Bab 1

Memasuki kalender bulan November, kabut putih disertai awan hitam pembawa hujan perlahan bergeser dan menghilang dari pandangan mata, memperlihatkan langit biru yang cerah berawan. Tampak berdiri dengan kokoh dan megah gedung-gedung tinggi pencakar langit, bundaran HI dengan patung Selamat Datang di tengah-tengah air mancur, juga lalu lintas kota Jakarta yang sudah terlihat mulai padat merayap.

Sebagian besar kendaraan didominasi oleh mobil pribadi dan sepeda motor, berbeda dengan busway yang melewati jalurnya sendiri. Sementara itu, suara bising klakson juga deru mesin dan knalpot amat menyeruak di telinga. Banyak pejalan kaki berhaluan di pinggir jalan dan memenuhi halte. Entah itu pengamen jalanan, penjual cangcimen, ataupun orang-orang yang baru saja turun dari jembatan penyeberangan. Dan, kemeriahan tampak di sebuah gedung pernikahan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Ishabella binti Rahmadi dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan emas sebesar 4 karat dibayar tunai."

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Saahhhh!!"

"Alhamdulilah."

Penghulu dan semua tamu undangan yang hadir di tempat itu mengusapkan tangan ke wajah—termasuk dua mempelai yang baru saja resmi menjadi sepasang suami dan istri itu. Ishabella dan Dharma yang nampaknya sudah kepala 4. Mereka tersenyum sebentar sebelum wanita cantik dengan konde di kepala itu mencium tangan Dharma dan dibalas dengan kecup di kening oleh pria itu.

Tak lama kemudian, silih berganti orang-orang berpakaian rapih dengan setelan jas dan berbagai macam dress—yang mungkin saja rekan-rekan kerja mereka, itu saling berjabat tangan mengucap selamat dan cipika-cipiki. Sementara di sudut lain, dua anak muda yang berdiri saling memunggungi satu sama lain itu sedari tadi menatap orangtua mereka dengan pandangan malas dan jengah.

"Ck~ Apa-apaan sih ini, nora' banget deh. Mending nggak usah dateng aja tadi."

Raina sebenarnya tidak tahu menahu akan hubungan Ishabella dan Dharma, wanita itu baru memberitahunya kemarin. Memberitahu kalau mereka mau menikah, dan terjadilah sekarang. Walaupun sudah mati-matian untuk menahan, merajuk, memaksa, mendesak bahkan memprovokasi, bahwa Raina tidak menyetujui dan memberinya restu untuk menikah dengan Om Dharma, tetap saja itu tidak merubah keadaan.

Bukannya gimana-gimana tapi masalahnya pria itu adalah ayah dari musuhnya sendiri sejak masih di bangku Sekolah Dasar—Miko. Tapi ternyata Ishabella sama sekali tidak memperdulikan ocehannya dan malah tetap bersikeras melaksanakan pernikahan ini.

Jelas dong, Raina Megantari—atau kerap disapa Nana, ini tidak suka. Bagaimana mungkin ia bisa menerima status baru—saudara, dengan seseorang yang jelas-jelas sudah memberinya kesan yang buruk sejak kanak-kanak? Bahkan sampai sekarang, Miko masih menjadi cowok yang paling Raina benci. Setelah dulu sering menjadikannya menjadi bahan ejekan sehingga membuat image dan reputasinya hancur begitu saja di hadapan teman-teman lain.

"Orang jelas-jelas pernikahan kayak gini, masih nanya. Dasar bego!" Miko bergumam di sebelahnya.

Kontan, Raina memutar kepala ke arah pemuda itu. Telinganya gatal mendengar kata terakhir yang terlontar dari mulut manis Miko yang selalu menyebalkan dan memancing perdebatan kalau saja Raina tidak pandai menahan emosinya. Seketika, bibir cewek itu mengerucut kesal menatap wajah yang menurutnya sok ganteng dan sok cool itu karena Miko jarang sekali tersenyum, terlebih lagi kepada Raina. Objek bully paling asyik baginya.

"Dih! Siapa juga yang nanya sama situ? Nyambung-nyambung aja, emang kabel putus apa disambung?!" balas Raina ketus.

Miko yang sedari tadi melipat tangan di dada dan melihat ke sekeliling, kini hanya melirik cewek mungil yang memiliki tinggi badan hanya sepundaknya itu dari ekor mata, tanpa disertai gerakan kepala.

"Lo harusnya bersikap lebih sopan sama gua, Monyet. Karena gimanapun juga, mulai sekarang gua udah jadi kakak tiri lo."

"What?!" Raina terkaget mendengar panggilan dari Miko barusan. Keningnya membentuk beberapa lipatan. "Lo sebut gue apaan, tadi?! Coba ulangin sekali lagi!"

Bola mata Miko tampak berputar. Cowok itu segera menghadapkan tubuhnya kearah Raina. "Lo nggak budek 'kan, Nyet?"

Hidung Raina yang mungil langsung kembang-kempis. Atas dasar apa cowok itu bisa seenak jidat dan udelnya memanggil dengan sebutan itu? Benar-benar tidak bisa membuat Raina untuk tidak mengumpat dan menyumpah serapahinya dalam hati. Miko benar-benar cowok yang tidak berperikewanitaan. Tapi, Raina sudah tidak heran, kaget ataupun habis pikir lagi karena ini yang membuatnya membenci sosok Miko.

"Kalo gue monyet lo apaan, hah? Anjing?! Babi?! Gorilla?! Drakula?! Atau apa?!" Raina berkacak pinggang dan mengangkat dagu tinggi-tinggi. Disaat seperti ini, ia merutuki dirinya sendiri yang pendek sehingga membuat Miko bisa dengan mudah mengintimidasinya.

Tawa kecil yang meremehkan tampak menghiasi wajah tampan itu. "Nggak ada satupun yang bener. Kalo lo monyet, maka gue adalah pemburunya. Pemburu yang bakalan nangkep monyet-monyet dan ngebunuh mereka buat dijadiin sate. Kalo nggak, mungkin gue bakalan jadiin alat buat nyari duit. Ya! Topeng monyet! Hahhahahaa.."

Mendelik, Raina kemudian bergidik ngeri sendiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para monyet di hutan begitu mencerna perkataan Miko barusan. Benar-benar tindakan kriminal, bukan? Sehingga tulang kering cowok itu menjadi sasaran Raina.

Dug!

"Aww! Lo apa-apaan sih, Nyet?!" Miko meringis kesakitan memegangi kakinya.

"Makanya kalo ngomong tuh yang bener! Enak aja ngatain gue monyet! Sekali lagi lo panggil gue dengan sebutan itu, gue nggak bakalan segan-segan buat nendang lo! Inget itu!"

Miko menegakkan tubuhnya kembali dan menepuk-nepuk celananya yang terkena sepatu Raina. "Ya elo kan emang monyet? Gue tanya, makanan kesukaan monyet apa? Pisang kan? Kayak yang Lo makan tiap hari."

Raina mendelik. Jadi, Miko baru saja mengatainya makanan monyet? Menyebalkan, bukan? Bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Bagaimana Raina tidak cepat naik darah kalau setiap hari ia bertatap muka dengan Miko yang benar-benar minta dihajar ini. Sungguh, Raina tidak ingin seatap dengannya kalau seperti ini terus. Mungkin, setelah ini ia akan merajuk kepada Ishabella untuk tidak tinggal bersama Om Dharma, walaupun itu hal yang mustahil.

"Lo tuh nyebelin banget sih! Nama bagus-bagus juga, disamain sama monyet! Gila! Dunia emang nggak selebar daun kelor! Sempit banget! Ah! Sumpah! Amit-amit deh gue sodaraan sama lo!" ujar Raina lalu mengetuk-ketuk pelipisnya.

"Lo pikir gua mau sodaraan sama elo? Ogah gila!"

Miko mengalihkan pandangannya kearah lain. Tapi, melihat Raina yang terus saja mengetuk pelipis, membuatnya agak sedikit tersinggung. Ia segera menghentikan pergerakan tangan cewek itu dengan mencekal pergelangan tangannya.

"Heh! Denger ya! Harusnya elo tuh beruntung jadi bagian keluarga cowok ganteng kayak gue, dan yang amit-amit tuh gua! Males banget deh gue punya sodara petakilan kayak elo! Nggak ada bagus-bagusnya!"

Raina langsung menghempaskan tangan Miko yang terlalu kencang memegang tangannya sampai-sampai meninggalkan bekas memerah.

"Apa lo bilang? Gue beruntung? Hell! Lo kali yang beruntung bisa sodaraan sama gue, gue sih ogah punya sodara kayak lo! Amit-amit! Mimpi aja nggak pernah! Idihh! Mending gue sodaraan sama kambing daripada sama lo!"

Rupanya Raina berhasil menyulut emosi Miko, terlihat dari otot-otot wajah tampan itu yang mulai menengang dengan rahang yang sedikit mengeras. Namun, baru saja ingin berucap, suara lain tiba-tiba memotongnya.

"Lo tuh—"

"Tapi mulai sekarang, kalian sudah resmi menjadi saudara, Sayang." ujar Ishabella yang baru saja datang di tengah-tengah perdebatan kecil itu dengan mengapit mesra lengan Dharma.

"Tapi ma—"

"Kita sekarang sudah menjadi satu keluarga. Kamu sebagai Kakak, Miko, harus bisa menjadi contoh yang baik buat adik kamu, Raina. Dan belajar mengalah, jangan bertengkar terus. Kalian ini sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang harus kami bimbing bagaimana cara menjaga sikap yang baik. Papa berharap sekali, setelah ini kalian bisa akur dan saling menyayangi ya?" Dharma menimpali.

Saling menyayangi?! Ulang Miko dan Raina dalam hati. Mereka hanya bertatapan seolah jijik dengan satu sama lain kemudian menjulurkan lidah seolah ingin muntah saat itu juga.

"Tapi om, aku-"

Dharma mengacungkan telunjuknya. "Pa.pa. Mulai sekarang kamu harus belajar memanggil om dengan sebutan Papa." dan Ishabella menyetujuinya dengan anggukan kecil.

"Terserah papa. Tapi satu hal, aku nggak mau kalo harus serumah sama dia!" Miko menunjuk Raina. Cewek itu langsung berkacak pinggang tidak terima. "Lo pikir gue mau serumah sama elo?! Ogah!"

"Gue nggak mau tau pokoknya lo nggak boleh tinggal di rumah gue, titik."

"Siapa juga yang mau tinggal di rumah lo? Lo pikir gue gembel, nggak punya rumah? Gue bisa kok tinggal di rumah gue sendiri!" balas Raina tak kalah sengit.

"Oke, awas aja kalo lo sampe menginjakkan kaki di rumah gue."

"Kenapa, hah? Lo santai aja, sampe lebaran monyet sekalipun gue nggak bakalan pernah nginjek rumah terkutuk lo itu!" Raina menunjuk-nunjuk Miko. "Males gila, nggak sudi gue!"

Miko mendelik mendengar cacian itu. "Apa lo bilang? Rumah terku-"

"Stop! Stop! Stop! Miko, Raina diem semuanya! Mama nggak mau denger ya, kalian bertengkar lagi. Benci itu boleh, tapi jangan berlebihan. Karena, asal kalian tau aja, benci sama cinta itu cuma beda tipis. Setipis benang. Jadi, mama cuma mau ngingetin, jangan kaget kalo suatu saat kebencian kalian itu berubah menjadi cinta." tutur Ishabella.

Glek~

Raina menelan ludahnya sendiri. Kalau saja ayahnya tidak pergi dengan wanita lain, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Terlebih lagi kenyataan bahwa ia dan Miko akan tinggal seatap dengan status saudara. Oh my... Raina bahkan tidak ingat mimpi apa ia semalam.[]

Bab 2

Suara ayam jantan yang berkokok membangunkan Raina dari tidurnya. Sejenak cewek itu terduduk di pinggir kasur dengan rambut panjang yang berantakan dan muka bantal khas orang bangun tidur. Perlu beberapa saat untuk Raina mengamati setiap sudut ruangan itu. Benar-benar berbeda dengan kamarnya. Mulai dari desain interior, warna cat tembok, poster-poster yang terpajang di dinding, motif selimut tebalnya, meja rias, lampu, lantai, dan bahkan sampai karpet-karpetnya sekalipun. Kamar ini didominasi oleh warna krem pastel yang eyecatching dan terlihat lebih luas pula.

"Astaga! Gue lupa! Ini kan di rumahnya si bangke curut itu!"

Plak!

Raina menepuk jidatnya sendiri kemudian mengusap wajahnya gusar dan memukul guling dalam pangkuannya. Rasanya, ia tidak rela jika harus meninggalkan rumah penuh kenangan itu dan memilih untuk tinggal disini. Namun, apa boleh buat, Raina tidak mungkin terus-terusan merengek meminta pulang dan melawan kehendak ibundanya yang selalu memaksa itu kalau pada akhirnya ia tidak akan pernah menang.

Raina menghela napas. "Huh! Sialan! Kalo nggak karena terpaksa, gue juga ogah kali tinggal disini. Nggak kebayang gimana jadinya hidup gue kalo tiap hari gue ngeliat makhluk terkutuk itu. Hhhh ... empet banget! Mana gue sama dia udah resmi jadi sodara lagi. Heran gue kenapa dunia sempit banget ya? Kenapa mesti Miko curut laknat itu coba?! Hih! Eneg banget!"

Secangkir cokelat panas sempat melintas di benak Raina. Cewek itu segera meluncur ke toilet yang ada di dalam ruangan itu untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Kurang lebih 15 menit, Raina lalu berjalan keluar. Dan tepat ketika ia membuka pintu disaat yang bersamaan pintu kamar sebelah juga dibuka oleh seseorang dari dalam.

Kreeekkk~

Kontan, Miko menyembulkan kepala ke arah Raina yang juga melakukan hal yang sama, menolehkan kepalanya ke arahnya. Sepersekian detik keduanya saling melempar tatapan yang sulit diartikan. Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Raina bahkan tidak menyadari kalau kamar mereka bersebelahan. Gadis itu mengerjap. Ia segera memutuskan kontak mata diantaranya dan Miko lalu mendengus. Rasanya muak sekali pagi-pagi sudah melihat wajah songong itu. Raina hanya memutar bola mata dan menarik gagang pintu sampai menutup.

"Hhh ... Si monyet! Jadi nyesel buka pintu kalo tau bakalan kayak gini. Bikin ilang mood aja." Miko bergumam seraya menyender pada kusen pintu dengan tangan terlipat di dada.

Raina berdecak seiring dengan satu tangannya yang bertolak pinggang sementara sebelahnya lagi langsung memukul dinding keras-keras.

Dug!

"Heh! Lo pikir gue sengaja gitu buka pintu bareng sama elo?! Lo pikir mood gue juga nggak ilang pagi-pagi udah liat muka songong lo itu? Hih! Asal lo tau ya, setiap kali gua ngeliat lo tuh, bawaannya gue pengen maraaah teruuuus tau nggak?! Heran gue, lo mau bikin gue cepet tua ya?!"

Sudut bibir Miko terangkat. Ia terkekeh geli. Dan, Raina risih melihat itu.

"Ngapain lo ketawa-ketawa?! Aneh! Jauh-jauh sana mendingan. Kayaknya lo mesti ke periksa kejiwaan lo deh."

Miko tampak mendelik melihat Raina mengibaskan tangannya seolah mengusir. Mungkin ia tidak terima dengan perkataannya barusan. Namun, gadis itu tidak memperdulikan dan malah dengan acuh tak acuh ia langsung melengang pergi menuruni tangga.

"Heh! Harusnya yang jauh-jauh tuh elo tau nggak?! Karena ini rumah gue dan lo cuma numpang, monyet!!"

Persetan. Perkataan Miko yang bisa dikatakan terlalu menusuk itu hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Lapang dada saja, tidak menoleh sedikit pun dan tetap melangkah menuju dapur di rumah itu.

"Bi, bikinin aku cokelat panas dong."

"Eh, Non Raina sudah bangun? Sebentar ya, Non, Bibi bikinin dulu."

"Iya, Bi!"

Terdapat sebuah minibar di sisi dapur, Raina duduk di salah satu kursi berkaki panjang itu. Perintahnya langsung dilaksanakan oleh wanita paruh baya dengan apron melekat di tubuh yang tergopoh-gopoh itu, sejenak meninggalkan aktivitas memasaknya. Mengeluarkan sebuah cangkir dari sebuah kabinet untuk menyeduh 1 sachet coklat bubuk chocolatos dengan air panas lalu diaduknya sebentar dengan sendok. Raina memijat kepalanya dengan sebelah tangan.

"Ini, Non, cokelat panasnya."

"Makasih, Bi."

Raina tersenyum kecil seraya mendekatkan cangkir tersebut kearahnya. Wanita itu hanya mengangguk dan kembali menyibukkan diri dengan kompornya. Sementara Raina mulai menyesap sedikit demi sedikit cokelat panas itu. Membuat rasa hangat terasa di perutnya. Satu hal yang ia sukai dari dulu adalah ketika menghirup aroma uap itu. Raina selalu melakukannya.

"Pagi, Raina."

Tak lama kemudian suara berat terdengar dari belakang, seiring dengan langkah yang mendekat. Seketika, Raina menolehkan kepala ke sumber suara. Ia langsung mencium tangan orang itu dengan menempelkannya di dahi. Ya. Raina tahu bagaimana memberikan kesan yang baik dengan orang lain, yaitu dengan menjadi anak yang sopan. Ini pula salah satu daya tarik yang dimilikinya.

"Selamat pagi, om!"

Kening pria itu berkerut. Ia baru saja ingin mengingatkan tetapi Raina sudah menyahut terlebih dahulu. "Eh! Maksud aku, pagi ... Pah! Hihi maaf om-eh papa maksud aku, belum terbiasa."

Dharma hanya menggeleng kecil. "Kamu kok sendirian aja, Miko mana? Apa anak itu belum bangun jam segini?"

"Oh, udah kok, Pah. Aku liat tadi udah keluar kamar."

"Mana? Kok nggak turun?"

"Mungkin masih di atas."

Pria itu mengangguk. Sejenak pandangannya tertuju pada secangkir cokelat panas yang baru saja diminum Raina. Ia langsung mendaratkan pantat di kursi panjang lain.

"Wah, nikmat sekali. Apa kamu suka cokelat panas?"

Bibir Raina membentuk cengiran kecil seiring dengan tanganya yang terlipat diatas meja. "Suka, pah!"

"Berarti kamu mirip sama Miko. Karena sampe sekarang dia kalau bangun tidur biasanya suka nyeduh cokelat panas dulu dan duduk disini juga, kursi yang sedang kamu duduki ini." Dharma tersenyum kecil melirik kursi yang diduduki Raina. Sementara gadis itu mengerjap tidak percaya.

"Kursi ini? Maksudnya, udah dilabel gitu punyanya si curu-eh maksud aku... Miko?" tanya Raina hati-hati. Sedikit merasa tidak enak juga, ia lalu bersiap ingin turun namun Dharma menahannya.

"Hahahaa ... Nggak papa, Raina. Sering dipakai bukan berarti diklaim 'kan? Siapa saja boleh, kok duduk disitu. Termasuk kamu. Karena kamu 'kan sudah menjadi bagian dalam keluarga ini, juga saudara sama Miko."

Sekali lagi, Raina menampakkan deretan gigi rapihnya, agak canggung. Mungkin besok-besok ia tidak akan duduk di kursi itu lagi.

••••••••••••••••••••

Istirahat makan siang di SMA Persada, keramaian selalu mewakili suasana di setiap lorong koridor yang Miko lewati dengan sebuah buku tebal di tangan. Ya! Tipikal cowok pendiam yang suka berkutat dengan buku. Kalian boleh menyebut dia kutu buku, karena itu memang realita. Tak jarang pula cewek-cewek tukang gossip yang melihatnya lewat langsung terkagum dan dalam sesaat Miko bisa menjadi bahan gossip hangat untuk diperbincangkan oleh mereka. Memang, Miko terlihat cool dengan gayanya yang cuek dengan sekitar itu. Berbeda dengan kebanyakan cowok yang biasanya akan bergerombol atau membuat geng lalu yang paling tajir akan menjadi bosnya, Miko lebih suka berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

Setidaknya, itu salah satu prinsip yang dipegang oleh seorang Krisnanda Jatmiko.

Fokusnya menjadi terbagi antara membaca buku dengan langkah kaki yang entah hendak kemana. Sehingga tepat di undakan paling bawah yang berada di koridor luar yang memanjang itu, tidak sengaja Miko menabrak seseorang dari arah yang berlawanan dengannya sampai jatuh tersungkur ke belakang.

Bruukkksss~

Kontan, Miko mengangkat kepala dari buku non-fiksi-nya. Seketika pandangannya jatuh pada seorang cewek yang tengah terduduk di lantai sambil mengaduh kesakitan den mengusap-usap pantatnya. Semakin sipit saja mata Miko ketika pemuda itu memperhatikan seksama Raina tanpa berniat membantunya berdiri.

"Makanya kalo jalan tuh matanya dipake, Nyet. Nabrak-nabrak sembarangan aja, untung bukan tiang yang lo tabrak."

What the ... hell??

Raina memberengut kesal. Jelas-jelas ini salah Miko, cowok itu yang sudah menabraknya sampai-sampai pantatnya mencium lantai dan ia menjadi bahan lelucon para murid yang berada di sekeliling tempat itu. Kenapa Miko bisa-bisanya memutar-balikkan fakta kalau Raina yang salah? Ah, sepertinya sebentar lagi perang akan dimulai kawan.

"Sialan!"

Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian, cewek itu segera bangkit dari posisinya dan menepuk-nepuk roknya bagian belakang. "Lo apaan sih, segala nyalahin gua lagi! Jalan itu pake kaki, bego! Bukan pake mata! Apalagi sambil baca buku kayak gitu! Lo sengaja ya nabrak gue?!"

Sebelah alis Miko terangkat. Memandang Raina seolah meremehkan. Bahkan, emosinya terlihat lebih stabil dari cewek itu pasalnya Miko hanya berbicara santai. Berbeda dengan Raina yang sudah naik beberapa oktav saja nada suaranya. "Dih! Pede banget? Ngapain juga gue nabrak-nabrak elo? Nggak ada untungnya!"

Raina mendecih. Berkacak pinggang memandang Miko sinis, cowok ini terlalu bertele-tele. "Dasar cowok muna!" desisnya.

"Apa lo bilang?!" Miko maju satu langkah sembari mengangkat dagu tinggi-tinggi sehingga memperlihatkan jelas bagaimana rahang kokohnya yang keras.

Raina hanya mendengus malas melihat itu. "Lo? Co.wok mu.na!"

Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah hidup Miko, ada seorang cewek yang benar-benar berani kepadanya. Bahkan, sampai menunjuk-nunjuk disertai tekanan di pundak, seperti yang dilakukan Raina sekarang ini. Miko hanya menggertakkan gigi dalam mulutnya yang terkatup rapat, seiring dengan sebelah tangannya yang mulai mengepal.

"Lo ...?!"

Miko menggenggam erat telunjuk Raina dengan tangannya yang tidak memegang buku, sampai cewek itu meringis kesakitan. "Lo berani sama gue, hah?! Kalo lo cowok, udah gue tonjok pipi mulus lo itu."

"Kenapa? Asal lo tau ya, gue nggak pernah takut sama cowok kayak lo! Ayo, tonjok gua, kalo emang itu yang lo mau."

Menengadahkan wajahnya, Raina membalas tatapan tajam Miko sembari mencoba melepaskan tanggannya dari cekalan cowok itu. Ia yakin, telunjuknya kini pasti sudah memerah.

Dengan kasar, Miko menghempaskan tangan mungil Raina. Bersamaan dengan itu, seseorang datang menghampiri mereka dan menepuk pundak gadis itu dari belakang.

"Raina! Lo ngapain?"

Sejurus kemudian, Miko dan Raina menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda yang tak kalah tampan dengan Miko berdiri di belakang Raina, dengan headphone tergantung di leher dan mulut yang bergoyang karena mengunyah permen karet. Rambutnya yang diolesi gel terlihat hitam mengkilap.

Dia, Johan Marvino. Seseorang yang memiliki hubungan tidak baik atau bisa dikatakan tak pernah akrab dengan Miko sejak masuk sekolah itu. Raina sendiri tidak tahu menahu dan tidak mau tahu pula. Baginya, Miko adalah satu spesies yang tidak penting. Namun, tak jarang Johan dapat kita temukan tengah bersama dengan Raina.

"Lebih baik, kita pergi dari sini aja, Johan!" komando Raina, sembari melirik Miko melewati ekor mata.

"Yaudah, yuk."

••••••••••••••••••••

"Lo sebenernya kenapa, sih sama Miko? Perasaan, kalian nggak pernah akur, deh."

Pertanyaan Johan yang entah sudah ke berapa kalinya. Raina sendiri bosan mendengar itu. Ia tidak suka masalah pribadinya diketahui ataupun diusik oleh orang lain. Ya! Johan adalah hal baru bagi Raina karena belum lama ini ia merasa dekat dengan pemuda itu dan Raina masih menganggapnya sebagai orang lain. Namun dengan senang hati, Raina tentu mau-mau saja berteman dengan Johan, karena tanpa sepengetahuan cowok Chinese itu, Raina sudah sejak kelas 10 memendam perasaan sukanya dan baru di kelas 11 ini hasratnya terwujudkan.

"Gue emang nggak pernah akur sama Miko, Jo." balas Raina malas, sembari mendudukkan pantatnya di kursi panjang yang berada di salah satu bangku kantin dengan sebuah botol yang tadi diambilnya di counter minuman. Diikuti Johan yang duduk di hadapannya.

"Kenapa kalian bisa nggak akur?" tanya Johan penasaran. "Hmm ... Sejak kapan juga kalian jadi kayak musuhan gitu?"

Raina mengusap bagian belakang tengkuknya, canggung. Ia menghela napas. "Sorry ya sebelumnya, Jo, tapi lo kenapa jadi ngorek-ngorek kehidupan gue gini, sih? Emang penting ya buat lo tau?"

Johan mengerjapkan matanya, merasa heran. Tak lama, ia kemudian terkekeh geli. "Gue juga nggak tau ya, Rai. Tapi, kalo gue penasaran dan pengen deket sama elo, emang nggak boleh?"

"Ha?"

Penasaran? Deket? Ulang Raina dalam hati. Apa ia tidak salah dengar? Seseorang yang Raina sukai ternyata penasaran sama dia? Apa ini sebuah kemajuan? Sungguh, baru kali ini Raina merasakan kalau dirinya diinginkan oleh seorang cowok.

"Kenapa? Ada yang marah, ya? Lo udah punya pacar?" tanya Johan hati-hati.

Raina menahan napas. Kedua tangannya bergerak melambai bergerak ke kanan dan ke kiri cepat. "Nggak, nggak, nggak! Bukannya gitu, tapi gue ... gue nggak ada pacar, kok. Lagian, gue kan jelek gini, petakilan juga Miko bilang. Jadi, siapa juga yang bakalan suka sama gue? Palingan nggak ada."

"Siapa bilang lo jelek?" Johan membuat duduk Raina semakin tidak nyaman, menjadi agak gusar. Entah, tapi yang pasti perut gadis itu terasa mulas sekarang.

"Menurut gue, sih, cuma orang buta aja yang bakal bilang kalo lo itu jelek. Jelas-jelas lo cantik, kok. Manis lagi."

Kontan, pipi Raina bersemu mendengar pujian itu. Johan terlalu to the point memujinya. Apakah ini pertanda kalau pemuda itu juga menyukainya? Ataukah, ini hanya harapan Raina saja?

"Ah, lo bisa aja, Jo." gumam Raina sedikit grogi. Pasalnya, jantungnya tengah berdegup kencang sekarang. Sementara cowok di hadapannya itu hanya senyum-senyum sendiri, yang malah membuat Raina semakin salah tingkah. Namun, cewek itu segera menetralisir dengan meneguk sedikit my tea-nya.

Sejenak, Johan berdehem. "Eh, Rai. Lo ntar malem ada acara nggak?"

"Kenapa emang?" Raina mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Dalam hati, ia sudah bersorak namun juga mencoba untuk tidak ke-pe-de-an kalau Johan-

"Gue mau ajak lo jalan."

Tuh kan!

"Jalan? Lo ngajak gue jalan?" susah payah Raina menyembunyikan senyumnya. Johan hanya mengangguk kecil mengiyakan perkatannya. "Lo nggak salah?"

"Emang salahnya dimana?"

Raina menggaruk kecil pelipisnya. "Yaa .. Lo nggak salah ngajak orang? Masa lo ngajak gue, sih? Gue 'kan anak rumahan, jadi jarang banget hangout."

Lagi, Raina terlihat gugup dan Johan tertawa kecil melihat kepolosan itu. "Justru itu 'kan, biar lo nggak cuma diem doang dirumah mantengin tipi, makanya gue ajak lo jalan. 'Kan sekalian buat refreshing biar nggak terlalu 'mumet' lah sama pelajaran di sekolah."

Apakah ini berarti Johan berniat PDKT? Entahlah, tapi Raina sama sekali tidak keberatan. "Iya juga, sih."

"Jadi, lo .. mau?" tanya Johan. Raina hanya mengangguk kecil.

Tanpa bersuara, pemuda itu tampak ber'yes-yes' kesenangan. "Rumah lo di daerah mana? Biar gue jemput?"

"Apa? Rumah?" ulang Raina. Seketika otaknya langsung berputar bahwa ia tidak lagi tinggal di rumahnya yang lama, tapi rumah Miko. "Rumah gue di .."

Nggak mungkin banget gue bilang kalo gue tinggal seatap sama si curut itu. Batin Raina.

"Gimana kalo, kita ketemu aja? Jadi, lo nggak usah repot-repot deh buat jemput gue." saran cewek itu, membuat Johan berpikir sebentar.

"Gue nggak gentle, dong, Rai kalo kayak gitu?" tanyanya. "Udahlah, santai aja, gue nggak ngerasa direpotin, kok, serius. Lagian 'kan ini gue yang ngajak lo, jadi jemput dan anterin pulang udah jadi kewajiban gue dong?"

"Tapi, Jo-"

"Rai, please, gue pengen tahu dimana rumah lo. Ya..?" rajuk Johan, dengan menyatukan kedua tangan di depan wajahnya dan kerlingan mata. "Please, Rai. Lo jangan canggung-canggung gitu dong sama gue?"

Tidak tahan melihat wajah Johan yang memelas seperti itu, Raina akhirnya pasrah. Ia menarik napas dan menghembuskannya cepat. "Yaudah, deh. Ntar gue send alamatnya."

"Okey, thanks ya."

Bab 3

Satu hal melekat dalam diri seorang seorang Miko dan tak diketahui oleh kebanyakan orang, yaitu kenyataan bahwa ia adalah sosok yang sulit ditebak. Hal ini diperkuat lantaran adanya rasa sedikit tidak rela ketika melihat Raina dan Johan makan bersama di kantin-padahal dari dulu saja Miko tidak pernah akur dengan cewek itu. Bukannya apa-apa tapi mengingat sedikit profile Johan yang kurang bagus-yaitu kebenaran bahwa Johan adalah seorang yang hobi memainkan hati cewek atau sebut saja dia player, Miko jadi khawatir sendiri terhadap Raina. Ia juga tidak tahu kenapa. Namun dalam hati Miko meralat, ia khawatir bukan karena apa-apa tapi bagaimanapun juga Raina adalah saudaranya mulai kemarin.

Jadi, sebenci-bencinya dulu-bahkan sampai sekarang, Miko kepada Raina, benci karena melihat waktu kecil Raina adalah sosok yang pemalu dan pendiam, berbeda dengan Raina sekarang yang lebih berani-sehingga Miko selalu mengejeknya semasa itu sampai-sampai tidak jarang orangtua mereka dipanggil ke sekolah karena keributan yang dibuat dua anak itu. Ya! Katakan ini tidak masuk akal, tapi mengolok-olok dan membuat Raina naik pitam adalah keseruan tersendiri bagi Miko karena hidupnya terasa penuh hiburan.

Setidaknya seperti itu, tapi sekarang, siapa yang tahu kalau cowok itu tengah memikirkan Raina di sela-sela aktivitasnya mengerjakan soal-soal di papan tulis.

"Woy! Mik!"

Seseorang memukul bahu kanan Miko. Kontan membuat cowok itu terkejut dan menoleh ke sumber suara. "Apaan sih, Ndre! Ngagetin aja!" kesalnya.

Andre Bimantara-teman sebangku Miko, itu menghela napas sejenak. "Dipanggil tuh sama Bu Elis, nggak nyaut-nyaut. Ngelamun aja!"

Dan, memang. Seorang guru yang berada di depan kelas itu tengah menatap kearah Miko, disertai gelengkan kepala. Juga, ia menjadi pusat perhatian semua murid di kelas itu sekarang. Lalu, Miko hanya menampakkan deretan gigi rapihnya tanpa dosa. "Ibu manggil saya?"

"Iyalah, pinter! Makanya besok-besok kupingnya tuh dibawa, jangan cuma ditinggal di rumah!"

Disaat sedang hening-heningnya, celetukan oleh seseorang dari arah pojok depan meja guru tersebut seketika membuat tawa murid-murid sekelas meledak. Termasuk Andre. Sementara guru wanita dengan nametag Ellizabeth S.Pd. M.Si. itu hanya menahan tawa.

"Hahhahahaahhahaa!"

Miko memberengut kesal, mengepalkan tangan dan memukulkannya pelan ke meja menatap Raina yang menjulurkan lidah kearahnya dengan wajah songong, menurut cowok itu. "Sialan!"

"Lo bener banget, Na! Hahahhaa! Mungkin Miko lupa bawa kuping, jadi agak-agak nggak konek." Andre menepuk-nepuk pundak Miko, masih dengan tawa kencangnya. "Yang sabar ya, boos!"

"Hahhahahhaahaaa!"

Lagi, tawa satu kelas bertambah keras berkat Andre yang memang jahil dengan sengaja menirukan kata-kata tokoh di kartun 'sopo jarwo' seperti tadi.

"Lo kenapa jadi ikut-ikutan ngetawain gua sih, Ndre!" umpat Miko sembari meninju pelan lengan Andre, lalu mendelik kearah Raina. "Heh kecoa! Mending lo diem aja deh! Lo nggak pernah nyadar apa?! Suara lo tuh cempreng tau nggak! Lebih ancur dari kaleng rombeng!"

Mendengar itu, jelas Raina tidak terima dong? Cewek itu langsung menatap Miko tajam seraya meremas kertas yang berisi coretan menghitungnya diatas meja sampai berbentuk bulat kemudian melemparnya kearah Miko dan tepat mengenai dahi cowok itu.

Puk!

"Rasain tuh! Enak aja ngatain suara gue cempreng! Suara lo kali yang cempreng, kayak banci ngondek. Iuuh!" Raina lagi-lagi melempari Miko dengan buntelan kertas.

Puk!

Puk!

Puk!

"Woy! Apaan sih lo, nyet! Nih rasian pembalasan gue nih!" Miko dengan cepat langsung melempar buntelan-buntelan kertas yang berasal dari Raina itu kearah cewek itu. Sementara Raina masih terus melempari Miko dengan kertas-kertas apa saja yang berada di mejanya sembari mencoba menghindarkan kepalanya dari 'serangan' Miko, begitu pula sebaliknya. Dan ini membuat kelas menjadi riweh, alias rame seperti di pasar.

Selalu saja, ujung-ujungnya pasti seperti ini. Bu Elli sudah hafal sekali dengan tabiat dua muridnya itu. "Sudah-sudah! Semuanya diam! Miko, Raina, kalian berhenti atau keluar dari kelas saya?!"

Braks!

Sontak saja, teriakan Bu Elli yang keras dan menggema di setiap sudut ruangan itu disertai ketukan penghapusnya langsung membuat semua mulut yang semula berkicau kini menjadi terdiam. Raina dan Miko pula, aktivitas keduanya terhenti dengan lemparan buku tulis yang jatuh ke lantai, karena tidak berhasil mengenai Miko, karena cowok itu mampu menghindar.

Bruk!

Buku dengan gambar motor gede pada sampulnya itu tergeletak manis di lantai. Sementara Bu Elli sudah menampakkan wajah garangnya dengan napas yang sedikit tidak teratur. "Miko, Raina, silahkan maju ke depan dan kerjakan semua soal-soalnya!"

Dua anak itu meneguk ludah sendiri, mengingat mereka sama-sana belum mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru itu-barang satu nomor pun belum. Karena Miko dengan kesibukannya melamun soal Raina yang belakangan ini didekati oleh Johan, dan Raina dengan kesibukannya melamun soal Johan yang mengajaknya jalan nanti malam.

"Tapi, Bu, saya belum seles-"

Brukks!

Ucapan Raina terpotong karena Bu Elli langsung memukul meja dengan penghapus, lagi. Membuat 32 jantung yang rata-rata berusia 17 tahun di kelas itu hampir copot dari sarangnya. Untung saja, tidak ada yang memiliki penyakit jantung, kalau tidak guru itu bisa-bisa didepak dari sekolah dan dilaporkan ke polisi atas tuduhan penganiayaan murid.

Raina dengan malas langsung bangkit dari tempat duduknya, dan mengambil buku tulisnya yang jatuh di samping tempat duduk Miko. Namun naas, Raina tiba-tiba terjatuh karena kaki cowok itu yang sengaja menjegalnya.

Bruukkss!

"Aduh!"

Miko terkikik geli di dalam hati, sementara Raina tersungkur di lantai dengan tawa yang ditahan oleh sebagian murid yang melihat kejadian itu.

"Dasar curut sialan!"

••••••••••••••••••••

Pulang sekolah, Raina membanting pintu kamarnya dan melempar tas ke sembarang arah. Moodnya langsung memburuk lantaran dihukum berdiri di depan kelas dengan posisi sebelah kaki diangkat dan tangan yang menjewer telinga sendiri. Lalu Miko? Dengan mudahnya, tanpa sepengetahuan guru, cowok itu diam-diam meminjam buku seorang anak yang pintar di kelasnya dan dengan mudahnya cowok itu menyalin di papan tulis dan menertawakan kebodohan Raina. Tapi, jangan salah, Miko juga bukan cowok pemalas dan tukang nyontek. Karena ia selalu menduduki rangking 1 di kelas, semenjak sekolah dasar pula. Dan baru sekali itu, ia membohongi guru.

"Huh! Ngebetein banget deh." Raina duduk di pinggir kasur dengan malas. Namun, tak lama kemudian ponsel dalam saku roknya berdering. Gadis itu langsung mengambilnya.

hai, raina. lo belum ngasih alamat rumah lo 'kan?

Sebuah pesan dari Johan, Raina menepuk jidatnya sendiri melihat itu. "Kenapa gue bisa kelupaan gini ya?"

sori johan. gue lupa, hihi. lo dateng aja ke jln. pohon mangga no. 27, itu alamat rumah gue.

Tak butuh waktu yang lama, Raina langsung mendapatkan balasan.

oke, sip. ntar gue dateng jam 7 ya.

Dalam hati, Raina bersorak. Moodnya kembali membaik. Membayangkan wajah tampan Johan, ia jadi senyum-senyum sendiri. Tidak sabar menunggu nanti malam.

yup! ntar gue tunggu lo di teras depan, deh. biar nggak salah alamat aja, hihi.

Sebenarnya, Raina hanya berbohong. Karena ia tidak ingin kalau sampai Johan tahu kalau ia tinggal di rumah Miko dan status saudara mereka. Rasa-rasanya, Raina masih terlalu enggan menerima kenyaraan baru itu.

hahhahaa bisa aja lo, rai. dikiranya ayu ting-ting kali salah alamat. oh ya, btw lo lagi apa?

Raina ikut tertawa membaca pesan dari Johan tersebut. Baru kali ini ia merasa dekat dengan seorang cowok. Apalagi cowok itu adalah orang yang ia sukai. Dan saat ini, ia tengah kebingungan ingin membalas apa, karena beberapa kali Raina menghapus balasannya. Sebelum akhirnya ia menjentikkan jari. "Aha! Gue tau!"

lagi kesel gue, johan. lagi bete mampus.

Berbeda dengan Raina yang menghabiskan waktu sekiranya 2 menit lebih untuk mengirim pesan itu, Johan hanya selisih beberapa detik.

bete kenapa? kesel kenapa emang? ada yg ganggu elo ya? siapa emang? bilang ke gue.

Apakah ini sebuah bentuk perhatian? Raina hanya terkekeh melihatnya.

gpp. cuma, tadi gue dihukum sama bu eli gegara gue ga bisa ngerjain soal yg dia kasih.

Memang, Raina teramat malas untuk menyebut nama Miko. Jadilah singkat cerita tersebut.

ohh. kirain siapa. yaudah kalo gitu, sampe ketemu ntar malem ya. gue mau bobo ganteng dulu.

Agak sedikit narsis memang. Tapi Raina hanya terkekeh dan mengakhiri chatting diantara mereka. Pas sekali, suara perutnya langsung berbunyi. Menandakan kalau cacing-cacing tengah berdemo sekarang, meminta jatah makanan. Dan, tanpa basa-basi lagi Raina segera meluncur keluar. Masih dengan senyum-senyum sendirinya.

Suara genjrengan gitar samar-samar terdengar dari ruangan sebelah, ketika Raina menutup pintu.

"Eh eh eh! Mau kemana lo?"

Langkah gadis itu kontan terhenti. Kepalanya tertoleh ke sumber suara, diikuti dengan alisnya yang mengkerut. "Kenapa?"

"Lo mau kemana?" Miko menaikkan dagunya.

Raina memutar bola mata malas. "Emang gue mesti laporan sama elo, setiap gue mau kemana?"

Sejenak, helaan napas keluar dari mulut Miko. Cowok itu lalu bangkit dari duduknya seraya meletakkan gitar di atas kasur. "Bikinin gua mi goreng."

"Apa?! Gue nggak salah denger? Eh, gue bukan pembokat lo ya! Enak aja nyuruh-nyuruh!" Raina berkacak pinggang tidak terima saat Miko berjalan keluar dengan ekspresi datarnya.

"Bodo amat. Gue nggak mau tau, pokoknya lo mesti bikinin gue mi goreng. Langsung anterin aja ke halaman depan."

Setelah berkata itu, Miko berlalu dari hadapan Raina. Meninggalkan gadis itu yang masih berdiri di tempatnya dengan mulut yang sedikit menganga.

"Woy! Dasar cwok sinting ya lo! Bodo juga! Ogah gila! Masak aja sana sendiri! Lo pikir gue babu lo apa?!"

Miko sempat berhenti sebelum turun ke bawah dan menoleh sebentar. "Kalo lo nggak ngelakuin apa yang gue suruh, gue bakalan bilang sama nyokap kalo lo mau jalan sama Johan. Gue pastiin lo nggak bakalan dikasih ijin keluar."

Ya! Itu sudah pasti. Mengingat Ishabella yang notabene sedikit protektif, dan Raina yang paling tidak bisa berbohong kepadanya. Barang sekecil apapun itu. Wanita paruh baya itu pasti tahu. Karena beliau membatasi pergaulan Raina sejak dirinya dicampakkan oleh suaminya-ayah kandung Raina.

"Apa?! Heh lo tau darimana kal-"

"Gua tunggu 5 menit lagi, mi goreng udah harus ada di depan mata gue."

Dan, dengan santainya Miko menuruni tangga sementara Raina dengan mata melototnya, tangan terkepal, dan tanda tanya di kepala. "Apa-apaan sih tuh orang! Seenak udelnya aja dia maen nyuru-nyuruh gue mentang-mentang di rumahnya sendiri!"

••••••••••••••••••••

Selang beberapa menit kemudian. Nampak di sisi barat halaman depan rumah Miko yang luas dan ditumbuhi berbagai pohon sehingga membuat area itu teduh, terdapat sebuah rumah pohon bercat putih. Beberapa anak tangga menjadi akses jalan untuk ke atas. Dan, Raina dengan wajah masamnya yang ditekuk, berjalan naik dengan membawa dua buah piring berisi mi goreng. Miko yang awalnya duduk di pagar pembatas itu kini langsung meloncat turun tepat saat Raina sampai di anak tangga paling atas.

"Nih."

Raina memberikan piring di tangan kanannya, dengan ogah-ogahan. Miko menatap sebentar cewek yang berdiri 50 cm di hadapannya. Dalam hati ia terkikik geli, rasanya seru juga mengerjai Raina. Tak lama, pemuda itu segera menerima piring itu.

"Eh lo tau nggak, kalo lo tuh udah telat 10 menit?"

Kening Raina berkerut mendengar itu. "Heh! Lo tuh bener-bener ngajak ribut ya? Masih untung gue baik hati mau bikinin dan anterin kesini, lo jadi orang emang nggak tau terimaksih banget ya? Dikasih hati malah mintanya jantung. Kalo nggak mau, yaudah!"

Belum ada 1 menit, piring oval tersebut telah berpindah tangan lagi. Miko berdecak melihat Raina berbalik badan dan siap turun. "Lo nggak tau orang laper ya? Barang yang udah dikasih itu nggak boleh diminta lagi tau, pamali."

Langkah Raina turun terhenti. Miko telah merebut kembali piring dari genggaman tangannya dan duduk di anak tangga yang sama. "Jadi cewek tuh jangan jutek-jutek, kalem dikit napa. Kayak malaikat pencabut nyawa aja."

Pletak!

"Aduh!"

Sebuah jitakan oleh Raina mendarat di kepala Miko. Disusul tempelengan. "Makanya, kalo punya mulut tuh dijaga. Enak aja nyama-nyamain gue sama malaikat pencabut nyawa. Lo kali yang kayak penjaga pintu neraka!"

Sebelah alis Miko terangkat, ia mendongak memperhatikan Raina yang memanyunkan bibirnya acuh tak acuh. "Eh lo yang bener aja, mana ada penjaga neraka seganteng gue?"

Raina mendecih kemudian turun dua anak tangga dan berbalik menatap Miko. "Ya anggep aja ada. Gitu doang ribet."

"Ya ampun." Miko geleng-geleng kepala sendiri. "Gue heran deh, kok Johan mau-mau aja ya deketin cewek jutek nan sadis kayak lo gini? Apa bagusnya elo dimata dia? Gue aja disini males banget."

Sudut bibir Raina terangkat tidak percaya. Cowok di depannya itu benar-benar meremehkannya. Apalagi saat pandangannya menelusuri cewek itu dari atas kemudian turun ke bawah dan naik lagi. Membuat Raina bergidik sendiri.

"Emang sih, lo udah nggak se-item dan seburuk rupa waktu kecil dulu. Tapi, lo ngaca deh. Badan lo aja kecil, kerempeng, dan nggak ada seksi-seksinya gini. Mungkin kalo ada angin kenceng, lo bisa ikut terbang kali ya?"

Hampir saja, bola mata Raina ingin keluar dari tempatnya mendengar hinaan itu. Miko memang paling bisa membuatnya naik darah, terlihat dari napas Raina yang naik turun. "Heh! Lo ngatain gue kayak gitu, lo pikir badan lo bagus?!"

"Oh jelas dong, gue fitnes. Lo nggak liat nih, otot gue?" Miko mengidikkan bahu, lalu mengangkat ujung kaosnya. "Nggak kayak lo, tulang doang."

"Badan kayak triplek gitu aja bangga!" gerutu Raina. "Heh! Asal lo tau ya, gini-gini gue pernah belajar beladiri. Kalo cuma nonjok mulut lo yang nggak nggak disaring dulu kalo ngomong itu doang mah, kecil."

Miko terkekeh geli, sembari meletakkan piring berisi mi goreng yang mungkin saja sudah dingin itu. "Oh jadi lo nggak terima sama kata-kata gue?"

Hal yang sama dilakukan Raina, meletakkan piring di anak tangga sampingnya. "Iya, gue nggak terima. Kenapa? Lo mau ngajak gue berantem?"

Kaki panjang Miko melangkah turun dengan pandangannya yang tak lepas dari cewek itu. Sementara Raina hanya acuh tak acuh dan melipat tangan di bawah dada. Sampainya di anak tangga yang sama dengan Raina, Miko memegang erat pegangan di belakangnya, di kedua sisi cewek itu. Seolah mengepung.

Susah payah, Raina meneguk ludahnya sendiri ketika cowok di hadapannya itu mulai mendekatkan wajahnya dengan tatapan mata elang yang tajam, dan sulit diartikan. "Mau lo apa sih, Na?"

Kening Raina berkerut. Jarang-jarang Miko mau menyebut namanya seperti itu. "Lo nanya mau gue? Bukannya kebalik ya? Harusnya, gue kali yang nanya sama lo, mau lo tuh apa? Kenapa lo suka nyari gara-gara sama gue?"

Tampak Miko tertawa kecil. Seiring dengan tangannya yang berlalu dari samping Raina, kemudian turun ke bawah lagi sampai menginjak rumput. Diikuti cewek itu, yang langsung membalikkan badan Miko.

Raina berkacak pinggang. "Heh curut! Ngapain lo ketawa-ketawa? Ada yang lucu?"

"Ada." Miko menaikkan kedua alis. Sementara Raina langsung memutar otak.

"Dih! Apaan coba? Aneh banget, lo masih sehat 'kan? Jangan bilang lo kena gangguan kejiwaan? Mampus! Gue mesti bilang apa ntar sama bokap lo kalo udah balik?" gumam gadis itu.

Pletak!

"Aww!"

Miko menyentil dahi Raina lalu mengarahkan telunjuknya. "Lo ngedoain gue gila, hah? Adek tiri nggak bener emang lo."

"Emang elo udah jadi kakak tiri yang bener, hah?" Raina menepis telunjuk Miko dari wajahnya. "Lagian suruh siapa ketawa-ketawa sendiri kayak orang sedeng."

"Lo pengen tau apa yang lucu dimata gue sampe-sampe lo ngatain gue gila?" Miko menghela napas dan maju selangkah sementara Raina memundurkan wajahnya. "Emang apaan?" desisnya.

"Ya itu, elo.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED