Bab 1

“Welcome to the best campus for learning Sanskrit, Grisse.” Aku tersenyum sendiri mendengar kalimat yang kugumamkan lirih. Sepasang mataku tak henti menyapu seluruh objek yang ada di hadapanku. Sebuah bangunan universitas yang bergaya klasik dengan warna terakota mendominasi hampir seluruh bangunan. Indah. Dan keren. Dua kata itu tak henti kukatakan untuk melukiskan kekagumanku. Sambil terus menatap bangunan kampus, ingatanku seolah diputar ke belakang. Ke bagian sebelum aku sampai di sini. Menginjakkan kaki di kampus ternama ini.

Aku masih ingat betul ketika sebuah surel dari grup pencari beasiswa yang kuikuti mengirim rangkuman informasi. Sebuah kampus ternama di luar negeri menawarkan program pertukaran mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan di jurusan bahasa-bahasa kuno. Tentu saja aku sangat tertarik untuk mendaftar program itu. Dalam benakku langsung terbayang bahwa aku akan mempelajari berbagai bahasa kuno dunia yang merupakan akar dari bahasa-bahasa yang digunakan saat ini. Tanpa menunda lagi, aku segera mengecek persyaratan program pertukaran mahasiswa tersebut. Aku bertekad bahwa hari ini juga akan kupenuhi semua persyaratan yang diminta kemudian segera mengirim ke alamat surel yang tertera. Aku tidak ingin menunda lagi pekerjaan ini. Bagiku, menunda sama artinya dengan membuang kesempatan.

Aku harus menunggu dengan sabar selama enam puluh hari sampai akhirnya pengumuman program tersebut masuk ke akun surelku. Dengan hati berdebar, kuklik surel itu dan aku langsung melonjak kegirangan begitu kudapati kata congratulations di bagian awal surat.

“Yeay, aku diterima.” Sorakku dengan suara lantang. Kuabaikan pandangan keheranaan orang-orang di sekitarku.

“Grisse, kalau berisik keluar saja!” Ujar petugas ruang baca ketus. Senyum lebar di wajahku memudar seketika. Ya, aku sama sekali tidak sadar jika sekarang aku tengah berada di ruang baca fakultasku.

“Maaf, Bu.” Ucapku dengan suara lirih. Tanpa melihat lagi ke arah petugas ruang baca, aku pun kembali duduk dan kembali menekuni laptopku.

*

“Hai, ruang akademik di mana ya?” Tanyaku pada seorang gadis berambut pirang. Ia menatapku sebentar sebelum akhirnya menjawab sambil merentangkan tangan kirinya.

“Oh, kamu lurus saja kemudian belok kanan. Ruang akademik ada di sisi kiri bagian tengah.”

“Terima kasih.” Ujarku sambil mengangguk.

“Oke.” Gadis itu menjawab tanpa melihatku. Ia terlihat begitu asyik dengan ponselnya. Aku pun melangkah menuju arah yang ditunjukkan gadis pirang tadi. Tidak perlu waktu lama, akhirnya aku sampi di depan sepasang pintu yang tertutup. Di bagian atas pintu tersebut terdapat plat dengan tulisan akademik menggunakan huruf kapital seluruhnya. Perlahan kudorong salah satu pegangan pintunya. Tepat ketika pintu yang kudorong terbuka, aku melihat beberapa kubikel rendah yang memisahkan meja demi meja. aku pun menghampiri salah satu meja yang terdekat dengan pintu. Di sana, seorang laki-laki paruh baya menatapku. Ia terlihat ramah dan sepertinya siap untuk mendengarkanku.

“Halo, Pak. Saya peserta program pertukaran mahasiswa. Menurut surat yang saya terima, saya harus melapor ke bagian akademik.”

Laki-laki itu mengangguk tanda mengerti. Tanpa membalas kalimatku, dengan cekatan laki-laki itu mengetikkan sesuatu. Setelah mengetukkan telunjuknya pada tombol enter satu kali, laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya padaku.

“Anda Grisse Anggara?” Tanyanya yakin. Refleks, aku mengangguk sebagai jawaban.

“Jangan heran. Anda adalah orang terakhir program pertukaran mahasiswa yang melapor ke sini.”

Aku kembali mengangguk. Laki-laki ini bisa membaca pikiranku.

“Di sini tertulis Anda memilih mata kuliah Bahasa Sansekerta dan Tamil.”

“Benar, Pak.”

“Sayang Mata kuliah Bahasa Tamil tidak ditawarkan semester ini.”

Aku melongo mendengar penjelasan laki-laki di hadapanku.

“Kalau memang tidak ditawarkan, kenapa ditulis dalam program itu, Pak?” Aku berusaha menyembunyikan kekesalanku. Rasannya aneh saja, untuk kampus yang katanya terbaik, mereka bisa melakukan kesalahan yang bagiku sangat merugikan.

“Pengajarnya sedang melakukan penelitian di kampung halamannya selama satu tahun.” Jawab laki-laki itu santai. Aku hanya merespons kalimatnya dengan oh yang sukar ditafsirkan. Namun, kemudian aku berkata pada diriku sendiri: tidak ada gunanya marah, toh kemarahanku tidak akan membuat pengajar Bahasa Tamil itu segera kembali.

“Jadi, saya hanya akan mengikuti mata kuliah Bahasa Sansekerta saja, Pak?”

“Iya, tapi tenang saja. Kami tetap akan membayarkan beasiswamu secara penuh. Sebagai gantinya, kamu bisa mengikuti klub yoga yang diasuh oleh dosen pengajar Bahasa Sansekerta.”

“Baiklah. Terima kasih informasinya, Pak.” Aku sudah bersiap untuk beranjak dari hadapan laki-laki itu, tapi suaranya kembali menahanku.

“Tunggu. Hari ini pukul 15.00 ada jadwal kelas Bahasa Sansekerta. Dan pukul 18.00 klub yoga akan mulai latihan.” Ujarnya sambil menyodorkan map transparan padaku.

“Di dalamnya terdapat lembar jadwal kuliah, jadwal klub, dan kontak pengajarnya. Untuk mendaftar di klub yoga, kamu datang saja ke gedung C yang ada di bagian belakang bangunan kampus ini. Itu adalah gedung khusus untuk kegiatan semua klub yang ada di sini.”

“Baik. Terima kasih, Pak.” Jawabku setelah menerima map transparan tersebut. Laki-laki itu mengangguk sebagai jawaban. Aku kemudian keluar dari ruang akademik dan memilih berdiri di seberang pintu ruang akademik untuk mengecek isi map transparan yang baru kuterima. Aku mencari lembar berisi jadwal kuliah karena petugas itu mengatakan bahwa hari ini ada jadwal kuliah Bahasa Sansekerta. Setelah melihat kolom yang memuat keterangan ruang kelas, aku pun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Sepasang jarum pada jam tanganku menunjuk angka tiga dan satu. Ah sial, aku terlambat. Kelas telah dimulai lima menit yang lalu. Aku pun bergegas mencari papan berisi penunjuk arah ruang kelas. Setelah menemukannya, aku pun mempercepat langkahku. Sesekali aku berlari agar bisa segera sampai ke ruang kelas yang menjadi tujuanku.

*

“Sorry, I am late.” Ujarku setelah membuka pintu ruang kelas.

“It’s ok.” Jawab dosen pengajar itu lembut. Bukannya segera mengambil tempat duduk, aku justru mematung di tempatku. Aku terkesima dengan dosen pengajarku. Ya Tuhan, kenapa dia begitu tampan. Keluhku dalam hati. Ya, dosen pengajar Bahasa Sansekerta ini begitu tampan. Selain tampan, aku juga bisa merasakan karismanya yang kuat.

“Silakan duduk.” Ujarnya sambil tersenyum. Duh, senyumnya manis sekali. Aku kembali mengeluh dalam hati.

“Eh, iya Pak. Maaf.” Dengan tersipu aku melangkah perlahan sambil mengedarkan pandang. Mencari kursi yang belum ditempati.

“Nona, silakan duduk di sini.” Suara dosen itu kembali terdengar. Refleks, aku menoleh ke arahnya. Kemudian dengan cepat aku melihat ke arah telunjuknya.

“Oh, ok. Thank you, Sir.”

Duh, kenapa aku harus duduk tepat di hadapannya sih? Keluhku lagi setelah mengempaskan bokongku ke atas permukaan kursi.

“Well, sebelum memulai perkuliahan, saya akan memperkenalkan diri dulu. Nama saya Vidwan Surya. Saya akan memberi kuliah Bahasa Sansekerta. Selain itu, jika kalian berminat silakan bergabung dengan klub yoga karena saya merupakan instruktur di klub tersebut.”

Aku tertegun mendengar perkataan dosen itu. Apa? Dia juga menjadi instruktur klub yoga? Duh!

***

Bab 2

Pertama kali melihatnya, aku langsung tertarik. Sepasang manik matanya yang membulat sempurna tatkala mengagumi bangunan kampus, benar-benar mencuri perhatianku. Aku yang saat itu seharusnya segera mengikuti rapat fakultas, terpaksa menghentikan langkah tergesaku.

Cantik dan sederhana.

Dua kata yang teramat umum, tapi gabungan dua kata itu berubah menjadi menarik, indah, dan mempesona karena berasal dari dirinya. Dia tetap terlihat cantik, meskipun penampilannya sangat biasa dan sederhana: kemeja polos warna krim dipadu rok sepanjang lutut dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru. Kesederhanaan yang ia tampilkan benar-benar membuat kecantikannya terekspos dengan sempurna. Dan aku pun menyadari bahwa aku tertarik pada pandangan pertama, dengan gadis yang baru kali ini kulihat berada di kampusku.

Polos.

Melihat penampilan dan sikapnya yang malu-malu, aku sangat yakin bahwa ia adalah gadis yang polos. Polos dalam artian, hati dan tubuhnya belum pernah disentuh pria. Menyebut kata tubuh ketika melihatnya membuat kelelakianku bergolak.

Pintar.

Dua puluh tahun menjadi dosen telah mengajariku banyak hal, salah satunya bagaimana menilai kemampuan mahasiswa dari cerminan penampilan. Meskipun harus kuakui, penilaian berdasarkan penampilan tidaklah sepenuhnya tepat, tapi mahasiswa yang memang serius belajar tidak pernah berperilaku yang aneh-aneh. Mereka yang cenderung pendiam lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Dari segi penampilan, mereka cenderung tidak menarik dan tidak mencuri perhatian. Sama persis seperti gadis yang mencuri perhatianku saat ini.

Ah…

Tanpa sadar aku mendesah. Tetiba aku merasakan diriku dilingkupi gairah yang terasa menyenangkan. Apalagi kalau bukan gairah untuk menyentuhnya. Jika ada kesempatan lebih, aku ingin sekali menjamahnya. Dan di puncak dari gairahmu terhadap dirinya, aku ingin menjadikannya milikku. Ya, hanya milikku seorang. Detik berikutnya, kurasakan pusat diriku mengeras. Aku berdecak. Kesal dengan diriku sendiri yang berubah menjadi liar dan… cabul. Aku sempat keheranan bahwa diriku kini berubah menjadi amoral hanya dengan melihatnya. Sosoknya benar-benar telah mengusik fantasiku yang paling liar. Aku menunduk sebentar, memperhatikan milikku yang seolah berontak ingin keluar dari celana. Lagi-lagi aku mendesah sambil merasa beruntung karena hari ini aku memakai baju atasan yang agak panjang, seperti pakaian khas laki-laki Asia Selatan.

*

Aku melihatnya keluar dari ruangan akademik sambil membawa map plastik transparan. Sekilas kulihat kartu anggota klub yoga berada di bagian terluar dari lembaran-lembaran kertas berwarna putih. Bibirku bergerak membentuk senyuman tipis. Apakah aku senang? Apakah aku senang karena melihatnya membawa kartu anggota klub yoga? Tentu saja. Mendapati dia membawa kartu anggota klub yang kuasuh membuatku bergegas memikirkan banyak rencana. Diam-diam, aku berterima kasih pada konselor yang baru saja ditemuinya. Entah apa yang dikatakan konselor itu sehingga dia memilih untuk bergabung dengan klub asuhanku. Aku cukup lama larut dalam kegembiraan, kusanjung semesta yang membuat gadis itu datang padaku lebih mudah dari yang kuduga.

Aku masih sibuk dengan pikiran-pikiranku mengenai gadis itu. Juga mengenai mata kuliah yang akan diambilnya. Aku menduga bahwa gadis itu akan masuk ke kelasku hari ini dan seratus persen dugaanku benar. Rasanya aku ingin melompat dan bersorak tatkala melihatnya berdiri di depan pintu. Memandangku dengan tatapan takut serta sungkan.

"Sorry, Sir. I am late." Ia terlihat mencuri pandang ke arahku. Sorot matanya menunjukkan rasa bersalah. Kupalingkan pandanganku darinya untuk menatap jam dinding yang bertengger di atas papan tulis.

"It's ok. Belum ada sepuluh menit. Take your seat." Aku mempersilakan gadis itu duduk. Gadis itu mengedarkan pandnag ke seluruh penjuru kelas. Tampak mencari-cari, adakah kursi yang masih kosong sehingga bisa ia tempati.

“Hey, duduklah di sini karena hanya ini satu-satunya kursi yang belum ditempati.” Aku memanggilnya sambil mengarahkan telunjukku ke kursi yang berada tepat di depanku. Gadis itu melihat ke arah yang kutunjuk.

“Thank you, Sir.” Ucapnya lirih sambil melepas tas ranselnya. Aku tidak menjawab. Hanya anggukan kecil yang kuberikan. Itu pun aku tidak melihatnya.

*

Aku tidak pernah merasa begitu bersemangat dalam mengajar sebelumnya. Materi yang telah kupersiapkan untuk tiga puluh menit pemaparan, nyatanya sudah berakhir sepuluh menit lebih awal. Tidak ada satu pun pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa membuatku bisa mengakhiri kelas lebih cepat.

“Sir, bolehkah saya bertanya beberapa hal?” Gadis itu beranjak dari duduknya.

“Tentu. Setelah ini saya akan menjawab semua pertanyaanmu.” Aku berusaha menyembunyikan luapan rasa senang yang membanjiri hatiku.

“Saya ingin bertanya mengenai penyebaran bahasa Sansekerta di Asia Tenggara.” Gadis itu kembali duduk kemudian mengambil pulpennya. Ia terlihat siap mencatat apa saja yang akan kukatakan. Aku sengaja tidak langsung menjawab pertanyaannya. Sengaja aku menunggu mahasiswa lainnya meninggalkan kelas.

“Kau baru di kampus ini?”

“Benar, Sir.”

“Artinya kau melewatkan sesi perkenalan dirimu.”

“Oh, maaf Sir. Anda tidak memintaku tadi.” Ia gugup ketika mengatakan kalimat keduanya. Aku tahu bahwa ia takut kalimatnya terdengar menyalahkan diriku.

“Ya. Sekarang, silakan perkenalkan dirimu.” Aku memintanya sambil beranjak dari kursiku. Kini aku duduk dengan menopang pada salah satu sudut meja.

“Nama saya Grisse Anggara, Sir. Saya peserta Program Pertukaran Mahasiswa yang diadakan universitas ini.”

“Itu artinya kamu tamuku.” Aku berkata antusias. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk.

“Kenapa Bahasa Sansekerta?” Tanyaku. Gadis itu tampak berpikir. Ia terlihat tidak gegabah dalam menjawab pertanyaanku. Pertanyaan klise yang bisa kugunakan untuk mengukur keseriusan mahasiswa pada kuliahku.

“Karena saya mempelajari teks-teks yang ditulis menggunakan aksara Devanagari.”

Aku mengangguk mendengar apa yang dikatakan gadis itu.

“Bukankah aksara Devanagari pertama kali digunakan untuk menulis teks dalam bahasa Sansekerta?” Tambahnya lagi. Aku menatap dalam-dalam wajah cantik di hadapanku. Jujur, aku kagum dengan pengetahuan Grisse.

“Ya, kamu benar. Aku sungguh kagum padamu, Grisse. Kamu masih muda, tapi menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang tidak semua orang mau mempelajarinya.” Aku memujinya tulus.

“Terima kasih, Sir tapi Anda terlalu berlebihan.” Grisse menunduk karena tersipu.

“Terima kasih, Sir.” Gadis itu mengulangi ucapan terima kasihnya. Sungguh gadis yang sopan dan tahu tata krama. Rasa hangat menjalari tubuhku beberapa saat, sebelum akhirnya berganti dengan rasa panas yang sangat kusuka. Aku bernafsu dan bergairah padanya.

“Apakah ada bahan bacaan yang bisa Anda rekomendasikan untukku, Sir? Terkait pertanyaanku tadi, mengenai penyebaran bahasa Sansekerta di Asia Tenggara.”

Aku seperti mendapat durian runtuh setelah mendengar pertanyaan Grisse. Tetiba, sebuah rencana besar membentang di hadapanku. Rencana yang bisa membuat Grisse semakin dekat padaku.

“Ada beberapa buku yang bisa kamu baca. Saya akan meminjamkannya padamu. Kau bisa mengambilnya di apartemenku sore nanti selepas latihan di klub yoga.”

“Klub yoga?” Grisse menatapku penuh tanya.

“Ya, aku adalah pengasuh klub Yoga. Dan, kulihat kau juga memiliki kartu anggota di klub yoga.” Aku menunjuk kartu yang tersimpan di dalam map plastik transparan miliknya.

“Iya, Sir. Konselor menyarankan saya untuk bergabung dengan klub yoga sebagai ganti mata kuliah Bahasa Tamil yang tidak ditawarkan semester ini.”

“Kau bisa berkunjung ke apartemenku setelah latihan yoga.” ulangku. Grisse terdiam sejenak. Ia terlihat hendak mengatakan sesuatu, tapi ragu.

“Kenapa?”

“Apa aku tidak mengganggu Anda, Sir? Kulihat, latihan yoga berlangsung selama dua jam. Itu artinya latihan baru selesai pukul dua puluh. Mungkin saya akan berkunjung di lain hari ketika tidak ada jadwal latihan, Sir.”

“Aku tidak terganggu, Grisse. Kita bisa pergi ke apartemenku bersama-sama. Tenang saja, apartemenku masih berada di lingkungan kampus.” Aku berusaha meyakinkan Grisse bahwa aku tidak keberatan dengan kunjungannya. Kulihat Grisse masih ragu sehingga aku kembali meyakinkan dirinya untuk tetap pergi.

“Tidak apa-apa. Percayalah. Kamu tidak akan menggangguku.” Aku menepuk bahu Grisse pelan. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk.

“Terima kasih, Sir.”

“Sama-sama. By the way, kamu tinggal di mana?”

“Asrama mahasiswa, Sir.”

“Syukurlah.” Aku menunjukkan kelegaan.

“Kenapa, Sir?”

Aku diam sejenak. Grisse menatapku tanpa berkedip.

“Kau bisa menginap atau aku akan mengantarmu pulang.”

***

Bab 3

Latihan akan dimulai lima menit lagi, tapi Vidwan belum juga bersiap. Ia masih mengenakan pakaian yang dipakainya mengajar. Kaos beserta celana pendeknya masih terlipat rapi dan tergeletak di atas meja. Matras yoganya juga masih tergulung, belum dibentangkan. Ia menolak ketika Grace menawarkan diri untuk menyiapkan matras miliknya.

Beberapa peserta yang sudah datang dan siap mengikuti latihan memandanginya heran. Tidak biasanya sang guru belum siap. Vidwan tidak peduli dengan pandangan penuh tanya seluruh peserta yang hadir. Banyak dari anggota Klubnya berasal dari luar kampus. Mereka mengikuti sesi latihan bersama Vidwan karena kagum dengan sosoknya.

Vidwan gelisah seperti ini karena sedang menunggu Grisse. Ia sangat khawatir Grisse urung hadir latihan sehingga kunjungan gadis itu ke apartemen miliknya juga batal. Kini, Vidwan menyadari bahwa ia telah mengatakan hal bodoh pada Grisse tadi. Secara terang-terangan Vidwan meminta Grisse menginap. Ia berdalih bahwa beberapa koleksinya adalah buku-buku langka yang sudah tidak ada di toko buku. Bahkan di perpustakaan universitas termasuk dalam koleksi khusus yang aksesnya sangat terbatas. Vidwan sampai harus mengarang kebohongan lainnya ketika Grisse mengatakan keberatannya. Gadis itu seolah menuntut janji Vidwan yang mengatakan akan meminjamkan buku yang diperlukan.

“Aku minta maaf telah membuatmu salah paham. Aku memang tidak keberatan untuk meminjamkan buku-bukuku, Grisse tapi tidak untuk dibawa keluar dari apartemenku.”

Vidwan sengaja memasang tampang menyesal sambil berharap Grisse berubah pikiran.

“Tapi, Sir….” Nada ragunya terdengar sangat jelas, tapi Vidwan tidak peduli. Yang Vidwan pedulikan saat ini adalah bagaimana membuat Grisse datang ke apartemennya sehingga ia bisa melancarkan aksinya. Vidwan sadar bahwa ia tak ubahnya seperti predator lapar yang kurang sabar dalam mengejar buruan. Namun lagi-lagi, Vidwan tidak peduli dengan itu. Vidwan hanya menginginkan Grisse datang ke apartemennya.

“Guru, apakah Anda baik-baik saja?” Pertanyaan Grace, mahasiswi yang ditunjuknya menjadi manajer klub, membuyarkan kecamuk pikiran Vidwan.

“Ya, aku baik-baik saja Grace. Thanks. Latihan akan kita mulai lima menit lagi. Pandulah orang-orang untuk melakukan pemanasan terlebih dulu.”

Grace tampak lega mendengar apa yang dikatakan Vidwan. Setelah mengangguk, Grace kemudian berlalu pergi dari hadapan Vidwan.

Tepat ketika Vidwan hendak melangkah menuju ruang ganti pakaian, Terdengar suara derit yang dihasilkan dari pintu kaca yang dibuka perlahan. Vidwan langsung menoleh. Dan seketika wajahnya semringah ketika mendapati sosok yang baru saja melangkah melewati pintu masuk aula tempat latihan yoga.

“Sorry, I am late.”

Again.

Vidwan tersenyum mendengar kalimat Grissse. Hari ini sudah dua kali gadis itu terlambat hadir. Terlintas dalam benak Vidwan bahwa ia akan menghukum Grisse nanti, di apartemennya.

“Apa kau tidak tahu kapan latihan yoga dijadwalkan?” Grace menyambut Grisse dengan pertanyaan yang sudah pasti tujuannya untuk menyindir. Grisse bergeming beberapa saat hingga akhirnya ia menjawab pertanyaan Grace.

“Aku tidak punya matras sehingga aku pergi untuk membelinya dulu.”

“Mahasiswa baru?” Tanya Grace lagi. Grisse mengangguk.

“Dasar bodoh. Seharusnya kamu membaca panduan yang dilampirkan bersama kartu anggota klub.” Grace terlihat kesal. Grisse mengerjap mendengar kalimat Grace. Ia sama sekali tidak tahu apa yang Grace maksud.

Grace terlihat akan melanjutkan bicaranya, namun dengan cepat Vidwan memotong. Ia bermaksud menengahi kesalahpahaman ini. Vidwan ingin sekali memarahi Grace. Gadis itu selalu ketus pada semua orang. Seandainya Vidwan punya pilihan lain, tentu ia tidak akan menunjuk Grace sebagai manajer klub. Sebagai manajer klub seharusnya ia tidak bersikap demikian. Sikapnya bisa membuat orang-orang yang ingin ikut latihan yoga mengurungkan niat atau kabur. Dan sangat mungkin Grace membuat mereka membatalkan keanggotaan.

“Grace, tolong pimpin semua orang latihan hari ini. Aku akan bicara dengan Grisse.”

Melalui kode berupa anggukan, Vidwan meminta Grisse mengikutinya. Mereka menuju sebuah ruangan yang di bagian atas pintu terdapat tulisan coach.

“Duduklah.” Vidwan mempersilakan Grisse duduk di salah satu kursi dalam ruangan itu. Setelah Grisse duduk, Vidwan mengubah posisi kursi lainnya menjadi berhadapan dengan Grisse. Vidwan sengaja memberi sedikit jarak antara kursinya dengan Grisse. Alhasil, ketika Vidwan duduk, kedua lututnya menyenggol lutut Grisse.

“Sorry, Sir.” Grisse segera beranjak. Ia bermaksud memundurkan kursinya, namun gerakannya seketika terhenti. Grisse meringis kesakitan sambil memegangi kaki kanannya.

"Aahh…." Grisse menjerit sambil berusaha menahan sakit. Vidwan segera beranjak sambil menatap Grisse cemas. Tangan kanannya secara refleks menyentuh punggu tangan Grisse.

"Kenapa?"

"Kaki kanan saya kram, Sir."

Dengan sigap Vidwan membimbing Grisse untuk duduk di lantai sambil meluruskan kedua kakinya. Ia kemudian ikut duduk dengan menghadap Grisse. Perlahan Vidwan menyentuh kaki kanan Grisse, mencoba mencari bagian yang kram. Grisse meringis tatkala Vidwan memijat pelan betisnya.

"Sakit, Sir." Grisse berusaha menahan tangis. Vidwan duduk bersila. Ia mengangkat kaki kanan Grisse dan meletakkannya ke atas.

"Jangan, Sir." Tolak Grisse sambil berusaha menurunkan kakinya. Sialnya, rasa sakit menyerangnya lagi. Grisse pun menangis kali ini.

"Sir." Panggil Grisse sambil merintih.

"Maaf, saya tidak sopan"

"Jangan menganggap ini tidak sopan. Kamu kesakitan dan butuh bantuan."

Vidwan memegangi pergelangan kaki dan ujung telapak kaki Grisse. Dalam gerakan perlahan Vidwan menegakkan telapak kaki Grisse. Grisse merasa otot kakinya seperti ditarik, tapi ia tidak merasakan sakit. Justru rasa nyaman hadir menggantikan rasa sakit. Grisse mulai tersenyum. Ia lega karena rasa sakit di kakinya berangsur hilang.

"Bisakah kamu menahan ujung jari kakimu?" Vidwan melepaskan pegangannya pada telapak tangan Grisse setelah gadis itu mengangguk. Vidwan kemudian meraba betis Grisse. Jantungnya berdetak lebih cepat tatkala jemarinya bersentuhan dengan kulit mulus Grisse.

"Sakit?" Tanya Vidwan sambil menekan-nekan perlahan beberapa titik di betis Grisse. Grisse sesekali mengangguk ketika bagian yang sakit ditekan Vidwan. Jemari Vidwan kemudian kembali meraba kaki Grisse. Kali ini sentuhannya bergerak naik sampai ke paha Grisse. Vidwan meraba bagian belakang paha Grisse. Dirasakannya otot yang kaku dan tegang.

"Ototnya tertarik sampai ke pangkal paha." Vidwan meraba paha Grisse. Grisse bergerak kikuk karena sebuah rasa asing menghinggapinya. Grisse belum pernah merasakan ini sebelumnya.

"Kenapa?" Vidwan menatap Grisse lekat.

"Tidak ada apa-apa, Sir."

"Kau terlihat tidak nyaman."

Grisse menggeleng. Ia malu mengatakan tentang rasa asing tersebut. Vidwan berusaha menahan senyum. Ia tahu apa yang tengah dirasakan Grisse.

"Sebaiknya kita ke apartemenku sekarang." Vidwan beranjak untuk mengemasi beberapa benda miliknya. Setelahnya, ia keluar dari ruangan dan kembali tidak lama kemudian.

"Ayo, kita ke apartemenku. Kamu sudah mampu berjalan atau aku minta seseorang untuk mengantar kita.

"Saya bisa berjalan, Sir." Grisse beranjak perlahan. Vidwan membantunya berdiri sambil memegangi bagian atas tubuhnya. Tangan Vidwan yang terselip di antara dada bagian samping dan lengan Grisse tanpa sengaja menyentuh payudara gadis itu. Grisse merona karena malu. Lagi-lagi rasa asing itu muncul lagi.

"Maaf, aku tidak bermaksud menyentuhnya." Vidwan melepaskan tangannya dari dada Grisse dan berpindah ke pinggang gadis itu.

"Tidak apa-apa, Sir." Grisse berusaha maklum. Ia tidak mungkin mencurigai Vidwan mengambil kesempatan untuk melecehkannya.

"Saya kembali ke asrama saja, Sir." Grisse berusaha menunjukkan bahwa ia sudah membaik, namun Vidwan menolak. Ia merasa bahwa kaki kram Grisse bisa kembali kambuh.

"Kita ke apartemenku karena aku akan merawatmu." Kalimat Vidwan lebih terdengar seperti perintah yang tidak boleh dibantah.

"Apakah Anda memang baik pada semua mahasiswa, Sir?" Ragu-ragu Grisse bertanya. Sesekali ia melirik Vidwan yang tampak sibuk merapikan satu-satunya meja dalam ruangan.

"Aku hanya baik padamu." Vidwan menatap Grisse tanpa berkedip.

"Kenapa? Jika berikutnya kata itu yang muncul dalam benakmu maka jawabannya karena aku ingin kita dekat atau lebih dari sekedar dekat."

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED