Bab 1

Siang ini terik matahari terasa seperti membakar bumi.

“Kamu kenapa kayanya kusut banget, Fan?” tanya Tristan sambil menyodorkan segelas kopi hitam ke hadapanku yang duduk bersila di lantai semen.

Di kontrakan kami tidak ada meja, kursi atau furnitur lainnya selayaknya rumah tangga umumnya. Kami hanya memiliki lemari pakaian, tempat tidur, dan beberapa perlengkapan rumah tangga ala kadarnya. Perabotan dapur pun sebagiannya pinjaman dari kenalan yang peduli dengan keadaan kami.

“Fan, kamu kenapa sih keliatannya gak bergairh banget, tumben?” Tristan kembali bertanya karena aku hanya duduk termangu, tak merespon pertanyaannya tadi.

Aku menolehkan wajah menatap istriku dengan perasaan pilu. Lalu menyandarkan punggung pada dinding tembok yang terasa sedikit mendinginkan tubuhku yang kepanasan, “Aku lagi bingung, Tan. Udah dua bulan kerja, tapi belum juga bisa jualan,” jawabku lemah.

Tristan menggeser duduk lebih merapat kepadaku, “Sabar aja, entar juga ada waktunya, Fan!” ucapnya sambil memunguti dan merapikan helm, jaket, kaos kaki serta sepatuku yang berserakan di lantai. Kemudian menyimpannya di kamar tidur.

Kami telah sepakat saling memanggil nama tanpa embel-emel papa, mama, mas, adek, kakak atau sejenisnya.

“Tapi kalau bulan ini aku gak jualan sama sekali, ancamannya bisa dipecat!” keluhku putus asa. Tristan sudah kembali duduk di dekatku, lalu aku menyesap kopi panas yang disajikannya.

“Udahlah, kalau kamu sampai dipecat dari MM, nyari kerjaan lain aja! Yang penting usaha aja dulu! Jangan gampang nyerah gitu dong. Mana Arfan yang dulu?” hibur Tristan yang sekaligus mencoba mengingatkan tentang jati diriku yang pernah mendapat julukan hebat ‘Pejuang Cinta Tiada Malu.’

“Iya sih, tapi sebagai kepala keluarga, aku merasa telah gagal bertanggung jawab memberikan nafkah yang layak untuk kelangsungan hidup istriku. Jangankan layak, seadanya pun tidak.” Aku berusaha bijak.

Sebenarnya sudah lebih dari sebulan keadaanku sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja selama ini selalu aku sembunyikan, agar kegaulauan ini tidak membuat Tristan ikut resah yang pada gilirannya akan menggangu mental dan konsentrasi kerjanya.

“Aku gak merasa begitu, Fan. Aku terima dengan ikhlas keadaan kita saat ini.”

“Aku bahkan gak tahu, sampai kapan kita bisa bertahan dalam keadaan seperti ini?” timplku dengan keluhan yang makin menyedihkan.

“Aku masih punya simpanan. Insya Allah untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari masih cukup, kok. Yang penting kamu tetap semangat usaha untuk keperluan lainnya. Aku yakin semua pasti ada jalannya.” Tristan yang usianya setahun lebih tua dariku, selalu bisa bersiap lebih pengertian, dewasa dan bijaksana.

Tristan lalu memeluk dan menciumi pipiku dengan sepenuh jiwanya, “Apapun adanya kamu, cinta dan sayangku tidak akan pernah berubah, Honey,” bisiknya lembut.

“Makasih ya, Sayang. Kamu memang istriku yang paling bisa diandalkan,” balasku sesaat sebelum membalas ciumannya.

“Kamu juga suamiku yang sangat luar biasa. Aku selalu bahagia di sampingmu. Kamu masih tetep setia dan bersemangat untuk menafkahiku. Padahal bisa aja kan kamu kabur atau setidaknya lari dari tanggng jawab, hehehe,” canda Tristan sambil mengelap keringat di keningku dengan punggung tangannya.

“Maafin suamimu yang belum bisa membahagiakanmu.” Kembali aku berucap sambil mencium wajahnya yang tetap cantik walau sudah beberapa bulan kuajak hidup sengsara.

“Udah ah jangan lebay. Oh iya, aku mau siap-siap berangkat kerja ya. Buat makan siang dan yang lainnya udah aku siapin di dapur,” ucap Tristan sambil melepaskan pelukannya, lalu beranjak menuju kamar tidur.

“Mau aku anter?” tanyaku seraya menatap punggungnya.

“Gak usah. sebentar lagi juga Bang Lino datang,” jawab Tristan sambil masuk kamar.

Sebenarnya tawaranku untuk mengantarnya hanya basa-basi. Semangatku benar-benar sedang berada di titik nadir. Jangankan membawa motor mengantarnya kerja, untuk sekedar mengisap rokok pun rasanya sudah sangat malas. Alasan itulah yang membuatku pulang kerja lebih awal.

Tak lama kemudian Bang Lino, rekan kerja Tristan datang menjemput. Sebenarnya bukan sengaja menjemput. Kebetulan dia lewat kontrakan kami setiap berangkat kerja. Dan kebetulannya lagi, untuk sebulan ke depan shif mereka sama. Walau tidak setiap hari mereka bisa pergi dan berangkat bareng karena Bang Lino lebih sering dinas luar.

Marcelino Ferdy, atau yang biasa kami sapa Bang Lino, berusia lima tahun lebih tua dariku. Beberapa bulan lagi dia juga akan melangsungkan pernikahannya dengan El Fitri, teman kerja yang sudah dipacarinya selama tiga tahun. Di mataku Bang Lino adalah sosok yang sangat baik, ganteng, rendah hati, dan tampak selalu cerdas dalam setiap ucapannya.

“Eh, tumben udah ada di rumah, Fan?” tanya Bang Lino saat aku mendatanginya di teras kontrakan. Pertanyaan yang wajar karena biasanya kami jarang bertemu pada jam-jam seperti ini.

“Lagi kurang enak badan, jadi pulang lebih awal, Bang,” jawabku beralasan sambil menyalaminya, lalu duduk di selasar teras berdampingan dengannya.

“Gimana Bang, belum ada lowongan kerja buat saya itu?” lanjutku mengulangi pertanyaan beberapa waktu lalu.

“Belum ada, Fan. Kayaknya emang susah lowongan buat cowok. Minggu lalu ada dua karyawan cowok yang dipecat, tapi gantinya malah cewek,” terang Bang Lino sambil menatapku iba. Dia tahu banyak keadaan aku dan Tristan, karena sering ngobrol, terutama dengan Tristan.

“Saya bingung, ternyata jadi sales motor itu tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi dengan sistem freelance yang murni mengandalkan bonus. Udah dua bulan kerja, sama sekali saya belum bisa berjualan. Sementara biaya operasioanal terus jalan,” keluhku tiada henti.

Entahlah, mengapa aku menjjadi lelaki yang sangat cerdas dalam mengeluh dan mencari alasan. Benar-benar tipe pecundang. Kemana Arfan sang pejuang itu?

“Sabar aja, Fan. Saya yakin kamu pasti bisa. Banyak sales motor yang mengandalkan bonus, tapi kehidupnya lebih sejahtera dibanding karyawan biasa yang hanya mengandalkan gaji bulanan yang tak seberapa,” imbuh Bang Lino menjelaskan sebuah fakta dalam kehidupan umum.

Untuk beberapa saat aku menatap Bang Lino yang selalu bijak, cerdas dan dewasa dalam menyikapi segala hal.

“Semua butuh proses ya, Bang. Saya masih sangat hijau dalam bidang pemasaran dan penjualan. Selain koneksi yang masih sangat terbatas, persaingan antar sesama sales pun memang sangat keras.”

“Lumrah, itulah dunia usaha.”

“Saya sangat lemah bernegosiasi, hingga selalu gagal dalam eksekusi. Kalah bersaing dengan para senior.” Entah sampai kapan aku terus mencari pembenaran dan alasan atas kegagalan diriku sendiri.

“Kucinya tawakal dalam menjali proses. Calon istri saya juga kan punya side job sebagai penulis novel online di berbagai platform.” Bang Lino menyesap rokoknya yang tinggal setengah batang lagi.

“Wah keren tuh Mbak El punya side job begitu, bisa nyantai kerjanya rebahan tapi katanya dibayar dolar ya?” Seketika nada suaraku berubah antusias.

“Hehehe, gosip dan idelanya sih begitu. Tapi sama aja, semua butuh proses. El Fitri itu udah hampir setahun nulis, udah beberapa novel dirampungkannya. Tapi penghasilannya belum seberapa, karena belum punya banyak pembaca.”

“Oh gitu?” Kini aku yang melongo sedikit tak percaya dengan ucapannya.

Menurut Quora Youtixs dan Ndra Irawan, mereka bahkan bisa menghasilkan puluhan ribu dolar dalam sebulan, hanya dari menulis novel online. Kenapa Mbak El Fitri justru penghasilannya masih sangat minim. ‘Siapa sebenarnya yang bohong?’ pikirku.

“Padahal El itu rajin banget promoin novelnya di medsos. Tapi ya itu tadi, selalu kalah bersaing dengan para seniornya yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Mereka udah lebih dulu berhasil melewati prosesnya yang panjang.” Bang Lino semakin bijak.

“Ya, saya setuju, Bang. Mungkin karena keadaan saya yang sedikit terdesak, makanya jadi mudah mengeluh dan menyerah ya, Bang. Hehehe.”

“Bisa jadi. Tapi seorang cowok, sejatinya tidak boleh punya alasan untuk mengluh apalagi menyerah dalam segala medan, hehehe.”

“Saya benar-benar down, kalau bulan ini sampai zero selling, maka semuanya berakhir.” Aku tetap tak bosan-bosannya mengeluh. Mungkin akibat terlalu sering bergaul dengan netizen yang hobynya mengeluh tanpa peluh.

“Kamu harus yakin, Fan. Pasti akan ada seseorang yang akan menyelamatkan karirmu. Sebelum jadi karayawan, saya juga pernah jadi sale freelance sepertimu.”

“Amiin, thanks atas semua suportnya, Bang.”

“Intinya terus berusaha dan perbaiki kawalitas diri. Buka komunikasi dengan semua orang agar semakin luas jaringan. Kita tidak akan pernah, bisa jadi tetangga terdekatlah yang akan menjadi customer pertama kita.” Nasihat Bang Lino bersamaan dengan Tristan keluar dari rumah sudah dalam keadaan berseragam rapi, siap berangkat kerja.

“Fan, aku berangkat dulu ya,” ucap istriku sambil meraih tangan kananku dan menciumnya.

“Hati-hati ya, Sayang. Oh iya, gimana jadi gak hari ini pulang lebih malam?” tanyaku pada Tristan, juga Bang Lino sekalian.

“Acaranya jadi, pulangnya tergantung sikon. Mudah-mudahan aja acaranya sesuai schedule. Tapi biasanya ada molor satu atau dua jam,“ terang Bang Lino, tak beda dengan gaya bicara Bang Amran, supervisorku di ‘Berkilau Motor.’

“Oh gitu. Gak masalah sih, saya tiitip Tristan ya, Bang.”

“Santai, hehehe,” balas Bang Lino sambil menyalakan mesin motornya dan tak lama kemudian mereka pun berangkat.

Dua hari yang lalu Tristan meminta izin untuk menjadi penjaga stand pada sebuah acara yang diselenggarakan BUMN yang bekerja sama dengan BFC tempatnya bekerja.

Tristan sangat antusias menerima tawaran tersebut karena selain akan menjadi pengalaman pertamanya, juga bisa mendapat uang tambahan. Hanya risikonya waktu kerja disesuaikan dengan jalannya acara.

Sebagai suami tentu aku mengizinkan demi kemajuan karirnya. Terlebih lagi ada Bang Lino yang menjaganya. Semoga saja mereka tidak berkhianat.

^*^

Bab 2

Setelah motor Bang Lino yang membawa Tristan menghilang dari pandangan, aku kembali masuk ke rumah untuk melanjutkan ngadem karena cuaca di luar semakin terasa membara.

Baru saja menghabiskan kopi, mematikan rokok dan hendak masuk kamar untuk rebahan, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu istimewa yang sebelumnya tidak pernah bertamu, walau kami tinggal dalam satu kompleks kontrakan.

“Eh tumben Mbak?” tanyaku refleks karena terkejut. Selama ini justru aku merasa dia selalu sinis memandang kami, terutama terhadap Tristan. Adakah sebuah rekonsiliasi yang akan ditawakannya?

“Aku ada perlu dikit sama kamu,” ucapnya datar seraya menapa wajahku intens.

“Tumben perlu apa, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku seraya membalas tatapannya yang terasa agak sedikit aneh.

“Maaf ya Fan, ganggu nih. Aku cuma penasaran aja, mau nanya, siapa sih yang biasa nganter jemput istrimu?” tanya sang tamu to the poin.

“Oh, itu Bang Lino, teman kerjanya Tristan. Mbak naksir sama dia?” candaku.

“Ih amit-amit, kenal juga engak!” sergahku ketus.

“Terus kenapa?” tanyaku sambil memicingkan mata menatap wajahnya yang masih sudah terkesan menor di siang hari begini.

“Itu beneran teman kerjanya istrimu?” tanyanya lagi seolah curiga. Kedua matanya menatap tajam wajahku penuh misteri.

Aku menjawab dengan anggukkan tipis-tipis. Isi kepala langsung dipenuhi pikiran negatif. Sangat meyakini jika tetanggaku ini mau menyelidik dan mencari bahan gosip buat digorengnya. Bahkan lebih jauh, mungkin dia akan mempersembahkan kompor meledug ke hadapanku.

“Kok gak pake seragam? Kan istirmu pake seragam Bogor Fried Chicken?” selidiknya lebih mendetail. Sepertinya dugaanku tidak meleset, dia memang sedang mencari bahan nyinyiran.

“Bang Lino kan pake jaket, Mbak. Dia pake seragam juga kok, tapi emang gak keliatan,” sangkalku karena memang begitu adanya. Aku mencoba berusaha tetap santai merespon penyidikannya, walau suasana hatiku sudah mulai tidak nyaman.

“Masa sih? Emangnya kamu yakin lelaki bernama Lino itu hanya sebatas teman kerja istrimu?” tanya dia yang sepertinya sangat enggan untuk menyebut Tristan nama istriku.

“Yakinlah, Mbak. Memang apa urusannya sampai segitunya ngelidik istri saya? Gak usahlah repot-repot ngurusin Tristan, belum tentu juga istri saya mau kurus, hehehe,” balasku dengan sedikit diselipkan candaan, berharap ada sedikit mencair tidak terkesan tegang dan menyelidik.

“Yeee, bukannya mau repot-repot ngurusin istrimu, Arfan. Tap..”

“Sudahlah Mbak!” potongku dengan nada yang mulai sedikit naik. “Tristan itu istri saya, dia dibonceng sama Bang Lino teman kerjanya, lebih tepatnya atasannya walau beda divisi, itu sudah seizin saya. Jadi gak ada masalah!” Suaraku kembali menurun walau emosiku mulai sedikit terpancing.

“Eeeh, kok kamu langsung ngolot gitu, kayanya mau marah sih, Fan?” Wanita berpakaian seksi dan bertubuh sintal itu sedikit mundur menjauhiku.

“Saya gak marah Mbak, hanya menjelaskan!” tegasku.

“Aku juga kan cuma nanya doang, ya sekalian aja mau mengingatkan.” Sepertinya tetangga sebelahku ini sudah benar-benar tak mau mengerti.

“Mbak mau mengingatkan apa sama saya?” Aku balik bertanya dan menatapnya penuh curiga.

“Masa iya sih teman kerja sampai segitunya. Istrimu itu boncengannya kok mesra banget, kaya orang pacaran gitu. Kalau menurut aku sih gak wajar aja. Sepertinya kamu memang mengizinikan istrimu selingkuh ya?” Nyinyiran istrinya Mas Rojak semakin menjijikan.

“Hey, Mbak!” bentakku dengan suara yang cukup keras hingga membuatnya sedikit terperanjat.

“Tristan sama Bang Lino, mau pelukan kek, mau ciuman kek, kan sudah seizin saya suaminya. Urusannya sama kamu apa?” Pikiranku yang sedang kusut memudahkan terpancingnya emosi dan serasa ada tempat untuk melampiaskan.

“Heh Arfan! Kamu suami apaan? Masa iya istrinya berbuat gitu dibiarin? Dimana harga dirimu sebagai lelaki? Badan doang gagah, muka doang ganteng, tapi gak punya harga diri dilecehakn istrinya. Sangat memalukan!” gertaknya dengan nada tinggi dan sangat merendahkanku.

“Hey Winda! Gua ini suaminya Tristan, ngapain juga lu mempertanyakan itu? Gua tidak pernah merasa dilecehkan oleh Tristan. Emangnya elu siapa harus merasa peduli dengan harga diri gua?” Aku pun tak mau kalah gertak, bahkan satu telunjukku sudah mulai mengarah ke wajahnya.

“Ya udah kalau kamu gak mau dikasih tahu!” sergahnya.

“Memangnya siapa yang minta dikasih tahu sama elu? Repot amat hidup lu malah sibuk ngurusin rumah tangga orang!” sentakku.

“Susah kalau bocil udah pada kawin, jadinya aneh gitu, dikasih saran malah ngamuk! Hii, mit amit!” pungkasnya sambil bergegas keluar dari rumahku tanpa permisi apalagi mengucapkan salam. Sepertinya dia takut melihat wajahku yang mungkin terlihat merah saga terbakar amarah.

“Lagian lu jadi tetangga usil amat, sih! Urus aja keluatga lu sendiri!” timpalku dengan nada kesal.

Balasan umpatannya masih terdengar namun kurang jelas. Sepertinya dia sudah kembali masuk ke rumahnya.

“Emang gua pikirin!” makiku pelan, sambil menutup dan mengunci pintu, takut dia kembali nyelonong masuk seperti tadi.

Mimpi apa gua semalam?’ batinku sambil merapikan gelas bekas ngopi lalu membawanya ke dapur.

Dalam sepanjang hidup, baru kali ini aku beradu urat leher dengan emak-emak. Sungguh diriku sudah layak disebut lelaki pecundang yang kehilangan akal sehat. Mau melayani ocehan emak-emak yang gak bermutu seperti dia. Tetapi itu harus aku lakukan, kalau bukan suaminya siapa yang akan membela istri yang difitnah sekeji itu.

Dia biasa disapa Mbak Winda. Berusia kira-kira dua puluh sembilan atau tiga puluh tahunan. Sudah menikah dengan Mas Rojak, sopir pribadi salah seorang pejabat pemda. Tabiat Mbak Winda banyak omong, senang ikut campur urusan orang, suka berdandan menor serta biasa berpapakain seksi. Sepertinya dia juga terlalu bangga dengan dirinya sendiri.

Menurut beberapa tetangga, Mbak Winda berasal dari kampung sama sepertiku. Namun gaya hidupnya terkesan merasa paling modern dan cenderung sombong. Bila dilihat dari sisi ekonomi, keluarganya memang terlihat lebih mapan dibanding penghuni lain. Mas Rojak dan Mbak Winda belum dikarunia anak, walau mereka sudah cukup lama berumah tangga.

Nah, kenapa jadi begini?

Kata Bang Lino mengatakan tetangga terdekat bisa jadi customer pertamaku? Ini malah sebaliknya. Kalau begini Mbak Winda justru bisa jadi musuh pertamaku. Semoga itu tidak terjadi. Aku dan Tristan tinggal di sini bukan untuk mencari musuh, tetapi belajar berumah tangga dan mencari persaudaraan.

Belum lama aku dan istriku tinggal di kawasan ini. Relatif masih jarang berinteraski dengan para tetangga, hanya sekedar say hello dan perkenalan basa-basi biasa. Namun demikian, aku sudah banyak mendengar tentang keburukan tabiat Mbak Winda yang ternyata kurang akur dengan hampir semua tetangga.

Mama Elsa, pemilik kontrakan malah sering mewanti-wantiku untuk tidak terlalu dekat dengan Mbak Winda. Beliau menyebutna sebagai pelakor, raja fitnah, lambe turah, biang gosip dan julukan tak berakhlaq lainnya. Bahkan ada rumor yang mengatakan jika Mbak Winda pernah jadi penghuni lokalisasi pelacuran. Entahlah.

Aku segera masuk kamar dan rebahan di atas kasur sambil merenungi ucapan Mbak Winda. ‘Susah kalau masih bocil sudah menikah.’ Tak ada yang salah dengan ucapannya.

Sejatinya aku dan Tristan memang masih bocah, belum layak menikah. Usiaku baru 20 tahun, status mahasiswa. cuti pada semester lima karena harus fokus mencari nafkah untuk keluarga. Sementara istriku pun tidak jauh berbeda.

Tristan berusia 21 tahun dan terpaksa cuti kuliah karena orang tuanya sudah tidak mau membiayainya. Aku sendiri tidak punya kemampuan finansial karena statusku yang setengah penggangguran. Jangankan untuk membiayai kuliahnya, untuk makan sehari-hari pun masih kerepotan.

Perjalanan hidup dan cinta kami memang sangat panas dan tragis. Semua gara-gara kebodohan kami yang tidak bisa menahan godaan syahwat. Sumpah demi apapun, ini adalah pengalaman hidup paling pahit dan menyakitkan yang pernah kami alami. Nanti aku akan ceritakan semuanya secara detail.

Beberapa bulan yang lalu, kami tertangkap basah dalam keadaan bugil oleh orang tuanya Tristan. Ya, kami sedang melakukan hubungan terlarang di rumahnya. Orang tua mana yang tidak naik pitam, melihat anak gadis kesayangannya sedang digagahi oleh lelaki yang justru paling mereka benci.

Masih beruntung aku hanya dihajar sampai pingsan, tidak sampai mampus. Tidak terbayangkan kalau sampai dilaporkan pada pihak berwajib dengan tuduhan perbuatan zinah atau merebut calon istri orang. kala itu Tristan sudah jodohkan dengan seorang pengusaha muda yang jelas-jelas bukan tandinganku.

Untuk kesekian kalinya Pak Hasto, papanya Tristan memintaku untuk meninggalkan anaknya. Aku sudah sangat pasrah karena dari sejak awal mendekati Tristan hanya karena dendam. Namun Tristan justru memintaku untuk menikahinya dan rela tidak diakui sebagai anak oleh keluarganya.

Setelah menikah dalam suasana yang sangat menyedihkan, kami pun diusir. Orang tua Tristan tidak mau menampung kami di rumahnya yang megah. Kami dianggap sampah yang menghancurkan rencana besarnya besanan dengan seorang pejabat ternama. Mereka bahkan meminta kami untuk tinggal di tempat yang jauh, kalau perlu berbeda kota.

Sampai detik ini, aku pun belum berani berterus terang kepada keluarga besarku di kampung, perihal statusku. Entah apa yang akan mereka lakukan jika tahu anak kebanggannya telah menjadi sorang suami dan cuti kuliah. Mungkin mereka juga akan mengusirku, atau bahkan lebih sadsis dari itu.

Aku dan Tristan resmi menyandang gelar sebagai Pengantin Remaja U-22, alias pasangan suami istri di bawah usia 22 tahun. Sayangnya kami berbeda dengan Timnas Garuda Muda U-22 yang telah sukses menorehkan prestasi gemilang di ajang Sea Games 2023, Kamboja.

Beruntungnya Tristan tidak sampai hamil. Sungguh Tuhan masih sangat baik kepada kami. Setidaknya bisa sedikit terlepas dari beban keterpurukan yang lebih parah. Tak terbayangkan bagaimana repotnya jika saat ini Tristan dalam keadaan mengandung anak kami.

Saat ini aku dan Tristan tinggal di rumah kontrakan sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kami sama-sama bekerja dengan penghasilan yang tidak seberapa, bahkan belum ada kejelasan yang tetap.

Aku freelance sales motor dengan penghasilan mengandalkan bonus penjualan. Sementara Tristan menjadi pelayan restoran cepat saji Bogor Friend Chicken, dengan penghasilan yang juga belum seberapa karena masih magang sampai beberapa bulan ke depan.

Sebenarnya aku memiliki keahlian khusus yang bisa menghasilkan uang dengan lebih mudah dan relatif besar. Sebelum menikah aku menggeluti side job sebagai terapis alias tukang pijat. Namun setelah menikah, Tristan memintaku untuk tidak melanjutkannya.

Bisa dimaklumi dan aku pun menghargai permintaannya.

Sejujurnya godaan untuk selingkuh dan atau berbuat kurang senonoh saat sedang memijat, memang sangatlah dahsyat. Terlebih lagi kebanyakan pelanggangku dari kalangan emak-emak ganjen. Aku sangat yakin permintaan Tristan, semata-mata demi kenyamanan dan keutuhan keluarga kami.

Tetapi apakah Tristan juga tidak tergoda oleh rayuan lelaki lain yang segalanya lebih dariku, seperti yang dituduhkan Mbak Winda tadi?

Entahlah!

^*^

Bab 3

BRAK!

Tiba-tiba suara benturan cukup keras mengiringi terbukanya pintu kamar mandi yang sontak membuatku terperanjat.

"Eh maaf, kirain gak ada orang!" Mbak Ayu berseu kaget, namun suaranya tidak terdengar bergetar. Kedua bola matanya leluasa memandangi ketelanjangan tubuhku dalam keadaan berdiri.

“Aduh Mbak Ayu!” sergahku kaget setengah mati saat mulai tersadar.

Aku tekesima tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menatap wajah tetanggaku yang merona. Dia berdiri kaku dengan mata terbelalak dan mulut sedikit menganga. Tak lama kemudian wajahnya kembali terlihat tenang.

Dengan seulas senyuman yang terpancar, mata Mbak Ayu justru jelalatan tertuju pada selangkanganku. Dan dengan refleks kutarik handuk yang tergantung di kapstok. Kemudian melilitkan pada pinggang untuk menutupi bagian tubuhku yang semestinya tidak dilihat orang lain, kecuali Tristan, istriku.

"Mbak Ayu mau apa?" tanyaku sedikit kesal.

Walau sudah berusaha santai namun belum sepenuhnya bisa menguasai diri. Kaget, malu, dan entah perasaan apalagi yang berkecamuk dalam dada dan kepalaku. Mbak Ayu pasti tahu apa yang sedang aku lakukan, terlebih lagi batang rudalku sedang dilumuri sabun.

"Ma..maaf Fan, mbak kebelet mau pipis," jawabnya tanpa dosa sambil tersenyum, padahal sudah hampir membuat jantungku copot.

"Ya udah. Saya keluar dulu, Mbak!” balasku sedikit ketus sambil melangkah mendekati pintu kamar mandi.

Mbak Ayu masih tersenyum, tatapannya seolah tidak mau beranjak dari bagian depan tubuhku yang tampak menyembul dibalik handuk.

“Gak usah keluar. Mbak juga sebentar, cuma mau pipis doang, kok!” cegahnya sambil menggeser tubuhnya, berdiri di atas closet dengan posisi menyamping.

Deg!

Jantungku seketika berdegup kencang, terhenyak dan sekujur tubuh bergetar saat istrinya Bang Ipul dengan santainya mengangkat rok panjangnya, lalu memelorotkan celana dalamnya. Dengan tanpa sungkan dia berjongkok di atas closet dalam posisi menyamping. Tak ayal lagi auratnya menjadi konsumsi segar kedua mataku.

Wajah tegang dan kembali terkesiap. Suhu tubuh mendadak panas dingin, badan serasa kaku, dan kedua kakiku makin kuat terpatri pada lantai, tak sanggup bergerak untuk melangkah meninggalkan kamar mandi. Kedua tanganku pun refleks menyilang di depan selangkanganku untuk menutupi perubahan iklim.

Entah berapa lama aku berada dalam posisi rikuh dengan tidak berusaha untuk pergi atau menolehkan wajah ke arah lain. Bahkan ketika Mbak Ayu membasuh saluran saluran pembuangan kencingnya, mataku bukannya terpejam, malah kian terbelalak.

“Nah, sekarang udah beres, lega rasanya. Sebentar kan, Fan?” ucap Mbak Ayu sambil bangkit dari jongkoknya. Lalu berdiri menghadapku dengan wajah yang sedikit menunduk karena dagu dan dadanya dirapatkan untuk menjepit rok panjang yang diangkatnya.

Mataku kembali terbelalak saat melihat bagian yang paling pribadi dari tubuhnya. Bulu-bulu hitamnya yang cukup lebat benar-benar telah menggelorakan darah mudaku hingga sesuatu di balik handukku kambli tidak bisa dikendalikan laju berdirinya.

“Sorry ya, Fan, udah ngenganggu mandi dan ritual kamu, heheh,” ucapnya setelah selesai menarik dan memakai kembali celana dalamnya, serta menurunkan rok panjangnya.

Setelah itu dia menatapku sambil tersenyum. “Makasih ya, Fan!” ucapnya lagi dengan sangat lembut dan sama sekali tidak mampu untuk kujawab.

Sekian detik kemudian aku tersadar dan menolehkan wajah ke samping kanan membuang wajah agar tidak beradu pandangan. Malu dan jengah yang menyergap jiwaku tak bisa dihindarkan lagi. Kulit wajahku seketika terasa seperti disiram segalon air panas. Pastinya akn terlihat merah merona seperti udang bakar.

“Oke, Fan, silakan terusin mandi dan aktifitas siangnya. Maaf udah ganggu,” bisik Mbak Ayu di telingaku, lengkap dengan sebelah tangannya yang tiba-tiba meraba perutku yang telanjang,

Deg!

Jantung kembali tersentak, perutku refleks tertarik ke belakang hingga badanku setengah membungkuk. Namun sialnya, justru telapak tangan Mbak Ayu bergeser ke bawah menyentuh handukku tepat di bagian yang paling menonjolnya.

“Gede banget sih punya kamu, Fan,” desahnya tanpa rasa malu.

Mbak Ayu tersenyum genit, bersamaan dengan telapak tangannya yang tanpa ragu mengelus lembut selangkanganku dari balik handuk. Mulutku seketika menganga dengan mata terbelalak. Benar-benar tak menduga dengan tingkah tetanggaku yang sangat nekad dan tak tahu malu ini.

“Jangan dibuang sia-sia calon anakmu, Fan. Siapa tahu dia calon presiden Indonesia selanjutnya, hehehe,” canda Mbak Ayu sambil menarik tangannya dari selangkanganku. Dan dengan gerakan yang tanpa beban, dia pun keluar dari kamar mandi tanpa menutup kembali pintunya.

‘Oh my God!’ makiku dalam hati sambil mendorong daun pintu, kemudian menutup dan menguncinya. Setelah itu aku bersandar pada daun pintu seraya mendongak menatap asbes kamar mandi.

‘Gila, ini benar-benar edan!’ Aku masih tidak percaya dengan yang baru saja terjadi. ‘Syaiton apa yang sedang merasuki tetanggaku ini?’ pikirku.

Semua rumah kontrakan tidak memiliki kamar mandi. Untuk urusan mandi, cuci dan kakus, pemilik kontrakan membuat sebuha MCK atau kamar mandi empat ruang yang bisa dipakai secara bergantian oleh semua penghuni, tanpa membedakan untuk pria atau wanita. Mana yang kososng itulah yang dipakai.

Tadi saat masuk kamar mandi, aku lupa tidak mengunci pintunya. Sebenarnya insiden itu tidak perlu terjadi, karena biasanya siang-siang begini jarang ada yang menggunakan kamar mandi. Lagian ruangannya ada tiga, mengapa dia maksa masuk ke ruangan yang sedang kupakai, bahkan tanpa mengetuk lebih dulu.

Setelah ketegangan jiwa sedikit mereda, aku pun segera menyiram seluruh tubuhku dengan air dingin yang menyegarkan, sambil menyesali kecerobohan atas kelupaanku tidak mengunci pintu. Namun aku tidak sepenuhnya bersalah. Walau sangat kebelet, semestinya Mbak Ayu segera keluar dan pindah ke ruang sebelah yang jelas-jelas sedang kosong.

Bergayung-gayung air mendinginkan dan menyegarkan tubuhku. Pikiranku menjadi semakin positif, bisa menilai jika Mbak Ayu memang sengaja melakukan itu untuk menjalin keakraban antar tetangga, atau mungkin dia ingin memastikan keadaanku dalam kamar mandi itu baik-baik saja.

Sungguh tetangga yang sangat peduli. Namun haruskah kepedulian itu sedemikian ekstrimnya? Entahlah.

Setelah mengeringkan tubuh, aku pun segera memakai kembali kolor hitamku tanpa kaos. Sejak dari rumah memang hanya mengenakan kolor. Handuk kulilitkan di leher, tempat sabun kujinjing, lalu keluar sambil bersiul.

“Hah!” Aku kembali berteriak kecil karena terkejut dengan pemandangan tak biasa yang ada di depan mataku.

“Duh, sampe segitunya yang kaget, hehehe.” Mbak Ayu dan seorang tetangga lain berdiri berdampingan menyambutku. Mungkin lebih tepatnya menghadang.

“A…a..ada apa Mbak?” tanyaku agak gugup dan takut dikeroyok oleh dua mama muda berpostur gemuk-gemuk ini. Bagaimana kalau mereka nekad berbuat tidak senonoh kepadaku. Masihkah aku sanggup untuk menolaknya? Aku sendiri meragukan itu.

“Fan, tadi kenapa kamu ribut sama si Winda?” tanya Mbak Ayu mewakili temannya yang senyum-senyum gak jelas. Aku lupa nama tetanggaku yang berdiri dekat Mbak Ayu. Dia tampak lebih muda dan cantik, suaminya Bang Andi karyawan sebuah restauran yang sudah cukup akrab denganku.

“Oh, itu bukan ribut Mbak, cuma meluruskan kesalah-pahaman,” jawabku agak tenang, setelah yakin dua mama muda ini bukan mau memperdayaku. Rupanya mereka menguping pertengkaran yang terjadi antara aku dengan Mbak Winda yang memang cukup berisik.

“Tapi si Winda kok langsung mencak-mencak tuh di warung Uda Amir,” timpal temannya Mbak Ayu.

“Hah!” Aku benar-benar terperanjat mendengarnya. Mataku sontak menatapnya, “Mencak-mencak di warung Uda Amir?” bibirku tak sadar berucap.

“Iya, katanya gak ada hujan gak ada angin, dia dimaki-maki sama Mas Arfan. Padahal katanya dia sering ngasih makanan dan selalu berbuat baik sama Mbak Tristan juga,” terang temannya Mbak Ayu yang kian membuatku melongo.

“Astagfirullah….” Hanya beristigfar yang selanjutnya bisa kulafazkan.

“Tapi gak usah khawatir, Fan. Siapapun yang dengerin ocehan si jablay itu, gak bakal ada yang percaya. Kita semua udah tahu kok kualitasnya kek gimana!” Mbak Ayu sedikit menenangkan jantungku yang mendadak berdebar-debar dan isi kepalaku mulai kembali mendidih serasa ditantang.

“Kayaknya dia emang lagi cari gara-gara sama kalian,” sambung Mbak Ayu kalem.

“Hah, emangnya kenapa? Apa salah kami sama dia?” Aku semakin tak mengerti.

“Jelasin In, jangan ada yang ditutup-tutupi,” titah Mbak Ayu pada Inara. Ya, aku baru ingat nama tetanggaku yang paling muda dan paling cantik itu Inara. Usianya mungkin dibawahku sedikit, namun sudah lebih dari dua tahun menikah.

“Duh, gimana ya? Aku gak enak ngomongnya. Mbak Ayu aja deh yang jelasinnya.” Wajah Inara mendadak merona.

Dan aku makin penasaran dengan teka-teki mereka. “Ada apa Mbak?” tanyaku sambil menatap Mbak Ayu.

“Gini Fan, maaf ya, tapi kamu jangan tersinggung.” Mbak Ayu menatap wajahku dengan sangat intens, seolah yang akan disampaikannya butuh perhatian khusus dariku. Aku pun mengangguk tipis.

“Si Winda itu sering ngomongin kalian di mana-mana. Katanya setiap malam dia merasa terganggu dengan ulah kalian,” terang Mbak Ayu dengan pelan-pelan.

“Terganggu dengan ulah kami? Tiap malam saya hanya berdua dengan istri saya, bahkan kami tidak punya teve. Tidak pernah membuat ulah aneh atau kegaduhan. Justru Mbak Winda yang sering pasang musik keras-keras, kita semua juga tahu kan?” Aku tak terima dituduh seperti itu.

“I..iya sih, katanya dia terganggu bukan oleh suara musik atau teve, tapi sama suara-suara berisik saat kalian sedang begituan.” Mbak Ayu bicara blak-blakan namun sedikit malu-malu.

‘What? berisik?’ tanyaku dalam hati. Wajahku terasa mendadak panas membara serasa disiram kopi panas segelas. Warnanya pun mungkin sudah semerah udang bakar.

“Ma..ma.maaf Mbak, sa..saya harus masuk dulu ke rumah, lagi masiak nasi, maaf takut keburu kering. Terima kasih infonya,” ucapku sambil beregegas melangkah menuju pinttu dapur tanpa melanjutkan obrolan dengan kedua mama itu. Entah dimana harus kutaruh muka ini, malu semalu-malunya!

Aku dan Tristan, memang pengantin remaja yang memiliki kreatifitas aksi ranjang yang ekspresif dan cenderung liar. Bahkan sering melakukannya di tempat yang kami pikir sangat menantang selain di tempat tidur. Tengah rumah, dapur bahkan kamar mandi menjadi tempat favorit kami.

Sebenarnya kami juga terobsesi untuk melakukannya di tempat-tempat yang agak sedikit ekstrim, misal di alam terbuka atau di tempat yang tak biasa lainnya. Namun belum berani merealisasikannya. Takut ada netizen tak bertanggung jawab, merekam dan menyebarkannya.

Sejauh ini aktivitas ranjang kami, aku pikir masih dalam taraf sangat wajar. Dilakukan dalam rumah kami. Memang tidak bisa dipungkiri, terkadang sedikit berisik. Tristan sering mendadak kalap dan liar saat sedang dilanda birahi tinggi.

Benar-benar tak menduga, urusan ranjang sekalipun ternyata bisa menimbulkan kegaduhan antar tetangga. Sungguh luar biasa sensasi bertetangga ini.

Bertetangga ternyata tak seindah janji Pak RT yang akan memasukan keluargaku dalam daftar penerima bantuan beras miskin untuk bulan-bulan berikutnya.

Haruskan aku menaklukan para tetangga rese itu dengan cara-caraku?

Oh no! Kini aku telah menjadi suaminya Tristan dan sedang berusaha menjadi suami yang bauk. Mau jadi anak soleh yang sudah insyaf.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED