“Ibu enggak lihat teman-teman kantor kamu. Kamu enggak mengundang teman-teman kantor kamu? Apa bos kamu juga enggak datang hari ini?”
Naya, pengantin wanita yang baru saja menikah di hari itu tampak masih mengenakan gaunnya di malam hari. Para tamu masih berdatangan, dan yang datang di malam hari adalah teman-teman suaminya. Yang membuatnya harus tetap menggunakan gaun resepsinya.
“Mereka datang, kok. Tadi siang, mereka semua datang. Bos enggak datang hari ini, karena katanya lagi sibuk,” jawabnya kepada sosok ibunya yang masih memperhatikan riasan putrinya itu.
Naya menghela nafasnya berat, dia terlihat waswas selama di sana. Seolah dirinya merasa tengah diawasi. Dia tampak tegang dan sama sekali tak menikmati acara yang berlangsung hingga malam.
Sosok suaminya mendekatinya, tersenyum manis memperhatikan pengantin wanitanya yang mulai menguap karena kantuk. Bahkan dia terkekeh meledeknya karena mengantuk.
“Ngantuk, ya?” tanya Ghiyas, sosok suaminya yang kini menatapnya dengan tatapan teduh.
Naya mengangguk dan tersenyum malu. Keduanya tampak serasi menjadi pusat pesta itu. Ibunya Naya tersenyum manis menggoda Naya yang tampak masih malu-malu pada suaminya itu.
***
Malam itu, malam pertama bagi pengantin baru. Di mana keduanya akan saling mendekatkan diri dan mengenal satu sama lain lebih intim. Di sebuah kamar hotel dengan semerbak harum dan dihias seindah mungkin untuk menciptakan nuansa romantis dengan warna merah dan putih.
Naya menatapi kasurnya yang ditaburi kelopak bunga, dibentuk love di sana. Naya mendecak kecil seraya memegangi keningnya. Padahal, dirinya ingin bisa langsung tidur saja malam itu.
“Nay?” Ghiyas melepaskan dasinya dan memperhatikan Naya dengan senyum semringahnya.
“Hm?” Naya langsung menoleh, dengan raut wajahnya yang terkesan malas dan tak bergairah.
“Kenapa? Pusing? Kok, lemes banget?” tanya Ghiyas agak khawatir karena Naya tampak tak senang, padahal ini hari pernikahannya dan ini malam yang seharusnya menjadi momen terbaik di hidupnya.
“Enggak,” jawab Naya seraya menggelengkan kepalanya pelan.
“Bersih-bersih dulu sana! Sebelum tidur, bersihkan dulu make-up, mandi dulu biar enggak terasa lengket!” ujar Ghiyas seraya memegangi bahunya Naya.
“Iya. Naya duluan ya, Mas?” Naya menganggukkan kepalanya dan meminta izin menggunakan kamar mandi lebih dulu dari suaminya itu.
“Iya.” Ghiyas menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, mengalah untuk Naya.
Setelah Naya keluar dari kamar mandi dan menggunakan sebuah piama berwarna merah, Naya duduk di sisi kasur dan menyingkirkan kelopak bunga yang mengganggunya sedari tadi. Hiasan handuk dengan bentuk angsa juga membuat Naya mendecak. Dia tampak tak senang.
Untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa tak senang, Naya membuka handphonenya. Dan itu membuatnya bertemu dengan masalah baru di malam pernikahannya. Puluhan chat masuk sedari tadi, yang membuatnya segera menghubungi seseorang sambil bangkit dari duduknya.
“Halo? Kenapa? Ada apa? Sistemnya eror?”
Naya bergegas membuka tasnya, yang mana berisikan laptop. Sudah dia duga, jika dirinya pasti akan selalu membutuhkan laptop. Apa lagi, jika dirinya harus bekerja dadakan lagi seperti ini.
Gadis itu mengambil tempat di sebuah meja dan membuka laptopnya. Tangannya dengan cekatan mengutak-atik laptop dan juga handphonenya. Sesekali dia melihat laptop, dan sesekali handphone.
Ghiyas yang barus keluar dari kamar mandi memperhatikan Naya yang tampak serius di depan laptopnya. Ghiyas agak kaget karena Naya membawa laptop kerjanya. Dia mengenali barang itu.
“Nay? Enggak tidur? Bukannya tadi udah ngantuk?” tanya Ghiyas seraya menghampiri Naya.
“Enggak. Ada masalah di kantor. Mas bisa tidur duluan, Naya harus selesaikan ini sekarang.”
“Bukannya kamu dalam masa cuti nikah?” Ghiyas menatapi Naya dengan penuh keheranan.
Naya melirik ke arah Ghiyas sesaat. Dia kemudian tampak membeku untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Ghiyas itu. Memang, seharusnya sekarang dirinya dan Ghiyas bersenang-senang sebagai pengantin baru. Dan dirinya tak seharusnya bekerja di depan laptopnya.
“Ini masalah darurat. Kasihan team Naya, kalau enggak ada Naya. Secara, Naya bagian kepala team.”
“Tapi dalam masa cuti nikah kamu? Kamu kemarin bahkan masih kerja, padahal hari ini hari pernikahan kita, Nay. Dan malam ini kamu malah bekerja lagi?” Ghiyas mengernyitkan dahinya.
“Kan, Naya udah bilang, Mas. Ini darurat, ini di luar kendali.” Naya berusaha menjelaskannya.
“Tiga hari aja, Naya. Tiga hari kerja. Sebelum hari H, hari H, setelah hari H. Di tiga hari ini, kamu enggak bekerja sama sekali meski itu hari kerja, apa sulit? Ini pernikahan, Naya. Hal sakral yang harusnya jadi momen mengesankan dalam hidup kamu. Dan kamu masih menyempatkan waktu buat bekerja?” Ghiyas mendecak kecewa.
Naya balik mendecak. Naya lantas melepaskan kancing piamanya, yang membuat Ghiyas mengernyitkan dahinya melihat aksi Naya itu. Ghiyas memperhatikannya dengan bingung.
“Kamu ngapain?”
Naya berjalan ke kasur dan langsung berbaring terlentang. Seolah menyuguhkan seonggok daging di depan harimau. Dia menyajikan dirinya sendiri sebagai santapan bagi Ghiyas.
“Lakukan! Mas mau ini? Lakukan dengan cepat, habis ini Naya harus urus masalah kantor.”
Ucapan Naya terdengar menantang. Itu membuat Ghiyas mengernyitkan dahinya. Bukan ini yang dia harapkan dari Naya. Reaksi Naya yang dia harapkan adalah kata maaf dan kemudian menjelaskannya dengan keadaan dilema, kemudian mereka mencari solusi bersama dengan romantis.
“Kamu pikir pria akan berselera?” balas Ghiyas dengan perasaan sebal balik.
“Enggak mau? Ya udah.” Gadis itu langsung bangkut lagi dan menutup kancing piamanya.
Naya kembali lagi ke depan laptop dan kemudian melanjutkan tugasnya dengan serius. Sementara Ghiyas menolak pinggangnya seraya mendengus. Pria itu menatapi Naya dengan perasaan heran.
Yang dia kenal, Naya itu pendiam dan pemalu. Juga, dia terbilang ramah. Tapi malam ini, Naya terlihat ketus dan cuek. Apa mungkin karena sedang lelah dan kemudian ada masalah di kantor yang membuatnya gak bisa tidur setelah acara besar. Ghiyas bisa memakluminya jika memang demikian.
“Jangan tidur terlalu larut. Jangan terlalu memaksakan diri juga. Tidur kalau udah selesai!”
Ghiyas bicara dengan dingin, lantaran suasana hatinya juga memburuk karena perangai buruk Naya.
Sementara Naya menoleh ke arah Ghiyas, semula keningnya mengerut, namun kerutannya memudar. Naya memperhatikan Ghiyas yang berjalan ke kasur dan langsung membaringkan dirinya.
“Mas Agi!” panggil Naya sambil memperhatikan suaminya tersebut.
Ghiyas tak menyahut, namun dia menatap ke arah Naya sebagai responsnya. Dan Naya kemudian mendekatinya, dengan ragu-ragu dan perasaan yang tak menentu.
“Katanya ada—”
Naya kemudian mengecup pipinya Ghiyas.
“Maaf, soal tadi. Naya capek soalnya,” ucapnya dengan pelan.
Ghiyas tentunya termangu atas tindakan istrinya yang cekatan itu. Kelihatannya Naya sangat peka terhadap dirinya. Ghiyas kemudian tersenyum dan menggelengkan kecil sebagai tanda dirinya tak keberatan soal yang tadi.
Ghiyas masih memejamkan matanya pagi itu. Tangannya meraba-raba kasur kosong di sebelahnya. Ingin rasanya memeluk sosok istrinya pagi itu. Yang membuatnya mengangkat kepalanya kala tidak menemukan Naya di kasurnya. Dan begitu matanya terbuka sedikit, Ghiyas tak menemukan Naya.
Pria itu langsung menggeliat dan mendudukkan dirinya. Kamarnya kosong, yang membuatnya langsung mendekati kamar mandi. Ghiyas mengetuknya dengan sopan dan halus.
“Nay?” Ghiyas tak mendengar suara air sama sekali dari dalam sana.
Akhirnya, Ghiyas membuka pintu kamar mandinya yang tak dikunci. Dan benar saja, Naya tak ada di sana. Yang membuatnya mengernyitkan dahinya cukup dalam karena itu.
“Naya!” Ghiyas memanggilnya dengan lebih kencang barang kali Naya tak mendengarnya.
Namun, Naya tak ada di sana. Dia sudah meninggalkan hotel lebih dulu dan hal tersebut membuat Ghiyas kebingungan sekaligus kesal. Sebenarnya ada apa dengan Naya, apa dia berusaha untuk menghindarinya atau sedang terjadi sesuatu atas dirinya.
Ghiyas kemudian mengambil handphonenya untuk menghubungi istrinya yang telah kabur itu. Pria itu menemukan pesan yang dikirim Naya sekitar setengah jam yang lalu.
[Mas Agi, Naya duluan. Naya ada kerjaan mendadak. Maaf. Naya udah pesankan sarapan buat Mas Agi. Diantar sekitar setengah jam lagi.]
Benar saja, tak lama kemudian sarapan yang dipesankan Naya datang. Hal tersebut yang membuatnya langsung mendecak tak percaya atas apa yang dilakukan istrinya tersebut padanya.
Sungguh, Naya masih pengantin baru dan bisa-bisanya dia lebih mengedepankan pekerjaannya. Padahal seharusnya dirinya dalam cuti nikah. Namun sehari sebelum dan sehari setelah, Naya masih masuk kerja. Hal tersebut membuat Ghiyas kesal tentunya.
Ghiyas lantas menghubungi seseorang, guna meredakan rasa kesalnya pada istrinya itu.
“Saya datang hari ini. Jadwalkan saya untuk masuk ke kamar operasi.”
***
Ghiyas berjalan cepat di koridor. Seraya melepaskan jas yang digunakannya, Ghiyas memasuki suatu ruangan dan kemudian mengganti pakaiannya dengan setelan pakaian steril. Ghiyas adalah seorang dokter, dokter bedah. Dirinya harusnya libur setelah menikah, namun hari itu dia masuk kerja.
“Loh? Ghiyas? Lo ngapain? Lo bukannya harusnya sama Naya?” pekik rekan kerjanya kaget.
“Enggak ada pasien darurat buat lo. Lo tau, Kevin udah handle semuanya buat lo. Lo enggak usah khawatir ada pasien atau apalah. Lo mending fokus sama istri lo dulu!” ujar rekannya yang lain.
“Gue sempat berpikir gimana kalau gue ada pasien darurat di hari pernikahan gue, dan gue khawatir untuk ninggalin Naya kalau-kalau malam setelah pernikahan gue, gue dapet job juga. Tapi lo tau apa? Itu enggak kejadian, dan malah kejadian sama Naya. Gue ditinggal di hotel pagi ini.”
Rekannya yang sama-sama sedang bersiap langsung menghentikan aktivitasnya. Mereka menatap Ghiyas dengan perasaan terkejut setengah mati. Biasanya, pekerjaan darurat berlaku untuk dokter. Namun, apa pekerjaan Naya hingga dirinya mendapatkan ‘pasien darurat’ juga.
“Memangnya Naya kerja apaan?”
“Dia kerja kantoran, setahu gue. Padahal bukannya itu kerjaan yang enggak berat dan enggak mungkin ada yang darurat. Gue enggak tau posisi dia, tapi gue rasa itu enggak bisa ditoleransi.” Ghiyas misuh-misuh, melampiaskan kesalnya pada rekannya.
“Lo yakin mau masuk kamar operasi dengan keadaan begini?”
“Satu-satunya yang bisa bikin gue tenang itu masuk kamar operasi. Karena gimana pun, gue harus tenang dan sesantai mungkin di dalam sana.” Ghiyas mengangguk dengan yakin.
Ghiyas kemudian memasuki ruangan yang sudah disiapkan. Dan bersama dengan rekan tim medisnya, Ghiyas sekarang bersiap untuk mulai pembedahan.
Pria itu tampak menggoda di balik pakaian berwarna hijau itu. Masker yang menutup setengah wajahnya tidak menutup setengah dari ketampanannya. Dan bisa-bisanya Naya meninggalkan pria setampan itu di malam pernikahannya.
Sementara itu, Naya juga berada di tempatnya bekerja. Dia mondar-mandir membantu timnya yang sedang diserbu oleh berbagai pihak lantaran sistem yang sedang eror tadi malam.
“Untuk surel pengajuan keluhan tolong dibalas satu-satu. Kelompokan keluhan sesuai dengan keluhannya. Pihak pengajuan keluhan kadang salah dalam mengelompokkan keluhan. Coba dibaca ulang di bagian keterangan!” ujar Naya.
Naya kemudian kembali ke kursinya. Dia kemudian menghubungi seseorang.
“Tolong diberitahukan untuk tidak mengajukan keluhan dua kali, karena akan masuk ke spam. Setelah mengajukan keluhan, tolong dicek dalam waktu 24 jam kerja!”
Seharian itu, Naya sangat sibuk. Hingga begitu waktu menjelang gelap, Naya dan tim bersorak ria lantaran berhasil mengurus suatu permasalahan kantornya dengan cepat.
Naya melakukan tos secara besar-besaran di ruangan tersebut dengan anggota timnya. Dan setelah menyelesaikan pekerjaannya, barulah dalam benaknya teringat akan sosok suaminya.
“Naya, ayo kita makan BBQ! Kita dihadapkan masalah ketika kita mendekati weekend. Saatnya bersenang-senang!” ajak rekannya sambil menghampiri Naya.
“Enggak dulu. Gue harus pulang cepat hari ini.” Naya melirik jam tangannya.
“Adik lo masih sakit? Lo pasti bergadang semalam karena masalah ini. Belum lagi kemarin lo sampai enggak masuk karena adik lo yang sakit.” Dara, rekannya itu tampak prihatin.
“Ah, iya.” Naya terkekeh kecil, dia membohongi kantor tentang ketidakhadirannya kemarin.
Alasan Naya tak mendapatkan cuti menikah adalah karena Naya tak pernah mengabari kantornya tentang pernikahannya. Karena kantornya memiliki sistem di mana seseorang yang sudah menikah tidak boleh menduduki jabatan sebagai kepala. Sementara dirinya adalah seorang ‘kepala’ itu.
Dan tak ada yang memberikannya selamat atas pernikahannya. Tak ada yang membicarakan soal bagaimana hebatnya pesta pernikahannya kemarin. Tak ada yang membicarakan soal suaminya juga.
Naya agaknya menyesal karena meninggalkan Ghiyas yang pastinya kesal sekarang. Namun, Naya berusaha menghubungi Ghiyas, setidaknya besok adalah hari Sabtu, dirinya libur bekerja.
Naya menelepon Ghiyas, walau penuh perasaan ragu dan agak takut untuk menjelaskannya pada Ghiyas. Dia tahu, Ghiyas berhak marah padanya. Namun saat Ghiyas mengangkat telepon, Naya menjadi sedikit lega karenanya.
“Halo, Mas? Mas di mana?” tanya Naya.
[“Baru ingat punya suami?”]
“Mm ... Maaf,” ucap Naya.
Enteng sekali baginya mengucapkan maaf dari semalam. Dan berbanding terbalik dengan hatinya yang seolah tak merasa bersalah sama sekali meski mengucap maaf.
“Naya bakal tebus kesalahan Naya. Mas di mana? Biar Naya yang ke sana.”
[“Enggak usah.”]
“Mas marah? Mas ngambek? Mas di rumah? Atau Mas di rumah sakit? Naya harus ke mana?”
[“Enggak usah ke mana-mana.”]
Naya mengulum bibirnya.
“Naya ke apartemen Mas?”
Ghiyas ingin rasanya marah pada Naya. Jika dirinya tak ingat mereka baru menikah, dan dirinya sedang ingin bersama dengannya, maka Ghiyas sungguh akan mengabaikan Naya.
[“Di rumah sakit.”]
“Okay, Naya ke sana. Mau dibawain apa? Kopi? Donat? Roti?” Naya berusaha membujuk Ghiyas agar setidaknya tidak marah.
Naya berjalan di koridor, dia mendatangi Ghiyas ke rumah sakit tempat Ghiyas bekerja. Dengan membawakan makanan sebagai bahan untuk memperbaiki hubungannya dengan Ghiyas. Dia sadar betul telah melakukan kesalahan, namun seolah tak menyesalinya sama sekali.
Berpapasan dengan beberapa dokter dan perawat lainnya, mereka sempat terkejut melihat Naya di sana. Membuat Naya mengerti jika mereka pasti rekannya Ghiyas. Naya lantas membungkuk memberikan sapa dan tersenyum ramah.
“Naya, ya? Ke sini pasti nyari Ghiyas? Dia memang gitu, gampang ngambek. Maklumin, ya!” Rekan Ghiyas tersebut menggodanya.
Naya hanya tersenyum membalasnya. Dan rekannya tersebut membantu Naya untuk bertemu dengan Ghiyas yang sedang bersiap untuk pulang di sebuah ruangan. Naya memasuki ruangan tersebut dan mendapati Ghiyas yang sedang menggunakan jasnya.
“Kamu lama,” ucap Ghiyas dengan agak dingin menyambut istrinya tersebut.
Naya menarik bibirnya canggung. Di ruangan itu terdapat sofa dan terlihat beberapa rekan Ghiyas yang lainnya yang menatap ke arah Naya. Naya tersenyum canggung menyapa mereka.
“Kan, tadi beli ini dulu.” Naya menghampiri Ghiyas dan menyodorkannya.
“Wah, parah Ghiyas! Biasanya perempuan yang ngambek, terus didatengin cowoknya sambil bawa makanan manis. Ini kebalikannya.” Rekan-rekannya langsung bersorak menggoda Ghiyas di sana.
Ghiyas menatapi mata Naya yang kelihatannya lelah. Dia tidak tahu Naya tidak tidur setelah acara dan bahkan pagi-pagi buta langsung menuju ke kantornya untuk urusannya.
Ghiyas jadi tak tega padanya. Akhirnya, Ghiyas meminta Naya duduk bergabung bersama dengan teman-temannya dan Naya membagikan makanan yang dibawanya. Dia tahu, Ghiyas pasti sedang bersama rekannya, yang membuatnya membeli cukup banyak makanan di sana.
Mereka mengobrol bersama di sana. Dan Naya tampak sempat tak nyaman. Naya melihat ke bawah, ke kakinya. Di mana Naya ingin rasanya melepaskan sepatu hak tingginya itu. Dan Naya sempat melepaskannya sedikit, untuk melihat kakinya lecet atau tidak. Dan sayangnya iya.
Ghiyas memperhatikan Naya. Melihat kakinya yang lecet, itu membuat Ghiyas menghela nafasnya.
Setelah beberapa saat, Ghiyas dan Naya akan pulang. Sebelum pulang, Ghiyas membawa Naya menuju ke lokernya. Dan Naya hanya mengikuti Ghiyas, dia mengekor di belakangnya.
“Tadi ke sini pakai apa?” tanya Ghiyas.
“Taksi online,” jawab Naya.
“Kamu enggak bisa pakai motor atau mobil?” tanya Ghiyas lagi.
“Mobil bisa. Cuman, karena dari hotel enggak bawa mobil, jadinya enggak pakai mobil.”
Ghiyas mengeluarkan sebuah sandal yang tampak santai dan nyaman. Kemudian menaruhnya di depan kakinya Naya. Hal tersebut membuat Naya mendongkrak menatap suaminya yang tinggi.
“Pakai! Kakimu bukannya lecet?” Ghiyas tampak masih kesal, namun dia cukup perhatian.
Itu membuat Naya menyengir lugu karena Ghiyas peka terhadapnya. Naya lantas melepaskan sepatu hak tingginya dan menggunakan sandal itu. Kakinya sungguh terasa lega sekarang.
“Makasih,” gumam Naya pelan sambil tersenyum malu-malu.
Ghiyas hanya balik tersenyum.
Mereka pulang bersama. Berjalan di koridor sambil berpegangan tangan dan membuat perhatian beberapa orang teralihkan. Ghiyas membawa Naya ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
Di perjalanan pulang, Ghiyas melirik Naya yang belum membicarakan apa-apa tentang hari ini.
“Tadi siang orang tua kamu menanyakan tentang kabar kamu,” ucap Ghiyas mengawali.
“Mas bilang apa sama mereka?” tanya Naya sambil menatap Ghiyas dengan perasaan waswas.
“Mas bilang kamu kabur dari hotel,” jawab Ghiyas dengan enteng.
“Mas bilang gitu? Terus mereka bilang apa?” Naya tampak panik sendiri.
“Enggak mungkin Mas bilang gitu. Mas bilang kamu sama Mas lagi jalan-jalan dan kamu lagi di toilet. Kenapa kamu kabur dari hotel? Kenapa kamu ninggalin Mas kayak gitu?” tanya Ghiyas kesal.
Naya menghela nafasnya. Setidaknya orang tuanya tidak tahu tentang ini.
“Ada urusan mendadak di kantor,” jawab Naya seadanya.
“Urusan mendadak apa, sih? Kamu enggak resign aja? Kamu udah nikah, kamu tanggungan Mas mulai sekarang. Mas bakal kasih kamu uang tiap bulannya.”
“Mana bisa resign gitu aja, Naya harus cari dulu pengganti Naya nantinya.”
“Terus? Kamu mau tetap kerja padahal kita udah nikah?”
“Apa salahnya?”
“Yang kamu lakukan hari ini, itu salah. Dari semalam, malah. Kamu malah bekerja di saat seharusnya waktu kamu itu buat Mas. Mas paling enggak suka sama pelanggaran hak kayak gitu,” omel Ghiyas.
“Itu enggak akan terjadi lagi, Naya janji.” Naya langsung mengangkat tangannya sebagai simbol janji.
Ghiyas melirik Naya dan kemudian mendengus.
“Nay, kamu kerja di perusahaan swasta, kan? Mereka sebenarnya memberi kamu cuti nikah enggak, sih? Ada yang aneh sama perusahaan tempat kamu kerja. Masa iya, dikasih cuti tapi masih diandalkan kalau di perusahaan kenapa-napa.” Ghiyas masih memprotes.
“Dikasih, kok. Kan, udah dibilangin kalau itu darurat, cuman darurat aja.” Naya masih kekeh.
Ghiyas akhirnya hanya menghela nafasnya. Toh, sudah berlalu juga. Dan Naya juga mau menebus kesalahannya, itu cukup baginya. Walau tetap saja rasanya ada yang mengganjal sekarang.
“Mas jangan gampang ngambek, dong. Nanti Mas makin kelihatan tuanya,” ledek Naya dengan suara pelan, seolah dia hati-hati dengan ucapannya.
Dan Ghiyas lantas terkekeh. Benar adanya, dirinya berbeda tujuh tahun dengan Naya.
“Tiga puluh tahun enggak setua itu, kok.” Ghiyas melirik Naya dengan sok sinis.
“Memang, sih. Buktinya Mas sekarang masih ganteng,” puji Naya sambil tersenyum centil.
Naya melakukannya bukan tanpa tujuan, tapi agar dirinya bisa membiasakan diri bersama dengan Ghiyas. Perbedaan usia pasti akan menimbulkan banyak perbedaan pemikiran di antara mereka.
***
Tiba di apartemen Ghiyas, Naya langsung mandi lebih dulu. Karena dia mengaku tak mandi pagi ini. Dan Ghiyas mandi setelahnya. Karena di apartemen Ghiyas hanya ada satu kamar dengan satu kamar mandi. Mereka akan berbagi tempat tidur tentunya.
Dan Ghiyas terpikir tentang sesuatu yang harus dia bicarakan dengan Naya.
“Nay, seperti yang kamu bilang tadi di mobil. Mas udah tua. Mas mau punya bayi,” ucap Ghiyas sambil mendekati Naya yang tengah anteng duduk di atas kasur.
Naya langsung menatap ke arah Ghiyas dengan matanya yang melebar. Terlihat keterkejutan di dalam dirinya. Dan itu membuat Naya jadi salah tingkah.
“Kemarin kamu sempat menawarkan diri duluan. Enggak mau menawarkan diri lagi?” tanya Ghiyas menggodanya tentang yang terjadi kemarin.
Ghiyas duduk di sisinya, bicara menghadap Naya yang sekarang menegang dan membuatnya gugup.
“Apa enggak terlalu terburu-buru kalau soal bayi? Kita baru menikah. Kita belum menikmati masa-masa baru menikah kita, loh,” ucap Naya.
“Kamu mau menikmati masa-masa baru menikah kita kayak gimana emang? Holiday?”
Naya lantas menganggukkan kepalanya dengan ragu. “Boleh, tuh.”
“Kalau kamu positif, Mas bawa kamu ke mana pun kamu mau. Gimana?” Ghiyas mendekatkan wajahnya.