Kedisiplinan adalah sebuah standar yang susah dimiliki.
“Jadi, tidak ada lagi yang ingin ditanyakan?” tanya Yusuf kepada semua asisten yang hadir saat itu. Sebenarnya ada topik wisuda, namun mengingat dua wisudawan sedang hadir di lab, akan merusak kejutan jika dibocorkan sekarang.
“Aku rasa itu cukup, Yusuf,” komentarku. Asisten lainnya tidak ada yang membantahku, dan sebagai moderator, Yusuf mengakhiri rapat malam itu.
“Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, kita akhiri dengan do’a,” ucap Yusuf. Do’a kafaratul majelis menutup rapat malam itu. Para asisten pun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Aku sendiri masih berkutat dengan skripsi milikku yang berhubungan dengan perekaman data besar untuk permainan dan melakukan adjustment dari data tersebut.
“Skripsimu masih lanjut?” tanya Yusuf tidak percaya melihatku yang sibuk dengan angka-angka itu. Oke. Kalau aku mengetahui bahwasanya mengembangkan sistem perekapan seperti ini hingga selesai adalah satu semester, aku sudah mencicil ini dari semester 6.
“Iya. Prof Hari bilang minggu depan kalau bisa sudah mulai pengambilan datanya. Ini sudah semester kedua soalnya. Kalau telat, bakal hangus,” jawabku tanpa mengalihkan perhatianku. Yusuf memang cukup menyebalkan karena suka bertanya terus-menerus. Tapi, itu masih tidak seberapa dengan Mas Arrow, seorang senior sekitar 7 tahun di atasku, kala aku masih numpang di lab ini sebagai freeloader.
“Semangat ya. Aku juga mulai kerjakan milikku. Baru tahu kalo data bisa ngeselin seperti ini,” komentarnya. Aku berdecih, siapa suruh mengambil pengumpulan data hasil wabah untuk analisis dan simulasi prediksi penyebaran wabah serupa usulan Prof Murfid. Topik Prof Murfid notabene menyusahkan semua siswanya, dan aku pastikan bukan sesuatu yang bisa selesai dalam satu semester dengan mudah. Lagipula, topikku ini usulan beliau juga.
“Kamu kan ahlinya sekarang di bidang analisis data. Jadi ya kalau struggle kamu bakal kesulitan. Mulai dikerjakan aja. Fauzan di 206 mungkin bisa bantu dikit-dikit,” balasku.
“Makasih,” komentarnya, “aku ngurus skripsiku dulu,” lanjutnya. Akhirnya, dia berhenti menggangguku. Aku memegang kembali laptopku dan mengerjakan sisa komponen skripsiku yang belum tuntas.
“Kakak yakin ambil penelitian itu?” tanya Rahima.
“Dilihat dari kebermanfaatannya kelak, aku yakin,” jawabku.
Kalau tahu bakal sesusah ini- lupakan. Sudah terjadi. Aku hanya melanjutkan pekerjaanku. Salah satu calon wisuda, Mas Yahya, mendekati tempat aku duduk.
“Pak Ketua, saya pulang dulu,” pesannya. Aku menganggukkan kepalaku, tanpa memberikan pesan maupun balasan. Jam menunjukkan angka 10 malam. Rapat yang mulai semenjak jam 8 itu sudah memakan total 2 jam penuh.
“Mas Faux gak pulang?” tanyaku melihat ke senior calon wisudawan yang lain. Dia menggelengkan kepala.
“Lagi mau nyolong wifi. Kosan gak wifi ya gini. Gak kek Shad yang udah nikah,” komentar sang calong wisudawan. Aku terkekeh kecil sebelum kembali mengerjakan tugas akhirku.
“Rahima gak datang?” tanya Mas Faux lagi. Aku menggelengkan kepala. Perempuan itu pasti menghindari senior bernama Mas Yahya tadi, apalagi setelah pernikahan Mas Yahya dengan maba tahun ini, Zihan Azizah.
“Kenapa emangnya Mas?” tanyaku. Mas Faux tidak memberikan penjelasan. Dia mengalihkan pembicaraan. Sayang, aku menangkap jernih apa alasannya.
“Kurang apa lagi penelitianmu?” tanya Mas Faux. Aku menghela nafas.
“Tinggal sedikit sih. Kalau sudah selesai, bisa sidang semester ini,” jawabku seraya melihat ke laptopku. Sebuah notifikasi dari klien proyekan muncul di laptop.
Aristy: Mohon maaf Kak, untuk aplikasinya kira-kira bagaimana ya kak? Kami perlu buat demonstrasi kepada dosen minggu depan.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Belum tugas akhir, mana proyekan juga dikejar. Seharusnya aku lempar saja ke si Dekker ini proyek. Ah sudahlah, terlanjur basah.
Affa: Bisa selesai senin depan.
Ya. Artinya hanya tiga hari untuk menyelesaikan sisa tetek bengek kemarin. Mungkin aku harus benar-benar menawarkan Dekker.
Aristy: Terima kasih Kak. Bayaran dari kelompok kami akan seperti kesepakatan kemarin.
Affa: Oke. 400 ribu.
Aristy: Benar Kak.
400 ribu untuk pekerjaan seperti ini? Kepala perusahaan dimana Rahima bekerja akan tertawa mendengarnya. Kalau pekerjaannya untuk sistem data seperti sistem wabah atau analisis, mungkin lebih mudah bagiku.
“Ah sudahlah,” keluhku kesal. Aku melanjutkan pekerjaanku lagi. Ini semua menyebalkan.
“Kalau Kak Hamid bakal gimana ya?” gumamku seraya terus mengetik. Malam ini akan panjang, sangat panjang. Sebuah notifikasi masuk ke laptopku.
Aini: Kak Affa!
Aku menghembuskan nafas berat.
“Bocah ini lagi,” celetukku kesal. Aku menutup notifikasi itu.
“Legend, kamu kapan bimbingan?” tanya salah satu asisten dengan nama laboratorium Life_Bond. Aku menoleh ke arah laki-laki itu.
“Dengan Prof Hari atau Prof Murfid, Zul?” tanyaku balik.
“Prof Hari. Kan gue ogah sama Prof Murfid. Susahnya kek cari bola sakti,” jawabnya seraya menggibahkan professor legendaris di kampus kami. Sudah rahasia umum mahasiswa bimbingan Prof Murfid bahwa harus ada ‘anak ajaib’ supaya beliau mudah ditemui.
“Kalau Prof Hari rencananya selasa ini,” balasku. Dia melanjutkan pertanyaannya.
“Sudah janjian?” tanyanya.
“Sudah. Bukannya Prof Hari gak susah toh diajak janjian?” tanyaku balik. Zul menggelengkan kepala. Eh?
“Kalau kamu atau Rahima, gampang. Kalau yang lain, centang biru gan. CENTANG BIRU!” teriak Zul tidak terima. Itu mengejutkanku. Mungkin karena selama ini selalu aku yang menjadi komting kelas Prof Hari, aku tidak terpikir itu yang sebenarnya terjadi. Rumor soal Prof Hari saja tidak pernah masuk telingaku.
“Kok aku baru tahu?” tanyaku heran.
“Anak-anak biasanya pasti nunggu depan ruangan beliau. Cuma lama-lama ogah juga sekarang, apalagi Prof Hari makin sering keluar kota dadakan. Itu medsos update bilang lagi di luar negeri pas hari rencana bimbingan tiba-tiba njir,” jawab Zul kesal. Oke, ini sepenuhnya baru. Mungkin aku harus lebih aware dengan sekitarku. Aku kira, hanya Prof Murfid yang susah, karena rumornya sudah mendarah daging dari tujuh tahun lalu. Aku meletakkan tanganku di atas dagu.
“Begitu ya... anyway, sudah aku pinta ke beliau. Jadi, bilang ke yang lain,” komentarku. Zul menganggukkan kepalanya, lalu dia mulai berbalik namun berhenti.
“Oh ya,” ucapnya seraya kebali menghadap ke arahku, “kamu harusnya di grup anak bimbingan Prof Hari,” lanjutnya. Aku menganggukkan kepala.
“Undang saja. Aku tidak terlalu peduli dengan grup-grup. Kamu tahu sendiri semenjak maba aku dan Rahima sangat terisolir?” tanyaku balik. Zul hanya menganggukkan kepala. Dua orang yang dikecualikan dari sistem regenerasi kampus. Itu pun atas permintaan dosen laboratorium, karena waktu itu aku dan Rahima memegang beberapa proyek krusial di kampus. Bahkan, angkatanku sendiri banyak yang memusuhiku, seperti contohnya-
“Oh ya, Legend!” teriak Yusuf. Baru akan disebut namanya, dasar. Yusuf termasuk yang paling vokal tidak suka dengan special privilege yang aku dan Rahima miliki, terutama kepadaku. Oh ayolah, itu privilege lebih seperti penderitaan. Situ mending diteriakin ama senior, aku gagal bisa kena puluhan juta pertanggungjawaban.
“Kamu ada rencana konsul sama Prof Murfid?” tanya Yusuf. Zul tampak terganggu Yusuf tiba-tiba nyemplung masuk.
“Rabu,” jawabku datar. Aku kembali melihat ke laptop. Sebuah notifikasi masuk, bahwa aku diundang ke grup bimbingan Prof Hari. Undangan itu diterima otomatis.
“Oh ya, kamu sudah masuk grup anak Prof Murfid?” tanya Yusuf. Aku menggelengkan kepala.
“Pantesan selama ini kek neraka. Gak kepikir selama ini loe belum ada,” jawab Yusuf seakan menyadari kebodohannya. Ya. Pada akhirnya, aku juga diundang.
Mungkin bukan hanya Mas Yahya yang merasa dimanfaatkan dulu. Mungkin, itu yang juga Rahima rasakan. Dan tentunya, itu adalah yang aku rasakan.
Jangan cari aku kala hanya diperlukan, lalu kamu campakkan begitu saja.
Hari sabtu pagi, setelah subuh di masjid kampus, aku memutuskan untuk pulang dari laboratorium. Rahima sudah mengirimkan pesan dia akan lembur di kantor perusahaan Pak Arrow, salah satu dari teman Kak Hamid dulu, sampai minggu.
Sebuah rumah kecil yang diberikan oleh Pak Arrow kepada kami aku masuki. Rumah itu tampak bersih, dan tentunya karena tidak sering dihuni. Biarpun aku dan Rahima punya rumah ini sekarang, laboratorium sudah seperti rumah bagi kami. Hanya untuk mandi saja biasanya aku pulang.
Aku mandi dan mengganti pakaianku. Ada satu rencana pada sabtu ini, yaitu mengunjungi suatu tempat yang harusnya aku kunjungi lagi. 1 Maret adalah senin depan, tapi aku tidak bisa berkunjung pada hari itu. Jadi, aku pilih sabtu ini.
Suasana hening tempat itu tentunya menjadi pengingat bahwasanya kita hanyalah manusia yang akan berakhir sendiri. Ribuan gundukan tanah menandakan tempat akhir persemayaman manusia. Aku berjalan di setapak kecil menuju satu pusara. Seharusnya, ada Rahima bersamaku. Sayangnya, kali ini aku harus meminta maaf kepada dia, dan kakakku.
“Assalamu’alaikum, Ya Ahlil Kubur,” ucapku pada angin yang berhembus. Sebuah salam untuk para penghuni yang telah beristirahat menunggu hari pengadilan. Semua manusia akan mengalaminya.
Aku berhenti di dekat satu pusara. Tertulis nama itu, nama yang sudah lama tidak ada, tapi legacy yang dia ciptakan akan terus berlanjut. Entah, apakah dia bangga, atau sedih karena tidak bisa menyaksikan hasil usahanya, aku tidak tahu. Aku duduk di dekat makam itu.
“Assalamu’alaikum Kak,” ucapku lemah. Ku keluarkan buku kecil dari tas slempang yang ku bawa. Tulisan-tulisan Kalam Allah terlihat begitu aku membukanya.
Setengah jam aku membacakan ayat-ayat di sana. Ini adalah sebuah kebiasaan bagiku dan Rahima, dan aku tahu dia merasa berat meninggalkannya. Jujur saja, aku dan Rahima sebenarnya sering ke sini, baik sendiri maupun berdua. Tapi, 1 Maret berarti berbeda. Hari kelahiran kami. Masih ingat aku hadiah terakhir Kak Hamid kepada kami, dua buah jam tangan kecil yang dia buat sebisanya. Aku tahu, dia mempelajari bidang yang bukan kekuatan utamanya untuk memberikan hadiah itu. Jam sederhana yang masih kami simpan sampai sekarang.
“Maaf Kak. Aku harus pergi dulu. Assalamu’alaikum,” ucapku terakhir sebelum pergi dari pusara itu. Rasanya sedih, tapi tetap harus kuat dan tabah. Aku dan Rahima telah mencapai lebih jauh daripada dahulu, sayang kakak kami tidak bisa menyaksikan. Aku pun kembali ke rumah.
Hari tujuh tahun itu masih membekas di ingatanku. Namun, aku selalu tidak ingin menyimpan kenangan suram itu. Selama belum ada yang melindungi Rahima secara menyeluruh, selama itu pula dia harus pantang menjatuhkan air dari matanya. Itulah pinta akhir kakak.
Hari pengangkatan itu penuh dengan drama. Banyak air mata, pukulan, dan rasa sakit. Namun, tidak ada satu air mata jatuh dariku. Hari itu, pengangkatan nyaris kacau karena dirinya seorang. Melihat adiknya dibuat menangis oleh senior-senior yang dimatanya tidak bertanggung jawab. Hanya demi sebuah tradisi. Kalau bukan karena salah satu senior asisten lab di sana menahannya, mungkin akan menjadi baku hantam keras malam itu.
Meskipun semuanya rekayasa, emosi itu nyata. Mereka memukul membabi buta, kekerasan yang tidak terkendali dengan baik untuk rekayasa. Dan fakta bahwa kami dipaksa angkatan sendiri untuk hadir pada hari itu membuat sebuah garis sekat pasca hari itu. Air yang jatuh dari mata Rahima dan luka yang dia alami karena fisiknya yang lemah itu berakhir menjadi sebuah bencana bagi himpunan.
Rahima sering menangis, bahkan untuk hal-hal terkecil. Menjadi sebuah beban bagi aku, untuk memastikan dia selalu tersenyum. Bahkan, banyak yang harus aku lakukan untuk merawat senyuman itu. Rahima selalu berusaha kuat, tapi bahkan dia sendiri mengakui bahwa dirinya sangatlah cengeng.
“Memang, kami dilindungi, dianggap sebagai benda berharga. Selama mutiara belum menghitam, selama itu kami berharga,” gumamku kala aku tiba di rumah. Ya, itulah yang aku pikirkan sekarang soal hari itu. Aku menggelengkan kepala.
“Sudahlah, sudah berlalu.” Aku memutuskan untuk membersihkan diriku.
Ponselku terus berdering. Aku yang baru selesai mengganti baju memutuskan untuk tidak mengabaikan. Dosen-dosen suka menelpon diriku jika aku tidak menjawab dalam lima menit dari pesan mereka. Jadi, aku tahu aku punya sedikit waktu. Aku segera memeriksa ponsel setelah selesai.
Aini: Kak Affa!
Aini: Kak Affa! Balas dong!
Aini: Iiih! Kak Affa kok gak balas sih.
Aini: Kak Affaaaaaaa!
“Menyebalkan,” komentarku seraya menghapus pesan itu. Aku memutuskan untuk kembali berangkat ke kampus. Semoga Dekker bersedia membantu dengan pekerjaan dari klien kemarin. Aku perlu waktu lebih untuk menyelesaikan proses pengolahan data.
Sebuah pesan muncul di grup laboratorium. Langkahku untuk berangkat terhenti, dan membuka pesan yang masuk di ponselku.
Zul: Oi! Gimana wisuda?
Yusuf: Affa katanya minta si May ya yang ngurus kan? May, laporan.
May: Iya Kak. Ini banner baru selesai saya desain. Plakatnya juga sudah.
Dekker: Gak ada buat kek semacam snack gitu?
May: Ada kok Ker. Ini sudah diatur rencananya apa saja. Lab kan semester ini cuma 3 orang. Mas Faux. Mas Shad. Mba Smile.
Dekker: Iya sih.
Yusuf: Segerakan ya bannernya. Minggu depan pasti ramai.
Affa: Jangan seperti Yusuf tahun lalu, panik jadinya.
Yusuf: JANGAN DIINGETIN!
Zul: Yusuf sih sok santuy banget.
Affa: Ya sudah. Segera diselesaikan ya May. Aku tunggu laporannya di rapat koordinasi hari rabu, biar memastikan gak terlalu mepet.
Zul: Ya kali rapat dadakan kek kemarin lagi.
Affa: Maaf. Dosen-dosen baru kasih spesifikasi buat praktikum. Aku kemarin gak bisa mulai karena belum fix siapa aja mahasiswanya. Jadi terpaksa Jum’at bahasnya. Buat praktikum minggu depan hari Kamis sesuai kesepakatan sudah TM.
Zul: Iya. Gue ingat kok Fa. Tak pastiin kelar kok.
Affa: Kalau gak sesuai timeline bisa kena tegur kita. Jangan teledor ya.
Zul: Siap bos.
Yusuf: Modul revisi kemarin sudah selesai btw. Setor kapan?
Affa: Senin aja. Nanti aku bantu.
Aku memutuskan untuk menutp grup dan mengirimkan pesan pribadi ke Dekker. Tentunya, membicarakan proyek.
Affa: Dekker. Di lab?
Dekker: Iya mas. Ada apa ya?
Affa: Perlu orang buat proyekan. Kamu mau ga?
Dekker: Proyek apa mas? Kalau aplikasi sih boleh aja.
Affa: Aplikasi. Aku perlu bantuan buat polishing aja kok, gak dari nol. Ini sudah ready sebagian besar. Deadlinenya senin.
Dekker: UI UX atau fungsional?
Affa: UI UX.
Ya. Setelah bergelut tadi malam sampai subuh, aku selesai dengan fungsionalnya. Namun, kualitas antarmukanya masih berantakan.
Dekker: Boleh lah mas. Bisa kalau gak terlalu banyak.
Affa: Oke. Aku ke kampus sekarang.
Dekker: Sampean sudah rehat belum mas? Seingat saya mas kan lembur kata anak-anak.
Affa: Biasa aja.
Meskipun aku sebenarnya sedikit mengantuk. Tidak apa. Aku masih bisa membawa motor tanpa oleng. Aku pun menutup pesan itu. Waktunya untuk berangkat kembali ke kampus.
“Kamu yakin pesan ke anak tekkom itu?” tanya temanku saat kelompok mata kuliahku berkumpul. Aku menganggukkan kepala. Setidaknya, meskipun aku jarang berinteraksi dengan laki-laki yang aku kenal awalnya dari sebuah komunitas kepenulisan.
“Kenapa yakin sih, Aristy?” tanya temanku yang lain. Bukan apa, cuma semenjak dua tahun lalu dia jadi satu dari dua orang yang sering aku rujukkan. Aku tersenyum.
“Sebenarnya sudah kenal sama Affa semenjak dulu sih. Gak akrab, cuma dia tipikal yang pasti selesai,” jawabku sekenanya, “lagipula, dia kasih kompensasi juga. Padahal dia sendiri bilang itu harga aslinya satu juta,” lanjutku.
“Heh. Kamu gak bilang apa-apa lho Aristy!” balas teman-temanku terkejut. Mungkin fakta bahwasanya Affa ternyata salah satu orang yang sering terlibat proyek kampus sudah terdengar di kalangan mahasiswa yang mengambil teknopreneur, dan kualitas kerjanya sudah pasti. Tapi, juga rahasia umum kalau dia letakkan harga tinggi.
“Ya kan yang penting beres. Lagipula kita juga sudah selesai sama BMS nya dan siap presentasi,” komentarku lagi seraya menunjuk ke kertas yang ada di meja. Kertas yang berisi rancangan bisnis kelompok ini.
“Ya pas situ bilang pembuat aplikasinya minta BMS nya beres ya gupuh semua. Kan situ sendiri yang paling ribut,” komentar salah satu anggota yang lain. Ya, aku juga yang akhirnya garap sebagian besarnya. Dasar nyebelin kalian.
“Kalau lamban dia bisa kerjain milik orang malah. Dia kasih slot satu soalnya dia kenal aku,” komentarku sekenanya. Teman-temanku hanya diam, tidak terlalu membicarakannya lebih lanjut.
“Ini sudah beres kan buat presentasi selasa?” tanyaku. Semua menganggukkan kepala.
“Kalau begitu, aku pulang dulu,” ucapku seraya berdiri dan pamit.
Saat aku berjalan ke motor milikku, ada pesan yang masuk.
Affa: Aplikasinya bisa siap besok. Kira-kira mau diambil lebih cepat atau tetap senin? Aku takutnya senin ada urusan sama dosen.
Aristy: Besok deh kalau begitu Fa.
Affa: Aku kirim saja lewat sini ya, biar situ gak perlu ribet keluar.
Aristy: Tau amat kalau aku gak suka ketemuan.
Affa: Iya iya. Jangan lupa pembayarannya. Aku tunggu maksimal besok.
Aristy: Oke. Siang ini aku transfer.
Ya, pembayaran 400 ribu yang disepakati. Aku masih heran kenapa dia mau memotong sampai 60 persen. Yang aku tahu, bikin aplikasi seperti yang dibuat kelompokku ini tidaklah mudah.
Aku beranjak pergi menuju ATM terdekat. Memang, kuliahku lebih mudah karena beasiswa, tapi pengeluaran diluar uang kuliah seperti ini mengganggu keuanganku. Aku memasukkan kartuku ke ATM. Pin keamanan aku ketikkan.
Aku membuka ponselku, mengetikkan nomor rekening yang Affa berikan. Setelah itu, aku masukkan angka 400 ribu ke jumlah uang yang dikirimkan dan aku konfirmasi. Sebuah struk keluar dari mesin ATM. Aku foto struk itu.
Aristy: [Foto] Ini struknya. Aku tunggu ya.
Affa: Iya. Makasih.
Bicara soal Affa, dia bukan penulis novel seperti Shadox. Dia hanyalah penulis biasa, yang seenggaknya dia bilang sendiri pemula, dan mencoba meluangkan sebagian waktu luangnya untuk menuliskan sebaris kata setiap harinya. Di komunitas sendiri, dia termasuk cukup aktif, tapi lebih kepada mendengarkan keluh kesah anggota lainnya dengan drama kehidupan.
Dan tentu saja, mendengarkan keluh kesah bisa menjadi masalah berkepanjangan. Aku tidak tahu, tapi seenggaknya beberapa anggota lainnya yang aku kenal di grup itu sudah suka dengan dia. Aku tidak terlalu peduli, dan aku juga tidak tertarik untuk akrab dengan dia.
Ayolah, aku tidak paham mengapa mereka tertarik dengan si dingin yang responnya lebih lambat daripada panda bangun kalau gak ada uang terlibat. Dia hanya berbicara singkat dan sangat irit kalau tidak ada kepentingan.
Selesai dengan semua urusan kuliah bisnis ini, aku memutuskas untuk kembali ke kos aku tinggal. Tidak ada juga yang ingin bertemu toh. Selain itu, tugas arsitektur tidak akan diam sendirinya, kan?
Sisa siang itu aku gunakan sepenuhnya untuk mengerjakan pembuatan desain arsitektur. Jika berbicara soal ibadah, aku sedang berhalangan. Bahkan, sore pun ku pakai untuk mengerjakan desain, sebegitu banyaknya tugas dari kampus.
Sebuah notifikasi masuk di ponselku. Isinya adalah beberapa anggota komunitas ribut di grup lagi. Bukan hal baru untuk terjadi lagi, dan konyolnya, ini tentang Affa lagi. Menyebalkan memang, apalagi kala orang-orang yang masih belum dewasa meributkan hal-hal seperti cinta.
Affa: Bisa gak kurangin ributnya!?
Oke. Aku melihat pesan itu lewat di ponselku. Baru pertama kalinya Affa sampai berkomentar demikian.
Affa: Aku gak tahu kenapa kalian suka banget sih ribut soal aku. Tapi tolong ya, jangan spam. SATU MINGGU SAJA KEK ATAU SAMPAI BUG SOUND LAPTOP BERES. Kalau ini aplikasi gak ngebug patch nya kemarin di laptop, tenang idupku kek biasa.
Lele: Tombol mute aja bang. Biar gak ke spam.
Affa: Bugnya di tombol mute Lele. Gak bisa dipake. Ke silent semua chatku di laptop.
Lele: Baru tau ada bug gitu.
Affa: Gak paham dah kerjaan vendor. Mentang-mentang ini aplikasi dalam negeri, seenak udel bikin bug. Sudah aku kirim beberapa jam lalu laporan bugnya.
Aku hanya membaca semua pesan itu.
“Tumben,” komentarku. Tidak biasanya Affa sampai seperti itu. Si dingin itu tidak akan berkomentar umumnya, dan sepertinya melakukan mute terhadap grup kepenulisan. Dia datang hanya kala dia punya waktu.
Affa: Kalau gak aku keluar dulu deh sampai ini bug beres.
Dan beberapa pesan berikutnya seperti pintaan supaya dia tidak keluar. Aku memutar bola mataku malas. Gak kehidupan nyata, gak grup, semuanya drama. Aku memutuskan untuk mandi sore dulu. Terlalu melelahkan berurusan berjam-jam dengan desain arsitektur.
Selesai mandi dan mengganti pakaian, sebuah notifikasi masuk.
Affa: [Mengirim File] Ini APK nya. Bisa dicoba dulu. Kalau ada kendala tolong dikabarin. Kalau bisa besok sudah masuk apa aja isunya. Aku perlu waktu soalnya kalau ngebenerin biar senin sudah siap.
Aku membuka seluruh percakapanku dan Affa, yang isinya hanyalah tentang beberapa pertanyaan terkait tugas waktu SMA dulu.
Aristy: Aku dan tim coba dulu. Makasih Fa.
Aku mengunduh file yang dikirimkan oleh Affa. Tidak berat untungnya. Setelah dua menitan, unduhan selesai. Aku pun meneruskan file itu ke anggota lainnya.
Aristy: [Mengirim File] Dicek dulu.
Aristy: Kalau ada masalah, segera bilang. Ditunggu sama orangnya.
Aku yakin mereka akan perlu waktu untuk memeriksanya. Aku sendiri masih perlu menyelesaikan sisa dari tugas arsitekturku.
Aini: Kak Aristy!!!!
Aini: Kak Aristy on gak kak?
Aini: Aini mau curhat dong kak ☹
Notifikasi itu muncul di ponselku. Aku menghela nafas berat. Ini sepertinya akan menjadi hari yang panjang. Dan aku berharap aku tidak makan hati karena kesal dengan panjangnya hari ini.