Melihat tak ada lagi keraguan di wajah nona muda, Nick bangkit. Dengan hati-hati kedua tangannya meraih tubuh Shopia dan membawanya ke kamar.
Langkah kaki panjang Nick memasuki kamar Shopia yang begitu indah. Kamar besar itu sudah didekorasi sedemikian rupa sehingga menyerupai kamar pengantin.
Sebenarnya, Shopia menyiapkan semua itu untuk kekasihnya sebagai kejutan ulang tahun. Akan tetapi sangat disayang semuanya berantakan. Rencana yang begitu indah mulanya, malah menjadi nestapa dalam yang tak diinginkan.
Hati-hati Nick meletakan tubuh molek Shopia di atas ranjang penuh kelopak mawar merah. Aroma terapi yang memenuhi ruangan semakin mendukung suasana semakin romantis.
“Nona, persiapkan dirimu. Sebab, aku tidak akan mundur lagi,” ucap Nick dengan suara mendalam yang tertahan.
“Aku akan memberikan pengalam pertama yang menakjubkan untuk Nona,” sambungnya seraya memangkas jarak hingga Shopia bisa merasakan hembusan napas pria itu. Hangat menerpa kulit wajah.
“Aku baru tahu ternyata kamu banyak berbicara ketika ingin berciinta. Apa itu termasuk ritual,” balas Shopia berusaha tenang. Padahal, jantungnya sudah ingin meledak.
Tatapan Nick semakin tajam dan menuntut. Ibu jarinya membelai lembut bibir ranum Shopia.
“Pasti rasanya sangat manis.” Nick tersenyum kecil. “Sebuah penghargaan bisa menyentuh bibir indah tukang perintah ini.” Senyuman kecil berubah menjadi kekehan. Wajahnya terlihat begitu tampan ketika tertawa.
‘Sial kenapa Nick bisa setampan itu? atau aku yang bodoh tak menyadari ketampannya selama ini,’ batin Shopia memperhatikan wajah berkharisma bodyguard-nya.
Padahal dia sendiri yang memilih Nick karena pandai berkelahi dan tampan tentunya. Mungkin saking seringnya bertemu, jadi lupa kalau pria itu tampan.
“Apa ada yang salah dengan wajahku, Nona?” tanya Nick.
“Tidak.” Dahi Shopia berkerut, bingung.
“Lalu, kenapa Nona menatap wajahku terus?”
“Kamu … tanpan.” Shopia berbicara sangat pelan.
“Nona bicara apa?” Bohong kalau Nick tidak mendengar apa yang Shopia katakan. Jarak mereka sangat dekat, hanya saja Nick ingin memastikan apa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
“Kamu tampan saat tertawa,” ulang Shopia memperjelas suaranya.
“Nona juga sangat cantik.” Nick langsung meraih tengkuk Shopia dan menyambar bibir wanita itu. Mulai bergerak perlahan mengekspos bibir sang nona. Menyesap dan menghisap tanpa ragu dengan mata terpejam.
“Emm.” Shopia melenguh pelan menikmati sesapan Nick yang lembut. Semakin terasa nikmat, ketika bibir pria itu kering sekarang masuk dan menari-nari di dalam rongga mulut.
Bukan hanya lidah yang beraksi. Tangan Nick pun sudah bertengger di salah satu dada sintal Shopia. Jemari-jemari panjang itu meremas bongkahan kenyal dengan lembut. Tak berani meremas lebih kuat lagi, teringat luka-luka yang baru saja dionatinya.
Beruntung bagian puncak payudara itu tak terluka. Warna merah mudanya yang sempat Nick intip sekilas, membuatnya gemas. Tanpa permisi jemari menyelinap ke dalam lingerie. Memainkan puncak dada sambil membayangkan bentuknya tadi.
Ibu jari dan telunjuk mengapit bulatan merah muda yang perlahan mengetat. Dengan gerakan tak beraturan Nick memilin dan memutar-mutar puncak dada Shopia.
“Emm…” lenguhan Shopia tertahan ciuman yang kian memanas. Debaran jantung entah sudah seperti apa cepatnya. Memompa aliran darah dengan cepat hingga sekujur tubuh Shopia terasa panas. Bagian bahasanya pun sampai berkedut dan terasa lembab.
Nick melepaskan ciumannya, menatap wajah Shopia yang memerah akibat sentuhan nikmat yang ia berikan.
“Nick… Ah… ge-li,” desah Shopia membuat Nick semakin bersemangat.
Pria berperawakan tinggi kekar itu kembali beraksi. Mengecup dan menjilati leher dan bahu wanita di bawahnya.
“Nick… Ah….” Belaian memutar pada puncak dada, kecupan serta gigitan kecil di leher semakin menimbulkan rasa asing yang begitu membahagiakan. Seumur hidupnya, Shopia belum pernah merasakan rasa aneh dan asing itu.
“Aku takut menyentuh luka Nona. Katakan jika aku menyakiti, Nona,” pinta Nick.
Shopia mengangguk lemah. Luka yang semula linu dan sakit tiba-tiba tidak ada apa-apanya dibanding rasa nikmat yang bodyguard-nya ini berikan.
“Oh….” Tubuh Shopia melenting ketika puncak dadanya yang mengetat di hisap dengan lembut. Tanpa sadar jemari lentik Shopia menjambak rambut tebal Nick.
Sambil memperhatikan wajah Shopia yang terlihat sangat menikmati perlakuannya, Nick terus menjilati dan mengulum bulatan kecil berwarna merah muda itu.
Sementara bulatan kecil lainnya tidak ia biarkan, terus ia pilin-pilin hingga si pemiliknya merasa semakin menggila. Ia melakukannya bergantian berulang kali.
Perlahan jemari Nick turun, membelai lembut lembah surgawi yang masih tersekat kain tipis berwarna merah.
“Nick… Ah… itu… nik-mat.. ah…,” racau mulut cerewet itu. Nick tersenyum sesaat ternyata kecerewetan nonanya tak hilang meski dalam keadaan seperti ini.
“Uh… Nick….” Shopia merasa jemari Nick semakin tegas dibalik panty tipis.
“Nona bisa memainkan payudara nona sendiri jika ingin lebih nikmat lagi,” kata Nick seraya menuntut jemari Shopia menyentuh kedua bongkahan itu.
“Diputar-putar, Nona.”
Shopia menuruti perkataan lelaki di atasnya begitu saja. Lupa jika lelaki itu adalah bodyguardnya. Yang ia tatap kini adalah pria gagah yang begitu tampan.
“Bagus Nona seperti itu.” Nick kembali menyerang bibir Shopia. Jemarinya dengan cepat menarik turun kain tipis berbentuk segitiga hingga sebatas setengah paha.
“Ah!” pekik Shopia ketika jemari tengah Nick menerobos celah tersegelnya.
“Sakit? Apa aku menyentuh luka Nona?” tanya Nick sebelum menggerakan jemarinya.
Shopia menggeleng. Nick merasa tenang.
“Buka yang lebar Nona. Agar aku tidak menyetuh luka Nona yang berada dekat pangkal paha.”
“Tidak bisa ada panty-ku.” Wanita itu masih saja manja.
Terpaksa Nick mengeluarkan jemarinya lagi. Melepaskan kain tipis dengan perlahan sambil memperhatikan celah berwarna merah muda yang terlihat menggemaskan.
“Milik Anda sangat cantik, Nona,” puji Nick sambil membuka lebar kedua kaki Shopia.
Wajah Shopia sudah seperti kepiting rebus. Ia sangat malu miliknya dilihat secara terang-terangan.
Sementara Nick ingin sekali merasai celah cantik seperti buah peach itu. Namun, belum saatnya. Ia kembali pada posisinya, menindih tubuh sintal Shopia. Jari tengah kembali menerobos lembah surgawi sang wanita.
“Oh….” Lenguhan panjang berbarengan dengan jemari besar itu memasuki Shopia.
“Mainkan lagi payudara Anda, Nona.” Nick melahap lagi bibir ranum mungil dan penuh nonannya.
“Emm… mmp.” Desahan Shopia tertahan ciuman ganas Nick. Ia hampir gila mendapat serangan di setiap titik-tik sensitifnya.
Atas, tengah dan bawah semuanya membuat Shopia merasa melayang di udara.
“Ah… Nick… Oh… nik-mat.. Ahhh.” Ciuman mereka sudah terlepas. Nick ingin melihat wajah cantik sang nona yang sedang terbalut kabut gairah.
“Anda menyukainya, Nona?”
“Nikmat, Nick. Ohhh.”
Nick semakin mempercepat kocokannya. Pilinan di puncak payudara pun semakin kencang dan cepat.
“Nick ci-um a-ku,” pinta Shopia terbata-bata.
“Apa Anda ingin keluar, Nona?”
Menggeleng tak mengerti. “Aku tidak tahu. Tapi rasanya ada yang mendesak. Aku mau pipis.”
Nick sangat paham dengan kondisi Shopia yang akan mencapai pelepasan pertamanya. Segera, ia menuruti ke inginkan Shopia seraya mempercepat gerakan maju mundur pada milik Shopia.
Selang beberapa menit bibir bertaut, ciuman pun terlepas. Shopia mengerang dan mendesah, berusaha mengeluarkan sesuatu yang mendesak dirinya.
“Oh Nick. Ah! ah lebih cepat!” Suara itu memenuhi kamar bernuasa romantis.
Kini jemari Nick bukan hanya satu memenuhi lembah hangat Shopia. Ia memasukan dua jari dan mengocoknya sangat cepat. Berusaha melambungkan si pemilik lembah hingga ke nirwana.
“Oh! ah! Nick, nikmat,” desahan Shopia kian cepat. Jemari wanita itu tak lagi berada di payudaranya sendiri. Ia mencengkram punggung kekar Nick sebagai pelampiasan.
“Nick… Oh….” Tumpah sudah lahar hangat dari rahim seorang Floretta Shopia Copper. Cairan bening itu mengalir, membasahi dua jemari besar hingga mengalir ke pergelangan tangan.
Nick bisa merasakan dua jemarinya seolah terhisap ketika lembah nonanya berkedut. Pasti rasanya akan luar biasa jika miliknya yang merasai kedutan itu. Nick menjadi tidak sabar.
“Ini baru permulaan Nona. Aku akan memberikan lebih setelah ini,” seringai bodyguard tampan itu sambil menyeka peluh sang nona.
TBC.
Sambil terus membelai wajah dan menyingkirkan anak rambut yang menjulur di wajah sang wanita. Nick memberi ruang untuk nonanya mengatur napas.
Wanita di bawah Nick tersenyum-senyum sambil memejamkan mata merasakan kebahagiaan yang luar biasa.Sungguh pengalaman pertama yang Nick berikan begitu nikmat.
“Bagaimana apa Nona menyukainya?” tanya Nick masih pada posisi awal.
Perlahan Shopia membuka mata, kepalanya mengangguk sambil menatap Nick tanpa penyesalan.
“Luar biasa,” jawab wanita itu tak malu-malu.
“Ini baru seperempat dari rasa aslinya,” bisik Nick membuat Shopia semakin penasaran.
“Bisa lebih nikmat dari ini?” Shopia bertanya dengan takjub, matanya membesar seperti anak kecil ditawarkan mainan, terlihat sangat antusias.
Nick mengangguk, “tentu, tapi untuk wanita seperti Nona yang belum pernah berciinta sama sekali, akan ada rasa nyeri yang cukup mengganggu. Tapi hanya sementara ketika di awal saja. Lalu setelah milik Nona sudah dapat beradaptasi denganku, rasa nyerinya perlahan menghilang dan akan tergantikan dengan kenikmatan yang dahsyat.” Milik Nick berdenyut membayangkan ia di dalam milik nonanya yang cantik dan berwarna peach itu.
“Aku mau itu.”
“Apapun yang Nona minta aku akan berusaha memenuhinya.” Nick kembali memagut mulut cerewet sang nona. Siapa sangka wanita dua puluh tiga tahun yang ia jaga lebih dari setahun itu memberikan kesuciannya pada dirinya sebagai penghargaan.
Shopia melepaskan diri dari sesapan bodyguard-nya. “Apa kamu sering melakukan ini?” tanya Shopia penasaran. Sebab Nick terlihat sangat mahir dan berpengalaman.
“Hanya pernah dengan beberapa wanita saja Nona. Itupun sudah lebih dari setahun tak pernah menyentuh wanita lagi. Mungkin nanti sensasinya akan sama seperti pertama kali. Apalagi melakukannya bersama Nona pasti lebih indah dari pengalaman pertama.” Jawaban Nick membuat si pelempar pertanyaan melambung.
Shopia gugup, bola matanya menatap ke segala arah. Salah tingkah seperti remaja baru jatuh cinta.
Ingin rasanya mencumbu wajah menggemas itu lagi, tetapi Nick tak langsung melakukannya. Pria itu bangkit dari atas tubuh Shopia. Berdiri di samping ranjang yang kelopak bunganya sudah berantakan hingga berserakan di lantai.
Dari tempat Nick berdiri ia dapat dengan jelas memperhatikan tubuh nonanya yang nyaris telanjang. Lingerie tipis yang beberapa bagian telah sobek. Semakin diperparah karena perbuatannya tadi, menyibak lingerie itu di bagian dada hingga bongkahan besar menantang itu menyembul dengan bebas. Dan, kain tipis berbentuk segitigapun sudah ia lepas dan lempar entah kemana.
Sambil terus menikmati pemandangan luar biasa itu, Nick perlahan melucuti pakaiannya. Kancing-kancing di kemeja safarinya satu demi satu ia lepas kaitannya.
“Buka kaki Nona lebih lebar lagi,” pinta Nick yang langsung di turuti Shopia.
Sejujurnya Shopia sangat malu. Namun, entah mengapa menjadi penurut jika Nick yang meminta. Lagi pula Shopia sangat percaya dengan bodyguardnya. Yakin jika Nick yang jarang berbicara dan selalu menjaganya, tidak akan mengungkap pose memalukannya saat ini.
Celah surgawi terpampang nyata di depan mata Nick. Kepala pria itu sampai tak sadar menengleng takjub memperhatikan bentuk indah milik Shopia. Sambil terus melepas kancing-kancing di kemejanya. Nick mengagumi celah sempit itu.
“Kamu terlihat menyukainya,” kata Shopia dengan canggung, wajahnya kembali memerah seperti udang rebus.
“Sangat Nona, terlihat segar dan nikmat. Pasti Anda merawatnya dengan baik. Seperti buah peach segar.” Saat menjawab Nick tak berpaling dari milik Shopia.
Kemeja Nick terlepas, menampakan tubuh kekar penuh otot. Mata Shopia lekat memperhatikan. Padahal ini bukan kali pertama melihat Nick tak menggunakan pakaian. Biasanya tak terlalu menarik.
Namun, lain halnya dengan saat ini. Shopia merasa jika tubuh Nick lebih indah dari biasanya. Undakan otot yang mengkilap karena keringat terlihat begitu seksi.
“Aku baru menyadari ternyata tubuh kamu sangat seksi. Otot-otot di tubuhmu sangat pas dan tak berlebihan,” sanjung Shopia membuat Nick tersenyum.
Memang seperti itulah sifat Shopia, polos dan ceplas-ceplos. Wanita itu tak ragu-ragu dalam memuji.
Ting! Kepala gesper beradu dengan lantai granit apartemen Shopia. Manic mata Shopia memperhatikan jemari Nick yang menarik turun resleting celana safari berwarna navy.
Kain itu turun dari kaki panjang Nick. Tergeletak di bawah mata kaki. Menampakan kaki berotot dan berbulu.
“Mau dilepas sekarang atau nanti saja Nona?” tanya Nick sambil memegang karet pada celana dalamnya. Pria itu memang jarang menggunakan boker. Jika bekerja lebih sering hanya mengenakan celana dalam dan langsung celana kerja. Ia mengenakan boxer ketika tidur saja. Kadang itupun lupa.
Shopia tak segera menjawab, ia memperhatilan kain terakhir di bagian tubuh Nick dengan lekat. Shopia dapat melihat jelas, sesuatu yang besar memeta di kain kecil yang warnanya hampir menyerupai kulit Nick.
“Celana dalammu kekecilan. Memangnya nyaman memakai pakaian dalam sekecil itu?” Shopia malah bertanya membuat Nick terkekeh.
“Ini sangat pas dan nyaman dalam kondisi normal Nona. Anda yang membuat ini terasa sempit hingga milikku terbangun.”
“Kalau sempit lepaskan saja,” kata Shopia langsung di turuti Nick.
Shopia terperangah melihat pusat tubuh Nick yang sangat besar. Benda seperti tongkat itu terlihat sangat besar dan kekar. Ia sampai salah tingkah sendiri karena ini kali pertama melihat pusaka seorang pria secara langsung.
Nick kembali menaiki ranjang, berdiri menggunakan lututnya menghadap sang nona.
“Bagaimana milikku, Nona?”
“Emm, besar sekali.” Sial bisa-bisa Shopia segugup ini oleh bodyguardnya sendiri.
“Milikku memang lebih besar dari milik pria pada umumnya,” beri tahu Nick dengan bangga.
“Emm … mengagumkan,” jujur Shopia membuat Nick semakin bangga.
“Katakan itu setelah nona merasakannya.” Nick merayap, tubuhnya kembali mengungkuh tubuh molek Shopia dari atas.
“Kamu membuat aku salah tingkah. Jantung rasanya ingin meledak,” jujur Shopia, manja.
“Sama, Nona membuat jantungku berdetak sangat cepat. Berarti kita seri, Nona.” Nick kembali melumat bibir Shopia dengan agresif.
Perlahan Nick menjatuhkan tubuhnya, hingga kulit bertemu dengan kain lingerie yang entah sudah seperti apa bentuknya.
Nick menggesekan pusakanya di celah sempit yang akan menjadi sarung pedangnya itu.
“Emm,” lenguh Shopia yang merasakan geli di daerah intinya yang mulai berkedut hebat. Gesekan pelan itu menimbulkan percikan gairah yang meningkatkan libidonya. Partikel-partikel kecil dalam darahnya membawa arus listrik kepala.
Puas melumat bibir Shopia, Nick bangkit ia semakin menekan pedangnya dan terus menggesek.
“Ohhhh Nick.” Tubuh Shopia melengkung kembali merasakan ribuan nikmat pada dirinya.
Dada Shopia terangkat, Nick meraih puncak merah muda dada itu dengan jari-jarinya. Kembali memainkan dan menyentil-nyentil dengan lembut.
“Nick… ahhh Sstttt ohhhh emm.” Shopia menggigit bibirnya mencoba melampiaskan sesuatu yang menggulung dirinya.
Nick terus mengasah pedangnya sambil terus menikmati wajah cantik nonanya yang terselimuti gairah. Pria itu merasa Shopia jauh lebih cantik ketika sedang bergairah.
“Bibir Nona akan terluka kalau digigit seperti itu. Lepaskan saja suara Nona. Aku menyukainya, terdengar sangat indah.” Nick coba melepaskan bibir Shopia yang digigit sendiri cukup kuat.
“Ahhh emmm nik-mat sekali… ohhh Nick.” Shopia kembali menggigit bibirnya. Nick tarik lagi hingga terlepas. Dimasuknya ibu jari ke dalam mulut Shopia.
“Gigit ini jika Nona butuh pelampiasan.”
Shopia tak kuasa mengigit tangan yang selalu melindunginya itu. Ia masih ingat betul, tangan kekar itu pernah patah karena melindunginya. Jadilah, ia memilih menjilati dan menghisap tangan berotot itu.
Nick sedikit terkejut dengan dengan sikap nonanya. Hati menjadi senang melihat Shopia yang seakan tergila-gila padanya. Ia jadi lebigh bersemangat lagi, mengasah miliknya di bagian luar lembah surgawi Shopia.
Setelah beberapa menit bergerak, Nick menjauh. Ia kembali menyerang dada Shopia dengan hisapan dan gigitan-gigitan lembut.
Tak lama ia berada di dada Shopia, kecupannya menuruni perut dan lembah surgawi yang akan menjinakan miliknya segera.
“Nick lalukan sekarang,” pinta Shopia memelas. Ia sudah sangat tersiksa dengan hasrat liarnya sendiri.
“Belum, Nona. Masih ada yang ingin aku lakukan.” Nick menatap sejenak lembah bersih itu, ia yakin nonanya telah membersihkan dari bulu-bulu halus sebelumnya. Ya, meski pada awalnya diperuntukan untuk orang lain. Namun, pada akhirnya ia yang menikmati buah peach itu.
Lidah Nick menjulur cukup panjang, membelai inti Shopia dengan gerakan pelan dari bawah ke atas.
“Ahhh Nick ssttttt.” Lindah hangat Nick menimbulkan sensasi tersendiri pada tubuh Shopia. Wanita itu menggelinjang merasakan ombak kenikmatan yang ditimbulkan dari sentuhan-sentuhan sang bodyguard.
Nick mengulum daging kecil pada lembah Shopia setelah beberapa kali membelah lembah itu dengan lidahnya. Shopia semakin blingsatan dengan perbuatan Nick.
“NIck….” Jemari Shopia tenggelam pada rambut Nick yang lebat. Menjambak lembut sebagai pelampiasan.
Semakin lama, Nick semakin liar membuai inti tubuh nonanya. Maju-mundur menarik daging kecil dan menjilati seluruh bagian.
“Emm di situ iya… ohhh enak Nick….” Shopia paling suka ketika Nick menggigit-gigit.
Nick semakin lahap mencumbuii buah peach segar yang belum tersentuh siapapun. Dirinya lah pria pertama yang menikmati buah surga itu.
Suara kecapan dan sruputan berlomba dengan suara desahan di ruangan. Nick layaknya anjing kelaparan yang baru saja menemukan daging santapan.
“Ah!” pekik Shopia ketika lidah panjang Nick menusuk celah sempitnya.
Lidah itu merangsek masuk, menusuk dan mendorong-dorong sedalam mungkin.
“Ohhh Nick… emmm terus ahhh lebih cepat,” pinta Shopia yang merasakan dirinya telah terdesak. Sesatu dalam dirinya akan kembali meledak untuk kedua kalinya.
Nick terus memaju-mundurkan wajahnya, membuat lidah panjang dan lancipnya keluah masuk di liang kenikmatan Shopia. Semakin cepat dan terus semakin cepat.
“Ohh ah ah ah Nick emm Nick.” Racauan itu kian cepat seiringin kocokan lidah Nick yang keluar masuk.
Dicabut, tusuk, cabut, tusuk, gigit, cabut, tusuk lagi terus berulang sampai si pemilik lembah surga hampir gila. Partikel dalam tubuhnya memercik hingga bulu-kuduk merinding.
“Nick ohhhh.” Cairan kenikmatan kembali memuncrat dari liang sempit nona muda.
Shopia bisa mendengar suara sruputan cukup keras di bawah sana. Ternyata Nick tengah melahap cairan kenikmatannya dengan rakus.
“Benar-benar segar, Nona,” kata Nick setelah puas menghabisi cairan bening dari lembah itu. Jemarinya tengah menyusut sisa-sisa cairan di sudut bibir. Jemari yang digunakan untuk menyeka dimasukkannya kembali ke dalam mulut. Lalu, menarik keluar jarinya dari mulut sambil tersenyum lebar menatap Shopia.
Jiwa Shopia melambung di buatnya melihat hal itu. Kebahagiaan melihat ekpresi Nick sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Nick berbaring di samping Shopia. “Belum selesai Nona. Ini baru setengahnya,” bisik Nick lembut.
Shopia beringsut, tubuhnya dimiringkan menghadap Nick. “Kenapa semuanya terasa nikmat?”
“Maksudnya. Nona?”
“Jari, mulut juga milikmu itu semua sangat nikmat,” aku Shopia tanpa malu-malu.
“Aku berusaha memenuhi permintaan Nona mendapatkan pengalam pertama yang menakjubkan. Jadi aku melakukan yang terbaik secara bertahap.”
“Tapi ini jauh dari yang aku bayangkan. Sangat nikmat dari apa yang aku pikirkan.” Telunjuk Shopia bermain di dada liat Nick. Membentuk pola abstrak.
“Aku Senang Anda tak kecewa.”
“Aku sangat puas.”
Nick tersenyum melihat kepolosan nonanya. “Syukurlah kalau Nona puas. Lebih baik Nona beristirahat. Nona terlihat sangat kelelahan.”
Shopia menggeleng tak setuju. “Tidak! kamu yang bilang ini masih setengahnya.”
“Kita masih banyak waktu untuk melakuknnya Nona. Tubuh Nona yang kelelahan dan penuh luka itu sangat membutuhkan istirahat.”
Shopia menghela napas berat. “Kapan kita lanjutkan lagi?” tanya wanita itu dengan bibir mengerucut.
“Setelah luka-luka Nona sembuh.”
“Sampai kapan?”
“Beberapa hari, mungkin 4-5 hari.”
“Itu lama sekali, Nick,” protes Shopia.
“Kalau Nona sabar semua itu akan terbayar. Aku janji.”
Menghela napas kasar, “janji?”
Nick mengangguk sabar, bibirnya tersenyum dengan lembut. “Saat itu tiba, Nona harus dalam kondisi prima. Bersamaku memerlukan banyak energi.”
“Ck, kamu tidak malah membuatku tidak sabar.”
-tbc-