Bab 2

Pagi yang Cerah di JM Corp,

Matahari bersinar cerah, menyoroti gedung pencakar langit yang megah milik JM Corp, salah satu perusahaan terkemuka di bidang teknologi dan investasi yang ada di Kota Jakarta. Di depan pintu masuk utama, sebuah mobil sport edisi terbatas berwarna hitam mengkilap berhenti dengan sangat elegan.

Seorang pria tampan dengan setelan jas mahal berwarna navy keluar dari mobil tersebut. Dia adalah Joseph Mikuel, CEO baru JM Corp yang baru saja diangkat seminggu lalu oleh dewan direksi dan ayahnya Tuan Efendi Mikuel, sang chairman.

Joseph berdiri tegap, menatap gedung dengan penuh percaya diri. Rambutnya yang tertata rapi dan wajahnya yang tampan langsung menarik perhatian semua orang yang di sekitarnya. Para karyawan yang berada di lobi berbisik-bisik, mengagumi aura karismatik bos muda mereka.

"Lihat, itu Tuan Muda Joseph. Ganteng sekali, ya."

"Dan dia CEO. Benar-benar sempurna."

"Sayang, dia pasti sangat sibuk. Mana mungkin kita bisa dekat dengannya."

Joseph sama sekali tak menghiraukan bisikan-bisikan tersebut. Dengan langkah tegas, sang pria berjalan menuju lift, diikuti oleh asisten pribadinya, Andi, yang membawa dokumen-dokumen penting.

Sesampainya di lantai paling atas, Joseph langsung masuk ke ruangan kebesarannya yang luas dan elegan. Meja kerjanya terbuat dari kayu mahoni mewah, dikelilingi oleh perabotan modern yang serba hitam dan putih.

"Andi," panggil Joseph dengan nada serius.

"Apa ada kabar soal kandidat sekretaris pribadiku?"

Asisten Andi, yang selalu setia mendampingi bosnya, langsung menjawab sambil membuka tabletnya.

"Tuan Muda Joseph, memang sejauh ini sudah ada beberapa kandidat yang melamar.

Tapi ...."

Joseph mengangkat alisnya, menatap sang asisten dengan sangat tajam.

"Tapi apa, Andi?"

Asisten Andi menelan ludah, merasa gugup.

"Tapi belum ada yang memenuhi semua kriteria yang Anda inginkan, Tuan."

Mendengar hal itu, Joseph menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursinya. Tatapan matanya tajam seperti elang. "Andi! Sudah satu minggu sejak aku diangkat jadi CEO, dan kamu belum bisa menemukan satu orang pun yang kompeten sebagai sekretarisku? Apa kamu tahu betapa pentingnya posisi ini?"

Asisten Andi menunduk, merasa bersalah.

"Maafkan saya, Tuan Muda Joseph. Saya sudah berusaha mencari yang terbaik, tapi ....."

"Saya tidak butuh alasan darimu!" potong Joseph, suaranya meninggi.

"Aku butuh seseorang yang bukan hanya pintar, tapi juga cekatan, berpenampilan menarik, dan memiliki etika kerja yang tinggi. Semua kandidat yang kamu bawa selama ini terlalu biasa! Apa hanya sampai di sini level JM Corp?"

Asisten Andi mengangguk pelan, tidak berani membantah. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan berusaha lebih keras."

"Berusaha lebih keras?" Joseph mendekat, berdiri tepat di depan Andi.

"Kamu sudah bekerja denganku cukup lama. Seharusnya kamu tahu standar apa yang aku mau! Karena ketidakmampuanmu, sekarang kamu harus menerima hukuman."

Andi langsung menatap Joseph dengan ekspresi terkejut. "Hukuman, Tuan?"

"Benar," jawab Joseph dengan nada dingin.

"Push-up seratus kali sekarang juga, di ruangan ini."

"Tapi, Tuan ...."

"Tidak ada kata tapi! Cepat lakukan!"

Asisten Andi hanya bisa pasrah. Dia pun melepas jasnya dan mulai melakukan push-up di tengah ruangan, sementara Joseph kembali duduk di kursinya, menyaksikan dengan tangan terlipat di depan dada.

"Seharusnya ini menjadi pelajaran bagimu, Andi," ujar Joseph sambil menatap asisten pribadinya yang mulai kehabisan napas.

"Aku membutuhkan orang-orang yang kompeten di sekitarku. Jika kamu tidak bisa memenuhi ekspektasiku, bagaimana kita bisa membawa JM Corp ke tingkat yang lebih tinggi?"

Asisten Andi, meski kelelahan, tetap menjawab dengan suara terengah-engah.

"Sa ... saya paham, Tuan. Saya akan berusaha lebih baik lagi."

Setelah menyelesaikan push-up-nya, Asisten Andi berdiri dengan susah payah, wajahnya memerah karena kelelahan.

"Baiklah," ucap Joseph, melirik arlojinya.

"Sekarang, kembali bekerja. Aku ingin daftar kandidat baru di mejaku sebelum makan siang."

"Baik, Tuan Joseph," jawab Andi dengan patuh, meskipun tubuhnya masih gemetar. Dia pun segera keluar dari ruangan untuk mulai menyusun ulang kriteria pencarian sekretaris pribadi yang diinginkan bosnya.

Di Ruang Kerja Asisten Andi.

Asisten Andi duduk di kursi kerjanya, dia terlihat sedang memijat bahunya yang pegal sambil memandang layar laptop. Pria itu mulai mengetik ulang deskripsi pekerjaan untuk posisi sekretaris pribadi Joseph.

"Kriteria sekretaris yang diinginkan Tuan Muda Joseph, antara lain berpendidikan minimal S2, mampu berbicara tiga bahasa asing, berpenampilan menarik, memiliki kemampuan multitasking, dan mampu bekerja di bawah tekanan," gumam Andi sambil menulis.

"Ini bukan mencari sekretaris, tapi superhuman!"

Rekan kerja Andi, seorang staf perempuan, datang menghampiri meja Andi dengan secangkir kopi.

"Asisten Andi, kamu kelihatan lelah. Apakah Bos Joseph marah lagi?" tanyanya sambil meletakkan kopi di meja sang asisten.

Andi mengangguk lesu.

"Bos bukan cuma marah. Tapi aku disuruh push-up seratus kali tadi."

Staf tersebut terbelalak. "Astaga, Bos benar-benar ngamuk, ya. Tapi, kenapa dia begitu kesal?"

"Bos belum menemukan sekretaris pribadi yang sesuai standar. Aku benar-benar harus menemukan kandidat sempurna secepatnya, atau aku bisa kehilangan pekerjaan ini," jawab Andi sambil minum kopi yang diberikan oleh rekannya.

Sang staf menghela napas. "Ya, semoga saja kali ini ada kandidat yang cocok. Semua pasti tahu jika Bos Joseph memang punya standar tinggi, tapi dia juga harus sadar jika tidak ada manusia yang sempurna."

Asisten Andi hanya mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Dalam hati, dia bertekad untuk menemukan seseorang yang benar-benar memenuhi semua kriteria yang diinginkan Bos Joseph.

Sementara itu, Joseph duduk di kursinya, memandangi pemandangan Kota Jakarta melalui jendela besar di belakang meja kerjanya. Pikirannya melayang jauh, memikirkan masa depan perusahaan dan bagaimana dia harus menjalankan tugas berat sebagai CEO.

"Aku membutuhkan tim yang kuat," gumamnya pelan.

"Aku tidak bisa melakukan semua ini sendirian."

Joseph mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kalender, mengecek jadwal rapatnya untuk hari itu. Meski terlihat dingin dan tegas, di dalam hatinya dia hanya ingin yang terbaik untuk JM Corp, perusahaan yang dibangun dengan kerja keras oleh ayahnya.

Beberapa jam kemudian, Asisten Andi kembali dengan selembar kertas berisi daftar kandidat baru.

"Tuan Joseph, ini daftar kandidat baru yang sudah saya seleksi ulang berdasarkan kriteria Anda," tutur Asisten Andi sambil menyerahkan dokumen tersebut.

Joseph menerima dokumen itu dan mulai membacanya. "Hmmm ... ini lebih baik, Andi. Tapi aku akan memastikan sendiri apakah mereka benar-benar memenuhi ekspektasiku. Jadwalkan wawancara untuk mereka besok."

"Baik, Tuan Joseph. Saya akan mengatur semuanya," jawab Asisten Andi dengan lega.

Joseph mengangguk pelan. "Bagus. Jangan kecewakan aku lagi, Andi."

Asisten Andi hanya tersenyum tipis sambil menunduk, lalu keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Dia tahu jika bekerja untuk Bos Joseph bukanlah hal yang mudah, tapi sang asisten juga memahami bahwa semua ini demi kesuksesan JM Corp.

Ketegasan dan tuntutan Joseph mungkin membuat orang-orang di sekitarnya merasa tertekan, tapi dia sangat sadar jika hal itu adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Dengan keyakinan penuh, Joseph bertekad untuk membawa JM Corp ke puncak kejayaan, meskipun perjalanan itu tidak akan mudah.

Bab 3

Kejutan di Apartemen Mary

Malam sudah cukup larut ketika Mary duduk di dalam mobil, membiarkan kepalanya bersandar pada jendela. Dia baru saja menghabiskan waktu di rumah orangtuanya, melepas rindu dengan Papi Desmond dan Mami Intan. Momen itu membuat hatinya terasa hangat. Namun, sekarang saatnya dia kembali ke apartemennya di kawasan Jakarta Selatan.

Pak Ridwan, sopir pribadinya, menyetir dengan tenang melewati jalanan Kota Jakarta yang mulai lengang. Sesekali, Mary melirik ke layar ponselnya, membaca beberapa pesan masuk, akan tetapi pikirannya masih melayang pada obrolan dengan orang tuanya tadi tentang pekerjaan dan masa depannya.

"Nona Mary, kita sudah sampai," ucap Pak Ridwan, menghentikan mobil di depan lobi apartemen.

Mary menghela napas lega dan tersenyum.

"Terima kasih, Pak Ridwan. Hati-hati di jalan pulangnya, ya."

Pak Ridwan mengangguk sopan.

"Sama-sama, Nona Mary. Selamat beristirahat."

Mary pun keluar dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam lobi apartemen yang tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis yang menyapanya dengan anggukan ramah. Mary membalas sapaan itu sebelum menuju lift. Jemarinya menekan tombol lantai tempat unit apartemennya berada, dan beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka.

Di dalam lift, Mary melipat tangannya di dada sambil menunggu. Sesekali, dia mengecek jam tangan. Hari ini cukup melelahkan, dan gadis itu sungguh tidak sabar untuk beristirahat di apartemen kesayangannya.

Setelah sampai di lantai yang dituju, Mary berjalan menuju unit apartemennya. Dia lalu mengeluarkan kunci dari tas kecilnya dan membuka pintu. Namun, begitu pintu terbuka ....

"Surprise!"

Mary terlonjak kaget. Di ruang tamunya, telah berdiri dua sosok yang sangat dikenalnya yaitu Zera dan Marsha dengan senyum lebar di wajah mereka.

"Ya ampun, Marsha? Zera? Kalian kok bisa ada di sini?" seru Mary dengan mata terbelalak.

Tanpa pikir panjang, sang gadis segera memeluk kedua sahabatnya secara bergantian dengan erat. Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini, dan Mary sangat merindukan momen-momen seperti ini.

Marsha terkikik.

"Hi-hi-hi. Kita dapat kunci dari Tante Intan."

Mary menggeleng tak percaya. "Oh, pantas saja! Mami memang suka kejutan seperti ini."

Zera tertawa senang.

"He-he-he. Beliau bilang kamu pasti senang kalau kami datang. Dan ternyata benar, kan?"

"Tentu saja! Kalian kangen aku, ya?" goda Mary sambil tersenyum jahil.

"Banget!" jawab Marsha dan Zera bersamaan, membuat mereka bertiga tertawa.

"Ha-ha-ha!"

Mereka pun duduk di sofa ruang tamu. Mary menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang berubah di apartemennya. Semua tetap rapi, seperti saat dirinya tinggalkan selama ini.

"Jadi, bagaimana kabar kalian?" tanya Mary antusias.

Zera tersenyum bahagia.

"Aku baru saja menikah dengan Kak Farez, kamu pasti sudah tahu, kan?"

Mary menepuk tangan Zera dengan girang.

"Tentu saja! Selamat ya, Zera! Aku lihat fotomu dan Kak Farez di medsos milikmu. Kalian berdua tampak serasi banget."

"Terima kasih, Mary," ucap Zera tersipu.

Mary kemudian menoleh ke arah Marsha dengan tatapan penuh arti.

"Dan kamu, Marsha? Aku dengar kamu makin dekat dengan Kak Arnold, ya?"

Marsha langsung memerah. "Eh, siapa yang bilang?" tanyanya pura-pura tidak tahu.

Zera tertawa.

"Ha-ha-ha. Sudahlah, Marsha, kami tahu segalanya!"

Mary ikut tertawa.

"Ha-ha-ha. Pokoknya, aku ikut senang untuk kalian berdua."

Malam itu mereka bertiga berbincang dengan akrab, melepas rindu dan berbagi cerita. Mary lalu memesan pizza favorit mereka dari restoran langganannya.

"Aku pesan pizza dan moktail, biar ngobrolnya lebih seru," ucap Mary.

"Setuju!" seru Marsha dan Zera bersamaan.

Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Aroma pizza yang menggoda memenuhi ruangan. Mereka menikmati potongan demi potongan sambil terus mengobrol tentang banyak hal, dari pekerjaan hingga kehidupan pribadi masing-masing.

Ruangan apartemen Mary terasa begitu nyaman malam itu. Aroma pizza yang baru saja dikeluarkan dari kotak memenuhi udara, menggoda selera mereka bertiga. Mary, Zera, dan Marsha duduk di sofa dengan santai, masing-masing memegang sepotong pizza panas yang keju lelehnya masih terlihat menggoda.

"Duh, ini enak banget!" seru Marsha sambil menggigit potongan pizzanya.

Mary tertawa pelan.

"He-he-he. Makanya, aku langsung pesan begitu kalian datang. Kita kan udah lama nggak makan pizza bareng."

Zera mengangguk setuju. "Bener banget. Apalagi sekarang aku udah jadi istri orang. Susah deh kalau mau kabur ke apartemen temen buat makan pizza gini."

Marsha dan Mary tertawa mendengar candaan Zera.

Ha-ha-ha!"

"Tapi serius, aku masih nggak percaya kamu udah menikah, Zera. Rasanya baru kemarin kita ngobrolin tentang Kak Farez di kafetaria sekolah dulu," ucap Mary sambil mengambil sepotong lagi.

Zera tersenyum penuh arti.

"Ya, namanya juga jodoh, Mary. Kadang datang lebih cepat dari yang kita duga."

Marsha yang duduk di samping Zera menatap Mary dengan tatapan menyelidik. "Ngomong-ngomong soal jodoh, kamu bagaimana, Mary? Masih jomlo atau ada gebetan baru?"

Mary menggeleng sambil tertawa.

"Nggak ada siapa-siapa. Aku sekarang lagi fokus cari kerja dulu."

Mendengar itu, Zera dan Marsha langsung menoleh dengan perhatian penuh.

"Serius? Kamu lagi nyari kerja?" tanya Zera.

Mary mengangguk sambil menyeruput moktailnya.

"Iya, aku lagi cari posisi yang cocok buat aku. Mau mulai kerja di perusahaan yang bagus."

Zera tampak berpikir sejenak, lalu wajahnya berbinar.

"Eh, aku baru ingat! JM Corp lagi cari sekretaris CEO. Kayaknya cocok banget buat kamu, Mary."

Mary menoleh dengan antusias.

"JM Corp? Perusahaan besar itu?"

Zera mengangguk.

"Iya, perusahaan multinasional. Kak Farez kebetulan punya kenalan di sana. Mereka lagi butuh sekretaris CEO yang baru."

Mary meletakkan piringnya dan menatap Zera dengan penuh minat.

"Kamu serius? Bagaimana cara daftarnya?"

Zera segera merogoh ponselnya dan mulai mencari informasi.

"Sebentar, aku cari link pendaftarannya dulu."

Sementara itu, Marsha ikut menimpali.

"Wah, kalau Mary kerja di JM Corp, keren banget tuh. Gajinya pasti gede, kan?"

Zera tertawa.

"Ha-ha-ha. Ya jelas! Apalagi posisi sekretaris CEO, pasti banyak benefitnya."

Mary merasa semakin tertarik. Dia memang sedang mencari pekerjaan yang menawarkan tantangan baru. Bekerja di perusahaan besar seperti JM Corp tentu akan menjadi pengalaman yang luar biasa.

Tak lama, Zera menunjukkan layar ponselnya kepada Mary. "Nih, link-nya. Kamu bisa daftar online langsung."

Mary dengan cepat mengambil ponselnya dan mulai membuka tautan tersebut. Dia pun membaca persyaratan dan merasa yakin bahwa dirinya memenuhi kriteria.

"Kayaknya aku cocok untuk posisi ini," gumam Mary sambil mulai mengisi formulir online.

Zera dan Marsha memperhatikannya dengan penuh semangat.

"Tulis pengalaman kerja dan keterampilanmu yang paling menonjol, Mary," saran Marsha.

Mary mengangguk,

"Tenang, aku udah terbiasa bikin CV yang menarik."

Zera tersenyum puas.

"Bagus! Aku yakin kamu pasti dipanggil untuk interview."

Setelah beberapa menit, Mary akhirnya mengirimkan lamaran tersebut. Dia lalu menatap layar ponselnya dengan perasaan lega dan sedikit gugup.

"Done! Aku sudah kirim," katanya dengan napas lega.

Marsha menepuk bahunya. "Good luck, Mary! Siapa tahu minggu depan kamu sudah mulai kerja di sana."

Mary tertawa pelan.

"He-he-he. Amin! Doakan aku diterima, ya."

Zera mengangguk penuh keyakinan.

"Kamu pasti bisa, Mary. Aku yakin kamu adalah kandidat yang kuat."

Mereka bertiga kembali menikmati pizza sambil terus mengobrol santai. Malam itu terasa istimewa bagi Mary, bukan hanya karena kebersamaannya dengan sahabat-sahabatnya, tetapi juga karena langkah barunya menuju dunia kerja yang lebih menantang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED