Seperti sebuah penjara bagi Renjana, menemani sang mama ke acara pernikahan anak dari temannya yang menggelar pesta cukup besar. “Renjana kapan nyusul, nih? Teman-temannya sudah menikah semua, dia sendiri yang belum. Lihat tuh Anita aja mau punya dua anak.” Teman mamanya menyindir tentang dirinya yang belum menikah di usia dua puluh tujuh tahun. Benar usia itu akan menjadi bencana baginya tiga tahun lagi.
“Kalau itu sih terserah Renjana. Kalau kami sebagai orangtua hanya menginginkan yang terbaik.” Mamanya membela di depan orang-orang yang sekarang ini sangat banyak. Teman mamanya memang dari kalangan ibu-ibu yang selalu bertanya hal seperti ini ternyata.
Andai sedari awal dia tahu kalau dia akan ditanya seperti ini. Sudah pasti Renjana tidak akan pernah datang, tapi paksaan kakaknya yang mengatakan bahwa dia harus bisa menemukan minimal satu saja seorang laki-laki di sini untuk berkenalan dengannya.
Di ruang keluarga sewaktu Renjana sedang menggendong keponakannya yang baru berusia satu tahun itu. Di sana juga ada Cindy, keponakannya yang nomor satu yang kini berusia tujuh belas tahun dan sudah duduk di bangku SMA.
“Jadi... apa tadi sudah ketemu sama calon yang bisa datang ke sini?”
Kakak satu-satunya yang ia miliki duduk di dekatnya dengan membawa cokelat panas dan biskuit. Suasana seperti ini sangat nikmat sekali, ditambah dengan dinginnya malam dan hujan. Dia pun ke tempat itu karena paksaan Teguh—kakaknya.
Renjana memutar bola matanya. “Kakak kenapa maksa aku banget untuk nyari yang lain?”
Kakaknya meletakkan cangkir dan piring yang ada di tangannya kemudian menghadap samping pada Renjana yang memangku Tama. “Jadi begini, Jana. Seorang wanita itu akan memiliki kemampuan yang berkurang menghasilkan bayi ketika dia berusia tiga puluh tahun, nah kan sebentar lagi kamu berusia tiga puluh tahun, nih?”
“Sebentar. Aku masih dua puluh tujuh, oke!”
“Ah ya, jadi kan aku ingat kalau pacarmu si Yoga itu masih menunggu rumah lunas. Sedangkan rumahnya lunas delapan tahun lagi. Kamu masih mau menunggu?”
Renjana selalu disinggung dengan pernikahan oleh kakaknya. Apalagi tentang Yoga yang masih belum mau menikah. Yoga telah dipacarinya ketika dia baru saja lulus SMA. Dan itu sudah sembilan tahun lalu. “Sayang banget, Jana. Sayang kalau kamu akan dijuluki wanita yang digantung terus sama Yoga. Kamu temenin dia udah lama, terus kalau kamu temani dia lagi sekarang pasti kamu bakalan bosan juga. Sembilan tahun itu nggak sebentar,”
Siapapun tahu bahwa waktu selama itu tidak akan pernah singkat. Tapi sudah telanjur, bahkan Yoga juga mencintainya. Tapi jika membahas
tentang pernikahan sudah pasti Yoga akan menghindar dan tidak mau membahasnya dengan Renjana. Seringkali ia takut menyakiti hati Yoga jika menanyakannya lagi. “Udahlah, kenalan sama anak teman mama. Ngapain juga kamu nungguin Yoga?”
Tapi bagaimanapun juga Renjana masih ada rasa yang begitu kuat pada Yoga. Bagaimana mungkin bisa pindah begitu saja pada pria lain.
Renjana menyerahkan Tama pada kakaknya.
“Papa juga nggak mau kamu sama Yoga, Jana. Meskipun dia seorang PNS ya kita tahu hidupnya itu terjamin. Tapi temen papa anaknya juga PNS sudah menikah. Yoga beda, Jana. Dia nggak punya tujuan untuk itu, mobil, rumah dia bilang nunggu mobil lunas baru lamar kamu. Terus sekarang mobil udah lunas, dia bilang mau nunggu rumah lunas. Kalau kamu nunggu delapan tahun lagi, itu artinya kamu bakalan berusia tiga puluh lima tahun lebih. Kalau kamu jodoh sama dia waktu itu, kalau nggak?”
Renjana juga tidak mau dijuluki dengan perawan tua nanti di belakang namanya. 'Renjana perawan tua' itu sangat menggelikan ketika orang lain menyebutkannya. Andai dia membeli barang lalu menanyakan alamatnya ketika tidak ditemukan kurir, maka tidak sengaja bertemu dengan seseorang lalu bertanya pada orang itu. Kemudian orangnya akan menjawab 'Oh Renjana si perawan tua' sudah pasti itu akan sangat mengerikan.
“Jana serahin aja sama Mama dan Papa.” Apalagi sekarang yang menjadi tujuannya jika bukan menikah. Ia memang bekerja, tapi tidak bisa terus seperti ini. Dia juga punya tabungan untuk persiapan jika Yoga
menginginkan, tapi sayangnya pria itu masih belum mau mengajaknya menikah.
“Mau?” tawar mamanya untuk kedua kali.
Renjana untuk kedua kalinya menganggukkan kepalanya. “Ya, Ma. Bagaimana baiknya untuk Mama sama Papa aja. Kalau memang itu yang terbaik juga buat kalian. Aku nurut,”
“Ini nggak terpaksa, kan?” Mamanya memastikan tentang perjodohan.
****
“Aku nggak ngerti sama jalan pikiran orangtuaku.” Renjana mendesah lalu meletakkan tasnya dengan sembarang di atas meja ketika berkunjung ke coffee shop milik temannya yang sudah menikah dengan seorang pria yang memiliki pekerjaan cukup baik. Biasanya dia di sini bersama dengan Yoga ketika pria itu sedang jam istirahat.
Fika tertawa mendengar keluhan temannya lalu menaruh secangkir macchiato yang sudah menjadi minuman favoritnya di sini. Sebelum datang dia sudah memesan minuman itu terlebih dahulu lewat WhatsApp. Fika duduk di kursi yang berlawanan arah dengannya. “Mama kamu memangnya kenapa, Jana?”
“Mama jodohin aku sama orang lain.”
“Hahahaha... aku kalau jadi orangtua kamu juga bakalan lakukan hal yang sama kali, Renjana. Ya kita tahu sendiri pacar kamu nggak ada tujuan.” Fika malah membela orangtuanya Renjana tentang perjodohan itu. “Gini ya, Jan. Kita itu seorang wanita, yang seharusnya lebih tegas. Nah sekarang kalau kamu serius sama Yoga, kamu tantang dia deh,” saran Fika yang tidak tahan melihat ekspresi Renjana yang kusut siang ini.
Renjana bekerja di tempat kakaknya, jadi bisa bersantai kapan saja. Apalagi bisa nongkrong di tempatnya Fika seperti ini. “Tantangan seperti apa?” Renjana juga tidak tahu bagaimana cara mengajak Yoga untuk jenjang lebih serius. Sedangkan kakaknya juga sudah tidak bisa percaya lebih lama lagi pada pria itu.
“Ya kalau dia serius sama kamu tinggal bilang kalau kamu bakalan dilamar sama orang lain. Kalau Yoga serius, pasti dia bakalan usaha juga untuk nikahi kamu. Nggak pakai alasan.” Dengan santainya Fika memberikan saran. Sedangkan dia sudah punya anak. Teman baiknya masih melajang dengan ucapan bahwa akan menunggu Yoga yang entah kapan pria itu bisa melamarnya.
****
Malam-malam dia bangun dengan kepala sedikit pusing. Seharusnya pulang bekerja tadi dia bisa pergi dengan Yoga atau mengajak pria itu ke manapun seperti biasanya. Akan tetapi dia memilih pulang lalu tidur dan sampai lupa bahwa dia belum makan malam sampai saat ini.
Langkahnya gontai keluar dari kamar, melewati ruang tengah yang masih ramai. “Seorang wanita berusia tiga puluh tahun akan memiliki peluang hamil sekitar dua puluh persen setiap bulannya,” Cindy membaca dengan suara lantang.
Semua keluarganya menatap ke arah Cindy yang membaca. “Cindy, kamu jangan cari gara-gara sama Tante kamu!” tegur Lisa—kakak iparnya Renjana.
Cindy menggeleng. “Nih, Ma. Sumpah bukunya ditulis seperti itu, Cindy tuh lagi hafalan.” Cindy menyodorkan buku biologi pada Lisa.
Dia merasa bodo amat dengan Cindy yang menyindirnya dengan materi biologi. “Cindy, minta maaf sana sama Tante Jana!” Kali ini giliran Teguh yang angkat bicara pada putrinya yang sudah menyinggung soal memproduksi bayi. Ya sebenarnya mereka satu keluarga ini sangat menantikan Renjana menikah. Namun, dengan hubungan yang menggantung sudah pasti akan meragukan dan tidak tahu akan ke mana hubungan ini jika mereka tidak segera mencarikan Renjana pasangan.
Yoga memang terbilang pria mapan, bahkan mungkin banyak yang kagum padanya. Tapi jika mengenai pernikahan, pria ini tidak ada tanda- tanda akan melamar Renjana. Kasihan juga kalau ada gelar baru perawan tua menempel pada adiknya jika harus menunggu Yoga lebih lama lagi. Delapan tahun juga bukan waktu yang sebentar untuk menunggu rumahnya lunas.
Di Sebuah coffee shop duduk menyendiri di dekat jendela kaca yang memaparkan langsung orang-orang yang lewat di luar tempat tongkrongan anak muda ini. Renjana sudah berjanji untuk bertemu dengan Yoga— kekasihnya.
Setiap hari Sabtu-Minggu adalah hari di mana mereka akan bertemu untuk menghabiskan waktu. Tidak lama setelah dia membaca 30 halaman dari novel romantis yang sangat dia sukai—yaitu buku tentang pernikahan. Membayangkan kalau dia dan Yoga menikah dan kisahnya seromantis novel yang paling sering dibaca. Meskipun dengan konflik berat. Tapi Yoga harus tetap mengalah seperti para tokoh suami yang ada di novel itu.
Pria itu duduk dengan menyerahkan bunga mawar dan coklat. “Selamat hari valentine, Sayang.” Perasaan Renjana begitu bahagia ketika diberi bunga dan coklat. Yoga orang yang romantis, pria ini sangat dicintainya juga—dan sudah dipacarinya selama sembilan tahun.
Sembilan tahun adalah di mana bisa kredit rumah. Sembilan tahun cukup waktu untuk kredit dua unit mobil. Sembilan tahun adalah waktu yang tidak sebentar.
Ya, wajar saja mama dan papanya mendesaknya untuk menikah karena sebentar lagi dia akan berusia 28 tahun. Lalu dua tahun lagi adalah bencana baginya. Sedangkan Yoga apa? Pria ini sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Tapi tidak terlalu terlihat menua, sedangkan Renjana sudah pasti akan diragukan untuk menghasilkan anak. “Mau jalan sekarang?” tawar Yoga ketika pria itu terlihat sudah berpakaian rapi. “Mau ke rumah aku? Masak mungkin seperti biasanya, biar kita ke supermarket beli bahannya.”
Andai ini adalah ajakan suami. Betapa bahagianya hati Renjana menerima ajakan ini dari suaminya sendiri. Pergi ke supermarket membeli bahan yang dibutuhkan untuk memasak, lalu memasak untuk suaminya— indah bukan? Tapi sayangnya itu jauh dari kata indah bagi Renjana.
Mereka sudah sama-sama menghabiskan banyak waktu bersama.
Delapan tahun menunggu? Bayangkan saja dia akan menjadi perawan tua nanti ketika menikah dengan Yoga. Bahkan Yoga bisa mendapatkan yang lebih muda lagi darinya. Yoga masih awet muda, hidupnya juga sangat sehat.
Yoga melambaikan tangannya di depan wajah Renjana. “Kenapa bengong?”
Buru-buru dia langsung mengalihkan fokusnya yang memikirkan tentang perjodohan dia dengan orang lain nanti, orangtuanya akan menyiapkan jodoh untuknya. Yang seperti apa? Lebih baik Renjana fokus pada hidupnya sekarang. Perihal perjodohan itu, belum tentu juga dia cocok dengan calonnya nanti.
Renjana berdiri dari tempat duduknya lalu membawa bunga dan coklat yang diberikan oleh Yoga. Sementara pria itu sedang membayar pancake dan minumannya, dia menunggu pria itu beranjak mendekatinya.
Keluar dari tempat itu mereka berdua bergandengan tangan, Yoga membukakan pintu mobil untuknya. “Uang kamu masih, kan? Jangan boros-boros, ya! Aku lagi nabung juga soalnya.”
Renjana mengangguk lalu menaruh bunga itu kemudian memasang sabuk pengaman. Ingin mengatakan apa yang diusulkan oleh temannya. Seperti yang diketahui bahwa dia harus tegas terhadap Yoga.
“Jana, kamu mikirin apa, sih? Aku tanya kamu mau masak apa kok bengong?”
Sama sekali fokusnya tidak bisa dikendalikan. Pikirannya hanya tentang perjodohan—menikah dengan orang lain—berpisah dengan Yoga yang sudah dia temani sejak awal. Mengingat perjuangannya dengan pria di sampingnya sangat panjang. Menemani Yoga untuk melengkapi berkas- berkas ketika daftar untuk menjadi pegawai dan serangkaian tes itu sangat setia ditemani.
Yoga dulu bekerja di perusahaan sepupunya. Tapi ketika ada peluang Calon Pegawai Negeri Sipil, dia memanfaatkan peluang untuk mendaftar, dan sekarang menjadi pria yang sudah cukup mapan—dari segi usia dan finansial.
“Jana, kenapa sayang?”
Sangat manis, panggilan Yoga seperti tidak terjadi apa-apa. “Aku tanya ke kamu. Kamu mikirin apa?”
“Nggak ada.”
Renjana tidak pernah berpikiran tentang selingkuh, apalagi melirik pria lain. Walaupun banyak dari teman-teman kakaknya yang pernah mengirim salam untuk meminta dijodohkan dengan Renjana. Tapi prioritas utama adalah Yoga.
Usai membeli semua bahan masakan yang dibutuhkan, Yoga ikut membantu mengupas kentang untuk dimasak Renjana nanti. Ya, dia sering berkunjung ke rumah Yoga. Karena tidak ada siapa-siapa di sana selain pria ini sendirian. Yoga tidak pernah berbuat aneh-aneh padanya sampai saat ini.
Tujuan mereka adalah menikah. Begitu kata Yoga setiap kali mereka pergi berdua.
“Kamu bikin steak, ya!” Yoga mengupas kentang dengan cekatan. Dia tidak pernah protes tentang masakan Renjana.
“Aku bikin potato wedges juga jadi cemilan kita gimana?” Usul Renjana ketika melihat banyak sekali kentang yang dibeli oleh Yoga tadi.
Yoga mengiakan dengan cepat. “Mama nggak nanya aneh-aneh, kan?” Clek.
Renjana berhenti memotong kentang yang sudah dicuci bersih oleh Yoga barusan. Kemudian kegiatannya terhenti begitu saja. “Seperti biasa. Mama tanya kapan kita nikah.”
Sebenarnya Renjana tidak enak hati mengatakan ini pada Yoga. Tapi apa yang harus dia katakan lagi kalau mama dan papanya mendesaknya untuk menikah. Jika Yoga tidak mau, maka opsi kedua adalah dijodohkan. Dan akan segera menikah, umur selalu menjadi patokan orangtua untuk menjodohkan dia.
Yoga yang baru saja membersihkan kentang untuk dibuat cemilan mereka nanti. “Aku kan sudah pernah bilang. Kamu jelasin ke mereka.”
“Aku udah ngomong. Tapi orangtua aku selalu bilang kalau usia aku sudah dua puluh tujuh. Ingat itu, Yoga!” Renjana mengatakannya dengan sedikit rasa kesal.
Ya sudah pasti dia kesal karena pacaran sudah lama. Banyak masalah yang mereka lewati, sudah pasti mereka saling memahami satu sama lain.
“Tapi kamu tahu sendiri. Rumah aku...”
“Soal rumah bisa kita selesaikan berdua, Yoga. Aku juga bakalan bantuin kamu. Aku kerja, gaji kita berdua digabung dan pakai hidup berdua dan sambil cicil rumah. Yang penting kita nikah aja dulu.”
“Kok kamu jadi kebelet gitu?”
“Aku nggak kebelet, tapi ingat umur aku.” “Aku tiga puluh tahun lebih masih santai.”
“Itu kamu. Apa orang akan permasalahkan kamu yang usia empat puluh tahun pun nggak akan masalah. Aku ... aku sebentar lagi tiga puluh tahun. Kamu tahu, kan, di luar sana banyak sekali teman-teman aku udah nikah. Mereka sudah punya dua anak semua. Aku? Aku masih jalani hubungan yang terbang ke udara tanpa tujuan, aku nggak tahu aku hidup seperti ini cuman untuk turuti kamu. Nungguin kamu sampai kapan?”
Yoga meletakkan pisaunya, pria itu memegang tangannya Renjana. “Aku tahu. Bahkan aku tahu kamu pengin nikah. Tapi tolong, kamu harus ngerti gimana keadaan aku. Aku nggak bisa buat keputusan sepihak.”
“Keputusan sepihak gimana? Aku sudah sembilan tahun nemenin kamu. Aku juga kerja. Aku nggak nganggur, kita bisa cari uang bareng.”
“Banyak hal yang aku pikirkan, Renjana. Rumah, biaya nikah, nafkah, belum lagi kalau kamu hamil, melahirkan.” Yoga menjelaskan secara rinci alasan itu. Semua orang juga tahu tentang hal itu. Tapi Renjana juga lelah.
Lagi... untuk kesekian kalinya dia harus luluh pada Yoga. “Kamu bisa kan pikirkan ini baik-baik, Ga?”
Yoga mengangguk. “Iya aku bisa. Tapi tolong kamu ngerti juga!”
Tanpa ada izin dari Yoga, keluarga besar rencana juga sangat lelah dengan keputusan tanpa ada kepastian. Mereka sudah menanyakan tentang pernikahan itu pada Renjana. Tapi Yoga selalu bereaksi sama, yaitu tanpa adanya ajakan untuk menikah.
Malam ini adalah rencana yang sudah diatur sedemikian rupa oleh orangtuanya. Dilamar oleh pria asing, dengan tujuan untuk menikah.
Renjana membayangkan jika calon suaminya gendut, perutnya buncit, berkumis tebal, matanya menyoroti tajam dan menyeramkan. Ini bukan soal menghina fisik calon suaminya. Tapi karena tubuhnya yang kecil, mungil dan bisa dipelintir oleh calon suaminya nanti jika mereka bertengkar. Itu yang paling ditakutkan sebenarnya.
Wajahnya pucat ketika baru saja selesai berdandan sesuai perintah mamanya. Tadi pagi, tidak ada angin tidak ada hujan mamanya mengatakan kalau malam ini akan ada tamu. Yaitu keluarga dari pria asing bersama dengan keluarga besarnya untuk melamar. Sekali lagi, dia akan dilamar oleh pria itu.
Sejenak ia memejamkan matanya.
Ting
Notifikasi ponselnya tiba-tiba menyadarkan dia dari lamunannya. ”Aku sudah pikirkan tentang pernikahan itu, Renjana. Aku tetap minta kamu nunggu.”
Renjana tidak akan termakan omongan lagi. Dia sudah lelah, lelah dengan penolakan Yoga yang kesekian kalinya Renjana harus melunturkan harga diri untuk menikah. Tapi sayangnya ditolak dan terus ditolak oleh Yoga.
Dia meletakkan ponselnya lalu menghela napas beberapa kali lalu menghembuskannya mencoba menenangkan kegelisahan yang ada pada dirinya. Andai saja bukan karena sakit kecewa, dia juga tidak akan setuju dengan perjodohan ini.
Pelan kakinya melangkah menuju ruang tamu melihat mamanya sedang menyiapkan jamuan untuk tamu dari pihak keluarga pria itu.
“Tante.”
Seketika Renjana membalikkan badannya ketika ditepuk dari belakang oleh Cindy. “Kenapa?”
“Cieee yang akhirnya nikah juga.” Senyumannya terpaksa sekali sekarang.
Barangkali setelah ini Renjana butuh satu butir pereda sakit kepala untuk menghilangkan rasa sakitnya karena memikirkan perjodohannya. “Jangan pikirkan Om Yoga!”
“Nggak ada yang mikirin dia. Kamu saja yang mikir aneh soal dia.”
Terdengar suara mobil yang cukup ramai di luar. Renjana merasa sangat sesak dengan kondisi sekarang.
“Renjana, sini! Sambut bareng-bareng!” Mamanya sudah berdiri di ambang pintu menunggu kedatangan calon besan orangtuanya dan juga keluarga besar dari pihak si pria.
Gugup.
Rasanya Renjana ingin pingsan setelah ini karena tidak sanggup lagi menerima kenyataan tentang calon suaminya.
Sedikit pun dia tidak berani mengangkat kepalanya menatap para tamu yang hadir. Mereka juga ke ruang tamu dan mulai berbincang basa-basi. Sama sekali ia belum siap untuk melihat siapa calon suaminya dan tadi tidak sempat bersalaman dengannya.
“Hanif, kamu kenalan dulu dong sama calon istri kamu!” usul dari seseorang. Sedangkan Renjana hatinya seperti nuklir yang siap meledak sekarang.
Suasana hatinya kacau sekali karena ucapan seseorang yang diyakini tadi bahwa itu ibunya dari pria tersebut yang bernama Hanif. Ya Renjana baru mendengarnya.
“Renjana, kenalan dulu!” kali ini giliran Yusron—ayahnya Renjana yang begitu gigih mengatakan hal itu pada anaknya agar Renjana mau mengangkat kepalanya.
Renjana memejamkan matanya lalu membukanya pelan usai menarik napas barusan menghilangkan rasa gugupnya. “Maklum malu-malu.” Mamanya menengahi pembicaraan saat Renjana masih enggan menatap pria itu.
Dengan ketabahan hatinya ia memaksakan diri untuk mengangkat kepalanya. “Padahal cantik banget calon mantu kita.” Suara tawa dari perempuan yang diyakini Renjana itu calon mertuanya.
Tatapannya tertuju pada pria berkumis dengan tubuh yang besar di tempat berlawanan dengannya. “Aiiih, kok natap aku? Salah tatap. Calon suami kamu yang itu. Kalau aku kakaknya.” lirik Renjana pada pria yang baru saja ikut bergabung dengan mereka setelah pria itu menunjuk orang yang berbeda.
Demi apa Tuhan? Ini Renjana sedang bermimpi atau apa? Pria dengan mata indah, tampan, putih dan kulitnya sangat bersih tersenyum ke arahnya sambil mengulurkan tangan yang baru saja pindah tempat duduk.
“Hanif.”
Ia segera membalas uluran tangan pria itu. “Renjana.”
“Hanif, tangannya! Mentang-mentang mau nikah nggak mau lepas tangan calonnya.” Ledek kakaknya Hanif yang tadi sempat dianggap bahwa itu adalah calon suaminya.
Pria itu duduk di sofa yang dekat dengan Renjana. “Jadi Mama kapan acaranya berlangsung?” Hanif menyambar dengan pertanyaan soal pernikahan mereka.
“Secepatnya, Nak. Mungkin dua minggu dari sekarang.”
Meninggalkan cinta yang selama sembilan tahun sudah dia temani sampai sekarang ini. Namun semua akan berakhir dengan tragis karena dia harus meninggalkan Yoga untuk bersama dengan orang baru yang datang melamarnya langsung.
Kakaknya pernah mengatakan bahwa orang yang ditemani dari awal akan kalah oleh orang yang melamar. Dan ini adalah bukti yang sebenarnya mengenai Renjana yang menerima lamaran orang lain. Tidak buruk dan juga belum mengenal satu sama lain.
“Renjana, ini anak tante. Dia sibuk kerja sampai nggak ada waktu buat nyari pasangan. Waktu tante ngobrol sama mama kamu, akhirnya kami sepakat jodohin kalian berdua. Hanif sibuk kerja, dia berusia tiga puluh tahun. Kamu tenang aja, dia nggak aneh-aneh kok permintaannya. Dia orangnya sederhana, dia nggak keras kepala. Dia sudah punya rumah sendiri, kalian nggak tinggal sama kami. Dia udah lama tinggal sendiri di rumahnya, itu pun dia jarang pulang. Karena lebih sering di kantornya. Gila kerja, jadi tante inisiatif jodohin dia. Biar dia tahu yang namanya kangen istri.”
Senyumnya sederhana. “Ah iya tante.”
“Besok jalan bareng deh. Biar kalian kenal satu sama lain.” Saran dari Tante Ami. Dia pernah mendengar nama itu dari mamanya langsung.
Dan mengenai kencan yang disarankan oleh Tante Ami. Mungkin Renjana belum siap untuk kencan dengan Hanif.
“Renjana mau pastinya.” giliran Sukma yang menyambar tanpa pernah bertanya dulu kepada Renjana.
Atas dasar apa mamanya langsung berkata demikian tentang dia yang bersedia berkencan dengan Hanif.
“Ya sudah besok aku jemput jam sembilan. Kita pergi untuk bikin undangan langsung.”
Gila
Gila
Dan benar-benar gila.
Renjana ingin berteriak ketika calon suaminya mengatakan mereka akan membuat kartu undangan pernikahan besok ini. “Besok?” tanya Renjana memastikan.
“Iya besok, sekalian cari gaun. Nggak mau nunda lama-lama kalau sudah sepakat begini.”
Dua sifat yang berbeda akan menyatu. Renjana tidak pernah mengenal Hanif sebelumnya. Baru kali ini dia bertemu dengan pria itu dan akan menjadi suaminya, hidup bersama selamanya dengan pria itu.
Renjana menoleh ketika ada hantaran lamaran itu baru saja masuk bersama beberapa orang. “Nyonya hantarannya.”
“Iya taruh saja di sini.” Tante Ami meminta orang-orang itu menaruh hantaran di atas meja ruang tamu.
Begini ya rasanya dilamar?
Renjana menghela napas dan melihat banyak sekali hantaran yang diserahkan untuknya malam ini.
“Aku titip cincinnya juga di kamu. Karena acaranya akan digelar di sini. Mungkin pernikahannya tiga hari lagi. Kalau untuk resepsinya yang dua minggu lagi, apa kamu setuju, Renjana?”
Tuhan.
Renjana ingin menangis. Tiga hari lagi? Yang artinya itu adalah anniversary dia dan Yoga.
“Ah iya. Aku ngikut kalian saja.”
Tapi tunggu? Perihal cincin, kenapa bisa cincin langsung dipesan?
“Cincinnya juga cocok untuk kamu. Karena Mama kamu pernah ngasih ukuran cincin kamu. Jadi kami nyari yang cocok dan cantik buat kamu.”
Dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Dia akan benar- benar menikah dengan orang asing.