"Jadi kapan pernikahan Abi dan Mega bisa kita laksanakan? Kami sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena perut Mega semakin lama akan semakin membesar. Kami juga tidak mau menjadi bahan omongan kerabat dan juga para tetangga, Pak!"
Pranggg!!
Senja yang sedang membawa baki yang berisi empat gelas teh manis hangat, mendadak menjatuhkan bakinya karena terkejut. Istri mana yang tidak kaget saat mendengar suaminya harus menikahi wanita lain karena hamil?
"Ma-maaf Sa-saya tidak sengaja. Saya akan segera mengganti minumannya."
Senja segera mengumpulkan pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat duduk tiga orang tamu Abimanyu. Senja melihat wajah Abi yang seketika pucat pasi melihat kemunculannya di ruang tamu. Kedua mertuanya juga tampak linglung dan kebingungan saat menatap kehadiran Senja.
"Aduhhh!!!"
Senja meringis kesakitan saat tajamnya pecahan kaca menggores telapak tangannya. Seketika darah segar pun mengucur deras karena ada pecahan kaca yang menancap cukup dalam ditelapak tangannya.
"Hati-hati Nja! Sini Mas lihat tangannya? Astaga banyak banget ini darahnya. Kamu duduk disini dulu, Mas ambil kotak obat sebentar."
Abi bergegas berlari mencari kotak obat dikabinet dapur. Senja cuma diam. Dia bahkan tidak sadar kalau telapak tangannya sudah berlumuran darah. Dibenaknya masih terngiang jelas kata-kata tamunya yang ingin segera menikahkan suaminya dengan anak perempuannya yang bernama Mega.
"Siapa gadis ini Bu?" Senja melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian kerja formal abu-abu bertanya pada ibu mertuanya sambil menatap tajam padanya.
"Oh—eh i—ini adik bungsu Abimanyu namanya Senjahari."
Ibu mertuanya nampak gelagapan saat tiba-tiba ditanya tentang jati diri Senja. Senja yang sadar sedang ditanya, langsung merapatkan tangan kedada sambil memperkenalkan diri. Dia tidak mungkin menjabat tangan tamunya dengan tangannya yang berlumuran darah bukan?
"Kenalkan saya Senjahari Semesta Alam, a-adik bungsu Mas Abi. Maaf saya tidak bisa menjabat tangan Bapak."
Senja kembali merangkapkan kedua tangan didada. Seumur hidup dia telah diajarkan untuk selalu bersikap santun dan mampu menahan diri dalam menghadapi masalah apapun sedari kecil. Jadi walaupun saat ini badai seperti sedang memporak-porandakan hatinya, dia masih tetap bisa bersikap anggun dan sopan.
"Saya Halilintar Sabda Alam, kakak sulung Mega Mentari calon kakak ipar kamu. Kalau dipikir-pikir nama kita ada sedikit kemiripan ya Dek? Ada kata Alam dibelakangnya."
Senja hanya bisa tersenyum sopan sambil mengganggukkan kepalanya.
"Ayo siniin tangannya, biar Mas obatin. Kalau tidak dibersihkan dengan baik nanti bisa infeksi lho Nja."
Abimanyu menuangkan alkohol pada kapas dan mulai membersihkan luka Senja dengan cairan alkohol. Senja cuma diam dengan pandangan kosong, bahkan dia seolah-olah tidak merasakan perihnya alkohol yang sedang dituangkan pada luka terbukanya itu.
"Ehm! Sepertinya sudah cukup kami menyampaikan maksud kedatangan kami kesini. Kami permisi dulu ya Pak Sugeng, Ibu Riani, Abi dan Senja. Kami menunggu kabar baik dari anda sekalian untuk segera datang melamar. Kami permisi."
Setelah semua tamu-tamunya pergi, Senja segera duduk kembali keruang tamu diikuti oleh Abimanyu dan kedua mertuanya. Abi tampak begitu bingung dan salah tingkah saat harus menjelaskan mulai darimana duduk permasalahannya yang sepertinya sudah tidak mungkin untuk ditutup-tutupi lagi.
"Nja, Mas minta maaf. Mas dijebak. Kamu ingat saat dua bulan lalu Mas menghadiri acara ulang tahun perusahaan yang ke empat puluh? Dipesta itu Mas dipaksa beberapa rekan untuk minum alkohol. Dan karena Mas tidak biasa minum, Mas mabuk berat Nja. Dan keesokan harinya Mas terbangun dikamar hotel dengan Ibu Mega yang juga tertidur pulas disamping Mas. Mas sendiri juga heran saat Ibu Mega malah menuduh Mas sudah menidurinya. Mas tidak ingat sama sekali. Kemudian kemarin Bu Mega memberitahukan Mas, kalau dia hamil anak Mas. Tapi Mas yakin, Mas tidak akan pernah sanggup tidur dengan wanita lain selain kamu Nja. Karena Mas cuma mencintai kamu. Kamu harus percaya sama Mas, Nja!"
Senja cuma diam. Dia memang tidak punya keinginan untuk menanyakan apapun pada Abi. Karena dia tahu, apapun yang ditanyakannya pada suaminya itu, tidak akan bisa mengubah hal apapun, selain menambah rasa sakit hatinya saja.
"Kamu jangan diam saja dong Nja. Setidaknya kamu tanya sesuatu apa gitu sama Mas, atau menampar Mas, bahkan memukuli Mas kalau perlu, biar rasa marah dihatimu bisa terlampiaskan."
Abi sekarang bahkan sudah dalam keadaan berlutut didepan Senja sambil menggenggam kedua belah telapak tangannya yang terasa dingin.
Senja tidak menyangka kalau nasib pernikahannya bisa setragis ini. Tiga tahun lamanya Abimanyu berjuang dengan segala cara untuk bisa menikahi nya, dan akhirnya perjuangan luar biasanya itu pun membuat hati ibunya luluh dan menerima lamarannya. Baru dua bulan yang lalu mereka menikah,
tetapi saat ini kelangsungan pernikahan mereka sudah terancam bubar.
"Jadi bagaimana ini Bi?kamu harus segera melamar Mega, kalau tidak selain karir kamu akan hancur, kamu juga bisa masuk penjara, Nak. Ibu tidak rela!!"
Bu Riani, ibu Abimanyu langsung menangis histeris saat membayangkan kalau anak laki-laki kebanggaannya harus mendekam didalam penjara.
"Tapi Abi kan sudah punya Senja Bu, jadi mana mungkin lagi kalau Abi menikahi Mega?"
Pak Sugeng ayah Abi, mulai tampak frustasi memikirkan kekisruhan rumah tangga anaknya.
"Ceraikan saja Senja Mas. Dengan kita bercerai selain Mas bisa segera menikahi Mbak Mega, Mas juga tidak akan kehilangan jabatan CEO yang sudah mati-matian Mas perjuangkan. Selain itu Mas juga bisa terhindar dari kewajiban masuk penjara karena sudah menghamili anak gadis orang.
Walapun sangat menyakitkan, tetapi Senja merasa cuma itulah satu-satunya jalan demi mengurai benang kusut ini. Daripada tiga orang sama-sama tidak berbahagia, bukankah lebih baik cuma satu yang tidak bahagia, tapi dua orang lagi terselamatkan bukan?"
Senja akhirnya bersuara juga mengemukakan pendapatnya. Senja adalah seorang pribadi yang selalu berempati pada kesulitan orang lain. Dia bahkan rela melepaskan kebahagiannya sendiri demi membuat orang lain bahagia. Didikan kuat ibunya yang mengatakan all is well, begitu terpatri kuat dalam dirinya. Dia percaya segala sesuatu yang baik atau malah buruk sekalipun pasti memberikan pelajaran dalam hidup. Semua itu tergantung dari sudut pandang kepentingannya.
Misalnya saat seorang pengusaha yang akan menghadiri proyek penting ketinggalan pesawat, dia pasti akan ngamuk-ngamuk saat proyek milyaran rupiahnya harus kandas begitu saja karena keterlambatannya. Saat itu dia akan merasa itu adalah sebuah berita buruk.
Tetapi saat satu jam kemudian, dia mendengar bahwa pesawat yang seharusnya tadi ditumpanginya ternyata mengalami kecelakaan dan menewaskan semua penumpangnya, maka detik itu juga dia merasa bahwa dia begitu beruntung karena tidak jadi menaiki pesawat tersebut. Itu termasuk suatu berita baik bukan?
Seperti itulah Senja terbiasa dididik oleh ibunya.
Semesta itu adil, Nak. Ada kemarau ada hujan. Ada panas ada dingin. Ada kesedihan yakinlah akan tiba juga kebahagiaan. Maka nikmatilah tiap prosesnya. Itu akan menjadikanmu kuat dan dewasa. Mungkin ada yang bilang itu adalah suatu kebodohan, tapi kita berdua sepakat untuk menyebutnya keikhlasan.
"Ngomong apa kamu Nja!sampai mati pun Mas tidak akan pernah menceraikan kamu. Mas itu sangat mencintai kamu Senjahari Semesta Alam. Mas bisa mendapatkan kamu setelah Mas harus bersaing mati-matian dengan para pengagum-pengagummu yang seperti tiada habisnya itu. Dan kini kamu dengan mudahnya mau minta cerai dari Mas? Never in million years Nja!!"
Abimanyu tampak marah sekali mendengar saran dari Senja.
"Tapi memang cuma itu jalan satu-satunya, Nak. Ibu tidak mau melihatmu masuk penjara! Ibu Ibu cu—ma ma—u "
"Ibuuuuu!!!" Bu Riani langsung jatuh pingsan saking stressnya memikirkan masalah putra sulungnya. Dan akhirnya mereka semua malah berakhir dirumah sakit karena sakit jantung Bu Riani yang kumat, alih-alih membicarakan masalah Abi dan Senja.
Malam itu juga didepan kedua orang tuanya Abimanyu Wicaksana menjatuhkan talak pada Senja, dan ikatan mereka sebagai suami istri pun sudah putus secara agama. Hal- hal yang menyangkut masalah legalitas perceraian mereka, telah Senja limpahkan semuanya kepada Abi.
Untuk terakhir kalinya, malam itu Senja menatap lama wajah sedih dan putus asa laki-laki yang dua bulan lalu telah sah menjadi suaminya, dan kini telah sah juga menjadi mantan suaminya.
"Berbahagialah Mas. Semoga Mas selalu bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan menyayangi anak dan istri Mas kelak dikemudian hari. Senja permisi pulang dulu ya Mas, Bapak, Ibu."
Senja menyalim hormat tangan kedua mantan mertuanya saat ini. Senja tahu Abi dengan berat hati mengabulkan keinginan nya sekaligus keinginan ibunya, hanya karena demi kesehatan ibunya. Tetapi jauh didalam lubuk hatinya, Abi sama sekali belum ikhlas untuk menceraikan Senja. Semua itu terlihat dari tatapan kesedihan yang tersirat setiap kali Abi memandangnya.
"Kamu jangan tidur dulu ya Nja. Nanti Mas mau membahas beberapa hal sama kamu. Tunggu Mas di rumah ya?"
Senja hanya menganggukkan kepalanya. Abimanyu sama selali tidak tahu, bahwa itu adalah hari terakhirnya bisa menatap wajah cantik nan ayu mantan istrinya. Karena malam itu juga ternyata Senja telah pergi dari rumah mereka.
Senja mulai menyusun buku-buku latihan anak didiknya. Sudah enam bulan Senja menjadi tenaga pendidik di salah satu sekolah internasional favorit di kota ini. Setelah meninggalkan rumah mantan suaminya malam itu juga, Senja pun segera mencari Dayu sahabat oroknya, untuk menumpang tinggal sementara di rumahnya.
Dayu ini adalah segala tokoh idaman wanita masa kini. Cantik, kaya dan punya keluarga yang begitu harmonis. Saingan keluarga cemara kalau menurut istilah Senja. Dan kebetulan sekali, salah satu kerabat jauhnya menawarkan posisi sebagai tenaga pengajar di sekolah bonafid nya kepada Senja, yang tentu saja diterima olehnya dengan penuh suka cita. Seperti mendapat durian runtuh! Itulah pepatah yang tepat untuk tawaran pekerjaan yang diterimanya.
Seolah semesta kembali mendukungnya, Senja pun mendapatkan tempat kost yang begitu stategis lokasinya dengan harga yang sesuai dengan kantongnya pula.
Setiap hari minggu dan hari libur nasional, Senja menjadi salah satu mekanik mesin handal di bengkel elit milik Pak Wijayakusuma ayah Dayu. Masalah bongkar membongkar motor atau mobil sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Senja kecil sampai sekarang. Dia terlalu mencintai dunia otomotif seperti alharhumah ibunya, dan mungkin juga ayahnya dimanapun dia berada.
Senja juga sangat suka melukis yang dia bahkan tidak tahu itu keturunan dari siapa. Mengingat ibunya yang bahkan cuma menggambar seekor burung saja lebih menyerupai seekor ayam jago pada akhir lukisannya.
Sifat ibunya yang begitu easy going membuat Senja kecil tetap berbahagia walau cuma hidup berdua saja dengan ibunya, tanpa pernah tahu siapa ayahnya dan keluarganya yang lain. Menurut ibunya, bahagia atau sedih itu hanyalah permainan perasaan belaka, itu semua kita yang mengontrolnya. Seperti setelah hujan akan muncul indahnya pelangi, yakinlah disetiap kesedihan akan ada kebahagian. Ibarat yin dan yang, kekuatan yang saling berlawanan namun saling melengkapi menjadi satu kesatuan.
Ibunya diperkosa pada usia tujuh belas tahun saat pulang dari kegiatan ektra kulikuler disekolahnya. Karena hari mulai gelap, ibunya memotong jalan dari arah gudang lama yang sudah tidak dipakai oleh pemiliknya. Dan disana jugalah dia diperkosa oleh seorang remaja berseragam SMA yang sepertinya sedang mabuk, dan kemudian ibunya ditinggalkan begitu saja digudang tua itu dalam keadaan pingsan. Tidak ada petunjuk apapun mengenai jati diri remaja itu kecuali sebuah kalung berukiran unik yang sempat ditarik oleh ibunya dari leher remaja itu saat dia menggagahi ibunya.
"Bu Senja koq tidak bersiap-siap buat menyambut kedatangan anak pemilik sekolah? Guru-guru yang lain malah sampai pada dandan kesalon pagi-pagi, eh ini Bu Senja malah sibuk memeriksa tugas anak-anak."
Bu Zahra, guru bidang studi bahasa indonesia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kecuekan Senja.
"Nah justru itu Bu Zahra, yang menyambutkan sudah cukup banyak, jadi Saya disini jaga gawang saja sambil mengoreksi tugas anak-anak, Bu."
"Nggak nyesel nih Bu Senja tidak ikutan? Pak Sabda itu wajahnya gantengable dan bodynya itu lho keker banget, pelukable deh pokoknya."
Promosi Bu Zahra. Senja cuma tersenyum saja mendengarnya. Dia malah sebenarnya menjauhi laki-laki yang wajahnya adonis, karena pasti bakal makan hati plus berdarah-darah setiap hari, mempertahankan pasangan yang ditatap beringas oleh wanita lain. Misalnya saja Mas Abi, kemana pun kakinya bergerak, kaum hawa pasti memandanginya karena kerupawanan wajahnya. Begitu juga dengan dirinya sebenarnya. Bukannya bermaksud sombong, kecantikan luar biasa warisan genetika ibunya, menjadikan Senja wanita cantik dengan pesona luar biasa. Kadang Senja pun jengah sendiri kalau dipandangi dengan penuh kekaguman maupun kedengkian oleh orang lain.
"Bu Senja, Saya bisa minta tolong sebentar tidak Bu? Ini mobil yang mau dipakai anak-anak untuk ikut lomba karya ilmiah, mogok di parkiran. Ibu kan terkenal hebat kalau menangani mesin-mesin. Mohon bantuannya, ya Bu?"
Pak Tatang supir sekolah tergopoh-gopoh menghampiri Senja.
Keahliannya dalam menangani mesin sudah tidak perlu diragukan lagi.
Senja pun bergegas mengekori langkah Pak Tatang menuju parkiran.
Sesampainya diparkiran, Senja mulai membuka kap mobil.
Memeriksa aki,
mengecek radiator dengan teliti.
"Ini aki nya tekor Mang,
harus segera di ganti akinya baru mobil bisa hidup kembali saat di stater.
Tapi ini bisa Saya akali untuk sementara ya Mang?
Terus mamang bilang kolong mobilnya suka bunyi-bunyi ya Mang? Saya periksa kolongnya dulu ya Mang?"
Senja segera meletakkan tiga lembar koran dikolong mobil dan mulai masuk ke bawahnya,
meninggalkan separuh tungkai indahnya yang tampak menggiurkan dikolong mobil. Tidak lama kemudian, bel tanda istirahat pun terdengar. Suit-suit nakal para pelajar pria terdengar saat mereka menatapi kaki indah Senja yang begitu memprovokasi dikolong mobil.
Tiba-tiba saja Senja merasakan kakinya ditutupi oleh kain berbahan parasut. Setelah hampir lima menit Senja pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.
"Suara mendengung dikolong mobil itu karena komponen-komponen di kaki mobilnya mulai rusak ini Pak. Bushing arm, ball joint, tie rock, shock breakernya sudah pada aus semua ini Pak, harus segera diganti ya?"
Senja pun kemudian keluar dari kolong mobil dan mulai berdiri sambil mengibas-ngibaskan kotoran yang menempel ditubuhnya.
"Ibu ngapain sih masuk-masuk kolong mobil segala, ngecheck ini itu? Kalau mobilnya sudah hidup, ya sudah Bu. Ini disekolah Bu, bukan dibengkel, Ibu tidak sadar ya sudah memamerkan kaki indah Ibu untuk dinikmati semua laki-laki yang ada disini?"
Revan Aditama Perkasa,
murid kelas dua belas,
anak didiknya tampak kesal melihat aksinya. Rupanya kain yang menutupi kalinya tadi itu adalah jaket Revan.
"Ini lagi,
wajah ibu sampai cemong-cemong belepotan oli."
Sambil mengomeli Senja,
Revan mengeluarkan selembar tissue basah dan mulai mengelap ujung hidung dan kening Senja yang terkena oli sampai bersih.
"Ibu cuma ingin menolong Pak Tatang,
Revan."
Akhirnya Senja menjawab juga setelah kaget karena diomeli muridnya sendiri.
"Ya, tapi tidak harus sampai sehebat itu juga aksi ibu kali, cukup sampai mobilnya bisa nyala aja."
Revan menjawab sewot.
"Kamu ini murid saya tapi malah mengomeli saya terus dari tadi, Revan.
Tidak sopan kamu dengan guru sendiri."
Senja memelototi Revan. Karena Revan bertubuh tinggi kekar, Senja cuma sampai sedadanya saja. Sulit memang mengintimidasi orang yang fisiknya jauh lebih besar daripada kita sendiri.
"Ya, itu karena ibu memang pantas diomeli."
Revan menjawab kalem. Tepat pada saat suara bel masuk berkumandang, Revan pun ngeloyor pergi sebelum mengusap sekilas puncak kepala Senja yang terkena kotoran. Senja melotot kesal melihat Revan yang berjalan santai seperti tidak melihat kekesalan dimata bulatnya.
"Ibu ini ternyata multi talenta ya? Serba bisa."
Karena diomeli muridnya Senja sampai tidak sadar kalau saat ini didepannya sudah berdiri sesosok pria tampan yang seperti baru saja keluar dari majalah bisnis.
Senja menatap dalam-dalam mata onyx itu,
dan dibalas dengan sama tajamnya oleh sipemilik mata tersebut.
"Kamu!"
Mereka berdua berseru secara bersamaan saat mengenali satu sama lain.
Ya Pria tampan itu adalah Halilintar Sabda Alam, kakak laki-laki dari Mega Mentari, istri Mas Abimanyu saat ini. Dunia ini benar-benar terasa sempit seketika dalam pandangan Senja.
"Kamu jadi guru disini, Senja? Kenapa saat pernikahan Kakakmu dengan Adik Saya, Kamu nya malah tidak datang? Kata keluargamu, Kamu sedang diluar kota dan dalam keadaan sakit ya?"
Senja cuma menganggukkan kepalanya dan segera berusaha mencari-cari cara agar bisa segera terbebas dari wawancara dadakan Sabda. Dia sudah malas sekali membahas masalah Mas Abi sekeluarga. Tapi kenapa Mas Sabda ada disini ya? Senja pun kembali menggeplak kepalanya sendiri. Yang dimaksud dengan anak pemilik sekolah oleh Bu Zahra tadi pastilah Mas Sabda! kepala Senja mendadak jadi pusing seketika.
"Dan sepertinya Ibu juga sangat dicintai oleh murid-murid ibu ya? Istimewa yang bernama Revan tadi, dia tampak begitu kesal saat orang-orang menatapi kaki ibu tadi."
Sabda tampak semakin senang menggoda Senja saat melihat pipi mulusnya memerah karena sindiran nya.
Duh, gemesin sekali ini adik iparnya. Pantas saja
si Revan Revan itu tadi tampak begitu posesif terhadap gurunya sendiri.
Setelah insiden kolong mobil, Senja segera kembali memeriksa tugas murid-muridnya. Sebenarnya kelasnya sudah lama selesai dan dia sudah bisa pulang. Tapi Senja adalah type orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan, sehingga dia memutuskan untuk menyelesaikan dahulu perkerjaannya baru dia pulang.
Diam-diam Sabda membuka ruang guru dan mendapati ipar cantiknya sedang tenggelam dalam keasikannya memeriksa lembaran LKS siswa-siswanya. Kadang-kadang keningnya berkerut bila mendapati siswanya menjawab salah dalam tugasnya. Sabda tersenyum kecil mengamati Senja yang sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya kini berada tepat dihadapannya. Senja seolah-olah tenggelam didalam dunianya sendiri.
"Mau sampai kapan Bu Senja ada disini? Ini malam minggu lho, Ibu tidak bersiap-siap berdandan cantik untuk menyambut kedatangan pacar?"
"Tidak punya pacar Saya Mang. Pernah punya dulu, tapi udah ditinggalin Saya nya.
Hahahaha..lebih enak jadi jomblo mau kemana nggak ada yang melarang, mau ini itu juga nggak ada yang cemburuin, indahnya dunia para jomblo. Kalau Mamang mau pulang, duluan saja Mang, Nanti biar Saya saja yang mengunci pintu dan menggemboknya sekalian seperti biasanya."
Senja menjawab sambil bercanda pertanyaan Mang Tohir si penjaga sekolah. Si Mamang orangnya lucu karena suka bercanda dan menemani Senja kalau dia sedang banyak kerjaan dan lembur di ruang guru. Sebenarnya tujuan utama si
mamang bukan menemani sih, lebih tepatnya itu mengusir halus supaya Senja mempercepat pekerjaannya dan si mamang pun bisa lebih cepat pulang untuk bertemu dengan anak istrinya.
Karena si mamang tidak kunjung menjawab, Senja pun mendongakkan kepalanya. Wajahnya seketika pias mendapati bukan wajah penuh keriput Mang Tohir yang dilihatnya, tapi wajah tampan rupawan milik Sabda yang menatapnya tajam dengan kedua tangan bersekedap didada.
"Ma—maaf sa—saya kira Bapak itu Mang Tohir." Senja terbata-bata meminta maaf. Sedangkan yang dimintai maaf diam saja namun matanya terus menerus menatap wajah cantik Senja dalam-dalam.
"Kamu tidak takut sendirian berada di ruang guru ini? Dari dari kata-kata kamu tadi, berarti kamu malah menghambat Mang Tohir untuk pulang padahal sudah lewat dari jam kerjanya? Satu lagi, kamu tidak takut kalau sewaktu-waktu
Mang Tohir khilaf dan melakukan sesuatu terhadap kamu?"
Belum sempat Senja menjawab, satu suara bariton lain telah menyela pembicaraan mereka.
"Ibu belum pulang juga?mau Saya temani sampai selesai Bu? Mang Tohir sudah saya suruh pulang tadi. Nanti biar Saya saja yang mengunci pintu setelah Ibu selesai, dan sekalian Ibu Saya antar pu—"
"Tidak perlu Revan. Kamu sudah sangat sering mengantarkan Ibu pulang. Tempat tinggal kita juga tidak searah kan? Nanti Kamu capek bolak balik kesana kemari. Lagi pula tidak pan—"
"Terima kasih Ibu sudah perhatian karena tidak ingin membuat Saya capek. Tapi Saya sangat senang bisa mengantarkan Ibu pulang dengan selamat sampai di kost an, daripada melihat ibu duduk berdesak-desakan dengan resiko dilecehkan para penumpang angkot lainnya seperti waktu itu. Saya tidak terima bantahan, Saya tunggu Ibu dipos satpam depan. Kalau Ibu merasa tidak nyaman karena ada pengganggu diruangan ini, Ibu bisa menelepon
Saya, agar bisa segera
Saya bereskan. Permisi."
Revan langsung saja meninggalkan Senja yang masih mematung mendengar keputusan sepihak Revan.
"Siapa guru siapa murid disini? Seenaknya saja memutuskan sendiri."
Senja mengomel sendiri, sejenak lupa bahwa ada penonton lain diruangan ini.
"Kalau Kamu memang tidak ingin ingin diantar pulang olehnya, bersikaplah tegas. Tunjukkan padanya posisi Kamu sebagai gurunya, orang yang sudah sepantasnya dihormati keputusannya. Jangan mudah diintimidasi oleh orang lain, istimewa itu adalah murid Kamu sendiri. Buat batasan, Dia dan Kamu itu bukan teman sebaya melainkan murid dan guru."
Sabda mulai menasehati Senja, bagaimana pun dia adalah anak pemilik sekolah dan Senja adalah termasuk salah satu pegawainya yang harus dia lindungi bukan?bilang saja Kamu cemburu!suara batin Sabda mengejek kelakuannya absurdnya sendiri.
Dua puluh menit kemudian Senja sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dan diluar ekspekstasinya Sabda ikut menungguinya dalam diam diruangannya. Setelah membereskan beberapa alat tulis dan menyusun buku-buku LKS dilemari arsip, Senja mulai melangkah keluar diikuti oleh Sabda. Dan benar saja, Revan masih setia menungguinya di pos satpam dan langsung mengunci pintu ruang guru begitu melihat Senja telah keluar dari sana.
"Ayo Bu." Revan mengangsurkan helm dan jaketnya sekalian kepada Senja. Kalimat penolakan yang sudah berada diujung lidahnya mendadak kelu untuk diucapkan. Senja tidak tega melihat Revan yang sudah menunggu lama dengan tatapan penuh pengharapan menjadi kecewa. Baru saja Senja mau menerima helm, lengan kekar Sabda langsung menggamit tangannya sambil berkata," maaf ya Bu Senja, ada sedikit urusan pekerjaan yang ingin Saya bahas dengan Ibu. Ibu ikut mobil Saya saja sekalian nanti Saya antar pulang."
"Tidak masalah Pak, Saya bisa menunggu apapun urusan pekerjaan Bapak dengan Bu Senja." Revan menjawab santai tapi tatapannya seakan-akan menantang Sabda.
"Oke, kalau begitu mari kita dengar jawaban Bu Senja, dia ingin pulang bersama Anda atau bersama Saya. Kami menunggu jawaban Ibu."
Sabda mulai memaksa Senja untuk bersikap tegas dan membuang rasa tidak tegaannya yang sudah mendarah daging.
"Maaf ya Revan, karena Ibu ada keperluan dengan Pak Sabda, Ibu sekalian ikut Pak Sabda saja pulangnya."
Senja bahkan tidak berani menatap mata Revan saking tidak tega membuatnya kecewa. Helaan nafas kasar terdengar dari Revan.
"Lain kali kalau berbicara dengan orang lain, tatap matanya Bu. Jangan seperti ketakutan begitu. Saya tidak apa-apa koq kalau tidak jadi mengantar ibu pulang. Setidaknya Saya cukup jantan untuk menerima penolakan. Tidak seperti seseorang yang justru memakai kekuasaannya untuk menekan pihak lain yang lebih lemah yang dianggapnya sebagai rival. Ibu silahkan pergi saja dulu, biar Saya bisa mengunci gerbangnya."
Revan menjawab santai tapi dingin dan menyindir Sabda habis-habisan.
"Memaksa orang dengan tanda kutip sampai dia tidak punya pilihan juga bukan tindakan jantan. Belajarlah dulu yang benar untuk mendapatkan masa depan, baru Kamu bisa menjadi masa depan bagi orang lain."
Sabda yang mendadak panas disindir seorang bocah merasa gerah juga kalau tidak sedikit membalas. Senja yang tidak ingin lagi ada keributan lagi pun, segera menghela lengan Sabda menuju keparkiran.
Suasana didalam mobil mewah Sabda yang sejuk, jok mobil yang lembut serasa membelai-belai mata Senja yang memang terkenal sebagai tukang tidur dimana saja. Dia bahkan pernah tertidur dipunggung abang ojek online nya karena kelelahan.
Sabda yang merasa tidak ada pergerakan yang berarti dari Senja segera menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati adik iparnya sudah tertidur pulas seperti bayi. Saat kepala Senja terjatuh kebahunya Sabda langsung memeganginya dengan hati-hati dan menyamankan posisi kepala Senja dibahunya. Sejenak dipandanginya wajah cantik nan ayu yang tepat berada didepan matanya itu. Wajah sempurna tanpa cela ini bahkan sudah membuat muridnya tergila-gila dan kalau dia mau jujur, sudah membuat dirinya sendiri juga merasakan hal yang sama seperti anak didiknya. Entah mengapa Sabda merasa, selain menjadi gila, sepertinya jantungnya sepertinya bermasalah juga setiap kali berdekatan dengan adik iparnya ini.