Pagi yang sungguh cerah di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Terminal kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta terlihat ramai oleh para pelancong yang baru saja tiba di Jakarta. Di tengah keramaian tersebut, seorang gadis muda bernama Mary Violet berjalan dengan langkah anggun, membawa koper besar berwarna merah marun. Rambut panjangnya yang tergerai rapi dan senyum di wajahnya membuat banyak mata memandang.
Di dekat pintu keluar, pasangan suami istri, Tuan Desmond dan Nyonya Intan, berdiri dengan penuh antusias. Mata keduanya berbinar-binar saat melihat putri semata wayang mereka, Mary, yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas ternama di London.
"Mary! Sayang!" seru Nyonya Intan, melambaikan tangan dengan penuh semangat.
Mary mendongak dan langsung mengenali orang tuanya. Wajahnya cerah saat berlari kecil menghampiri mereka.
"Mami! Papi!" serunya sambil membuka tangan lebar-lebar.
Keluarga itu berpelukan erat, mengabaikan keramaian di sekitar mereka. Ada rasa haru dan kebahagiaan yang terpancar dari masing-masing wajah mereka.
"Selamat datang di Jakarta, Mary," ucap Tuan Desmond dengan nada hangat.
"Papi sangat bangga padamu."
"Terima kasih, Pi. Aku juga kangen banget sama kalian," jawab Mary dengan senyum tulus.
"Mami, apa kabar? Kok tambah cantik saja, sih?" celetuk Mary menggoda perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Mami baik-baik saja, dong! Tentu saja Mami semakin cantik, kan telah dicintai secara ugal-ugalan oleh Papimu," jawab Nyonya Intan sambil memandang penuh cinta ke arah suaminya.
"Idih, Papi dan Mami selalu so sweet, deh!" sergah Mary sambil merangkul kedua orang tuanya.
"Papi Desmond dan Mami Intan gitu, lho!" sahut sang ayah.
"Ha-ha-ha!" Ketiganya pun tertawa bahagia.
Setelah melewati momen penuh kehangatan, Tuan Desmond melirik jam tangannya.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Papi sudah pesan tempat di salah satu restoran yang ada dekat sini. Kita bisa ngobrol santai sambil makan."
"Setuju, Pi!" sahut Mary sambil menggandeng lengan ayah dan ibunya.
Sangat kelihatan jika gadis itu sungguh merindukan kedua orang tuanya. Sifat manja Mary juga tidak pernah berubah, penuh kasih sayang kepada ayah dan ibunya.
Sambil berjalan, ketiganya terlihat bercengkrama penuh canda dan tawa saling melepas rindu satu sama lain. Tak berapa lama setelah itu mereka pun sampai di restoran pilihan Tuan Desmond.
Keluarga kecil itu memilih tempat duduk di dekat jendela yang menghadap ke landasan pacu. Pesawat-pesawat yang lepas landas dan mendarat menjadi pemandangan dan latar yang sungguh menarik hati.
"Jadi, bagaimana perjalanan panjangmu, Sayang?" tanya Nyonya Intan setelah pelayan mengantar menu ke meja mereka.
"Perjalanannya cukup nyaman, Mi," jawab Mary sambil minum air mineral untuk melepaskan dahaganya.
"Tapi aku mulai merasa sedikit jet lag karena perbedaan waktu."
"Itu wajar, Mary. Istirahat yang cukup nanti malam, ya," ujar Nyonya Intan dengan nada lembut.
"Iya, Mami. Pasti," tutur Mary sambil tersenyum.
Setelah memesan makanan, suasana menjadi lebih santai. Tuan Desmond memulai percakapan yang sudah lama dipikirkan olehnya.
"Mary, sekarang kamu sudah kembali ke Jakarta, apa rencanamu selanjutnya, Sayang?" tanyanya serius sambil menatap putrinya.
Mary meletakkan sendok garpunya dan menatap ayahnya dalam-dalam.
"Aku ingin mencari pengalaman kerja di perusahaan lain dulu, Pi. Aku merasa itu akan memberikan pelajaran berharga sebelum aku membantu Papi dan Mami di perusahaan keluarga."
Ekspresi Tuan Desmond berubah saat mendengar keinginan putri kesayangannya. Alisnya mengerut tipis, menunjukkan ketidaksenangannya.
"Tapi, Mary, kenapa harus bekerja di tempat lain? Perusahaan kita sudah menunggumu. Papi bisa memberikan posisi yang bagus untukmu. Kamu tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan di luar sana."
Mary menghela napas. Gadis itu sudah menduga reaksi seperti ini dari ayahnya.
"Aku mengerti, Pi. Tapi aku ingin belajar mandiri dan menghadapi tantangan di luar lingkungan yang akan menawarkan rasa nyaman bagiku. Aku yakin itu akan membuatku lebih siap ketika nanti bergabung di perusahaan keluarga."
"Mary benar, Darling," sela Nyonya Intan dengan nada lembut namun tegas.
"Biarkan dia mencoba. Pengalaman di luar sana. Mungkin saja hal itu bisa menjadi modal penting untuk masa depannya."
"Tapi Intan Sayang, aku tidak ingin putri kita merasakan kesulitan atau bahkan gagal di tempat lain," balas Tuan Desmond, matanya beralih dari istrinya ke putrinya.
"Papi hanya ingin yang terbaik untukmu, Mary," serunya tegas.
Mary tersenyum lembut lembut, mencoba menenangkan ayahnya.
"Aku tahu, Pi. Tapi aku sudah dewasa, dan aku ingin membuktikan jika aku bisa berdiri sendiri. Bukankah itu juga sesuatu yang baik untuk masa depan ku?"
Tuan Desmond terdiam sejenak, dan mulai berpikir keras. Dia tahu jika putrinya memiliki tekad yang kuat, dan istrinya juga mendukung keputusan tersebut.
"Baiklah," ujar Tuan Desmond akhirnya, meski dengan nada enggan.
"Papi akan setuju dengan keinginanmu tapi dengan satu syarat. Jika kamu merasa kesulitan atau tidak cocok di perusahaan tempat kamu bekerja nanti, kamu harus berhenti dan langsung bergabung di perusahaan keluarga."
Mary mengangguk penuh keyakinan.
"Deal, Pi. Aku janji akan melakukan segalanya dengan sebaik mungkin."
Nyonya Intan tersenyum lega melihat suaminya akhirnya mengalah.
"Bagus sekali, Darling. Aku yakin Mary bisa melakukannya."
Setelah pembicaraan serius itu, suasana di meja makan menjadi lebih ringan. Makanan yang dipesan pun mulai diantar, dan aroma lezat memenuhi meja mereka.
"Ngomong-ngomong, Mary," ucap Nyonya Intan sambil memotong steaknya.
"Kamu akan tinggal di mana selama bekerja di Jakarta? Di rumah kita atau mau cari tempat baru?"
"Aku pikir aku akan tinggal di apartemen dulu, Mi," jawab Mary.
"Lebih praktis dan dekat dengan banyak tempat. Tapi aku akan menginap di rumah kita setiap akhir minggu," sahutnya lagi.
"Itu ide bagus," sahut Tuan Desmond sambil menyeruput jus jeruknya.
"Tapi jangan lupa, Papi bisa membantumu jika kamu butuh sesuatu."
Mary tersenyum hangat. "Terima kasih, Pi. Aku tahu aku selalu bisa mengandalkan Papi dan Mami."
Mereka bertiga pun melanjutkan makan dengan obrolan santai tentang kehidupan Mary di London, teman-temannya, dan rencana masa depannya. Meskipun ada sedikit perbedaan pendapat, cinta dan dukungan keluarga tetap menjadi prioritas utama.
Setelah selesai makan, Tuan Desmond membayar tagihan dan mereka bertiga meninggalkan restoran dengan perasaan yang lebih tenang. Mary merasa lega karena akhirnya ayahnya memberikan izin, meskipun dengan syarat. Sementara itu, Tuan Desmond mulai menyadari jika putrinya memang sudah dewasa dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri.
"Selamat datang di Jakarta, Mary," ucap Tuan Desmond lagi saat mereka berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka pulang.
"Papi dan Mami akan selalu di sini untukmu."
Mary menggenggam tangan ayah dan ibunya dengan penuh kasih.
"Terima kasih, Pi, Mi. Aku akan melakukan yang terbaik."
Keluarga kecil itu pun memasuki mobil dengan hati yang penuh cinta dan harapan baru untuk masa depan.
Pagi yang Cerah di JM Corp,
Matahari bersinar cerah, menyoroti gedung pencakar langit yang megah milik JM Corp, salah satu perusahaan terkemuka di bidang teknologi dan investasi yang ada di Kota Jakarta. Di depan pintu masuk utama, sebuah mobil sport edisi terbatas berwarna hitam mengkilap berhenti dengan sangat elegan.
Seorang pria tampan dengan setelan jas mahal berwarna navy keluar dari mobil tersebut. Dia adalah Joseph Mikuel, CEO baru JM Corp yang baru saja diangkat seminggu lalu oleh dewan direksi dan ayahnya Tuan Efendi Mikuel, sang chairman.
Joseph berdiri tegap, menatap gedung dengan penuh percaya diri. Rambutnya yang tertata rapi dan wajahnya yang tampan langsung menarik perhatian semua orang yang di sekitarnya. Para karyawan yang berada di lobi berbisik-bisik, mengagumi aura karismatik bos muda mereka.
"Lihat, itu Tuan Muda Joseph. Ganteng sekali, ya."
"Dan dia CEO. Benar-benar sempurna."
"Sayang, dia pasti sangat sibuk. Mana mungkin kita bisa dekat dengannya."
Joseph sama sekali tak menghiraukan bisikan-bisikan tersebut. Dengan langkah tegas, sang pria berjalan menuju lift, diikuti oleh asisten pribadinya, Andi, yang membawa dokumen-dokumen penting.
Sesampainya di lantai paling atas, Joseph langsung masuk ke ruangan kebesarannya yang luas dan elegan. Meja kerjanya terbuat dari kayu mahoni mewah, dikelilingi oleh perabotan modern yang serba hitam dan putih.
"Andi," panggil Joseph dengan nada serius.
"Apa ada kabar soal kandidat sekretaris pribadiku?"
Asisten Andi, yang selalu setia mendampingi bosnya, langsung menjawab sambil membuka tabletnya.
"Tuan Muda Joseph, memang sejauh ini sudah ada beberapa kandidat yang melamar.
Tapi ...."
Joseph mengangkat alisnya, menatap sang asisten dengan sangat tajam.
"Tapi apa, Andi?"
Asisten Andi menelan ludah, merasa gugup.
"Tapi belum ada yang memenuhi semua kriteria yang Anda inginkan, Tuan."
Mendengar hal itu, Joseph menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursinya. Tatapan matanya tajam seperti elang. "Andi! Sudah satu minggu sejak aku diangkat jadi CEO, dan kamu belum bisa menemukan satu orang pun yang kompeten sebagai sekretarisku? Apa kamu tahu betapa pentingnya posisi ini?"
Asisten Andi menunduk, merasa bersalah.
"Maafkan saya, Tuan Muda Joseph. Saya sudah berusaha mencari yang terbaik, tapi ....."
"Saya tidak butuh alasan darimu!" potong Joseph, suaranya meninggi.
"Aku butuh seseorang yang bukan hanya pintar, tapi juga cekatan, berpenampilan menarik, dan memiliki etika kerja yang tinggi. Semua kandidat yang kamu bawa selama ini terlalu biasa! Apa hanya sampai di sini level JM Corp?"
Asisten Andi mengangguk pelan, tidak berani membantah. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan berusaha lebih keras."
"Berusaha lebih keras?" Joseph mendekat, berdiri tepat di depan Andi.
"Kamu sudah bekerja denganku cukup lama. Seharusnya kamu tahu standar apa yang aku mau! Karena ketidakmampuanmu, sekarang kamu harus menerima hukuman."
Andi langsung menatap Joseph dengan ekspresi terkejut. "Hukuman, Tuan?"
"Benar," jawab Joseph dengan nada dingin.
"Push-up seratus kali sekarang juga, di ruangan ini."
"Tapi, Tuan ...."
"Tidak ada kata tapi! Cepat lakukan!"
Asisten Andi hanya bisa pasrah. Dia pun melepas jasnya dan mulai melakukan push-up di tengah ruangan, sementara Joseph kembali duduk di kursinya, menyaksikan dengan tangan terlipat di depan dada.
"Seharusnya ini menjadi pelajaran bagimu, Andi," ujar Joseph sambil menatap asisten pribadinya yang mulai kehabisan napas.
"Aku membutuhkan orang-orang yang kompeten di sekitarku. Jika kamu tidak bisa memenuhi ekspektasiku, bagaimana kita bisa membawa JM Corp ke tingkat yang lebih tinggi?"
Asisten Andi, meski kelelahan, tetap menjawab dengan suara terengah-engah.
"Sa ... saya paham, Tuan. Saya akan berusaha lebih baik lagi."
Setelah menyelesaikan push-up-nya, Asisten Andi berdiri dengan susah payah, wajahnya memerah karena kelelahan.
"Baiklah," ucap Joseph, melirik arlojinya.
"Sekarang, kembali bekerja. Aku ingin daftar kandidat baru di mejaku sebelum makan siang."
"Baik, Tuan Joseph," jawab Andi dengan patuh, meskipun tubuhnya masih gemetar. Dia pun segera keluar dari ruangan untuk mulai menyusun ulang kriteria pencarian sekretaris pribadi yang diinginkan bosnya.
Di Ruang Kerja Asisten Andi.
Asisten Andi duduk di kursi kerjanya, dia terlihat sedang memijat bahunya yang pegal sambil memandang layar laptop. Pria itu mulai mengetik ulang deskripsi pekerjaan untuk posisi sekretaris pribadi Joseph.
"Kriteria sekretaris yang diinginkan Tuan Muda Joseph, antara lain berpendidikan minimal S2, mampu berbicara tiga bahasa asing, berpenampilan menarik, memiliki kemampuan multitasking, dan mampu bekerja di bawah tekanan," gumam Andi sambil menulis.
"Ini bukan mencari sekretaris, tapi superhuman!"
Rekan kerja Andi, seorang staf perempuan, datang menghampiri meja Andi dengan secangkir kopi.
"Asisten Andi, kamu kelihatan lelah. Apakah Bos Joseph marah lagi?" tanyanya sambil meletakkan kopi di meja sang asisten.
Andi mengangguk lesu.
"Bos bukan cuma marah. Tapi aku disuruh push-up seratus kali tadi."
Staf tersebut terbelalak. "Astaga, Bos benar-benar ngamuk, ya. Tapi, kenapa dia begitu kesal?"
"Bos belum menemukan sekretaris pribadi yang sesuai standar. Aku benar-benar harus menemukan kandidat sempurna secepatnya, atau aku bisa kehilangan pekerjaan ini," jawab Andi sambil minum kopi yang diberikan oleh rekannya.
Sang staf menghela napas. "Ya, semoga saja kali ini ada kandidat yang cocok. Semua pasti tahu jika Bos Joseph memang punya standar tinggi, tapi dia juga harus sadar jika tidak ada manusia yang sempurna."
Asisten Andi hanya mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Dalam hati, dia bertekad untuk menemukan seseorang yang benar-benar memenuhi semua kriteria yang diinginkan Bos Joseph.
Sementara itu, Joseph duduk di kursinya, memandangi pemandangan Kota Jakarta melalui jendela besar di belakang meja kerjanya. Pikirannya melayang jauh, memikirkan masa depan perusahaan dan bagaimana dia harus menjalankan tugas berat sebagai CEO.
"Aku membutuhkan tim yang kuat," gumamnya pelan.
"Aku tidak bisa melakukan semua ini sendirian."
Joseph mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kalender, mengecek jadwal rapatnya untuk hari itu. Meski terlihat dingin dan tegas, di dalam hatinya dia hanya ingin yang terbaik untuk JM Corp, perusahaan yang dibangun dengan kerja keras oleh ayahnya.
Beberapa jam kemudian, Asisten Andi kembali dengan selembar kertas berisi daftar kandidat baru.
"Tuan Joseph, ini daftar kandidat baru yang sudah saya seleksi ulang berdasarkan kriteria Anda," tutur Asisten Andi sambil menyerahkan dokumen tersebut.
Joseph menerima dokumen itu dan mulai membacanya. "Hmmm ... ini lebih baik, Andi. Tapi aku akan memastikan sendiri apakah mereka benar-benar memenuhi ekspektasiku. Jadwalkan wawancara untuk mereka besok."
"Baik, Tuan Joseph. Saya akan mengatur semuanya," jawab Asisten Andi dengan lega.
Joseph mengangguk pelan. "Bagus. Jangan kecewakan aku lagi, Andi."
Asisten Andi hanya tersenyum tipis sambil menunduk, lalu keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Dia tahu jika bekerja untuk Bos Joseph bukanlah hal yang mudah, tapi sang asisten juga memahami bahwa semua ini demi kesuksesan JM Corp.
Ketegasan dan tuntutan Joseph mungkin membuat orang-orang di sekitarnya merasa tertekan, tapi dia sangat sadar jika hal itu adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Dengan keyakinan penuh, Joseph bertekad untuk membawa JM Corp ke puncak kejayaan, meskipun perjalanan itu tidak akan mudah.
Kejutan di Apartemen Mary
Malam sudah cukup larut ketika Mary duduk di dalam mobil, membiarkan kepalanya bersandar pada jendela. Dia baru saja menghabiskan waktu di rumah orangtuanya, melepas rindu dengan Papi Desmond dan Mami Intan. Momen itu membuat hatinya terasa hangat. Namun, sekarang saatnya dia kembali ke apartemennya di kawasan Jakarta Selatan.
Pak Ridwan, sopir pribadinya, menyetir dengan tenang melewati jalanan Kota Jakarta yang mulai lengang. Sesekali, Mary melirik ke layar ponselnya, membaca beberapa pesan masuk, akan tetapi pikirannya masih melayang pada obrolan dengan orang tuanya tadi tentang pekerjaan dan masa depannya.
"Nona Mary, kita sudah sampai," ucap Pak Ridwan, menghentikan mobil di depan lobi apartemen.
Mary menghela napas lega dan tersenyum.
"Terima kasih, Pak Ridwan. Hati-hati di jalan pulangnya, ya."
Pak Ridwan mengangguk sopan.
"Sama-sama, Nona Mary. Selamat beristirahat."
Mary pun keluar dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam lobi apartemen yang tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis yang menyapanya dengan anggukan ramah. Mary membalas sapaan itu sebelum menuju lift. Jemarinya menekan tombol lantai tempat unit apartemennya berada, dan beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka.
Di dalam lift, Mary melipat tangannya di dada sambil menunggu. Sesekali, dia mengecek jam tangan. Hari ini cukup melelahkan, dan gadis itu sungguh tidak sabar untuk beristirahat di apartemen kesayangannya.
Setelah sampai di lantai yang dituju, Mary berjalan menuju unit apartemennya. Dia lalu mengeluarkan kunci dari tas kecilnya dan membuka pintu. Namun, begitu pintu terbuka ....
"Surprise!"
Mary terlonjak kaget. Di ruang tamunya, telah berdiri dua sosok yang sangat dikenalnya yaitu Zera dan Marsha dengan senyum lebar di wajah mereka.
"Ya ampun, Marsha? Zera? Kalian kok bisa ada di sini?" seru Mary dengan mata terbelalak.
Tanpa pikir panjang, sang gadis segera memeluk kedua sahabatnya secara bergantian dengan erat. Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini, dan Mary sangat merindukan momen-momen seperti ini.
Marsha terkikik.
"Hi-hi-hi. Kita dapat kunci dari Tante Intan."
Mary menggeleng tak percaya. "Oh, pantas saja! Mami memang suka kejutan seperti ini."
Zera tertawa senang.
"He-he-he. Beliau bilang kamu pasti senang kalau kami datang. Dan ternyata benar, kan?"
"Tentu saja! Kalian kangen aku, ya?" goda Mary sambil tersenyum jahil.
"Banget!" jawab Marsha dan Zera bersamaan, membuat mereka bertiga tertawa.
"Ha-ha-ha!"
Mereka pun duduk di sofa ruang tamu. Mary menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang berubah di apartemennya. Semua tetap rapi, seperti saat dirinya tinggalkan selama ini.
"Jadi, bagaimana kabar kalian?" tanya Mary antusias.
Zera tersenyum bahagia.
"Aku baru saja menikah dengan Kak Farez, kamu pasti sudah tahu, kan?"
Mary menepuk tangan Zera dengan girang.
"Tentu saja! Selamat ya, Zera! Aku lihat fotomu dan Kak Farez di medsos milikmu. Kalian berdua tampak serasi banget."
"Terima kasih, Mary," ucap Zera tersipu.
Mary kemudian menoleh ke arah Marsha dengan tatapan penuh arti.
"Dan kamu, Marsha? Aku dengar kamu makin dekat dengan Kak Arnold, ya?"
Marsha langsung memerah. "Eh, siapa yang bilang?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
Zera tertawa.
"Ha-ha-ha. Sudahlah, Marsha, kami tahu segalanya!"
Mary ikut tertawa.
"Ha-ha-ha. Pokoknya, aku ikut senang untuk kalian berdua."
Malam itu mereka bertiga berbincang dengan akrab, melepas rindu dan berbagi cerita. Mary lalu memesan pizza favorit mereka dari restoran langganannya.
"Aku pesan pizza dan moktail, biar ngobrolnya lebih seru," ucap Mary.
"Setuju!" seru Marsha dan Zera bersamaan.
Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Aroma pizza yang menggoda memenuhi ruangan. Mereka menikmati potongan demi potongan sambil terus mengobrol tentang banyak hal, dari pekerjaan hingga kehidupan pribadi masing-masing.
Ruangan apartemen Mary terasa begitu nyaman malam itu. Aroma pizza yang baru saja dikeluarkan dari kotak memenuhi udara, menggoda selera mereka bertiga. Mary, Zera, dan Marsha duduk di sofa dengan santai, masing-masing memegang sepotong pizza panas yang keju lelehnya masih terlihat menggoda.
"Duh, ini enak banget!" seru Marsha sambil menggigit potongan pizzanya.
Mary tertawa pelan.
"He-he-he. Makanya, aku langsung pesan begitu kalian datang. Kita kan udah lama nggak makan pizza bareng."
Zera mengangguk setuju. "Bener banget. Apalagi sekarang aku udah jadi istri orang. Susah deh kalau mau kabur ke apartemen temen buat makan pizza gini."
Marsha dan Mary tertawa mendengar candaan Zera.
Ha-ha-ha!"
"Tapi serius, aku masih nggak percaya kamu udah menikah, Zera. Rasanya baru kemarin kita ngobrolin tentang Kak Farez di kafetaria sekolah dulu," ucap Mary sambil mengambil sepotong lagi.
Zera tersenyum penuh arti.
"Ya, namanya juga jodoh, Mary. Kadang datang lebih cepat dari yang kita duga."
Marsha yang duduk di samping Zera menatap Mary dengan tatapan menyelidik. "Ngomong-ngomong soal jodoh, kamu bagaimana, Mary? Masih jomlo atau ada gebetan baru?"
Mary menggeleng sambil tertawa.
"Nggak ada siapa-siapa. Aku sekarang lagi fokus cari kerja dulu."
Mendengar itu, Zera dan Marsha langsung menoleh dengan perhatian penuh.
"Serius? Kamu lagi nyari kerja?" tanya Zera.
Mary mengangguk sambil menyeruput moktailnya.
"Iya, aku lagi cari posisi yang cocok buat aku. Mau mulai kerja di perusahaan yang bagus."
Zera tampak berpikir sejenak, lalu wajahnya berbinar.
"Eh, aku baru ingat! JM Corp lagi cari sekretaris CEO. Kayaknya cocok banget buat kamu, Mary."
Mary menoleh dengan antusias.
"JM Corp? Perusahaan besar itu?"
Zera mengangguk.
"Iya, perusahaan multinasional. Kak Farez kebetulan punya kenalan di sana. Mereka lagi butuh sekretaris CEO yang baru."
Mary meletakkan piringnya dan menatap Zera dengan penuh minat.
"Kamu serius? Bagaimana cara daftarnya?"
Zera segera merogoh ponselnya dan mulai mencari informasi.
"Sebentar, aku cari link pendaftarannya dulu."
Sementara itu, Marsha ikut menimpali.
"Wah, kalau Mary kerja di JM Corp, keren banget tuh. Gajinya pasti gede, kan?"
Zera tertawa.
"Ha-ha-ha. Ya jelas! Apalagi posisi sekretaris CEO, pasti banyak benefitnya."
Mary merasa semakin tertarik. Dia memang sedang mencari pekerjaan yang menawarkan tantangan baru. Bekerja di perusahaan besar seperti JM Corp tentu akan menjadi pengalaman yang luar biasa.
Tak lama, Zera menunjukkan layar ponselnya kepada Mary. "Nih, link-nya. Kamu bisa daftar online langsung."
Mary dengan cepat mengambil ponselnya dan mulai membuka tautan tersebut. Dia pun membaca persyaratan dan merasa yakin bahwa dirinya memenuhi kriteria.
"Kayaknya aku cocok untuk posisi ini," gumam Mary sambil mulai mengisi formulir online.
Zera dan Marsha memperhatikannya dengan penuh semangat.
"Tulis pengalaman kerja dan keterampilanmu yang paling menonjol, Mary," saran Marsha.
Mary mengangguk,
"Tenang, aku udah terbiasa bikin CV yang menarik."
Zera tersenyum puas.
"Bagus! Aku yakin kamu pasti dipanggil untuk interview."
Setelah beberapa menit, Mary akhirnya mengirimkan lamaran tersebut. Dia lalu menatap layar ponselnya dengan perasaan lega dan sedikit gugup.
"Done! Aku sudah kirim," katanya dengan napas lega.
Marsha menepuk bahunya. "Good luck, Mary! Siapa tahu minggu depan kamu sudah mulai kerja di sana."
Mary tertawa pelan.
"He-he-he. Amin! Doakan aku diterima, ya."
Zera mengangguk penuh keyakinan.
"Kamu pasti bisa, Mary. Aku yakin kamu adalah kandidat yang kuat."
Mereka bertiga kembali menikmati pizza sambil terus mengobrol santai. Malam itu terasa istimewa bagi Mary, bukan hanya karena kebersamaannya dengan sahabat-sahabatnya, tetapi juga karena langkah barunya menuju dunia kerja yang lebih menantang.