Bab 1

Kamar diselimuti kegelapan.

Di atas ranjang hotel, di tengah-tengah hasrat yang membara, sang pria menuruti gairah yang ditawarkan wanita di bawah tubuhnya. Dia menerjangnya tanpa henti, tidak memedulikan apakah ini yang pertama atau tidak bagi wanita itu.

Viona Firmansyah, yang kewalahan oleh intensitas keintiman itu, akhirnya pingsan.

Dia terbangun karena jengkel mendengar dering ponsel yang terus berbunyi. Buru-buru mematikannya, Viona melihat sekilas ke jam yang tertera di layar dan menyadari sekarang sudah pukul sepuluh pagi!

Dia akan bertunangan hari ini!

Tunangannya telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri dan berulang kali mengkhianati kepercayaannya. Pria itu bahkan berani meneleponnya semalam, dan memperlihatkan padanya tontonan langsung perselingkuhan mereka.

Diliputi amarah besar, Viona pun pergi ke sebuah bar, mencari hiburan cinta satu malam dengan seorang pria tampan yang tak dikenalnya di sana.

Saat dia mencoba bangkit, gelombang rasa sakit langsung menerpa dirinya. Aktivitas semalam membuatnya merasa pergerakan sekecil apa pun seolah-olah bisa membuat tulang-tulangnya remuk.

Dia harus bergegas ke tempat pertunangannya akan berlangsung, kalau tidak, dia akan menghadapi amukan Keluarga Firmansyah!

Begitu dia berhasil berpakaian dengan terburu-buru, ketika Viona sudah akan pergi, pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram. Berbalik, dia menatap tajam ke arah pria di ranjang, yang kini sudah bangun.

"Kamu mau pergi begitu saja?" Suaranya rendah dan serak, bergema dalam ruangan yang remang-remang.

Tatapannya tajam bagaikan elang, sangat mirip dengan tunangannya!

Viona menyeringai, mengabaikan pertanyaannya saat dia mengambil dompet. Dia mengambil segenggam uang kertas dan meninggalkannya di nakas.

"Pelayananmu semalam hebat, Tampan. Tapi sayang sekali, aku sedang terburu-buru untuk hadir ke pertunanganku. Jangan khawatir, aku akan memesanmu lagi lain kali!"

Merasa tersinggung, Daniel Baskara menyeringai dengan dingin.

Dengan satu panggilan telepon, sekretarisnya, Hendri Harisman, segera muncul membawakan pakaiannya.

Setelah mandi cepat, Daniel mengenakan jas, yang langsung memancarkan aura bermartabat dan angkuh. Tatapannya tetap dingin tanpa kehangatan sedikit pun.

Sebelum keluar, dia mengambil tumpukan uang kertas itu dan memasukkannya ke dalam dompet.

"Tuan, pesta pertunangan keponakan Anda akan segera dimulai. Apakah Anda ingin pergi ke sana?" tanya Hendri.

"Ya."

"Tuan Muda Govin menyatakan ketidaksenangannya atas ketidakhadiran Anda tadi malam."

Daniel tetap diam, tenggelam dalam pikirannya.

Baru saja tiba di Fedo, Daniel sudah dipaksa untuk berpesta sepanjang malam oleh kenalan-kenalan lamanya. Karena pesta itulah, dia tidak sengaja terlibat dengan seorang wanita mabuk hingga mereka memiliki kegiatan yang liar semalam.

Meskipun biasanya menahan diri, Daniel entah kenapa mendapati dirinya tertarik pada wanita itu. Dia merasa ada semacam sensasi yang tak bisa diabaikannya begitu saja walaupun faktanya sang wanita memiliki paras yang biasa saja.

Ada daya tarik yang tidak dapat dijelaskan pada dirinya, aroma yang menenangkan jiwanya yang gelisah. Bahkan hingga kini, semua sensasi wanita itu masih melekat di benaknya.

Bagi Daniel yang menderita insomnia, ini adalah kejadian yang langka.

Sementara itu, Viona menghentikan sebuah taksi yang lewat dan memberikan alamat hotel pada sopir.

Ketika tiba di tempat acara sekitar pukul sebelas, aula perjamuan sudah ramai dengan aktivitas.

Saat memasuki ruang rias, Viona dicegat oleh ayahnya, Ridwan Firmansyah yang sudah mengangkat satu tangan untuk menamparnya.

Dengan cepat, Viona menangkap tangan ayahnya dan menatap tajam ke arahnya dengan tekad baja. "Pertunanganku sudah di depan mata. Apa wajah yang bengkak akan terlihat bagus dengan riasan?"

Ridwan, yang usahanya digagalkan, meledak dalam omelan. "Kenapa kamu tidak menjawab teleponku? Berani sekali kamu! Jika pertunangan tidak berjalan dengan lancar hari ini, aku tidak akan mengampunimu!"

Kekuasaan paling tangguh di Fedo adalah Keluarga Baskara, terutama Daniel yang merupakan sosok berpengaruh besar di Tala.

Kalau bukan karena hubungan baik antara kedua keluarga, Viona tidak akan punya kesempatan untuk bertunangan dengan seseorang dari Keluarga Baskara!

Pesta pertunangan ini dianggap begitu penting karena ada rumor yang beredar bahwa Daniel akan hadir. Kedua keluarga telah membuat persiapan yang begitu sempurna, tetapi saat waktunya tiba, tak satu pun calon pengantin muncul.

Sambil menatap Ridwan dengan dingin, Viona bertanya, "Apa Erik sudah datang?"

Erik Baskara adalah tunangannya.

Ridwan ragu sejenak. Erik tidak ditemukan di mana pun, dan Keluarga Baskara telah menjelajahi seluruh kota untuk mencarinya. Ponselnya yang dimatikan juga makin menekankan bahwa dia sedang berusaha untuk melarikan diri dari pertunangan ini.

Bibir Viona melengkung membentuk seringai. "Erik tidak datang. Jadi aku diharapkan untuk bertunangan seorang diri?"

Wajah Ridwan menjadi suram. "Keluarga Baskara sedang mencarinya. Cepat ganti pakaianmu dan rias wajahmu!"

Kemudian, penata rias mencoba mendekati Viona, sudah siap untuk memulai pekerjaannya. Akan tetapi, Viona yang tidak ingin rahasianya terungkap, melambaikan tangan menolak. "Aku akan merias wajahku sendiri."

Ibunya selalu memperingatkannya bahwa kecantikan yang terlalu berlebihan justru akan membawa nasib buruk pada pemiliknya. Itu sebabnya, Viona menjadi mahir menyembunyikan daya tarik sebenarnya di balik lapisan riasan.

Jika penata rias menyentuh wajahnya, rahasianya pasti akan terungkap.

Tiba-tiba, suara ribut terdengar di pintu. "Daniel di sini!"

Mendengar nama itu, Ridwan buru-buru mendorong Viona untuk keluar. "Daniel Baskara sudah datang. Jangan sampai kamu membuat malu!"

Tentu saja, Viona sangat mengenal nama itu. Daniel Baskara adalah anak di luar nikah yang pernah diasingkan oleh Keluarga Baskara.

Namun sekarang, dia bangkit dari abu dan menjadi sosok tangguh, yang bahkan tidak mampu diabaikan oleh Keluarga Baskara di Fedo!

Bab 2

Viona mengikuti di belakang Ridwan, matanya menangkap ke sekelompok orang yang berkumpul di sekitar seorang pria.

Dengan tinggi 190 sentimeter, Daniel tampak sangat menonjol di antara orang banyak, wajah tampannya menunjukkan sedikit kesan dingin dan tidak sabar.

Viona tidak bergabung dengan kerumunan itu, dan berdiri diam di tempat sambil mengamatinya dari kejauhan.

Bagaimana mungkin dia bisa melupakan kejadian tadi malam, sementara kedekatan mereka masih segar dalam ingatannya?

Penampilan Daniel semalam sangatlah berbeda, dia tampak berkilauan oleh keringat yang membasahi wajah, tulang selangka, dada, dan perutnya. Sekarang, dia mengenakan setelan jas, rambutnya ditata dengan cermat, memancarkan aura dingin dan pendiam, seperti seorang raja yang tak dapat dicapai.

Gelang manik-manik obsidian yang menghiasi pergelangan tangannya menambah kesan acuh tak acuh pada sikapnya.

Meski begitu, dia tidak terkejut melihat Daniel lagi. Bagaimanapun juga, itu semua sudah direncanakannya.

Daniel berbalik, dan langsung mengerutkan kening ketika menatapnya.

Saat pandangan mereka bertemu sesaat, Viona merasakan getaran menjalar di tulang punggungnya. Tatapan pria itu seolah-olah menembus jiwanya.

Karena tidak mampu menahan intensitas tatapannya, Viona diam-diam menyelinap ke kerumunan, berharap untuk luput dari perhatian.

"Daniel, lama tidak bertemu. Kami harap kamu akan tinggal di Fedo lebih lama kali ini," sapa Wildan Baskara, kepala Keluarga Baskara sekaligus ayah tunangan Viona, dengan penuh rasa hormat.

"Hmm," jawab Daniel dengan dingin sebelum diantar ke sebuah meja, dan disambut penuh antusias oleh Keluarga Firmansyah, dengan Richard yang mengikutinya.

"Jadi, kapan pertunangannya dimulai?" tanya Daniel sambil melirik arlojinya.

Jam tangan itu setara dengan dua rumah yang berlokasi di jantung kota Fedo.

Wildan menyeka butiran keringat dari kening. "Sayangnya, kita mungkin harus menunggu sebentar lagi."

"Apa lagi yang yang harus ditunggu?"

Perkataan Daniel langsung mengenai sasaran, seperti palu yang menghantam Wildan.

Anak buah Wildan masih belum menemukan Erik. Saat tengah hari makin dekat, ketegangan meningkat karena Erik masih belum menunjukkan batang hidungnya.

"Kami menunggu Erik." Suara jernih seorang wanita memecah kesunyian. "Sepertinya dia tidak tertarik untuk bertunangan denganku, dan berusaha kabur."

Tatapan Daniel beralih ke Viona di tengah kerumunan.

Meski wajahnya biasa-biasa saja, kehadirannya tidak dapat diabaikan begitu saja ketika dia berbicara.

Pertunangan yang sudah diatur sejak masa kanak-kanak ini, telah ditetapkan oleh Daniel sendiri.

Itu sebabnya, pembatalan pertunangan oleh Erik bagaikan tamparan di wajah Daniel.

Wildan bergegas menjelaskan. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Daniel. Erik hanya perlu menyelesaikan beberapa masalah mendesak. Dia akan segera tiba bahkan sebelum kamu menyadarinya."

Viona menyaksikan dengan ekspresi dingin. "Tampaknya pencarian kalian masih belum mendapatkan hasil. Haruskah aku memberikan kalian alamat keberadaannya?"

Dia lalu memberi alamat sebuah apartemen, di mana sahabatnya tinggal.

Dengan sedikit rasa malu, Wildan pun mengutus seseorang untuk menjemput Erik. Tak lama kemudian, Erik, dengan penampilan yang jelas menunjukkan dia sedang memuaskan nafsu duniawinya, muncul di hadapan semua orang.

"Dasar kurang ajar! Cepat ganti pakaianmu. Pertunanganmu seharusnya sudah berlangsung sekarang!" Wildan memarahi putranya.

"Ayah, sudah kubilang aku tidak bisa bertunangan dengan Viona. Dia jelek. Memikirkannya saja sudah membuatku jijik. Jika teman-temanku sampai tahu aku bertunangan dengan wanita mengerikan seperti itu, mereka pasti akan mengejekku terus-menerus. Bagaimana aku bisa menunjukkan wajahku di hadapan mereka?"

Tatapan Erik ke arah Viona dipenuhi dengan penghinaan. Dia menyalahkannya atas masalah yang dialaminya.

"Suka atau tidak suka, pertunangan akan tetap dilaksanakan hari ini!" Wildan memberi perintah sebelum berbalik ke arah para staf. "Bawa dia untuk mengganti pakaiannya!"

Protes Erik tidak dapat menggoyahkan tekad ayahnya.

Dengan datangnya sang tunangan, Viona juga didorong untuk mempersiapkan diri. Di ruang ganti, dia kesulitan membuka ritsleting gaunnya karena ritsleting itu begitu keras, seakan-akan menolak untuk bekerja sama.

Tepat pada saat ini, pintu berderit hingga terbuka. Karena tidak melihat siapa yang baru saja masuk, Viona mencondongkan tubuh ke depan, memperlihatkan lehernya saat dia mencoba berbicara pada sang pengunjung.

"Bisakah kamu membantuku menariknya?" pintanya.

Sebuah tangan besar terulur, dengan cekatan menggerakkan ritsleting yang tersangkut itu ke atas.

"Terima kasih," ucap Viona sambil berbalik untuk mengungkapkan rasa terima kasih, tetapi kemudian membeku ketika melihat wajah tampan di hadapannya, dan kepanikan langsung mencengkeram hatinya.

Bukankah seharusnya pria ini berada di luar, menikmati pujian dan upaya menjilat dari orang-orang? Kenapa dia justru menyelinap ke sini?

"Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" tuntut Viona.

"Menurutmu bagaimana?" jawab Daniel.

Saat dia maju, kehadirannya membuat Viona kesulitan untuk bernapas.

"Berani sekali kamu menjebakku seperti ini!" tuduh Daniel sambil mengulurkan tangan dan mencekik lehernya.

Viona memiliki leher yang ramping. Saking rampingnya, nyawanya mungkin akan berada dalam bahaya jika Daniel menekannya sedikit lebih keras lagi.

Tadi malam, Daniel tidak menunjukkan belas kasihan, meninggalkan bekas ciuman di leher Viona, yang sekarang sudah tersembunyi di bawah lapisan riasan.

"Om Daniel, kamu pasti bercanda, kan? Aku bahkan baru tahu bahwa kamu adalah om Erik," jawab Viona, tatapannya kembali tenang saat menatap pria di hadapannya.

Tidak ada yang menarik dari wajah Viona, tetapi matanya berbinar-binar penuh kehidupan.

"Siapa pun yang mencoba menipuku tidak akan pernah selamat!" Cengkeraman Daniel padanya makin erat.

Viona merasakan udara memadat di paru-parunya. Pria ini benar-benar kejam seperti rumor yang beredar!

Meski kejadian semalam merupakan bagian dari rencananya yang disusun dengan cermat, Viona tidak akan mengakuinya sekarang. "Erik bisa berkeliaran sesukanya. Lalu kenapa aku harus berdiam diri saja? Dia tertangkap basah tidur dengan wanita lain hari ini, dan siapa yang tahu sudah berapa kali dia berbuat hal yang sama sebelumnya?"

Nada suaranya mengandung sedikit kebencian, cukup untuk membuat Daniel sedikit melonggarkan cengkeramannya.

Bukanlah rahasia bahwa Erik suka bermain-main dengan wanita. Bagaimana mungkin seorang buaya darat seperti dia bisa menjalani kehidupan seorang petapa? Daniel juga tahu bahwa semalam adalah pertama kalinya bagi Viona.

"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan. Pertunanganmu dengan Erik tidak mungkin dibatalkan!" ucap Daniel dengan dingin.

Viona berkedip, senyum mengejek mengembang di bibirnya. "Om Daniel, kamu sepenuhnya tahu bahwa pertunangan ini tetap akan berlanjut. Jadi kenapa kamu harus diam-diam menyelinap ke sini untuk menemuiku? Apa kamu tidak takut orang-orang akan mengetahuinya?"

Secara teknis, Viona dan Daniel seharusnya tidak saling kenal. Akan tetapi, melihat mereka berduaan di sebuah ruangan sebelum pesta pertunangan pasti akan membuat siapa pun berpikir macam-macam.

Menghindari tatapan Viona, Daniel mengeluarkan peringatan dingin. "Kusarankan kamu memperhatikan perkataanmu. Jika tidak ...."

Dia membiarkan kalimatnya menggantung, tetapi ancamannya terasa berat di udara.

"Ini adalah pertemuan pertama kita, Om Daniel. Jadi aku tidak begitu mengerti maksudmu." Viona mengangkat kepala, mengisyaratkan dia tidak akan memberi tahu siapa pun tentang hubungan Daniel dan dirinya.

Daniel mendengus. "Baguslah kalau kamu paham."

Melepaskan cengkeraman di leher Viona, Daniel langsung menuju ke pintu ruang ganti.

Akan tetapi, sebelum tangannya bisa memegang gagang pintu, suara seorang wanita terdengar dari luar. "Viona, apa kamu di dalam? Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu. Aku masuk, ya."

Viona tidak merespons, tetapi wanita di luar pintu tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi.

Jika dia menerobos masuk sekarang, dia akan mendapati Viona dan Daniel berduaan di ruangan ini.

Bab 3

Viona bisa merasakan ketidaksenangan Daniel. Namun, Daniel sendiri yang berinisiatif untuk datang ke sini. Pria itu tidak bisa menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri, bukan?

Merasakan kegelisahan Daniel, Viona menyarankan, "Bagaimana kalau kamu bersembunyi dulu sebentar?"

Akan tetapi, usulan itu tampaknya membuat wajah Daniel berkerut tidak nyaman. "Bersembunyi? Aku?"

Kenapa dia harus melakukan itu? Memangnya dia seorang pezina yang bersalah?

Dia dan Viona hanya mengobrol sebentar, jadi kenapa dia harus bersembunyi?

"Yah, terserahlah. Kamu bisa melangkah keluar dengan gagah berani! Lagi pula, aku tidak akan rugi apa pun. Mungkin jika kamu dituduh terlibat sesuatu denganku, aku bisa membatalkan pertunangan ini!" balas Viona.

"Viona, kamu bicara dengan siapa?" tanya wanita dari luar sambil mendorong pintu.

Alhasil, Daniel dengan sangat enggan menyelinap ke balik tirai.

Viona membuka pintu, tidak ingin membiarkan wanita itu masuk.

Tak lain dan tak bukan, wanita itu adalah Sherly Lintang, sahabat dan orang yang paling dipercayai Viona sejak lama sekaligus kekasih Erik saat ini.

Sherly adalah sosok yang cantik jelita dan lemah lembut, matanya sangat mengundang simpati.

Gaun yang dikenakannya adalah atasan bertali tipis, memperlihatkan bekas-bekas yang ditinggalkan Erik di kulitnya.

"Viona, kamu tampak memukau hari ini," puji Sherly. Tatapannya memperlihatkan kilatan iri saat menatap gaun Viona.

Viona memandangnya dengan tatapan mengejek. "Apa yang kamu inginkan?"

"Viona, kamu tahu ceritaku. Keluargaku miskin. Ibuku meninggalkanku, dan ayahku seorang penjudi. Hanya Erik yang kumiliki. Kumohon, jangan bertunangan dengannya. Tolong kembalikan dia padaku. Aku sangat mencintainya," pinta Sherly, air mata berkilauan di matanya.

Tatapan Viona berubah dingin. "Ini pertama kalinya aku bertemu perebut laki orang yang begitu tidak tahu malu!"

"Viona, kamu sudah memiliki segalanya sejak awal. Tentu saja kamu tidak mengerti penderitaanku. Kenapa kamu harus mengambil Erik dariku juga?" Sherly melanjutkan sambil berlutut di hadapan Viona.

"Tolong, aku benar-benar memohon padamu ...." Permohonan Sherly menjadi makin putus asa.

Sebelum Viona bisa bereaksi, Erik tiba-tiba datang dan menarik Sherly agar berdiri.

"Apa yang kamu lakukan, Sherly?" Suara Erik bergetar karena sakit hati saat melihat Sherly begitu putus asa.

"Viona, kenapa kamu menyeret Sherly ke dalam masalah kita? Dia ini rapuh, tapi kamu masih memaksanya sampai berlutut seperti ini. Bagaimana kamu bisa begitu kejam?" tuduh Erik.

"Erik, asal kamu tahu, dia datang ke sini atas kemauannya sendiri, dan berlutut dengan sukarela. Aku bahkan hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun!" Viona membela diri.

Melihat percakapan ini, Sherly mencengkeram lengan Erik. "Erik, jangan salahkan Viona. Ini salahku. Aku hanya terlalu mencintaimu. Hatiku tidak sanggup untuk melihatmu bersama orang lain."

Viona merasakan gelombang rasa jijik menyaksikan melodrama di hadapannya ini. Sebelum dia bisa menutup pintu, kata-kata Erik menembus udara. "Viona, bahkan jika aku menikahimu, aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun. Lupakan saja pertunangan ini!"

Dia bahkan tidak tahan melihatnya!

Viona bersusah payah menahan diri untuk tidak tertawa. "Sayang sekali kalian tidak berkarier sebagai pelawak, tapi mari kita perjelas. Bukan aku, tapi Keluarga Baskara-lah yang menentang hubungan kalian berdua."

"Sungguh menjijikkan!" Viona mengucapkan dua kata itu sebelum membanting pintu hingga tertutup.

Daniel muncul dari balik tirai setelah mendengar seluruh kekacauan itu.

Tanpa terpengaruh, Viona berkata, "Yah, seperti yang kamu dengar. Bahkan jika aku tidur dengan seratus pria, aku tidak akan merasa bersalah sedikit pun terhadap keponakanmu!"

Untuk sesaat, Daniel tidak tahu harus berkata apa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED