Tadinya aku bermaksud untuk langsung pulang, tetapi karena di perjalanan aku melihat ada kedai kopi yang terlihat aesthetic dari luar aku memutuskan untuk mampir sejenak kesana. Aku berharap secangkir kopi dapat sedikit membantuku melewati hari yang panjang ini dan beristirahat di tempat ini juga tampaknya bukan ide yang buruk. Aku memang butuh sedikit relaks dan mengistirahatkan diriku paling tidak untuk sesaat.
Aku menggosok pelipisku sambil menunggu pesananku datang dan karena aku sendirian sekarang mau tidak mau aku jadi merenungkan segalanya lagi dari awal. Kejadian sialan tadi mungkin tidak akan berbekas dan tidak akan membuatku trauma jika saja kemarin aku tidak menerima panggilan telepon dari Bu Yona. Saat itu aku sedang bebas tugas karena mantan bosku Belladona memutuskan mengambil waktu untuk hiatus dan berlibur ke luar negeri. Oleh sebab itu aku bebas tugas untuk sementara dan menganggur di rumah. Dia menawarkan padaku sebuah pekerjaan baru selama menunggu Belladona kembali dari waktu liburannya. Aku pribadi yang pada saat itu memang tidak punya kesibukan langsung setuju tanpa pikir panjang dan menandatangani kontrak tanpa mengajukan pertanyaan satu pun mengenai calon bos baruku yang bernama Pak Jeagerjaques ini. Di telepon kedua barulah aku menerima alamat tempat tinggalnya dan Bu Yona memintaku untuk menemuinya secara langsung agar dapat langsung bertemu muka dan membahas pekerjaan secara empat mata.
Saat aku sudah berdiri di depan pintu apartmentnya, saat itu pula aku tahu kalau aku sudah berada dalam masalah besar.
Jeagerjaques atau yang lebih dikenal dengan nama Jack ini adalah seorang penulis pria yang berkecimpung dalam genre romansa erotis dan namanya cukup terkenal di kota. Pria itu telah berhasil membuat 4 judul buku terlaris dan menyabet dua penghargaan untuk karya sastra hanya dalam kurun dua tahun setelah menjajaki karirnya sebagai seorang penulis. Karena kemunculannya menarik perhatian, pria itu langsung dianggap sebagai salah satu yang terbaik. Aku pribadi belum membaca langsung karyanya, tetapi setelah aku bekerja dengannya aku akan tahu. Tetapi dari riset kecil-kecilan yang aku lakukan Jack ini punya basis penggemar wanita yang luar biasa banyak mengingat genre bukunya sendiri adalah romantis yang tentu saja digandrungi oleh kaum hawa.
Tetapi seiring dengan ketenarannya, ada juga muncul kontroversi yang buruk soal pria itu. Dia dikenal dengan sikapnya yang buruk, dan punya mulut kotor seperti bukan seorang maestro dalam bidang sastra. Meskipun karyanya sendiri indah dan romantis, tetapi kepribadiannya lebih mirip dengan iblis. Oh, dan dari yang aku dengar pria itu juga memecat asisten sebelumnya tanpa alasan jelas. Kalau tidak salah yang terakhir adalah asistennya yang ke-49 dan itu berarti aku sekarang ini menjadi calon asistennya yang ke-50.
Itulah sebabnya Bu Yona memintaku untuk bekerja dengan Jack.
Sialan.
“Terima kasih sudah menunggu, ini pesananan Anda, Nona,” ujar suara manis si pelayan yang langsung menarik seluruh atensiku kembali ke masa kini.
Aku menatapnya pula dengan senyuman termanis yang aku punya saat dia meletakan secangkir kopi dan beberapa kudapan lain diatas meja. Setelahnya dia membungkuk dan pergi dari sana. Aku mengambil cangkir tersebut dan menyeruputnya pelan-pelan. Menghela napas penuh syukur saat cairan hangat itu menyebar ke dalam diriku seperti sentuhan sinar matahari dari dalam tubuhku. Aku merasa sedikit jauh lebih baik, dan rasanya cukup optimis untuk dapat melupakan mimpi buruk yang baru saja aku rasakan dan alami hari ini.
Aku kembali ke rumah pada sore hari. Tidak ada siapa pun di sana. Hal pertama yang aku lakukan adalah pergi ke kamar tidur dan memejamkan mataku erat-erat setelah melemparkan tas selempang ke sembarang arah. Aku hendak tertidur sampai sekali lagi aku mendengar telepon rumahku yang kali ini berdering.
Aku melihat ke meja samping dan merenggut sekali lagi, dengan suara malas aku meraihnya dan menjawabnya dengan suara mengantuk. “Ya, halo?”
“Chika! Aku tahu saat ini kau sedang dirumah!” suara Bu Yona lagi-lagi menyapu gendang telingaku.
“Ah, Bu Yona,” sahutku malas.
“Kau harus menuntaskan tanggung jawabmu. Kau kan sudah menyanggupinya.”
“Aku akan matikan kalau kau masih mau membahas soal si cabul itu. Aku tidak mau kembali ke rumah si Jack apalagi bekerja untuknya. Jawabanku jelas tidak,” kataku terus terang.
Aku bisa mendengar suara decakan lidah dari balik telepon tersebut. “Bagaimana kalua begini? Aku akan melipatgandakan gajimu jika kamu mau kembali bekerja untuknya.”
Kini aku mulai mendengarkan dan terus terang aku agak tertarik dengan penawarannya. Dua kali lipat? Entah bagaimana tapi yang jelas uang itu akan cukup untuk membuatku bisa hidup layak tanpa perlu bekerja di dua tempat sekaligus atau bahkan bisa pindah rumah dari kediaman ayahku.
“Tetap tidak,” kataku seolah tidak membutuhkan uangnya. Dalam kepalaku masih saja terlihat anjing berambut hitam yang lekat sekali dengan si Jack sialan sedang bercinta dengan si perempuan berambut pirang.
“Bagaimana kalau tiga kali lipat?” tanya Bu Yona lagi dan kini aku mulai merasakan bisikan dahsyat di kepalaku yang menggoda untuk menerima tawaran itu.
Tiga kali lipat?
Apa dia sedang bercanda?
“A—apa Bu Yona serius?” tanyaku dengan sedikit bersemangat. Mau bagaimana lagi, saat ini kita sedang bicara soal uang dan ayolah, aku dijanjikan tiga kali lipat dari gajiku, siapa manusia tolol yang tidak tergoda dengan itu.
“Ya, aku selalu serius,” kata Bu Yona dari balik telepon. “Bagaimana?”
Aku menggigit bibirku sendiri dan kini merenungi segalanya. Hal-hal semacam ini tidak akan datang dua kali. Kalau pun aku bertahan 1 bulan saja dengan si brengsek itu aku sudah bisa mendapatkan 3 bulan dari gajiku. Bukankah itu tidak terlalu buruk?
“Kenapa Bu Yona sangat bersikeras untuk memaksaku bekerja dengan orang itu?” tanyaku masih mencoba bersikap jual mahal.
“Karena aku yakin hanya kau yang bisa menanganinya. Selain itu aku juga tahu kalau kau sedang butuh uang untuk pindah dan hidup sendiri,” jawab wanita itu dengan nada yang penuh keyakinan. “Kau benar-benar ingin memulai hidup mandiri secara perdana bukan Chika?”
“Kau tahu kenapa aku tidak mampu keluar dari rumah ini!” potongku kesal.
“Aku tahu, itu sebabnya aku memberimu kesempatan satu kali dalam seumur hidup untuk mengubah hal itu. Kau hanya perlu bekerja untuknya dan memaksa dia untuk memenuhi tenggat waktunya. Lagipula, dia sendiri yang memintamu untuk menjadi patner kerjanya.”
Aku berkedip agak heran mendengar pernyataan terakhirnya. “Apa maksudnya dengan itu?”
“Dia menghubungiku sepuluh menit lalu setelah kau memutus telepon dariku secara sepihak dan dia ingin kau bekerja untuknya.”
“Kenapa binatang itu mau aku bekerja untuknya?”
“Aku tidak tahu, kenapa kau tidak pastikan sendiri saja untuk tahu alasan sebenarnya?” sahut Bu Yona yang menjawab dengan sedikit nada nakal disana.
Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan memikirkan ulang segalanya.
“Baiklah jika aku akan dibayar tiga kali lipat,” balasku. “Tapi aku melakukan ini karena uang dan bukan karena aku secara sukarela mau melakukannya. Jika bajingan itu melakukan sesuatu yang membuatku kesal aku akan menghajar dia.”
“Tentu lakukan apa pun yang kau mau. Dengan ini berarti kau sudah kupastikan mau bekerja untuknya ya, Chika. Semoga kau betah menjadi asisten penulis pria kita.”
“Ya semoga saja aku tahan menghadapi bedebah itu.”
Satu jam setelah perdebatan antara aku dan Bu Yona aku berakhir dengan berdiri di depan pintu si penulis mesum dengan penuh kegugupan dan rasa jengkel yang luar biasa. Jika saja harga diri bisa membantuku bertahan hidup aku pasti sudah memilih untuk menganggur dari pada bekerja dengan bajingan seperti si Jack ini, tetapi karena alasan keuangan aku terpaksa melakukannya karena demi Tuhan penawarannya sungguh menggoyahkan iman dan terlepas dari itu semua, ini adalah bagian dari pada pekerjaannya.
Aku menggenggam tanganku yang berkeringat seraya mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya memtuuskan menekan bel pintu. Aku harus menunggu beberapa detik sebelum akhirnya kenop pintu bergerak di depan mata. Dalam sekejap aku merasakan jantungku berdegup kencang ketika mendapati kehadiran sang iblis pengintai. Pintu terbuka dan sekali lagi aku harus dibuat terkejut lantaran di sana, di depanku, Jack dengan rambut basahnya dan bibirnya yang menyeringai dengan santainya membukakan pintu hanya dengan selembar handuk berwarna putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Shit!
“Selamat datang kembali, Nona,” sapa Jack dengan seringai ketika dia menatapku dengan tatapan mengerling nakal dan senyuman menggoda keimanan.
Aku menelan ludahku sendiri seraya menenangkan pikiranku. Aku tidak bisa hanya berdiri di sana, ternganga seperti orang bodoh dan mempermalukan diriku sendiri lagi seperti sebelumnya. “Selamat sore Pak,” kataku berusaha santai menyapa dengan santai meskipun jauh dilubuk hatiku aku sangat gugup.
Dia tersenyum lalu membuka pintu lebar. “Masuklah,” ucapnya seraya berbalik dan berjalan menuju ke ruang tamu.
Aku menarik napas dalam-dalam lagi, mengikuti pria itu masuk dan menutup pintu dibelakangku. Diam-diam aku melangkah masuk ke ruang tamu dan berdiri di pintu masuk saat aku melihat pria itu sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk sambil melihat ke luar jendela. Pemandangan ini sebenarnya cukup indah dan menggoda, hanya saja jika dipaksa mengingat adegan sebelumnya aku tidak lagi tertarik pada pria ini sebagai pria yang bisa aku pertimbangkan.
“Aku senang Yona berhasil menyeretmu kembali ke sini, karena tadi kita belum sempat berbincang panjang lebar,” kata pria itu sambil berbalik dan menghadapku. Dia benar-benar tampan dan menarik sehingga aku mendapati diriku tiba-tiba terengah-engah saat melihatnya. Kenapa dia bisa memberikan efek seperti ini kepadaku?
“Ya,” sahutku pendek untuk memberikan kesan bahwa aku mendengarkannya. Berusaha sebisa mungkin bersikap normal dan nyaman.
Seringai di bibirnya melebar dan kembali terpasanglah seringai sadis disana. Lalu, tidak hanya sekadar menatapku saja, dia seolah mencoba untuk menggodaku habis-habisan dengan penuh arti, seolah dia ingin aku menggeliat dibawah pandangan matanya yang terlampau tajam. Aku mengerutkan alisku tidak senang, bahkan memberikannya pelototan. “Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”
“Apakah aku terlihat seksi saat sedang membuka pintu?” tanya pria itu secara tiba-tiba yang tentu saja tidak relevan dengan pertanyaanku sama sekali.
Awalnya aku hanya bisa ternganga, dan berkedip. Pernyataan super sialan! Apakah dia merasa perlu menanyakan hal seperti itu kepadaku? apakah sepenting itu pendapatku dibandingkan urusan pekerjaan?
Aku mencoba menenangkan diriku agar tidak terlalu meledak-ledak, selama tiga menit terakhir aku bersama pria ini di ruangan ini, aku merasa bahwa ekspresi cemberut nyaris semi permanen di wajahku dan hal tersebut tampaknya cukup efektif untuk menyembunyikan kegugupan yang sedang aku rasakan. “Bapak benar-benar pria yang brengsek,” balasku sebal.
“Why? Thank you. Sekarang tolong jawab saja pertanyaannya,” sahut pria itu, seringai menyebalkan masih terpampang nyata diwajahnya.
Sungguh, aku tidak akan pernah merasa sedikitpun terintimidasi oleh pertanyaannya yang sama sekali tidak berguna. Jika saja matanya itu tidak terlalu mempesona aku pasti sudah mencoloknya dengan pena sekarang juga. Astaga, aku tidak bisa berkelit ketika aku menyadari seberapa besar pengaruh kedua mata pria itu terhadapku. Dia membuatku tidak nyaman, dan merasa … panas?
“Sekarang bisakah kita langsung bicarakan saja soal pekerjaan Pak? Saya kemari sebagai asistenmu dan saya harus memastikan naskahmu cukup bagus dan selesai dalam batas waktu yang telah kami berikan,” kataku yang mencoba mengalihkan pikiranku sendiri dan membawa pria itu langsung to the point terhadap topiknya. Senang rasanya bisa memberi tahu dia bahwa aku disini semata-mata untuk urusan bisnis.
Dia mengangkat alis, tatapannya kini tertuju padaku dan memberikanku sebuah definisi akan sarkasme lewat gesture tubuhnya. “Oh? Kupikir kau seharusnya memasak untukku, membersihkan rumah, dan menghiburku saat aku sedang bosan. Bukankah itu yang dinamakan dengan pekerjaan seorang asisten?”
Aku hanya menatapnya dengan rasa yang kompleks, rasa marah, dan juga terhina menjadi yang paling dominan dari seluruh gemuruh perasaan yang ada di dalam lubuk hatiku. Sekarang aku tahu kenapa ada banyak orang yang tidak betah bekerja dengannya, karena barangkali dia adalah sosok bajingan yang paling parah yang pernah hidup di dunia.
“Berarti yang kau butuhkan adalah seorang pembantu dan bukan aku. Kalau itu yang kau mau dariku, aku pergi dari sini!” sahutku seraya menghentak kaki dengan keras untuk memperlihatkan seberapa marahnya aku saat diremehkan. Aku jadi tidak peduli lagi kalau-kalau Bu Yona menggangguku soal si Jack sialan ini. Aku merasa masih bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain meskipun memang tidak sepadan dengan gaji yang bisa aku dapatkan dengan menjadi asisten pria gila ini. Aku bekerja sebagai asisten seorang penulis dan bukan untuk menjadi pembantu bagi mereka.
“Sialan!” aku bergumam seraya meraih kenop pintu, hendak membukanya ketika sebuah tangan besar tiba-tiba saja menahan pergerakan tubuhku dari belakang. Aku bisa merasakan kehadiran Jack yang memabukan dari belakang tubuhku. Aku memutar kepala untuk melotot kepadanya dan terkejut bukan kepalang ketika aku menyadari seberapa dekat wajahnya dengan wajahku. Ini terlalu dekat! Apa dia sudah gila dan otaknya tidak berfungsi dengan benar?
“Apa-apaan ini?!” sergahku emosi mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi hasilnya malah semakin sulit bagiku untuk keluar dari jeratannya.
Dia melingkarkan tangannya di pinggangku dengan cara yang sungguh posesif bahkan seolah tidak mendengar teriakanku dia malah menarik diriku untuk lebih mendekat padanya. Punggungku langsung membentur dadanya yang keras dan membuatku menggigil karena sesuatu yang sulit untuk dapat di jelaskan. Pria ini dan maskulinitasnya membuatku tidak berkutik. Dia sungguh berbahaya. Bahkan hanya dalam waktu yang terbilang singkat dan entah bagaimana mulanya, Jack kemudian mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat lagi denganku sehingga kami benar-benar merapat satu sama lain, saat itulah pikiranku tiba-tiba saja keluar dari kepala. Apalagi ketika aku menyadari tangannya yang semula berada di pinggangku secara lembut dan perlahan-lahan mulai menelusuri diriku dan kini tepat berada di selangkanganku. Dia …
Oh tidak! mati aku!