Bab 2

Senja mulai menyusun buku-buku latihan anak didiknya. Sudah enam bulan Senja menjadi tenaga pendidik di salah satu sekolah internasional favorit di kota ini. Setelah meninggalkan rumah mantan suaminya malam itu juga, Senja pun segera mencari Dayu sahabat oroknya, untuk menumpang tinggal sementara di rumahnya.

Dayu ini adalah segala tokoh idaman wanita masa kini. Cantik, kaya dan punya keluarga yang begitu harmonis. Saingan keluarga cemara kalau menurut istilah Senja. Dan kebetulan sekali, salah satu kerabat jauhnya menawarkan posisi sebagai tenaga pengajar di sekolah bonafid nya kepada Senja, yang tentu saja diterima olehnya dengan penuh suka cita. Seperti  mendapat durian runtuh! Itulah pepatah yang tepat untuk tawaran pekerjaan yang diterimanya.

Seolah semesta kembali mendukungnya, Senja pun mendapatkan tempat kost yang begitu stategis lokasinya dengan harga yang sesuai dengan kantongnya pula.

Setiap hari minggu dan hari libur nasional, Senja menjadi salah satu mekanik mesin handal di bengkel elit milik Pak Wijayakusuma ayah Dayu. Masalah bongkar membongkar motor atau mobil sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Senja kecil sampai sekarang. Dia terlalu mencintai dunia otomotif seperti alharhumah ibunya, dan mungkin juga ayahnya dimanapun dia berada.

Senja juga sangat suka melukis yang dia bahkan tidak tahu itu keturunan dari siapa. Mengingat ibunya yang bahkan cuma menggambar seekor burung saja lebih menyerupai seekor ayam jago pada akhir lukisannya.

Sifat ibunya yang begitu easy going membuat Senja kecil tetap berbahagia walau cuma hidup berdua saja dengan ibunya, tanpa pernah tahu siapa ayahnya dan keluarganya yang lain. Menurut ibunya, bahagia atau sedih itu hanyalah permainan perasaan belaka, itu semua kita yang mengontrolnya. Seperti setelah hujan akan muncul indahnya pelangi, yakinlah disetiap kesedihan akan ada kebahagian. Ibarat yin dan yang, kekuatan yang saling berlawanan namun saling melengkapi menjadi satu kesatuan.

Ibunya diperkosa pada usia tujuh belas tahun saat pulang dari kegiatan ektra kulikuler disekolahnya. Karena hari mulai gelap, ibunya memotong jalan dari arah gudang lama yang sudah tidak dipakai oleh pemiliknya. Dan disana jugalah dia diperkosa oleh seorang remaja berseragam SMA yang sepertinya sedang mabuk, dan kemudian ibunya ditinggalkan begitu saja digudang tua itu dalam keadaan pingsan. Tidak ada petunjuk apapun mengenai jati diri remaja itu kecuali sebuah kalung berukiran unik yang sempat ditarik oleh ibunya dari leher remaja itu saat dia menggagahi ibunya.

"Bu Senja koq tidak bersiap-siap buat menyambut kedatangan anak pemilik sekolah? Guru-guru yang lain malah sampai pada dandan kesalon pagi-pagi, eh ini Bu Senja malah sibuk memeriksa tugas anak-anak."

Bu Zahra, guru bidang studi bahasa indonesia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kecuekan Senja.

"Nah justru itu Bu Zahra, yang menyambutkan sudah cukup banyak, jadi Saya disini jaga gawang saja sambil mengoreksi tugas anak-anak, Bu."

"Nggak nyesel nih Bu Senja tidak ikutan? Pak Sabda itu wajahnya gantengable dan bodynya itu lho keker banget, pelukable deh pokoknya."

Promosi Bu Zahra. Senja cuma tersenyum saja mendengarnya. Dia malah sebenarnya menjauhi laki-laki yang wajahnya adonis, karena pasti bakal makan hati plus berdarah-darah setiap hari, mempertahankan pasangan yang ditatap beringas oleh wanita lain. Misalnya saja Mas Abi, kemana pun kakinya bergerak, kaum hawa pasti memandanginya karena kerupawanan wajahnya. Begitu juga dengan dirinya sebenarnya. Bukannya bermaksud sombong, kecantikan luar biasa warisan genetika ibunya, menjadikan Senja wanita cantik dengan pesona luar biasa. Kadang Senja pun jengah sendiri kalau dipandangi dengan penuh kekaguman maupun kedengkian oleh orang lain.

"Bu Senja, Saya bisa minta tolong sebentar tidak Bu? Ini mobil yang mau dipakai anak-anak untuk ikut lomba karya ilmiah, mogok di parkiran. Ibu kan terkenal hebat kalau menangani mesin-mesin. Mohon bantuannya, ya Bu?"

Pak Tatang supir sekolah tergopoh-gopoh menghampiri Senja.

Keahliannya dalam menangani mesin sudah tidak perlu diragukan lagi.

Senja pun bergegas mengekori langkah Pak Tatang menuju parkiran.

Sesampainya diparkiran, Senja mulai membuka kap mobil.

Memeriksa aki,

mengecek radiator dengan teliti.

"Ini aki nya tekor Mang,

harus segera di ganti akinya baru mobil bisa hidup kembali saat di stater.

Tapi ini bisa Saya akali untuk sementara ya Mang?

Terus mamang bilang kolong mobilnya suka bunyi-bunyi ya Mang? Saya periksa kolongnya dulu ya Mang?"

Senja segera meletakkan tiga lembar koran dikolong mobil dan mulai masuk ke bawahnya,

meninggalkan separuh tungkai indahnya yang tampak menggiurkan dikolong mobil. Tidak lama kemudian, bel tanda istirahat pun terdengar. Suit-suit nakal para pelajar pria terdengar saat mereka menatapi kaki indah Senja yang begitu memprovokasi dikolong mobil.

Tiba-tiba saja Senja merasakan kakinya ditutupi oleh kain berbahan parasut. Setelah hampir lima menit Senja pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.

"Suara mendengung dikolong mobil itu karena komponen-komponen di kaki mobilnya mulai rusak ini Pak. Bushing arm, ball joint, tie rock, shock breakernya sudah pada aus semua ini Pak, harus segera diganti ya?"

Senja pun kemudian keluar dari kolong mobil dan mulai berdiri sambil mengibas-ngibaskan kotoran yang menempel ditubuhnya.

"Ibu ngapain sih masuk-masuk kolong mobil segala, ngecheck ini itu? Kalau mobilnya sudah hidup, ya sudah Bu. Ini disekolah Bu, bukan dibengkel, Ibu tidak sadar ya sudah memamerkan kaki indah Ibu untuk dinikmati semua laki-laki yang ada disini?"

Revan Aditama Perkasa,

murid kelas dua belas,

anak didiknya tampak kesal melihat aksinya. Rupanya kain yang menutupi kalinya tadi itu adalah jaket Revan.

"Ini lagi,

wajah ibu sampai cemong-cemong belepotan oli."

Sambil mengomeli Senja,

Revan mengeluarkan selembar tissue basah dan mulai mengelap ujung hidung dan kening Senja yang terkena oli sampai bersih.

"Ibu cuma ingin menolong Pak Tatang,

Revan."

Akhirnya Senja menjawab juga setelah kaget karena diomeli muridnya sendiri.

"Ya, tapi tidak harus sampai sehebat itu juga aksi ibu kali, cukup sampai mobilnya bisa nyala aja."

Revan menjawab sewot.

"Kamu ini murid saya tapi malah mengomeli saya terus dari tadi, Revan.

Tidak sopan kamu dengan guru sendiri."

Senja memelototi Revan. Karena Revan bertubuh tinggi kekar, Senja cuma sampai sedadanya saja. Sulit memang mengintimidasi orang yang fisiknya jauh lebih besar daripada kita sendiri.

"Ya, itu karena ibu memang pantas diomeli."

Revan menjawab kalem. Tepat pada saat suara bel masuk berkumandang, Revan pun ngeloyor pergi sebelum mengusap sekilas puncak kepala Senja yang terkena kotoran. Senja melotot kesal melihat Revan yang berjalan santai seperti tidak melihat kekesalan dimata bulatnya.

"Ibu ini ternyata multi talenta ya? Serba bisa."

Karena diomeli muridnya Senja sampai tidak sadar kalau saat ini didepannya sudah berdiri sesosok pria tampan yang seperti baru saja keluar dari majalah bisnis.

Senja menatap dalam-dalam mata onyx itu,

dan dibalas dengan sama tajamnya oleh sipemilik mata tersebut.

"Kamu!"

Mereka berdua berseru secara bersamaan saat mengenali satu sama lain.

Ya Pria tampan itu adalah Halilintar Sabda Alam, kakak laki-laki dari Mega Mentari, istri Mas Abimanyu saat ini. Dunia ini benar-benar terasa sempit seketika dalam pandangan Senja.

"Kamu jadi guru disini, Senja? Kenapa saat pernikahan Kakakmu  dengan Adik Saya, Kamu nya malah tidak datang? Kata keluargamu, Kamu sedang diluar kota dan dalam keadaan sakit ya?"

Senja cuma menganggukkan kepalanya dan segera berusaha mencari-cari cara agar bisa segera terbebas dari wawancara dadakan Sabda. Dia sudah malas sekali membahas masalah Mas Abi sekeluarga. Tapi kenapa Mas Sabda ada disini ya? Senja pun kembali menggeplak kepalanya sendiri. Yang dimaksud dengan anak pemilik sekolah oleh Bu Zahra tadi pastilah Mas Sabda! kepala Senja mendadak jadi pusing seketika.

"Dan sepertinya Ibu juga sangat dicintai oleh murid-murid ibu ya? Istimewa yang bernama Revan tadi, dia tampak begitu kesal saat orang-orang menatapi kaki ibu tadi."

Sabda tampak semakin senang menggoda Senja saat melihat pipi mulusnya memerah karena sindiran nya.

Duh, gemesin sekali ini adik iparnya. Pantas saja

si Revan Revan itu tadi tampak begitu posesif terhadap gurunya sendiri.

Bab 3

Setelah insiden kolong mobil, Senja segera kembali memeriksa tugas murid-muridnya. Sebenarnya kelasnya sudah lama selesai dan dia sudah bisa pulang. Tapi Senja adalah type orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan, sehingga dia memutuskan untuk menyelesaikan dahulu perkerjaannya baru dia pulang.

Diam-diam Sabda membuka ruang guru dan mendapati ipar cantiknya sedang tenggelam dalam keasikannya memeriksa lembaran LKS siswa-siswanya. Kadang-kadang keningnya berkerut bila mendapati siswanya menjawab salah dalam tugasnya. Sabda tersenyum kecil mengamati Senja yang sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya kini berada tepat dihadapannya. Senja seolah-olah tenggelam didalam dunianya sendiri.

"Mau sampai kapan Bu Senja ada disini? Ini malam minggu lho, Ibu tidak bersiap-siap berdandan cantik untuk menyambut kedatangan pacar?"

"Tidak punya pacar Saya Mang. Pernah punya dulu, tapi udah ditinggalin Saya nya.

Hahahaha..lebih enak jadi jomblo mau kemana nggak  ada yang melarang, mau ini itu juga nggak ada yang cemburuin, indahnya dunia para jomblo. Kalau Mamang mau pulang, duluan saja Mang, Nanti biar Saya saja  yang mengunci pintu dan menggemboknya sekalian seperti biasanya."

Senja menjawab sambil bercanda pertanyaan Mang Tohir si penjaga sekolah. Si Mamang orangnya lucu karena suka bercanda dan menemani Senja kalau dia sedang banyak kerjaan dan lembur di ruang guru. Sebenarnya tujuan utama si

mamang bukan menemani sih, lebih tepatnya itu mengusir halus supaya Senja mempercepat pekerjaannya dan si mamang pun bisa lebih cepat pulang untuk bertemu dengan anak istrinya.

Karena si mamang tidak kunjung menjawab, Senja pun mendongakkan kepalanya. Wajahnya seketika pias mendapati bukan wajah penuh keriput Mang Tohir yang dilihatnya, tapi wajah tampan rupawan milik Sabda yang menatapnya tajam dengan kedua tangan bersekedap didada.

"Ma—maaf sa—saya kira Bapak itu Mang Tohir." Senja terbata-bata meminta maaf. Sedangkan yang dimintai maaf diam saja namun matanya terus menerus menatap wajah cantik Senja dalam-dalam.

"Kamu tidak takut sendirian berada di ruang guru ini? Dari dari kata-kata kamu tadi, berarti kamu malah menghambat Mang Tohir untuk pulang padahal sudah lewat dari jam kerjanya? Satu lagi, kamu tidak takut kalau sewaktu-waktu

Mang Tohir khilaf dan melakukan sesuatu terhadap kamu?"

Belum sempat Senja menjawab, satu suara bariton lain telah menyela pembicaraan mereka.

"Ibu belum pulang juga?mau Saya temani sampai selesai Bu? Mang Tohir sudah saya suruh pulang tadi. Nanti biar Saya saja yang mengunci pintu setelah Ibu  selesai, dan sekalian Ibu Saya antar pu—"

"Tidak perlu Revan. Kamu sudah sangat sering mengantarkan Ibu pulang. Tempat tinggal kita juga tidak searah kan? Nanti Kamu capek bolak balik kesana kemari. Lagi pula tidak pan—"

"Terima kasih Ibu sudah perhatian karena tidak ingin membuat Saya capek. Tapi Saya sangat senang bisa mengantarkan Ibu pulang dengan selamat sampai di kost an, daripada melihat ibu duduk berdesak-desakan dengan resiko dilecehkan para penumpang angkot lainnya seperti waktu itu. Saya tidak terima bantahan, Saya tunggu Ibu dipos satpam depan. Kalau Ibu merasa tidak nyaman karena ada pengganggu diruangan ini, Ibu bisa menelepon

Saya, agar bisa segera

Saya bereskan. Permisi."

Revan langsung saja meninggalkan Senja yang masih mematung mendengar keputusan sepihak Revan.

"Siapa guru siapa murid disini? Seenaknya saja memutuskan sendiri."

Senja mengomel sendiri, sejenak lupa bahwa ada penonton lain diruangan ini.

"Kalau Kamu  memang tidak ingin ingin diantar pulang olehnya, bersikaplah tegas. Tunjukkan padanya posisi Kamu sebagai gurunya, orang yang sudah sepantasnya dihormati keputusannya. Jangan mudah diintimidasi oleh orang lain, istimewa itu adalah murid Kamu sendiri. Buat batasan, Dia dan Kamu itu  bukan teman sebaya melainkan murid dan guru."

Sabda mulai menasehati Senja, bagaimana pun dia adalah anak pemilik sekolah dan Senja adalah termasuk salah satu pegawainya yang harus dia lindungi bukan?bilang saja Kamu cemburu!suara batin Sabda mengejek kelakuannya absurdnya sendiri.

Dua puluh menit kemudian Senja sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dan diluar ekspekstasinya Sabda ikut menungguinya dalam diam diruangannya. Setelah membereskan beberapa alat tulis dan menyusun buku-buku LKS dilemari arsip, Senja mulai melangkah keluar diikuti oleh Sabda. Dan benar saja, Revan masih setia menungguinya di pos satpam dan langsung mengunci pintu ruang guru begitu melihat Senja telah keluar dari sana.

"Ayo Bu." Revan mengangsurkan helm dan jaketnya sekalian kepada Senja. Kalimat penolakan yang sudah berada diujung lidahnya mendadak kelu untuk diucapkan. Senja tidak tega melihat Revan yang sudah menunggu lama dengan tatapan penuh pengharapan menjadi kecewa. Baru saja Senja mau menerima helm, lengan kekar Sabda langsung menggamit tangannya sambil berkata," maaf ya Bu Senja, ada sedikit urusan pekerjaan yang ingin Saya bahas dengan Ibu. Ibu ikut mobil Saya saja sekalian nanti Saya antar pulang."

"Tidak masalah Pak, Saya bisa menunggu apapun urusan pekerjaan Bapak dengan Bu Senja." Revan menjawab santai tapi tatapannya seakan-akan menantang Sabda.

"Oke, kalau begitu mari kita dengar jawaban Bu Senja, dia ingin pulang bersama Anda atau bersama Saya. Kami menunggu jawaban Ibu."

Sabda mulai memaksa Senja untuk bersikap tegas dan membuang rasa tidak tegaannya yang sudah mendarah daging.

"Maaf ya Revan, karena Ibu ada keperluan dengan Pak Sabda, Ibu sekalian ikut Pak Sabda saja pulangnya."

Senja bahkan tidak berani menatap mata Revan saking tidak tega membuatnya kecewa. Helaan nafas kasar terdengar dari Revan.

"Lain kali kalau berbicara dengan orang lain, tatap matanya Bu. Jangan seperti ketakutan begitu. Saya tidak apa-apa koq kalau tidak jadi mengantar ibu pulang. Setidaknya Saya cukup jantan untuk menerima penolakan. Tidak seperti seseorang yang justru memakai kekuasaannya untuk menekan pihak lain yang lebih lemah yang dianggapnya sebagai rival. Ibu silahkan pergi saja dulu, biar Saya bisa mengunci gerbangnya."

Revan menjawab santai tapi dingin dan menyindir Sabda habis-habisan.

"Memaksa orang dengan tanda kutip sampai dia tidak punya pilihan juga bukan tindakan jantan. Belajarlah dulu yang benar untuk mendapatkan masa depan, baru Kamu bisa menjadi masa depan bagi orang lain."

Sabda yang mendadak panas disindir seorang bocah merasa gerah juga kalau tidak sedikit membalas. Senja yang tidak ingin lagi ada keributan lagi pun, segera menghela lengan Sabda menuju keparkiran.

Suasana didalam mobil mewah Sabda yang sejuk, jok mobil yang lembut serasa membelai-belai mata Senja yang memang terkenal sebagai tukang tidur dimana saja. Dia bahkan pernah tertidur dipunggung abang ojek online nya karena kelelahan.

Sabda yang merasa tidak ada pergerakan yang berarti dari Senja segera menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati adik iparnya sudah tertidur pulas seperti bayi. Saat kepala Senja terjatuh kebahunya Sabda langsung memeganginya dengan hati-hati dan menyamankan posisi kepala Senja dibahunya. Sejenak dipandanginya wajah cantik nan ayu yang tepat berada didepan matanya itu. Wajah sempurna tanpa cela ini bahkan sudah membuat muridnya tergila-gila dan kalau dia mau jujur, sudah membuat dirinya sendiri juga merasakan hal yang sama seperti anak didiknya. Entah mengapa Sabda merasa, selain menjadi gila, sepertinya jantungnya sepertinya bermasalah juga  setiap kali berdekatan dengan adik iparnya ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED