Bab 1

Pukul empat sore di caffe biasanya, aku sengaja menunda seduhan kopi pahit dan laparku, untuk menunggu seseorang.

Tiga puluh menit berlalu sia-sia. Perutku yang keroncongan dan bibir yang tak tahan dengan godaan kopi dalam gelas itu, akhirnya memaksaku untuk meminum dan memakan sandwich itu. Seusai itu, kembali kupikir dalam dalam. Pengecut ya aku hanya untuk menunaikan sebagian dari pada ibadah cinta yang berupa 'Menunggu' saja ku tak mampu, apalagi menerima keriput wajahmu dihari tua, bisingnya mulutmu ketika permintaan sengaja tak segera ku turuti. Aku ini apa, hanya laki-laki usang yang mendambakan cinta tapi tak lolos ujian sederhana menunggu darinya kataku ’Payah’. Waktu sudah menunjukan hampir pukul lima sore yang artinya waktu ashar akan segera usai dan menyambut adzan maghrib kotaku, ku lihat petani di pinggiran caffe sesegera mungkin kembali untuk berbahagia melepas letih karena bertemu keluarga serta paling penting ialah melihat senyum istri yang ia cinta. Selain petani aku juga sengaja mengamati disamping kiri kanan ku. Ada belasan muda mudi yang asyik menunaikan ibadah cintanya dengan bersenggama tangan ada yang bergandengan terlihat raut wajah mereka yang membahagiakan ‘kataku’ “tak seperti meja nomer 13 (meja ku) yang usang karena orang yang ku nanti tak kunjung datang”. Dalam benak ku “ sejatinya aku ingin makan bersamamu tapi maaf pesan yang kau balaskan di whatsapp itu terlampai cuek yang membuatku kehilangan kepercayaan untuk mengajak mu makan. Tapi tenang pesanannya sudah diatas meja kita, dan maaf pesananku sudah kuhabiskan dulu. Karena ketidakmampuanku menunggu dari berisiknya cacing-cacing diperutku, sekali lagi maaf”.

Sore itu juga aku beranikan diri untuk menelfon mu.

“kamu , dimana ?” tanyaku melalui telpon genggam.

“sebentar…,” Jawabnya, dengan suara lirih ditahan.

Lalu telpon ditutup tiba-tiba.

Kataku “ kamu kenapa” dengan terheran.

Asa bergelimang diotakku menyelimuti kekhawatiran dengan ditemani sepotong sandwich yang kumakan sore itu. Sembari kuambil novel dari dalam tasku. Novel bersampul merah berjudul laki-laki yang keluar didepan rumah. Harapanku dengan membaca akan menyibukan pikiran. Aku jadi teringat dua minggu lalu tepat waktu ulang tahunku, ada seorang sahabat karibku -Mahmud- merekomendasikan novel ini. Terlepas dari tulisan yang renyah ada pesan yang tersirat sama dengan apa yang kurasakan sore ini, meskipun sejatinya aku tak sama sekali kenal dengan penulisnya.

Ihwal, aku yang dikenal laki-laki usang tak mengenal apa itu cinta dipaksa tertunduk lutut dengan kehadiranmu, buktinya sederhana “aku masih menunggu”. Bagiku isi dari pada novel itu tidak lebih dari sebatas kisah yang ditulis dengan ciamik menjadi konsumsi. Tanpa harus lebih mengenal jauh siapa penulisnya karena, bisa jadi kisahnya hipokrit indahnya tulisan tak menjamin lenturnya sikap yang sama sepertimu” cantik nan indah namun tak henti membuat ku khawatir, ini begitu melelahkan kau tau".

Kegiatan membaca ini sejatinya, mulai kusukai beberapa tahun lalau, saat seorang perempuan sederhana yang kutu buku di kampus mengenalkan diri kepadaku. Kejadian itu terjadi tepat diwaktu pertama aku masuk kuliah yang menyisakan pesan begitu dalam sampai hari ini. Katanya, buku akan mengubah pandangan kita tentang fananya hidup yang hanya sebatas uji.

Pada akhirnya, aku betul-betul tenggelam larut dalam buku, hingga sedari ku lihat waktu dalam Arlojiku yang menunjukan pukul lima sore.

“ sudah satu jam ternyata aku menunggu, sia sia bukan” kataku. Sembari kulihat detik jam yang berputar serta kudapati suara kiacauan burung disawah ,

kemudian, aku memutuskan memesan makanan lagi. Menunggu betul-betul membuat lapar, sementara dia sampai saat ini belum memberi kabar kepada ku untuk datang sejak telpon singkat tadi. Artinya, dia pasti akan datang lebih lama lagi. Seperti yang sudah-sudah, aku makin terbiasa dengan pola seperti ini. Menunggu tanpa tahu pasti kapan dia akan datang. Namun, satu hal yang harus aku tegaskan, dia pasti akan datang. Itulah alasan kenapa aku selalu bersedia menunggunya. Karena dia adalah mahluk tuhan yang meskipun rumit tapi tak pernah ingkar janji. Hanya saja, sering telat datang dari waktu yang dijanjikannya. Dan, untuk soal itu, aku punya pemakluman berkali lipat untuknya , sebagai kata maaf dan bukti kesungguhan cinta.

Tiga puluh menit kemudian , aku baru menyadari bahwa waktu telah menunjukan maghrib yang bersamaan dengan pesananku datang, akhirnya dia datang juga meskipun dengan terburu-buru.

Katanya “ maaf, aku harus memperlakukanmu seperti tadi lagi. Menutup telpon dengan cara yang tidak menyenangkan lagi”.

Kata ku” syukur penantian ku terobati dengan santunnya sikap meminta maaf, bagiku ini lebih dari pada cukup”. Sembariku tersenyum lebar, yang sontak kulihat diwajahnya tergaris penyesalan.

Padahal sejatinya, hal seperti itu sudah sering kali terjadi. Dan, dengan ketulusan hatiku. Aku memaafkan dan memakluminya. Namun, dia tetap saja melakukan hal yang sama. Kemudian, aku hanya berdiri dan tersenyum, lalu medekatinya, mengusap lembut lesung pipinya.

“Duduklah, bisikku, “ kamu pasti kesal dan lapar bangetkan”. Dia duduk di kursi yang tepat dihadapanku. “ sebentar ya, aku pesan makanan , yang ini makanlah aku terbiasa menunggu” kataku. Sembari berjalan dan memikirkan menu yang sama dengannya agar terlihat bak difilm-film romansa.

Seperti yang kukatakan diatas, aku sama sekali tidak marah dan merajuk saat dia telat, hebatnya seusai aku memesan makanan siap saji, tak sepotong makanan pun ia makan untuk menunda lapar.

“ hebat bukan, dia rela menunda-nunda lapar. Meskipun sudah kupersilahkan makan dulu”. Sambil menghela nafas, aku menghampirinya,

“sesederhana ini ternyata kau buatku hanyut, This is eternal of love”. Kataku.

“ bagaimana hari ini, pekerjaanmu ?”

“semuanya terkendali. Bos lagi banyak maunya, tapi biasalah masih bisa kuatasi”.

“Jangan terlalu terforsir. Kalau kamu sudah tak sanggup dengan tekanan ditempat kerja, tak ada salahnya pula pindah pekerjaan ketempat lain”, ucapku.

Aku tahu , bekerja seperti kamu dengan target cukup tinggi tiap harinya bukanlah hal yang mudah bukan ?. Beban kerja dan tekanan atasan sungguh tidaklah ringan. Itulah sebabnya aku berusaha tak pernah mengeluh kepadanya meski menunggu berjam-jam sebelum dia datang, alibiku.

“kamu memang yang paling mengerti aku.”ucapnya.

“karena aku mencintaimu”, tandasku.

“terimakasih”.

“tidak perlu. Itu sudah menjadi hal lumrah dan beresiko saat aku memutuskan untuk menemanimu. Aku hanya sedang belajar menerimamu seutuhnya, termasuk jika kamu sedang sibuk sekalipun sama sekali tak punya waktu, dan semoga aku tak tertarik dengan wanita lain diluarsana".

“aku tak salah memilihmu”. Dia tersenyum.

“makanya dimakan keburu dingin”. Kataku.

“iya”.

Syukur, kataku karena dia memakannya dengan lahap. Menikmati seporsi Rice bowl cepat saji yang sudah dipotong-potong kecil . Yang dibalut dengan saus merah.

“Bulan ini aku dapat rezeki lumayan dan cukup untuk kita”

“Wah, alhamdulillah, itu artinya tuhan sedang menjawab doa-doaku”, jawabku dengan senyum”.

Sembari, aku menatap indah bolamatanya sebelum ia melanjutkan makan.

Dia tak berubah, meskipun sedang makan begitu lahap. Namun, tetap terus bercerita. Tentang aktivitas harian yang begitu melelahkan . Sebetulnya aku sadar pola ini tersusun karena kondisi psikologisnya begitu banyak tekanan. Sehingga dia terbiasa terburu-buru dalam semua hal. Termasuk saat makan pun tidak melewatkannya membicarakan aktivitas yang dia lalui seharian tadi.

“ iya, aku berhasil bernegosiasi dengan bupati kota malang. Kemungkinan dia akan mengambil mobil dariku untuk keperluan sekretaris daerahnya, dan jumlahnya tak sedikit. Lumayan bonusnya, Cuma aku memang harus meneguhkan kesabaran. Biasanya , dia harus memuluskan urusanya dulu dengan prosedur kantor, olah-olahlah pejabat kok”, ucapnya.

Bukannya aku tidak peduli pendapatannya dari mana. Hanya saja, untuk urusan ini aku tidak ingin ribut dengan membantahnya. Dia sudah terlalu lelah bekerja.

“Enak, ya. Jadi pejabat, mau pakai mobil mewah, bisa pakai uang negara , uang rakyat maksudnya”.

“Tidak semua, sih menurutku. Tapi memang ada. Mereka hanya memikirkan gemerlapnya dunia dan isi perut, lebih tepatnya rumah mewah”.

Aku terdiam mendengar ceritanya, kata ku “harus aku jawab apa”. Karena satu sisi, dia bekerja dan mendapatkan uang itu dari julannya kepada pejabat. Di sisi lain, aku sadar itu tidak sepenuhnya jual beli yang “bersih”.

“Tidak usah difikir berlebihan. Nanti, setelah kita menikah, aku akan meninggalkan semua ini. Aku hanya butuh banyak uang saat ini”. Ucapnya, seolah bisa membaca kekhawatiranku.

Dalam hatiku

“ selain cantik, kau terampil dalam membaca pikiran orang, sudah seperti penyihir”.

Dia sudah selesai makan. Sementara pesananku baru saja datang diantarkan oleh pelayan caffe, tak menunggu lama aku langsung melahap pesananku.

“Kamu sudah doa?, tanyanya.

“Belum”

“Awas satu piring dengan setan.

Sontak bibirkan langsung berdoa dengan pelan, sembari menerka dalam hati perhatian sekali kau hari ini, jadi ingin lebih lama bersamamu.

“Aku pergi kesurau dulu boleh?” Tanyanya padaku.

“Boleh silahkan”

Dia adalah gadis spesial bagiku, karena selain pekerja keras ia juga selalu ingat dengan tuhannya. Dalam hatiku.

“Betapa indahnya menua bersamamu, nanti tak akan terbayang kalau kita punya sepasang anak. Kau pasti yang akan mengajarinya untuk taat pada agamamu, tentang hal hal yang tidak terlihat layaknya tuhan saja kau percaya apalagi dengan aku yang betul betul mencintaimu”.

Setelah dua puluh menit berselang ia kembali kemeja tepat saat aku selesai makan. Sembari membereskan piring dimeja, aku sengaja tak menyulutkan rokok. Karena beberapa bulan lalu aku berjanji padanya untuk berhenti merokok.

“ Akhirnya aku sadar, merokok tidak lebih dari hanya sekedar kebiasaan yang merugikan diriku sendiri”, ucapku waktu itu saat baru saja memeriksa kesehatan di rumah sakit karena gangguan pernapasan.

Sebetulnya dia sama sekali tak mempermasahkanku merokok hanya saja aku berpikir semenjak aku mengalami gangguan pernafasan ia yang selalu merawatku, satu sisi aku senang karena empatinya namun ini hanya akan menambahi pekerjaannya yang super sibuk.

“ Aku bersyukur kamu berhenti merokok, semoga bukan hanya karena bertemu denganku”. Tandasnya.

“Bagaimana kabar Reni ?” tanyanya padaku.

Aku sengaja hanya diam. Tidak menjawab sepatah katapun. Reni adalah kekasihku. Perempuan yang lebih dulu bersamaku dan mendapati dasyatnya cintaku. Entah hubungan kami rumit atau hanya sebatas pertemuan biasa, tapi setauku aku dan Reni telah berpacaran selama lima tahun lalu. Tapi, cinta memang terkadang serumit ini. Kerapkali orang dimasalalu selalu menjadi topik bahasan yang bagiku hanya akan menyulutkan api kemarahan karena berfikir berlebihan (over thinking).

Pertanyaannya memang singkat namun bagiku dia masih selalu akan percaya bahwa masalalulah pemenangnya. Apalagi sampai hari ini aku masih sering menghubunginya walaupun secara diam diam. Seringkali, aku sampaikan padanya hidup adalah perjalanan kedepan bukan kebelakang namun ini mungkin sulit diterima. “

“Rumitkan, dengan cara apalagi aku meyakinkanmu atas masalalu yang sudah berlalu”. Tegasku.

“kamu sabar ya walaupun kamu tidak lebih dahulu dari pada Reni, tapi aku yakin kamu adalah bidadari tuhan yang dikirimkan untuk masadapan ku, aku bersyukur bersamamu”. Kataku.

Bab 2

Lalu bagaiman Reni “ucapnya. Ucapan sama yang selalu ia katakan berkali-kali kepadaku. Setiap kami membahas persoalan ini.

Tentu, aku tidak mempermasalahkan lagi. Aku sama sekali tidak menuntut dia. Aku sengaja membiarkan segala hal yang ingin dia lakukan. Itulah alasan mengapa dia begitu betah denganku. Dia jelas tidak medapatkan ini dari laki-laki manapun. Dan, sungguh dari banyak kasus yang aku amati kebanyakan perempuan akan selingkuh bukan karena perawakan ; tampan rupawan semata, bukan pula tidak menarik lagi. Melainkan lebih dari pada itu “meminta maaf saat perbuat salah, memafkan ketika perempuan yang salah, sesederhana itu sebetulnya”. Selebihnya ialah faktor psikologis, semakin lama hubungan yang timbul bukan kepercayaan melainkan keegoisan. Hal ini terjadi karena dominasi “kamu miliku dan aku milikmu”. Lantas, apapun yang terjadi harus sesuai dengan kehendak yang ku mau bukan yang kita inginkan bersama. Dari sinilah akan timbul yang namanya hubungan ini hanya milik satu orang saja diantara dua orang yang menjalaninya atau yang disebut dengan Trust Issue (krisis kepercayaan). Aku sudah lebih dulu merasakannya dengan Reni, sengaja aku tak menceritakan agar semua berjalan sebagaimana mestinya.

Sebetulnya , aku juga menyadari atas apa yang dia rasakan, dia tak lebih selain kawatir kehilangan dan aku kembali kepada masalaluku (Reni). Selain dari pada itu aku juga tak ingin menuntutnya berlebih. Bahkan saat dia datang telat, aku tau persis bagaimana perasaanya saat menyaksikan langsung ulang tahun ku yang didatangi Reni lebih dulu, meskipun kita tak sempat mengobrol tapi tatapan Reni pada ku masih menyimpan ribuan harapan untuk kembali, sialnya dia mengetahui. “this is Fuck man”.

“kamu tau dia datang saat ulang tahun mu?”.

“Ia , tapi tak lebih dari pada tamu undangan”.

“kamu pasti tau bagaimana tatapan Reni kepadamu? Itu tak lebih dari pada pengharapan untuk kembali”.

Hubunganku dengan Reni lima tahun lalu bukanlah hubungan yang sehat, kami bertahan semata karena durasi yang lama, bukan karena kualitas yang terjaga, dan aku menyadarinya sehingga aku tak mau lagi membuka halaman buku yang sudah aku baca sebelumnya,

“ini terlalu monotan dan membosankan”.

“kamu mau tambah minuman atau makanan lagi?, ucapnya yang membuyarkan ingatanku dengan Reni.

“Tidak usah. Aku sudah kenyang”.

“Mau kemana setelah ini?”

“aku ikut kamu, kemanapun asal kita bersama”, meskipun dalam benakku “Reni Menunggu ku”

“yasudah antar aku pulang”,

sontak permintaanya malah membuat kepalaku pusing bukan kepalang, ada semacam pesan tersirat yang hendak ia sampaikan, tapi aku belum memahaminya secara utuh”.

Dia seolah mengerti isi kepalaku tentang pertemuanku dengan Reni, saking berisiknya isi kepalaku. Sampai-sampai aku berfikir.

“Apa dia dan Reni bersekongkol untuk sengaja mengetahui pertemuanku setelah ini, tidak dia tak sejahat yang aku fikir”.

Sembari berjalan, ia begitu kencang menggenggam tanganku sembari berkata dengan lirih.

“Kamu tidak akan lama lagi meunggu”, bisiknya,

“tidak apa-apa aku faham , aku sudah siap menerima segala konsekuensi yang terjadi, aku percaya apa yang kita perjuangkan takakan sia sia”, tandasku sambil tersenyum.

“jangan membuatku merasa bersalah”

“kamu tidak bersalah, tidak ada yang salah diantara dua insan ini. Kamu kebetulan saja lebih dahulu dipertemukan dan dimiliki oleh Reni”, dengan senyumnya yang berlinang air mata.

Sesampainya di parkiran kami sengaja tanpa sepatah katapun masuk kedalam mobil, aku sengaja mengendarai mobil dengan sangat kencang. Setibanya didepan rumah. Waktu sudah menunjukan pukul delapan. Waktu dimana aku harus sesegera mungkin menemui Reni.

“kamu tidak akan menemuinya kan?” tanyanya sembari memeluk kencang badanku.

“Aku akan menjaga kepercayaan ini”, dengan lirih dan penuh bersalah ucapku.

Malam itu merupakan malam paling indah dan menyedihkan bagiku. Paling indah karena menghabiskan waktu berjam-jam dengannya dan menyedihkan karena aku merelakan diri berbohong sementara dia juga meneteskan air mata.

“Sial dia menangis bukan karena kejujuranku, melainkan karena bodohnya aku membohongi wanita yang aku anggap rumah dan masa depanku sendiri, pecundang”.

Setelah dia kuantar sampai rumah, sesegera mungkin aku masuk mobil dan menelpon reni, meskipun aku tahu didalam kaca rumah itu. Ia terlihat sedang memandangiku dengan air mata” aku tau persisi bagaimana kawatirnya dia”.

“Hallo, Ren kamu dimana ?”

“Aku sudah ditempat waktu kita pertama kali bertemu”

Sontak aku langsung mengatakan dengan nada tinggi.

“Ren, maaf aku tidak bisa menemui mu lagi, ini untuk kali terakhir aku menghubungi mu”.

“kenapa? Bukankah kau sudah berjanji untuk datang tepat waktu ditempat kita pertama kali bertemu”

“Tidak untuk kali ini, aku kira kita sudah selesai”

“Apa maksud mu?, aku sudah meluangkan waktu dari jombang ke malang hanya untuk menemui mu”.

dengan suara tersendat-sendat aku sadar betul bahwa dia sedang menangis.

“Ren, kita ini sudah bukan sepasang kekasih lagi, kamu tahu kan. Aku sudah milik Dhibah dan kita akan sesegera mungkin bertunangan. Sementara kamu sudah menjadi kekasih rizal, laki laki yang kau pilih karena kepiawaiannya dalam meluangkan waktu”.

“tidak, aku bisa menjelaskan semua. Aku dan Rizal hanya sebatas kawan yang kebetulan ia menyimpan rasa padaku, sementara aku masih sangat mencintai mu lho”.

“kau mau berbohong apa lagi, apa semua belum cukup, ibu mu sendiri yang bilang kalau rizal sering kerumah dan mengajakmu untuk sekedar berjalan ketaman kota ren”.

“aku hanya teman , kamu harus percaya aku”.

Reni berulang kali mengatakan untuk mempercayainya lagi. Sementara hubungan kami sejatinya sudah betul betul selesai. Bermula saat Reni KKN satu posko dengan Rizal. Perasangkaku kepadanya sudah ada lebih dahulu sebelum ibunya cerita tentang hubungan Reni dan Rizal. Kesemuanya aku dapati informasinya dari Azizah teman satu KKN Reni dan Rizal.

“Clunting..(suara pesan masuk)

“ Reni sepertinya resmi berpacaran dengan Rizal li !”.

Sontak aku langsung menelponnya dengan rasa kawatir dan kecewa dipagi buta, aku mendapati pesan seperti itu.

“Apa maksudmu zah?, tanyaku dengan nada tinggi.

“ kau terlambat li, mereka sudah remsi berpacaran”.

“ sad, kamu jangan bohong tak mungkin reni melakukan sperti itu aku sudah mengenalnya lebih dulu dari pada kamu”.

Aku masih terus percaya bahwa Reni tak mungkin ada hubungan spesial dengan orang lain apalagi dengan Rizal Rizal itu. Meskipun kami LDR tapi aku percaya bahwa tak mungkin Reni setega itu padaku.

“li sabtu kemarin mereka keluar bersama, dan aku sering mendapati Reni menelpon Rizal ditengah malam, dan parahnya nama Rizal di telponnya diberi nama sayang, sementara kontakmu sudah dihapus semenjak ada hubungan mencurigakan diantara mereka”.

Memang betul kontak reni di telpon ku tak ada poto profilnya bahkan statusnya kerap kali tak muncul, sesaat ketika aku menanyakan terhadap Reni. Ia selalu mengatakan bahwa sengaja tak memasang foto profil karena demi keamanan hubungan.

“terserah li, kalau kau masih tak percaya “ tut..tut..tut…(suara panggilan berakhir).

“kau masih mau berbohong Ren”, Tanyaku pada Reni dengan tersedu-sedu.

“Tidak li, aku tak seperti apa yang azizah katakan pada mu”.

“sudah Ren jangan hubungi aku lagi”. Tut..tut…tut… (suara panggilan berakhir).

Sore hari, pukul empat lewat lima belas menit di sebuah tempat makan cepat saji aku menunggu seseorang.

Kali ini, dia datang tidak lagi telat. Tidak seperti biasanya yang sudah-sudah. Dia bahkan tiba sepuluh menit setelah ku sampai. Padahal sengaja aku memperlambat laju mobilku, karena aku yakin ia tidak akan datang tepat waktu. Beruntungnya aku, dia tidak lebih awal datang. Karena jika sampai terjadi , dia yang terpaksa menunggu aku, seperti hari kemarin yang rumit. Biasanya, aku selalu datang lebih tepat waktu dari yang kita janjikan. Namun, karena hari ini aku bermalas-malas saja dan memang ada buku yang sedang aku rampungkan.

“kenapa datang cepat sekali?” tanyaku keheranan saat dia duduk.

“Tidak apa-apa , memang tak boleh tepat waktu”. Ucapnya tegas dengan wajah yang nampak berseri.

“Baguslah”. Aku tersenyum. Aku senang dia datang tidak telat. Setidaknya, aku tidak perlu menunggu berjam-jam lagi. Paling penting dia tidak membuka percakapan dengan kata maaf lagi.

“kali ini, aku saja yang pesan makanan”.

Dia langsung beranjak dari tempat duduknya seolah sudah tahu apa yang hendak aku pesan. Lagi-lagi dia sedang menjadi penyihir untuk dapat menegtahui apa yang hendak aku pesan, tapi aku pasti akan memakan apapun yang dia pesan kok.

“Gimana kerjaan mu?”. Tanyanya padaku. Makanan telah tersaji dihadapan kami.

“bulan depan aku cuti”, jawabku singkat.

“kenapa , mau pindah kerja kah?”.

“aku mau pulang, ibu mau aku kerja dirumah agar dapat dipantau langsung , sudah lima tahun juga aku merantau”.

“Baguslah. Berarti aku bisa ikut dan sesegera mungkin kita menikah, aku tak mau berpacaran lama-lama li”. Ucapnya renyah dan enteng.

Aku tersedak. Dan dia segera mengambilkan air putih untuk ku.

“kamu baik baik saja ?”. Dia tampak cemas.

“Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya kaget“. Hufft.. aku menenangkan perasaan.

Dia tersenyum. Dan kemudian dhibah menatapku dengan sinis. Dia sepertinya paham isi kepalaku ; perihal si reni (mantan pacarku).

Sontak bibir ku langsung berkata

“ Aku sudah menyelesaikan hubunganku dengan Reni”.

“ Kamu serius?”. Tanyanya padaku. Sambil menekuk wajah

‘Iya semalam aku menghubunginya dan aku meminta untuk reni tak menghubungiku lagi”.

“kamu tak perlu cerita soal itu li, berulang kali aku katakan jangan hubungi dia lagi, tapi kamu tetap saja menghubunginya diluar sepengetahuanku”.

Ucapnya dengan tergesa gesa. Seketika meja makan kita terasa sunyi karena pertikaiaan ini.

Harusnya aku tak menceritakan ini, maksud hati; jujur agar hubungan lebih terbuka, sialnya, pertemuan ku dan Dhibah malah membuat nya makin curiga pada ku.

“kau tau li, semalam ada nomer telpon baru menghubungiku memaki-maki aku, ia bilang kalau aku perempuan murahan yang hanya bisa mengganggu hubungan orang. Dia mengisyaratkan padaku, untuk tak menghubungimu lagi”.

Ucapnya dengan penuh amarah dan tetesan air mata.

Sial Reni-reni, pasti dia yang menghubungi Dhibah. Sungguh keterlauan yang dia ucapkan dengannya.

Kemudian selepas ucapan singkatnya itu. Dhibah langsung pergi meninggalkan meja makan. Aku sengaja tak mengejar atau menghampiri hanya sekedar menenangkan. Bagiku, ini hanya akan memperumit keadaan.

“Harusnya tak seperti ini Ren, Fuck”, kataku sambil menggeberak meja makan. ini hanya akan memperumit keadaanku dengan Dhibah.

Memang betul kata mahmud.

“kalau belum selesai dengan masa lalu. Jangan mulai dengan orang baru, hanya sekedar untuk mengobati. Kau tak boleh melibatkan siapapun atas apa yang terjadi padamu dulu, kau harus sembuh sendiri”.

Sunguh, ditinggalkan orang yang kita sayangi, bukanlah hal yang menyenangkan. Itu adalah hal yang buruk bagi perasaan. Niat hatiku bulan depan akan pulang dan bercerita bahwa aku akan serius dengan dhibah dan sesegera mungkin melangsungkan tunangan. Tapi sepertinya waktunya kurang tepat, dengan hubungan yang masih rumit.

Kembali mengingat amukan Dhibah padaku tadi, membuatku merasa semakin bersalah. Selain ada Reni yang mencintaiku terlebih dahulu. Jujur aku tak bisa membayangkan apabila Dhibah mengetahui apa yang dulu aku lakukan pada Reni. Apakah dia masih menerimaku atau tidak?. Cinta seperti ini rumit sekali bukan, hanya karena aku masih menghubungi Reni untuk terakhir kalinya.

Bab 3

Bulir-bulir rindu mulai membasahi asa

Pun bening-bening kasih sayang mewarnai lukisan alam

Memberikan nuansa indah tak terbantahkan malam

Karena sebuah hati yang sedang berusaha menyembunyikan pesona

Meski rasanya berdebar-debar sendiri di dalam sana

Seolah berkecambuk dan ingin melepaskan semua gejolak

Namun nyatanya berat mengakui keberadaan nada.

Yang terus mengalirkan sesak membara sekuat apapun menolak

Itulah mungkin yang dikatakan jatuh cinta

Tanpa memandang usia pun rahasiaSelama masih pada semesta yang sama

Berharap ada yang disebut penyatuan rasa

Namun ternyata keberanian itu tiada

Hanya menutup kata dari ungkapan jiwa

Menjadikan ini sebuah kisah tak lengkap

Tentang cinta yang tak terungkap

Pernahkah kalian merasakan jatuh cinta tanpa sengaja ?, semua datang begitu saja tanpa diduga. Bersama seseorang yang munculnya kalian anggap teman. Sama halnya lagu dari Maudy Ayunda yang berjudul “Tiba-tiba cinta datang”.

Kisah ini dimulai enam tahun lalu. Rasa-rasanya menjadi pertanyaan besar apakah ini hanya sebatas penasaran semata ?. Mulanya aku dan Reni hanya sebatas kenal dan menjadi teman . aku juga tak tahu pastinya kapan cintaku padanya tumbuh dan bersemi, jelasnya ini terjadi direntetan Juni, bulan yang tak ingin kusapa kembali, karena hanya menjadikannya “Sementara”. Aku sadar betul bahwa Ini hanya rasa pesaranku terhadap kepribadiannya, mulai dari kegemarannya sehari hari, warana kesukaan hingga makanan favoritnya apa. jika boleh diibaratkan, bisa dikatakan aku layaknya gudang yang mampu menuruti semua keinginannya, tetapi satu hal yang aku ingat “Aku akan selalu berusaha menuruti atas apa yang menjadi kemauannya, sekalipun itu adalah perpisahan”.

Fenomena seperti ini lumrah terjadi bagi lak-laki yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta, hari itu pula kuputuskan Reni menjadi pelabuhan cinta pertamaku.

Sore hari dibulan juni, hawa sejuk di jombang dengan sengaja, menghantarkanku untuk sekedar menghirup udara di pematangan kota. Sambil menyulutkan rokok aku melihat banyaknya kicauan burung dan aktivitas masyarakat; mulai pedagang yang mengais rezeki, anak kecil bermain layang-layang. Dan tak jarang muda mudi berboncengan untuk menikmati indahnya sore. Jujur, indahnya pemandangan sore itu tak luput dari Pengelihatanku terhadap gadis bermata sipit yang tingginya 150 cm, tentu bukanlah tinggi ideal bagi orang indonesia. Gadis itu merupakan mahasiswa asal kampus ternama jombang. Namaya Renita Reni, biasa dipanggil Reni, aku mengetahuinya dari Mahmud teman karibku dan beruntung aku tak terlalu mengenalnya karena ia adalah wanita yang Introvert. Tapi dari sinilah kisah ku dengan Reni dimulai.

“Clunting..” (Suara telpon masuk), dari Mahmud

“ Hallo mud ada apa?, tanyaku kepada Mahmud.

“Lu dimana, gua udah didepan kos, ayo jalan ” (kamu dimana, aku sudah didepan kos, mari kita jalan jalan). kata mahmud, mengajakku berkeliling kota, wajar Mahmud bersemangat karena aku baru pertama kali datang di kota ini. Kami juga sudah berkawan baik dari kecil karena kedetakan bisnis orang tua.

“Iya udah tunggu lima belas menit lagi”.

Dengan mata sedikit kantuk aku mengiyakan ajakan mahmud, karena aku barusan sampai pagi tadi. Lima belas menit berlalu akhirnyapun kami berjalan menyusuri kota. Kemudian Mahmud mengajakku untuk mampir ke warung kopi.

“Kopi sini aja, ceweknya cakep-cakep (ngopi disini saja, perempuannya cantik-cantik)”. Sambil bercanda Mahmud.

“Gas, siapa tau ada yang nyantol”.

Selang beberapa menit setelah kami menikmati seduhan kopi dan rokok. Aku melihat ada perempuan cantik yang menenteng tas dan membawa buku dengan terburu-buru. Tapi sayangnya karena ia membawa tumpukan buku yang berat, dia tiba tiba terjatuh tepat saat aku menyulutkan rokok.

“Aduh…”. Ucapnya tiba tiba, sambil mengelus siku karena terluka akibat berjalan terburu buru dan tidak hati hati.

“li li tolongin”, ucap mahmud sepontan. Dan aku tanpa berpikir panjang langsung berdiri dan bergegas menuju kearahnya untuk menolong.

“Biar aku bantu, kamu gak papa? Ada yang luka kah?”. Ucapku sambil membantu membereskan barang-barangnya yang terjatuh.

“Engga papa, udah aku bisa sendiri”. katanya dengan memalingkan wajah.

“Terimakasih udah dibantu”. Sambil bergegas mencari tempat duduk.

“Idih… sok asik banget, udah dibantu malah gak bilang terimakasih”.

Kataku dengan penuh penyesalan karena seusai membantunya, tapi tanpa sadar perempuan itu meninggalkan jejak berupa kartu nama yang tergeletak di bawah kursi tempat kami ngopi.

Kemudian aku sengaja tak langsung memberikannya dengan harapan dia yang akan kebingungan mencarinya. Kemudian, aku kembali ketempat duduk.

“songong banget perempuan itu”. Kataku .

“udah gak papa, namanya juga perempuan cantikkan, barang bagus pasti”. Kata mahmud menanggapi ucapanku.

“ Cantik apa ! , tinggi seratus lima puluh doang cantik”.

“ mau tau namanya gak ? dia Reni, bunga kampus sekitar sini, dia anak cerdas dan seluruh biyaya kuliahnya beasiswa paling penting dia jomblo , kata orang si dia itu pendiem dan gak mau deket deket sama cowok”.

“Ok, kita taruhan mud, sebenernya kurang kerjaan banget kenalan sama perempuan ngeselin itu, tapi karena tantangan kali ini spesial , ayo aku pasang lima ratus ribu kalau aku sampai jadian sama dia aku bayar kamu, tapi kalau gagal sebaliknya. Gimana berani gak ?”. Tanyaku kepada mahmud.

“Ok, siapa takut, gua ada nomer hpnya mau kagak ? (aku punya nomer Hp nya kamu mau ?) .”

“kirim geh, langsung”.

Sepulangnya dari tempat perkopian, aku langsung memberanikan diri untuk menelponnya.

“Hallo selamat malam ?”.

“iya ini siapa?”.

“saya dari grab kak, tadi ada yang memesan makanan buat kakak tapi belum dikasih alamatnya “.

Dengan keheranan, kemudian dia tanya kembali padaku.

”ouh, saya tapi tidak ulang tahun dan saya gak memesan makanan online kak”.

Dengan suara lirih dan lugu Reni mengatakan padaku, tapi syukur dia langsung mengirimkan alamatnya. Dengan senang hati aku langsung berangkat menuju alamat tinggalnya, beruntung aku masih menyimpan jaket dan helem grab milik kawanku. Ini sengaja ku lakukan untuk sekedar berkenalan dengannya gar tak terkesan monoton seperti pasangan pada umumnya.

Kringgg…”Permisi ini betul rumah kak Reni”.

Kreek... suara Reni membuka gerbang rumah.

“iya betul, ini penginapan saya”. Dengan suara lirih ketakutakan, dia keluar menggunakan mukena putih, tanpa pikir panjang aku langsung membuka kaca helm ku.

“ kamu mas mas yang tadi kan, diwarung kopi, mau apa kamu? Kamu mau apa apa? …tolong tolong”. teriak Reni

“Eh apaan si kamu” Sambil menutup mulutnya.

“aku kesini Cuma mau ngembaliin kartu pengenal yang terjatuh tadi, udah itu aja , aku pamit”.

Sambil terheran ia memandangiku saat hendak pergi. Tiba tiba dia berteriak.

“Terimakasih tukang paket sambil tertawa”.

Sesampainya dikos, aku langsung menggeletakkan badanku, sambil menyulutkan rokok. Tiba-tiba ada notifikasi masuk. Kulihat ternyata pesan suara dari nomer yang tak aku simpan.

“Terimakasih tukang paket”.

Ternyata pesan ini dari perempuan sialan itu si Reni.

Kemudian aku langsung membalasnya dengan singkat “iya”, dan percakapan kamipun selesai.

Keesokan paginya, aku bermaksud keluar kos untuk sekedar cari makan, tapi cuaca sedang tidak baik baik saja karena sedikit mendung. Ternyata dipertengahan jalan benar sekali hujan mengguyuri kota dan terpaksa aku harus mencari tempat berteduh. Sesampainya di pinggiran jalan untuk berteduh. Ternyata ada juga perempuan yang ikutan berteduh disana. Perawakannya seperti mahasiswi karena membawa tas ransel dipunggungnya, dan aku sungguh tak mengenalinya. Anehnya dia tiba tiba menhampiriku untuk memberikan minum dan handuk kecil padaku.

“Permisi, ini minum dan handuk, pasti kedinginankan”.

“Terimakasih mbk, tapi mbk siapa ya?”. Tanyaku…

“Maaf mas saya gak menikah sama kakak kamu, jadi jangan panggil saya mbk”. Pertanyaan ku disambut geliat tawa.

“Mas nya tukang paket yang nganter kartu nama saya kan”. Sambil membuka masker .

“lo kamu Reni, si perempuan sialan”. Kataku sepontan.

“Hey dasar, sini anduknya. Sudah baik kupinjami handuk dan ku beri minum, malah jawabannya seperti itu”.

Hujanpun akhirnya reda, selanjutnya aku bermaksud menawarinya makan karena sudah baik denganku untuk sekedar meminta maaf.

“udah reda ni, kamu mau kemana setelah ini?”.

“aku mau pulang ke penginapan”.

“jalan kaki ?”.

“terbang”.

“sini biar aku antar, sekalian makan kamu pasti lapar karena kehujanankan”

“Gak usah sok baik aku udah makan, emang kamu kira aku perempuan apaan.

Tiba tiba suara perutnya, menunjukan bawah si perempuan sialan ini ternyata lapar. Sejatinya aku juga tak ingin memaksa. Motifnya sederhana dia kehujanan dan sudah baik dengan memberiku minum dan meminjamiku handuk.

“Emang, kalau mahasiswa cerdas pintar bohong juga ya, udah beneran laper masih aja bilang kalau kenyang. Kalau aku jadi cacing diperutmu, mendingan keluar aja cari makan sendiri. Orang punya majikan sombong dikasih rezeki”.

“apaan si kamu, nyebelin yaudah ayok”.

Kitapun akhirnya bergegas mencari makan menggunakan motor yang aku bawa. Ini merupakan pengalaman kali pertamaku untuk berkencan dengan perempuan. Meskipun motifnya sedikit memaksa dan menjebak . setibanya ditempat makan aku dan Reni langsung memesan dan memakan pesanan kami.

“Kamu biasa makan disini Ren?, tanyaku sambil mengunyah makan.

“Pamali kata orang tua makan sambil ngobrol tau”.

Akupun akhirnya memutuskan diam, dan tidak sedikitpun ngobrol dengannya sampai makanan kami habis.

“Kamu sendiri dari mana ?”. Tanya Reni padaku saat selesai minum.

“Pamali, gak tanya nama langsung tanya dari mana?, kamu kepo ya sama aku”.

“Yee.. apaan tukang paket , yaudah-yaudah nama kamu siapa ?”.

“nah gitu dong, nama ku ali titik dua qoma”.

“kok, namanya aneh”. Ucap Reni keheranan.

“ dua qoma maskudnya, Reni cantik ali yang punya”. Sambil ku tertawa dia tersenyum tersipu malu.

“Ih, apaan si li, gombal deh yaudah balik yok”. Ajak reni untuk segera pulang karena bajunya juga basah kuyup.

Setelah aku antar pulang ke penginapannya, malam hari tepatnya pukul sembilan lebih dia menelpon ku dan mengucapkan terimakasih karena aku sudah mentraktirnya makan. Tentu aku sedikit salting dan tersenyum malu. Mengingat kami baru berkenalan dan bagiku ini singkat untuk disebut dengan nyaman. Tapi jujur dibalik menjengkelkannya Reni, dia orangnya baik dan tak terlampau cuek pada orang baru. Tanpa sadar kami tertidur sebelum mematikan telpon. Sejatinya aku sedikit curiga pada diriku sendiri, karena dimalam malam berikutnya setelah hari itu. Aku dan Reni menjadi sering bertemu , mengobrol melalui telpon setiap malam dan saling mengirim foto untuk sekedar mengabari. Aku belum tau persis apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang pasti perkenalan ku dengannya sejauh ini hanyalah kebetulan, kebetulan aku yang akan menang taruhan dengan Mahmud. Bagiku, kita tak akan jauh lebih tau dari pada takdir tuhan. Apakah aku kali ini harus menunggu dengan Dhibah karena terlanjur menyayat hatinya atau malah menulis ulang kisah Reni di lembar buku yang sudah aku tutup kemarin. Tapi satu hal yang aku negasikan, bahwa pertemuan ku dengan Reni, meskipun indah ini hanya sementara , aku tak pernah sungguhan mencintainya, selain menghargai hubungan yang terlalu lama dan bukan karena kualitas yang terjaga.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED