Bab 2

Tsabit mengayuh sepedanya ke sekolahan, dari depan gerbang Tsabit melihat gurunya itu sedang berbicara dengans eseorang yg berpakaian rapi. Namun ketika Tsabit memarkirkan sepedanya, tamu gurunya terlihat sudah masuk ke mobil dan bergegas meninggalkan halaman sekolah.

"Siang pak, apa saya terlambat?" Tsabit menyapa gurunya.

"Kamu tidak terlambat, namun beliau yg memajukkan jadwalnya. Maaf Tsabit, mereka membatalkannya. Bapak harap akan ada kesempatan yg lainnya untukmu." Gurunya kemudian berlalu meninggalkan Tsabit yg masih berdiri di pintu masuk sekolah itu.

"Iyaa pak, gak apa-apa," jawab Tsabit pelan.

Tsabit tak berniat untuk segera pulang, pria muda ini memilih duduk sejenak di taman halaman sekolahnya sambil melihat sekilas beberapa adik kelasnya yg sedang bermain bola basket.

"Heyy,, kak Tsabit, ayo bermain dengan kami." Seru seorang adik kelasnya yg bernama Heru .

"Lanjutkan saja, lagi malas nich." Jawab Tsabit sambil tersenyum.

"Wahh, pandai sekali kamu berbohong yaa,, sudah jelas kamu sedang patah semangat masih saja berbohong pura-pura malas." Suara Gllen terdengar jelas di belakangnya.

Tsabit membalikkan badannya dan benar saja Tsabit melihat Gllen dan gengnya telah berdiri disana.

"Mau kemana?" Gllen dengan tatapan kemarahannya bertanya pada Tsabit yg berlalu begitu saja darinya.

"Minggir, kita tidak ada urusan jadi jangan halangi lagi jalanku." ucap Tsabit pelan.

"Hebatnya,, pemuda yatim piatu saja banyak tingkah, kau fikir kenapa mereka membatalkan perekrutanmu tadi hahh?" Gllen mengejek Tsabit dengan mata liciknya.

"Apa masalahmu denganku." Tsabit masih terus mempertanyakannya pada Gllen.

"Masalahmu adalah kau yg selalu lebih depan dariku, dan itu mmebuatku muak. Tapi sepertinya selesais ekolah ini jalanmu yg akan semakin tertinggal dibelakangku. Benar begitu bukan." Gllen kembali menyeringaikan senyumnya pada Tsabit.

"Itu bukan urusanku. dan sungguh aku tak peduli." Tsabit menjawab sambil melangkahkan kaki menuju sepeda onthelnya di parkiran.

"Baiklah, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melanjutkan studimu di bangkukuliah dan bahkan kau tidak akan pernah diterima bekerja di seluruh kota ini." Gllen mengatakannya sambil terbahak-bahak.

Tsabit tak mempedulikan semua perlakuan Gllen, kini dirinya berfikir bagaimana caranya untuk dapat bekerja dan menghasilkan uang sehingga dia bisa mandiri dan bahkan bisa membantu panti yg telah membesarkannya selama ini..

Tsabit telah tiba di panti, namun pemandangan yg dilihatnya sangat tak bisa dimengerti. Kaca-kaca pecah, benda benda berserakan, bahkan ruang tamu juga begitu berantakan tak karuan, di ruang tengah semua sedang berkumpul dengan wajah yg dipenuhi ketakutan. beberapa adiknya yg masih kecil bahkan menangis tersedu. Sementara Ibu Lilis dengan tenang menggendong adik bayi mereka yg baru berumur dua bulan itu.

"Apa yg terjadi Bu?" Tsabit bertanya.

"Tidak tahu nak, tiba-tiba saja beberapa preman meringsek masuk dan merusakkan semuanya. Mereka juga mengambil semua uang kita." Ibu Lilis kemudian menangis tersedu membayangkan betapa kesulitan akan mereka hadapi kedepannya setelah preman preman itu mengambil semua uangnya.

"Gepp"

Tangan Tsabit seketika mengepal, hawa dingin menyeruak memenuhi tubuhnya. Untuk pertama kalinya Tsabit merasakan kemarahan yg luar biasa besar ketika melihat pengasuh dan adik-adiknya kini menderita.

Tsabit melangkah keluar panti, kemudian mengayuh sepedanya menuju sebuah kafetaria. Tsabit yakin jika Gllen adalah orang yg bertanggungjawab untuk semua ini.

"Dimana Gllen?" Tsabit yg melihat teman-temannya tengah berkumpul di sebuah meja segera menanyakan Gllen pada mereka.

"Disana?" Ardi menjawab sambil menunjukkan tangannya ke sebuah meja di pojok ruangan.

Tsabit kemudian mendekati tempat duduk Gllen yg ditunjukkan Ardi itu.

"Brraak"

"Jangan pernah mengganggu keluargaku! atau kau akan membayarnya dengan mahal!" Tsabit menggebrak meja dan mengancam Gllen.

"Hmmhh," Gllen tersenyum sinis menjawabnya.

"Bukk,,Bukk"

Seseorang memukul punggung Tsabit bertubi tubi dengan sebuah tongkat. Tsabit kemudian terhuyung dan nyaris roboh di lantai, namun dua pasang tangan kekar segera menopang tubuhnya.

"Plakk, Plaak"

Dua tamparan keras dari Gllen mendarat di wajah Tsabit.

"Bukk"

Bogeman mentah Gllen kemudian mendarat sempurna di batang hidungnya membuat Tsabit mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Mata Tsabit berkunang-kunang dan langit terasa semakin gelap. Tsabit kehilangan kesadarannya.

Langit telah berganti malam ketika Tsabit tersadar dan membuka matanya.

"Anda sudah sadar Tuan Muda" Seseorang berpakaian rapi menyapanya.

"Siapa, dan dimana aku?" Tsabit balik bertanya.

Tsabit belum mendapatkan kesadaran penuhnya, dia melihat ruangans erba putih yg sangat luas, dan dia sama sekali tidak mengenal tempat inis eidkitpun.

Tsabit merasakan tubuhnya yg kesakitan dan terasa lemah. Sebuah jarum infusan bahkan menancap di pembuluh darah tangan kanannya. Tsabit beranjak untuk duduk, namun tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun, sleuruh sendinya terasa kaku. Tsabit mulai mengingat kejadian yg terakhir dilakukannya. Gllen, saat itu dirinya menemui Gllen di kafetaria. Tsabit melihat sebuah almanak harian yg terpasang didinding, tanggal tujuh belas juni, seingatnya hari itu masih di bulan mei tepatnya di tanggal dua puluh lima mei.

Tsabit terhenyak tak percaya, angka tahunnya almanak itu sama namun tanggalnya sudah berubah sangat jauh dari tanggal terakhir yg diingatnya. Tsabit menghela nafas panjang, dirinya mulai memikirkan kejadian di sepanjang tanggal yg hilang dari ingatannya itu.

"Ceklek" pintu terbuka, terlihat dua orang masuk menghampirinya.

"siapa kalian?" Tsabit kembali bertanya, namun lagi-lagi tak ada jawaban.

Hanya melihat Tsabit sebentar dan kedua orang itu kembali meninggalkannya. Tsabit merasa jenuh saat ini, hingga langit menggelantungkan warna jingga, tak ada siapapun yg menemuinya lagi. Tsabit sendirian di kamar besar itu. Fikirannya berkecamuk dan terus mengingat semua orang di panti yg pasti sangat mengkhawatirkannya saat ini.

Tsabit terus berusaha mencari tahu dimana lokasinya saat ini, namun usahanya tak berhasil sedikitpun. Bahkan ketika pandangannya menelisik keluar jendela, semua pohon pohon yg dilihatnya itu sama sekali tak dikenalinya. Sudah dipastikan jika kini Tsabit berada di tempat yg belum pernah dijejakinya seumur hidupnya.

"Ceklek"

Seorang perawat datang membawakan setrolli makanan untuk Tsabit.

"Nyonya, apakah anda tahu kita dimana?" Tsabit bertanya dengan sangat pelan pada perawat didepannya itu.

Namun perawat itu hanya membalasnya dengan senyuman saja, matanya berbinar menatap Tsabit dengan penuh perhatian. Tsabit yg sudah kelaparan sejak tadi, sama sekali tak menolak ketika perawat paruh baya itu menyuapinya makan.

Tak ada suara sedikitpun, hanya dentingan sendok yg terdengar di ruangan ini. Tsabit semakin bosan, dalam hatinya terus bertanya kenapa semua orang disini terus bungkam dan membisu setiap kali ditanyainya.

Hari berganti hari, sudah seminggu sejak Tsabit sadar namun maish tidak ada satupun orang yg bicara dengannya. Dari papan anam Tsabit mengetahui semua nama perawat dan pelayannya itu, namun interaksi sosialnya sangat nol. Tsabit mengutuki dirinya sendiri yg bisa terjebak di tempat asing ini.

Hari kedelapan Tsabit berada di ruangan asing ini, tak pernah sekalipun Tsabit bisa keluar dari kamarnya. Seluruh pintu dan jendela terkunci dengan sangat kuat. MEskipun jarum infus sudah dilepas beberapa hari yg lalu, namun Tsabit hanya bisa berdiam diri saja di kamarnya.

Bersyukurnya, perawat dan pelayan yg menjaganya itu memberikan beberapa judul buku yg cukup menarik baginya. Puluhan buku menjadi santapan kebosanannya. Tsabit tak mengeluhs edikitpun, baginya sudah cukup terbiasa untuk didiamkan dan seolah dianggap tak ada oleh orang. Hidupnya yg besar di panti asuhan membuatnya bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini. Masih ada orang yg memberikannya makan adalah sebuah keberuntungan baginya.

Tsabit semakin beradaptasi dengan baik dan mulai menerima kenyataan ini. Entah apapun alasannya Tsabit yakin jika esok atau lusa akan ada jawaban atas semua yg dialaminya ini. Tsabit berdamai dengan keadaan dan mulai menikmati setiap harinya di kamar ini.

***********************

Lanjut baca dan jangan lupa simpan ke rak ya

Bab 3

Pagi ini, Tsabit telah berganti pakaian. Perawatnya memberitahu jika dia kini harus segera pergi ke suatu tempat. Dengan tenang Tsabit menikmati sarapannya. Hampir dua minggu berada di kamar telah menguras habis seluruh kewarasan hidupnya. Itulah kenapa saat dikabarkan akan berangkat ke suatu tempat, Tsabit merasa sangat bersemangat.

"Tuan, mari berangkat." perawat yg tidak diketahui namanya itu mengajak Tsabit keluar dari kamarnya.

"Baik" ucap Tsabit sambil bangkit dari duduknya.

Tsabit menyusuri koridor di luar ruangan ini menuju halaman depan rumah besar ini dimana sebuah mercedesmaybach hitam telah menunggunya.

"Selamat pagi Tuan Muda." seorang berpakaian supir dengan stelan resmi khas pengemudi keluarga kelas atas itu menyapa Tsabit dengan sopan sambil membukakan pintu belakang.

"Pagi," Tsabit memilih tak mengeluarkan banyak kalimat. Bagaimanapun dalam hatinya dia masih belum mengerti dengan semua perlakuan yg selama ini diterimanya.

"Tuan Muda,"

Seseorang memanggil Tsabit seraya mengetuk kaca jendela mobilnya, Tsabit kemudian segera membukakan pintunya.

Seorang pria paruh baya yg selama ini mondar mandir ke kamarnya itu kemudian masuk dan duduk di sebelah Tsabit. Mobil kemudian melaju menjauhi halaman rumah yg sangat luas itu. Jalanan berkelok semakin tak bisa dikenali oleh Tsabit, entah mereka menuju kemana Tsabit tak tahu. Tsabit memilih berdiam disepanjang perjalanannya.

Perjalanan sudah semakin jauh, ketika tiba tiba saja mobil yg ditumpanginya itu oleng ke bahu jalan.

"Braaakk"

Pagar pembatas jalan roboh dihantam mobil yg melaju dengan kecepatan tinggi itu.

"ARrrgghhh"

"Tuan Mudaaa"

"Tidaak"

MercedesMaybach itu menghantam pembatas jalan dan terperosok ke dalam jurang yg curam. Tsabit dan dua orang didalamnya dipastikan tak akan selamat dari kecelakaan itu.

*******************************

"Tsabit, bantu ibu nak." suara parau ibunya memanggil membuat Tsabit bergegas menghampirinya.

"Ibu kenapa? " tanya Tsabit.

"Sebentar lagi bos kebun teh kita akan datang. Jadi tolong bawakan ini ke aula gedung tua disana dan bantu yg lainnya membersihkan gedung ya." ucap Ibu Tini pada Tsabit.

"Baik " jawab Tsabit singkat.

Sudah dua tahun Tsabit berada di pemukiman sederhana di pegunungan ini. Tsabit yg hanyut di sungai sesaat setelah mobilnya kandas di dasar jurang itu kemudian terdampar puluhan kilometer dari tempatnya kecelakaan dan diselamatkan wanita tua bernama Sutini yg kini menjadi ibu angkatnya itu. Tsabit merasa sangat betah berada di desa terpencil ini, meskipun seringkali kerinduan menghanyutkannya dalam kegelisahan. Namun Tsabit tak berniat sedikitpun untuk kembali pada kehidupanny sebelumnya. Akses transportasi dan komunikasi di desa ini sangat sulit didapatkan. Ditahun semodern ini bahkan listrikpun mereka belum memilikinya. Puluhan kepala keluarga yg tinggal di desa ini masih hidup dengan sederhana dan jauh dari tekhnologi. Namun jangan meragukan tentang kesehatan masyarakat disini yg begitu sehat meskipun tak terjamah pengobatan modern. Gaya hidup masyarakat yg masih tradisional dengan pola makan dan istirahat yg teratur membuat kualitas hidup masyarakat disini sangat bagus. Kehadiran Tsabit semakin menambah baik kualitas masyarakatnya, karena sejak setahun setengah ini Tsabit memutuskan untuk menjadi pengajar bagi anak anak di desa ini yg memang kesulitan mengakses pendidikan resmi dari pemerintah. TSabit sangat menikmati hari-harinya di desa ini.

"Kak Tsabit, kita belum belajar hari ini." seorang anak lelaki menyapanya.

""Maaf yaa kakak hari ini sangat sibuk membantu persiapan penyambutan tamu, jadi besok setelah selesai acara ini kakak akan tambahkan waktu belajarnya. Gimana?" Jawab Tsabit membuat anak laki-laki itu mengangguk penuh semangat.

Tsabit kemudian melanjutkan langkahnya menuju Gedung berwarna serba putih yg berada di tempat teratas desa ini. Sebuah Gedung tua yg sangat megah berdiri kokoh konon sudah puluhan tahun lamanya.

Hari ini adalah hari istimewa untuk seluruh warga desa dimana setiap dua tahun sekali pada tanggal lima belas bulan juli, Tuan Tanah mereka akan datang berkunjung kesana.

Ini akan menjadi hari penting juga untuk Tsabit, karena hari ini adalah tepat dua tahun juga Tsabit menginjakkan kakinya di desa ini.

Mentari sudah mulai menyengat, meski udara disini tetap sejuk disiang hari. Namun surya tetap memiliki caranya untuk menunjukkan dominasinya. Tampak dikejauhan sebuah mercedesmaybach melaju menaiki jalanan berkelok menuju ke desanya. Tsabit kemudian memberikan kode jempol pada beberapa pria yg juga menunggui kabar itu.

"Tsabit, nanti kamu juga kenalan dengan tuan tanah kita yaa," ucaps eorang pemuda padanya.

"Baiklah," jawab Tsabit seraya tersenyum.

Hanya beberapa menit kemudian, mobil hitam itu telah terparkir di halaman gedung tua. Tak berapa waktu kemudian turun seorang pria paruh baya dari dalam mobil itu.

"Selamat Datang Tuan Mahendra" ucap tertua desa menyambut pria itu.

"Apa kabarmu Hasan?" pria yg disebut Mahendra itu bertanya kemudian.

"Berkat anda kami semua sangat baik Tuan." jawab Hasan sambil mempersilahkan Mahendra masuk.

"Siapa dia?" pertanyaan Mahendra membuat semua orang terkejut.

"Ohh, dia Tsabit anak angkat kami disini." ucap Hasan memotong sebelum Tsabit bersuara hendak menjawab Mahendra yg barusaja menyapanya.

"Tsabiit", mata Mahendra terus memandangi Tsabit tanpa kedip dan membuat Tsabit sedikit kurang nyaman.

Namun tak berapalama kemudain Mahendra berlalu mengikuti Hasan yg menjamunya didalam gedung.

Pertemuan itu terus berlangsung dengan sangat meriah. Banyak hal disuguhkan oleh masyaarakat desanya pada pria bernama Mahendra yg datang itu. Tsabit kemudian mengetahui dengan jelas betapa berharganya pria bernama Mahendra itu bagi warga desa. Bagaimanapun Mahendra telah mengijinkan mereka semua tinggal di tanahnya tanpa sedikitpun membayar sewa, bahkan Mahendra juga mengijinkan warga disana untuk mengelola seluruh aset kebun teh miliknya itu dengan percuma. Inilah kenapa warga desa selalu menyambutnya dnegan hangat dis etiap kedatangannya.

Hari mulai senja disaat Mahendra berpamitan.

"Hasan, aku hendak membawa anak angkatmu itu." ucap Mahendra pada Hasan.

"Tsabit maksudmu?" tanya Hasan kembali.

"Iyaa, jika kau ijinkan tentunya. Pria sepertinya pantas mendapatkan pekerjaan yg lebih layak di kota." Mahendra memaparkan.

"Baiklah, akan aku atur agar dia bisa menemuimu di kota." jawab Hasan.

"Aku ingin membawanya sekarang juga denganku." Mahendra memaksa.

"Sekarang, baiklah aku akan bicarakan dengan Sutini yg dua tahun ini mengurusnya." ucap Hasan sambil berlalu menemuis eorang wnaita tua yg sejak tadi duduk diujung gedung.

Setelah mendapatkan restu dari Sutini, HAsan kemudian meminta Tsabit bergegas untuk bersiap mengikuti Mahendra ke kota. Tentu saja Tsabit sangat terkejut, apalagi anak-anak yg menjadi muridnya yg kini menangisi kepergian guru mereka itu.

"Nanti kakak akan berkunjung kesini jika senggang ya." Tsabit berjanji kepadan anak anak dihadapannya sambil berpamitan.

Setelah berpamitan pada Sutini, Tsabit kemudian berjalan ke arah Mahendra yg menunggunya.

"Ayo, sudah mau malam" Mahendra kemudian menarik lengan Tsabit menuju mobilnya.

"Baik".

Dengan hati penuh tanda tanya, namun juga dengan harapan penuh yg kembali mengisi jiwanya Tsabit berharap keberuntungan hidupnya akan segera terwujud dengan perjalanannya kali ini. Setelah berulangkali terpisah dari orang-orang yg menyayanginya, Tsabit berharap jika saat ini akan menjadi awal hidupnya yg baru. Tsabit sangat ingin membahagiakan orang-orang yg telah melindunginya.

Sedangkan disebelahnya, Mahendra kembali mengingat kejadian nahas dua tahun lalu yg telah membuatnya kembali kehilangan puteranya. Ketika mendengar nama anak angkat di desa kecil itu bernama Tsabit, entah suatu kebetulan atau bukan, namun nama itu membuat perhatian Mahendra sedikit lega, kini setelah Tsabit berada disisinya. Mahendra hanya tinggal memastikkan kebenaran apakah Tsabit adalah puteranya yg hilang dari kecelakaan dua tahun silam itu atau bukan.

Jalanan panjang menuju kota Yoza memerlukan banyak waktu untuk menempuhnya. Dua pria yg kini duduk berdampingan itu masih hanyut dalam benaknya masing-masing. Tak ada obrolan sedikitpun diantara keduanya. Begitu pula pengemudi yg tetap fokus dengan setirnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED