yang semakin terbuka karena ujung midi dress-nya sedikit terangkat, membuat Phoebe mulai merasakan desiran panas hingga mengeluarkan suara desisan perlahan. Sekujur tubuh Phoebe meremang, kedua tangannya mencari pelampiasan untuk digenggam hingga tangan kanannya tidak sengaja menyentuh ponsel milik Key yang tadi sempat ia lemparkan asal ke atas ranjang. Tangannya tidak sengaja menggeser tombol hijau lalu mengaktifkan mode pengeras suara saat ponsel Key tiba-tiba saja kembali berdering.

“Bro, kenapa lama banget angkat teleponnya? Sorry kalau gue ganggu kalian berdua, tapi lo harus balik sekarang juga. Kami gak bisa handle meeting sama si Bos Besar. Semuanya nyaris kacau. Jadi, kami butuh lo di sini.” Suara seorang pria menggema di seberang telepon. Nada suaranya terdengar terburu-buru dan panik, hingga membuat keduanya kembali ke dunia nyata seketika.

Key tiba-tiba bangkit dan segera menjauh untuk menjawab teleponnya. Phoebe tahu perjalanan mereka sudah gagal total dengan sangat menyedihkan.

Tidak berselang lama, ponsel canggih miliknya juga berdering. Dia merasa panggilan ini pasti penting karena si penelepon tidak berhenti menghubunginya sejak tadi, membuatnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu secepatnya. Di layar ponselnya terpampang nomor milik sang adik.

“Hallo—” Tidak ada jawaban dari adiknya. Phoebe hanya mendengar suara isakan, “Kenapa nangis, Dek?” Phoebe menjadi semakin panik ketika adiknya tidak memberikan jawaban apa pun. Adiknya menangis semakin kencang di seberang sambungan telepon saat mendengar suara Phoebe. “Monica Aretha Breslin! Kamu kenapa, Dek? Apa ada sesuatu sama kamu atau orang rumah? Kalau kamu gak mau jawab pertanyaan Kakak sekarang juga, berarti Kakak akan cari tau sendiri. Pakai cara Kakak pastinya!”

“Ja-jangan, Kak. Aku bisa nginap di tempat Kakak aja malam ini? Aku nggak mau pulang,” jawab Monica terbata-bata di antara suara tangisannya. Suara adiknya membuat Phoebe sangat khawatir dan takut di saat yang bersamaan.

“Oke, kalau gitu kita ketemu di tempat biasa aja, jangan di tempat Kakak. Kakak berangkat sekarang juga.” Tanpa berpikir dua kali, Phoebe segera menulis sebuah catatan di selembar post note untuk Key setelah ia menutup koper cabin-sized miliknya. Dia bergegas pergi meninggalkan cottage karena sudah tidak memiliki waktu untuk menjelaskan dengan detail kepada Key. Bagi Phoebe, kondisi adiknya jauh lebih penting saat ini.

✧✧✧

Ketika Phoebe tiba di sebuah bangunan tinggi yang terlihat familier, dia segera menuju ke lantai paling atas. Dia berjalan dengan tergesa-gesa, detak jantungnya berpacu kencang dan dia tidak bisa berpikir jernih semenjak dia meninggalkan cottage. Dia takut jika sesuatu sampai terulang dan ia datang terlambat seperti saat kejadian paling mengerikan lebih dari tiga tahun yang lalu.

“Beebee, I miss you so bad. Emang segitu sibuknya ya? Sampai Kakak udah lama nggak pulang buat nengokin kami?” Aretha memeluk erat kakaknya seperti anak kecil yang ketakutan ketika mereka pergi mengunjungi dokter gigi.

“Masa sih segitu kangennya? Sampai jadi anak cengeng gini coba,” Phoebe tahu jika ada sesuatu yang terjadi. Walaupun manja, tetapi adiknya ini sudah lama sekali tidak pernah menangis seperti saat di telepon tadi. Meskipun dia tidak bisa menunggu dan merasa sangat gugup, tapi dia juga tidak bisa memaksa adiknya untuk segera menceritakan apa yang ingin dia dengar.

“Emang beneran kangen kok, aku juga kangen sama masakan Kakak. Lihat nih, aku kelihatan kurus kering begini setelah best chef kita nggak ada di rumah lagi,” Aretha sudah tidak menangis lagi, tapi dia masih memeluk erat kakaknya bahkan tidak membiarkannya bergerak meski satu inci pun.

Phoebe tersenyum mendengar kalimat berlebihan dari adiknya. Dia mengambil telepon di dekatnya dan memesan beberapa makanan untuk makan malam mereka yang nyaris terlambat. Rencananya dia akan memulai interogasinya saat mereka berdua makan malam nanti. Mereka memutuskan untuk bermain online game sambil menunggu pesanan makan malamnya datang. Di tengah kompetisi yang sedang berlangsung, Phoebe menanyakan tentang keadaan ibu mereka. Aretha tidak memberikan jawaban apa pun pada kakaknya, tapi wajahnya tiba-tiba berubah sendu. Seketika Phoebe menyadari satu hal jika ini semua pasti berkaitan dengan ibu mereka. Mungkin saja sesuatu sedang terjadi di rumah besar itu atau antara ibunya dengan orang-orang yang dia kenal, atau bisa jadi itu adalah seseorang yang ada di sekitar mereka.

“Princess, gimana kalau besok kita jemput mommy? Kayaknya udah lama kita gak pergi bareng-bareng buat Momster’s date,” tanya Phoebe yang sedang berpura-pura tetap fokus dengan permainan mereka. Ia tidak memutar tubuhnya menghadap sang adik, tapi ia mengamati gerak-gerik si adik melalui sudut matanya tanpa Aretha sadari.

Aretha tiba-tiba menghadap ke arah Phoebe dan berteriak, “MOMSTER’S DATE?! Oh, I loooove that idea, Beebee. Ayo kita jemput mommy pas pagi aja biar kita bisa puas main SEHARIAN! Eh, tunggu. Gimana kalau kita balik pas sebelum matahari terbit? Tunggu, tunggu! Mending sekarang kita bikin daftar rencana buat besok lebih dulu ...,”

Aretha mulai mengoceh tentang apa saja yang akan mereka lakukan esok hari, ia membuat catatan sedetail yang ia inginkan. Phoebe membiarkan adiknya membuat rencana tentang kegiatan mereka seharian. Sementara itu, Phoebe memutuskan untuk menelepon ibu mereka.

“Mom, mommy udah gak sayang lagi nih sama aku? Masa gak ada kangen-kangennya sama anak gadis manisnya satu ini?” berondong Phoebe tepat setelah ia mendengar ibunya menjawab sambungan telepon mereka. Kata-kata Phoebe membuat Aretha tertawa geli dan berhenti mengetik catatan di ponsel pintarnya.

“Gadis konyol! Kamu tuh yang udah lupa sama keberadaan wanita tua ini. Jangankan nelepon, kirim pesan seminggu sekali aja enggak. Apalagi sekali sehari. Sibuk kok sampai segitunya.” Ibu mereka mulai melayangkan protes, “Atau kamu udah ketemu sama makhluk mitologi dan jatuh cinta beneran sama dia? Kelihatannya para pria yang bisa menarik perhatian anak gadis Mommy udah enggak eksis lagi di dunia ini, kasihan banget.”

“Tungguuu! Excusez-moi, Madame. Emangnya Mommy lagi ada di mana sekarang? Sepertinya kata-kata tadi sangat tak asing di telingaku.” Phoebe merasa curiga pada ibunya.

“It’s a secret.” Ibunya memberikan jawaban singkat sambil berusaha keras menahan tawanya.

“Mom, Aku serius loh ini!”

“It’s secret, Bee. Itu tuh banyak banget tulisannya,”—Jane tidak bisa menahan tawanya lagi saat ini, ia tertawa terbahak-bahak—“di mana-mana.”

“Woah, WHAT?! WAIT! Apakah Anda sedang berada di wilayah terlarang saya?! Benar begitu, Nyonya?”

“Oh, tentu saja, Dear! Memangnya kamu pikir Mommy lagi ada di mana sekarang, sampai bisa tahu soal makhluk mitologi super tampan? Ya ampun, Mommy tuh enggak pernah nyangka kalau anak sulung Mommy ternyata punya fantasi ‘menakjubkan’ macam gini.”

Mendadak Phoebe ingin menangis dan tertawa di saat yang bersamaan saat ini. Bagaimana bisa, di antara begitu banyak ruangan di rumah mereka malah ibunya memilih untuk menghabiskan waktu di benteng rahasia milik putri sulungnya. Padahal semua “barang gelap” favorit Phoebe ada di sana. Benda-benda berwarna gelap, beberapa buku catatan hitam, ide-ide gelap, bahkan fantasi tergelapnya, dan hal-hal gelap lainnya yang tak terhitung lagi jumlahnya, termasuk beberapa barang gelap yang seksi.

“Madame, jangan lupa untuk mengunci pintu saat Anda sedang berada di sana dan juga sangat disarankan agar Anda bisa menggunakan waktu Anda dengan bijak saat menjelajahi benteng rahasia milik Phoebe Amaya Breslin. Meskipun, akan lebih bijak lagi kalau Anda segera mengunci pintunya dari luar saja,” ucap Phoebe dengan nada suara yang ia buat serius dan penuh penekanan disertai sedikit saran yang mengancam.

“Kalian lagi ngomongin soal apa sih? Emangnya Mommy nemuin apaan? Kasih tahu dong, aku kan jadi penasaran kalau gini.” Aretha baru mengutarakan pertanyaannya setelah ia bingung sekian lama dengan pembahasan kakak dan ibunya.

“NO!!” Phoebe and ibunya berteriak serempak.

“Apa? Kenapa kalian berdua pakai teriak segala?! Emangnya aku bikin salah apa?!”

“Maaf, Princess, tapi pembahasan ini sangat terlarang untuk mereka yang usianya di bawah 18 tahun,” jelas Phoebe dengan nada serius dan dingin.

“Hey! Aku sudah 21 tahun sekarang!”

“Kau selamanya akan tetap menjadi bayi kecil kami, Princess,” tutur ibu mereka di sela tawa kencang karena berhasil mengerjai para anak gadisnya.

Aretha menjadi kesal. Dia tidak pernah suka jika ibu dan kakaknya bersekutu untuk menyembunyikan sesuatu seperti sekarang. Phoebe memeluk erat adiknya saat melihatnya merajuk dan cemberut, ia juga memberikan ciuman bertubi-tubi untuk menggodanya.

“Anyway, Mom. Mohon kiranya agar segera meninggalkan benteng rahasia saya silakan tidur lebih awal, dan mohon bersiap-siap lebih awal untuk Momster’s date kita esok hari. Kereta kencana emas akan menjemput Anda sebelum matahari terbit, Madame.” Phoebe menjelaskan maksudnya menelepon sang ibu malam ini.

“Hmm, bisakah saya memesan kereta kencana emas untuk menjemput saya saat ini juga, Mademoiselle?”

“Oh, big no-no, Madame. Karena kami harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, sampai menjadi hal terlarang bagi Aurora dan Snow White untuk tidur lebih cepat malam ini.”

“Wow! Ada pesta makanan,” Aretha menjadi semangat seketika saat makan malam mereka sudah datang.

“Mom, aku harus mengawasi Aurora kita, jika tidak dia bisa segera tertidur setelah memakan kalori-kalori ini sebelum dia menyelesaikan tugasnya. Love you, Mom. Nikmatilah makan malammu juga dan tolong berhentilah mengunjungi benteng rahasiaku. Pretty please, Madame.” Nyonya Breslin kembali tertawa sebagai jawaban atas saran konyol putrinya.

Setelah Phoebe meletakkan ponsel pintarnya di atas meja, dia segera bergabung dengan adiknya dan menemaninya menikmati makan malam mereka. Ketika akhirnya mereka hampir menyelesaikan makan malam itu, adiknya terlihat tertarik dengan satu set chinoiserie cantik di depan Phoebe.

“Beebee, itu apa sih? Kok lucu banget,” celoteh Aretha sambil menunjukkan jarinya ke arah satu set peralatan minum teh dan sebuah mangkuk kecil dengan corak yang sama. Phoebe menjelaskan jika teko itu berisi teh oriental dan ada kantong kecil berisi teh ditambah dengan beberapa bahan rahasia yang tidak Aretha pahami bentuknya. Ketika Aretha semakin penasaran, Phoebe menjawab jika mereka akan meminum teh itu sekaligus menggunakannya sebagai masker.

“Lihat tuh mata. Emangnya kamu mau ketemu mommy pas wajahmu begini?” Aretha tiba-tiba menyadari jika wajahnya sekarang ini pasti berantakan dengan mata membengkak persis seperti ikan Koi.

“Jadi, apa yang bikin Aurora bisa punya mata Dori kayak gini?” Aretha tersenyum simpul mendengar perkataan Phoebe. Kakaknya yang satu ini memang seperti ini sejak dulu, dia selalu suka menggunakan kosa kata yang lucu dan tak terduga untuk segala hal.

“Tahu gak, Beebee? Suatu malam aku pernah lihat mommy minum sendirian di kegelapan. Lebih tepatnya pas aku baru balik dari party, sih.” Mendadak Aretha merasa merinding. Saat dia menoleh untuk melihat ke arah wajah Phoebe, kakaknya itu sedang memberikan tatapan mengintimidasi dan mengeluarkan aura dingin. “Ooo-kay, aku ngaku deh. Aku emang nyelinap dan nggak kasih tahu siapa pun.”

“Maksudnya ‘siapa pun’ di sini tuh TIDAK ADA SEORANG PUN TERMASUK PARA MAID DI RUMAH BESAR ITU?!” Aretha mengangguk dengan seringaian lebar yang tak berdosa di wajahnya.

“Teruskan dulu ceritamu, Young Lady!” Phoebe lebih penasaran dengan cerita tentang ibu mereka daripada menceramahi adiknya saat ini juga.

“Waktu aku bantuin mommy balik ke kamarnya kan,”—Aretha menarik lalu menghela napas panjang—”aku dengar mommy bilang soal sekarat, aturan, dan aku nggak bisa ingat apa lagi karena aku juga masih mabuk malam itu. Seandainya aku nggak mabuk, mungkin aku bisa cari tahu lebih banyak.”

Phoebe mengatur napas, dadanya terasa nyeri seketika, “Terus?”—Phoebe bertanya lagi setelah menegak habis teh oriental di cawan yang dari tadi ia genggam erat untuk melampiaskan emosi tertahannya—”Kenapa kamu baru kepikiran sekarang, Dek?"

“Soalnya aku udah lama juga gak pernah ketemu sama daddy, semenjak ...,” Aretha terlihat berpikir keras sampai alisnya bertaut, “Aku lupa, mungkin habis pesta ulang tahunku waktu itu? Aku jadi takut kalau mereka bakal ninggalin kita, kayak—”

‘Orang-orang itu, mau berapa lama lagi mereka bertingkah memuakkan seperti ini terus? Bahkan ketika aku sudah tidak ada lagi di sekitar mereka.’ Phoebe berusaha mengontrol emosinya, dia tidak boleh mengambil keputusan yang salah. Dia sadar saat ini dia tidak bisa melakukan apa pun.

Dia tidak boleh gegabah. Dia harus kembali ke rumah mereka karena ada banyak hal yang harus dia lakukan di benteng rahasianya, dia harus menyusun rencana yang matang dan sempurna sampai waktunya datang.

“Ssst! Itu gak bakalan terjadi. Udah, sekarang jangan mikir macem-macem. Mending sekarang kamu pakai skincare terus pakai ini buat ngilangin mata Dori itu. Kamu pasti belum skincare-an, ‘kan?” Phoebe menyodorkan kantung dingin di dalam mangkuk chinoiserie pada adiknya.

“Terus gimana sama rencana buat besok kalau aku ntar ketiduran duluan? Lagian juga aku nggak bawa skincare-ku, Kak.”

“Emang itu apa, Dek? Gak lihat Kakak sampai bawa travel bag khusus buat kamu. Lagi pula soal rencana buat besok kan itu cuma garis besarnya aja. Mana pernah kita beneran ikutin daftar yang segitu panjangnya?” Ah, travel? Phoebe segera menyambar ponselnya dan mencoba menghubungi Key, tetapi panggilan itu tidak tersambung juga. Akhirnya dia menyerah setelah mencoba beberapa kali.

—✧✧✧—

Sekitar dini hari mereka tiba di rumah yang sudah lama tidak Phoebe kunjungi. Setelah meminta ibu dan adiknya untuk bersiap-siap, Phoebe segera menyelinap ke benteng rahasianya dan mengambil beberapa peralatan yang ia butuhkan untuk misi berikutnya. Tepat setelah dia menyusun barang bawaannya di dalam bagasi, dua orang yang paling berharga dalam hidupnya berjalan mendekat dengan ekspresi kekaguman.

“Wow, lihat deh style Kakak keren banget. Permisi, Mrs. Smith. Apakah Anda sedang sendirian? Kemana Mr. Smith? Kalian tidak pergi bersama?” Aretha menggoda kakaknya.

“Princess, ingat ya. Bukan sembarangan Mr. Smith, tapi Mr. Smith itu datang dari Dragon's Valley dan dia datang jemput Beebee kita pakai seekor unicorn waktu dia berubah wujud jadi pangeran tampan.” Tawa Aretha langsung meledak mendengar perkataan ibu mereka, sementara sang ibu mengerling lalu turut tertawa lebar bersama si bungsu.

“Oh my, kenapa lagi-lagi Anda membahas soal ini, Madame.” Phoebe menghela napas pasrah, lalu dia berbalik mengancam adiknya, “Hey! Princess, kalau kamu terus ketawa ngeselin kayak gitu berarti kamu harus nyetir si black baby ini SEHARIAN!”

“Nooo way! Aku ini Princess, Kak. Bukan kusir kereta kencana,” tolak Aretha segera duduk di jok belakang mobil kesayangan kakaknya.

Seperti biasa, ibu dan adiknya tidak pernah bisa memutuskan di mana mereka akan sarapan, ke mana tempat tujuan pertama mereka, barang-barang apa saja yang akan mereka beli, dan lain-lain, dan sebagainya. Setelah makan siang yang kesorean, Phoebe memutar kemudi mobilnya ke tempat favorit mereka bertiga untuk menghabiskan waktu bersama.

“Beebee, emangnya ada acara spesial apa?” Aretha penasaran kenapa kakaknya memilih tempat ini sebagai destinasi terakhir mereka.

“Kenapa emangnya, kamu gak mau menghabiskan waktu di sini? Tumben banget, padahal salah satu teman Kakak sengaja pesan tempat khusus full service buat kita bertiga dari semalam.”

“Teman yang mana?” Ibu dan adiknya bertanya serempak penuh curiga karena seseorang itu berhasil membuat pesanan hanya dalam waktu semalam saja untuk seluruh servis yang ada di sini.

“Teman paling tampan yang aku punya. Udah jelas dan puas sama jawabanku? Madame, Mademoiselle?”

“Jelas aja gak puas. Kakak sekarang sengaja godain kami, ‘kan? Iya ‘kan, Mom?” Jane Breslin mengangguk setuju.

Mereka bertiga berjalan memasuki resort. Sebenarnya dia sudah mengetahui siapa teman paling tampan yang dimaksud putri sulungnya karena saat ini mereka sedang berjalan ke arah pria yang diperdebatkan oleh kedua putrinya sejak mobil mereka memasuki area valet parking di resort ini, sementara para anak gadis masih tidak menyadari keberadaan pria itu sebab mereka terlalu sibuk mendebatkan tentang identitas si pria tampan misterius, “Ayolah, Kaaaak. Kasih tahu siapa teman kakak yang paling tampan itu, terus kenapa dia repot-repot pesenin kita tempat di sini?”

“Wow, dia beneran bilang gitu? Aku temannya yang paling tampan?” Suara berat, dalam, dan serak mengejutkan mereka berdua hingga tubuh Phoebe membentur sesuatu yang terasa keras dengan dramatis, lalu berakhir mendarat di pelukan lengan berotot seseorang. Ups, sepertinya dia membentur dada bidang pria bertubuh kekar ini.

“Terima kasih untuk pujiannya, dan juga buat ciuman selamat datangnya walaupun bibirku ada di atas sini, My Bee.” Phoebe tercengang. Sementara itu, Aretha diam-diam merekam kejadian epik ini melalui ponsel yang ada di tangannya. Anak ini selalu menggenggam ponsel canggihnya ke mana pun dia pergi padahal dia selalu membawa sebuah tas kecil di pundaknya.

“Mom, apa dia Pangeran Naga itu? Si Pangeran yang Mommy bilang sebelumnya. Ini beneran? Serius? Mommy yakin? Mereka akhirnya beneran jadian? Oh, I loooove it!” Aretha berbisik kegirangan pada ibunya karena dia melihat kakaknya masih tersihir dengan pesona yang dimiliki si Pangeran Naga.

“Kamu suka banget ya aku peluk gini, My Bee? Kalau kamu mau aku bisa kasih kamu lebih dari sekedar pelukan macam ini, gimana?” Phoebe seketika tersadar saat dia mendengarkan pertanyaannya dan suara-suara cekikikan di belakangnya.

“KA-KAMU!” Phoebe kehabisan kata-kata.

—✧✧✧—

Note:

Post note: Catatan kecil yang bisa ditempel.

Koper cabin-sized: ukuran koper yang bisa dibawa masuk ke dalam kabin pesawat.

I miss you so bad: Aku amat sangat merindukanmu.

Momster's Date maksudnya Mom(s) and Daughter(s) Date atau Kencan Ibu dan Anak.

Excusez-moi, Madame: Permisi, Nyonya dalam bahasa Prancis.

Mademoiselle: Nona dalam bahasa Prancis.

Pretty please: Mohon dengan sangat.

Chinoiserie: Berasal dari istilaha bahasa Prancis untuk "Chinesery" atau "Chinese-esque” yang bermakna peleburan dari ditemukannya motif Asia dan Eropa yang diciptakan oleh desainer dan perajin di Barat.

Young Lady: Nona.

Black baby merujuk pada sebutan mobil berwarna hitam yang biasa Phoebe gunakan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED