Bab 1

Cup!

Hasbi menjauhkan wajahnya dari Natta. Wanita itu otomatis membuka matanya lalu memperhatikan kedua bola mata suaminya. "Kamu ingin melakukannya malam ini?"

"Iya."

Natta pun meletakkan kedua lengannya di leher Hasbi dan mulai mendaratkan bibirnya ke bibir Hasbi. Mereka saling melumat bibir satu sama lain. Bibir Hasbi dari lamanya pernikahan mereka masih belum berubah. Apalagi perlakuan lembut pria itu padanya setiap mereka melakukan hubungan. Hasbi selalu berusaha menciptakan ruang nyaman untuk Natta.

Lantas Hasbi menidurkan tubuh Natta dan bergerak di atasnya. Ia mengusap-usap kening Natta pelan dengan ibu jari. Wajah cantik Natta membuat Hasbi betah-betah saja memandangnya lama. Karena mereka sudah suami istri, Hasbi tak perlu lagi izin satu per satu untuk menyentuh tubuh Natta. Sebab semua inci tubuh Natta, sudah menjadi milik Hasbi juga. Tangan Hasbi terangkat ke dada Natta dan mulai merabanya. Ia menelusup masuk dari bawah kemeja Natta kemudian menangkup payudara itu. Terdengar desahan pelan dari bibir Natta.

"Hasbi ...," gumam Natta.

Hasbi mencium bibir Natta lagi. Tak lama kemudian ia turun ke bawah. Ia membuka satu per satu kancing Natta, lalu meninggalkan beberapa kissmark di dadanya. Sampai mendekati puncak gunung milik Natta, Hasbi menjilatnya dan memperhatikan lagi bagaimana reaksi Natta. Tiap desahannya, membuat Hasbi semakin bergairah untuk melanjutkannya.

Natta meremas kepala belakang Hasbi tatkala benda milik pria itu akhirnya masuk. Ini bukan kali pertama tapi rasa nikmatnya masih saja sama. "Hasbi!"

Hasbi mencium pipi Natta. "Aku di sini."

Ketika nikmatnya sudah mencapai puncak, Natta memeluk erat leher Hasbi. "Jangan pernah ... tinggalkan aku."

Hasbi hanya diam dan mengecup bibir Natta.

***

Hari ini cukup melelahkan.

Ada banyak bagian yang harus Natta kerjakan karena proyek perusahaan yang akan dilaksanakan minggu depan. Kalau tidak mau lembur di esok harinya, dia harus menyelesaikan semuanya di awal.

Ting!

Terdapat pesan dari babysitter yang menjaga Yofi di rumah.

Mbak Leli

Ma

Mbak Leli

Kapqn pulang?

Bibir Natta mengembang, lucu rasanya melihat pesan dari anaknya yang sampai salah ketik. Karena merasa sudah selesai, Natta pun meregangkan ototnya dan mulai membereskan barang-barang untuk pulang.

"Lembur to, Nat?" tanya Sasyi yang baru selesai menggandakan dokumen-dokumen untuk dipakai rapat besok.

"Udah selesai kok, udah dicariin Yofi," kata Natta sambil menenteng tasnya.

"Yofi aja? Suami nggak nyari juga? Biasanya jam-jam segini lagi kangen, loh," goda Sasyi yang hanya dibalas kekehan oleh Natta.

Setelah berada di dalam mobil dan menghidupkan mesin, Natta sengaja melirik ke arah layar ponsel. Tak ada lagi pesan selain dari anaknya. Apa hari ini Hasbi lembur juga? Entahlah, Natta tak terlalu cemas karena hal ini sudah biasa. Kalau tidak penting sekali, keduanya tak begitu saling mengabari. Demi menjaga privasi dan kesibukan masing-masing.

"Kenapa aku jadi tiba-tiba pengin dichat Hasbi, ya? Padahal biasanya nggak gini," gumam Natta. Tanpa memusingkan itu, dia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya membelah jalan raya.

Sampai di depan rumah, Natta mematikan mobilnya dan turun. Dia akan meminta tolong Hasbi untuk memasukkan mobil nanti karena memang selalu kesulitan dalam menyimpan mobil di garasi. Untung tadi Natta sempat mampir ke minimarket sehingga dia membawa beberapa jajan untuk Yofi.

Belum sampai di halaman rumah, Natta melihat tubuh suaminya yang membelakangi dirinya.

Kenapa Hasbi di sini? Biasanya kalau nunggu di ruang tamu, pikir Natta.

Hampir memanggil suaminya, dia melihat seorang perempuan yang menarik tengkuk leher Hasbi dan menciumnya tepat di depan Natta. Tepat ... di depan ... Natta.

"Hasbi?"

Hasbi menoleh, betapa terkejut dirinya melihat Natta yang membeku di tempat. "Natta ini ...."

"Brengsek,"  umat Natta sebelum berlari meninggalkan barang-barangnya. Dia tak tau malam-malam begini berlari ke mana, yang jelas saat ini Natta tak ingin melihat wajah Hasbi atau ditemukan olehnya. Tempat yang terpikirkan di kepala Natta adalah jembatan yang ada di ujung gang. Dia berdiri di sana sendiri, tanpa membawa apa-apa seperti orang hilang.

Sembari memegang pinggiran jembatan, Natta menyentuh dadanya yang terasa sesak. Dia pikir hubungannya dengan suami yang jauh takkan sejauh ini. Dia percaya, Hasbi akan mencintainya seumur hidup, tapi ada apa dengan hari ini? Mengapa Hasbi melanggar janjinya?

Kalau memang Hasbi sudah bosan, mengkhianati Natta bukanlah solusi. Natta tau kalau Hasbi merupakan laki-laki cerdas yang selalu mengandalkan dampak yang terjadi kala memutuskan sesuatu. Apa kali ini ... laki-laki itu goyah atas pendiriannya?

"Kenapa lo nikah sama gue kalau akhirnya mencium wanita lain? Gue bukan perempuan bodoh, Bi," gumam Natta yang kemudian menutup wajahnya, dia keluarkan semua tangis kecewa. Bahkan memori-memori lama ketika mereka baru menikah terus terputar.

Saat itu Natta sempat berpikir jika dia bisa kembali ke masa lalu, dia pasti tidak akan menerima pernikahan dengan Hasbi. Tidak akan pernah.

Tiba-tiba sebuah benda menggelinding ke kakinya. Kala Natta menunduk, dia menemukan sesuatu berbentuk bola yang aneh. Natta pun berjongkok untuk mengambilnya. Dia perhatikan baik-baik benda itu lalu membukanya.

10.03.2021-22.31,56

"Apa maksudnya?" Natta tak mengerti. Angka yang tertulis memang sesuai dengan hari dan jam saat ini. Tapi mengapa aura yang dimiliki benda ini begitu kuat? Natta jadi ingin menyentuhnya dalam waktu yang lebih lama.

"Dulu waktu sekolah tahun berapa, ya?" gumam Natta.

14.06.2016-05.00,00

"Ini kali, ya?" gumam Natta yang kemudian merasakan pusing di kepalanya. "Masa gara-gara telat makan?"

Saat Natta hendak berjongkok, dia merasa tubuhnya terombang-ambing sampai membuatnya mual. Suhu yang berubah menjadi lebih dingin membuat Natta memeluk dirinya sendiri. Pusing di kepalanya pun sirna saat itu juga.

"Pulang sekarang, deh. Nggak tau ntar gimana urusannya sama Hasbi, yang penting gue pulang," gumam Natta yang sedikit merasa aneh kala mendengar burung yang berkicauan padahal ini malam hari.

Natta berjalan lurus menyusuri rumah-rumah yang ada di kompleknya. Dia sempat merasa aneh karena tempatnya tampak berbeda. "Kok gue jadi mendadak kayak orang kesasar gini?"

Natta berhenti tepat di depan lokasi yang seharusnya adalah rumahnya. Tapi kenapa tempat itu adalah ruko besar yang sedang tutup? Natta tidak keliru, dia melihat pohon ceri yang ada di halaman, ini memang seharusnya adalah rumahnya.

Tak lagi ingin memusingkan hal itu, Natta memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tampaknya dia benar-benar harus beristirahat dulu untuk mengisi tenaganya.

"NATTA!" teriak ibu dari ambang pintu. Ayahnya yang tidur di kursi teras rumah sambil memegang senter langsung terpelonjak kaget.

"Mana Natta? Mana?" tanya ayahnya yang kelabakan karena masing linglung.

"Ibu? Ngapain malem-malem di sini?" tanya Natta.

Sontak sang ibu langsung memukul lengan Natta dengan keras berulangkali.

"Aw! Aw! Aw! Sakit, Bu! Kenapa tiba-tiba mukulin Natta, sih? Kan Natta bukan anak kecil lagi!" rengek Natta yang tak tau mengapa ibunya memarahinya.

"Mentang-mentang baru masuk SMA bukan berarti bisa kelayapan dan pulang pagi, ya! Kamu bener-bener harus dikasih pelajaran!" Kini ibunya berganti menjewer kuping Natta. "Ibu sama ayah udah cari kamu ke mana-mana sampai minta tolong Pak RT! Hampir aja ibu minta tolong badan intel takut kamu diculik."

Natta berusaha menjauh dari ibunya lalu menggosok kupingnya yang panas. "Ngapain Ibu nyari aku? Aku kan pasti kalau nggak kerja ya di rumah jagain Yofi. Kenapa Ibu nggak telpon? Aku pasti langsung dateng."

"KERJA APA?! YOFI SIAPA LAGI?! KAMU MAKIN DIBIARIN MAKIN BANDEL, YA!"

Natta mengernyit, makin tak mengerti.

"Yofi anakku sama Hasbi, Bu. Ibu lupa?"

"KAMU HAMIL?!" Ayah datang dan langsung ikut menjewer kuping Natta. "Bisa-bisanya masih bau kencur berani aneh-aneh! Bawa ke sini dia, akan ayah habisi."

Natta semakin bingung. Lantas dia tak sengaja melirik kalender yang menunjukkan angka '2016' begitu besar.

"Loh, Bu, kok kalender yang dipasang yang tahun 2016?" tanya Natta.

"Kamu ini kenapa sih, Ta? Kalau tahun ini 2016, ya kalender tahun 2016 yang ibu pasang. Kalau tahun 2004 baru 2004 yang dipasang. Gitu aja tanya." Ibu mendekati Natta lalu mengendus-endus baunya. "Kamu mabuk, Ta? Dari tadi loh omonganmu aneh-aneh."

Natta membatu di tempat. "Sekarang ... jam 5, Bu?"

"Iya!"

Jadi benar ... jam itu membawaku kembali ke masa lalu.

***

Natta mendudukkan diri di tepi kasurnya sambil memandangi isi kamar yang sudah lama tidak dia tempati. Semuanya benar-benar masih sama padahal dulu isi kamar Natta sudah dirombak dan ditinggali adiknya. Ternyata dia kembali menjadi anak SMA. Sebenarnya ini berkah atau musibah? Natta tidak tau.

"Astaga, Natta!" Suara cempreng ibunya lagi-lagi berteriak hingga Natta mau tidak mau menutup telinganya. "Kok masih bengong aja? Kamu nggak mandi? Nggak sekolah, hah?!"

Natta mana mungkin berangkat sekolah dengan keadaan begini. Semuanya masih terlalu tiba-tiba. Natta juga tidak siap untuk bertemu teman-temannya atau Hasbi versi SMA. Dia masih syok, bisa saja pingsan di sekolah nanti. Apalagi dia baru menghadapi suaminya selingkuh, maka kali ini Natta harus tau bagaimana bersikap yang benar agar tidak salah pasangan.

"Bu, hari ini aku nggak enak badan. Mau ijin sehari, ya?" ucap Natta dengan lemas.

Ibu Natta jadi cemas, ia pun berjalan masuk kamar Natta untuk mengecek suhu badannya. "Nggak panas," kata ibu Natta.

Natta mengangguk. "Tapi aku pusing banget."

Merasa tidak tega, ibu Natta pun memperbolehkan Natta untuk istirahat dulu. "Ya sudah, nanti coba kamu izin ke kakak kelasmu. Hari ini kan kamu MOS. Biar kamu nggak kena hukuman karena dianggap bolos."

"Iya."

Setelah ibu Natta keluar dari kamarnya, Natta mencoba membuka ponsel lamanya ini. Untung dia masih mengingat kata sandi untuk membukanya. Setelah itu dia membuka aplikasi BBM dan melihat grup pesan siswa barunya. Di sana sudah ramai anak-anak saling mengirim pesan untuk berkenalan.

"Haah ... apa gue harus mulai semuanya dari awal? Fase yang paling gue benci," gumam Natta yang harus berkenalan, mendekatkan diri, dan mengenal banyak orang. Kemudian Natta kembali memperhatikan grup chatnya. Di sana ia menggulir kontak-kontak personal dari teman-temannya. Salah satunya adalah milik Hasbi. Natta bisa mengenalinya dari foto profil wanita itu. Mulai hari ini, Natta harus menghindarinya agar mereka tidak perlu menikah di masa depan.

Oh, tidak. Natta berubah pikiran. Lebih baik dia dekati saja dan berikan rasa sakit untuk pria itu. Setidaknya akan adil kalau Natta memberikan luka setelah diberikan luka. Memangnya diselingkuhi itu tidak sakit? Hasbi harus tau dan belajar dari sekarang sehingga siapa pun yang pria itu nikahi di masa depan, ia tak akan berani untuk berselingkuh. Yang jelas bukan Natta yang akan mengulangi fase yang sama dengan Hasbi. Dia tidak mau lagi. Dia akan mencari jodoh yang lebih baik dan perhatian padanya sampai tua daripada Hasbi yang cuek dan diam-diam selingkuh.

"Oke, gue udah bertekad! Gue harus nemu suami yang ganteng, perhatian, dan bucin sama gue. Kalau kayak gitu kan gue nggak perlu yang namanya repot-repot sakit hati. Dan untuk mendapatkan itu semua gue perlu satu hal. Gue perlu cantik."

Natta menatap cermin yang menempel di lemari pakaiannya. Tampan pantulan wajahnya yang bersih dan mulus karena masih muda. "Dulu gue bener-bener nggak pernah ngerawat kulit jadi agak kering karena gue anaknya agak tomboi, tapi sekarang bakal berbeda."

Natta bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati bayangannya sendiri. Seulas senyuman tercetak di sana. "Hai, Natta. Aku kembali."

Bab 2

Natta menarik napasnya dalam-dalam. Ia sudah selesai memakai seragam putih abu-abunya. Ini rasanya aneh dan lucu. Sudah lama Natta tidak membayangkan kalau kini dirinya akan memakai seragam ini lagi. Lantas Natta membenah dasinya dengan benar sebelum akhirnya keluar kamar. Pusat perhatian keluarga pun tertuju padanya. Natta mendudukkan diri di meja makan sambil merasa aneh.

"Kenapa ... ngelihatin Natta?" tanya Natta karena ayah, ibu, kakak, dan adiknya sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.

"Kok kayak ada yang aneh, ya? Iya nggak sih, Bu? Kayak ada yang aneh, tapi nggak tau apa," ucap Aliando yang menggigit ayamnya tanpa mengalihkan pandangan dari Natta.

"Baru kali ini dia dandan normal. Biasanya kan ada aja yang dipakai di bibir atau dijepitin di rambut dengan alasan tren jaman sekarang," ucap ibu Natta yang seperti tidak kaget lagi dengan ulah Natta yang berubah-ubah.

Natta jadi mengambil piring dengan perasaan aneh. Dulu dia memang sangat memalukan, tapi sekarang secara mental Natta itu sudah dewasa dan punya anak. Jelas sangat memalukan untuk berdandan ala-ala anak muda jaman ini.

"Makan yang banyak biar nggak pingsan," ucap ibu Natta sambil memberikan nasi ke piring Natta. Meski wajahnya tampak cuek, ia masih begitu hangat pada Natta. Senyum di bibir Natta jadi mengembang, ia tatap ibunya penuh.

"Makasih, Bu," ucap Natta.

"Tumben kamu bilang begitu ke ibu. Biasanya bakal marah-marah karena nggak suka makan banyak," ucap ibu Natta yang heran dengan perubahan Natta pagi ini.

Sontak Natta menggeleng. "Natta nggak akan marah, kan Ibu udah masakin capek-capek."

Aliando, ayah, dan ibu Natta jadi semakin heran. Setelah sakit, sepertinya ada banyak hal yang berubah dari pribadi Natta. "Natta, kamu beneran udah sembuh? Kayaknya kamu masih lemes."

"Udah kok. Natta baik-baik aja."

Sesi sarapan pun mereka lewati dengan perubahan Natta yang lebih kalem dan dewasa dari biasanya. Padahal kalau hari-hari normal biasanya, mereka akan selalu ribut karena Natta harus berdebat dengan Aliando atau ibunya. Situasi yang sepi dan tenang ini sempat membuat mereka cemas, tapi mereka juga menikmatinya. Mungkin ini artinya sudah saatnya Natta bersikap dewasa dan berubah menjadi lebih baik.

"Pakai dulu helmnya," ucap Aliando yang berangkat sekolah bareng Natta. Kakak Natta itu memang hanya berbeda dua tahun dengan Natta sehingga saat ini adalah kakak kelas Natta. Natta duduk di bangku kelas 10 dan kakaknya kelas 12.

Setelah Natta memakai helm dan naik motor, ia memeluk kakaknya agar tidak jatuh. "Nanti kalau di sekolah jangan malu-maluin gue," ucap Aliando.

"Iya, tenang aja."

Biasanya kalau dikatai begitu, Natta akan marah dan menganggap Aliando berprasangka bahwa adiknya adalah anak yang nakal atau tukang cari masalah, tapi kali ini Natta hanya mendengarkan dan menanggapi dengan tenang. Aliando jadi benar-benar merasa bahwa Natta berubah.

"Ta, lo nggak abis kepentok pohon atau jatuh dari tangga, kan?" tanya Aliando yang jadi merinding.

Natta tersadar bahwa sikapnya dari pagi tadi sepertinya membuat keluarganya syok karena berbeda dengan saat dirinya masih muda. Maka Natta harus mencari alasan yang tepat agar mereka tidak semakin berpikir aneh. "Kak, gue minta maaf kalau selama ini tingkah gue nakal dan menyebalkan. Gue cuma pengin berubah jadi lebih baik. Makanya gue berusaha menerima nasihat apa pun yang diberikan ke gue. Gue udah capek untuk terus-terusan bertingkah kekanakan. Sekarang gue udah SMA."

Aliando jadi paham mengapa Natta bertingkah aneh sejak pagi. Ternyata itu yang sedang dipikirkan oleh adiknya. "Gue bangga lo punya pemikiran begitu, tapi karena masih muda gue berharap lo lebih menikmati masa muda lo dan mengekspresikan apa pun perasaan lo. Belum waktunya untuk lo menata dan menahan perasaan yang memang pengin keluar."

Natta mempertimbangkan apa yang disampaikan Aliando. Sepertinya dia khawatir kalau Natta terlalu dewasa dan tidak bisa menikmati masa mudanya karena harus selalu dipaksa bersikap bijak. "Gue ngerti," kata Natta.

Sampai di parkiran sekolah, beberapa orang menatap Natta yang berada di atas boncengan Aliando. Selama ini belum pernah ada perempuan yang bisa naik motor Aliando. Natta tidak terkejut lagi karena kakaknya itu tampan dan cukup populer di sekolah. Mungkin karena kakaknya adalah wakil dari ketua OSIS sekolah ini.

"Lo tau di mana kelas lo?" tanya Aliando. Karena Natta tidak mengikuti masa MOS sama sekali, harusnya Natta tidak tau. Jadi akan terkesan aneh kalau dia menjawab Aliando dia tau posisinya.

"Enggak," ucap Natta.

"Ayo gue anter." Aliando menarik tangan Natta agar mulai berjalan. Sepanjang koridor Nata bisa melihat para siswa yang merumpi untuk membahas soal hubungannya dengan Aliando. Pasti mereka berpikir kalau Natta adalah pacar atau gebetan Aliando. "Ini kelas lo."

Natta berhenti di depan kelas yang menunjukkan ruang "10 IPA 1". Maka Natta pun mencium punggung tangan Aliando seperti biasanya dan Aliando mengusap puncak kepala Natta. Hal itu menimbulkan pekikan histeris oleh orang-orang di sekitarnya yang berpikir bahwa mereka sedang melakukan simulasi berumah tangga.

"Belajar yang bener."

"Okey!" Natta menggendong tasnya lagi dan masuk ke kelas. Sampai di dalam sudah ada wali kelas yang menyambutnya. Ia pun diminta untuk memperkenalkan diri karena semua siswa di kelas ini sudah saling mengenal satu sama lain.

"Selamat pagi semuanya!" seru Natta dengan senyuman. Anak-anak di dalam kelas itu kagum dengan Natta yang berani dan percaya diri dalam bicara, sedangkan kebanyakan dari mereka tidak pandai public speaking. Sebenarnya bukan karena Natta berani, tapi mentalnya yang sudah dewasa dan terbiasa melakukan presentasi. "Kenalin aku Nattanil Aghnia Putri. Kalian bisa panggil aku Natta. Salam kenal semuanya."

Tok! Tok!

Baik Natta, wali kelas, maupun seisi kelas menoleh ke arah sumber suara. Itu adalah Hasbi. Astaga, Natta lupa kalau dulu Hasbi itu tidak ikut MOS karena kakeknya meninggal sehingga dia memperkenalkan diri paling terakhir di kelas. Bagaimana Natta bisa lupa, sih? Ia pun otomatis membuang pandangan karena tidak ingin menatap Hasbi lama-lama. Hasbi versi muda itu sangat tampan dan memiliki tatapan memabukkan. Jadi Natta tidak ingin tenggelam di dalamnya.

"Permisi, Bu," ucap Hasbi.

"Baik, silakan kamu memperkenalkan diri juga."

"Hai, gue Hasbi," ucapnya singkat.

Natta susah payah menahan debaran jantungnya karena berdiri di samping laki-laki itu. Ternyata Hasbi versi muda itu sangat tinggi dan memiliki tubuh yang bagus. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Hasbi versi tua, tapi Natta hanya  jarang memperhatikannya.

"Karena hanya tersisa satu bangku, kalian bisa duduk di bagian pojok belakang. Kalau nanti mau tukar tempat duduk, silakan."

Natta otomatis melotot. Dia akan duduk di bangku yang sama dengan Hasbi? Tidak mau! Saat Nata melirik ke arah Indira yang tengah menatapnya, ternyata sahabatnya itu sudah duduk dengan siswi lain. Helaan napas berat pun keluar hingga Hasbi meliriknya.

Hasbi pun berjalan ke bangku itu lebih dulu yang disusul Natta kemudian. Mereka duduk dengan perasaan canggung. Tidak, bukan mereka. Hanya Natta yang canggung karena Hasbi merasa baik-baik saja. Ia mengambil buku dan meletakkannya di meja lalu mencatat beberapa hal penting yang disampaikan guru. Hasbi adalah karakter ambisius yang betul-betul niat sekolah, berbeda dengan Natta yang semasa SMA cukup malas.

Itu sebabnya dia dulu langsung cocok dengan Hasbi karena saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Hasbi yang cenderung pendiam dan Natta yang cerewet. Perpaduan yang menarik.

Di tengah penjelasan guru, Natta menguap. Bukan tanpa sebab, semalam dia memang susah tidur karena cemas harus melewati hari pertama masa SMA. Tanpa sadar, Natta jadi meletakkan kepalanya di meja dan mulai memejamkan mata. Hasbi yang tak sengaja meliriknya bisa melihat jelas Natta yang tertidur. Perempuan ini lebih tenang dari yang Hasbi kira, tapi sepertinya dia tidak nyaman duduk bersama Hasbi. Entah karena apa padahal Hasbi tidak melakukan sesuatu yang aneh.

Kemudian Hasbi melihat kening Natta yang berkerut beberapa kali. Mungkin karena paparan sinar matahari dari jendela kelas yang ada di sebelah Hasbi. Kalau mau menutup tirainya, itu akan membuat para siswa tidak nyaman. Lantas Hasbi mengambil buku kosongnya yang lain dan ia tegakkan di antara dirinya dengan Natta agar wajah Natta tidak terkena sinar itu.

Setelah bel istirahat berbunyi, Natta terbangun dan baru sadar sudah tidur sepanjang penjelasan guru. Panik karena dulu ada tugas di pertemuan pertama, Natta segera mengedarkan pandangannya. Ternyata semua teman kelas Natta sudah ke kantin. Kala melirik ke arah Hasbi, pria itu masih ada di sana sambil mencatat sesuatu. Buku yang ditegakkan di antara dirinya dan Hasbi membuat Natta berdecih. Pelit sekali dia sampai takut Natta mencontek. Dengan kesal, Natta pun pergi keluar kelas lebih dulu, sedangkan Hasbi mengembalikan buku yang ia tegakkan tadi ke dalam tasnya.

Saat keluar kelas, tempat yang Natta tuju adalah kantin. Dia mendekat ke kerumunan yang merupakan teman kelasnya. "Permisi, halo teman-teman! Gue boleh gabung, nggak?"

"Oh, hai! Lo Natta, kan? Yang tadi perkenalan terakhir sama Hasbi?"

"Iya, gue Natta. Salam kenal, ya." Natta pun berkenalan lagi dengan beberapa siswi yang ada di sana. Salah satunya adalah Indira.

"Eh, Natta duduk sama Hasbi, ya? Gimana Nat menurut lo? Dia anaknya asik, nggak?" tanya Indira sambil terkekeh.

"Eh, iya! Semuanya kan pada duduk sama cewek, Natta doang yang duduk sama cowok. Spill dong! Hasbi kan ganteng gitu!"

Natta tidak menduga bahwa mereka akan tertarik pada Hasbi. Dulu Hasbi itu tidak begitu dikenal dan cenderung menjadi anak yang tidak pernah diperhatikan di kelas. Sebenarnya ada yang berubah atau Natta saja yang tidak pernah memperhatikan? Soalnya dulu Natta lebih banyak bergaul dengan kakak kelas.

"Emm, hehe ... kayaknya sih baik, tapi kita nggak ngobrol sama sekali."

"Hah, kenapa?"

"Tadi gue ketiduran, hehe ...."

Bab 3

Natta menghela napas berat. Baru sehari kembali ke masa lalu, rasanya sudah semelelahkan ini. Lantas dia membuka pintu rumahnya dengan santai karena tidak dikunci dari dalam. Saat masuk ke rumah, ia mendengar bunyi yang aneh. Selain decitan kayu, dia juga mendengar seseorang menahan desahannya seperti akan menangis.

"Hah? Bunyi apaan, dah? Emang ada setan di sini?" gumam Natta sembari mengedarkan pandang.

"Ah! Ah!"

Pupil Natta melebar saat dia menyadari sumber suara ini dari kamar orang tuanya yang terbuka sedikit. Di sana dia melihat ayah dan bundanya yang sedang melakukan hubungan intim.

"Oh, my eyes!" gumam Natta yang merasa dia tak seharusnya melihat kejadian itu, tapi dia merasa dejavu. Dia pernah melakukan itu dengan Hasbi.

"Semoga nggak jadi adek," gumam Natta, kemudian melanjutkan langkahnya.

***

Natta dan teman-temannya baru datang dari kantin. Ia melihat Hasbi yang sedang berbincang dengan siswa lain di bangkunya, sehingga kursi Natta sedang dipakai oleh siswa lain.

"Eh, Nat, lo di sini aja dulu. Nanti kalau bel masuk baru balik ke bangku lo," kata Indira yang jadi membentuk meja antar siswi yang tadi ke kantin bersama.

"Boleh, mau ngegosip dulu, ya?" Mereka semua pun tertawa bersama. Ini adalah momen yang cukup ia rindukan.

Di tengah obrolan mereka, Natta tak sengaja melirik ke arah Hasbi yang sedang menatapnya. Sontak Natta membuang pandangannya ke arah lain dan ikut berbincang lagi. Sepertinya dalam waktu dekat, Natta harus segera menemukan seseorang untuk menjadi kekasihnya. Jangan sampai dia terjebak bersama Hasbi lagi.

Harusnya begitu, tapi jujur saja perasaan Natta masih sering kalang-kabut kalau harus menerima tatapan Hasbi seperti itu. Dia terus teringat akan malam panjang Hasbi sebagai suaminya. Sekarang ketika di pertemukan versi muda yang pasti tidak tau apa-apa, Natta seperti ingin menerkam Hasbi. Padahal bocah itu pasti masih polos dan tidak berpikiran ke mana-mana. Natta jadi malu dengan dirinya sendiri.

"Eh, denger-denger bentar lagi perekrutan pengurus OSIS. Kalian tertarik join nggak, sih?" tanya Syifa di tengah obrolan mereka.

Indira melirik ke arah Natta. "Lo tertarik, Ta?"

Natta baru tersadar oleh ucapan mereka barusan, kemudian mengangguk-angguk saja seolah mendengarkan dari tadi. Dulu dia tidak berani mendaftarkan diri ke OSIS karena tidak percaya diri bahwa dirinya pantas ikut organisasi, tapi sekarang kan berbeda. Natta memiliki kesempatan untuk mengubah pengalamannya. Bisa saja dia juga menemukan jodoh di sana. Selama tiga tahun berada dalam kelas yang sama dengan Hasbi hanya akan membuat Natta kesal sendiri. Jadi lebih baik untuknya mencari kesibukan.

"Iya, gue tertarik. Kalian?"

Beberapa di antara mereka tidak berani, tapi khususnya Natta, Indira, Syifa, Tania, dan Yolanda sangat tertarik untuk mendaftar. Mereka pun sepakat untuk mendaftar dan mengisi formulir itu bersama.

"Bagus, hore!"

"Apa sih yang lagi diomongin cewe-cewe?" tanya Doni yang duduk di kursi Natta. Sebelumnya mereka memang fokus membicarakan tentang ekstrakurikuler sepak bola atau basket yang menarik, tapi bising yang timbul dari anak-anak perempuan membuat mereka penasaran.

"Yang gue denger sih lagi bahas soal OSIS," jawab Sidan.

"OSIS?" gumam Hasbi.

Sontak Doni menoleh pada Hasbi. "Lo tertarik, Bi?"

Hasbi mengedikkan bahunya. "Entah."

Ketika mata pelajaran olahraga tiba, guru olahraga tidak memberikan begitu banyak arahan. Beliau hanya meminta para siswa untuk melakukan pemanasan dan mengambil beberapa alat seperti bola, raket, kok, hingga matras. Katanya hari ini adalah olahraga bebas, di mana muridnya bebas mau mencoba olahraga yang mana.

Setelah pemanasan, Natta merasa lelah untuk berebut bola basket. Lebih baik dia menunggu salah satu alat menganggur, sehingga dia menepi di dekat pohon beringin dan bersandar di sana. Pandangannya fokus memperhatikan teman-temannya yang sedang berbincang dan tertawa karena salah dalam mencoba permainan.

"Nggak ikut ke sana?" celetuk seseorang yang berdiri di sebelah Natta.

Sontak Natta mendongak. Didapatinya seorang pria tampan dengan senyum manis tengah menatapnya. Dia siapa, ya? Natta tidak ingat kalau pernah mengenalnya dulu.

"Maaf?"

Dia pun berjongkok agar lebih mudah berbincang dengan Natta. "Kenapa di sini sendirian dan nggak ikut main sama yang lain? Lo dibulli?"

"Hah? Enggak. Emang lagi males olahraga aja," jawab Natta langsung karena tidak ingin dipandang buruk.

Pria itu terkekeh. "Gue Ares," ucapnya kemudian meneguk habis botol air mineral dingin itu.

Seperti terhipnotis, Natta tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ares sedikit pun. Pria ini sungguh memiliki sesuatu. Auranya membuat seseorang betah berlama-lama dengannya. "Kalau lo?" tanyanya.

Natta yang baru sadar langsung tersentak. Hal itu membuatnya otomatis cegukan selama beberapa kali. Ares jadi terkekeh dibuatnya. "Natta," jawab Natta.

Ares mengangguk paham. Lantas Natta melirik ke arah badge di lengan kiri Ares. Ternyata dia adalah siswa kelas 12 yang berarti seumuran dengan Aliando, kakaknya Natta.

"Kalau gitu, gue pergi dulu ya, Natta." Ares menepuk beberapa kali puncak kepala Natta sebelum akhirnya pergi. Sontak Natta menyentuh kepalanya. Ternyata rasanya nyaman sekali diperlakukan begini. Apa mungkin karena dia sudah lama berhubungan dengan orang yang super cuek seperti Hasbi?

Dari kejauhan, Hasbi memperhatikan interaksi Natta dengan Ares. Ia pun berkata pada teman-temannya untuk keluar dari permainan. Mereka memperbolehkan, Hasbi pun berjalan mendekati Natta. Saat sampai di depannya, Natta menoleh. Sekarang siapa lagi yang mau mengajaknya bicara?

Natta membulatkan matanya. Cukup mengejutkan karena akhirnya Hasbi mencoba berinteraksi dengannya. "Apa?" tanya Natta karena dari tadi Hasbi diam saja.

Kemudian Hasbi mengulurkan sebuah raket ke depan Natta. "Tadi disuruh olahraga sama Pak Anton, bukan duduk di pinggir," ucap Hasbi tanpa ekspresi.

Wah, benar-benar laki-laki yang menyebalkan. Tidak kenal pun dia berani menyuruh-nyuruh. Awas saja, jangan sampai Natta jatuh cinta atau kembali memiliki hubungan dengannya. Lantas Natta pun menarik kasar raket yang diberikan Hasbi itu dan beranjak dari tempatnya berada. Namun, Hasbi sempat bicara sebelum langkah Natta semakin jauh.

"Lo mau daftar OSIS?" tanya Hasbi.

Natta menautkan kedua alisnya. Selama duduk satu bangku, Hasbi belum pernah benar-benar bertanya atau penasaran tentangnya, tapi kenapa tiba-tiba? Apa ada yang salah dengan kepala pria ini?

"Bukan urusan lo," jawab Natta dengan ketus lalu berjalan lebih dulu. Baik, anggap saja Natta terlalu emosional. Karena dia memang kesal setiap melihat wajah Hasbi. Mengingat pria itu telah mencium bibir wanita lain di depannya.

"Sial, jadi keinget lagi, kan!" gumam Natta.

Sampai di dekat teman-temannya, Natta mulai bermain dengan yang lain. Tanpa mempedulikan Hasbi yang terus menatapnya.

***

"Sebangku sama Hasbi enak nggak sih, Ta? Udah sebulan sejak MOS, kalian berdua anteng-anteng aja. Kalau gue sih pasti udah macarin dia," ucap Syifa tanpa beban.

"Iya, si Hasbi ganteng gitu. Kayaknya dia bakal jadi rank 1, kan? Kemarin ulangan aja dapet nilai sempurna terus," kata Yolanda sambil memperhatikan model kuteknya baik-baik.

"Jelek, Nda. Pakai warna ini aja," ucap Indira yang memberikan kutek miliknya karena warna kulit Yolanda tidak cocok dengan warna kutek itu.

"Okey, makasih."

"Eh, tapi jangan salah! Si Natta kan juga nilainya sempurna terus. Enak banget kalian sebangku! Kalian ada saling nyontek gitu nggak, sih?" tanya Tania yang membuat Syifa ikut menyimak dengan saksama.

Natta sendiri hanya bisa terkekeh. Bagaimana tidak mendapat nilai sempurna jika sudah pernah melalui itu semua? Bagi Natta, pelajaran SMA sangat lah mudah karena dirinya sudah mengetahui seluruh kunci jawabannya. "Kita nggak pernah ngobrol," ucap Natta yang menjelaskan mengenai interaksinya dengan Hasbi.

"Hah? Kenapa?" tanya Syifa.

"Tapi iya, sih, bisa kayak gitu. Hasbi orangnya agak pendiem, kan?" ucap Indira yang jadi ikut melirik Hasbi yang sedang memainkan ponselnya.

"Bukan agak lagi, tapi emang pendiem."

"Tapi kalian lupa, ya? Sekarang kan Natta lagi deket sama Kak Ares! Bisa-bisanya kalian mau jodohin dia sama Hasbi," ucap Yolanda yang membuat mereka semua teringat.

"Ooooh, iya! Anjir, sori-sori, Ta! Kita mah lupa wkwk!"

Natta tidak tau sejak kapan. Mungkin sejak perkenalan di lapangan waktu itu. Teman-temannya jadi berpikir kalau Natta punya hubungan dengan Ares yang baru dia kenal. Kalau diingat-ingat, Ares merupakan bagian dari pengurus OSIS dan juga anak paskibra, tapi dia  tidak dekat dengan Aliando. Jadi Natta pun tidak kenal dia siapa.

"Enggak, njir. Jangan ngegosip lah. Gue sama Kak Ares nggak ada apa-apa," ucap Natta yang diselimuti tawa, tapi sebenarnya dia juga berharap ada sesuatu di antara dirinya dengan Ares.

"Ini buat lo, Bi." Ucapan seorang perempuan dari kelas lain membuat perhatian satu kelas tertuju pada mereka. Natta dan teman-temannya jadi ikut menoleh dan melihat ke arah Hasbi yang memperhatikan duduk di bangkunya tengah memperhatikan perempuan berani itu.

"Wiiih, Hasbi lagi ditembak?" ucap Yolanda, merasa takjub dengan perempuan itu, sedangkan Natta hanya diam di tempatnya. Dia yakin seratus persen kalau cinta perempuan itu akan ditolak. Hasbi punya harga diri tinggi, jadi dia tidak suka diperlakukan istimewa oleh perempuan duluan. Punya hubungan 15 tahunan sudah sangat cukup membuat Natta kenal bagaimana karakter Hasbi.

Satu-satunya hal yang membuat Natta membulatkan mata adalah ketika Hasbi menerima garpu itu dan hendak memakan camilan yang diberikan sang perempuan. Tanpa sadar Natta beranjak dari tempatnya dan langsung mengambil alih garpu Hasbi. "Ini dibuat dari apa? Coklat?!"

"I--iya, kenapa?" Perempuan itu jadi panik karena Natta tiba-tiba menengahi mereka.

"Eh Natta ngapain?" Teman-temannya jadi bingung karena selama ini Natta tidak peduli atau dekat dengan Hasbi.

"Lo bodoh, ya?" seru Natta pada Hasbi. "Ini coklat! Lo alergi coklat! Lo mau masuk rumah sakit karena sesak napas lagi?"

Semua orang baru tau akan hal itu, khususnya Hasbi sendiri. "Gue alergi coklat? Gue pernah masuk rumah sakit?" Hasbi pun bingung dengan penjelasan Natta karena dia tidak merasa bahwa dirinya punya alergi sampai masuk rumah sakit. Walau selama ini memang tidak pernah dirinya mencoba memakan coklat.

"Ta, lo cemburu? Hasbi aja nggak tau kalau dia punya alergi," ucap Doni. Tatapan dari seluruh teman sekelasnya seolah memberikan tekanan pada Natta untuk menjelaskan apa yang dimaksud perempuan itu barusan. Natta jadi bingung karena dia tanpa sadar dan sangat reflek untuk menghentikan Hasbi. Ini namanya kebiasaan dan Natta sudah sangat terbiasa berperan sebagai istri sekaligus pasangan Hasbi.

"Gu--gue ...." Natta tidak tau harus menjawab. Satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk aman adalah memberikan garpu itu lagi kepada Hasbi. "Kalau lo nggak percaya, lo bisa coba sendiri."

Natta tidak peduli lagi kalau Hasbi masuk rumah sakit. Yang penting dia bisa keluar dari situasi menegangkan ini.

"Coba, Bi. Kita buktiin Natta bener atau cuma cemburu aja!" seru Sidan yang membuat teman-teman sekelas mereka ikut terprovokasi.

Hasbi menatap Natta dengan ekspresi yang tidak bisa Natta simpulkan, lalu menerima garpu itu. Dia memakan coklat pemberian perempuan tadi. Awalnya semuanya baik-baik saja dan mereka hampir menyimpulkan bahwa Natta punya perasaan untuk Hasbi, tapi tak lama kemudian pandangan Hasbi berubah gelap tanpa bisa melihat atau mendengar sekelilingnya lagi.

"HASBI!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED