Bab 1

“Cinta itu tak berbentuk. Hanya bisa dirasa, bahkan tak bisa digenggam. Saat aku melihatnya, aku ingin menggengamnya. Tapi tak bisa... cinta itu begitu menyakitkan. Ia menghancurkan diriku yang sebenarnya lalu menancapkan tombak berancunnya di hatiku. Kubawa cinta itu sampai dewasa... hingga aku bertemu lagi dengannya. Gadis yang menggenggam hatiku.”

***

Pagi yang cerah adalah saat hari pertama masuk sekolah. Seorang anak dengan wajah bayi namun sayangnya dia sudah 14 tahun sedang berdiri di depan cermin dengan seragam baru. Ia baru saja naik kelas dua SMP di salah satu sekolah swasta ternama di Jakarta. Sambil memperbaiki kerah baju tiba tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.

"Bry, kamu udah siap?" ujar kakak perempuan tertuanya, Alisha sambil mengintip dari balik pintu dengan sebelah kepalanya melongok ke arah anak itu. Sambil tersenyum anak remaja itu mengangguk.

"Ayo, kamu bakal diantar Daddy," lanjutnya sambil menutup pintu. Remaja itu hanya menghela nafas, ia harus jadi anak baik. Di depan cermin ia tersenyum sinis. Mungkin hanya cermin yang tau siapa dirinya.

Seperti biasa setiap pagi, Ayahnya sudah menunggu di depan pintu depan sebelum tersenyum mengajaknya masuk ke dalam mobil. Ayahnya dan supir pribadinya, Pak Rahman menurunkan remaja itu di depan gerbang sekolah. Sebelum membuka pintu, Ayahnya memegang tangan remaja itu.

"Bryan, kamu udah besar dan kamu selalu buat Dad sama mom bangga. Suatu saat kamu akan jadi pewaris perusahaan Daddy. Rajin belajar dan jadi anak baik. I love you, my Babyboy," ujar Ayahnya sambil tersenyum memegang bahu remaja itu. Ia hanya bisa tersenyum ramah dan mengangguk pelan.

"See you at home. my Boy." Kalimat itu adalah kalimat yang sering sering di dengarnya ketika Ayahnya mengantar. Pintu mobil ditutup dan ia melangkahkan kaki masuk ke halaman sekolah.

"Tuan muda Bryan akan jadi penerus yang Tuan inginkan, saya yakin, dia anak baik," ujar Pak Rahman sambil tersenyum dari kaca mobil.

"Ya, dia selalu buat kami bangga. Kami tidak salah pilih, dia memang anak baik." ...

Sementara itu di sekolah

"Ampun...lepasin...aku janji gak akan ingkar janji lagi. Tolong jangan pukulin lagi, Kak." tangis seorang anak sambil memohon memeluk kaki anak laki laki didepannya.

"Heh...udah berapa kali gua bilang, bayar utang lo!" ujar anak seumurannya yang kaki nya dipegang dengan sekali hentak menendang perut anak lelaki yang sudah memar dipukuli.

"Janji, aku bayar minggu depan. Minggu ini aku gak dikasih uang sama mama karena uangnya habis buat taruhan kemarin."

"Itu urusan lo, urusan gue..." dia berhenti bicara ketika matanya memandang ke arah depan setelah temannya menyikut cukup keras untuk melihat siapa yang datang. Anak laki laki yang dipandangi oleh lima orang anak laki laki lain dan satu anak yang masih meringkuk tadi sambil ikut mendongakkan kepalanya. Semua mereka melihat ia mulai berjalan santai ke arah mereka.

Tidak ada yang bicara atau pun melakukan sesuatu ketika dia sedang berjalan dan akhirnya berhenti tepat di depan si anak yang sedang meringkuk kesakitan. Dia melihat ke bawah tanpa ekspresi lalu mengalihkan matanya menatap wajah anak yang memukuli tadi.

"Dia udah bayar?" dia bertanya tanpa ekspresi.

"Belum, Bry," jawabnya singkat. Anak itu menunduk lagi melihat anak laki laki yang meringkuk tadi. Dia berjongkok dan melihat ke arah mata anak laki laki itu.

"Aku benci pembohong dan penipu."

"Aku janji, Kak. Aku pasti bayar minggu depan," jawabnya pucat.

"Dua hari, aku kasih waktu dua hari. Karena kalo gak, aku akan membuat kamu dikeluarkan dari sekolah ini. Tau kenapa, karena pacar kamu Stella kemarin mengirimkan fotonya setengah telanjang padaku. Dan foto itu akan aku taro di handphone kamu dan akan dicari kepala sekolah. Orang tua kamu pasti kecewa." Anak itu bicara tanpa rasa berdosa.

"K-kenapa Stella bisa kirim gambar seperti itu ke Kak Bryan?" tanya anak itu dengan wajah terkejut dan bibir yang bergetar.

"Huh, kamu pikir kenapa dia mau pacaran sama kamu? Karena dia pikir kamu temanku dan dia bisa mendekatiku lewat kamu," jawab anak itu sambil tersenyum sinis. Anak laki laki itu hanya tertunduk dan tidak lagi bicara. Dia tau bahwa semua hampir semua siswi perempuan di sekolah ini menyukai remaja bernama Bryan dan itu tak terkecuali Stella pacarnya.

"Dua hari mulai besok, dia gak bayar sebarin foto Stella yang dari handphonenya juga." Bryan melangkah santai ke arah kelas. Anak anak yang memukul tadi tersenyum menang sambil berkata

"Beres Bry, lo tenang aja!".

Bryan masuk kelas dengan santai dan melemparkan tasnya ke atas meja belajarnya. Seluruh kelas terdiam ketika Bryan masuk. Ada yang mengganggu mood Bryan pagi pagi. Teman kelas laki laki langsung menyingkir sedangkan yang perempuan malah berbisik-bisik sambil mencuri pandang pada Bryan. Bryan selalu kelihatan tampan apapun keadaanya. Biarpun dalam keadaan marah, ia selalu bisa menarik perhatia banyak orang. Dua menit kemudian seorang anak laki laki dan siswi paling cantik di sekolah masuk kelas yang sama dengan Bryan. Siswa laki laki itu langsung duduk di depan Bryan dan tersenyum lebar. Sedangkan siswi yang satunya lagi menyandarkan punggung di meja sebelah kanan Bryan dengan santai.

"Pagi-pagi udah jelek aja mood lo, ada apa?"ujarnya sambil melipat tangan di depan Bryan. Bryan tidak menjawab dan cuma mengangkat bahu.

"Jangan bilang karena ada yang gak bayar taruhan," tambahnya lagi.

"Aku benci orang yang gak berpikir sebelum bertaruh dan ketika kalah dia gak bayar,” semprot Bryan dengan kesal. Akhirnya Brian buka suara di depan temannya itu dan temannya, cuma bisa tersenyum.

"Tapi bukan itu masalah yang bikin aku kesal pagi-pagi. Daddy bilang akan mewariskan perusahaannya ke aku."

"Bukannya bagus? bukannya itu yang kamu mau," celetuk teman perempuannya ikut menanggapi. Meski ia tak mengertibenar apa yang dimaksudkan oleh Bryan. Bryan menoleh tanpa senyum, lalu berpaling lagi ke teman di depannya.

"Arya, kamu tau siapa aku?"

"Bryan, kita bicara nanti. Untuk sekarang stop pukulin orang, I mean it!" Anak yang dipanggil Arya itu pun bangun dari kursi sambil menunjuk ke arah Bryan. Bryan malah mengangkat tangannya ke udara dengan tatapan 'maksud lo'. Dengan tersenyum yang masih menggantung, Arya langsung keluar dari kelas Bryan menuju kelasnya di sebelah kelas Bryan. Mereka tidak sekelas, Bryan dan Arya tapi siswi perempuan tadi kemudian duduk di bangkunya yang berjarak dua meja di depan Bryan. Tak lama, guru pun masuk dan memulai hari pertama di kelas dua.

Darsh Bryan Alexander adalah bintang sekolah. Semua serba sempurna, wajahnya, tampilan fisik, kecerdasan hingga latar belakang keluarga. Bryan Alexander adalah anak kedua dari pengusaha terkenal asal Belanda yang sudah menetap di Indonesia. Ayah Bryan, Hans Valiente Alexander dikenal sebagai taipan pemilik perusahan konstruksi, perkapalan hingga otomotif salah satu yang terbesar di Asia. Bahkan sang ayah dinobatkan sebagai orang terkaya ketiga di Asia setelah pemilik e commerce terbesar asal Tiongkok. Ayahnya Hans bukanlah keturunan Indonesia tapi dia telah mendapatkan kewarganegaraan Indonesia setelah menikah dengan almarhumah Ibu Bryan, Sri Handayani. Ya, Ibu Bryan sudah meninggal ketika Bryan berumur 8 tahun dan kakak perempuannya yang berumur 10 tahun. Kakaknya kini sudah masuk SMA kelas satu, ia bernam Alisha Handayani Alexander.

Sejak kecil, Bryan memang bukanlah anak yang periang, dia lebih banyak diam jika tidak ditanya. Berbeda dengan kakaknya yang selalu tersenyum dan banyak bicara walaupun sedang sakit. Alisha menderita talasemia, dia harus ikut program cuci darah setiap minggu. Biarpun begitu, Alisha tetap ceria seperti tidak ada yang membebaninya.

Setelah jam pelajaran kedua berakhir dan saatnya istirahat. Bryan keluar dari kelas dengan santai. Tiba di depan pintu kelas, Arya temannya langsung merangkul.

"Gimana, masih belum enak mood lo? Kita makan biar lo gak kepikiran terus," sahut Arya sambil tersenyum.

"Males...ga selera!" jawab Bryan singkat.

"Alah, ikut aja. Lo juga kan Dira?"

"Ya iyalah, gue mau temenin Bryan makan," sahut siswi perempuan yang dari tadi menempel pada Bryan dan Arya. Bryan hanya ikut teman-temannya dengan wajah sekenanya. Tanpa ekspresi. Setelah selesai memesan makanan di kantin mereka duduk bertiga di sudut biasa mereka berkumpul. Itu spot khusus yang tidak satupun siswa berani duduk disana. Sepenuh apapun kantinnya, spot mereka tetap kosong.

Tidak ada yang berani melawan Bryan, anak itu punya dua kepribadian. Jika seseorang tak begitu mengenalanya maka akan salah mengira jika ia adalah remaja baik hati seperti malaikat. Memiliki wajah polos dan rupawan namun tak membuat perilaku Bryan yang sebenarnya sesempurna fisiknya. Semua siswa di sekolah itu tau siapa Bryan Alexander yang sebenarnya.

"Bentar ya gua ke toilet dulu," ujar Dira pada Bryan dan Arya. Arya mengangguk sambil tersenyum, Bryan bahkan tidak menoleh. Setelah Dira pergi, barulah Arya bicara.

"Jadi bokap lo nikah lagi?" Bryan mengangguk

"Lo uda kenal calon Mama baru lo?"

"She's not my mom, and I don't care!" sahut Bryan ketus.

"Biar gimanapun dia bakaln nikah sama Daddy lo, lo harus tau dia."

"Jadi aku harus gimana? Aku harus jadi pewaris sementara Daddy akan senang-senang sama istri barunya!" Bryan membuang pandangannya ke arah lain. Beberapa siswi perempuan mencoba tersenyum pada Bryan. Dia hanya mendengus saja membalas tatapan itu.

"Bry, dia bokap lo dan dia uda lama sendiri jadi wajar kalo dia nikah lagi," sahut Arya memberi tanggapannya. Bryan tergelak dengan nada sinis.

"Jadi aku harus terima gitu aja!" suara Bryan mulai meninggi.

"No, just give them chance. Lagi pula cepat atau lambat cuma lo yang akan diangkat jadi pewaris VanAlex."

"Seharusnya kak Alisha yang berhak memegang semua itu bukan aku, I am not an Alexander." Bryan mulai menunduk sambil menghela nafas berat.

"Jangan pernah bicara seperti itu lagi! Lo adalah seorang Alexander. Kakek lo adalah pengusaha Herman Van Alexander dan Daddy lo adalah Hans Alexander, dan lo adalah Darsh Bryan Alexander. Lo adalah Alexander, darah lo tetap darah Alexander. Jangan lupa itu, Bryan," ujar Arya memandang dan berkata tegas pada Bryan.

Arya Mahendra adalah teman Bryan dari kecil tepatnya mereka bertemu saat masih di taman kanak-kanak. Ayahnya salah satu partner bisnis Hans Alexander, Ayah Bryan. Arya Mahendra adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Anak dari pengusaha asal Solo, Surya Mahendra. Hingga kini baik Surya maupun Hans masih bekerja sama dengan baik. Rumah Arya sudah seperti rumah kedua bagi Bryan. Setelah Ibunya meninggal Bryan senang menginap di rumah Arya, Ibunya Arya pintar membuat kue dan Bryan selalu dimanjakan dengan berbagai macam kue buatannya.

"But I don't know who's my father is," ujar Bryan lemah sambil menungkup kan kedua tangannya di dahinya.

"Itu gak penting, Ibu lo Alexander, artinya lo tetap seorang Alexander. Dan setelah Kakek lo meninggal bukannya dia udah ninggalin wasiat kalo hanya lo satu-satunya penerus. Jadi apa lagi yang lo cemasin?"

"It’s just too much!" Bryan masih menunduk

"Bry, gak usah pikirin perusahaan sekarang, umur kita baru 15 tahun. Kita masih punya banyak waktu. Dira udah balik jangan tunjukin muka sedih lo." Bryan pun langsung mengangkat wajahnya. Seolah tak terjadi apa apa mereka mengobrol seperti biasa.

Sebelum pelajaran terakhir berakhir, Bryan pamit sebentar ke toilet. Belum sampai di pintu toilet laki laki, ia mendengar sayup-sayup suara tangis anak perempuan sambil memohon.

"Jangan Kak, itu buku-ku satu-satunya." suara anak perempuan itu kecil sambil terisak.

"Hah, miskin amat lo buku jelek begini. Makanya kalo gak punya duit gak usah sekolah disini. Anak kampung aja belagu!" Bryan merngnyitkan kening mendengar suara ribut-ribut itu lalu mendekat perlahan sambil mengintip dari balik tembok dekat toilet siswa laki laki. Ada tiga siswi mengelilingi satu anak perempuan kecil yang sudah terduduk dan roknya basah. Bryan awalnya hanya menonton sambil menyandarkan bahunya pada tembok.

Matanya kemudian memperhatikan anak perempuan tak melawan sama sekali saat dibully. Rambutnya dikepang dua dan dia tak mengangkat wajahnya sama sekali. Kulitnya putih bersih dengan rambut agak kecoklatan.

Kayaknya siswa kelas 1 ya, badannya kecil sekali' pikir Bryan.

Selesai membully, mereka bertiga terkejut melihat Bryan menyandarkan bahunya di tembok berdiri beberapa meter dari mereka dengan santai memilin-milin jemarinya.

"Aku paling gak suka liat cewek suka membully. Kesannya gak cantik sama sekali!" ujar Bryan menyindir lalu menatap kemudian menatap sekilas lagi pada siswa yang masih terduduk itu.

"Nngg dia...d-dia..k-kami c-cuma..." salah satu dari tiga siswi mencoba membela diri namuan dengan kalimat yang terbata-bata.

"Go...now!" Bryan terdengar seperti mendesis geram. Ketiga lalu berpandangan dan tak lama langsung pergi karena takut pada Bryan.

Setelah siswi siswi itu pergi, Bryan hanya menatap beberapa detik ke arah siswi yang sudah ditolongnya itu. Anak itu yang masih menunduk ketakutan. Bryan tidak mau ambil pusing, dia langsung membalikkan badan dan masuk ke toilet. Sekitar 5 menit di toilet Bryan keluar dan dia tersentak saat melihat seorang gadis berdiri di depan pintu. Ternyata itu adalah gadis yang ditolong beberapa saat lalu..

Bryan akhirnya bisa melihat wajah gadis yang menunduk tadi. Wajah imut dengan hidung kecil yang lucu dengan rambut yang dikepang. Mata Bryan langsung menatap mata bulat dan bibirya yang begitu mungil, sangat menarik perhatian.

"Terima kasih Kakak sudah menolong saya." beberapa detik Bryan seolah tidak sadar, mata gadis itu menghipnotisnya. Bryan hanya sempat menelan ludah dan lupa untuk bernapas.

"A-aku gak menolong kamu, aku cuma gak suka perempuan kasar," ujar Bryan ketika tersadar kemudian.

"Iya, Kak. Terima kasih sekali lagi." Gadis itu tersenyum manis dan pergi meninggalkan Bryan di depan pintu toilet laki laki. Bryan tidak bicara dia cuma bengong menahan nafas. Tidak sadar dia melepaskan nafas yang dari tadi ditahannya.

Apa yang sudah terjadi padaku?

Bab 2

"Terima kasih, kita bertemu pada meeting selanjutnya, selamat sore," ujar Hans Alexander sambil berdiri membereskan beberapa bundel kertas dan berjalan ke arah pintu keluar. Seluruh manajer dan staf yang ikut meeting ikut keluar setelah bos mereka menghilang dari balik pintu kaca. Hans berjalan ke arah kantornya, sebelum sampai ia berbalik pada PA nya.

"Bram, batalkan semua janji sore ini, saya mau pulang cepat," ujar Hans sambil tersenyum.

"Baik, Pak," jawab Bram membalas senyuman bosnya.

Tak lama kemudian, Hans masuk ke kantornya dan mengeluarkan ponsel dari balik kantong jas nya.

"Hai, kamu lagi dimana?" Hans menghadap dinding kaca besar yang menunjukkan pemandangan separuh kota sambil menelepon seseorang.

"Aku sedang di sekolah, Mas."

"Hhmmm,ehm, besok siang aku jemput kamu ya, kita makan siang di rumahku. Ada yang mau aku kenalkan sama kamu. Oh ya, jangan lupa ajak Nisa juga." Hans tersenyum

“Iya, Mas. Besok aku ke rumah kamu bareng Nisa.”

“Apa perlu aku kirim supir untuk jemput?”

“Gak usah, Mas. Aku akan naik taksi aja ke rumah kamu. Lagipula aku tau kok alamat kamu.”

“Ya udah, besok siang pas jam makan siang, yah!”

“Ya Mas, sampai jumpa besok.”

“Sampai ketemu besok.” Sambil tersenyum Hans menutup telepon. Dia masih berdiri beberapa saat sambil terus melihat ke arah kumpulan gedung pencakar langit. Ia pun membuka ponselnya dan menelpon kembali.

" Apa Bryan sudah pulang?"

"Belum, Tuan."

"Ya sudah, kalau dia sudah di rumah jangan kasih ijin keluar lagi, bilang saya mau makan malam di rumah sama mereka berdua." Hans masih berpikir tentang rencana makan malam dengan kedua anaknya dan tentang apa yang akan dia katakan malam ini.

“Baik, Tuan.”

Kediaman Mahendra

Usai pertemuan itu, Bryan bercerita pada satu-satunya sahabat baiknya, Arya Mahendra. Arya yang senyam-senyum saja mendengar Bryan bercerita untuk pertama kalinya tentang lawan jenisnya, mendengarkan dengan baik sembari mengemil.

"Lo gak tanya namanya?" ujar Arya sambil mengunyah keripik kentang kesukaannya. Di depannya duduk Bryan yang sedang menggambar untuk proyek seni kelas mereka.

"Gak, lagipula dia langsung pergi," jawab Bryan tanpa melihat Arya. tangannya masih sibuk mencampurkan warna.

"Cantik gak? Pasti cantik ya!" Arya tersenyum menggoda. Bryan langsung mengarahkan matanya dari buku gambar ke mata Arya. Dia tidak tersenyum atau pun menjawab. Lalu sedetik kemudian dia meneruskan lagi gambarnya. Arya cuma terus tersenyum, baru kali ini Bryan tertarik pada lawan jenisnya. Bahkan secantik Indira tidak bisa membuat Bryan bercerita tentang perempuan.

"Kayaknya dia anak kelas satu deh, Bry. Soalnya dari ciri ciri yang lo bilang gak ada anak di sekolah kita yang seperti itu." Bryan hanya mengangguk saja.

"Tenang besok lo pasti ketemu dia lagi."

"Belum tentu."

"Kenapa?"

"Kelas satu ada di bawah, kelas kita ada di lantai tiga." Arya mengangguk mengerti.

"Oh gampang, kalo perlu besok gua suruh anak anak cari tu cewek!"

"Gak usah ntar juga pasti ketemu sendiri."

"Lo gak kangen apa?" Bryan menghentikan menggambar dan spontan melemparkan buku gambar diatas meja yang tak terpakai ke arah Arya. Arya tertawa puas. Setelah perutnya sakit dan Bryan tersipu malu, barulah ia bangkit dan mengambil jaket.

"Udah malam, yok gua antar pulang!" Bryan mengangguk dan menutup buku gambarnya. Ia membereskan sisa pensil dan memasukkannya ke dalam tas. Ketika Arya dan Bryan keluar dari kamar tak lama Pak Rahman, supir Hans Alexander sudah berdiri di depan pintu. Arya sempat kaget karena dia berencana mengantar Bryan dengan mobil dan supirnya. Arya tidak diberikan kendaraan sendiri karena masih dibawah umur. Ayahnya menyediakan supir pribadi untuk kebutuhannya sehari hari.

"Pak Rahman ngapain disini?" tanya Bryan.

"Saya disuruh Tuan untuk jemput Tuan Muda Bryan." Bryan hanya mengangguk. Arya pun tersenyum sambil menepuk pundak Bryan.

"Kalo gitu, sampai ketemu besok di sekolah, hati hati Pak" Arya setengah berteriak sambil melambaikan tangan pada Bryan yang sudah masuk mobil.

***

Butuh hampir 35 menit untuk sampai di rumah kediaman Hans Alexander. Mansion bergaya eropa tempat Bryan tumbuh dan menghabiskan masa kecilnya. Sampai di depan pintu, Bryan masuk dan disambut sang ayah.

"Anak Daddy baru sampai?” Bryan mengangguk sambil menutup pintu.

“Kalo gitu kamu ke atas terus mandi dan kita makan bersama," ujar sang Ayah sambil memegang kedua bahu Bryan dan tersenyum.

"Tumben Daddy makan di rumah?" tanya Bryan sambil membalas senyuman.

"Daddy pengen lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak Daddy, bolehkan?"

"Of course Dad, I'll be back." Bryan tersenyum senang dan berjalan setengah berlari ke tangga menuju kamarnya.

Sekitar 15 menit kemudian, Bryan dan Alisha sudah duduk bersama di meja makan. Bryan merindukan ayahnya, ia sangat jarang melihat Ayahnya makan malam di rumah terlebih setelah ibunya meninggal. Bryan selalu tersenyum dan tertawa mendengar lelucon ayahnya. Alisha pun tak berhenti tersenyum bahagia.

Setelah makan malam, ketiganya masuk ke ruangan santai tempat biasanya Bryan menghabiskan waktu bermain video game bersama Arya atau sekedar membaca majalah dan menonton TV. Hans dan kedua anaknya menghabiskan waktu dengan bersantai sambil meminum minuman kesukaan masing masing. Hans dan Alisha dengan teh hijau kegemarannya dan Bryan dengan coklat panas bercampur marsmellow.

"Ada yang ingin Daddy bicarakan dengan kalian berdua," ujar sang Ayah setelah kedua anaknya sedikit lebih santai. Hans berhenti cukup lama dan tersenyum sebelum melanjutkan bicara.

"Mungkin kalian berdua sudah tau jika Daddy sekarang sudah .... punya kekasih lagi." Wajah Bryan mulai berubah, Alisha masih tetap tersenyum bahagia dan mengangguk.

"Daddy berencana menikah dalam waktu dua minggu ini." Alisha yang duduk di sebelah Ayahnya langsung semringah dan menggenggam tangan Ayahnya. Sedangkan Bryan malah tak berekspresi apapun dan meletakkan mug coklat panasnya dengan pelan ke atas meja kopi.

"Besok siang, Daddy mengundang calon istri Daddy kesini dan Daddy ingin kalian berkenalan." Nafas Bryan mulai berat dan ia menggenggam tangannya dengan kuat. Sementara Alisha tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya. Ia bahagia akhirnya Ayahnya tidak lagi terpuruk dalam kesedihan dan menemukan kembali hidupnya.

"Alisha akan langsung pulang ke rumah besok, Dad. Wah, Alisha gak sabar pengen ketemu pacarnya Daddy," ujar Alisha sambil bertepuk tangan dengan mata berbinar. Hans membelai rambut Alisha dengan lembut sebelum melihat ke arah Bryan yang duduk di depannya.

Senyum Hans langsung pudar tatkala melihat wajah anak laki-lakinya tanpa ekspresi yang kemudian menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Ini bukan saatnya menangis- pikir Bryan.

Hans tau ekspresi anak lelakinya menunjukkan sikap jika ia tidak suka. Tapi tidak satu patah kata pun dikeluarkan oleh Bryan. Tawa Bryan lima menit lalu hilang sudah, wajahnya kini murung. Hans melepaskan nafas berat sebelum ia sempat ingin bertanya, Bryan berbicara lebih dulu.

"Bryan, udah ngantuk, Bryan mau tidur duluan ya Dad. Good night, Dad. Good night, Alisha," ujar Bryan sambil berjalan menuju Alisha dan mencium kening Alisha. Setiap malam dari kecil Bryan terbiasa mencium kening Kakaknya dan mengucapkan selamat tidur. Hans hanya bisa tertunduk hingga Alisha bicara.

"Daddy tenang aja, Bryan pasti ngerti. Alisha senang Daddy akan ada yang nemenin." Alisha dipeluk sang Ayah yang mulai menitikkan airmata. Hans mengangguk tapi matanya masih melihat ke arah Bryan keluar dari ruangan itu dan pergi. Ia menghela nafas berat sebelum akhirnya tersenyum lagi memeluk Alisha.

Bryan masuk kamar dan menghempaskan dirinya di atas matras king size miliknya.

"I really miss you, Mom. I really do" ujarnya pelan sambil menutup wajah dengan lengannya. Bryan menangis dalam diam tak bersuara. Tangannya terkepal tanda emosi yang ditahannya semenjak tadi. Ketika matanya lelah Bryan langsung tertidur dengan air mata yang mengering.

Bab 3

Rasanya malas bagi Bryan untuk melangkahkan kakinya keluar kelas. Jam pelajaran baru usai dan jam makan siang sudah datang satu jam yang lalu. Harusnya Bryan langsung pulang karena ada janji makan siang dengan Ayahnya. Hanya tinggal tiga siswa yang masih membereskan meja dan segera beranjak pulang. Tapi Bryan masih belum bergerak dari tempat duduknya.

Indira, gadis yang selalu menempel pada Bryan lalu bangkit dari kursi dan menarik lembut lengan Bryan.

"Ayo kita pulang, kamu gak ada eskul kan hari ini?" ujarnya dengan nada manja. Bryan menggeleng malas dan mengikuti Dira. Bryan bangkit dari kursi dengan malas lalu membereskan bukunya. Arya, sahabatnya lalu masuk kelas dan tersenyum melihat Bryan dan Indira yang masih bergelayut di lengan Bryan.

"Harusnya lo pulang cepat, bukannya udah telat janji lo," ujar Arya sampai di depan meja Bryan.

"Janji apa? Kamu ada janji Bry?" sahut Indira cepat. Bryan hanya mengangguk pelan. Bryan, Indira dan Arya kemudian berjalan keluar kelas bersama. Di parkiran supir Arya sudah menunggu mereka. Arya duduk di depan sementara Bryan dan Indira di belakang. Tangan Indira tetap bergelayutan di lengan Bryan. Arya sudah biasa melihatnya, dia tau bahwa Indira menyukai Bryan sejak lama. Dia juga tau bahwa Bryan tidak merasakan hal yang sama, tapi ia membiarkan Indira bersikap seperti itu karena ia tidak ingin merusak persahabatan mereka.

Arya pun mengantar Bryan lebih dulu, sebelum mengantar Indira.

"Nanti gua telp," sahut Arya setelah Bryan turun. Bryan hanya mengangguk pelan. Indira ikut melambaikan tangan sambil tersenyum.

"Bryan ada janji ama siapa?" ujar Indira seraya memajukan tubuhnya ke arah depan.

"Oh janji makan sama Daddy-nya," jawab Arya singkat. Indira membulatkan bibirnya sambil mengangguk.

"Lo mau temenin gue makan gak, kita ke mall yuk." Arya menoleh sejenak ke belakang.

"Gak bisa, ada les piano," sahut Indira cuek sambil memainkan handphone nya.

"Ok." Arya berbalik dan tersenyum sinis. Dia tau gadis itu tidak ada jadwal apapun hari ini karena dia sudah les piano kemarin. Arya seperti sudah bisa menebak jawaban Indira.

‘Mana mau dia jalan sama gue,’ ujar benak Arya sambil menyandarkan kepalanya menatap pemandangan di luar mobil.

Bryan masuk ke rumahnya dan berjalan gontai menuju kamarnya. Belum sampai pintu kamar, Kakaknya Alisha memanggil.

"Bry, kamu kok baru pulang sih, kita nungguin kamu lho dari tadi." Bryan mengatupkan bibirnya sebelum menjawab.

"Tadi gurunya ngasih PR agak banyak Kak, jadi Bryan agak telat keluar"

"Ya udah gak apa, kamu cepet ganti baju Kakak tunggu di ruang makan ya" Alisha tersenyum sambil membelai kepala Bryan. Setelah Alisha menuruni tangga, barulah Bryan masuk kamar dan mengganti seragam sekolahnya.

Tak lama Bryan keluar dengan baju yang lebih santai. Celana ripped jeans hitam dan oversized T shirt warna abu abu. Bryan menyempatkan diri untuk mandi selama sepuluh menit. Dia keluar dalam keadaan sudah segar dengan wangi musk dari body shower yang selalu dia pakai. Sesampainya ia di ruang makan, Bryan disambut oleh Ayahnya dengan senyuman manis. Bryan membalas senyuman Hans dan duduk di sebelah Alisha. Tidak terlihat ada orang lain di meja selain mereka bertiga. Namun sepertinya tidak lama.

"Ehm, sebelum kita makan, Daddy mau memperkenalkan seseorang sama kalian." Hans tersenyum mulai menjelaskan sambil menggenggam tangannya di atas meja. Ia lalu menoleh pada salah satu pelayan dan bertanya.

"Apa mereka sudah sampai?" tanya Hans pada salah satu pelayan yang selesai menyiapkan meja.

"Sudah Tuan, sekarang mereka sudah di ruangan tamu." Hans mengangguk mengerti.

"Tolong bawa kemari ya." Pelayan itu mengangguk dan pergi menuju ruang tamu. Tiga menit kemudian seorang wanita masuk dan Hans menyambutnya dengan senyuman manis. Sambil berdiri dan kemudian memegang tangan wanita itu, ia menuntunnya ke meja makan besar.

Bryan belum mengangkat wajahnya dan terus menunduk. Tak lama setelah Alisha memperkenalkan diri, Bryan dipanggil ayahnya. Mau tidak mau Bryan pun harus menaikkan pandangannya. Betapa terkejutnya Bryan ketika ternyata wanita yang berada di depan meja makan ternyata adalah wali kelasnya di sekolah.

"Oh, selamat siang Bryan. Kita bertemu lagi" ujar Rita Harfa.

"D-dia kan..." Bryan masih membuka mulutnya.

"Ah, Daddy pengen kasih tau kamu kalau ini adalah salah satu guru di sekolah kamu, kamu pasti kenal ibu Rita kan?" jawab sang Ayah dengan wajah masih setengah tersenyum. Air muka Bryan langsung berubah tak enak. Ia sempat melirik pada Ayahnya yang juga mulai kehilangan senyuman. Nafas Bryan mulai berat, apa maksudnya semua ini. Kenapa bisa wali kelas nya adalah kekasih ayahnya.

Wajah Rita mulai menunduk, perasaannya campur aduk. Ia mengira calon suaminya sudah memberitahu siapa ia pada kedua anaknya. Alisha yang mengerti keheningan yang aneh itu mencoba mencairkan keadaan dan menenangkan adiknya. Sambil menggenggam tangan Bryan, Alisha tersenyum dan mempersilahkan bu Rita untuk duduk. Lalu Alisha langsung bergeser ke telinga Adiknya dan berbisik.

"it's ok, kakak disini, daddy akan jelaskan semuanya nanti oke. Smile for me baby" bisik Alisha pelan sambil tersenyum. Bryan mulai tenang dan balas mengenggam erat tangan Alisha. Dia hanya mengangguk.

"Sebentar aku juga bawa anakku, Nisa sini Sayang. Kenalin ini Om Hans dan ini anak-anaknya Om Hans, ada Kak Alisha dan Kak Bryan" ujar Rita setelah beberapa saat terdiam. Alisha dan Bryan berdiri hendak bersalaman dengan Nisa. Nafas Bryan kembali tidak beraturan.

"Kamu cantik sekali, nama kamu siapa?" tanya Alisha sambil memegang tangan mungil gadis itu.

"Namaku Deanisa Melody Harfa, Kak," ujar Nisa tersenyum ramah.

“Namaku Alisha, kamu bisa panggil aku, Kak Alisha dan ini Adikku, kamu bisa panggil dia Kak Bryan.” tunjuk Alisha sembari merangkul Bryan. Mata Nisa kemudian beralih pada anak laki-laki jangkung di sebelah Alisha. Mata Nisa sedikit melebar tapi kemudian tersenyum lagi. Dia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan anak laki-laki yang sempat menolongnya sewaktu dia dibully dekat toilet siswa laki laki.

Dan Bryan menelan ludahnya dengan berat. Oh Tuhan jangan dia, seharusnya bukan dia – ujar benak Bryan. Nisa menjulurkan tangannya hendak berkenalan. Tapi Bryan tidak bergerak dan terus menatap mata Nisa dengan tajam. Perasaannya benar benar kacau.

Nisa langsung menyadari siapa Bryan dan masih menjulurkan tangannya. Tapi Bryan malah membalas dengan tatapan aneh. Nisa masih kegirangan dalam hatinya saat bisa melihat Bryan lagi. Kakak kelas yang menolongnya itu akan menjadi Kakak tirinya.

Masih tersenyum bahagia, Nisa masih menjulurkan tangan ingin tau siapa nama lengkapnya. Tapi tatapan dingin tanpa senyuman itu begitu menakutkan. Jika mata bisa membunuh maka Nisa pasti sudah mati saat ini. Alisha yang melihat Bryan tak bergeming lalu menyikutnya perlahan. Bryan baru sadar ia sudah lama diam dan baru menyebut namanya beberapa saat kemudian.

"Aku ... Bryan!" ujarnya angkuh. Dia bahkan tidak mau menjulurkan tangannya. Melihat tak ada sikap ramah dari Bryan sama sekali, perlahan Nisa menarik kembali tangannya dan tersenyum aneh. Nisa mulai merasa tidak nyaman dengan cara memandang Bryan yang tidak bersahabat sama sekali. Kenapa dia membenciku? – tanya Nisa dalam hatinya.

Kebaikan Bryan yang menolongnya beberapa hari lalu berbanding terbalik dengan sikapnya saat ini. Walupun begitu, wajah tampan Bryan sempat membuat Nisa tertegun meski akhirnya ia hanya bisa menunduk.

Usai berkenalan, Hans mengajak Rita dan Nisa untuk ikut makan siang bersama. Dengan sikap acuh tak acuh, Bryan ikut duduk dengan selera makan yang sudah hilang.

“Jadi Bryan dan Nisa satu sekolah ya?” tanya Hans membuka pembicaraan. Nisa menoleh pada Hans dan tersenyum saja. Sedangkan Bryan bahkan tak mau melihat Nis awalnya. Rita kemudian menoleh pada Nisa, anaknya dan sedikit menaikkan alis sebagai tanda agar Nisa harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan.

“Iya, Om.” Bryan lantas mendelik pada Nisa dan Nisa seperti anak kucing ketakutan malah makin menunduk.

“Kamu kelas berapa?” Giliran Alisha bertanya pada Nisa.

“Kelas satu, Kak.”

“Wah berarti Nisa adik kelas kamu ya, Bry!” Alisha kini beralih pada Bryan. Bryan hanya mendengus saja tak mau menjawab. Nisa makin takut untuk makan. Sikap Bryan membuatnya tak lagi berani mengangkat wajahnya. Bryan benar-benar tak memberinya ampun sama sekali. Kini ia terus memandangi Nisa dengan tatapan tajam.

Rasa lapar yang awalnya menghinggapi Nisa kini menguap entah kemana. Bryan berhasil mengusir Nisa pelan dari rumahnya. Usai makan siang, Nisa menarik lengan Ibunya, Rita agar segera pulang saja.

“Kok buru-buru? Nanti Om bisa antar kamu pulang. Kamu bisa main dulu sama Kak Alisha dan Kak Bryan.” Nisa spontan menggeleng terlebih ketika ia berbalik dan Bryan seolah hendak memakannya.

“N-nisa harus buat PR, Om. Besok harus dikumpulkan soalnya, jadi Nisa takut nanti bisa kemaleman. Jadi ....” Rita tersenyum dan memotong omongan Nisa.

“Iya, Mas. Gak apa. Lain kali aja anak-anak main sama-sama. Gak usah dianterin gak apa kok, kami bisa naik taksi,” ujar Rita sembari tersenyum.

“Tapi ....”

“Beneran gak apa. Nanti aku telepon kalo udah di rumah ya!” sambung Rita lagi berusaha agar Hans jangan merasa tidak enak. Hans akhirnya mengangguk. Rita tau bahwa Nisa merasa tak nyaman di rumah Hans. Dan ia tak ingin memaksa putrinya dalam situasi yang akan membuatnya stress.

Usai pamit keduanya lalu melambaikan tangan melalui taksi yang mereka tumpangi. Di dalam taksi itu, Nisa dan Ibunya berbicara pada satu sama lain.

“Bunda tau kamu berbohong. PR kamu kan udah selesai semua,” ujar Rita setengah berbisik. Nisa menoleh pada Ibunya dan tersenyum.

“Maafin Nisa ya, Bunda. Nisa ....”

“Bunda ngerti. Bunda gak mau memaksa kamu untuk menerima pernikahan ini. Bunda akan bicara lagi sama Om Hans, mungkin kami gak perlu ....”

“Jangan, Nisa senang Bunda ada yang jagain.” Rita tersenyum dan membelai rambut panjang Nisa yang indah.

“Kita masih bisa hidup berdua bersama selamanya, Bunda gak apa,” bisik Rita dengan mata berkaca-kaca dan senyuman yang tak lekang dari bibirnya. Hati Nisa berdetak saat mendengar kalimat dari Ibunya. Apa yang Nisa kecil lakukan agar Ibunya bahagia? Dari kecil ia tak pernah melihat Ayah kandungnya. Yang ia tau hanyalah, sang Ayah meninggalkan Ibunya saat sedang mengandung Nisa. Tanpa bekas tanpa jejak.

“Jangan dibatalin Bunda. Nisa pengen lihat Bunda menikah lagi,” ujar Nisa menelan segala penolakan Bryan, calon Kakak tirinya.

“Kamu yakin?” Nisa mengangguk sekali lagi dan memeluk Ibunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED