Bab 1

"Jangan, Pak...," bisik Venina dengan suara gemetar, tetapi suaranya tenggelam dalam keheningan ketika bibirnya dipagut kasar oleh Erlangga. Seolah mematikan segala keberatan yang hendak diutarakan.

Tubuh Venina bergetar, tak hanya oleh sentuhan kasar atasannya itu, tetapi juga oleh rasa takut yang melumpuhkannya. Aroma alkohol semakin terasa menusuk, merayap ke dalam setiap pori-porinya. "Maafkan aku, Lia," bisik Erlangga di tengah-tengah serangkaian ciuman yang ganas.

Tapi aku bukan Lia, teriak Venina dalam hatinya. Tenaganya terasa habis saat itu juga. Sementara lututnya lemas, seperti tak bertulang. 

Tiba-tiba dia menyesali keputusannya untuk memeriksa ruang atasannya sebelum pergi tadi. Seharusnya dia langsung pulang ketika sudah mengambil ponselnya yang tertinggal. Bukannya malah sibuk mencari tahu kenapa lampu di ruangan pria itu masih menyala.

"Jangan tinggalkan aku, Lia," gumam Erlangga dengan suara yang hampir putus asa, namun dipenuhi oleh hasrat yang meluap-luap.

"S-saya… saya… Venina, Pak," suara gemetar itu terdengar lirih, hampir tenggelam oleh deru nafas Erlangga yang bergelora. Entah atasannya itu bisa mendengarnya atau tidak. Yang bisa Venina lakukan hanyalah memejamkan matanya, berharap pria itu menyadari siapa dirinya. 

Namun, harapannya pupus ketika Erlangga mendorongnya ke dinding, membelenggu pergelangan tangannya ke atas. Satu tangannya yang bebas dengan gegabah melemparkan kacamatanya dan mengurai rambutnya.

Venina menggelengkan kepalanya, menolak keras saat merasakan tangan Erlangga menyelinap di balik blusnya yang longgar. “Saya mohon, Pak. Tolong jangan lakukan ini,” pintanya dengan susah payah. Namun, semuanya sia-sia, karena pria itu tak menghiraukannya.

Dengan gerakan yang cepat dan kasar, Erlangga melucuti pakaian Venina, menelanjangi tubuhnya tanpa ampun. Dipandanginya tubuh wanita itu dengan penuh kekaguman. “Tubuhmu semakin indah, Lia,” bisiknya sebelum melepas pakaiannya sendiri. 

"Pak Angga—" Venina mencoba memanggil namanya, membuat Erlangga menoleh sejenak. Namun, pandangannya buram, dan dia kembali menyerbu bibir wanita itu dengan ciuman liar.

"Sabarlah, Sayang," desah Erlangga, mencoba meredakan kegugupan yang melanda Venina. Bibir Erlangga kembali merengkuh bibirnya, sementara tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuhnya. 

Venina terkesiap, kilatan petir dan hujan deras di luar seolah membingungkan pikirannya, meredakan suara lenguhannya. Seharusnya dia melawan lebih keras, bukan malah terbius pesona atasannya yang sejak lama dikaguminya.

Ketika Erlangga menuntunnya ke sofa, Venina hanya bisa menggantungkan kaki dan tangannya di tubuh pria itu. Dalam keadaan pengap dan panas yang mengaburkan pikirannya, dia hanya mampu mengucapkan nama pria itu.

“Oh, Lia…!” Erangan kenikmatan yang keluar dari bibir Erlangga menyadarkan Venina dari lamunan buruknya. Kesadaran pahit melanda saat menyadari bahwa bukan dirinya yang ada dalam benak pria itu. Dan sekarang, semuanya sudah terlambat. Dia sudah menyerahkan sesuatu yang paling berharga tanpa perlawanan yang berarti.

***

Venina terbangun keesokan paginya dan menemukan dirinya sudah berada di dalam kamarnya dengan rasa sakit yang terasa asing di sekujur tubuhnya. 

Dia sudah tidak mau mengingat bagaimana caranya pulang semalam. Karena bayangan percintaan yang panas dengan atasannya itu lebih dulu menyeruak dalam benaknya. Membuat wajahnya panas seketika. 

“Dasar bodoh! Kenapa harus menggali lubang kubur sendiri, sih?” umpatnya pada dirinya sendiri. Diremasnya rambutnya dengan kasar. Berharap ingatan itu segera hilang. 

Venina memaklumi bahwa keadaan Erlangga yang mabuk berat pada malam itu bisa menjadi alasan sebagian besar untuk apa yang terjadi. Tetapi rasa bersalah yang merayap di dalam dirinya tidak bisa diabaikan begitu saja. Dia tahu, bahkan dalam keadaan seperti itu, tidak seharusnya dia menikmati percintaan itu.

Dia tahu perasaan itu sangatlah keliru. Erlangga adalah atasannya. Dan Venina harus melupakannya.

Bodoh, bodoh, bodoh!

Venina turun dari ranjangnya dengan lemah. Dia melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. 

Beberapa saat kemudian, Venina keluar setelah selesai bersiap. Butuh waktu lebih lama baginya untuk menyiapkan diri. Terlebih dia harus menyamarkan beberapa tanda percintaan di lehernya. “Nina pergi ya, Bu,” pamitnya ketika ibunya muncul dari arah dapur.

“Loh, kamu nggak sarapan dulu, Nina?” Nadia menghampiri putrinya dengan kerutan di keningnya. 

“Nggak sempat, Bu. Nina kesiangan bangunnya,” sahutnya sambil mencium pipi ibunya.

“Lembur lagi semalam?” tanya Nadia dengan penuh perhatian. 

Venina hanya bisa menggigit bibirnya sambil menganggukan kepalanya pelan. Dia tidak berani menatap mata ibunya. 

Nadia menghela napas berat sembari mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Maafkan Ibu ya, Nina. Ibu nggak bisa bantu apa-apa untuk meringankan bebanmu.”

Mata Venina berembun, tetapi dia menahan diri agar air matanya tidak menetes. Dia berharap agar ibunya tidak mengetahui apa yang telah terjadi semalam. Kesalahannya akan menjadi beban yang terlalu berat bagi Nadia.

"Sudahlah, Bu. Sudah tugas Nina untuk membahagiakan Ibu dan Gina," kata Venina setelah beberapa saat hening.

Namun, bayangan malam sebelumnya terus menghantui pikirannya. Ketika Nadia mencoba memperpanjang percakapan, Venina memotongnya dengan cepat.

"Maaf, Bu, Nina harus buru-buru. Takut telat kalau kelamaan ngobrol," ujarnya sambil memeriksa jam tangannya dengan cepat. "Ibu tenang aja. Nanti Nina sarapan di kantor."

Secepat kilat Venina berlalu dari hadapan ibunya. Dia takut wanita itu menyadari kesalahannya jika tidak segera menyingkir. 

Sepanjang perjalanan ke kantor, Venina terus merapalkan doa-doa kecil, berharap agar hari ini tidak ada yang mengingatkan Erlangga pada malam sebelumnya. Namun, ketika disadari ada sesuatu yang berbeda, jantungnya berpacu lebih cepat. 

Kacamatanya. Bagaimana mungkin dia bisa begitu ceroboh melupakannya?

“Tamatlah sudah riwayatmu, Nina! Kau memang bodoh!” umpatnya lagi sambil mempercepat langkahnya. 

Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika dia sedang menggeledah ruangan Erlangga. Tiba-tiba pria itu muncul di ambang pintu dan Venina tersentak dengan napas terengah-engah. Sudah tidak ada lagi harapan baginya untuk lolos.

"Sedang mencari sesuatu?" suara dingin Erlangga membuyarkan keheningan. Venina menoleh, menemukan pria itu menatapnya dengan tajam.

“Saya… saya….” Venina kesulitan bicara, menatap Erlangga dengan perut terlilit. Pria itu tampil segar dan menawan, membuatnya sulit berkonsentrasi. Dia berusaha fokus, mengusir bayangan tubuh pria itu yang sangat menggoda dari benaknya.

Erlangga mendekatinya dengan langkah pasti, menimbulkan rasa ketidaknyamanan yang semakin menggelayuti Venina. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin mengambil dokumen ini," ujarnya gemetar, mengangkat sebuah file dari atas meja atasannya itu.

Erlangga menatapnya dengan tajam. "Kamu yakin?"

Venina mengangguk, merasa semakin takut dengan setiap detik yang berlalu. Dia ingin pergi dari situ secepat mungkin.

“Kenapa harus terburu-buru?” Venina tercengang mendengar pertanyaan itu. Langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu.

“Saya… saya harus bekerja, Pak.” Venina berusaha menyudahi percakapan, memalingkan wajahnya saat merasakan tatapan intens Erlangga.

Erlangga terdiam sejenak, lalu tiba-tiba menariknya dan mendorongnya ke dinding. Venina menahan napas, menggenggam erat berkas di tangannya. 

“Bagaimana kamu bisa bekerja tanpa menggunakan ini?” Venina membuka mata saat merasakan kacamatanya kembali di wajahnya. 

Venina menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mengalihkan pandangannya, mencoba menenangkan diri saat menyadari betapa dekatnya Erlangga padanya.

Namun, Erlangga tidak berhenti di situ. Dia semakin merapatkan tubuhnya ke arah sekretarisnya itu. “Bisa kamu jelaskan kenapa benda itu ada di ruangan saya?” suara itu terdengar dingin. 

Venina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya ketika  Erlangga mendekat lagi sampai wajah mereka sangat dekat. 

“Ada sesuatu yang mau kamu jelaskan pada saya, Nina?” 

Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu. Dan Venina merasakan pandangan Erlangga tidak terlepas dari wajahnya sedetik pun. Membuatnya semakin sulit bernapas. Terlebih setelah mendengar pertanyaannya.

“Kalau begitu biar saya yang bertanya?” Venina merasakan napas Erlangga di wajahnya, menyadari bahwa dia tidak akan bisa melarikan diri dari kenyataan yang membelenggunya. “Apa kamu wanita itu?” desis pria itu dengan tegas.

Bab 2

“Apa kamu wanita itu?” Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Venina menegang. Dia memegang erat berkas di tangannya seolah benda itu adalah perisai yang akan menyelamatkannya. 

“Saya… saya tidak mengerti maksud, Bapak,” sahutnya dengan gemetar. 

“Apa kamu ada di ruangan saya semalam?” desak Erlangga dengan tak sabar.

Ayrin menghela napas sambil berusaha menenangkan diri agar keresahannya tak terlihat. “Saya langsung pulang, Pak.”

Namun, Erlangga tidak puas dengan jawaban itu. “Lalu kenapa kacamatamu ada di ruangan saya?” tanya Erlangga dengan suaranya yang berat, menekan Venina untuk memberikan penjelasan yang jelas.

Venina merasakan detak jantungnya semakin cepat. Dia merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya yang menyebabkan kacamatanya tertinggal di ruangan Erlangga. "Saya… saya tidak tahu, Pak," ucapnya yang terdengar bodoh, hampir terdengar seperti bisikan yang terhenti di tenggorokannya.

Jari-jemari Erlangga menyentuh wajahnya, membuat Venina terkejut. "Kamu tahu betul apa yang terjadi malam itu, Nina. Jangan berpura-pura seolah-olah kamu bisa melupakannya begitu saja," bisiknya dengan suara lembut, tetapi berisi ancaman yang tak terelakkan.  “Kamulah wanita itu!”

Venina merasa dunianya berputar. Dia terperangah oleh kata-kata Erlangga. Seketika tubuhnya terasa lemas hingga dia terpaksa berlutut di hadapan pria itu. "Saya… saya janji akan melupakan semuanya dan tidak akan pernah membahasnya, Pak. Tapi tolong jangan pecat saya," pintanya dengan suara yang hampir tercekik oleh kecemasan.

Erlangga juga berlutut, menyamai posisi Venina. Dia mencengkeram kedua pipi wanita itu dengan keras. "Jadi, benar kamu memanfaatkan kondisi saya semalam?" tanyanya, suaranya terdengar dingin dan penuh dengan ketidakpercayaan.

Venina tertegun mendengar tuduhan itu. Dia tidak bisa mempercayai bahwa Erlangga mengira dirinya telah memanfaatkan kondisinya.

“Kenapa kamu diam, huh?” ejek Erlangga dengan sengit. Kemarahan dan kecurigaan terlihat jelas di matanya. “Apa benar yang saya katakan itu? Apa benar kamu kembali ke ruangan saya dan menggunakan kesempatan itu untuk bisa bersama dengan saya?”

Mendengar ejekan itu, amarah mulai membara di dalam diri Venina. Dia merasa terhina oleh perlakuan Erlangga yang meragukan integritasnya. "Apa yang sebenarnya Bapak ingin dengar dari saya?" tantangnya dengan berani, tatapannya menusuk tajam ke dalam mata pria itu.

“Jangan main-main dengan saya, Nina! Jangan paksa saya untuk berbuat lebih dari ini!” Erlangga menghempaskan tangannya, membuat Venina terduduk di lantai. 

Venina menghela napas panjang sebelum menjawab atasannya itu, "Ya, kita memang bercinta semalam kalau memang itu yang ingin Bapak dengar," ucapnya dengan suara yang penuh dengan keberanian, meskipun tubuhnya gemetar oleh ketakutan.

Geraman kekesalan Erlangga menggema di ruangan itu.  Dia merasa amarahnya meluap-luap, tetapi Venina tetap berdiri tegak, menahan pandangan tajam sang atasan. "Lebih baik Bapak memeriksa kamera pengawas untuk mengetahui semua yang terjadi. Mungkin semuanya akan lebih jelas," ujarnya dengan suara yang bergetar namun penuh dengan keberanian.

Dengan langkah mantap, Venina meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Erlangga dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.

***

Erlangga memijat pelipisnya dengan kuat. Perasaan jijik menyeruak dalam dirinya setelah melihat bagaimana caranya meluluhkan Venina. Dia telah merusak kehormatan wanita itu dengan cara yang paling kasar menurutnya.

Diingatnya kembali bagaimana ekspresi wanita mungil berkacamata itu ketika memandangnya dengan tajam meski seluruh tubuhnya gemetar.  

"Ya, kita memang bercinta semalam kalau memang itu yang ingin Bapak dengar," suara Venina terus bergema di telinganya, menyebabkan kepalanya berdenyut-denyut.

Perhatian Erlangga teralihkan ketika ponselnya berdering. Dia menyambar ponselnya dengan gerakan cepat, tangannya gemetar saat dia menjawab panggilan. "Batalkan semua pertemuan saya hari ini!" perintahnya pada Riko, asistennya, dengan suara yang tegas. 

"Oh ya, tolong panggilkan Venina. Suruh dia ke ruangan saya sekarang!" tambah Erlangga sebelum mengakhiri panggilan.

Tak lama, ponsel Erlangga kembali berdering. Riko mengabarkan bahwa Venina tidak ada di ruangannya dan dia tidak bisa menghubunginya.   

Erlangga langsung bangkit dari kursinya, jantungnya berdegup kencang. Pikirannya dipenuhi oleh segala kemungkinan mengerikan yang bisa saja terjadi pada wanita itu. Venina pergi dalam kondisi emosi, sementara wajahnya tampak begitu pucat. Mungkinkah dia…

Dengan langkah cepat, Erlangga keluar dari ruangannya. Tatapannya menyapu meja Venina, mencari-cari tanda-tanda keberadaannya. Namun, tidak ada apa-apa kecuali tas dan ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Entah karena naluri atau pemikiran lainnya, Erlangga langsung menuju ke lift dan menekan tombol untuk naik ke lantai atas. Dia menunggu dengan tidak sabar sampai akhirnya pintu lift terbuka, lalu dengan langkah cepat, dia melangkah keluar dan menaiki tangga menuju rooftop.

Ketika dia sampai di atas, napasnya tersengal-sengal. Dia melihat Venina berdiri di tepi gedung, tubuhnya terayun di ambang bahaya. "Kamu gila, huh?!" jerit Erlangga, langkahnya terburu-buru mendekati Venina. Dengan cepat, dia menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

"Kamu pikir dengan mati semua masalah akan selesai?" desis Erlangga, suaranya penuh dengan kecemasan dan kekesalan. Dia merasakan detak jantungnya berdebar liar di dada Venina, memadukan dengan irama yang sama di dalam dadanya sendiri.

"Apa yang kamu pikirkan, Nina?" Erlangga mencoba menenangkan diri sebelum berbicara lebih lanjut. Dia melepaskan pelukannya lalu menatap wanita di hadapannya lekat-lekat. “Apa kamu benar-benar ingin membunuh diri dan membuat saya merasa bersalah selamanya?” 

Namun, tanggapan Venina tak kunjung datang. Dia hanya menundukkan kepalanya, bibirnya bergetar tanpa suara. Dan dalam keheningan itu, Erlangga merasa sesak. Apa yang sudah dia lakukan? Bagaimana dia bisa sampai melakukan hal itu pada sekretarisnya yang polos dan tampak naif ini? 

“Maafkan saya, Nina. Maafkan semua kesalahan saya semalam,” ujarnya dengan tulus. Diremasnya  bahu Venina dengan lembut. Diletakkannya satu jarinya di bawah dagu wanita itu agar menatapnya. 

“Lihat saya, Nina!” Erlangga menjaga suaranya agar terdengar netral.

Wanita itu mengangkat wajahnya, dan dalam tatapannya Erlangga bisa melihat campuran antara kegetiran dan keputusasaan. Wajahnya pucat, dan matanya terlihat begitu lelah. "Apa yang Bapak inginkan?" tanyanya dengan suara yang datar, membuat Erlangga terkejut. Tidak pernah sebelumnya dia mendengar nada seperti itu dari Venina.

“Kita harus berbicara tentang semalam, Nina,” kata Erlangga dengan tegas. Membuat tubuh Venina menegang dan semburat merah mewarnai pipinya yang pucat itu. 

Tanpa disangka, reaksi Venina memicu sesuatu dalam diri Erlangga. Gambaran tubuh wanita itu, lembut dan menggoda, tiba-tiba saja muncul di benaknya. Dia merasakan denyutan getaran di seluruh tubuhnya.

Kini, dia tidak perlu bertanya-tanya seperti apa tubuh Venina di balik pakaian kerjanya yang monoton dan tampak longgar di tubuhnya itu. Dia sudah tahu. Dan dia harus menghapus semua ingatan itu dari benaknya.

“Apalagi yang harus dibicarakan?” Tangan Venina saling bertautan. Terlihat buku-buku jarinya memutih ketika dia meremasnya dengan kuat.

"Kita harus membicarakan tentang kemungkinan yang bisa saja terjadi kedepannya," ujar Erlangga dengan tegas, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan ketakutannya. 

"Kemungkinan apa?" Venina menatapnya dengan dahi berkerut, mencoba memahami apa yang sedang dibicarakan oleh Erlangga.

"Kemungkinan kalau saja kamu akan hamil," ujar Erlangga dengan hati-hati, menelan ludah saat dia mengungkapkan kata-kata itu. "Karena sepertinya kita melakukannya tanpa pengaman."

Venina terdiam, matanya membesar mendengar kata-kata itu. “Hamil?” gumamnya sambil mengusap perutnya tanpa sadar. Bagaimana mungkin dia tidak memikirkan kemungkinan itu setelah apa yang terjadi di antara mereka?

Bab 3

"Kenapa kamu harus sebodoh ini, Nina?" umpatnya pada dirinya sendiri dengan nada penuh keputusasaan ketika dia baru saja keluar dari ruangan Erlangga.

Tubuhnya kembali bergetar ketika mengingat kata-kata lancangnya kepada atasannya itu. Dia menampar pipinya berkali-kali, mencoba mengusir semua bayangan buruk di kepalanya.

Namun, alih-alih tenang, perasaannya malah semakin tidak karuan ketika membayangkan bagaimana reaksi Erlangga saat melihat video yang menampilkan percintaan mereka semalam. Rasa malu dan penyesalan menyergapnya, dia merasa ingin tenggelam di dalam tanah dan menghilang dari pandangan semua orang.

"Aargh! Apa sih yang kamu pikirkan, Nina?" desisnya frustrasi pada dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil keputusan untuk pergi ke rooftop, berharap pikiran dan perasaannya akan menjadi lebih tenang di sana.

Namun, harapannya tidak sesuai kenyataan. Setelah susah payah menaiki ratusan tangga sampai kakinya terasa sakit dan dadanya terasa panas, bayangan pria itu tetap tidak mau hilang juga dari kepalanya. 

Jantungnya berdebar kencang di dadanya saat merasakan tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke dalam pelukan Erlangga. Jeritan pria itu menusuk telinganya “Kamu gila, huh?!”

‘Barangkali aku memang sudah gila?’ desah Venina dalam hati, dadanya terasa sesak oleh hembusan napas Erlangga yang memburu di dadanya. Setetes keringat dingin mengalir di pelipisnya yang pucat.

"Kamu pikir dengan mati semua masalah akan selesai?" pertanyaan Erlangga membuat Venina tersadar dari lamunan gelapnya. Apakah pria itu berpikir dia ingin mengakhiri hidupnya di sini?

Sebenarnya, Venina sempat memikirkan kemungkinan itu ketika dia berdiri di ujung gedung, mengukur ketinggian seolah sedang mempertimbangkan pilihan hidup dan mati. Dia tak menyangka bahwa Erlangga akan merengkuhnya seperti itu.

Kata-kata yang keluar dari bibir Erlangga selanjutnya benar-benar mengembalikan dirinya pada kenyataan. Matanya terasa panas ketika mendengar ucapan permintaan maaf yang begitu tulus dari pria itu. 

‘Sepertinya semuanya memang harus diselesaikan sekarang!’ pikirnya dengan mantap sampai akhirnya dia bisa memandang wajah Erlangga yang kembali membuatnya membeku. Tatapannya terasa tajam sekaligus hangat. Tetapi Venina tidak boleh terjebak lagi.

"Apa yang Bapak inginkan?" Venina berusaha keras mengucapkan pertanyaan itu sedatar mungkin. Dan sepertinya dia berhasil saat  melihat perubahan air muka atasannya itu.  

“Kita harus berbicara tentang semalam, Nina.”

Pertahanan diri Venina langsung roboh seketika. Melihat ketegasan pria itu membuatnya tak berdaya. Ingatan tentang malam yang mereka habiskan bersama mengalir deras dalam pikiran Venina. Dan sesuatu yang diucapkan Erlangga setelahnya membuatnya terguncang.

"Kemungkinan kalau saja kamu akan hamil." Venina merasa seakan-akan tercekik oleh kata-kata itu. Bagaimana jika dirinya hamil? Dan bagaimana Erlangga akan meresponsnya?

“Jadi, apa yang ingin Bapak katakan?” tanya Venina dengan ragu-ragu. Dia memaksakan diri untuk menatap atasannya lebih lama. 

“Apa yang kamu harapkan dari saya?”

Apalagi yang bisa saya harapkan? Pada akhirnya semua kesalahan ini hanya saya yang akan menanggungnya, kan? Venina sudah membuka mulutnya, tetapi dia mengurungkan niatnya itu.  Dipandangnya wajah Erlangga dengan pahit. Dia berharap atasannya  itu bisa menembus perasaannya yang tak terlukiskan ini. 

“Saya tidak mengharapkan apa-apa, Pak. Saya sadar akan posisi saya.”

Air muka Erlangga berubah, tetapi Venina tidak bisa menebak apa yang sedang pria itu pikirkan. 

“Lalu apa yang kamu inginkan?” tanya Erlangga lagi. 

Mengulang waktu dan tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Ingin sekali Venina meneriakkan kata-kata itu. Namun dirinya tidak punya keberanian. 

“Apa yang kamu inginkan, Nina?” ulang pria itu dengan tidak sabar. 

Venina menarik napas dalam-dalam, mencoba merangkai kata-kata yang tepat dalam pikirannya yang kacau. “Saya hanya ingin tetap bekerja dan melanjutkan hidup saya, Pak,” ujarnya dengan hati-hati, mencoba menekan getaran yang ada di dalam suaranya.

Erlangga mendengarkan dengan seksama, matanya menyelidiki setiap ekspresi wajah Venina. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya, namun dia menyembunyikan dengan cermat di balik raut wajah yang tenang.“Lalu bagaimana kalau kamu hamil nanti? Apa yang akan kamu lakukan?”

Venina terdiam cukup lama. Pertanyaan itu sangat mengusik pikirannya. Apalagi saat menatap wajah Erlangga yang begitu tenang saat mengucapkan kata-katanya. 

“Jawaban apa yang Bapak harapkan dari saya?” ucapnya dengan ragu, matanya menatap atasannya itu dengan perasaan campur aduk.

“Saya akan menghargai keputusanmu, Nina. Kalau memang kamu ingin mempertahankan atau menggugurkannya, saya akan menerima semua pilihanmu.” Suara Erlangga terdengar begitu mantap, namun di balik kepercayaan dirinya itu, ada getaran kegelisahan yang sulit untuk disembunyikan.

“Tapi saya belum tentu hamil,” sahut Venina dengan kesal. Dia melanjutkan ucapannya dengan menggebu-gebu, “Dan juga dari semua opsi yang ada, saya tidak pernah berpikir untuk membunuh darah daging saya sendiri.”

"Kemungkinan itu pasti ada, Nina," jawab Erlangga dengan tenang, tapi kata-katanya menusuk tajam ke dalam hati Venina. “Saya benar-benar tidak masalah kalau kamu memilih untuk mempertahankannya.”

Venina hanya diam karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Semua ini terjadi terlalu cepat. Dan dia merasa belum siap menghadapinya.

“Saya akan mendukung keputusanmu dan bertanggung jawab. Kamu tidak perlu khawatir, Nina,” lanjut Erlangga, seolah mengerti kegelisahan sekretarisnya itu.

Intensitas kata-kata Erlangga mengejutkan Venina. “Tanggung jawab?” gumamnya pelan dengan nada tak percaya. 

Venina menunggu jawaban pria itu sampai hampir lupa bernapas. Dia ingin segera mendengar maksud dari tanggung jawab yang dikatakan olehnya. 

“Kalau memang nanti kamu hamil dan memilih untuk mempertahankannya, saya akan menanggung semua biaya hidupmu dan anak itu. Kamu bisa tinggal di tempat yang kamu inginkan, saya akan menyiapkan semuanya.”

“Saya pastikan kalian akan aman dan tidak kekurangan apapun. Hidup kalian akan terjamin,” lanjutnya lagi dengan sungguh-sungguh.

Guratan kekecewaan memenuhi hati Venina. Butuh waktu sepersekian detik baginya untuk bisa bernapas kembali. 

“Kamu benar-benar sangat bodoh, Nina. Apa yang mau kamu harapkan? Tanggung jawab seperti apa yang kamu pikir akan dia berikan? Sampai mati pun dia akan berpikir seribu kali untuk membawamu masuk ke dalam kehidupannya.” Suara kegelisahan itu bergema di dalam dadanya.  

“Saya akan mengatasi dan menanggung hidup saya sendiri. Pak Angga tidak perlu khawatir.” Venina mendorong tubuh Erlangga, berusaha untuk menyingkir dan mencari tempat untuk menenangkan diri. Tetapi tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh pria itu.

“Dengarkan saya, Nina. Saya mengatakan semua ini bukan untuk menyinggungmu. Saya hanya ingin menebus kesalahan yang saya buat supaya kamu tidak  menderita karena harus mengurus bayi itu sendiri.” Jemari Erlangga menekan lengan Venina dengan erat. “Hanya ini penawaran terbaik yang bisa saya berikan.”

“Sudahlah, Pak. Rasanya masih terlalu jauh untuk membicarakan ini sekarang,” sergah Venina dengan getir. Dia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman atasannya itu. “Lagipula saya juga belum tentu hamil.”

“Kita tidak mungkin bersama, Nina. Jadi tolong jangan mempersulit segalanya!” seru Erlangga membuat tubuh Venina membeku. 

“Lupakanlah saja semuanya, Pak. Anggap saja yang terjadi itu tanggung jawab saya. Biar saya yang menanggung semuanya.” Sesaat Venina bisa melihat wajah Erlangga yang terperangah saat mendengar ucapannya. 

“Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Nina? Pernikahan? Apa itu yang kamu harapkan?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED