Bab 2

Harus,  aku harus mencari pria asing itu, menanyakan apakah dia berbohong dan meminta pertanggung jawaban atas semua perkara ini. Karena dia aku bercerai  dengan Mas Dewo. 

"Kenapa kau meminta tidur dengan Mas Dewo, Ah?"

"Hah?" Aku tersentak,  Turinah menyadarkan aku dari lamunan dengan pertanyaan tidak masuk akal. 

"Aku tahu kau sangean tapi tidak gini juga kali," cerocosnya. 

"Eh, bege!" Aku usap wajahnya dengan kasar. "Siapa yang minta tidur?" 

"Lha, tadi. Dewo sampai teriak kamu minta ditiduri?" 

"Aku tidak meminta dia tidur denganku!" 

"Tapi jawaban Dewo itu seakan-akan kau tadi meminta dia menidurimu!" 

Aku hanya menghembuskan napas kasar, percuma menjelaskan, buang-buang tenaga. Biarkan saja mereka berpikir seperti itu, toh namaku sudah sangat buruk di kampung ini. Aku pun berjalan meninggalkan pesta yang mewah itu. Aku penasaran dari mana Mas Dewo mendapatkan uang untuk acara pesta, hingga aku bertanya pada Turinah. 

"Nah?" 

"Iya, apa, Ah?" 

"Kamu tau gak, Mas Dewo dari mana dapat uang untuk menyelenggarakan pesta?" 

"Aku dengar istrinya kaya dan dia juga membuat toko kelontong di kampung sebelah." 

Aku menghentikan langkah, duduk di tepi jalan dan Turinah ikut duduk. Bayangan itu kembali hadir, kupejamkan mata. Tidak kuasa aku memendam rasa sakit. Teringat kenangan bersama Mas Dewo dan mimpi kecil kita yang hanya ingin membuka toko kelontong. Mas Dewo selalu mengatakan itu setelah kita bercinta, bahkan aku sering bermanja-manja di dadanya yang berbulu. Hingga aku nekat berkencan dengan pria asing guna mewujudkan mimpi sederhana kita. Namun, jangankan terwujud aku bahkan kehilangan Mas Dewo untuk selamanya. 

    Aku mulai  meraba setiap kejadian yang terjadi tiga bulan lalu. Sangat aneh, karena pria asing itu tidak mungkin datang tiba-tiba dan mengajakku berkencan. Dan, istri baru Mas Dewo juga dari Jakarta? Apakah semua ini saling berhubungan? Banyak tanya yang bersarang di pikiran, hingga aku memutuskan untuk mencari tahu dan pergi ke Jakarta. Aku beranjak dari duduk dan meninggalkan Turinah yang sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana. 

 Esok pagi saat mentari baru saja datang menyapa bumi, aku sudah keluar rumah. Niatku hanya satu pamit pada bapak dan ibu.   Namun, rumah mereka masih sangat sepi. Sejak Mas Dewo menceraikanku dan dari sana ibu dan bapak sudah tidak sudi berbicara denganku. Meski rumah kita bersebelahan, mereka tak pernah keluar rumah saat aku berada di luar. Tidak bisa dibayangkan perasaan aku seperti apa dan tidak ingin pula aku membayangkan. Apalagi cemoohan orang-orang, aku mencoba abai. Hari ini memberanikan  diri mengetuk pintu rumah orang tuaku. 

"Assalamualaikum, Buk, Pak." Aku memanggil dengan mengetuk pintu tapi tak ada yang menjawab, apalagi membuka pintu. 

Merasa percuma, aku kembali ke rumah dan menuliskan sepucuk surat untuk aku berikan pada ibu dan bapak. Kukatakan pada mereka bahwa aku akan ke Jakarta dan membuktikan semua pada orang-orang kampung, bahwa aku tidak bersalah. 

Ya, aku akan mencari pria asing itu, meminta dia menjelaskan pada semua orang bahwa kencan itu atas izin Mas Dewo.  Setelah  menyimpan kertas di kolong pintu, aku kembali  ke rumah untuk mengambil koper yang sudah disiapkan dari semalam. Tanpa diduga saat aku pergi ibu memanggilku dan memberikan kertas kecil. Kubuka kertas itu dengan perlahan dan di sana tertulis sebuah alamat. Aku mendongak menatap ibuku. 

"Itu alamat rumah Hanum, Masmu. Mungkin dia bisa membantu," ucap ibu. Aku terharu, ibu masih peduli. 

"Ibu percaya pada Aah?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca. 

"Buktikan jika kau memang merasa benar," ucapnya dengan berbalik dan berlalu. 

Ingin rasanya aku memeluk tubuh ibu, hanya sekedar meminta kekuatan sebelum aku pergi meninggalkan rumah. Namun aku tidak memiliki keberanian. Hanya Turinah yang menangisiku saat aku naik kereta. Bagai film India legendaris, dia memberikan selendang dari bahan sifon saat aku melambaikan tangan di depan pintu gerbang. Dia menangis dengan mengejar kereta. Terasa berlebihan tapi aku suka tingkahnya yang bodoh dan lucu. Beginilah jika berteman dengan orang yang kebanyakan nonton drama india. 

***

Kuresapi setiap tetes air hujan yang membasahi wajah, sengaja aku mendongak menatap langit gelap. Aku berjalan santai saat turun dari halte bus. Semua orang berlari menghindari hujan, tetapi aku tidak melakukan itu. Biarkan saja air hujan mengguyur tubuh yang rapuh ini. 

Namun, aku berpikir lebih jernih, tidak ingin sakit di hari pertama menginjakkan kaki di Jakarta. Aku berdiri menunggu hujan reda dengan memegang erat koper hitam berukuran sedang. Aku mulai heran dengan tatapan banyak pria yang seakan menelanjangiku, bingung sendiri. Tanpa sengaja pandanganku bersirobrok dengan seorang pria yang baru saja berdiri disampingku dengan menutup kepala dengan jaket. Dia membiarkan motornya kehujanan. 

Dia pun melakukan hal yang sama, melihat ke arahku, tepatnya di bagian dadaku, kesal karena sejak tadi dia menatap tidak berhenti hingga aku menegurnya. 

"Apa yang kau lihat!" bentakku. 

"Sepertinya besar," ucapnya asal. "Ambilah, kau tidak ingin membuat semua orang berpikir kotor dan membayangkan tubuhmu kan?" ucapnya dengan menyerahkan jaket.

"Tidak usah!" tolakku angkuh dengan membuang wajah ke satu sisi. 

Pria asing itu terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. "Dalaman dadamu  berwarna hitam, tercetak jelas dibalik kemeja putih. Apa kau tidak malu memamerkannya?" 

Aku menundukkan kepala.  Oh, Shit! Benar yang dikatakan pria itu. Malu rasanya aku, pantas saja semua pria menatapku. Aku merampas jaket dan Kukenakan pada tubuhku. 

"Aku akan kembalikan, jika kita bertemu lagi!" 

"Percayalah.  Jika bertemu lagi, tandanya kita berjodoh!" ucapnya. 

Aku tidak menanggapi, kubuka kertas yang diberikan ibu dan melanjutkan langkah menuju tempat dimana Mas Hanum tinggal. Aku hanya memiliki sedikit uang, entah apa yang kulakukan agar bisa bertahan di kota yang besar. 

Dengan bermodalkan alamat dan bertanya pada tukang ojek yang ada di pengkolan, akhirnya aku bisa berdiri di rumah minimalis dua lantai. Entah seperti apa rupa Mas Hanum sekarang, aku tidak tahu. Terakhir kita bertemu saat aku berusia sepuluh tahun, kami tidak lagi bertemu karena dia tinggal di Bandung. Aku mengetuk pintu gerbang tapi tidak ada satupun orang yang menjawab.  Hingga aku memutuskan untuk berdiri saja di depan rumah. Jakarta tidak seramah  di kampung. Banyak yang lewat tetapi mereka abai. 

Lama aku menunggu hingga mobil sedan hitam berhenti tepat di depan rumah ini. Bunyi klakson membuat aku yang sedang duduk di depan pintu gerbang tersentak. Seorang pria turun dan menghampiriku. Sesaat aku terpesona dengan ketampanan dan wajahnya yang oriental, apalagi tubuh yang atletis di balik kemeja putih. Aku diam termangu mengagumi ketampanan pria itu. 

"Hello, Mbak, cari siapa?" 

"Ha Hanum." Aku menjawab dengan reflek. 

"Hanum itu namaku, Mbak," jawabnya. 

"Dia Mas Hanum? Ganteng, banget," batinku. 

"Mbak siapa, ya?" Dia mengangkat alisnya yang tebal. 

"Aku Sarboah, Mas. Lupa ya? Anak Pak Subroto dan Ibu Juminten." 

"Sarboah? Sarboah parawan centil?" ucapnya dengan terkekeh pelan. 

Aku merenggut, "Kenapa coba harus berkata seperti itu." 

"Haha, kau cantik dan seksi sekali sekarang." Dia mengguncang kedua bahuku. 

Aduh, duh. Aku tidak tahan dengan sentuhan pria tampan. Darahku berdesir, jantungku berdebar dan hasratku mulai datang. Ini hal yang paling aku takutkan saat bersentuhan dengan pria. 

"Ah, hey, ko melamun?" tanyanya padaku. 

Aku tersadar dari hasrat yang nyaris menyesatkan.

Bab 3

"Eh, i iya, Mas," jawabku terbata. 

"Ya udah duduk dulu," serunya. 

"Tapi baju aku basah, Mas." 

"Oh, iya ya. Kalau gitu kamu ganti baju. Nah, di belakang ada kamar mandi." Mas Hanum menunjukan sebuah ruangan kecil yang ada di pojok dekat dapur. 

Kuarahkan pandangan ke arah tas yang berada di lantai, tepat didepan kakiku. Berharap Mas Hanum mengerti bahwa bajuku basah semua. Namun, pria itu teralihkan karena ada yang membuka pintu depan. Aku melihat seorang perempuan datang menghampiri dengan mengenakan setelan kantor, cantik dan elegan  kata itu cocok untuk menggambarkan. Dia  menuntun anak kecil yang berseragam sekolah dasar. 

"Assalamualaikum, Mas." 

"Waalaikumsalam," jawab Mas Hanum. Dia menghampiri perempuan itu, aku rasa istrinya, jelas bisa ditebak saat perempuan dan anak lelaki itu mencium punggung tangan Mas Hanum. 

"Aku kesal banget deh, sebaiknya kamu segera cari pengganti baby sitter deh. Aku dimarahi bos tahu!" keluhnya. 

"Bunda gimana sih? Jemput anak aja marah-marah mulu." Anak kecil itu bersedekap dan duduk di sofa. Bibirnya mengerucut. Ingin rasanya aku ikat dengan karet bekas nasi uduk rasanya. 

Sepertinya mereka tidak menyadari  keberadaanku, lebih baik diam saja pura-pura tidak tahu. Menyaksikan perdebatan orang kaya. 

"Eh kamu dah nemuin baby sitter, Sayang?" tanyanya saat melihatku. 

"Enak aja. Ini Sarboah sepupu aku, baru datang dari kampung." 

"Oh, hallo. Namaku Aquila." Dia mengulurkan tangannya, dengan cepat aku menjabat. 

"Sarboah." 

"Eh, baju kamu basah ya? Aduh, pasti dingin. Ganti dulu gih, nanti setelah itu kita ngobrol-ngobrol," cicitnya sangat ramah, membuat aku nyaman dibuatnya. 

Ternyata Aquila lebih peka, dia melihat ke arah tas milikku. Dia tersenyum tipis dan menepuk bahu, mengatakan bahwa akan meminjamkan baju untuk aku. Dia menaiki anak tangga dan tidak berapa lama kembali dengan menyerahkan baju berbahan rayon.

"Daster gak apa?" tanyanya. 

"Iya, makasih. Maaf merepotkan," sesalku. 

"Gak apa. Kamu kan saudaranya Mas Hanum, jelas bukan merepotkan." 

Tidak pernah menyangka, bahwa perempuan bertubuh ringkih itu orang yang ramah dan baik. Aku pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dengan sabun yang ada di tempat itu. Aku mengeluh, sadar  daster ini sangat sempit. Aku menundukan pandang, mendesah karena dadaku tercetak jelas dibalik kain tipis yang dikenakan. Saat kembali sayup kudengar perdebatan, entah apa. Tak jelas dengan jarak tempatku sekarang. Aku mendekat dan ternyata masih membicarakan soal baby sitter. Aku rasa ini kesempatan aku untuk tetap tinggal di rumah ini, agar aku bisa mencari pria yang telah meruntuhkan bahtera rumah tanggaku. 

"Aku harus cari kemana? Gak ngasal kalau cari baby sitter, Dek!" Mas Hanum tampak sedikit marah. Istrinya tak kalah marahnya. 

"Aduh, terserah deh. Aku gak mau lagi repot!" 

"Kenapa sih gak berhenti aja, Dek!" 

"Aku gak mau! Bisa cepat tua aku di rumah." 

Ah, perdebatan orang kaya. Semua tentang kesibukan, beda denganku yang harus berjuang untuk isi perut. Asal dapat makan sudah Alhamdulillah. Daripada mereka ribut mending aku menawarkan diri aja. 

"Permisi Mas, Mbak," seruku. 

Mas Hanum menatapku, dia seperti terkesima dengan penampilanku. Dia melihat ke arah dadaku yang montok. Aku yang sudah tujuh kali menikah bisa menebak bahwa pria itu mulai tergoda. Namun pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Mbak Aquila, sepertinya dia tak mau tergoda. Ah, entahlah. Aku tidak peduli. Untuk saat ini harus cari cara agar punya tempat tinggal gratis. 

"Sepertinya kekecilan ya," ucap  Mbak Aquila. Aku mengangguk. 

"Iya, Mbak. Tapi nggak apa. Oh, iya, Mbak. Maaf aku tadi denger pembicaraan Mbak dan Mas soal baby sitter." 

"Kenapa? Kamu punya kenalan seorang baby sitter?" 

"Nggak sih, Mbak." 

"Yah." Mbak Aquila yang tadi tampak antusias kini aku lihat menuduk  lesu.

"Kalau boleh aku mau, Mbak. Gak bakat sih, tapi diajarin aja dulu, Mbak."

"Kamu mau, Ah?" Dia beranjak dari duduk dan mengoyak kedua tangan. Saat aku mengangguk. Dia bahkan memukul tubuh seksi ini. Untung perempuan kalau cowok udah minta digoyang. 

Sejak saat itu aku bekerja sebagai baby sitter di rumah Mas Hanum. Hari-hari dilalui tanpa ada yang spesial, aku hanya mengantar jemput anak kecil yang bernama Azka, yang baru aku ketahui bahwa umurnya baru tujuh tahun. Aku dan dia juga sudah mulai akrab. Bukan hanya itu, aku juga memasak dan membereskan rumah. Sehingga aku tak punya waktu untuk mencari pria asing yang menjadi tujuan aku datang ke kota ini. 

Aku perempuan yang tidak bisa menahan hasrat, tahu kelemahan sehingga tak pernah berani dekat-dekat dengan Mas Hanum. Saat tengah malam dan dirasa sepi, aku selalu mencari kepuasan sendiri. Beruntung ada kamar pembantu yang aku tempati dan kamar mandi di dapur yang jarang dijamah penghuni rumah. Saat hasrat  menyerang aku memuaskan diri sendiri dengan caraku. Semua berjalan lancar selama sebulan. 

Hingga satu malam yang dingin, aku tidak bisa menahan hasratku. Aku membuka pintu kamar dan melihat semua masih sepi. Kututup kembali pintu kamar  tapi tak dikunci, pintu ini sedikit renggang jadi tak tertutup sepenuhnya. Aku enggan mencari anak kunci yang aku lupa disimpan dimana. Udara dingin ini menyiksa membuat aku tak tahan dan kembali mencari kepuasan. 

  Aku keluar untuk membersihkan diri, karena merasa lengket di bagian bawah saat ku telah mencapai klimaks. Berniat ke kamar mandi dan betapa kagetnya saat membuka pintu aku melihat Mas Hanum berdiri di depan kamar. Pria itu tersenyum dengan tatapan yang sulit diartikan. 

"Ma mas, se sejak ka pan?" tanyaku terbata. 

"Sejak kapan apa?" Dia mengulang pertanyaan. 

"A ada di sini?" 

"Wajah kamu tegang gitu kenapa?" 

"Nggak kok, Mas," kilahku. 

"Buatin kopi, Ah." 

Aku mengangguk tapi meminta izin untuk ke kamar mandi. Betapa kagetnya saat aku menyadari bahwa sejak tadi kancing dasterku terbuka dan itu tandanya tadi Mas Hanum melihat belahan dadaku? Ah, sial! Aku malu semalu-malunya. Ini tangan kalau lagi horni bergerak sendiri. Harus cepat cari suami, tapi dimana? Aduh, kenapa aku punya kelainan ini sih? 

"Ah, lama banget." Mas Hanum kembali memanggil. Aku berjalan keluar, berusaha tenang. 

Kusuguhkan kopi hitam dengan campuran krimer di dalamnya, tentunya sudah sangat hafal apa yang menjadi kesukaan pria ini. Aku melihat Mas Hanum menunduk. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, dari gelagatnya aku bisa menebak dia sedang pusing. Mas Hanum menarik dasi yang dikenakan  dan menggulung lengan panjang hingga siku. Aku hanya diam, mengagumi pria tampan yang menjadi sepupu ini. "Keren banget sih, Mas Hanum." Aku membatin. 

"Ah, kamu udah nikah?" 

"Udah, Mas. Tujuh kali malah, hehe." 

"Hah? Serius!" Mata pria itu membola. Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal. 

"Ada yang aneh?" tanyaku polos. 

"Kok bisa?" 

"Ya bisa. Orang banyak dari mereka gak kuat melayaniku. Ada yang mati, ada yang minta cerai, katanya gak sanggup tarung tiap malam." 

  Aku jawab aja jujur. Toh, itu emang kenyataan. Siapa sangka cerita aku membuat Mas Hanum tertawa. Aku ikut aja tertawa, menghargai pikirku. 

"Kamu kenapa ketawa, Ah?" 

"Ya ikut aja sih," jawabku. 

"Dasar! Gak nyangka kamu lucu." 

"Apa? Lutung culun." 

"Nah, itu tahu." 

"Dih, tega." Aku mencebik. 

"Enak dong bisa cobain banyak macam." 

"Enak gak enak sih." 

"Gak enaknya?" 

"Elah, Mas. Jadi janda tujuh kali itu jadi omongan orang." 

"Jadi kamu udah jadi janda tujuh kali, kirain punya suami tujuh." 

"Mana bisa, Mas. Bobrok aku layanin tujuh pria." 

Saat berbincang denganku, sepertinya Mas Hanum tampak lebih baik. Tadi aku lihat seperti orang yang   sedih sekarang bisa tertawa, entah aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya saja berharap bahwa Mas Hanum tidak  tahu aksiku tadi di kamar. Tapi dia tahu gak ya? Ah, semoga aja dia ada di depan kamar pas aku udah selesai.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED