"Tidak mungkin, kamu tidak bercinta dengan pria itu, Sarboah!"
"Mas, tidak percaya padaku? Dia hanya memintaku berkencan dan makan malam. Percayalah!"
"Halah, wanita seperti dirimu, tidak bisa dipercaya! Pantas saja, semua pria meninggalkanmu. Ck! Kamu memang perempuan yang tidak cukup dengan satu pria. Kita bercerai saja!"
Aku hanya pasrah, ketika Mas Dewo menarik tanganku dan masuk ke dalam rumah orang tuaku yang berada di samping rumah. Dia mendorong tubuh seksi ini, hingga tersungkur di lantai tepat di hadapan ibu bapak yang sedang menonton televisi.
"Ada apa ini, kenapa kasar sekali?" Ibu membangunkanku. Mas Dewo membuang wajah ke samping.
"Nak Dewo, ada apa? Coba ceritakan pada bapak." Kali ini bapakku yang bicara. Dia beranjak dari duduk dan menghampiri Mas Dewo.
"Hari ini aku resmi menceraikan dia!" Mas Dewo mengacungkan jari telunjuk, tepat mengenai hidungku yang mancung.
"Lho, kenapa? Dipikir dulu, Nak. Jangan grasak-grusuk," ucap Bapak menengahi.
"Aku sudah tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku, Pak! Sarboah telah selingkuh dan sekarang dia baru balik berkencan. Semalaman dia ngapain aja coba, Pak? Aku tidak masalah, asal dia jujur tapi apa? Dia tetap mengaku tidak melakukan apapun. Mana mungkin semalaman dengan pria lain, tidak berbuat mesum!"
Sakit rasanya hatiku mendengar ucapan Mas Dewo. Mudah sekali dia berkata seperti itu, di depan orang tuaku. Padahal, semua tidak sepenuhnya salahku.
Aku melihat wajah bapak tampak memerah, aku merasa dia sedang marah. Matanya membola sempurna seakan-akan siap memakanku hidup-hidup.
"Sarboah, benar begitu?"
"Pak, Aah bisa jelaskan."
"Jawab!" teriak Bapak dan aku mengangguk mengiyakan tuduhan Mas Dewo.
Plaaaak!
Wajahku ditampar olehnya, hingga menoleh ke samping. Sakit, perih dan ini kali pertama bapak berbuat kasar padaku. Aku ingin memeluk ibu, tetapi wanita itu pun melepas pegangan tangannya di bahuku dan pergi menjauh seraya berucap, "Kamu membuat kami malu!"
"Padahal aku bisa menerima status dia dengan lapang, aku bahkan mengabaikan gunjingan orang-orang yang berkata miring tentangnya, tetapi kini aku buktikan sendiri. Bahwa dia tidak setia, jadi benar kau memang tidak pernah cukup dengan satu pria."
"Cukup, Mas!"
"Sarboah!" marah bapak saat aku menyela Mas Dewo.
"Ya, memang benar yang dikatakan mereka aku kelebihan libido tapi aku tidak seburuk itu!"
"Sudahlah, Sarboah. Nyatanya kamu bermalam dan bercinta dengan pria itu, kan!?" tuduhnya.
Aku tidak ingin menjawab, percuma saja karena sekarang aku benar-benar telah disudutkan. Aku hanya bisa pasrah saat Mas Dewo mengikrarkan perceraian padaku. Bapak memegangi dadanya, mungkin jantungnya kumat, aku meraih tangan bapak untuk membantunya duduk, tetapi pria itu menepis tanganku dan berkata dengan nada membentak, "Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor!"
Sesak rasanya saat bapak mengatakan itu padaku. Kurasa kakiku lemas bagai jeli, berangsur tubuh ini merosot ke bawah, terduduk lemah di lantai. Tidak ada lagi tumpuan hidup tempat aku bersandar.
"Sarboah, bapak sudah lelah menjadi wali-mu, tujuh kali kamu menikah, tujuh kali pula bercerai! Sampai kapan kamu akan melempar bapak dengan kotoran!"
Aku hanya diam, meskipun ingin aku mengelak bahwa tak pernah sekalipun aku melempar kotoran padanya, karena tidak kuat dengan baunya. Sungguh.
"Pergilah!" usir bapak dengan mengacungkan jari ke udara. "Kau bukan anakku lagi."
Runtuh sudah pertahananku, hilang sudah harapku, kini pria yang selalu aku banggakan. Mendukung dalam setiap keputusan, sekarang karena Mas Dewo dia menjadi murka. Aku bisa apa? Hanya duduk menunduk di lantai dengan tubuh lemas bagai tanpa tulang.
"Sarboah, pergi!" teriak Bapak.
"Pak, sabar," ucap ibuku.
Aku mendongak menatap kedua orang tuaku dengan mata yang basah. Tidak peduli dengan semua tudingan Mas Dewo, tetapi aku hanya ingin satu, bapak dan ibu percaya dan mau mendengarkan penjelasanku. Aku kembali membuka bibirku yang bergetar, menjelaskan yang sebenarnya bukan mencari pembenaran.
"Bapak ini tidak seperti yang kalian bayangkan, aku …."
"Bapak tidak ingin melihat wajahmu lagi, kau benar-benar membuat kami malu. Pergi!" Bapakku mengusir dengan memegangi dada.
Segera aku berlari kembali ke rumah dan masuk ke dalam kamar. Dan, betapa terkejutnya saat melihat Mas Dewo sedang memasukkan baju ke dalam koper hitam. Aku berusaha menahan Mas Dewo dengan menarik kopernya. Tidak bisa kubiarkan dia pergi, karena masih sangat mencintai Mas Dewo.
"Jangan sentuh milikku, kau sudah bukan istriku lagi!"
Sungguh aku tidak menyentuh miliknya, hanya menyentuh koper saja. Aku menghampiri Mas Dewo dan menarik tangannya, ingin membicarakan kesepakatan yang terjadi diantara kita.
"Mas, harusnya tidak seperti ini, aku mohon jangan bercerai. Aku malu, Mas, malu, tujuh kali aku menjanda apa kata orang-orang di kampung ini?" mohonku.
"Tidak, aku gak mau!" Mas Dewo menepis tanganku. Menarik koper dan berlalu. Aku membuntuti Mas Dewo dan bertanya.
"Apakah pria itu mentransfer sejumlah uang yang dijanjikan padamu, Mas?" tanyaku. Mas Dewo diam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan intonasi nada yang tinggi.
"Tidak ada uang yang masuk ke rekening-ku, itu menandakan kau melakukan itu atas dasar suka sama suka!"
"Tapi dia bilang padaku …."
"Sudahlah, Sarboah! Jangan banyak alasan, aku sudah tidak sudi menikah dengan perempuan yang tidak setia!" tukas Mas Dewo.
Mas Dewo menutup pintu dengan keras, sehingga kusennya bergetar. Aku menghembuskan napas kasar, duduk di lantai dengan menyandarkan kepala di dinding, memejamkan mata, dan tersenyum getir.
"Cerai lagi dan lagi, kini resmi sudah aku menjadi janda tujuh kali."
Aku membayangkan, kejadian dua hari lalu. Pertemuan dengan sosok pria asing dari Jakarta. Dia mendekatiku yang kala itu sedang berjualan pernak-pernik di tepi pantai. Tanpa malu ia mengajak berkencan. Tentunya, aku menolak dan mengatakan sudah menikah. Ia menawarkan akan memberi banyak uang, asal mau berkencan semalam. Aku marah, karena ini bagai pelecehan. Dia tetap memaksa dan tentu kutolak dengan tegas, kukatakan padanya bahwa aku sangat mencintai suami. Namun pria itu tersenyum sinis dan berkata padaku.
"Uang selalu berada di atas cinta." Dia pergi dengan menyimpan kartu nama di atas mejaku.
"Aku akan memberimu uang dua ratus juta, asal kau mau berkencan!" ucapnya sebelum berlalu kala itu.
Tanpa kuduga, ada Mas Dewo berdiri di sampingku, menyadari keberadaan dia saat dia berdehem. Dia pun bertanya tentang tujuan kedatangan pria itu, karena yang didengar hanya nominal uang yang disebut pria asing itu, aku menceritakan semua tawarannya. Aku rasa Mas Dewo akan marah tetapi tidak. Dia justru meminta aku menerima tawaran pria asing dan uang yang dijanjikan akan digunakan untuk membuat toko kelontong. Aku menolak tawaran itu, aku berpikir itu sama dengan menjual diri. Namun, dia yang bersikukuh memintaku menerima tawaran untuk berkencan, hingga aku mau. Nyatanya sekarang, aku seperti orang yang dijebak oleh suamiku sendiri.
Tiga bulan berlalu aku berada dalam penyesalan, begitupun dengan gunjingan orang-orang yang memekakan telinga. Aku banyak mengurung diri di kamar, beruntung ada Turinah—sahabat yang setia membawakan makanan. Namun hari ini dia datang dengan membawa kabar duka. Turinah mengatakan bahwa Mas Dewo akan menikah lagi dengan pesta yang fantastis. Mendengar pesta yang mewah, tentu aku teringat dengan jumlah uang yang dijanjikan pria itu. Mungkinkah, Mas Dewo bohong? Aku mulai menerka-nerka, karena jika bukan uang dari pria itu, dari mana Mas Dewo mendapatkan uang, mengingat dia hanya seorang buruh tani.
"Ah, ko melamun? Masih belom bisa move on, ya?"
Bingung harus menjawab pertanyaan Turinah, dibilang belum bisa move on, itu benar. Hanya Mas Dewo yang bisa mengimbangi hasratku yang berlebih. Namun, bukan hanya itu yang mengisi pikiran. Aku harus memastikan sekali lagi, apakah pria itu benar-benar berbohong ataukah Mas Dewo yang mencari alasan dan menjebakku? Semua membuat aku pusing.
"Ah!" Tukinem kembali memanggil. "Mau datang, ndak?"
"Menurutmu?"
"Kalau ndak datang, aku yakin kau dikira gagal move on!"
Esok hari, aku memutuskan datang ke pesta. Dan, aku menatap tidak percaya, pesta pernikahan Mas Dewo begitu mewah. Mungkin ini pesta termewah yang disuguhkan di kampung sukun ini. Dia berdiri di pelaminan dengan perempuan yang tidak kukenal. Aku pun bertanya pada Turinah dan dia mengatakan bahwa perempuan itu berasal dari kota Jakarta. Tentu aku shock berat, kenapa tiba-tiba dua orang yang berasal dari kota yang sama hadir di antara pernikahan kami.
Tidak membuang waktu aku berjalan menuju pelaminan, menarik tangan Mas Dewo menjauh dari istrinya.
"Darimana kamu dapatkan uang untuk mengadakan pesta semeriah ini, Mas? Ini uang dari pria itu, kan? Jawab!" desak-ku.
"Aah, hubungan kita sudah berakhir, aku mohon jangan menggodaku. Aku sudah tidak bisa tidur denganmu," jawab Mas Dewo dengan suara yang keras membuat semua tamu menoleh ke arahku dengan tatapan seakan meremehkan.
"Ih, dasar perempuan gatel! Gak bisa move on, makanya jangan selingkuh!"
"Hati-hati, Buk. Nanti suami kita digoda olehnya."
Ingin aku menimpali ucapan para tamu itu, tetapi Turinah menarik tanganku menjauh dari kerumunan.
Harus, aku harus mencari pria asing itu, menanyakan apakah dia berbohong dan meminta pertanggung jawaban atas semua perkara ini. Karena dia aku bercerai dengan Mas Dewo.
"Kenapa kau meminta tidur dengan Mas Dewo, Ah?"
"Hah?" Aku tersentak, Turinah menyadarkan aku dari lamunan dengan pertanyaan tidak masuk akal.
"Aku tahu kau sangean tapi tidak gini juga kali," cerocosnya.
"Eh, bege!" Aku usap wajahnya dengan kasar. "Siapa yang minta tidur?"
"Lha, tadi. Dewo sampai teriak kamu minta ditiduri?"
"Aku tidak meminta dia tidur denganku!"
"Tapi jawaban Dewo itu seakan-akan kau tadi meminta dia menidurimu!"
Aku hanya menghembuskan napas kasar, percuma menjelaskan, buang-buang tenaga. Biarkan saja mereka berpikir seperti itu, toh namaku sudah sangat buruk di kampung ini. Aku pun berjalan meninggalkan pesta yang mewah itu. Aku penasaran dari mana Mas Dewo mendapatkan uang untuk acara pesta, hingga aku bertanya pada Turinah.
"Nah?"
"Iya, apa, Ah?"
"Kamu tau gak, Mas Dewo dari mana dapat uang untuk menyelenggarakan pesta?"
"Aku dengar istrinya kaya dan dia juga membuat toko kelontong di kampung sebelah."
Aku menghentikan langkah, duduk di tepi jalan dan Turinah ikut duduk. Bayangan itu kembali hadir, kupejamkan mata. Tidak kuasa aku memendam rasa sakit. Teringat kenangan bersama Mas Dewo dan mimpi kecil kita yang hanya ingin membuka toko kelontong. Mas Dewo selalu mengatakan itu setelah kita bercinta, bahkan aku sering bermanja-manja di dadanya yang berbulu. Hingga aku nekat berkencan dengan pria asing guna mewujudkan mimpi sederhana kita. Namun, jangankan terwujud aku bahkan kehilangan Mas Dewo untuk selamanya.
Aku mulai meraba setiap kejadian yang terjadi tiga bulan lalu. Sangat aneh, karena pria asing itu tidak mungkin datang tiba-tiba dan mengajakku berkencan. Dan, istri baru Mas Dewo juga dari Jakarta? Apakah semua ini saling berhubungan? Banyak tanya yang bersarang di pikiran, hingga aku memutuskan untuk mencari tahu dan pergi ke Jakarta. Aku beranjak dari duduk dan meninggalkan Turinah yang sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Esok pagi saat mentari baru saja datang menyapa bumi, aku sudah keluar rumah. Niatku hanya satu pamit pada bapak dan ibu. Namun, rumah mereka masih sangat sepi. Sejak Mas Dewo menceraikanku dan dari sana ibu dan bapak sudah tidak sudi berbicara denganku. Meski rumah kita bersebelahan, mereka tak pernah keluar rumah saat aku berada di luar. Tidak bisa dibayangkan perasaan aku seperti apa dan tidak ingin pula aku membayangkan. Apalagi cemoohan orang-orang, aku mencoba abai. Hari ini memberanikan diri mengetuk pintu rumah orang tuaku.
"Assalamualaikum, Buk, Pak." Aku memanggil dengan mengetuk pintu tapi tak ada yang menjawab, apalagi membuka pintu.
Merasa percuma, aku kembali ke rumah dan menuliskan sepucuk surat untuk aku berikan pada ibu dan bapak. Kukatakan pada mereka bahwa aku akan ke Jakarta dan membuktikan semua pada orang-orang kampung, bahwa aku tidak bersalah.
Ya, aku akan mencari pria asing itu, meminta dia menjelaskan pada semua orang bahwa kencan itu atas izin Mas Dewo. Setelah menyimpan kertas di kolong pintu, aku kembali ke rumah untuk mengambil koper yang sudah disiapkan dari semalam. Tanpa diduga saat aku pergi ibu memanggilku dan memberikan kertas kecil. Kubuka kertas itu dengan perlahan dan di sana tertulis sebuah alamat. Aku mendongak menatap ibuku.
"Itu alamat rumah Hanum, Masmu. Mungkin dia bisa membantu," ucap ibu. Aku terharu, ibu masih peduli.
"Ibu percaya pada Aah?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Buktikan jika kau memang merasa benar," ucapnya dengan berbalik dan berlalu.
Ingin rasanya aku memeluk tubuh ibu, hanya sekedar meminta kekuatan sebelum aku pergi meninggalkan rumah. Namun aku tidak memiliki keberanian. Hanya Turinah yang menangisiku saat aku naik kereta. Bagai film India legendaris, dia memberikan selendang dari bahan sifon saat aku melambaikan tangan di depan pintu gerbang. Dia menangis dengan mengejar kereta. Terasa berlebihan tapi aku suka tingkahnya yang bodoh dan lucu. Beginilah jika berteman dengan orang yang kebanyakan nonton drama india.
***
Kuresapi setiap tetes air hujan yang membasahi wajah, sengaja aku mendongak menatap langit gelap. Aku berjalan santai saat turun dari halte bus. Semua orang berlari menghindari hujan, tetapi aku tidak melakukan itu. Biarkan saja air hujan mengguyur tubuh yang rapuh ini.
Namun, aku berpikir lebih jernih, tidak ingin sakit di hari pertama menginjakkan kaki di Jakarta. Aku berdiri menunggu hujan reda dengan memegang erat koper hitam berukuran sedang. Aku mulai heran dengan tatapan banyak pria yang seakan menelanjangiku, bingung sendiri. Tanpa sengaja pandanganku bersirobrok dengan seorang pria yang baru saja berdiri disampingku dengan menutup kepala dengan jaket. Dia membiarkan motornya kehujanan.
Dia pun melakukan hal yang sama, melihat ke arahku, tepatnya di bagian dadaku, kesal karena sejak tadi dia menatap tidak berhenti hingga aku menegurnya.
"Apa yang kau lihat!" bentakku.
"Sepertinya besar," ucapnya asal. "Ambilah, kau tidak ingin membuat semua orang berpikir kotor dan membayangkan tubuhmu kan?" ucapnya dengan menyerahkan jaket.
"Tidak usah!" tolakku angkuh dengan membuang wajah ke satu sisi.
Pria asing itu terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. "Dalaman dadamu berwarna hitam, tercetak jelas dibalik kemeja putih. Apa kau tidak malu memamerkannya?"
Aku menundukkan kepala. Oh, Shit! Benar yang dikatakan pria itu. Malu rasanya aku, pantas saja semua pria menatapku. Aku merampas jaket dan Kukenakan pada tubuhku.
"Aku akan kembalikan, jika kita bertemu lagi!"
"Percayalah. Jika bertemu lagi, tandanya kita berjodoh!" ucapnya.
Aku tidak menanggapi, kubuka kertas yang diberikan ibu dan melanjutkan langkah menuju tempat dimana Mas Hanum tinggal. Aku hanya memiliki sedikit uang, entah apa yang kulakukan agar bisa bertahan di kota yang besar.
Dengan bermodalkan alamat dan bertanya pada tukang ojek yang ada di pengkolan, akhirnya aku bisa berdiri di rumah minimalis dua lantai. Entah seperti apa rupa Mas Hanum sekarang, aku tidak tahu. Terakhir kita bertemu saat aku berusia sepuluh tahun, kami tidak lagi bertemu karena dia tinggal di Bandung. Aku mengetuk pintu gerbang tapi tidak ada satupun orang yang menjawab. Hingga aku memutuskan untuk berdiri saja di depan rumah. Jakarta tidak seramah di kampung. Banyak yang lewat tetapi mereka abai.
Lama aku menunggu hingga mobil sedan hitam berhenti tepat di depan rumah ini. Bunyi klakson membuat aku yang sedang duduk di depan pintu gerbang tersentak. Seorang pria turun dan menghampiriku. Sesaat aku terpesona dengan ketampanan dan wajahnya yang oriental, apalagi tubuh yang atletis di balik kemeja putih. Aku diam termangu mengagumi ketampanan pria itu.
"Hello, Mbak, cari siapa?"
"Ha Hanum." Aku menjawab dengan reflek.
"Hanum itu namaku, Mbak," jawabnya.
"Dia Mas Hanum? Ganteng, banget," batinku.
"Mbak siapa, ya?" Dia mengangkat alisnya yang tebal.
"Aku Sarboah, Mas. Lupa ya? Anak Pak Subroto dan Ibu Juminten."
"Sarboah? Sarboah parawan centil?" ucapnya dengan terkekeh pelan.
Aku merenggut, "Kenapa coba harus berkata seperti itu."
"Haha, kau cantik dan seksi sekali sekarang." Dia mengguncang kedua bahuku.
Aduh, duh. Aku tidak tahan dengan sentuhan pria tampan. Darahku berdesir, jantungku berdebar dan hasratku mulai datang. Ini hal yang paling aku takutkan saat bersentuhan dengan pria.
"Ah, hey, ko melamun?" tanyanya padaku.
Aku tersadar dari hasrat yang nyaris menyesatkan.
"Eh, i iya, Mas," jawabku terbata.
"Ya udah duduk dulu," serunya.
"Tapi baju aku basah, Mas."
"Oh, iya ya. Kalau gitu kamu ganti baju. Nah, di belakang ada kamar mandi." Mas Hanum menunjukan sebuah ruangan kecil yang ada di pojok dekat dapur.
Kuarahkan pandangan ke arah tas yang berada di lantai, tepat didepan kakiku. Berharap Mas Hanum mengerti bahwa bajuku basah semua. Namun, pria itu teralihkan karena ada yang membuka pintu depan. Aku melihat seorang perempuan datang menghampiri dengan mengenakan setelan kantor, cantik dan elegan kata itu cocok untuk menggambarkan. Dia menuntun anak kecil yang berseragam sekolah dasar.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam," jawab Mas Hanum. Dia menghampiri perempuan itu, aku rasa istrinya, jelas bisa ditebak saat perempuan dan anak lelaki itu mencium punggung tangan Mas Hanum.
"Aku kesal banget deh, sebaiknya kamu segera cari pengganti baby sitter deh. Aku dimarahi bos tahu!" keluhnya.
"Bunda gimana sih? Jemput anak aja marah-marah mulu." Anak kecil itu bersedekap dan duduk di sofa. Bibirnya mengerucut. Ingin rasanya aku ikat dengan karet bekas nasi uduk rasanya.
Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku, lebih baik diam saja pura-pura tidak tahu. Menyaksikan perdebatan orang kaya.
"Eh kamu dah nemuin baby sitter, Sayang?" tanyanya saat melihatku.
"Enak aja. Ini Sarboah sepupu aku, baru datang dari kampung."
"Oh, hallo. Namaku Aquila." Dia mengulurkan tangannya, dengan cepat aku menjabat.
"Sarboah."
"Eh, baju kamu basah ya? Aduh, pasti dingin. Ganti dulu gih, nanti setelah itu kita ngobrol-ngobrol," cicitnya sangat ramah, membuat aku nyaman dibuatnya.
Ternyata Aquila lebih peka, dia melihat ke arah tas milikku. Dia tersenyum tipis dan menepuk bahu, mengatakan bahwa akan meminjamkan baju untuk aku. Dia menaiki anak tangga dan tidak berapa lama kembali dengan menyerahkan baju berbahan rayon.
"Daster gak apa?" tanyanya.
"Iya, makasih. Maaf merepotkan," sesalku.
"Gak apa. Kamu kan saudaranya Mas Hanum, jelas bukan merepotkan."
Tidak pernah menyangka, bahwa perempuan bertubuh ringkih itu orang yang ramah dan baik. Aku pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dengan sabun yang ada di tempat itu. Aku mengeluh, sadar daster ini sangat sempit. Aku menundukan pandang, mendesah karena dadaku tercetak jelas dibalik kain tipis yang dikenakan. Saat kembali sayup kudengar perdebatan, entah apa. Tak jelas dengan jarak tempatku sekarang. Aku mendekat dan ternyata masih membicarakan soal baby sitter. Aku rasa ini kesempatan aku untuk tetap tinggal di rumah ini, agar aku bisa mencari pria yang telah meruntuhkan bahtera rumah tanggaku.
"Aku harus cari kemana? Gak ngasal kalau cari baby sitter, Dek!" Mas Hanum tampak sedikit marah. Istrinya tak kalah marahnya.
"Aduh, terserah deh. Aku gak mau lagi repot!"
"Kenapa sih gak berhenti aja, Dek!"
"Aku gak mau! Bisa cepat tua aku di rumah."
Ah, perdebatan orang kaya. Semua tentang kesibukan, beda denganku yang harus berjuang untuk isi perut. Asal dapat makan sudah Alhamdulillah. Daripada mereka ribut mending aku menawarkan diri aja.
"Permisi Mas, Mbak," seruku.
Mas Hanum menatapku, dia seperti terkesima dengan penampilanku. Dia melihat ke arah dadaku yang montok. Aku yang sudah tujuh kali menikah bisa menebak bahwa pria itu mulai tergoda. Namun pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Mbak Aquila, sepertinya dia tak mau tergoda. Ah, entahlah. Aku tidak peduli. Untuk saat ini harus cari cara agar punya tempat tinggal gratis.
"Sepertinya kekecilan ya," ucap Mbak Aquila. Aku mengangguk.
"Iya, Mbak. Tapi nggak apa. Oh, iya, Mbak. Maaf aku tadi denger pembicaraan Mbak dan Mas soal baby sitter."
"Kenapa? Kamu punya kenalan seorang baby sitter?"
"Nggak sih, Mbak."
"Yah." Mbak Aquila yang tadi tampak antusias kini aku lihat menuduk lesu.
"Kalau boleh aku mau, Mbak. Gak bakat sih, tapi diajarin aja dulu, Mbak."
"Kamu mau, Ah?" Dia beranjak dari duduk dan mengoyak kedua tangan. Saat aku mengangguk. Dia bahkan memukul tubuh seksi ini. Untung perempuan kalau cowok udah minta digoyang.
Sejak saat itu aku bekerja sebagai baby sitter di rumah Mas Hanum. Hari-hari dilalui tanpa ada yang spesial, aku hanya mengantar jemput anak kecil yang bernama Azka, yang baru aku ketahui bahwa umurnya baru tujuh tahun. Aku dan dia juga sudah mulai akrab. Bukan hanya itu, aku juga memasak dan membereskan rumah. Sehingga aku tak punya waktu untuk mencari pria asing yang menjadi tujuan aku datang ke kota ini.
Aku perempuan yang tidak bisa menahan hasrat, tahu kelemahan sehingga tak pernah berani dekat-dekat dengan Mas Hanum. Saat tengah malam dan dirasa sepi, aku selalu mencari kepuasan sendiri. Beruntung ada kamar pembantu yang aku tempati dan kamar mandi di dapur yang jarang dijamah penghuni rumah. Saat hasrat menyerang aku memuaskan diri sendiri dengan caraku. Semua berjalan lancar selama sebulan.
Hingga satu malam yang dingin, aku tidak bisa menahan hasratku. Aku membuka pintu kamar dan melihat semua masih sepi. Kututup kembali pintu kamar tapi tak dikunci, pintu ini sedikit renggang jadi tak tertutup sepenuhnya. Aku enggan mencari anak kunci yang aku lupa disimpan dimana. Udara dingin ini menyiksa membuat aku tak tahan dan kembali mencari kepuasan.
Aku keluar untuk membersihkan diri, karena merasa lengket di bagian bawah saat ku telah mencapai klimaks. Berniat ke kamar mandi dan betapa kagetnya saat membuka pintu aku melihat Mas Hanum berdiri di depan kamar. Pria itu tersenyum dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ma mas, se sejak ka pan?" tanyaku terbata.
"Sejak kapan apa?" Dia mengulang pertanyaan.
"A ada di sini?"
"Wajah kamu tegang gitu kenapa?"
"Nggak kok, Mas," kilahku.
"Buatin kopi, Ah."
Aku mengangguk tapi meminta izin untuk ke kamar mandi. Betapa kagetnya saat aku menyadari bahwa sejak tadi kancing dasterku terbuka dan itu tandanya tadi Mas Hanum melihat belahan dadaku? Ah, sial! Aku malu semalu-malunya. Ini tangan kalau lagi horni bergerak sendiri. Harus cepat cari suami, tapi dimana? Aduh, kenapa aku punya kelainan ini sih?
"Ah, lama banget." Mas Hanum kembali memanggil. Aku berjalan keluar, berusaha tenang.
Kusuguhkan kopi hitam dengan campuran krimer di dalamnya, tentunya sudah sangat hafal apa yang menjadi kesukaan pria ini. Aku melihat Mas Hanum menunduk. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, dari gelagatnya aku bisa menebak dia sedang pusing. Mas Hanum menarik dasi yang dikenakan dan menggulung lengan panjang hingga siku. Aku hanya diam, mengagumi pria tampan yang menjadi sepupu ini. "Keren banget sih, Mas Hanum." Aku membatin.
"Ah, kamu udah nikah?"
"Udah, Mas. Tujuh kali malah, hehe."
"Hah? Serius!" Mata pria itu membola. Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Ada yang aneh?" tanyaku polos.
"Kok bisa?"
"Ya bisa. Orang banyak dari mereka gak kuat melayaniku. Ada yang mati, ada yang minta cerai, katanya gak sanggup tarung tiap malam."
Aku jawab aja jujur. Toh, itu emang kenyataan. Siapa sangka cerita aku membuat Mas Hanum tertawa. Aku ikut aja tertawa, menghargai pikirku.
"Kamu kenapa ketawa, Ah?"
"Ya ikut aja sih," jawabku.
"Dasar! Gak nyangka kamu lucu."
"Apa? Lutung culun."
"Nah, itu tahu."
"Dih, tega." Aku mencebik.
"Enak dong bisa cobain banyak macam."
"Enak gak enak sih."
"Gak enaknya?"
"Elah, Mas. Jadi janda tujuh kali itu jadi omongan orang."
"Jadi kamu udah jadi janda tujuh kali, kirain punya suami tujuh."
"Mana bisa, Mas. Bobrok aku layanin tujuh pria."
Saat berbincang denganku, sepertinya Mas Hanum tampak lebih baik. Tadi aku lihat seperti orang yang sedih sekarang bisa tertawa, entah aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya saja berharap bahwa Mas Hanum tidak tahu aksiku tadi di kamar. Tapi dia tahu gak ya? Ah, semoga aja dia ada di depan kamar pas aku udah selesai.