Aku menangis kala itu. Saat alam bawah sadarku baru menguasai diriku setelah koma beberapa bulan yang lalu, aku menangis dengan sangat hebatnya. Aku kehilangan dia, aksara dalam kisahku. Aku kehilangan dia, diksi dalam puisi milikku. Bagaimana aku bisa menemukannya? Bahkan ketika semuanya terjadi tepat bersama denganku.
Saat itu, aku berlari dengan langkah kecilku yang baru sembuh dari rumah sakit yang selama ini menjadi tempatku untuk tertidur dan beristirahat. Namun, seseorang menahanku dan memelukku dengan erat.
"Nala, kamu jangan nangis. Udah, biarin dia tenang di sana yah nak?"
Dia Ayahku. Tapi, aku tetap tak bisa menengkan diriku. Seolah separuh duniaku telah menghilang ikut pergi bersama dirinya, Sakala. Laki-laki yang selalu bersamaku. Aku tak mau kehilangan dia, andai saat itu aku tak mengejar kupu-kupu indah sampai membuat kejadian menyeramkan ini terjadi.
Saat itu aku dan Sakala sedang bermain di taman. Seperti biasanya kami selalu bahagia setiap kali bertemu. Saat sedang asik bermain kami menendang bola nya terlalu jauh sehingga Sakala berlari untuk membawanya.
"Nala, kamu tungguin dulu ya? aku mau bawa bolana dulu," ucapnya sebelum pergi meninggalkanku yang hanya menganguk.
Benar namaku dan namanya hampir sama. Dia Sakala dan aku Shanala. Entah mengapa bisa sama, aku pun bahkan tak tahu alasannya. Namun, kedua orang tua kita memang sangat dekat karena itu juga kita berdua sering bermain dan tertawa.
Ada satu hal yang sangat istimewa, dia selalu memanggilku Sea. Katanya aku terlihat seperti lautan, aku seluas dan seindah lautan. Entah mengapa juga aku menyukai nama itu, Sea nama yang indah dari seseorang yang berada pada masa lalu yang indah juga.
Sakala belum juga kembali mengambil bola yang sedari tadi menjauh karena tendanganku. Awalnya aku yang akan mengambil bola itu, tapi Sakala melarangku. Katanya dia tak mau aku terluka sedikitpun, sehingga dia yang berlari dan mengambil bola yang pergi jauh tersebut.
Karena sangat lama, rasa bosan mulai menguasai diriku. Pada saat itu juga ada seekor kupu-kupu yang sangat cantik terbang dengan bebasnya. Awalnya aku hanya diam dan memperhatikan, namun semuanya berubah ketika aku ikut mengikuti arah terbang kupu-kupu cantik itu. Mataku hanya menatap sayap indah yang menempel, tanpa memperhatikan sekeliling dan tempat yang aku pijak.
Sampai saat itu, aku tak mengingat apapun. Selain teriakan Sakal yang memanggil namaku dan juga darah yang ada di sekitar tubuh kita berdua. Seolah cahaya datang entah dari mananya. Semuanya menjadi putih dan aku terbangun hari ini.
Saat mendengar bahwa Sakala telah pergi jauh dariku, aku takut. Aku tak pernah membayangkan sosok itu pergi jauh dari hidupku, sejak saat itu aku tak pernah terbuka kepada siapapun. Meski aku masih sangat kecil, namun rasanya seperti aku memang telah jatuh cinta kepadanya. Aku tak bisa melupakan sedikitpun kenangan masa kecil bersamanya.
***
Hari ini hujan sangat lebat. Aku melamun sambil menatap air hujan yang turun dan membuat embun di sekitar kaca yang berada tepat di sebelahku.
"Nala!" teriak Audrey membuatku terkejut kaget.
"Ishh... Drey. Gue di deket lo, kenapa teriak?" ucapku kesal. Audrey sering kali menganggu sesi melamunku.
"Temenin ngantin yuk, gue bosen. Lo nggak bosen natap hujan mulu?" gerutunya. Mungkin dia kesal, karena setiap hujan turun aku akan berdiam diri dan menatap air hujan.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan jika aku sering menatap air hujan. Hanya saja, dia dan kenangannya tersimpan juga dalam rintikan hujan. Setiap melihat hujan, aku merasa melihat dia juga datang ke dalam hidupku yang telah lama merindukannya.
"Nala!! Ihh gue sebel sama lo yah, di ajak ngobrol malah melamun lagi." Audrey menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat aku tak tahan untuk melihat kegemasan.
"Iyah Drey, ayo."
Audrey menarik tanganku, mengapitnya dengan tangan milik dia. Kita berjalan menelurusi koridor yang sepi, mungkin karena hujan semuanya tidak pergi untuk keluar? Ah, aku juga tak tahu. Hanya menebaknya saja.
Kita telah sampai di kantin. Aku dan Audrey selalu duduk di bangku dekat mba Yati. Supaya lebih mudah ketika akan memesan, apalagi perut Audrey tak pernah cukup untuk satu porsi makanan saja.
"Nal, Nala..." panggil Audrey membuatku menoleh menatap wajahnya.
"Temenin gue beli makanan yah ke supermarket nanti pulang sekolah?" pintanya sambil memegang tanganku erat.
"Gue mau ke toko buku Drey, apa lo lupa?"
Audrey cengengesan. Senyumnya yang aneh membuatku mengerutkan keningku aneh. Sekarang apa lagi yang akan di lakukan Audrey.
"Nala pliss... temenin gue yah yah? nanti gue temenin ke toko buku deh," bujuknya sambil menatapku dengan wajah imutnya.
"Iyah, terserah."
Audrey berteriak kegirangan. Membuatku malu seketika, sekarang semua orang telah berkumpul di kantin dan karena ulah Audrey semua pasang mata menatap kita aneh. Ya tuhan... mengapa Shanala harus berteman dengan Audrey.
Kantin yang berisik tambah berisik ketika kedatangan seseorang. Aku tak tahu dia siapa, namun sepertinya semua orang menyukai laki-laki itu. Aku hanya mengangkat bahuku acuh, jujur saja aku tak pernah peduli pada lingkungan sekitar apalagi terhadap hal seperti ini.
"Nala nala! Itu kak Kevan ganteng banget ya tuhan," teriak Audrey histeris.
Aku mengacuhkan Audrey yang berteriak dan melanjutkan sesi makanku yang terganggu oleh kebisingan kantin yang membuatku ingin mengumpat. Siapa sih Kevan itu, mengapa semua orang menyukainya? Shanala rasa Kevan biasa-biasa saja. Tapi, kenapa semua orang berteriak setiap kali bertemu dengannya?
"Drey," panggilku.
Audrey menoleh. "Hah? Kenapa lo?"
"Dia siapa? Kenapa pas dateng semua orang teriak? Berisik," ucapku menekankan kata berisik pada kalimat yang baru saja keluar dari bibirku.
"Hah? Lo nggak becanda kan Nala. Lo beneran nggak tahu kak Kevan? Astaga, lo kenapa nggak tahu gini sih? Lo kemana aja Nala."
"Apa sih Drey, gue beneran nggak tahu. Lagian dia nggak penting," ucapku cuek.
Audrey terdengar menghela nafasnya beberapa kali. "Kak Kevan itu cowok paling ganteng di sini, asal lo tahu dia kesayangan guru meski kadang yah sering ribut sana-sini."
"Gue baru tahu."
Audrey yang mendengar ucapanku mungkin terkejut saat mendengar apa yang aku katakan. Ku lihat dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Namun, aku tetap tak peduli dengan apa yang terjadi.
***
Setelah makan dari kantin. Sekarang aku berada di perpustakaan. Tempat paling nyaman yang pernah aku temui. Tapi, berbeda dari biasanya Audrey ikut bersamaku. Entah apa yang dia inginkan sekarang, tapi mereka berdua sedang tenang dan membaca beberapa buku yang ada di perpustakaan. Rasanya sangat tenang, apalagi perpustakaan adalah tempat paling sepi dan nyaman untuk menghibur diri atau mengisi jam istirahat yang masih tersisa.
Rasanya kepalaku mendadak pusing. Bayangan ketika hari kelam terjadi kembali datang dan itu membuatku sangat ketakutan. Aku takut, Sakala pergi meninggalkanku karena diriku. Aku meremas rok dengan kepala yang mulai memberat.
Sejak itu, aku tak tahu apa yang aku rasakan. Selain kegelapan yang meliputiku dan juga teriakan namaku, aku yakin dia adalah Audrey.
"Sea, kamu mau jadi pacar aku nggak" tanya dia sambil tersenyum dengan manisnya.
Kau tahu? Senyumnya sangat manis dan umur kita berbeda 2 tahun. Saat itu umurku 5 tahun, aku tak mengerti memang apa yang dia ucapkan saat itu. Pacar? Apakah itu sebuah makanan? Atau permainan yang mengasikan?
"Pacar itu apa, Kala?" tanyaku sambil menatap dia yang sedang memegang bunga.
"Aku juga nggak tahu Sea, tapi katanya pacar itu teman yang baik!" ungkapnya sambil memberikan bunga yang dia pegang.
Tanganku dengan langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.
"Jangan pernah pergi yah, Sea."
Jantungku berdetak lebih cepat. Rasanya andrenalin ku berpacu sangat cepat. Mimpi itu lagi, mengapa aku terus memimpikan Sakala. Aku merindukannya, aku sangat-sangat merindukannya. Aku tak tahu bagaimana caranya aku bertemu dengan Sakala, selain berkunjung menuju pemakaman dirinya.
Mataku belum sepenuhnya tersadar. Samar-samar cahaya masuk ke dalam mataku, aku mengerjap beberapa kali dan melihat Audrey yang langsung berjalan dengan wajah khawatirnya.
"Lo nggak papa? Kenapa lo nggak bilang lo sakit Shanala Arkasea," ucap Audrey sambil memanggil nama panjangku.
Aku menggeleng melihat tingkahnya. Aku tahu dia mencemaskan diriku tapi, aku tidak apa-apa. Hanya saja tadi entah mengapa perutku dan kepalaku mendadak sakit. Meskipun sekarang perutku masih sedikit sakit, tapi tak separah saat tadi.
"Ya ampun Nala! Gue nanya bukannya di jawab malah bengong lagi."
"Gue nggak papa Drey, tadi kepala gue mendadak pusing. Maaf yah bikin lo khawatir, gantinya gue temenin lo pulang sekolah seharian."
Aku tahu itu hal sederhana. Tapi, Audrey selalu suka saat aku menawarkan diri untuk berjalan seharian dengannya. Mungkin dia sangat menyukai bagaimana dia mengganggu ku dan membuatku kesal.
"Hah? Beneran Nala? Fix nanti gue mau keliling mall! Ya ampun sayang Nala banget." Dia memelukku dengan sangat erat. Aku hanya terkekeh geli melihat reaksi nya yang berlebihan.
Sudah aku bilang, Audrey akan membuatku berjalan dan pastinya mengubah cara berpakaianku. Dia akan dengan senang hati mengajakku pergi menuju salon bersamanya.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku tiba-tiba. Aku merasa harus menuju kelas hari ini.
"Masih jam 11 Nal," jawabnya.
Aku berusaha berdiri. Namun, Audrey menghalangiku. Kedua keningku berkerut.
"Jangan ke kelas plis, gue males pelajaran bapak itu. Dia kejam ih nggak nggak!"
Aku hanya menghela nafas dan kembali menidurkan badanku di atas ranjang UKS. Baiklah aku akan terdiam dulu dan yah menatap Audrey yang sedang memegang ponsel sambil tersenyum sesekali. Pasti Audrey sedang melayani para buaya yang menggodanya.
Aku merasa lapar sekarang. Untung saja di dekatku ada semangkuk bubur, tanganku mengambil mangkuk bubur itu dan memakannya perlahan. Melihatku yang sedang makan Audrey berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju arahku.
Dia merebut mangkuk bubur dan sendok yang sedang ku pegang. Lalu menyuapinya padaku. Astaga, aku kira aku salah memakan bubur! Aku bahkan mengira ini bubur miliknya.
"Audrey?"
"Makan aja, gue suapin. Biar makin sembuh sayang nya gue," ujar Audrey sambil terus menyuapiku dengan sesendok bubur.
Aku sedang memutuskan sesuatu. Hal yang tak pernah aku lakukan pada siapapun, bahkan ini kali pertamanya dia melakukan ini. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran Shanala. Dia hanya ingin menceritakan sebagian kisah masa lalunya kepada temannya Audrey.
"Drey, gue mau ngajak lo ke ke tempat dimana dia ada. Lo mau ikut?"
Sejak keputusanku untuk mengajak Audrey datang ke tempat dimana Sakala berada. Dia terus-terusan tersenyum cerah, kerap kali mengganggu ku dan terus bertanya siapa Sakala itu. Ya, Audrey belum mengetahui kejadian di masa lalu itu.
Dan mungkin, untuk saat ini juga. Aku tak akan menjelaskan siapa Sakala. Biarkan Audrey hanya tahu tempat dimana dia berada.
"Gue mau ke toko bunga dulu. Lo mau ikut apa nungguin di sini?" tanya ku sambil memperhatikan Audrey yang terus-terusan menatap dirinya di pantulan kaca.
"Gue ikut! Mau beli bunga juga."
Akhirnya aku dan Audrey pergi menuju toko bunga. Tanganku mengambil beberapa ikat bunga terkhusus bunga tulip kuning dan baby breath. Bunga kesayangan Sakala tentunya. Aku pergi menuju kasir dan segera membayarnya.
Setiap melihat bunga ini aku sangat merindukan bagaimana Sakala dengan pintarnya selalu bercerita tentang bunga Smeraldo. Apa aku tidak mengatahuinya, tapi katanya dia sangat menyukai bunga tersebut. Kerap kali aku bertanya beberapa toko dimana membeli bunga itu aku malah di katai gila.
Padahal jika saja bunga itu benar-benar ada. Aku ingin memberikannya sebagai hadiah saat Sakala ulang tahun nanti. Aku tak pernah tahu bagaimana bentuk Smeraldo. Namun, saat rasa penasaran diriku semakin ingin tahu aku dapat mengetahuinya. Bunga itu memang sangatlah indah, uniknya aku sering menatap bunga itu sebelum tertidur.
Ternyata nama bunga itu hanyalah fiktif dan setelah mengetahui semuanya. Aku hanya sering membaca atau mendengarkan lagu-lagu yang berkaitan dengan bunga ini sambil mengingat.
Selain menjadi nama sebuah bunga fiktif, Smeraldo juga menyimpan legenda tersendiri. Hal ini dijelaskan dalam tulisan Legend of the Smeraldo Flower di Medium.
Legenda Smeraldo lekat kaitannya dengan kisah cinta seorang pria kepada seorang perempuan yang tak bisa tersampaikan dan berakhir dengan kesedihan.
Bunga Smeraldo diceritakan mekar di La Citta Di Smeraldo, sebuah pedesaan di utara Italia.
Di sana hidup seorang pria yang tinggal di kastil sendirian, akibat diasingkan oleh keluarganya. Ia berasal dari keluarga bangsawan, tetapi karena lahir di luar pernikahan, ia dianggap petaka, sehingga perlu dikucilkan.
Gara-gara hal tersebut, ia jadi insecure dengan dunia luar. Satu-satunya yang dilakukannya sebagai hiburan adalah menanam bunga.
Hingga suatu hari ada seorang gadis miskin, yang kerap mencuri bunganya berulang kali. Sampai pada akhirnya si pria memutuskan untuk membuntuti si gadis tersebut hingga ke desa dengan mengenakan jubah.
Ternyata gadis tersebut mencuri bunga untuk dijual, demi menyambung hidup. Si pria lantas mencoba membantu menanam bunga terbaik, dengan serangkaian eksperimen, hingga terciptalah Smeraldo.
Sayang, setelah ditunggu beberapa lama, si gadis tak kunjung datang. Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya ke desa, dan justru kabar sedih yang diterima, lantaran si gadis telah meninggal.
Tentu saja si pria merasa sangat sedih dan menyesal, karena sampai saat terakhir ia belum sempat berjumpa langsung dan berani mengungkapkan rasa cintanya kepada perempuan tersebut, yang tak lain adalah orang yang dikaguminya untuk pertama kali.
Itulah kenapa Smeraldo juga disebut sebagai ‘non potevo dire la verita’ atau The Truth Untold.
Cerita dari bunga itu sering kali membuatku menangis. Aku seolah adalah pria yang mencintai gadis itu, hingga gadisnya telah tak ada di dunia. Sama hal nya dengan aku yang masih tetap sama mencintai Sakala yang bahkan sudah bahagia di dunia sana.
Aku selalu melamun saat melihat bunga yang aku pegang. Selain menyukai bunga fiktif, dia juga sangat menyukai bunga cantik kecil dengan nama baby breath. Entah mengapa Sakala kecil sangat menyukai bunga itu.
"Shanala!"
Aku terkejut mendengar Audrey memanggil namaku. Pasti dia sudah sangat kesal karena menunggu. Aku harus segera melupakan tentang Smeraldo maupun kenangan ku bersama Sakala. Tapi, mungkin cintaku akan tetap sama kepadanya. Sama seperti kali pertama Sakala mengajakku berpacaran, aku akan berkata bahwa dia tetap menjadi pacar pertama dan terakhir ku.
Setelah membeli beberapa bunga aku dan Audrey pergi menuju pemakaman. Disana sangat sejuk, aku selalu menyukai tempat dimana Sakala berada. Karena di sana aku sering mengadu kepadanya. Tentang hariku atau kerinduanku.
"Nala, dimana tempatnya?" tanya Audrey.
Aku berjalan menuju sebuah pemakaman dengan bunga yang hampir layu disana. Apakah tidak ada yang pernah datang ke sini? Ah, iyah aku lupa. Terakhir kali aku datang saat 2 minggu yang lalu, pantas saja bungnya telah layu.
Orang tua Sakala jarang datang menemui pemakamannya. Entah karena apa, mungkin tak ingin mengingat masa kelam dahulunya. Aku duduk di dekat Sakala. Mengelus nya pelan, seolah dia ada di depanku dan sedang tertidur.
"Sakala, aku Sea. Ini bunga yang kamu suka. Seharusnya aku bawakan Smeraldo kesayanganmu itu. Sayang, itu hanya bunga fiksi. Kamu kenapa nggak cerita bunga itu nggak ada? Sejak kecil aku menangis mencari bunga itu terus menerus!" aduku pada Sakala.
Saat itu hujan sangat deras. Aku yang berumur 7 tahun dan masih percaya bahwa Smeraldo itu nyata menangis dengan keras. Karena itu hari dimana Sakala ulang tahun dan aku berjanji akan membawakan smeraldo ke pemakamannya. Sayang, bunga itu tak pernah ketemu.
Aku sampai demam karena berlari keluar dan mengintari setiap toko untuk mencari bunga Smeraldo. Saat itu juga Ayahku memberikan ku bunga Baby Breath dengan iming-iming itu adalah bunga yang diinginkan Sakala. Sejak saat itu juga setiap ke pemakaman aku selalu membawa bunga itu bersamaku.
"Ini namanya Audrey temenku." Aku menunjuk Audrey dan memperkenalkannya kepada Kala.
"Hai Sakala, gue Audrey."
Mata Audrey terlihat menahan tangis. Aku mengerutkan kening mengapa dia menangis? Aku sudah mengajaknya menuju rumah Sakala. Sekarang Audrey malah menjadi sedih.
Aku melihay Audrey menyimpan bunga mawar berwarna merah di atas batu nisan Sakala. Air matanya meluruh, aku tak bisa berbicara sepatah kata lagi dan hanya diam menatap gerak gerik Audrey.
"Sakala, maafin gue. Gue kira lo masih ada, makanya gue bawain bung ini supaya kalian jadian. Maaf Kal, gue nggak tahu kalau lo udah nggak ada."
Audrey meminta maaf dengan tangisan yang luruh dari matanya. Aku segera memeluk Audrey, tidak ini bukan salahnya. Seharusnya aku mengatakan untuk mengajak Audrey ke pemakaman bukan ke rumah. Ah, Audrey pasti salah faham.
"Udah Drey jangan nangis. Gue mau ngajak lo jalan-jalan bukan melow!" ucapku menghapus beberapa tetes air mata di matanya.
Audrey kembali tersenyum. "Iyah, astaga kenapa gue jadi nangis. Padahal kan lumayan di temenin nge mall sama Shanala."
Aku terkekeh sambil mencubit pelan pergelangan tangan Audrey. Baru di katakan untuk jalan-jalan saja matanya langsung berubah ceria, dasar memang Audrey.
Aku menyimpan bunga itu lalu tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan pemakaman Sakala. Tanganku bergerak untuk mengelus nisan yang bertulisan nama Sakala. Hanya Sakala, tidak ada nama awal ataupun nama akhir dari dia.
Aku segera pergi dari tempat itu. Entah perasaanku atau bukan, aku sudah merasa tidak nyaman sejak tadi. Aku melihat siluet seseorang yang terus menatap ke arah ku. Makanya aku memutuskan untuk pergi dari pemakaman ini dan berjalan-jalan sekejap bersama Audrey. Seperti janji yang ku buat saat berada di sekolah. Aku bahkan belum mengganti seragam sekolahku. Sejak pulang aku segera bergegas pergi ke sini bahkan belum menyempatkan untuk pulang dan berganti pakaian
***
Sudah berjam-jam aku berdiam diri dan hanya melihat Audrey berlalu lalang mencari beberapa pakaian yang harus aku gunakan. Sebenarnya aku ingin menolak bahkan sudah menolak, namun Audrey tetap keukeuh dengan pendiriannya dan memilih-milih baju yang pantas untukku katanya.
Sekarang dia sedang mengambil baju dengan warna pink. Astaga, apakah aku harus sangat terlihat feminim? Audrey benar-benar menyebalkan.
"Shalalalalana Shalalalana," teriaknya bersenandung memanggil namaku. Panggilan macam apa lagi ini, astaga aku tak habis pikir dengan tingkah yang selalu ada dari Audrey.
"Ganti baju ini! Nggak ada penolakan terus nanti dandan yuhuuu," teriaknya dengan girang.
Apa katanya? Aku tak bisa menolak. Astaga Audrey! Aku bahkan tidak pernah menyukai baju dengan warna cerah, apalagi sekarang baju seatas lutus yang sangat pas di badan.
Aku hanya bisa menurut dan tidak dapat menolak. Memang salahku menjanjikan Audrey hal yang membuatnya bahagia dan berteriak kegirangan. Sekarang, dia malah menjerumuskanku menuju diriku yang lain.
Aku mencoba pakaian ini. Meski terlihat cukup bagus di badanku, aku sedikit risi dengan panjang bajunya yang sangat pendek. Apalagi sepatu yang tinggi ini, meski tidak terlalu tinggi tapi aku tak pernah terbiasa menggunakannya.
Aku keluar dengan pakaian dan sepatu senada yang sudah kugunakan. "Gimana Drey, lo puas?"
"Puas banget! Tambahan dikit," ucapnya sambil menjepit beberapa helai rambutku.
Aku berjalan dengan pelan karena tak terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi. Sedangkan Audrey berjalan dengan sangay cepat. Aku harus nenyusul Audrey sekarang, aku sedikit berusaha mempercepat langkah kaki ku. Namun, sepertinya aku sedang sial dan malah akan terjatuh. Aku berteriak kaget namun untungnya seseorang menolongku.
Garfield Kevan S.
Nama yang tertera pada atas sakunya. Sepertinya dia satu sekolah dengan kami. Audrey berlari menghampiriku dan matanya membelalak seolah kaget. Aku berdiri setelah di bantu olehnya.
"Makasi," ucapku.
Namun, laki-laki itu malah pergi dan berbalik tanpa membalas ucapan terima kasihku. Sialnya mengapa aku sangat ingin marah dan memaki-maki dirinya. Berani sekali dia tak menjawab ucapan terima kasihku.
Berbeda dengan diriku yang kesal. Audrey malah berteriak kegirangan, aku tak tahu apa yang terjadi padanya sehingga berteriak seolah telah mendapatkan sebuah emas yang sangat besar.
"Ahhh!!! Shanala, dia dia kak Kevan. Aduh ganteng banget, gue nggak kuat," teriaknya dengan mata yang terus menatap laki-laki itu. Aku hanya mengangkat bahuku tak peduli. Aku baru ingat bahwa dia laki-laki yang membuat kantin menjadi sangat ribut karena kedatangannya.
"Gue nggak peduli," ucapku sambil meninggalkan Audrey yang masih melamun.
Garfield Kevans S... S? Mengapa aku seperti pernah mengenalnya di suatu tempat. Namanya, mengapa seperti tidak asing di telingaku. Saat mataku dan matanya bertemu, aku merasakan dia dan aku pernah bertemu. Tapi dimana, aku sangat lupa. Saat-saat seperti ini aku membenci otakku yang mudah melupakan kenangan.
"Dia siapa? Apakah kita pernah bertemu?" bantinku berbicara.
Setelah pergi belanja dan juga menonton film. Aku dan Audrey sekarang berada di sebuah cafe, katanya dia sangat lapar. Padahal aku sedang tak ingin makan. Tapi, aku tak bisa menolaknya. Aku hanya menuruti keinginan Audrey dan pergi untuk makan bersamanya.
Aku sudah mulai bosan apalagi ketika Audrey sangat lama untuk datang ke sini. Entah pergi kemana dia sekarang. Aku melamun memandang kaca jendela yang menampilkan lampu-lampu malam. Pikiranku entah pergi kemana, hari ini aku sangat lelah dan ingin beristirahat mungkin karena sejak tadi aku belum menidurkan badanku di kasur kesayanganku karena ulah Audrey yang mengajakku berkeliling.
"Nala!"
Suara itu. Akhirnya, Audrey kembali. Aku sudah ingin cepat-cepat untuk pulang. Aku mengubah arah pandangku yang awalnya menatap kaca jendela sekarang melihat ke arah Audrey yang membawa makanan. Sekarang aku akan makan dan segera pulang menuju rumah. Aku sudah tidak sabar untuk beristirahat rasanya badanku sudah sakit semua. Apalagi kakiku yang memakai hig-heels yang menyebalkan ini.
"Kenapa lo lama? Gue udah mau tidur Drey."
"Tadi ngobrol sama cowok ganteng, kelupaan makannya," ucapnya sambil cengegesan. Aku benar-benar ingin memukul kepala Audrey dan menyadarkannya astaga.
Tanpa pikir panjang lagi. Aku dan Audrey makan tanpa bicara sepatah katapun, aku segera menarik Audrey untuk keluar dan segera pulang. Besok kita sekolah, apakah Audrey lupa? Apalagi jadwal besok guru yang sangat kejam akan mengajar!
***
Aku sudah sampai di rumahku. Sepertinya kedua orang tuaku masih sedang makan dan belum tertidur. Aku berjalan ke arah mereka dan segera duduk di salah satu meja, meski sudah makan aku tetap ingin memakan masakan Bunda. Itu sangat lezat, aku tak bisa menolak pesona setiap masakan yang di masak oleh Bundaku.
"Nak, kamu baru pulang yah? Habis dari mana jam segini baru pulang," ucap Bunda sudah pasti dia sangat khawatir terhadapku.
"Nggak papa Mah, wajar anak gadis jalan sama pacar," timpal Ayahku.
Aku menggeleng menanggapi ucapan mereka. "Nggak, Nala nggak jalan sama pacar ih Ayah. Tadi Audrey ngajak jalan."
Kedua orang tuaku malah terkekeh. Kedua mata mereka seolah menatap baju yang aku gunakan, ini semua gara-gara Audrey. Jadi semuanya mengira aku telah jalan bersama pacarku. Padahal punya pacar saja tidak, aku tak pernah tertarik untuk berpacaran. Tentu, aku selalu mengingat Sakala.
Nama itu, wajah itu dan kenangan yang ada bersama Sakala. Tak pernah bisa terhapus meskipun aku ingin melupakannya, seolah semuanya berjalan dengan sendirinya aku hanya bisa menerima dan terus mengingatnya. Aku tak pernah bisa melupakan bagaimana raut wajah senangnya saat bercerita tentang hal kecil, apalagi tentang bunga kesayangannya Smeraldo.
"Kamu cantik banget pake baju gitu sayang," ucap Ayahku sambil membelai rambutku. Ibuku menganguk tanda dia juga setuju dengan ucapan Ayahku mungkin.
"Audrey ngajak aku keliling mall, terus nyuruh pake baju ginian," ucapku sambil mengadu.
"Bagus dong, kamu jadi makin cantik. Nanti Bunda bakalan nyuruh Audrey milihin baju buat kamu aja biar nurut." Bundaku tertawa. Dia tahu setiap aku di belikan baju seperti ini aku akan menolaknya, tapi Audrey tak bisa di tolak. Aku sedikit tak enak menolaknya dan juga tak bisa melihatnya murung.
Berbeda dengan orang tuaku yang selalu mengikuti ucapan anaknya. Audrey tak ingin keinginanya di tolak, karena itu aku selalu menerima apa yang dia inginkan. Terlebih tentang mengubah penampilanku.
Aku segera mengambil makanan yang telah di sajikan di atas meja. Memakannya dengan lahap tanpa berbicara lagi, sekarang kami makan dalam keheningan. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang bertemu.
Perutku rasanya sudah sangat penuh. Aku sangat kenyang, masakan Bunda memang sangat lezat. Tak akan pernah ada yang mengalahkan masakan lezat Bunda, aku selalu menyukainya. Aku berpamitan kepada orang tuaku setelah selesai membersihkan piring kotor setelah makan.
Kaki ku berjalan menuju kamar yang sudah aku tunggu sejak tadi. Aku sangat mengantuk, sepertinya malam ini aku akan tertidur dengan lenyap. Mataku sudah sangat berat dan aku tertidur.
Seorang gadis menangis dengan sangat keras. Iyah, itu aku. Saat itu aku terjatuh karena berlari dan mengejar Sakala. Mataku menatap Kala yang terus meniupi luka di lututku. Itu membuatku berhenti menangis, seperti lututku telah mendapatkan obat dari bibir Kala.
"Kala. sakit banget aku takut di bawa ke dokter," ucapku mengadu. Entah mengapa, aku sangat suka ketika aku mengadu pada Kala. Dia akan dengan tenang membuatku tidak takut.
"Nggak akan Sea, lagian ini udah hampir sembuh sama aku."
Aku terkekeh melihat ucapan Kala. Dia sangat menggemaskan ketika mengucapkan kata itu. Aku menyukainya, aku sangat menyukai senyumannya.
Seperti sebuah perjalanan DVD, semuanya berputar dengan cepat. Aku hanya bisa terus menikmati mimpi yang datang ke dalam malam hariku. Selalu indah, namun terkadang berubah mengerikan.
Aku menikmati hari dimana aku selalu bersama Sakala. Aku sangat merindukannya. Ketika mimpi indah menghampiriku, mimpi itu kembali datang. Darah berada di sekitar badanku dan Sakala. Semuanya menjadi gelap dan aku terbangun.
Mimpi itu lagi. Aku merasakan keringat terus berjatuhan dari keningku. Rasanya aku akan sulit untuk tertidur lagi, aku takut. Sakala, aku benar-benar membutuhkanmu. Tanganku memeluk diriku sendiri, mimpi ini selalu datang dan datang lagi ke dalam tidur nyenyak ku.
Aku memang ingin jika Kala datang ke dalam malam heningku. Datang dengan indahnya dan memberikan perjalanan waktu masa lalu yang sangat menyenangkan. Bukan, bukan di mana hari kita terluka. Bukan di mana hari aku kehilangannya. Itu bukan kenangan manis, itu menyakitkan bagiku.
Tanpa aku sadari. Aku sedang terisak sejak tadi, air mataku mengalir dengan hebatnya. Malam hari yang sepi selalu membuatku menangis dengan hebat, apalagi ketika aku telah merindukan Sakala di dalam hidupku. Bukan satu atau dua kali mimpi itu selalu datang setiap saat aku merindukan Sakala di dalam hidupku.
"Kala. Sea rindu Kala, Sea ingin di peluk sama Kala," ucapku terisak sambil memandang ke depan. Berharap ada sosok itu datang dan memelukku.
Entah mimpi atau tidak. Sekarang seolah nyata, seseorang datang menghampiriku. Wajahnya, senyumnya itu Sakala. Apakah ini nyata? Mengapa Sakala ada di dalam kamarku sekarang? Aku berlari menghampirinya. Memeluknya dengan sangat keras dan sesekali memukul pelan dadanya karena sangat merindukannya.
"Kala, aku beneran kangen kamu. Kamu kemana aja?"
Tangan besarnya mengelus puncak kepalaku. Membuat tangisanku semakin tak kuasa ku tahan, aku terisak dan memeluknya semakin erat. Telingaku mendengar kekehan dia yang sangat candu. Sakala, terus tersenyum aku sangat senang mendengar suara tawa dari dirimu.
"Sea, aku nggak kemana-mana. Aku ada sama kamu."
Sial. Sakala kenapa berbohong? Sudah belasan tahun dia meninggalkanku. Mengapa dia berkata bahwa dia selalu ada bersamaku? Jika iyah, ada dimana dia selama aku selalu mencarinya. Sakala pasti sedang bercanda.
"Bohong! Kala kenapa bohong. Selama ini Kala kemana aja? Aku nyari Kala nggak pernah ketemu semua orang bilang Kala mati. Tapi, aku masih nggak percaya kamu pergi. Katanya janji bakalan sama aku terus, buktinya mana Kala?" teriakku histeris sambil memukul pelan dadanya.
Aku masih belum melepaskan pelukannya. Sekarang aju tak mau kehilangan dirinya lagi tak peduli apa yang terjadi. Sakala akan selalu bersamaku, tidak akan pergi kemana-mana lagi. Namun, tangan kekarnya melepaskan pelukanku. Aku berusaha keras untuk tetap memeluknya namun sayang tenaga ku selalu kalah jika berurusan dengan Sakala. Dia berlari menuju luar jendela dan melompatkan dirinya dari atas jendela. Aku berteriak memanggil namanya.
Aku terbangun dengan kedua orang tuaku yang sudah berada di sampingku. Bunda menangis dengan sangat keras. Tunggu, jadi sedari tadi aku hanya bermimpi? Mengapa semuanya seolah sangat nyata? Apakah karena aku terlalu merindukan Sakala?
Aku memeluk erat Bundaku. Aku juga takut, takut ketika Sakala pergi dan meloncat dari jendela kamarku. Tangisanku seolah bersambung dari mimpi menjadi kenyataan. Aku menangis dengan sangat kuat. Tidak, aku sangat merindukan Sakala.
"Bunda, Kala tadi datang ke Sea. Tapi dia loncat dari jendela sana," ucapku mengadu sambil menunjuk jendela di dekat kamarku.
Mataku menangkap cairan bening yang semakin turun dari mata bundaku seperti air hujan. Aku tak tahu mengapa Bunda menangis, aku benar-benar bertemu dengan Sakal tadi. Bukan, semuanya bukan mimpi. Ini pasti nyata. Aku tahu Sakal masih hidup, bahkan dia datang tadi.
"Bunda, Ayah... Sakala beneran masih ada kan?"
Ayahku duduk di sampingku. Mencium keningku dengan sangat sayang. Tangannya mengelus rambutku, aku menatap wajahnya yang tersenyum sangat tulus kepadaku.
"Sea, Kala udah pergi ikhlasin yah?" ucapnya membuatku memberontak.
"Ayah, jangan bohong nggak lucu. Terus tadi siapa yang Sea peluk? Pasti dia ada kan Ayah?" Aku memukul dadaku karena menangis. Tanganku di pegang oleh Bunda, dan di tahan agar tak melukai diriku sendiri.
"Udah nak, tidur yah."
Bunda berbicara sambil memeluk dan mengelus rambutku. Seolah aku adalah bayi, tangannya yang menari-nari di atas kepalaku membuatku sedikit mengantuk. Tangisan ku sedikit mereda mungkin karena Bunda menenangkanku. Mataku menjadi sangat berat dan rasa mengantuk sudah mulai menguasai diriku. Perlahan mataku tertutup dan aku tertidur. Entah apa yang terjadi selanjutnya.
Namun, sebelum mataku benar-benar tertidur. Aku sempat mendengar ucapan dari ibuku, dia mengkhawatirkanku. Aku tak pernah menginginkan ibuku merasakan kesedihan. Namun, mengapa aku selalu membuatnya ada di dalam jurang kesedihan?
Terkadang aku membenci kenangan yang masih terus tersimpan apik di dalam otakku. Karena itu semua aku selalu membuat Bundaku menangis dan mengkhawatirkanku. Aku selalu ingin melupakan kejadian itu, semuanya salahku. Andai saja aku tak pernah mengejar kupu-kupu itu, aku tak akan pernah kehilangan Sakala.
Jika aku yang membuat semuanya terjadi. Lantas kenapa aku masih tetap hidup? Mengapa pada saat itu bukan aku yang meninggalkan dunia saja? Mengapa harus Sakala. Andai Sakala tidak pernah berlari dan menolongku, mungkin hanya aku yang terluka dan meninggal semuanya tidak akan menjadi serumit ini.
Sakala. Nama yang selalu membuatku merasakan cinta dan benci sekaligus. Aku mencintai bagaimana dia yang sangat baik dalam semua hal dan aku membenci bagaimana Sakala yang menolongku saat itu. Namunn, daripada membenci dirinya aku lebih membenci diriku sendiri.