Bab 1

#Flashback On

Melbourne, Australia.

“Ah, faster, Baby!”

“Ya di situ, Sayang! Kau enak sekali.”

Suara erangan saling bersahutan memenuhi suara apartemen mewah itu. Wanita cantik bernama Dakota baru saja membuka pintu apartemen sang kekasih. Namun, maksud hati ingin membuat kejutan dengan datang ke Melbourne, tiba-tiba saja Dakota yang mendapatkan sebuah kejutan.

Suara desahan semakin mengeras, berasal dari kamar utama sang kekasih. Langkah kaki Dakota terhenti di depan kamar yang pintunya tidaklah terkunci. Dengan penuh keberanian, dia membuka pintu kamar itu.

“R-Ryan?!” Tubuh Dakota membeku melihat kekasihnya tengah melakukan hubungan seks dengan wanita yang sama sekali tidak dia kenali.

Pria tampan bernama Ryan terkejut Dakota datang. “S-Sayang? K-kau di sini?”

Dakota mundur beberapa langkah, dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya. “K-kau … k-kau mengkhianatiku?”

Ryan panik menyibak selimut, menyambar handuk dan memakai handuk melilit di pinggangnya. Wanita selingkuhannya memilih tetap di atas ranjang seolah tidak peduli dengan kedatangan Dakota.

“Dakota aku bisa jelaskan.” Ryan meraih tangan Dakota, tapi wanita itu langsung menepis kasar tangan Ryan.

“Tidak perlu ada yang dijelaskan! Apa yang aku lihat ini sangat jelas! Kau telah mengkhianatiku!” bentak Dakota dengan air mata yang bercucuran.

Ryan semakin panik dan gelisah. “Aku mohon maafkan aku, Dakota. Aku hanya—”

“Kau hanya pecundang yang tidak pantas mendapatkanku!” Dakota melepaskan cincin berlian di jemari manisnya, dan melemparkan ke wajah Ryan. “Ambil cincin lamaranmu. Berikan pada jalangmu. Mulai detik ini, kau dan aku hanyalah orang asing!” Dakota berlari meninggalkan apartemen sang kekasih, seraya menangis. Tampak Ryan sangat panik. Pria itu mengumpat karena perselingkuhannya diketahui wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

#Flashback Off

***

Roma, Italia.

Seorang wanita cantik berambut panjang indah dengan lekuk tubuh sempurna. Dress yang seksi membuat para pria di sana terpesona pada sosok Dakota yang hanya sendiri. Dakota tidak ingin menunjukkan kesedihannya lagi. Sudah beberapa tahun sejak di mana kekasihnya mengkhianatinya, harusnya dia tidaklah tenggelam dalam kesedihan lagi.

Dakota Spencer tidak akan membiarkan air mata jatuh membasahi pipinya lagi. Dia mendatangi klub malam bukan untuk mabuk tidak jelas. Dia mendatangi klub malam, karena ingin bersenang-senang. Sebenarnya dia ingin mengajak sepupunya, tapi kondisi sepupu dekatnya sudah menikah dan memiliki anak. Dia tak ingin mengganggu sepupunya itu.

Luka dikhianati oleh cinta pertamanya selalu terbayang-bayang. Meski tidak lagi menangis, tapi bayang-bayang di mana kekasihnya seks dengan jalang, membuat Dakota merasakan jijik. Dakota bukan wanita kuno. Sudah beberapa kali dia make out dengan kekasihnya. Namun, untuk lebih dari itu, dia tidaklah mau. Dalam arti hingga detik ini Dakota masih perawan. Dia tak memberikan keperawanannya pada sang kekasih, karena pada saat itu dia ingin memberikannya di malam pertama pernikahan.

“Nona cantik, Anda ingin minum apa?” tanya sang bartender pada Dakota yang tiba di hadapannya.

“Berikan aku racikan minumanmu yang hebat. Aku percaya kau mampu meracik minuman dengan baik,” jawab Dakota memercayakan pada sang bartender.

Sang bartender tersenyum dan mengangguk. “Baiklah. Saya akan meracik minuman terbaik di sini untuk Anda, Nona Cantik.”

Sang bartender sibuk meracik minuman. Dakota memilih untuk menatap ke lantai dansa. Kepingan ingatannya teringat tentang dirinya pergi ke klub malam, bersama dengan mantan kekasihnya dulu. Shit! Dakota mengumpat di kala mengingat tentang mantannya. Padahal sudah seharusnya mantannya tidak lagi muncul ke dalam benaknya. Dakota bahkan kerap menyumpahi mantan kekasihnya tidak lagi bernyawa. Jika perlu, mantan kekasihnya yang berengsek sudah tenggelam di lautan luas.

“Silakan diminum, Nona.” Sang bartender menyerahkan minuman yang sudah dia racik pada Dakota.

“Thanks.” Dakota menerima minuman itu, sekaligus memberikan tips pada sang bartender. Detik selanjutnya, Dakota melangkah menuju ke lantai dansa—tanpa memedulikan orang di sekitarnya. Dia hanya ingin menari menikmati musik. Akan tetapi tanpa disadari, ada satu orang pria tampan yang baru saja muncul, sengaja mengikuti Dakota.

“Minuman apa yang kau berikan padanya?” tanya pria itu pada sang bartender.

“Minuman kami yang terbaru, Tuan. Alkoholnya cukup kuat, tapi jika orang terbiasa minum, satu gelas saja tidak akan membuatnya merasakan mabuk,” jawab sang bartender sopan. “Maaf, apakah Anda kekasih Nona Cantik itu?”

Pria tampan itu tersenyum penuh percaya diri. “Maybe yes.”

Sang bartender bingung akan jawaban pria itu. Dia hendak ingin kembali bertanya, tetapi pria tampan itu malah menyusul Dakota yang sudah berdansa di lantai dansa. Terlihat jelas pria tampan itu sangatlah tergesa-gesa.

Alunan musik jazz membuat Dakota menari bebas dan seksi seraya menenggak minumannya hingga tandas. Dia sama sekali tak peduli dengan masalah yang ada di pikirannya. Dia ingin bahagia dengan caranya sendiri.

“Hi, Cantik. Kau sendiri saja?” Pria berwajah Arab begitu tampan, menggoda Dakota yang menari sendirian di lantai dansa.

“Menurutmu?” tanya Dakota seraya melingkarkan tangannya di leher pria itu. Dia begitu berani memeluk pria asing yang baru saja dia temui di klub malam. Persetan dengan semuanya. Dakota sudah berkali-kali mendapatkan luka yang amat dalam. Sekarang dia ingin bebas, tidak mau lagi dilarang siapapun.

Pria berwajah Arab tampan itu senang di kala Dakota memeluknya. Dia sekana mendapatkan lampu hijau—di mana Dakota tak menolaknya sama sekali. “Kau sangat cantik dan seksi,” bisiknya serak di depan bibir Dakota.

Dakota tersenyum menggoda mendapatkan pujian cantik. Detik selanjutnya dengan berani, pria asing itu hendak mencium bibir Dakota. Namun, baru saja bibir mereka menempel—tiba-tiba ada tangan kokoh yang menyeret Dakota hingga pagutan itu terlepas.

“Hey! Kau siapa!” bentak pria Arab itu penuh emosi.

“She’s mine!” geram pria tampan itu, dengan kilat mata tajam

“Kau jangan mengaku-aku!” Pria Arab itu tak terima.

Pria tampan dengan khas negara Barat menatap tajam pria Arab. “Kau tuli?! She’s mine, Bajingan!”

Pria Arab itu tak terima, dia hendak ingin memukul, tapi pria yang menyelamatkan Dakota begitu gesit melawannya. Satu pukulan keras membuat pria Arab itu tumbang. Keributan terjadi. Dakota terkejut melihat sosok pria yang datang.

“D-Dylan?” Dakota sampai memijat keningnya meyakinkan bahwa, yang dia lihat benar yaitu Dylan Caldwell—teman dekat suami sepupunya.

“Kita pulang sekarang.” Pria bernama Dylan menarik tangan Dakota, hendak mengajak pergi. Namun, karena kesulitan membuat Dylan mau tak mau harus menggendong Dakota seperti karung beras.

Dakota memekik terkejut. “Dylan! Apa yang kau lakukan! Turunkan aku, Berengsek!”

Dylan tak menggubris ucapan Dakota. Pria tampan itu terus melangkah meninggalkan klub malam itu. Tangan lentik Dakota memukuli punggung kekar Dylan, tapi hasilnya nihil. Dakota kalah, tak bisa sama sekali melakukan perlawanan.

Bab 2

“Aww—” Dakota merintih kesakitan di kala tubuhnya dihempaskan ke ranjang oleh Dylan. Pria kurang ajar itu dengan berani menghempaskan tubuhnya. Shit! Dakota mengumpat dan merutuki Dylan dalam hatinya.

“Kau ingin seperti pelacur, Dakota?” Dylan mengambil botol wine yang ada di atas meja, menuangkan ke gelas berkaki tinggi kosong, dan menyesap wine itu perlahan.

Dakota bangkit dari ranjang, matanya menyalang tajam menatap Dylan. “Apa hakmu menghakimiku! Dan kenapa kau ikut campur urusanku, hah?!”

Dylan menggerak-gerakkan gelas berkaki tinggi di tangannya. “Kau hanya patah hati, kenapa kau seperti orang frustrasi? Lihat saja pakaian yang kau pakai memperlihatkan tubuhmu. Apa kau berniat ada yang menawarmu?”

Raut wajah Dakota berubah mendengar apa yang dikatakan oleh Dylan. Sepasang iris matanya menunjukkan jelas emosi, kemarahan, dan bingung. Siapa yang memberi tahu Dylan tentang dirinya patah hati? Tidak! Dakota tak ingin terlihat lemah. Dia harus memperjuangkan harga dirinya.

“Siapa yang kau maksud patah hati, hah?!” seru Dakota berpura-pura.

Dylan duduk dengan santai di sofa, terkekeh rendah mendengar ucapan Dakota. Penyangkalan yang dilakukan Dakota, membuat Dylan menjadi gemas. Padahal pria itu sudah tahu segalanya, tapi masih saja mendapatkan penyangkalan.

Tanpa banyak bicara, Dylan menarik tangan Dakota, hingga membuat wanita itu terduduk di pangkuannya. Sontak tindakan Dylan membuat Dakota terkejut. Berkali-kali Dakota berusaha untuk berontak, tapi malah Dylan melingkarkan tangannya ke pinggangnya—membuat Dakota terjerat.

“Berengsek! Lepaskan aku! Kau jangan macam-macam padaku, Dylan!” Dakota memukuli dada bidang Dylan susah payah. Namun, sayangnya meski dia sudah memukuli, tetap saja tidak bisa lepas.

“Dylan Caldwell! Lepaskan aku!” seru Dakota sedikit menaikan nadanya, menjadi satu oktaf lebih tinggi.

Dylan tersenyum samar melihat kemarahan Dakota. Terlihat sangatlah menggemaskan di matanya. Detik itu juga, tanpa permisi, Dylan menarik tengkuk leher Dakota—mencium dan melumat lembut bibir Dakota dengan agresif, tapi tetap lembut.

Mata Dakota melebar terkejut di kala mendapatkan ciuman Dylan. Wanita itu kembali memukuli dada bidang Dylan. Akan tetapi tenaganya tidak bisa sebanding dengan Dylan. Sekeras apa pun berusaha tetap saja tidak bisa.

Bibir Dylan terasa manis dan kenyal. Dakota tidak sama sekali munafik bahwa rasa ciuman itu begitu nikmat. Wanita itu terasa sangat lemah tak mampu berkutik. Akhirnya yang dilakukan Dakota hanya bisa pasrah.

Dylan tersenyum di kala Dakota sudah pasrah dengan ciuman yang diberikannnya. Meskipun Dakota tak membalas, tapi Dylan begitu menikmati bibir lembut Dakota. Pria iti tak menyia-nyiakan. Dia memperdalam ciuman Dakota dengan penuh kenikmatan.

Tanpa sadar, Dakota memejamkan mata, menikmati ciuman dahsyat itu. Rasa patah hati membuatnya menjadi lepas kendali. Persetan jika dianggap murahan. Hatinya sudah sangat lelah dengan semuanya. Ciuman ini mampu menenangkan dirinya yang hancur lebur.

Beberapa menit ciuman itu masih berlangsung. Sampai akhirnya Dylan yang lebih dulu melepaskan ciuman tersebut. Mata mereka saling beradu, menatap dalam satu sama lainnya. Tatapan yang seolah membawa mereka ke hutan yang sejuk.

Tiba-tiba Dakota menyadari bahwa tindakannya ini sudah gila. Raut wajahnya memerah. Kewarasan mulai muncul. Dia langsung melayangkan tamparan sedikit keras ke pipi kanan Dylan.

Plakkk

Dakota menampar Dylan. Pria itu mengusap sedikit pipinya. Rupanya tamparan dari wanita itu seperti kapas bagi Dylan. Tidak terasa sakit sama sekali. Malah sekarang, Dylan mengeluarkan senyuman samar di wajahnya.

“Menamparku, huh? Padahal tadi kau sangat menikmatinya,” ucap Dylan dengan senyuman di wajahnya.

Dakota salah tingkah. Dia bangkit berdiri dari pangkuan Dylan. “K-kau! K-kau kurang ajar, Dylan Caldwell!” serunya dengan nada kesal.

Dylan tersenyum samar. “Bibirmu manis, Dakota. Sayang sekali kekasihmu mengkhianatimu. Padahal dia sudah mendapatkan yang terbaik di antara yang terbaik.”

Pipi Dakota bersemu merah akibat mendengar ucapan Dylan. “Sudahku bilang aku—”

“Jangan menyangkal. Aku tahu kau diselingkuhi oleh kekasihmu yang sudah melamarmu. Kau marah dan frustrasi hingga menjadi seperti ini,” ucap Dylan santai dan tenang—tanpa beban sama sekali.

Napas Dakota memburu, berusaha untuk setenang mungkin. “Audrey yang memberitahumu?” tuduhnya. Feeling-nya berkata bahwa Audrey, sepupunya yang memberitahukan Dylan tentangnya.

Dylan menggeleng. “Nope, Audrey bukan tipe pengadu. Aku tahu sendiri.”

Kening Dakota mengerut dalam. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Dylan bangkit berdiri melangkah mendekat ke arah Dakota. Refleks, Dakota memundurkan tubuhnya hingga menempel ke dinding. Tampak raut wajahnya sedikit memucat di kala tubuhnya dikungkung oleh Dylan. Entah kenapa jantungnya berdebar tak karuan.

“K-kau mau apa, Dylan?!” seru Dakota gelagapan di kala tubuhnya dalam kungkungan Dylan.

Dylan membelai pipi Dakota. “Aku tahu tentangmu, Dakota.”

Dakota bingung serta ketakutan. “K-kau jangan-jangan menguntitku?”

Dylan mengangkat bahunya. “Mungkin saja iya. Kenapa? Kau tidak mungkin marah, kan? Anggap saja aku melindungimu dari bahaya.”

Mata Dakota melebar. “K-kau penguntit!”

Dylan menarik dagu Dakota, memberikan kecupan di bibir wanita itu. “Apa pun sebutannya, aku tidak peduli. Bagiku yang terpenting aku tahu tentangmu. Tidurlah di kamar hotel ini. Aku sudah menyewa kamar hotel ini mahal.”

Tanpa berkata lagi, Dylan berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan Dakota. Namun langkahnya terhenti di kala Dakota mengeluarkan suara …

“Kenapa kau menguntitku? Kenapa kau ingin tahu tentang kehidupanku? Jika tujuanmu hanyalah untuk mengasihaniku, lebih baik kau simpan rasa kasihanmu. Aku tidak suka ada orang yang mengasihani diriku!” Napas Dakota memburu kala mengatakan itu. Wanita berparas cantik itu paling tidak suka ada yang mengasihani dirinya. Dakota terbiasa selalu terlihat kuat di luar. Dia tidak mau rapuh.

Dylan menggelengkan kepalanya. “Jika dalam pikiranmu, aku menghasihanimu, maka kau salah besar. Aku sama sekali tidak mengasihanimu. Aku melakukan ini, karena aku ingin tahu tentangmu.”

“Ingin tahu tentangku? Untuk apa?” Dakota mendongakkan kepalanya, menatap dingin Dylan.

“Untuk lebih mengenal secara dalam wanita yang menarik perhatianku,” jawab Dylan tenang dan santai—sontak membuat Dakota terdiam membisu.

“Aku harus pergi. Ada beberapa pekerjaan yang aku urus. Kau tidurlah di sini. Besok pagi akan ada pelayan yang mengantarkanmu sarapan. Ingat, jika kau berani ke klub malam lagi, kau akan mendapatkan pelajaran berharga, Nona Spencer,” ucap Dylan dengan seringai di wajahnya.

Mata Dakota mendelik tajam tak suka. “Kau mengancamku?!”

“Nope. Aku sama sekali tidak mengancammu. Aku hanya memberitahumu saja. Good night, Nona Spencer.” Dylan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Dakota begitu saja.

Raut wajah Dakota berubah mendengar apa yang dikatakan oleh Dylan. Sorot mata menajam. Tangannya mengepal kuat. Dia tidak mengira Dylan berani mengeluarkan ancaman padanya. Seumur hidup, belum pernah ada yang berani mengancam Dakota Spencer.

“Sialan! Pria berengsek! Enyah kau!” umpat Dakota—dan tak digubris oleh Dylan. Sebab pria itu terus melanjutkan langkahnya. Namun umpatan Dakota terdengar di telinganya. Hanya saja yang dilakukan pria tampan itu hanya melukiskan senyuman samar.

Bab 3

Dakota terbangun di sebuah kamar hotel. Ingatannya mengingat kejadian tadi malam. Kejadian di mana dirinya dibawa secara paksa ke dalam hotel. Shit! Lama-lama Dakota bisa gila menghadapi pria sialan dan kurang ajar itu.

Dakota menyibak selimut, dan membersihkan tubuhnya. Tepat di kala dia sudah selesai mandi—ada seorang pelayan masuk ke dalam kamar hotel sambil membawakan paper bag.

“Selamat pagi, Nona Spencer,” sapa sang pelayan sopan.

“Kau siapa?” tanya Dakota tanpa basa-basi, pada seorang wanita yang berpakaian pelayan.

“Nona Spencer, saya adalah pelayan yang ditugaskan Tuan Caldwell untuk melayani Anda. Di dalam paper bag ini sudah ada baju ganti dan alat make up lengkap yang baru bisa Anda gunakan.” Sang pelayan menyodorkan paper bag yang ada di tangannya pada Dakota.

Dakota mengembuskan napas kasar. Wanita cantik itu seakan enggan untuk menerima pemberian dari pria berengsek yang mengganggunya. Namun, tidak mungkin dia memakai baju yang tadi malam. Dia tak memiliki pilihan lain. Akhirnya, dia mengambil paper bag yang diberikan sang pelayan.

“Thanks, kau boleh keluar. Aku ingin mengganti pakaianku,” ucap Dakota datar, meminta sang pelayan untuk pergi.

“Baik, Nona. Saya permisi.” Pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Dakota.

Dakota menanggalkan bathrobe-nya, dan langsung mengganti pakaian dengan dress yang diberikan oleh sang pelayan. Dress berbahan kaus itu membuat kesan nyaman di tubuh Dakota. Wanita cantik itu berbalik, bermaksud ingin bercermin. Namun, betapa terkejutnya dia melihat Dylan sudah berdiri tak jauh darinya.

“Kau! Sejak kapan kau di sini?!” seru Dakota dengan nada keras dan terselip kepanikan nyata. Bayangkan saja dia baru selesai mengganti pakaian, sudah di hadapkan Dylan ada di depannya. Itu sama saja dengan Dylan melihatnya mengganti pakaian.

“Sudah sejak tadi. Kau memiliki tubuh yang indah, Nona Spencer. I love it,” komentar Dylan dengan seringai di wajahnya.

Mata Dakota membulat sempurna mendengar ucapan Dylan. “Berengsek! K-kau mengintipku ganti baju?!”

“Bukan mengintip. Lebih tepatnya aku tidak sengaja melihat.” Dylan duduk di sofa, menyilangkan kaki kanan bertumpu ke paha kirinya. Nadanya santai, tenang, seolah tanpa sama sekali berdosa.

Dakota berdecak kesal, dengan wajah menunjukkan amarah. “Bajingan! Kau tahu aku sedang mengganti pakaian, kenapa kau tidak menutup matamu!” semburnya emosi. Bisa-bisanya pria berengsek di depannya ini mengatakan kalimat yang seolah tidak bersalah sama sekali. Dakota bersumpah pria di depannya ini sangat berengsek.

Dylan dengan santai mengambil wine yang ada di atas meja. “Ada pemandangan bagus, kenapa harus menutup mata? Sangat disayangkan jika tidak dilihat, bukan?”

“Kau—” Dakota mengepalkan tangannya, ingin sekali melayangkan pukulan ke wajah Dylan. Namun, sayangnya keseimbangan Dakota tak terjaga dengan baik. Sialnya, Dakota terjatuh tepat di pangkuan Dylan.

Dakota memekik terkejut di kala jatuh ke pangkuan Dylan. Dia ingin bangkit berdiri, tapi Dylan sudah melingkarkan tangannya di pinggang Dakota—membuat wanita itu tidak bisa berkutik sama sekali.

“Dylan lepaskan aku!” seru Dakota seraya memukuli dada bidang Dylan, dengan cukup keras.

“Kau sendiri yang menjatuhkan tubuhmu di pangkuanku. Jadi aku menganggap itu sebagai kesengajaan.” Dylan menjawab enteng sambil menatap Dakota.

“Tidak sengaja, Sialan! Mana mungkin aku sengaja menjatuhkan tubuhku ke pangkuanmu!” seru Dakota jengkel.

Dylan menarik dagu Dakota, mendekat ke bibirnya sambil berbisik serak, “Dress yang aku beli cocok di tubuhmu. Kau terlihat sangat cantik.”

Pipi Dakota sedikit bersemu merah akibat pujian yang lolos di bibir Dylan. Namun, Dakota tidak mau terbuai akan pujian dari pria sialan itu. “Lepaskan aku!”

Dylan menyunggingkan senyuman miring. “Tanganku sudah tidak lagi memelukmu, Nona Spencer.”

Dakota melihat ke pinggangnya. Shit! Benar saja, Dylan sudah tidak memeluknya. Buru-buru, Dakota bangkit berdiri. Astaga! Dia sangat malu. Dia tak sadar Dylan sudah melepaskan pelukan di pinggangnya.

Dylan bangkit berdiri. “Ayo aku antar kau pulang.”

Dakota melipat tangan di depan dada. “Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri! Kau tidak perlu repot mengantarku.”

Dylan tersenyum samar. “I know, kau bisa sendiri, tapi kau ke sini bersamaku, maka kau harus pulang bersamaku.”

“Dylan—”

“Jika kau tidak menurut, aku akan mengadukan pada ayahmu tentang kejadian di klub tadi malam. Kau ingin seperti itu, Nona Spencer?” Dylan memotong ucapan Dakota, memberikan ancaman tak main-main.

Mata Dakota melebar terkejut ketika diancam Dylan. “Sialan! Berani sekali kau mengancamku!”

Dylan mendekat dan dengan berani mengecup bibir Dakota. “Kita pulang sekarang, Nona Spencer.”

Tangan Dakota mengepal kuat. Sorot mata tajam. Rahangnya mengetat. Aura kemarahannya terlihat jelas. Dalam hati dia tak henti meloloskan umpatan kasar. Dia ingin berontak, tapi ancaman Dylan tak bisa diabaikan. Jika ayahnya tahu, habislah dia. Kacau sudah semuanya. Detik selanjutnya, dengan penuh paksaan Dakota menghentakkan kakinya mengikuti Dylan.

Di lobby, Dakota hendak masuk ke dalam mobil Dylan, tapi tiba-tiba saja ada wanita cantik berambut pirang memanggil Dylan dan berhenti tepat di hadapan mereka. Wanita itu kini langsung melingkarkan tangannya ke leher Dylan.

“Hi, Dylan. Senang sekali aku bertemu denganmu di sini.” Wanita berambut pirang itu berbisik seksi di depan bibir Dylan.

Dylan tersenyum sambil meremas bokong wanita berambut pirang itu. “Hari ini aku sangat sibuk. Besok kau bisa temui aku di penthouse-ku.”

Wanita berambut pirang itu menatap sinis Dakota. “Siapa dia, Dylan? Apa dia jalang barumu?”

“Hey! Jaga bicaramu! Kau yang jalang!” seru Dakota tak terima disebut jalang.

“Kau—” Wanita berambut pirang itu hendak menyerang Dakota, tapi dengan sigap Dylan menarik tangan wanita berambut pirang itu.

“Pulanglah. Aku harus mengantarnya. Dia bukan jalang. Jangan mencari masalah,” kata Dylan mengingatkan wanita berambut pirang itu.

Wanita berambut pirang itu sangat kesal. Namun, dia tidak ingin membuat Dylan marah padanya. “Oke fine, aku pulang, tapi nanti aku akan ke penthouse-mu.”

Dylan mengangguk merespon ucapan wanita berambut pirang itu.

“Bye, Sayang.” Wanita berambut pirang itu mengecup bibir Dylan di depan Dakota, lalu dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Dakota tersenyum sinis menatap wanita berambut pirang yang melewatinya. “Dia pelacurmu?”

Dylan menoleh menatap Dakota. “Well, apa kau sedang cemburu, Nona Spencer?”

Dakota menunjuk dirinya sendiri. “Aku cemburu? Sorry! Tidak sama sekali!”

Dylan terkekeh rendah sambil mencubit hidung mancung Dakota. “Kau tenang saja. Kau jauh lebih cantik dan memesona darinya.”

Dakota mendelik tajam. “Kau memang pria berengsek!”

Dylan kembali terkekeh mendengar ucapan Dakota. Dia masuk ke dalam mobil, dan dengan terpaksa Dakota juga masuk ke dalam mobil. Pria tampan itu melajukan mobilnya meninggalkan lobby rumah sakit. Tampak raut wajah Dakota menunjukkan rasa kesalnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED