Bab 2

“Mr. Raymond, Anda memiliki beberapa panggilan beruntun dari Miss Cecilia.”

Albert menjatuhkan pena di tangannya dengan muak, lalu menatap bawahannya dingin. “Maurice, kau berani mengganggu pekerjaanku dengan alasan setidak penting itu.”

Maurice, sekretarisnya, menunduk dalam. “Maafkan saya, Sir, tapi seperti yang saya katakan, panggilannya datang secara beruntun sedari tadi, jadi saya berpikir mungkin ada hal penting yang ingin Miss Cecilia bicarakan.”

“Keluar!” titah Albert dengan dingin.

“Ya, Sir.” Maurice langsung keluar dari ruang kerjanya.

Setelah itu, Albert melepas kacamatanya, menghempaskannya ke meja, lalu memijat pangkal hidungnya sambil menahan rasa pening di kepala dan matanya yang terasa lelah.

Dia baru saja memutuskan hubungan dengan kekasihnya yang telah menjalin hubungan dengannya selama lima hari. Lima hari yang sama sekali tidak berarti. Albert memutuskan wanita berambut pirang itu sesaat setelah dia menyinggung masalah keseriusan hubungan mereka.

Albert tidak butuh dan tidak menginginkannya sedikit pun.

Hubungannya bersama kekasih-kekasihnya selama ini hanya sebatas seks saja, tidak pernah lebih dari itu. Albert sebagai pria yang prima tentu saja memiliki gairah yang besar. Dan kontrol dirinya nyaris sama besar dengan gairah yang ia miliki itu. Tapi untuk apa dia menahan-nahan diri di saat perempuan-perempuan itu melemparkan diri mereka padanya secara sukarela? Albert tentu saja menyambutnya dengan tangan terbuka, selama yang perempuan-perempuan itu inginkan sama seperti yang Albert juga inginkan. Bahkan juga tidak lupa, Albert menghadiahi perempuan-perempuan itu dengan pakaian dan perhiasan-perhiasan mahal.

Selama empat tahun belakangan, Albert tidak pernah kesusahan untuk menyalurkan gairah seksnya. Dan semenjak kejadian yang membuatnya tidak lagi memandang tinggi kaum perempuan, nama Albert merebak sebagai playboy incaran banyak wanita.

Dan memang benar, dia adalah seorang billionaire playboy, bahkan setelah menyandang status sebagai suami pun, kelakuannya masih sama, dan Albert pun tidak berniat mengubahnya. Terlebih, setelah mengetahui kelakuan istrinya yang super dingin dan sama sekali tidak menaruh perhatian padanya, tekad Albert semakin kuat untuk bermain-main.

Albert menikahi Sophia semata-mata untuk keperluan bisnis yang ayah gadis itu tawarkan padanya. Bisnis dengan keuntungan yang tidak bisa diabaikan. Dan sepertinya, Louis Abraham juga berpikir hal yang sama.

Ketika ayah gadis itu memberikannya si anak bungsu sebagai bentuk pertalian erat perjanjian mereka, Albert tidak menolak. Dibanding kedua kakaknya, Sophia jauh lebih tertutup dan pendiam. Kriteria yang sangat cocok dengan Albert, karena dengan itu dia tidak akan menuntut apa pun seperti perempuan-perempuan yang selama ini bersamanya.

Albert sempat berpikir untuk serius pada pernikahannya, namun setelah malam pengantin mereka di mana Sophia menolaknya secara mentah-mentah, Albert langsung berubah pikiran. Terlebih, setelahnya Sophia tampak tidak peduli dengan apa pun yang Albert lakukan.

Si gadis manja yang sombong, itulah yang Albert pikirkan.

Albert bahkan terkadang lupa bahwa dia tidak sendiri tinggal di rumah. Karena Sophia lebih sering mengurung diri di kamar. Sehingga Albert merasa bahwa kehidupan pernikahannya tidak jauh berbeda dengan masa lajangnya. Sophia sedikit pun tidak berniat melakukan tugasnya sebagai istri, begitu pun dengan Albert. Maka status mereka hanya tercatat di secarik kertas, tidak lebih dari itu.

Malam ini, setelah berhasil keluar dari segala kesibukan pekerjaan, Albert pulang ke rumahnya, di malam Jumat seperti biasa. Dia mendapati keadaan rumah yang sepi dan sunyi. Padahal dari laporan pegawai rumahnya, Sophia tidak pernah keluar kemana pun semenjak pesta itu.

Apa yang perempuan itu lakukan di kesehariannya?

Albert memang tidak terlalu peduli, hanya penasaran.

Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri di dalam. Albert melonggarkan dasinya, melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Setelah itu, dia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.

Tatapannya menatap langit-langit kamar, pada coretan-coretan cat yang abstrak. Namun, setelah lama berbaring, Albert tidak kunjung merasa kantuk. Napasnya semakin berat dan dia bangkit untuk menaikkan suhu ruangan. Setelah itu, Albert berbaring, dengan selimut yang ia hamparkan menutupi tubuhnya.

***

Pada Jumat pagi, Sophia keluar dari kamarnya untuk sarapan. Sejenak, dia berhenti di depan pintu kamarnya, menoleh ke kiri, pada pintu cokelat tua yang tertutup rapat. Lalu Sophia melanjutkan langkahnya lagi dan menepis pemikiran tidak perlu di kepalanya.

Albert hanya memperkerjakan satu pengurus rumah, Mrs. Florence, atau Dana. Saat ini, wanita paruh baya itu tengah memasak sarapan di dapur. Sophia pernah berkeinginan untuk membantunya dalam hal memasak dan bersih-bersih, akan tetapi dia tidak pernah berhasil melakukan semuanya dengan benar. Dia tidak bisa memasak. Dia juga tidak bisa bersih-bersih.

Sophia menoleh ke arah tangga, pantas saja Albert tidak pernah menganggapnya, dia tidak cocok menjadi istri. Sophia sangat sadar diri pada kekurangannya itu yang terkadang menjadi sangat memuakkan. Tidak peduli sekeras apa dia mencoba, Sophia tidak pernah bisa melakukannya. Ditambah juga dengan perilaku Albert yang sama sekali tidak mencerminkan seorang suami, melenyapkan motivasi Sophia untuk menjadi seorang istri yang baik.

Sekarang, sembari menunggu Dana selesai membuatkannya panekuk, Sophia membaca artikel berita terkini dan mendapati sebuah berita mengenai tandasnya hubungan Albert Raymond dengan selingkuhannya.

Berita tidak penting, dengus Sophia dalam hati. Namun, dia tidak bisa menyingkirkan perasaan lega di dadanya yang muncul begitu saja setiap kali berita sejenis ini muncul. Akan tetapi, hal itu tidak cukup mampu untuk membuatnya berharap terlalu tinggi. Albert tetaplah Albert. Dalam beberapa hari lagi, gosip dirinya yang telah menggandeng wanita baru akan keluar. Anehnya, berita tidak penting itu, tetap dimuat pada halaman gosip untuk kaum wanita yang dipenuhi rasa penasaran oleh sosok Albert Raymond, si playboy yang paling diminati.

“Kenapa kau membaca berita semacam itu sepagi ini, Dear? Jangan merusak harimu dengan bacaan-bacaan tidak bermutu seperti itu,” komentar Dana yang telah meletakkan sepiring panekuk berlumur sirup bluberi dan segelas jus tomat segar di hadapan Sophia.

Sophia hanya tersenyum membalas ucapan Dana itu. Dia memotong panekuknya dengan garpu dan mulai menyuapkan potongannya ke mulut. “Apa semalam dia pulang?” tanya Sophia, tidak bisa menghentikan rasa penasarannya.

Dana mengangguk sembari berbalik merapikan peralatan masak. “Dia sepertinya pulang pada larut malam,” katanya.

“Hmmm,” sahut Sophia, menyuap potongan yang lain dari panekuk yang lezat itu, lalu menyeruput jus tomat kesukaannya.

“Tumben sekali dia belum keluar di jam segini.” Dana bergumam sembari menoleh ke arah tangga.

Sophia mengedikkan bahu, seolah tidak peduli, padahal di dalam di pun juga bertanya-tanya. Biasanya, Albert sarapan lebih dulu darinya, mungkin untuk menghindar dari keadaan canggung yang tidak mengenakkan. Karena itu juga, Sophia sengaja mengundurkan waktu sarapannya menjadi sedikit lebih siang.

“Apa dia baik-baik saja?” gumam Dana.

Dia baik-baik saja, batin Sophia yakin, terlalu yakin sampai dia nyaris terkekeh oleh ironi. Karena tidak mungkin, kan, seorang Albert Raymond menjadi tidak baik-baik saja hanya karena kandasnya hubungannya dengan sang kekasih gelap?

“Sebentar lagi aku harus pergi, aku memiliki janji dengan suamiku untuk mengambil tomat-tomat segar yang telah dipanennya. Apakah kau mau mengantarkan makanan ke kamar Albert, Dear?”

Sophia menghentikan kunyahannya sejenak, lalu mendongak menatap Dana dan menganggukkan kepala.

“Oh, baiklah, ini nampannya,” kata Dana. Tidak lama setelah itu, Dana pamit pergi.

Kemudian, Sophia selesai dengan sarapannya dan telah menghabiskan jus tomatnya. Dia bangkit dengan membawa nampan itu di kedua tangan.

Ketika sampai di depan pintu kamar Albert, Sophia sempat ragu sejenak. Namun pada akhirnya, dia mengetuk pintu itu perlahan, dan tidak ada sahutan.

Sophia mengetuknya sekali lagi, namun masih tidak ada sahutan. Apakah benar Albert semalam pulang? batin Sophia, mengetuk lagi dengan lebih keras. Masih tidak ada sahutan. Sampai pada ketukan keempat, pintu itu melayang terbuka, menampilkan sosok tinggi Albert berdiri di hadapan Sophia dan menatapnya dengan pandangan sayu.

Sophia mengernyit, menatap lelaki itu dari bawah sampai atas. Tubuh Albert yang tinggi sedikit membungkuk dengan sebelah tangan yang bertumpu pada kusen pintu. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat, bahkan dua kancing teratas baju tidurnya terbuka.

“Apa maumu?” tanyanya parau.

***

Bab 3

Sophia mengernyitkan dahi. “Kau baik-baik saja?”

“Ya. Dan kalau kau tidak ada kepentingan datang kemari, sebaiknya jangan menggangguku!” tukas Albert sebelum tangannya bergerak menutup pintu. Namun dengan cepat dicegah oleh Sophia dengan kakinya.

“Aku membawakanmu sarapan,” kata Sophia.

“Ah ya, bilang pada Dana bahwa hari ini aku sepertinya tidak akan turun untuk makan.”

Sophia tidak mau kalah ketika Albert hendak menutup pintu kamarnya lagi. “Ini sarapanmu!” tegas Sophia.

Albert menghela napas, menatap Sophia jengkel, lalu tangannya terangkat hendak mengambil alih nampan itu dari tangan Sophia, tapi Sophia malah menjauhkannya. Albert berdecak semakin kesal.

“Berikan—”

“Tanganmu,” Sophia memotong, menatap tangan Albert yang gemetaran, dia tidak akan mampu mengangkat nampan itu tanpa membuat isinya tumpah.

Albert sekali lagi menghela napas pasrah dan membuka pintunya lebih lebar. “Bawa ke dalam.”

Tanpa disuruh dua kali, Sophia masuk ke dalam kamar Albert dan sedikit terkesiap oleh aroma lelaki itu yang tercium sangat jelas di udara sekitarnya. Sophia mencoba untuk fokus dan menempatkan nampan itu di atas nakas.

Ketika Sophia berbalik, Albert duduk di pinggiran ranjang, menutup mata dengan napas sedikit memburu.

Sophia dengan refleks mendekat, lalu meletekkan telapak tangannya pada kening Albert. Albert tidak menolak, atau membuka matanya karena sentuhan Sophia itu.

“Kau demam,” kata Sophia.

Albert menyahutnya dengan gumaman, lalu tangannya terangkat menangkup tangan Sophia di wajahnya. “Tanganmu terasa dingin,” gumam Albert tidak jelas.

Sophia terkejut dengan sentuhan itu, secara refleks melepaskan tangannya. “Sebaiknya kau berbaring,” kata Sophia, mendorong dengan pelan bahu Albert agar lelaki itu berbaring kembali di ranjangnya.

Albert pasti sangat kesakitan sampai tidak menyadari apa pun. Bahkan ketika Sophia menyeka wajahnya yang berkeringat dengan tangan, Albert tampak tidak terganggu dan tetap menutup matanya. Padahal kalau dalam keadaan normal, Albert mungkin tidak akan sudi untuk disentuh olehnya.

Sophia kemudian pergi dengan nampan sarapan yang tadi telah dia letakkan di nakas.

Jika ada sesuatu yang bisa Sophia masak, itu adalah bubur. Kenapa? Sebab Sophia selalu gagal menanak nasi dan selalu menjadikannya bubur. Jadi Sophia membuatkan Albert bubur dan segelas susu.

Ketika kembali ke kamar lelaki itu, Albert masih berbaring pada posisinya semula. Sophia mencoba membangunkannya agar pria itu makan, lalu setelah itu minum obat. Namun alih-alih bangun, Albert malah mengernyit dan menggeram keras, lalu tangannya menepis nampan yang dibawa oleh Sophia sehingga semuanya berceceran di atas lantai.

Dengan mulut menganga dan mata melebar, Sophia menatap kekacauan itu lalu mendelik tajam pada Albert yang sepertinya tidak sadar pada apa yang telah ia perbuat.

Sophia menenangkan dirinya dan memilih untuk membersihkan lantai yang telah kotor itu dengan penuh kesabaran. Kecerobohannya membuat jari tangan Sophia luka oleh pecahan mangkuk, tapi Sophia bahkan tidak meringis dan lanjut membersihkan lantai itu sampai bersih.

Setelah selesai, Sophia mengambil baskom berisi air dan handuk kecil untuk mengompres Albert.

“Jika kau tidak sedang dalam keadaan sakit, aku tidak akan sudi melakukan semua ini,” gerutu Sophia, memeras handuk itu semakin keras, lalu meletakkannya pada dahi Albert. Melihat wajah tersiksa lelaki itu membuat Sophia semakin tidak tega. Namun perlahan, setelah beberapa kali kompres di dahinya, wajah Albert berubah tenang dan dia akhirnya tertidur.

Sophia dengan setia duduk di sampingnya, menatap wajah lelaki itu. Dalam keadaan damai seperti ini, Albert tidak terlihat seperti sosok suaminya.

Ingatan Sophia kemudian terlempar pada lima tahun silam.

Sophia ingat pada rasa sakit dan keputusasaan yang ia rasakan pada malam itu, sehingga nyaris menceburkan diri ke dinginnya air laut pada malam hari, jika saja Albert tidak datang menginterupsinya dan mengajaknya mengobrol.

Saat itu, Sophia tahu bahwa Albert tengah bosan dan hanya butuh teman mengobrol. Namun, karena saat itu Sophia juga ada di posisi di mana dia tidak pernah diajak mengobrol oleh siapa pun—atau bahkan dipedulikan, dia bahagia dengan kehadiran Albert.

Sophia datang bersama keluarganya, ayah dan ibu, serta dua saudari perempuan dan seorang saudara laki-laki. Akan tetapi, sekalipun Sophia ada bersama mereka, dirinya seolah tidak terlihat dan tidak dianggap.

Dan Sophia tahu alasannya.

Namun kehadiran Albert pada malam itu memberi arti lain pada diri Sophia. Albert mengajaknya mengobrol, bertanya banyak hal pada Sophia. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Sophia didengarkan.

Lalu sebelum berpisah, Albert memberikannya sebuah kotak kecil yang ia selipkan di saku jasnya. Ketika Sophia membuka benda itu, dia terhenyak untuk beberapa saat.

Itu adalah sebuah kalung berbandul bunga dandelion yang sangat cantik.

“Aku melihatnya di toko perhiasan dan langsung tertarik padanya,” kata Albert.

“Aku tidak tahu pria sepertimu memiliki selera pada perhiasan perempuan,” sahut Sophia dengan mata yang sudah berkaca-kaca ketika ujung jemarinya menyentuh bandul dandelion itu.

Albert tersenyum, senyumannya amat sangat memesona. “Ya, tadinya aku hendak memberikannya kepada seseorang yang kupikir spesial, tapi dia tidak cukup mencerminkan keberanian yang seharusnya dandelion miliki.”

Sophia menatap Albert. “Lalu kenapa aku?” tanyanya, menangis.

Albert mengusap air matanya dan tersenyum. “Karena kau hendak melompat,” jawabnya singkat.

Mungkin bagi Albert itu hanyalah sebuah bentuk perlakuan kecil pada seorang gadis kurus kerempeng yang jelek, pucat, dan dipenuhi keputusasaan—siap melompat kapan saja dari kapal. Namun bagi Sophia, perlakuan Albert itu memberi pengaruh besar pada hidupnya.

Sophia menyentuh dada, merasakan bandul dandelion itu menyembul di balik kaos longgarnya. Sampai saat ini, dia tidak pernah melepas kalung itu dari lehernya, membiarkannya selalu tersembunyi di balik setiap pakaian yang ia kenakan, karena Sophia tidak pernah ingin Albert melihatnya.

Kalung itu seolah menjadi bentuk kekuatan Sophia. Dandelion, yang berarti keberanian.

Sophia menatap wajah Albert dengan tatapan sendu, lalu mengusap rambutnya perlahan.

Begitu banyak hal yang berubah dari sosok pria ini sampai Sophia nyaris tidak mengenalnya lagi. Bahkan Albert tidak mengingat pertemuan mereka pada malam itu, di saat Sophia sudah tidak bisa lagi melupakannya.

Dan itulah … itulah kenapa, sekalipun sakit, Sophia memilih untuk bertahan dalam pernikahan ini.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED