Bab 1

Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!

Suara klakson panjang itu seperti alarm kiamat. Gendang telingaku terasa seperti digetok palu godam, memaksa otakku-yang sedang melayang entah ke mana-kembali menjejak realitas. Panik, aku menoleh ke belakang. Barisan kendaraan berderet seperti parade semut, tapi yang ini penuh kemarahan. Raungan klakson mereka menyuarakan satu pesan yang sama: "Gerak, woy!"

Dan sialnya, biang keroknya adalah aku. Atau lebih tepatnya, motor sport hitam mengilap 150cc-ku, yang berdiri gagah tak bergerak di barisan paling depan lampu merah. Lampu hijau sudah lama menyala, tapi aku malah ngelamun. Dengan terburu-buru, aku memutar gas, melesat seperti pembalap kelas dunia yang telat briefing.

Rasa malu? Ada, jelas. Tapi rasa bersalah lebih besar. Orang-orang di belakang pasti sudah mendampratku dalam hati, bahkan mungkin ada yang mendoakan ban motorku kempes.

"Maaf, maaf!" gumamku pelan, tentu saja mereka tak mungkin mendengar.

Namaku Firhan Ardana, 24 tahun, calon anak magang di sebuah perusahaan ternama di kota ini. Kata "calon" itu penting, karena aku masih dalam masa percobaan tiga bulan. Kalau masa percobaan ini gagal, tamat sudah riwayatku. Bayangkan, harus balik lagi ke kampung dengan status pengangguran. Malu setengah mati.

Soal penampilan, aku cowok standar Indonesia: tinggi 170 cm, berat badan normal. Kalau tampang? Itu relatif. Ada yang bilang mukaku ganteng, ada yang bilang manis, dan ada juga yang bilang sangar. Entah kenapa, aku curiga mereka yang bilang "sangar" itu ngincer rokokku waktu SMA. Tapi intinya, aku bukan levelnya artis sinetron, apalagi Brad Pitt.

Hari ini, aku sedang dalam perjalanan menuju acara reuni SMP. Lokasinya di gedung mewah di pusat kota. Sebenarnya, reuni ini acara tahunan. Tapi baru kali ini aku punya cukup keberanian untuk datang. Mungkin karena sekarang aku sudah jadi Firhan yang berbeda. Dulu, di masa SMP, aku anak cupu yang sering nggak dianggap. Untungnya, zamanku belum ada istilah "cyberbullying," jadi paling parah aku cuma dijutekin di kantin.

Reuni ini, bagiku, adalah seperti gladi resik hidup baru di kota ini. Setelah bertahun-tahun jadi anak rantau karena ikut ibuku pindah, akhirnya aku kembali. Kota ini tempat semua kenangan masa kecil tersimpan, termasuk... dia.

"Aku merindukanmu..." gumamku lirih, kata-kata itu seperti tercecer dari sudut hatiku yang penuh debu.

Aku melirik jam tangan. Telat 30 menit. Gawat. Acara ini memang bukan wisuda, tapi siapa sih yang mau masuk gedung sambil diliatin semua orang? Tarikan gas motorku semakin dalam, melesat membelah lautan kendaraan yang entah kenapa terasa lebih ganas hari ini.

Dari jauh, seorang pengendara ojek online tiba-tiba menyalip dengan kecepatan rudal, membuatku refleks mengerem. "Bangke!" Hampir saja aku cium trotoar.

Zakarta-atau apa pun nama kota ini-memang masuk daftar lima besar kota termacet di dunia. Dunia, bro! Bayangkan hidup di tempat di mana setiap hari kamu harus berjibaku dengan kendaraan seperti ini. Ditambah jalan berlubang dan lampu lalu lintas yang kayaknya cuma pajangan. Lucunya, tiap tahun kita bayar pajak kendaraan, tapi hasilnya? Nihil. Kadang, aku membayangkan ada semacam "monster aspal" yang setiap malam memakan jalan-jalan kita.

Gedung itu, mercusuar nostalgia yang menjulang ke angkasa, sudah memanggil-manggil dari kejauhan. Tinggal satu sandungan bernama lampu merah lagi, dan gerbang dimensi waktu yang membawaku kembali ke masa lalu itu akan terbuka lebar. Tapi tunggu... ada yang aneh.

Di tiang lampu merah itu, bukan lagi angka digital membosankan yang menghitung mundur. Melainkan sebuah layar digital raksasa yang seakan mencuri perhatian semua pengendara. Di sana, sebuah lingkaran hijau berdenyut, seperti jantung alien yang sekarat, perlahan-lahan mengempis. Setiap detaknya menggerogoti ukuran lingkaran itu, dan di tengahnya, angka-angka sisa waktu berkedip-kedip. Inovasi Dinas Perhubungan, katanya. Biar pengendara nggak cuma bengong, tapi ikut merasakan sensasi bom waktu menjelang lampu merah menyala. Sebuah ide brilian, kalau saja jantungku tidak ikut berpacu lebih cepat dari biasanya.

04

Melihat pertunjukan lampu hijau yang tinggal beberapa kedipan lagi, insting pembalap jalanan dalam diriku berteriak. Empat detik? Cukup! Pedal gas kutekan lebih dalam, mengirimkan getaran kecil ke seluruh tubuh. Aroma knalpot motorku bercampur dengan aroma kopi dari warung di pinggir jalan. Semoga dewi fortuna masih berpihak padaku untuk menerobos lampu kuning yang sebentar lagi pasti muncul bagai wasit yang meniup peluit panjang.

03

Semakin dekat ke gedung tempat reuni, semakin ramai pula para 'penumpang gelap' di kepala ini. Wajah-wajah masa lalu berkelebat, beberapa samar, beberapa masih jelas terukir. Bagaimana ya rupa mereka sekarang? Apakah si Budi masih setia dengan rambut gondrongnya? Apa kabar si Ani yang dulu selalu membawa buku tebal ke mana-mana? Mampukah aku mengingat semua nama yang pernah menghiasi buku tahunan sekolah? Yang lebih menakutkan, apakah mereka masih mengingat si 'aku' yang dulu? Bisakah aku menyatu kembali dengan gerombolan masa lalu itu? Mungkinkah mereka menerima 'aku' yang sekarang? Atau jangan-jangan malah aku jadi seperti alien yang salah mendarat di pesta mereka? Argh... mending aku putar balik saja deh. Urusan adaptasi memang bukan keahlianku sejak lahir. Rasanya seperti mencoba berbahasa klingon di tengah konser dangdut. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak potensi awkward moment.

02

"Huuuuussshhh...!" Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir kawanan pikiran negatif yang sudah siap berpesta di otakku. "Ini cuma reuni, Bambang! Bukan audisi pencarian jodoh!" Aku mencoba mengaktifkan mode 'bodo amat' level dewa. Apapun yang terjadi setelah lampu merah ini, kuterima dengan lapang dada... atau setidaknya, mencoba terlihat lapang dada. Seperti pasrah saat kalah main batu-gunting-kertas melawan bocah lima tahun.

01

Hari ini reuni dengan teman-teman sepermainan yang kini wajahnya mungkin sudah banyak bermain kerutan. Besok, tantangan baru menanti: beradaptasi dengan spesies baru di tempat magang. Dua hari berturut-turut ini akan menjadi debutku di panggung kehidupan yang baru. Semoga saja sutradaranya tidak iseng memberiku peran figuran tanpa dialog. Semoga saja semua skenario berjalan sesuai harapan. Semoga saja...

00

Lingkaran hijau itu benar-benar habis tak bersisa, seperti kuota internet di akhir bulan. Layar digital itu berganti kostum, dari hijau cerah menjadi oranye menyala, sebuah peringatan terakhir yang diabaikan oleh sebagian besar pengendara di negeri ini. Detik berikutnya, warna merah membara mendominasi layar, sebuah titah tak tertulis yang memaksa semua roda berhenti berputar. Waktu seolah melambat, seperti adegan slow motion dalam film action, saat sang jagoan berhasil menjinakkan bom di detik-detik terakhir. Atau seperti saat pelari maraton melihat garis finish yang tinggal beberapa langkah lagi. Semuanya terasa dramatis.

Tapi, namanya juga hidup, seringkali lebih mirip sinetron azab daripada film superhero. Kenyataan seringkali punya selera humor yang kejam. Kulihat posisi motorku masih beberapa meter dari garis putih sakral sebelum lampu merah. Bukan di zona aman seperti yang kubayangkan.

"Kampret..." Umpatan lirih lolos dari bibirku. Nasi sudah jadi bubur ayam... dan aku sudah lapar. Tanggung! Dengan mental preman pasar yang ogah rugi, aku semakin memelintir gas. Menerobos lampu merah yang baru saja berubah warna. Sebuah keputusan brilian, Gassss!

Di saat yang bersamaan, entah dari mana datangnya, sebuah motor matic meluncur dari arah kanan dengan kecepatan penuh, layaknya roket nyasar yang lupa tujuan. Pengendara motor itu, seorang bapak-bapak dengan jaket ojek online, terlihat kaget bukan main. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot seperti melihat hantu mantan. Dan akhirnya...

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!

Bab 2

Debu jalanan masih terasa menempel di jaketku. Napas sedikit tersengal, bukan karena lari, tapi lebih karena jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. "Fiuhhh..." Aku menghela napas lega, akhirnya sampai juga. Di depan mata berdiri sebuah gedung megah, tempat acara reuni SMP angkatanku diadakan. Nyaris saja tadi di perempatan aku jadi korban serempetan motor. Sedikit lagi, mungkin aku sudah gagal nostalgila.

Aku lihat bayanganku di kaca spion motor. Rambut sedikit berantakan disapu angin, langsung kurapikan dengan jari. Semprotan parfum andalan kulayangkan ke badan, berusaha menutupi aroma asap knalpot dan debu jalanan yang mungkin masih menempel. Penting ini, kesan pertama bertemu teman lama.

Melewati gerbang masuk, gedung ini memang cukup besar. Mata langsung menyapu sekeliling. Di sisi kanan dan kiri berjejer meja bundar dengan kursi-kursi yang sudah diduduki beberapa peserta reuni. Di dekat dinding, meja panjang penuh dengan hidangan prasmanan, mengingatkanku pada acara pernikahan. Di ujung ruangan, panggung dengan set alat musik lengkap menjadi pusat perhatian. Seorang DJ cowok tampak asyik di belakang turntable, alunan musiknya menggema di seluruh penjuru ruangan melalui speaker yang tersebar. Lumayan juga seleranya, pikirku.

Sepertinya aku memang telat. Suara riuh rendah obrolan dan tawa mengindikasikan acara sudah berlangsung cukup lama. Aku yakin ini sesi terakhir, sesi ramah tamah. Tidak masalah, yang penting bisa bertemu teman-teman lama.

Tiba-tiba, ada sensasi aneh menyergap. Seperti ada mata yang mengawasiku. Bukan rasa takut, lebih ke insting. Insting manusia yang entah bagaimana bisa merasakan sorot mata orang lain, mirip adegan di film-film thriller itu. Aku menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari sumber tatapan misterius itu.

Kupandangi satu per satu wajah para peserta reuni. Ada yang khusyuk menikmati hidangan, ada yang bergerombol sambil bercengkrama dengan gelas minuman di tangan, sesekali pecah tawa bersama. Di tengah pengamatan, mataku menangkap sosok yang familiar. Aksan. Dia sedang berjalan menuju meja makanan. Tanpa sadar, kakiku melangkah mengikutinya.

Aksan. Teman seperjuanganku melewati masa-masa SMP yang penuh warna, atau mungkin lebih tepatnya, penuh ke-cupu-an. Asal kalian tahu, hampir 80% masa SMP-ku kuhabiskan di sekolah hanya berdua dengannya. Dulu, kami berdua bagaikan magnet dengan kutub yang berlawanan, selalu bersama sejak hari pertama masuk sekolah hingga akhirnya lulus. Istirahat berdua, ke perpustakaan berdua, bukan karena kami anti sosial, tapi lebih karena lingkungan yang seolah mengotak-kotakkan kami. Setiap berpapasan dengan anak-anak lain, tatapan aneh seolah sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan saat pelajaran olahraga, aku dan Aksan hanya bisa duduk di pinggir lapangan, menyaksikan teman-teman cowok lain bermain bola dengan lincah. Dulu, kami dicap sebagai duo cupu yang ke mana-mana selalu berdua.

Dan siapa lagi yang bersusah payah menghubungiku, membujukku untuk datang ke acara reuni ini, kalau bukan Aksan?

"Woi, San!" sapaku, berusaha menetralkan kegugupan yang tiba-tiba menyerang.

Aksan tersentak, reflek menoleh ke belakang. Matanya menyipit, meneliti penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cukup lama dia terdiam, seolah ada memori yang sedang diproses di otaknya.

"Firhan?" Akhirnya, nama itu terlontar dari bibirnya, terdengar ragu tapi penuh keheranan.

Aku hanya tersenyum lebar sebagai jawaban. Detik berikutnya, Aksan sudah menggenggam kedua lenganku erat.

"Ini beneran Firhan? Ya ampun, sudah lama sekali!" serunya, kemudian menarikku ke dalam pelukan hangat. Pelukan persahabatan yang kurindukan.

"Yap, sudah lebih dari 10 tahun. Bagaimana kabarmu?" tanyaku, setelah pelukannya mengendur.

"Ya, begini-begini saja keadaanku, tetap seperti yang dulu," jawabnya sambil tertawa kecil. "Kamu yang berubah drastis. Bahkan sekarang kau lebih tinggi dariku! Hahaha. Oh iya, mana kacamatamu?"

"Ah, bisa saja kamu, San," balasku sambil terkekeh. "Aku sudah tidak pakai kacamata lagi."

Obrolan kami mengalir deras, menembus batas waktu yang telah berlalu. Mulai dari cerita masa SMA, pengalaman kuliah yang berbeda, pekerjaan yang kini kami geluti, hingga tempat tinggal masing-masing. Aku membiarkan Aksan menikmati makanannya yang sudah diambil, sementara aku melangkah menuju meja minuman. Tenggorokanku terasa kering setelah perjalanan tadi.

"Oh, sial..." batinku. Meja minuman ternyata ada di seberang ruangan. Mau tidak mau, aku harus melewati gerombolan teman-teman lain yang sedang asyik bercengkrama. Rasanya seperti memasuki sarang lebah.

Kulewati satu per satu kelompok kecil itu. Saat mata mereka bertemu denganku, aku hanya melemparkan senyum tipis. Tatapan itu lagi. Tatapan penuh tanya, seolah bertanya-tanya siapa gerangan orang asing yang melintas di hadapan mereka. Beberapa wajah tampak familiar, tapi sayangnya, nama mereka menguap begitu saja dari ingatanku.

Otakku hanya mampu merekam nama-nama yang dulu populer di sekolah, yang dikagumi banyak orang karena paras menawan. Seperti wanita yang berdiri beberapa langkah di depanku ini.

Puspita Damayanti. Nama itu terlintas begitu saja di benakku.

Dia juga sedang mengambil minuman. Kuperhatikan dari samping. Meskipun kini berhijab, wajah imut dan cantiknya tidak banyak berubah. Masih sama seperti yang kuingat. Tanpa sadar, aku cukup lama memperhatikannya.

Dulu, saat SMP, Puspita adalah salah satu siswi yang diam-diam kukagumi. Selain cantik, dia juga sangat ramah pada semua orang. Keramahannya membuat banyak siswa terpesona, termasuk aku. Kuingat jelas, dulu setiap kali dia memergokiku sedang mencuri pandang, dia akan membalasnya dengan senyuman manis. Senyuman yang bisa membuat jantung berdebar kencang dan lutut lemas. Saking gugupnya, pernah sekali aku salah tingkah dan menabrak tembok kelas. Tentu saja, kejadian itu mengundang tawa seisi kelas. Senyuman itulah yang pertama kali membuatku merasakan jatuh cinta, meskipun hanya cinta monyet ala anak SMP.

"Firhan?"

Lamunanku tentang kenangan masa lalu buyar seketika saat suara lembut itu menyapa. "Oh, sial. Aku melamun lagi," gerutuku dalam hati. Aku tidak salah dengar, kan? Dia barusan memanggil namaku. Di saat hampir semua orang di sini tidak mengenaliku, bahkan sahabat karibku, Aksan pun nyaris tidak mengenaliku, kenapa Puspita bisa mengenaliku?

"I... iya," jawabku gugup, berusaha menyembunyikan keterkejutan.

"Hai... Apa kabar?" sapa Puspita lagi, sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Seketika, aku menyambut uluran tangannya. Sentuhan yang terasa familiar sekaligus asing.

"Eh, iya, baik. Kalau kamu bagaimana?" balasku, berusaha terdengar normal.

"Alhamdulillah, baik," jawab Puspita dengan senyum ramahnya. "Tumben kamu datang? Biasanya tidak pernah kelihatan di acara reuni atau kegiatan lain." Nada bicaranya terdengar penasaran.

Apa? Apakah Puspita setiap ada acara kumpul-kumpul selalu mencariku? Tidak mungkin, ini pasti hanya perasaanku saja.

"Iya, semenjak lulus SMP, keluargaku pindah ke kota sebelah. Jadi, tidak pernah bisa datang di setiap acara," jelasku.

"Oh, jadi begitu..." Puspita mengangguk-angguk mengerti.

"Kamu... masih ingat aku?" Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja. Aku benar-benar tidak bisa menahannya.

Fuckkk, pertanyaan macam apa itu? pikirku dalam hati. Rasanya bodoh sekali menanyakan hal itu. Tentu saja dia ingat, kami sekelas selama tiga tahun SMP. Namun, kegugupan dan kerinduan yang tiba-tiba memuncak membuatku kehilangan kendali atas kata-kataku.

"Aku selalu ingat tatapanmu kepadaku Firhan pada waktu dulu, persis yang kamu lakukan tadi," kemudian dia tersenyum, lebih lebar dari sebelumnya.

(speechless). Kata-kata seperti tersangkut di tenggorokanku. Pipiku terasa panas. Apakah dia menyadari tatapanku yang dulu selalu mencuri-curi pandang ke arahnya? Rasanya malu sekaligus sedikit senang.

Senyuman itu lagi, masih sama seperti yang dulu. Senyuman manis dari bibir tipisnya yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar kencang. Aku tidak menyangka kalau dia masih mengingatku, apalagi detail kecil seperti tatapanku. Aku yang dulu cupu, dengan kacamata tebal dan gaya berpakaian yang kurang modis, masih diingat oleh Puspita. Bahkan saat sekarang aku sudah berubah, mencoba tampil lebih percaya diri dan jauh dari kesan anak culun. Puspita memang juara di hatiku, entah sejak kapan gelar itu disandangnya.

"Pit..." sebuah suara memanggil dari arah belakang kami.

Seseorang menghampiri kami dan memanggil Puspita. Ternyata yang datang adalah Meilani, dulu waktu SMP dia adalah teman dekat Puspita. Tak kusangka sampai sekarang sepertinya mereka tetap dekat. Biasanya persahabatan sesama cewek tidak bertahan lama. Meilani adalah wanita yang menarik. Tinggi badannya tidak lebih tinggi dari Puspita, namun posturnya lebih berisi. Malam ini, ia mengenakan blus ungu yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan bawahan celana jeans ketat. Rambutnya yang panjang dan lurus terurai indah di punggungnya.

"Ditungguin dari tadi katanya mau ambil minuman, eh ternyata di sini lagi ngobrol dengan .... eh dia siapa?" Meilani bertanya, sambil berbisik ke Puspita. Matanya menelisik penampilanku dari atas sampai bawah, seolah mencari tanda-tanda familiar.

"Ini si Firhan. Inget gak?" Puspita menjawab, mencoba mengingatkan Meilani.

"Firhan? Firhan..Firhan.." Meilani melirik ke atas, khas orang yang sedang menelusuri ingatan masa lalu. Dahinya sedikit berkerut, mencoba memastikan.

"Ohhhh, Firhan yang dulu CUPU itu yah?" Meilani berkata dengan sangat keras dan lantang, tepat saat pergantian lagu. Reflek saja, semua orang di ruangan itu menoleh ke arah asal suara. Beberapa pasang mata melihat ke arah kami dengan rasa ingin tahu.

Bab 3

Melihat temannya bicara tanpa filter, Puspita spontan membekap mulut Meilani dengan tangannya. "Ihh mulutmu Lin, selalu deh!" kata Puspita sambil melepaskan bekapan tangannya. Suara tawa kecil keluar dari bibir Puspita, sedangkan Meilani hanya terkikik di balik telapak tangan Puspita.

"Aku..iya, gpp kok," jawabku sambil tersenyum kecut. Meskipun berusaha bersikap santai, ada sedikit rasa malu yang menyelinap. Ucapan Meilani memang blak-blakan, namun entah mengapa tidak terasa menyakitkan. Mungkin karena aku sendiri menyadari perubahan penampilanku yang drastis.

"Gila, kamu kelihatan beda sekali sekarang, tinggi, berisi, dan..." Meilani melanjutkan, sebelum tiba-tiba terpotong oleh suara lain yang memanggil.

"Meilaniiiii, Puspitaaaa..." suara itu terdengar. Sontak kami bertiga menoleh ke arah asal suara. Ternyata yang memanggil adalah Azaliya, panggilannya Lia.

Wajah oriental Lia dengan mata yang sedikit sipit dan hidung mancung terlihat menawan dalam balutan mini dress berwarna merah menyala. Rambutnya yang lurus sangat panjang berwarna hitam legam, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Bisa kurasakan aroma parfumnya yang kuat namun tidak menyengat. Sore itu, Lia tampak seperti magnet, menarik perhatian banyak orang.

"Liaaaaa..." Meilani dan Puspita berpelukan bergantian dengan Lia. Wajah mereka tampak bahagia, seperti menemukan kawan lama yang sangat dirindukan.

"Katanya nggak bisa datang?" Meilani bertanya, penasaran.

"Aku izin ke atasanku nggak ikut ketemu klien demi bisa datang ke sini," Lia menjawab dengan senyum menawan.

"Oh ya? Bosmu gak marah?" Meilani bertanya lagi, tertawa kecil.

"Udah deh biarin aja, kalau dia marah, tinggal disenyumin aja dia pasti lunak," Lia berkata sambil tertawa renyah, diikuti tawa Meilani. Puspita hanya tersenyum tipis, terlihat lebih pendiam di antara kedua temannya yang lebih ekspresif. Tampaknya, yang paling akrab dengan Lia adalah Meilani.

"Btw, ini siapa?" Lia bertanya, sambil menunjuk ke arahku dengan jari lentiknya.

"Ini si Firhan, dulu satu kelas sama aku dan Puspita," Meilani menjawab tanpa ragu.

"Kok aku gak pernah lihat dia yah di sekolah?" Lia bertanya dengan nada heran.

"Dia dulu gak seperti ini, aku aja yang sekelas, pangling ketemu dia," Meilani menjelaskan.

Dasar wanita, enteng banget ya ngomongin orang di depan orangnya, pikirku sambil tersenyum simpul. Memang dulu Lia tidak sekelas denganku. Sedangkan Puspita dan Meilani mengenal Lia karena mereka adalah anggota OSIS, bahkan Lia di tahun ajaran kedua menjadi ketua OSIS. Popularitas Lia di sekolah memang tak tertandingi.

Tak lama setelah mengobrol berbagai macam hal, kami berempat berpencar untuk berbaur dengan teman-teman yang lain. Sebelum berpisah, kami sempat saling bertukar nomor telepon dan berjanji akan bertemu lagi di lain waktu. Entah kenapa, pertemuan singkat ini meninggalkan kesan yang mendalam. Melihat Puspita lagi, setelah sekian lama, membangkitkan kembali perasaan yang dulu kupendam rapat-rapat. Ucapan Meilani yang ceplas-ceplos justru membuatku tersadar betapa jauh aku telah berubah. Dan kehadiran Lia, sang primadona sekolah, menambah warna dalam pertemuan yang tak terduga ini.

"Han, next time ikut gabung hangout sama kita ya," ajak Meilani dengan senyum ramahnya. "Kita bertiga sering keluar bareng, kamu ajak pasanganmu juga nggak apa-apa."

"Eh iya," jawabku spontan, sebelum menyadari implikasinya. "Aku belum punya pasangan kok," lanjutku sedikit kikuk.

Tawa renyah Meilani pecah. "Hahaha, polos banget sih kamu, Han!" celetuknya yang membuatku tersipu malu.

Sisa malam kuhabiskan dengan mengobrol dengan Aksan dan teman-teman lainnya, namun bayang-bayang Puspita tetap menggelayut dalam benak. Saat acara reuni usai, kulihat Puspita, Meilani, dan Lia masih asyik berbincang di luar gedung. Lia berpamitan duluan, meluncur pergi dengan mobilnya sendiri. Tak lama, sebuah mobil sedan berhenti di dekat Puspita dan Meilani. Seorang pria keluar, menghampiri mereka dan mengecup pipi Meilani sekilas. Jadi, itu pacarnya, pikirku. Puspita berdiri sendirian sejenak, menatap ke arah jalan. Sebuah taksi akhirnya datang, dan ia pun masuk ke dalamnya.

Sesampainya di kost, tubuhku langsung ambruk di kasur. Pikiranku kembali memutar momen-momen tadi, terutama saat berpapasan dengan Puspita. Bisa melihat senyumnya lagi saja sudah membuat hatiku menghangat. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi, tapi pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan. Apakah dia sudah punya pacar? Atau bahkan sudah menikah? Entah kenapa, pikiranku melayang pada anggapan umum bahwa wanita berhijab biasanya setelah menikah. Ah, sudahlah, biarkan waktu yang menjawabnya. Besok adalah hari pertama magangku. Rasa gugup bercampur semangat membuatku segera memejamkan mata, berharap bisa tampil prima di hari pertama kerja.

>>POV Meilani<<

"Aaaahhh, Jimmm... ahhh..." Desah itu lolos dari bibirku, tak mampu lagi kubendung. Setiap sentuhan Jimmy adalah sengatan listrik yang menjalar, membakar habis pertahananku. Penisnya yang tegang dan berurat, kini menjadi pusat semestaku, setiap gesekannya di dinding vaginaku adalah gelombang kenikmatan yang menghantam tanpa ampun. Napasnya memburu di telingaku, aroma maskulinnya bercampur dengan aroma keringat dan gairah, memabukkanku sepenuhnya. Tangannya yang kekar, kasar namun penuh kendali, meremas penuh di payudaraku, putingku yang sudah menegang kini semakin mengeras, mengirimkan denyutan kenikmatan yang membuatku hampir gila. Setiap desahannya, setiap erangannya, adalah pujian yang membakar hasratku lebih dalam.

---Beberapa Saat Sebelumnya---

Setelah acara reuni yang cukup membosankan, Jimmy memang berencana mengajakku berkeliling mall. Namun, sejak awal aku sudah merasakan ada yang berbeda dari sorot matanya. Ada kilatan nakal di sana, sebuah janji tersembunyi yang membuat perutku terasa geli. Dan benar saja, di tengah perjalanan, tangannya mulai bermain-main di pahaku. Sentuhan awalnya ringan, seolah tak sengaja, namun lama kelamaan jarinya semakin berani, menyelinap di bawah rokku yang sedikit tersingkap. Aku pura-pura menepisnya, sebuah sandiwara yang kurasa percuma, karena hasrat dalam diriku pun sudah mulai meronta.

Sentuhannya semakin intens, jemarinya kini menjelajahi lekuk pahaku bagian dalam, mendekati pusat sensitivitas. Setiap gesekannya di atas kain celana dalamku mengirimkan getaran-getaran panas yang menjalar ke seluruh tubuhku. Nafasku mulai tercekat, jantungku berdegup kencang. Sialan, Jimmy benar-benar tahu persis titik lemahku. Ia memainkannya dengan lihai, sambil tetap fokus menyetir, membuatku menggigit bibir menahan desahan yang hampir lolos. Setiap sentuhannya adalah siksaan yang nikmat, sebuah teka-teki yang membuatku semakin penasaran.

Aku benar-benar berada di ambang batas, gelombang orgasme seolah sudah di pelupuk mata, ketika tiba-tiba ia menghentikan aksinya. Tangannya keluar dari celanaku, meninggalkan sensasi menggelitik yang menyiksa, seperti api yang tiba-tiba dipadamkan. Rasa kecewa menyeruak, bercampur dengan rasa penasaran yang membakar.

"Kok udahan sih, Jim?" Tanyaku dengan nada manja yang tak bisa kusembunyikan. Suaraku terdengar lebih serak dari biasanya, terpengaruh oleh gejolak yang baru saja kurasakan.

Jimmy menoleh, seringai nakal menghiasi bibirnya yang sensual. "Kenapa memangnya? Mau dilanjut?" Tantangnya, matanya menyorot penuh godaan.

Aku hanya bisa memandangnya dengan kesal, namun jauh di lubuk hati, gejolak hasrat semakin membara. Sentuhan singkatnya tadi hanya berhasil membangkitkan 'monster' dalam diriku yang sudah lama tertidur.

"Mau dilanjut di apartemenku nggak?" Bisiknya rendah, suaranya bergetar penuh hasrat. Napasnya yang hangat menerpa telingaku seperti bara api, membakar setiap sel dalam tubuhku. Sorot matanya menantang, seolah tahu betul bahwa aku tak akan mampu menolak.

Sialan, dasar Jimmy mesum! Aku tahu dia sudah merencanakan ini sejak awal. Mengajakku ke mall hanyalah kedok, sebuah alibi untuk bisa kembali menjamah tubuhku. Ya, Jimmy memang pernah tidur denganku sekali. Saat itu aku sedang terpuruk, baru saja mengakhiri hubungan yang sudah berjalan lama. Bersama mantan, seks adalah rutinitas yang terkadang terasa hambar. Setelah putus, rasa rindu akan sentuhan, akan keintiman, akan orgasme yang menghantam tanpa ampun, terus menghantuiku.

Dalam keputusasaan, aku meminta bantuan Jimmy, teman kerjaku yang selalu memperhatikanku dengan tatapan penuh arti. Bodohnya aku, dulu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa itu adalah yang pertama dan terakhir. Namun, hasrat memang terkadang membutakan. Dan dia, dengan mudahnya mengiyakan permintaanku, seolah sudah menunggu saat itu tiba.

"Heh, malah bengong... gimana?" Suara berat Jimmy membuyarkan lamunanku. Mobilnya sudah terparkir di depan sebuah gedung apartemen mewah. Lampu senja menembus kaca mobil, menciptakan siluet tubuhnya yang atletis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED