“Aarrgghhh, sial! Kenapa pakai mati segala, sih?” omel Sean siang itu.
Mobilnya tiba-tiba mati sedangkan ia harus meeting sekarang di perusahaannya. Kalau begini caranya, ia pasti akan terlambat. Asisten Nick juga pasti sedang meeting dengan klien lain saat ini.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang," keluh Sean bingung.
Ia tak berani keluar mobil karena takut kotor. Mysophobia yang dideritanya belum juga bisa sembuh meski sudah berobat ke mana-mana. Ia malas berinteraksi dengan siapa pun selain orang tuanya sendiri dan asisten Nick yang membantunya menjalankan perusahaan.
Penyakit yang sejak kecil ia derita ini, sungguh membuatnya menderita. Dokter bilang ia susah sembuh karena mindset yang direkam otaknya sejak kecil tentang masalah kebersihan, terlalu kuat.
Mamanya yang menjadi pemicu dirinya terkena Mysophobia. Sang mama yang sering keguguran menjadi sangat over protektif pada Sean sejak kecil sehingga menyebabkan Sean kecil sudah terbiasa dengan kebersihan, malah terlalu suka dengan kebersihan sehingga ia akan merasa panik jika berada di ruang yang kotor.
‘Aku harus hubungi asisten Nick agar menjemputku setelah meeting nanti?’ bisiknya dalam hati.
Sean keluar dari mobilnya, bergegas menelepon sekretarisnya agar segera menjemputnya. Sean baru saja akan menekan nomor di ponselnya, tiba-tiba dari arah depan seorang gadis berlari begitu kencang ke arahnya, hingga tabrakan antara Sean dan gadis itu pun tak terelakkan lagi.
Sean terkejut saat tubuh gadis ini sudah berada di atas tubuhnya sementara bibir gadis itu sudah menyapa bibirnya. Sean seketika merasa jijik setengah mati, ia mulai terengah-engah karena panik, dan tak lama kemudian ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
“Hei, bangun! Bangun, Tuan!” panggil Keyra berkali-kali.
Namun, sia-sia saja. Laki-laki blasteran tampan ini telah pingsan karena dirinya.
“Ah, sial! Kenapa pakai acara nabrak, sih? Padahal aku lagi buru-buru mau ke kampus. Kacau semuanya, nih,” keluh Keyra sebal.
Ia beranjak dari tubuh Sean, mencoba memapahnya ke mobil, lalu membaringkannya di kursi belakang. Keyra lalu duduk di belakang kemudi dan ketika ia mencoba menyalakan mesin mobil yang ternyata mogok.
Keyra lalu keluar mencoba membuka kap mesin, lalu mengambil busi mobil dan mencoba peruntungannya.
“Semoga hanya masalah busi kotor saja,” gumam Keyra pelan.
Keyra membersihkannya kemudian memasangnya kembali lalu mencoba untuk start mesin mobilnya lagi. Dan berhasil. Mobil bisa dinyalakan. Ia langsung bergegas mengemudikan mobilnya ke rumah sakit Internasional.
[Selamat siang, Pak. Saya mohon izin tidak dapat mengikuti perkuliahan karena ada urusan keluarga. Terima kasih]
Keyra menyempatkan diri izin pada dosennya karena tak memungkinkan baginya kembali ke kampus saat ini. Ia harus memastikan laki-laki ini baik-baik saja, barulah ia bisa tenang.
Sesampainya di rumah sakit, Sean langsung mendapatkan perawatan terbaik.
“Gimana aku bisa bayar biaya rumah sakitnya nanti? Dilihat dari gaya pakaian dan mobilnya, laki-laki ini sepertinya orang kaya. Apa aku geledah saja dompetnya untuk bayar uang muka perawatan dia?” gumam Keyra bimbang.
“Nona, tolong anda tangani surat-surat terkait perawatan yang akan dilakukan pada Tuan Sean!” kata seorang dokter muda pada Keyra.
“Saya bukan walinya, Pak dokter. Saya tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit semewah ini,” aku Keyra jujur.
Dokter muda itu tersenyum pada Keyra, lalu menenangkannya.
“Anda tenang saja, Nona. Anda tidak perlu membayar sepeser pun karena Tuan Sean adalah pasien VVIP yang telah mendepositkan sejumlah uang di rumah sakit ini. Anda tanda tangani saja administrasinya karena mama dan papa Tuan Sean sedang berada di luar negeri saat ini.”
Keyra akhirnya bisa bernafas lega. Ia kira dirinya yang harus membayar semuanya. Memikirkannya saja ia sudah sakit kepala. Bagaimana tidak? Rumah sakit ini adalah Rumah Sakit Internasional yang tarifnya pasti luar biasa mahal. Keyra menyudahi lamunannya, lalu ia bergegas menandatangani formulir pendaftaran rawat inap di bagian administrasi.
Ia menunggu dengan cemas di ruang tunggu hingga setelah beberapa menit, dokter dan beberapa perawat membawa Sean ke kamar VVIP miliknya. Dokter memberi isyarat pada Keyra agar mengikutinya ke ruangan Sean. Keyra mengangguk lalu mengiringi dokter dan para perawat menuju ruangan rawat inap milik Sean yang luar biasa lebar dan mewah.
‘Wah! Ini sih bukan kamar rumah sakit. Ini apartemen mewah,’ batin Keyra takjub.
Kamar VVIP milik Sean ini dua kali lipat lebih besar dari rumah kontrakannya, lengkap dengan fasilitas bak kamar hotel bintang lima. Gila!
‘’Bakalan betah kalo nginep di sini, kayaknya.’
Keyra kembali membatin saking takjubnya dengan kemewahan kamar rawat inap milik Sean ini.
Dokter Billy tersenyum tipis melihat kepolosan Keyra yang tampak takjub melihat kemewahan di depan matanya. Keyra sebenarnya gadis yang sangat cantik andai dia bisa merawat dirinya. Dandannya yang urakan begini, belum lagi kebersihan pakaian dan rambut yang tidak terjaga, wajar saja membuat Sean yang menderita Mysophobia sejak kecil menjadi syok dan pingsan seperti sekarang.
“Nona, anda boleh menunggu di sini sampai Tuan Sean siuman. Bicaralah baik-baik pada Tuan Sean soal kecelakaan tadi! Saya yakin Tuan tidak akan mempermasalahkan masalah biaya dan hal lainnya. Hanya saja saran saya, anda jangan terlalu dekat saat bicara padanya karena Tuan Sean menderita Mysophobia,” terang dokter menjelaskan.
“Baik, Dokter....” sahut Keyra sambil mengangkat kedua alisnya bermaksud menanyakan nama dokter muda nan tampan di depannya ini.
“Dokter Billy,” jawab dokter Billy mengerti maksud gadis di depannya ini.
“Terima kasih informasinya, Dokter Billy. Saya akan pergi setelah Tuan Sean siuman. Saya juga akan minta maaf pada beliau nanti,” kata Keyra sopan.
“Kalau begitu, kami permisi.”
Dokter Billy dan para perawat pun meninggalkan kamar Sean. Keyra mendekati Sean yang masih belum siuman juga. Ia jadi ingat perkataan dr. Billy tadi yang mengatakan bahwa Sean syok karena dirinya. Wajar juga kalau dia pingsan, mengingat Sean mengidap Mysophobia yang tak tahan dengan sesuatu yang kotor penuh dengan kuman.
“Sialan! Berarti aku kotor dan penuh kuman, dong!” umpatnya kesal.
Namun, akhirnya ia menyadari bahwa dirinya benar-benar kotor untuk ukuran pasien Mysophobia.
‘Gara-gara dia, mata kuliah favoritku jadi ga bisa aku ikuti. Benar-benar sial!’ batin Keyra kesal.
Ia menatap wajah tampan blasteran di depannya ini lalu kembali membatin dalam hatinya.
‘Semoga saja dia cepat siuman agar aku bisa ikuti mata kuliah psikometri hari ini.’
Setengah jam berlalu. Sean mulai mengerjapkan matanya lalu membukanya pelan-pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan terkejut bukan main saat mendapati wanita kotor yang menabraknya tadi, berada di dekatnya.
Sean seketika histeris melarang Keyra mendekatinya. Dengan garang ia mendesis tajam ke arah Keyra.
“Keluar dari sini! Jangan mendekatiku, Wanita kotor!”
Bersambung...
“Apa? Wanita kotor? Sialan!” umpat Keyra spontan.
Sean jadi tambah emosi mendengar wanita kotor dan jorok di depannya ini mengumpatnya.
“Sialan? Kamu tuh yang sialan, tahu kamu? Kamu yang buat aku dirawat di sini, sadar nggak, sih?” semprot Sean berang.
Berani-beraninya wanita kotor ini mengumpatnya padahal dirinya bisa celaka begini karena ulahnya. Dasar, tidak tahu diri! Sean menggerutu kesal dalam hatinya.
“Ya, maaf. saya tahu saya salah, tapi bukan berarti anda bisa menghina saya gitu, dong?” jawab Keyra membela diri.
“Siapa yang menghina kamu? Saya bicara kenyataan. Kamu memang kotor, apa aku salah?” desis Sean realistis.
“Meski aku kotor sekali pun, kamu harusnya punya tata krama, dong! Yang sopan kalau bicara sama wanita!” sahut Keyra kesal.
Keyra masih ngotot tak mau mengalah karena ia merasa benar. Sewajarnya pria berpendidikan seperti dirinya, berkata lembut pada seorang wanita bukan malah menghinanya begini.
“Cih! Ngapain aku buang waktuku untuk bicara sopan sama wanita jorok macam kamu? Ingat! Kamu yang sudah mencelakakan aku, tahu nggak? Wajar kalau aku mau maki-maki dan marah sama kamu. Sekarang mendingan kamu pergi dari sini! Aku mau istirahat. Tekanan darahku jadi naik gara-gara ngomong sama kamu,” cetus Sean semakin kasar.
Keyra menghembuskan nafasnya kasar. Sejak tadi laki-laki ini tak mau bicara lembut padanya. Tadinya, ia ingin meminta maaf secara sopan, tapi kini ia tak mau melakukan itu lagi. Ia akan pergi setelah puas memaki laki-laki sialan di depannya ini.
“Aku juga malas bicara sama laki-laki penyakitan macam kamu, tahu nggak? Laki-laki macam apa kamu, takut sama debu dan kotoran? Cih! Amit-amit kenal pria jadi-jadian macam kamu. Laki-laki sejati tidak takut kotor, tahu kamu? Dasar laki-laki pengecut!” umpat Keyra emosi.
Puas memaki dan menghina Sean, Keyra mendekati Sean lalu menggosokkan tangannya ke wajah Sean sekilas lalu berlalu meninggalkan Sean yang membelalak kaget, tak menyangka wanita kotor tadi akan mendekati dan menyentuh wajahnya.
“Wanita sialan! Hei, Berengsek! Kenapa kamu sentuh wajahku dengan tangan kotormu?”
Sean histeris. Ia menggosok wajahnya dengan selimut berkali-kali hingga kulit wajahnya memerah.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu bergegas ke kamar mandi. Sean mencuci wajahnya dengan sabun lalu menggosok wajahnya yang terasa masih kotor berkali-kali hingga terasa perih.
“Wanita kurang ajar! Berengsek! Sialan!” makinya terus-menerus sambil menggosok pipinya.
Akhirnya setelah 1 jam, Sean keluar dari kamar mandi dengan pipi yang merah mengelupas karena terlalu sering digosok.
Sepertinya Sean lupa penyebabnya pingsan tadi pagi. Andai dia ingat, pasti bibirnya juga tak luput dari gosokan sabun di kamar mandinya.
‘Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan wanita jorok macam dia,’ ucap Sean bergidik jijik.
Ia memegang pipinya yang merah dan terasa perih tadi dengan hati yang kesal.
“Kenapa wanita sialan itu berani memegang wajahku?” makinya geram.
Ia mengingat-ingat lagi kejadian tadi pagi. Ia tadi akan berangkat kerja, tiba-tiba mobilnya mogok, lalu ia berniat menelepon asisten Nick kemudian si kotor menabrak dia dan ...
“Tidaaaak ....” jerit Sean histeris.
Ia ingat bibir si kotor itu menempel di bibirnya. Sean mendadak mual setengah mati. Ia menjerit histeris sambil menggosok bibirnya beberapa kali. Jantungnya berpacu dengan cepat dan ia mulai merasa pusing pada akhirnya ia kembali pingsan di atas tempat tidurnya.
Asisten Nick yang mendapat kabar dari dokter Billy bergegas menjenguk bosnya ke rumah sakit. Dan betapa terkejut dirinya saat melihat bosnya pingsan di pinggir kasurnya.
“Bro, bangun! Lo kenapa? Duh, kayaknya dia udah siuman tadi, baru pingsan lagi,” duga Nick tepat.
Bukan tanpa alasan Nick menduga demikian. Ia sudah menatap sekelilingnya dan yakin akan analisanya.
Sepreinya sudah berantakan, pipi Sean sudah mengelupas kemerahan, belum lagi posisi tidur Sean juga sudah bergeser ke sebelah kiri. Nick jadi curiga dengan keadaan Sean saat ini.
Nick membenahi posisi Sean, lalu memanggil perawat untuk menunggui Sean sementara ia ke ruang CCTV untuk melihat kejadian sebelum ia datang ke kamar Sean tadi.
‘Ada yang salah dengan Sean, pasti ada orang lain di dalam kamar ini tadi,’ tebaknya dalam hati.
Nick terus melangkah ke ruangan CCTV dan akhirnya mengetahui penyebab Sean pingsan tadi.
‘Cantik, sih! Tapi, rada kotor juga emang?’ celetuk Nick dalam hati.
Kini, ia tahu penyebab Sean kembali pingsan. Wajar juga gadis itu emosi pada Sean. Sean yang tidak tahu diri sebenarnya. Meski gadis itu salah karena menabraknya, tapi ia sudah bertanggung jawab dengan mengantarnya ke RS, kan? Kenapa Sean malah menghinanya?
Nick kembali ke dalam ruangan Sean dan menunggu atasan plus sepupunya tersebut sadar dari pingsannya.
“Lo udah sadar, Bro?” tanya Nick memastikan.
Sean mengedarkan pandangannya sekilas, baru menjawab pertanyaan sepupunya.
“Udah lihat sendiri masih juga nanya udah siuman apa belum. Bisa kreatif ga buat pertanyaan?” omel Sean sewot.
Ia sudah biasa bertengkar dan berdebat dengan sepupunya ini. Malah ia tak biasa bicara lembut dan manis seperti orang lain.
“Baru sadar aja, udah sewot lo,” balas Nick tak kalah sengit.
“Minggir, gue mau pulang!” usir Sean kesal.
“Emang lo yakin ga bakal pingsan lagi?”
“Lama-lama di sini juga bakal buat gue pingsan lagi. Di sini kotor dan bekas wanita kotor itu pasti belum dibersihkan. Aku jijik lama-lama di sini, tahu nggak? Cepat bantu aku pulang, Nick!” pinta Sean serius.
Ia setengah mati melawan rasa jijik di hatinya saat ini. Semoga saja ia bisa melupakan wanita itu ketika sampai di rumahnya nanti.
“Oke, siap-siap aja, Bro! Lo mau pakaian ganti, nggak?”
“Nggak, gue pengen cepat-cepat pulang sekarang. Buruan, Nick! Gue ingin segera pergi dari kamar ini,” ucap Sean kembali bergidik jijik.
Sean segera melangkah keluar kamar buru-buru, bahkan tidak menyapa perawat lagi. Meski ini rumah sakit langganannya, ia sama sekali tidak mau terlibat dengan staf dan beramah-tamah dengan para dokter di rumah sakit secara langsung. Nick yang mengurus semuanya karena ia tak mau terlibat dengan banyak manusia. Penyakitnya membuatnya repot harus membawa hand sanitizer ke mana-mana.
Ia bahkan harus selalu membawa tisu basah dalam sakunya. Ia tak bisa duduk sembarangan karena takut kuman. Bahkan, ia tak pernah makan di restoran dan menginap di hotel saking takut dan jijiknya dengan bekas orang lain. Bagaimana mungkin ia bisa menikah dan punya anak kalau penyakitnya tak kunjung sembuh begini?
“Bro, tunggu dulu! Jangan main nyelonong aja! Emang lo bisa buka pintu sendiri?” seru Nick memanggil sepupunya.
Sepupunya yang takut kotor dan kuman ini, bahkan tak bisa membuka pintu bila tidak dilapisi sapu tangan atau tisu.
Dan benar saja, Sean putar balik dan buru-buru mendekati sepupunya lagi sambil ngomel sendiri.
“Makanya buruan jalan! Dari tadi lelet amat kayak siput. Gak peka banget kalo gue udah jijik dan merinding lama-lama di sini,” omel Sean bawel.
“Iya, Bawel! Nih, buruan keluar!” balas Nick sambil membukakan pintu untuk atasan cerewetnya ini.
Sean keluar sambil menggerutu, lalu melangkah dengan cepat ke arah mobil.
“Bukain pintunya, Nick! Gue juga ga mau kayak gini, lo tahu, kan? Tisu dan sapu tangan gue ga tahu ke mana makanya gue jadi repot begini,” omel Sean lagi.
Nick membukakan pintu untuk Sean, menyemprotkan hand sanitizer ke seluruh bagian mobil, baru mempersilahkan sepupunya masuk kemudian ia menyusul dan menyetir dengan tenang menuju kediaman Sean sore itu.
Bersambung...
Seminggu telah berlalu. Sean sudah mulai bekerja kembali di perusahaan miliknya yang bergerak di bidang real estate. Semua meeting akan ia handle dengan baik sesuai dengan syarat yang ia tentukan. Ia hanya akan meeting di restoran yang biasa ia datangi dan sudah teruji kebersihannya saja.
Untuk peninjauan proyek, hanya akan dilakukan oleh Nick, tangan kanannya karena ia tak bisa lama-lama di areal penuh debu dan keringat. Sean adalah pribadi yang cerewet dan pemarah. Staf dan manajernya tak luput dari kemarahannya apabila ruangan di perusahaan mereka kotor walaupun sedikit saja.
“Kan, sudah saya bilang, jangan bawa makanan di dalam kantor! Meja berantakan penuh remah makanan begini akan mengundang banyak kuman, tahu kamu?” omel Sean pada salah satu staf bagian keuangan di perusahaannya.
“Maaf, Pak. Saya tadi tidak sempat sarapan, makanya saya inisiatif bawa roti dan menyempatkan makan di sini sambil mengerjakan laporan keuangan bulan ini, Pak,” kilah Rosa membela diri.
“Kamu mau saya pecat? Kamu melanggar aturan yang saya buat, tahu kamu? Kalau sudah tak sanggup bekerja di sini, silakan resign saja!” ancam Sean bertambah marah.
Rosa menunduk dan berkali-kali memohon maaf pada Sean dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.
“Baik, ini peringatan pertama dan terakhir bagi kamu. Andai terulang lagi kamu langsung saya pecat, paham kamu?” desis Sean lantang.
“Paham, Pak,” sahut Rosa cepat.
“Sekarang juga minta Pak Dedi untuk membersihkan meja dan seluruh ruangan ini dengan desinfektan hingga kuman-kumannya mati.”
“Baik, Pak.”
Sean mengernyit jijik melihat meja Rosa kembali. Ia berbalik lalu kembali ke ruangannya dengan hati yang kesal. Ia menatap ruangan putih miliknya ini, ruangan yang begitu bersih ini sungguh sangat menenangkan jiwanya.
“Sampai kapan aku begini?” gumam Sean pelan.
Ia sungguh merasa menderita dengan penyakit yang ia derita. Tak seperti orang lain, ia bahkan tak bisa berenang di kolam renang umum, belanja di supermarket, makan dengan leluasa di restoran, jalan-jalan serta kegiatan outdoor lainnya karena penyakit yang ia derita.
Setelah kejadian seminggu lalu, keanehan pada dirinya pun bertambah. Ia sering mengkhayalkan bibir gadis kotor yang menabraknya tersebut. Awalnya ia merasa mual hebat dan jijik luar biasa hingga ia tak henti-henti menggosok bibirnya hingga terluka.
Namun, dua hari dari kejadian itu, keanehan mulai terjadi. Ia sering mengkhayal tentang bibir gadis itu secara rutin hingga terbawa ke dalam mimpi. Buntutnya ia kesal dan akan mencari kesalahan stafnya dan melampiaskan kemarahannya seperti pagi ini misalnya.
“Gadis sialan! Gara-gara dia pikiranku jadi kacau. Sudah merugikanku sekian banyak, kini ia berpotensi merusak otakku,” omel Sean kesal.
Sean harus konsul ke psikolognya lagi kalau begini. Sekian lama ia terapi dan konsul ke psikolog ternama, tetap saja sia-sia. Bukannya sembuh malah menjadi-jadi dan sekarang ia harus menghadapi gejala baru selain panik, sesak, pusing, jijik dan takut. Kini dia harus merasakan perasaan kesal terus menerus karena insiden bibir wanita kotor itu. Sial!
“Bro, tolong tanda tangani dokumen ini!” seru Nick langsung masuk ke ruangan Sean tanpa mengetuk pintu lagi.
“Lo itu punya manner ga, sih? Maen nyelonong aja. Lo udah sterilin tangan lo belum?” omel Sean cerewet.
“Sudah semua, Bawel. Dah, buruan tanda tangan! Gue mau cabut ke lokasi proyek, entar telat gara-gara dengerin omelan lo mulu,” balas Nick buru-buru.
“Untung sepupu. Kalo orang lain, udah gue pecat lo, tahu nggak?” geram Sean, tapi tak urung diambilnya juga dokumen dari tangan sepupunya lalu segera menandatanganinya.
“Gue gak takut sama omelan lo. Buruan sign, Bro!” balas Nick tidak ada sopan-sopannya.
Nick dan Sean sudah dekat sejak kecil. Jadi, apa pun bentuk kemarahan Sean, Nick sudah tidak takut lagi. Malah Sean harusnya bersyukur punya sepupu plus tangan kanan yang handal seperti Nick. Nick sangat sayang pada Sean dan sungguh berharap Sean bisa sembuh total dari Mysophobia yang ia derita suatu hari nanti.
“Udah, nih!” kata Sean sambil menyodorkan dokumen yang sudah ia tanda tangani.
“Gue cabut dulu, Bro. Nanti sore gue kemari lagi ngasih laporan,” kata Nick langsung melangkah pergi tanpa menunggu Sean merespons lagi.
“Ga ada akhlak bener, lo, Bro!” seru Sean pada sepupunya.
Nick hanya menoleh sekilas, mencebikkan bibirnya pada sepupunya lalu tetap melanjutkan langkahnya keluar ruangan Sean dengan santainya.
Sean sendirian lagi sekarang. Ia spontan terbayang bibir wanita kotor itu lagi.
‘Sialan! Kenapa aku jadi aneh begini? Lama-lama aku bisa gila kalau begini terus,’ batin Sean kesal.
Sean memutuskan akan pulang saja. Ia butuh makanan dan minuman sementara ia tak bisa makan makanan yang dimasak orang lain karena takut cara pengolahannya tidak steril.
Hidupnya benar-benar melelahkan. Ia harus menyewa chef khusus yang bertanggung jawab akan menu makanannya sehari-hari. Sungguh ia berharap lekas sembuh dari penyakit ini.
Sean mengeluarkan tisu dari saku bajunya, lalu membuka pintu dengan tisu tersebut kemudian membuangnya ketika ia sampai di luar perusahaan.
Sean lalu masuk ke mobilnya dan mulai berkendara dengan tenang. Tiba-tiba saja bayangan gadis kotor itu memegang pipinya dan bersentuhan bibir dengannya, kembali terputar berulang-ulang di pikirannya. Ia berusaha menepis semua bayangan wanita itu, tapi sia-sia.
“Menghilanglah dari pikiranku, Wanita kotor sialan!” jeritnya kesal.
Tidak bisa begini terus, ia harus segera konsul ke psikolog saat ini juga. Ia sudah sangat tersiksa dengan penyakit mysophobianya selama ini, masa ia harus menderita gara-gara memikirkan wanita kotor itu terus, sih?
Sean nekat melajukan mobilnya ke klinik langganannya.
“Prof, tolong aku! Aku butuh terapi kayaknya, Prof?” pinta Sean dengan nafas tersengal-sengal saat ia sampai di klinik Profesor Aldi, psikolog yang selama ini membantunya meringankan gejala Mysophobia yang ia derita.
Profesor Aldi segera mensterilkan ranjang di kliniknya lalu meminta Sean segera berbaring dengan santai. Ia akan memulai sesi tanya jawab pada Sean yang kelihatan begitu cemas saat ini.
“Sekarang tarik nafas yang dalam, baru kemudian hembuskan pelan-pelan, Tuan Sean!” kata dokter memberi instruksi agar Sean merasa tenang.
“Sekarang coba ceritakan pelan-pelan, apa yang mengganggu pikiran anda, Tuan Sean!” tanya Profesor Aldi pelan.
“Aku sudah gila, Prof. Aku terus-terusan memikirkan seorang wanita dua hari ini,” jelas Sean menceritakan kegundahannya.
“Wanita yang mana, kalau saya boleh tahu?” tanya Prof. Aldi menganalisa.
“Wanita kotor yang tak sengaja menabrakku, menyentuh bibirku dengan bibirnya serta menyentuh pipiku hingga aku pingsan dan diopname, Prof,” ujar Sean menyampaikan.
“Jadi, anda terus-terusan memikirkannya? Bagaimana dia hadir dalam ingatan anda, Tuan Sean? Apa dia tersenyum? Apa dia mencium anda? Apa dia memegang pipi anda lagi dalam pikiran anda, Tuan Sean?” tanya Prof. Aldi lagi.
“Semuanya, dok. Aku terbayang semua yang dokter bicarakan tadi,” aku Sean jujur.
“Oke, terus apa yang anda rasa ketika anda terbayang akan dirinya?”
“Aku jadi gelisah, marah, kesal karena dia mengusik ketenanganku selama ini. Aku sudah cukup menderita karena penyakitku, dan dia menambah rasa kecemasanku, Prof,” ujar Sean menyampaikan kegundahannya.
“Apa anda tahu siapa dia, Tuan Sean?”
“Aku tak sempat bertanya, Prof. Karena saat aku siuman, aku langsung jijik karena melihat penampilan kotornya dan aku memarahinya dan mengusirnya, tapi dengan kurang ajarnya dia memegang pipiku dengan tangan kotornya hingga aku harus mencucinya dengan air sabun satu jam lebih, Prof,” jelas Sean detail.
“Dan setelah beberapa hari kemudian, anda jadi memikirkannya terus, begitu, ya, Tuan?” tanya Prof. Aldi memastikan.
“Iya, Prof. Kira-kira aku kenapa, Prof? Apakah aku terjangkit penyakit baru?” tanya Sean mulai merasa cemas.
“Untuk hal itu saya belum bisa pastikan penyebabnya. Bisa saja akibat terlalu jijik, terlalu takut disentuh oleh wanita yang anda anggap kotor itu, atau bisa juga penyakit hati, Tuan?” terang Prof. Aldi menganalisa.
“Maksud anda, saya kena penyakit liver?” tanya Sean membelalak kaget.
Prof. Aldi tertawa kecil mendengar analisa Sean. Ia lalu menjawab pertanyaan Sean dengan senyuman gelinya.
“Penyakit hati yang saya maksud adalah jatuh cinta, Tuan Sean. Anda mungkin jatuh cinta pada wanita itu.”
Bersambung...