Aku pikir aku sudah mengalami banyak hal aneh di dalam hidup. Aku pikir aku sudah mengalami hal traumatis yang tidak akan pernah dialami oleh seorang asisten penulis mana pun. Aku pikir hidupku sudah buruk sejak bekerja bersamanya, tetapi aku salah.
Justru ada yang lebih ekstrim lagi.
Shit!
Aku hanya bisa berdiri di posisiku, dengan seluruh tubuh yang terasa kaku dan mati rasa. Kedua mata terbelalak, mulut ternganga dengan jantung yang berpacu keras ketika aku tanpa penghalang apa pun menyaksikan seluruh rangkaian adegan di depan mata. Di sana, di meja dapur yang polos tak bernyawa seorang pria tampan dengan rambut hitam sekelam malamnya bergerak secara erotis, dan terengah-engah. Pria itu sibuk meniduri seorang wanita seksi yang entah siapa, dan mereka berdua berpacu dalam kenikmatan tanpa sedikit pun menyadari adanya aku disana sebagai saksi atas perbuatan asusila yang mereka buat.
Mulanya aku pikir aku sedang bermimpi saat itu, aku sangat ingin mempercayai bahwa adegan yang terjadi di depanku saat itu hanyalah sebuah adegan bullshit yang biasanya ditampilkan dalam adegan film porno. Tetapi ternyata tidak. Sekeras apa pun aku menampar pipiku sendiri, ini terlalu nyata. Segalanya sangat nyata hingga aku menyadari itu adalah realita ketika …
“Ahhh! Sayang … kau sangat besar! Ahhh … aku keluar sayang! ahhh … Jack!”
Apa dia baru saja menyebut nama Jack?
Sekeras teriakan wanita itu, tubuhnya mengejang dan tampaknya dia benar-benar keluar. Disusul pula dengan pria tampan yang berada diatasnya. Mataku nyaris tidak berkedip dan malah fokus terhadap ekspresi yang pria itu buat. Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku yang kacau balau, aku terpesona. Laki-laki yang sedang mengalami nirwana terbaiknya itu memejamkan kedua mata dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh kepuasan dan juga kenikmatan yang selaras. Mulutnya terbuka sebagian dalam erangan tanpa suara dengan punggung yang melengkung tatkala butiran-butiran keringat mengucur dari keningnya, lehernya yang panjang dan tubuhnya yang ramping adalah maha karya luar biasa yang tidak pernah terbayangkan sama sekali untuk aku lihat. Ekspresi wajahnya begitu intens, penuh nafsu, dan menggoda sehingga aku merasa diriku semakin merasa tersakiti dan—
“Apa-apaan ini?!”
Dalam sekejap film porno yang terputar di depanku terhenti seketika. Laki-laki seksi berambut biru tua dan si wanita cantik itu segera memisahkan dirinya satu sama lain, saling menjauh dan menjatuhkan tatapannya kepadaku karena barangkali mereka terlalu kaget dengan keberadaanku yang sama sekali tidak diundang dalam acara mereka.
Shit! Aku tidak bermaksud berteriak seperti itu, aku bahkan tidak bermaksud untuk mengganggu kebersamaan mereka. Hanya saja melihat dia yang—ahh! Sudahlah, aku tidak tahu lagi apa yang aku rasakan sekarang.
Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri disana seperti orang idiot yang tersipu malu lantaran menangkap basah mereka berdua yang sedang bercinta. Aku hanya sanggup menatap mereka dengan ekspresi ngeri ketika keduanya menatap balik padaku dengan tatapan yang menegaskan bahwa mereka tampaknya sama sekali tidak menginginkan kehadiranku di ruangan tersebut.
“Oh, ya ampun dia terlihat manis,” kata si wanita berambut pirang yang bergerak tanpa rasa malu sedikit pun. “Jadi, dia kah asisten barumu itu?”
Si pria berambut biru hanya menyeringai. “Ya, kurasa memang dia.”
Holy motherfucker …
Aku mengutuk diriku sendiri begitu melihat seringai dari si pria tampan yang entah sejak kapan sudah mengenakan celananya.
“Pak Jeagerjaques?” tanyaku agak takut.
Sial tolong jangan bilang kalau dia—
“Jangan panggil aku dengan nama itu, panggil saja aku dengan nama Jack.”
Ah sial! aku baru saja memergoki bos baruku berhubungan seks dan yang paling mengerikan adalah aku terpana dan merasa basah padahal apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang tidak bermoral!
Bisa dibilang itu adalah waktu yang cukup panjang meski singkat. Aku berdiri disana bak orang bodoh apalagi memikirkan pria yang setengah telanjang disana akan menjadi bos baruku adalah hal yang harus aku terima saat ini juga. Tetapi kenapa harus aku? Kenapa aku yang dipilih Bu Yona untuk bekerja pada si dewa mesum ini?
Si wanita yang menjadi pasangan main bosku lantas tersenyum dengan cara yang menggoda, dia berbalik untuk menghadap ke arahku. Untungnya, meja tersebut berhasil menutupi bagian bawah tubuhnya walaupun bagian atasnya seolah memang dia sengaja pamerkan kepadaku seolah ingin beradu karena milikku tidak sebesar milik perempuan itu.
Shit.
Aku pikir aku akan muntah sekarang juga.
Aku segera menundukan kepala dan memusatkan pandanganku ke lantai. “Sebaiknya Anda berpakaian, Miss,” kataku setengah meminta maaf, entahlah seharusnya bukan aku yang merasa malu sekarang melainkan dia.
“Ha, jangan khawatir soal itu, aku tidak masalah bila tubuhku dipandangi siapa pun. Lagipula kita sama-sama perempuan,” katanya enteng.
“Sepertinya maksudmu kau berharap gadis itu menikmati tontonan gratis yang baru saja kita lalui,” sahut si monster berambut hitam itu dengan nada bicara yang menggoda. “Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa masuk ke dalam begitu saja, manis?”
“Aku menekan bel pintu tetapi karena pintunya sedikit terbuka dan mendengar suara-suara aneh jadinya aku tanpa sadar sudah masuk ke dalam,” jawabku jujur berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar gagap.
“Ah, kurasa kau lupa mengunci pintumu lagi,” sahut si wanita pada Jack.
“Salah siapa aku lupa hm? Jika saja kau tidak menghisap penisku ketika kita masuk ke dalam aku pasti ingat,” timpal bos baruku dengan enteng dan tak tahu malu padahal apa yang baru saja dia katakan langsung membuatku shock bukan kepalang. Jawaban yang dia ujarkan barusan hanya menambah rasa canggungku saja berada di tempat ini. Bagaimana bisa dia mengatakan hal semacam itu dengan begitu mudah? Dia bicara seolah itu seperti sebuah kalimat basa-basi macam apa kabar dan lain sebagainya dan bukan hal-hal yang menjurus pada obrolan seksual.
Si wanita berambut pirang hanya terkikik lalu bergerak dari posisinya. Dia melangkahkan kaki memberi aku dan si bos baruku itu ruang. “Aku mau mandi dulu!” katanya sebelum pergi.
“Langsung pergi setelah selesai,” sahut bos baruku sambil berteriak.
Jadi kini hanya ada kami berdua. Pria tampan setengah telanjang, dengan badan yang berkilat oleh keringat. Dia menatapku lekat-lekat seolah aku barang langka yang tidak ada di mana pun di dunia. Aku tahu bahwa dia sedang menatapku lantaran aku sempat meliriknya sekilas dan sialnya hal tersebut membuat jantungku berdebar kencang. Aku menggigil seolah aku adalah mangsa yang siap dia terkam kapan saja. Tapi mengapa efeknya harus sedahsyat ini sih?
Sial, ini sama sekali tidak bagus, baik untuk jantungnya maupun untuk hatinya.
“Hai,” sapanya.
Aku menelan ludah dengan penuh antisipasi. “Y-ya?”
“Kau bergairah ya?”
“Maaf?”
“Kurasa bagian dibawah sana sudah sangat lembab,”
Oh sial!
Aku berbalik dari sana secepat kilat, setengah berlari mencapai pintu masuk. Sungguh, aku sangat merasa terhina atas ini semua. Aku tidak sudi bekerja dengan orang seperti itu. Bajingan sombong yang seolah bisa menaklukan seribu wanita dibawah tangannya. Aku tahu, kalau yang tadi cukup mematik gairahku, tapi bukan seperti ini juga! aku tidak mau tertangkap basah dan ah! Semua ini menyebalkan.
Dengan wajah yang masih memerah, dan badan yang gemetar, aku keluar dari sana. Menulikan pendengaran dan juga bersikap seolah aku transparan. Aku tidak peduli pada apa yang akan Bu Yona katakan, yang jelas aku tidak mau bekerja dengan orang cabul itu sama sekali. Dengan napas yang bak dikejar binatang buas, tiba-tiba ponselku berbunyi. Sambil mengerang aku mengeluarkan benda itu dari tas tanganku dan dengan berat hati mengangkat panggilan tersebut. “Ya?”
“Hei, Chika. Apa kau sudah bertemu dengan Jack?” suara Bu Yona yang feminim tetapi serak langsung bergema melalui benda kecil itu.
“Ya, aku sudah bertemu dia,” jawabku kaku.
“Bagus, kau tahu aku lupa memperingatkanmu bahwa dia orang yang sedikit yah, kau tahu. Aku harap kau bisa sabar saja menghadapinya dan—”
“Aku tidak mau bekerja untuk dia, Bu Yona,” potongku cepat dan berusaha berterus terang agar tidak ada drama yang tidak perlu untuk hal ini.
“Ha? Kenapa? Apa yang terjadi? Apakah pertemuan pertama kalian tidak berjalan lancar?” sahut perempuan itu dibalik telepon.
“Ya, dan tidak hanya itu aku bahkan menyaksikan dia sedang bercinta dengan seorang perempuan di atas meja dapurnya,” jelasku tanpa merasa perlu menyembunyikan nama baik pria yang beberapa saat lalu nyaris akan menjadi bosku. Aku benar-benar merasa terhina dan marah jika mengingat kejadian itu. “Bisa Bu Yona bayangkan? Aku benar-benar tidak habis pikir bahwa akan menyaksikan hal mengerikan seperti itu seumur hidupku! Aku tidak peduli apapun lagi, pokoknya aku tidak mau bekerja untuknya. Persetan dia terkenal atau penulis nomor satu di dunia, aku tidak mau tahu!”
“Tenanglah Chika, kau tidak bisa berhenti begitu saja,”
“Aku bisa!”
“Dengar, hanya kau yang bisa bekerja dengannya saat ini, kau tidak bisa memutuskan untuk berhenti begitu saja saat kontrak sudah kau tanda tangani.” Bu Yona tampak terdengar panik sekarang.
“Sudah aku bilang aku tidak mau, aku lebih memilih bekerja untuk penulis lain, misal Belladona.”
“Dia sedang hiatus dan berada di luar negeri dan kau juga tahu itu.”
“Kalau begitu akum au menunggu dia saja.”
“Chika! Oh ayolah aku mohon.”
“Aku sudah memutuskannya, pokoknya aku tidak mau bekerja untuk Pak Jeagerjaques. Tidak terima kasih,” ujarku sambil menutup telepon genggamku dan mematikannya. Sebelum aku segera menarik pedal gas dan membawa mobil kesayanganku lari dari parkiran apartment tersebut menuju ke jalanan yang sibuk. Berkat hal ini aku merasa makin lelah dan stress.
Oh sungguh hari yang luar biasa.
Tadinya aku bermaksud untuk langsung pulang, tetapi karena di perjalanan aku melihat ada kedai kopi yang terlihat aesthetic dari luar aku memutuskan untuk mampir sejenak kesana. Aku berharap secangkir kopi dapat sedikit membantuku melewati hari yang panjang ini dan beristirahat di tempat ini juga tampaknya bukan ide yang buruk. Aku memang butuh sedikit relaks dan mengistirahatkan diriku paling tidak untuk sesaat.
Aku menggosok pelipisku sambil menunggu pesananku datang dan karena aku sendirian sekarang mau tidak mau aku jadi merenungkan segalanya lagi dari awal. Kejadian sialan tadi mungkin tidak akan berbekas dan tidak akan membuatku trauma jika saja kemarin aku tidak menerima panggilan telepon dari Bu Yona. Saat itu aku sedang bebas tugas karena mantan bosku Belladona memutuskan mengambil waktu untuk hiatus dan berlibur ke luar negeri. Oleh sebab itu aku bebas tugas untuk sementara dan menganggur di rumah. Dia menawarkan padaku sebuah pekerjaan baru selama menunggu Belladona kembali dari waktu liburannya. Aku pribadi yang pada saat itu memang tidak punya kesibukan langsung setuju tanpa pikir panjang dan menandatangani kontrak tanpa mengajukan pertanyaan satu pun mengenai calon bos baruku yang bernama Pak Jeagerjaques ini. Di telepon kedua barulah aku menerima alamat tempat tinggalnya dan Bu Yona memintaku untuk menemuinya secara langsung agar dapat langsung bertemu muka dan membahas pekerjaan secara empat mata.
Saat aku sudah berdiri di depan pintu apartmentnya, saat itu pula aku tahu kalau aku sudah berada dalam masalah besar.
Jeagerjaques atau yang lebih dikenal dengan nama Jack ini adalah seorang penulis pria yang berkecimpung dalam genre romansa erotis dan namanya cukup terkenal di kota. Pria itu telah berhasil membuat 4 judul buku terlaris dan menyabet dua penghargaan untuk karya sastra hanya dalam kurun dua tahun setelah menjajaki karirnya sebagai seorang penulis. Karena kemunculannya menarik perhatian, pria itu langsung dianggap sebagai salah satu yang terbaik. Aku pribadi belum membaca langsung karyanya, tetapi setelah aku bekerja dengannya aku akan tahu. Tetapi dari riset kecil-kecilan yang aku lakukan Jack ini punya basis penggemar wanita yang luar biasa banyak mengingat genre bukunya sendiri adalah romantis yang tentu saja digandrungi oleh kaum hawa.
Tetapi seiring dengan ketenarannya, ada juga muncul kontroversi yang buruk soal pria itu. Dia dikenal dengan sikapnya yang buruk, dan punya mulut kotor seperti bukan seorang maestro dalam bidang sastra. Meskipun karyanya sendiri indah dan romantis, tetapi kepribadiannya lebih mirip dengan iblis. Oh, dan dari yang aku dengar pria itu juga memecat asisten sebelumnya tanpa alasan jelas. Kalau tidak salah yang terakhir adalah asistennya yang ke-49 dan itu berarti aku sekarang ini menjadi calon asistennya yang ke-50.
Itulah sebabnya Bu Yona memintaku untuk bekerja dengan Jack.
Sialan.
“Terima kasih sudah menunggu, ini pesananan Anda, Nona,” ujar suara manis si pelayan yang langsung menarik seluruh atensiku kembali ke masa kini.
Aku menatapnya pula dengan senyuman termanis yang aku punya saat dia meletakan secangkir kopi dan beberapa kudapan lain diatas meja. Setelahnya dia membungkuk dan pergi dari sana. Aku mengambil cangkir tersebut dan menyeruputnya pelan-pelan. Menghela napas penuh syukur saat cairan hangat itu menyebar ke dalam diriku seperti sentuhan sinar matahari dari dalam tubuhku. Aku merasa sedikit jauh lebih baik, dan rasanya cukup optimis untuk dapat melupakan mimpi buruk yang baru saja aku rasakan dan alami hari ini.
Aku kembali ke rumah pada sore hari. Tidak ada siapa pun di sana. Hal pertama yang aku lakukan adalah pergi ke kamar tidur dan memejamkan mataku erat-erat setelah melemparkan tas selempang ke sembarang arah. Aku hendak tertidur sampai sekali lagi aku mendengar telepon rumahku yang kali ini berdering.
Aku melihat ke meja samping dan merenggut sekali lagi, dengan suara malas aku meraihnya dan menjawabnya dengan suara mengantuk. “Ya, halo?”
“Chika! Aku tahu saat ini kau sedang dirumah!” suara Bu Yona lagi-lagi menyapu gendang telingaku.
“Ah, Bu Yona,” sahutku malas.
“Kau harus menuntaskan tanggung jawabmu. Kau kan sudah menyanggupinya.”
“Aku akan matikan kalau kau masih mau membahas soal si cabul itu. Aku tidak mau kembali ke rumah si Jack apalagi bekerja untuknya. Jawabanku jelas tidak,” kataku terus terang.
Aku bisa mendengar suara decakan lidah dari balik telepon tersebut. “Bagaimana kalua begini? Aku akan melipatgandakan gajimu jika kamu mau kembali bekerja untuknya.”
Kini aku mulai mendengarkan dan terus terang aku agak tertarik dengan penawarannya. Dua kali lipat? Entah bagaimana tapi yang jelas uang itu akan cukup untuk membuatku bisa hidup layak tanpa perlu bekerja di dua tempat sekaligus atau bahkan bisa pindah rumah dari kediaman ayahku.
“Tetap tidak,” kataku seolah tidak membutuhkan uangnya. Dalam kepalaku masih saja terlihat anjing berambut hitam yang lekat sekali dengan si Jack sialan sedang bercinta dengan si perempuan berambut pirang.
“Bagaimana kalau tiga kali lipat?” tanya Bu Yona lagi dan kini aku mulai merasakan bisikan dahsyat di kepalaku yang menggoda untuk menerima tawaran itu.
Tiga kali lipat?
Apa dia sedang bercanda?
“A—apa Bu Yona serius?” tanyaku dengan sedikit bersemangat. Mau bagaimana lagi, saat ini kita sedang bicara soal uang dan ayolah, aku dijanjikan tiga kali lipat dari gajiku, siapa manusia tolol yang tidak tergoda dengan itu.
“Ya, aku selalu serius,” kata Bu Yona dari balik telepon. “Bagaimana?”
Aku menggigit bibirku sendiri dan kini merenungi segalanya. Hal-hal semacam ini tidak akan datang dua kali. Kalau pun aku bertahan 1 bulan saja dengan si brengsek itu aku sudah bisa mendapatkan 3 bulan dari gajiku. Bukankah itu tidak terlalu buruk?
“Kenapa Bu Yona sangat bersikeras untuk memaksaku bekerja dengan orang itu?” tanyaku masih mencoba bersikap jual mahal.
“Karena aku yakin hanya kau yang bisa menanganinya. Selain itu aku juga tahu kalau kau sedang butuh uang untuk pindah dan hidup sendiri,” jawab wanita itu dengan nada yang penuh keyakinan. “Kau benar-benar ingin memulai hidup mandiri secara perdana bukan Chika?”
“Kau tahu kenapa aku tidak mampu keluar dari rumah ini!” potongku kesal.
“Aku tahu, itu sebabnya aku memberimu kesempatan satu kali dalam seumur hidup untuk mengubah hal itu. Kau hanya perlu bekerja untuknya dan memaksa dia untuk memenuhi tenggat waktunya. Lagipula, dia sendiri yang memintamu untuk menjadi patner kerjanya.”
Aku berkedip agak heran mendengar pernyataan terakhirnya. “Apa maksudnya dengan itu?”
“Dia menghubungiku sepuluh menit lalu setelah kau memutus telepon dariku secara sepihak dan dia ingin kau bekerja untuknya.”
“Kenapa binatang itu mau aku bekerja untuknya?”
“Aku tidak tahu, kenapa kau tidak pastikan sendiri saja untuk tahu alasan sebenarnya?” sahut Bu Yona yang menjawab dengan sedikit nada nakal disana.
Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan memikirkan ulang segalanya.
“Baiklah jika aku akan dibayar tiga kali lipat,” balasku. “Tapi aku melakukan ini karena uang dan bukan karena aku secara sukarela mau melakukannya. Jika bajingan itu melakukan sesuatu yang membuatku kesal aku akan menghajar dia.”
“Tentu lakukan apa pun yang kau mau. Dengan ini berarti kau sudah kupastikan mau bekerja untuknya ya, Chika. Semoga kau betah menjadi asisten penulis pria kita.”
“Ya semoga saja aku tahan menghadapi bedebah itu.”
Satu jam setelah perdebatan antara aku dan Bu Yona aku berakhir dengan berdiri di depan pintu si penulis mesum dengan penuh kegugupan dan rasa jengkel yang luar biasa. Jika saja harga diri bisa membantuku bertahan hidup aku pasti sudah memilih untuk menganggur dari pada bekerja dengan bajingan seperti si Jack ini, tetapi karena alasan keuangan aku terpaksa melakukannya karena demi Tuhan penawarannya sungguh menggoyahkan iman dan terlepas dari itu semua, ini adalah bagian dari pada pekerjaannya.
Aku menggenggam tanganku yang berkeringat seraya mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya memtuuskan menekan bel pintu. Aku harus menunggu beberapa detik sebelum akhirnya kenop pintu bergerak di depan mata. Dalam sekejap aku merasakan jantungku berdegup kencang ketika mendapati kehadiran sang iblis pengintai. Pintu terbuka dan sekali lagi aku harus dibuat terkejut lantaran di sana, di depanku, Jack dengan rambut basahnya dan bibirnya yang menyeringai dengan santainya membukakan pintu hanya dengan selembar handuk berwarna putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Shit!
“Selamat datang kembali, Nona,” sapa Jack dengan seringai ketika dia menatapku dengan tatapan mengerling nakal dan senyuman menggoda keimanan.
Aku menelan ludahku sendiri seraya menenangkan pikiranku. Aku tidak bisa hanya berdiri di sana, ternganga seperti orang bodoh dan mempermalukan diriku sendiri lagi seperti sebelumnya. “Selamat sore Pak,” kataku berusaha santai menyapa dengan santai meskipun jauh dilubuk hatiku aku sangat gugup.
Dia tersenyum lalu membuka pintu lebar. “Masuklah,” ucapnya seraya berbalik dan berjalan menuju ke ruang tamu.
Aku menarik napas dalam-dalam lagi, mengikuti pria itu masuk dan menutup pintu dibelakangku. Diam-diam aku melangkah masuk ke ruang tamu dan berdiri di pintu masuk saat aku melihat pria itu sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk sambil melihat ke luar jendela. Pemandangan ini sebenarnya cukup indah dan menggoda, hanya saja jika dipaksa mengingat adegan sebelumnya aku tidak lagi tertarik pada pria ini sebagai pria yang bisa aku pertimbangkan.
“Aku senang Yona berhasil menyeretmu kembali ke sini, karena tadi kita belum sempat berbincang panjang lebar,” kata pria itu sambil berbalik dan menghadapku. Dia benar-benar tampan dan menarik sehingga aku mendapati diriku tiba-tiba terengah-engah saat melihatnya. Kenapa dia bisa memberikan efek seperti ini kepadaku?
“Ya,” sahutku pendek untuk memberikan kesan bahwa aku mendengarkannya. Berusaha sebisa mungkin bersikap normal dan nyaman.
Seringai di bibirnya melebar dan kembali terpasanglah seringai sadis disana. Lalu, tidak hanya sekadar menatapku saja, dia seolah mencoba untuk menggodaku habis-habisan dengan penuh arti, seolah dia ingin aku menggeliat dibawah pandangan matanya yang terlampau tajam. Aku mengerutkan alisku tidak senang, bahkan memberikannya pelototan. “Kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”
“Apakah aku terlihat seksi saat sedang membuka pintu?” tanya pria itu secara tiba-tiba yang tentu saja tidak relevan dengan pertanyaanku sama sekali.
Awalnya aku hanya bisa ternganga, dan berkedip. Pernyataan super sialan! Apakah dia merasa perlu menanyakan hal seperti itu kepadaku? apakah sepenting itu pendapatku dibandingkan urusan pekerjaan?
Aku mencoba menenangkan diriku agar tidak terlalu meledak-ledak, selama tiga menit terakhir aku bersama pria ini di ruangan ini, aku merasa bahwa ekspresi cemberut nyaris semi permanen di wajahku dan hal tersebut tampaknya cukup efektif untuk menyembunyikan kegugupan yang sedang aku rasakan. “Bapak benar-benar pria yang brengsek,” balasku sebal.
“Why? Thank you. Sekarang tolong jawab saja pertanyaannya,” sahut pria itu, seringai menyebalkan masih terpampang nyata diwajahnya.
Sungguh, aku tidak akan pernah merasa sedikitpun terintimidasi oleh pertanyaannya yang sama sekali tidak berguna. Jika saja matanya itu tidak terlalu mempesona aku pasti sudah mencoloknya dengan pena sekarang juga. Astaga, aku tidak bisa berkelit ketika aku menyadari seberapa besar pengaruh kedua mata pria itu terhadapku. Dia membuatku tidak nyaman, dan merasa … panas?
“Sekarang bisakah kita langsung bicarakan saja soal pekerjaan Pak? Saya kemari sebagai asistenmu dan saya harus memastikan naskahmu cukup bagus dan selesai dalam batas waktu yang telah kami berikan,” kataku yang mencoba mengalihkan pikiranku sendiri dan membawa pria itu langsung to the point terhadap topiknya. Senang rasanya bisa memberi tahu dia bahwa aku disini semata-mata untuk urusan bisnis.
Dia mengangkat alis, tatapannya kini tertuju padaku dan memberikanku sebuah definisi akan sarkasme lewat gesture tubuhnya. “Oh? Kupikir kau seharusnya memasak untukku, membersihkan rumah, dan menghiburku saat aku sedang bosan. Bukankah itu yang dinamakan dengan pekerjaan seorang asisten?”
Aku hanya menatapnya dengan rasa yang kompleks, rasa marah, dan juga terhina menjadi yang paling dominan dari seluruh gemuruh perasaan yang ada di dalam lubuk hatiku. Sekarang aku tahu kenapa ada banyak orang yang tidak betah bekerja dengannya, karena barangkali dia adalah sosok bajingan yang paling parah yang pernah hidup di dunia.
“Berarti yang kau butuhkan adalah seorang pembantu dan bukan aku. Kalau itu yang kau mau dariku, aku pergi dari sini!” sahutku seraya menghentak kaki dengan keras untuk memperlihatkan seberapa marahnya aku saat diremehkan. Aku jadi tidak peduli lagi kalau-kalau Bu Yona menggangguku soal si Jack sialan ini. Aku merasa masih bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain meskipun memang tidak sepadan dengan gaji yang bisa aku dapatkan dengan menjadi asisten pria gila ini. Aku bekerja sebagai asisten seorang penulis dan bukan untuk menjadi pembantu bagi mereka.
“Sialan!” aku bergumam seraya meraih kenop pintu, hendak membukanya ketika sebuah tangan besar tiba-tiba saja menahan pergerakan tubuhku dari belakang. Aku bisa merasakan kehadiran Jack yang memabukan dari belakang tubuhku. Aku memutar kepala untuk melotot kepadanya dan terkejut bukan kepalang ketika aku menyadari seberapa dekat wajahnya dengan wajahku. Ini terlalu dekat! Apa dia sudah gila dan otaknya tidak berfungsi dengan benar?
“Apa-apaan ini?!” sergahku emosi mencoba untuk melepaskan diri. Tetapi hasilnya malah semakin sulit bagiku untuk keluar dari jeratannya.
Dia melingkarkan tangannya di pinggangku dengan cara yang sungguh posesif bahkan seolah tidak mendengar teriakanku dia malah menarik diriku untuk lebih mendekat padanya. Punggungku langsung membentur dadanya yang keras dan membuatku menggigil karena sesuatu yang sulit untuk dapat di jelaskan. Pria ini dan maskulinitasnya membuatku tidak berkutik. Dia sungguh berbahaya. Bahkan hanya dalam waktu yang terbilang singkat dan entah bagaimana mulanya, Jack kemudian mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat lagi denganku sehingga kami benar-benar merapat satu sama lain, saat itulah pikiranku tiba-tiba saja keluar dari kepala. Apalagi ketika aku menyadari tangannya yang semula berada di pinggangku secara lembut dan perlahan-lahan mulai menelusuri diriku dan kini tepat berada di selangkanganku. Dia …
Oh tidak! mati aku!