Bibir Kiara terkunci ketika mendengar pembicaraan Mimi dan Andra. Tapi mungkinkah kedua orang tuanya memang sudah sudah berbohong selama ini. Rasanya dia tidak percaya jika selama sembilan belas tahun mereka menyembunyikan kenyataan. Kakinya melangkah dengan berat menuju ke dalam kamar. Ruangan yang selalu membuat selalu berkeringat ketakutan setiap malamnya. Membayangkan jika nanti menjadi istri dari Andra yang terlihat sangar menatap pada tubuhnya.
Pintu kamar dibuka, tidak ada gairah sama sekali Kiara membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk dan mematikan lampu. Kamar yang gelap, segelap hatinya kuat menghadapi cobaan. Bersyukur saja masih ada yang mau menampung dirinya, meskipun dengan syarat yang sangat berat, menjadi istri muda. Selama ini Kiara tidak menjalin asmara dengan laki- laki manapun. Karena sadar akan kondisinya seorang gadis miskin.
Ketika mata terpejam, dia teringat dengan kedua orang yang selama ini mengasihi dan menyayangi dirinya. Ternyata semua itu hanya palsu. Setetes air mata mengalir pelan membasahi pipinya yang putih mulus. Meskipun tidak memiliki wajah cantik namun tubuhnya tidak dapat dipungkiri, menarik perhatian para lelaki yang mengenalnya.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya terbuka. Suara langkah kaki mendekat ke ranjang. Namun sayang Kiara tidak dapat melihat siapa yang datang karena lampu sudah ia matikan. Tubuhnya juga terasa sangat berat untuk diajaknya bangun. Hanya diam itu yang ia lakukan, karena mulutnya dibungkam oleh kedua tangan yang kekar.
“Belum tidur?” suara serak yang lirih pernah ia dengarkan.
Terdengar saklar lampu tidur dinyalakan. Nampak sosok pria berdiri di depan ranjang dengan gagah. Kiara sangat terkejut ketika tahu siapa yang sudah masuk ke dalam kamarnya saat ini. Andra dengan mengenakan piyama tidur yang terbuka bagian depan. Perutnya yang datar terlihat sangat jelas dan menodai mata Kiara yang selama ini tidak pernah melihat pria tanpa penutup.
“A ... a-ada apa Om masuk ke kamarku?” tanyanya gugup, namun terasa tubuhnya tidak mampu bergerak.
“Sedikit memberi pelajaran buat kamu, yang sudah dengan lancang pergi tanpa pamit,” jawab Andra dengan tegas.
“Apa? Jangan, Om! Jangan ...! Bukannya aku tidak pamit, melihat kalian bermesraan aku tidak mau ganggu aja,“ ucap Kiara bergetar dengan menutup wajah dengan kedua tangan.
“Hahaha ... makanya nurut sama kami, kamu juga tidak akan kesulitan hidup. Besuk kita nikah jangan membuat aku marah lagi!”
Kiara terkejut dan langsung bergerak untuk duduk. Namun sayang, tangan Andra dengan cepat menahan tubuh Kiara supaya tetap dalam posisi tidur terlentang di ranjang. Kiara ketakutan dengan menggigit kedua tangannya.
“Apa Om, besuk?”
“Iya, asal kamu tahu. Jika kamu tidak segera aku nikahi, tidak ada lagi orang yang akan melindungi kamu.”
“Aku belum siap Om.”
“Siap atau tidak, kamu harus siap! Apa kamu tadi tidak mendengarkan apa yang dikatakan istriku?” ucapnya cukup membuat Kiara tersudut.
“I-iya Om, aku bisa apa jika memang ini memang jalan hidupku,” keluh Kiara tanpa sanggup menggerakkan tubuhnya.
“Kamu tahu aku tidak sembarangan dalam memilih calon istri. Kemarin Mimi yang mencarikan istri buatku, tapi kali ini bukan hanya dia yang memilihmu, tapi aku juga aku. Harusnya kamu bangga masih ada orang kaya yang mau dengan tubuh jelekmu itu.”
“Ma-maksud Om Andra apa? Aku tidak mengerti,” tanya Kiara sambil berusaha menggerakkan tubuhnya yang tertindih tubuh kekarnya Andra. Dia mau teriak tapi percuma. Rasa ketakutan sudah mendominasi hati dan pikirannya.
Andra mulai menyentuh rambut Kiara dengan lembut. Matanya menatap tubuh yang tertutup dengan selimut seakan ingin melahapnya. Deg-deg-an jantung Kiara, menerima sentuhan hangatnya. Air mata yang tadi mengembun berganti dengan rasa takut yang hebat.
“Jangan takut, menangislah jika itu bisa mengurangi beban yang ada di dalam hatimu,” lirih terdengar suara Andra membuat Rara sedikit terkejut. Sangat jauh berbeda dengan yang dilakukan di taman belakang.
Entah magnet apa yang membuat Kiara jatuh ke dalam pelukan Andra. Awalnya hanya ingin beristirahat dengan tenang, kini tumpah air matanya karena mengingat nasib buruk yang menanti di depannya.
“Sini! Menangislah sepuasmu, aku akan menjagamu. Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri. Meskipun itu hanya di atas kertas. Ingat kamu sekarang milik kami, jangan coba-coba untuk lari!” ucap Andra dengan nada rendah.
Kiara tidak mampu lagi berkata, karena tangan Andra segera mendongakkan kepalanya dan dengan lembut menyentuh bibir. Kedua bibir menempel dengan hangat tanpa ada penolakan. Perlahan menerima semua perlakuan Andra dengan hati berdebar. Kepala Kiara tertahan dengan kedua tangan Andra hingga sentuhan itu semakin menuntut untuk dibalas.
Pikiran yang buntu dan bingung saat itu sudah tidak dapat cerna kembali. Perlakuan lembut darinya membuat sedikit melupakan kesedihan Kiara. Rupanya Andra memanfaatkan keadaan ini. Kiara begitu nyaman berada di dalam pelukannya bahkan gelora yang ada di dalam sudah membuncah tidak dapat di kendalikan lagi. Semenjak dia tinggal di rumah itu memang terasa ada yang berbeda dengan jiwanya.
“Nikmati saja aku akan membuat kamu sedikit melupakan kesedihan kamu,” ucapnya sangat lembut bahkan tidak sama dengan kemarin saat bersama dengan istrinya.
Hanya anggukan yang dapat ia lakukan karena bibirnya langsung menyambar bibir Kiara tanpa memberi kesempatan untuk menjawabnya. Tentunya ia sangat menikmati perlakuan dari pria dewasa ini sungguh seperti narkoba yang membuat selalu kecanduan.
Tangan yang kekar itu tidak pernah lepas memeluk yang pelahan mulai menyentuh sesuatu yang membuat sangat terkejut. Rasanya seperti malam-malam lalu yang selalu membuatku berkeringat. Rasa yang sama dan itu sangat nyata bukan hanya mimpi.
“Om ... ??”
“Tidak perlu banyak bicara nikmati saja dan diam!”
Kiara begitu terhanyut ke dalam pelukan pria dewasa ini. Begitu menangkan jiwanya yang sedang dilanda kesedihan. Andra yang akan menjadi suami Kiara begitu pintar membuat hati gadis itu merasa diaduk-aduk dengan kenyaman yang diberikan. Mereka tanpa sadar saling menuntut untuk melanjutkan. Di dalam hati Kiara Andra sudah membuat rasa yang berbeda di dalam hatinya tidak bisa dihentikan. Tidak ada paksaan semua dilakukannya dengan penuh kelembutan.
Tidak sedikitpun Andra memberi kesempatan untuk bicara. Kiara juga tidak bisa menolaknya bahkan akan selalu menginginkannya. Hingga merasakan lelah dan tertidur di dalam pelukan Andra. Dia tidak perduli lagi dengan kondisinya, hanya ingin terlelap dalam mimpi dan tidak ingin bangun kembali.
Keesokan harinya Kiara terjaga di bawah selimut tebal karena ada sentuhan lembut yang menyapa bibirnya yang masih dingin.
“Bangun! Sudah siang, kita bersiap ke catatan sipil mendaftarkan pernikahan kita.”
“Hah ...! Se-sekarang Om?” tanya Kiara dengan pupil masih kecil.
“Iya aku tidak mau melakukan hal bodoh jika belum sah menikah dengan kamu.”
“Hah ... apa om? Aku tidak paham.”
“Sudah ayo mandi dulu pasti Mimi sudah menunggu sejak tadi, aku juga mau mandi,” ucapnya tidak lupa menyentuh lagi bibir Kiara sangat lama. “Ma-maaf aku tidak bisa menahannya jika melihat kamu,” ucap Andra sambil mengacak rambut Kiara dengan gemas. Andra kemudian menggendongnya menuju kamar mandi.
“Aku bisa sendiri Om,”pinta Kiara berusaha lepas dari gendongan Andra.
“Jangan membantah! Atau kamu ingin aku melakukannya lebih dari ini?” ucap Andra tepat di telinga Kiara.
Dalam hati Kiara menjerit, antara perasaan suka dan tidak suka. Apalagi mereka belum sah menjadi pasangan suami istri. Kiara membayangkan bagaimana reaksi dari Mimi, istri pertama Andra jika melihat sikap suami di belakangnya. Kiara tidak punya pilihan, hanya bisa bisa pasrah menikmati semua perlakuan dari Andra yang benar-benar lihai dalam memikat perempuan dengan rayuan mautnya.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Kiara dibiarkan sendirian membersihkan badan. Demikian pula dengan Andra. Dia memilih membalikan badan saat Kiara mulai aktifitas mandi hingga selesai.
“Mengapa Om Andra nungguin aku?”
“Jangan GR, itu biar kamu cepat saja selesainya. Supaya kita cepat sah nantinya.”
Kembali Andra memeluk erat calon istrinya setelah berpakaian lengkap, ia bahkan melupakan istri pertama yang sudah siap meledak di kamar sebelah. Segera Andra meninggalkan Kiara yang sedang berhias tipis di depan cermin. Dia keluar dengan keadaan rapi. Mimi yang ada di kamar sebelah, mengepalkan tangan dan siap menerkam suaminya.
"Awas kamu, Mas. Aku tidak segan-segan membuat perhitungan dengan kamu dan gadis itu!!"
Memasuki kamar utama milik Andra dan Mimi. Sepasang suami istri yang masih misteri dengan rencana gila mereka. Tetapi kali ini Andra merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat wajah istri yang selama ini mendampinginya itu, berdiri dengan tatapan tajam menghunus ke arahnya.
“Kamu sudah apakan saja Kiara semalam?” suara dingin terdengar dari bibir Mini yang berwarna merah darah.
Andra tersenyum tidak menanggapi amarah Mimi. Mendekati istinya dan mulai memberikan kesenangan yang Mimi suka hingga warna di bibir Mimi pudar. Sejenak tidak ada yang bicara. Mereka terlalu sibuk dengan aktifitasnya hingga terdengar ketukan di pintu.
Pelayan memberitahu jika semua persiapan pernikahan sudah siap. Keduanya lantas bergegas merapikan diri. Andra yang belum siap secepat kilat mandi dan berganti pakaian. Jantungnya berdegup kencang, menantika momen pernikahannya hari ini.”
Berbeda dengan Mimi, wajahnya terlihat cemberut tidak bersinar sama sekali. Andra mendekati istrinya, “Sayang, kamu kenapa? Kog nggak seperti waktu aku nikah dengan Nia dulu. Ini kan permintaan kamu juga.”
“Beda dong, Mas. Entahlah, aku sangat khawatir sekali kali ini. Nia beda dengan Kiara. Dia wanita ular, tidak mencintai kamu.”
“Apa kamu pikir Kiara juga cinta ama aku? Udahlah, jangan banyak pikiran. Ingat kesehatan kamu, aku sayang kamu Mimi,” ucap Andra memeluk Mimi dengan erat.
“Aku takut, takut sekali jika kamu tinggalin aku, Mas,” ucap Mimi hampir terisak.
“Stt … sudah jangan nangis. Nanti luntur semua make upnya. Tidak akan aku tinggalin kamu, percaya sayang.”
Mereka akhirnya keluar dari kamar, karena ketukan di pintu kembali terdengar. Mimi dan Andra berjalan menju ruang makan. Tidak terlihat Kiara di sana, Mimi geram dan memanggil pelayan, “Bik, cepat panggil Kiara! Lama amat nih anak. Baru juga mau jadi pengantin, udah mau melawan kayaknya.”
Andra yang melihat istrinya berteriak hanya terdiam. Duduk di samping Mimi, dan menggenggam erat tangan istrinya itu. Tidak berapa lama, Kiara datang dengan mengenakan gaun yang indah pembelian Mimi. Semuanya sudah mereka persiapkan tanpa menungu persetujuan dari gadis itu. Mereka mulai makan pagi dengan suasana dingin tak satupun yang mengeluarkan suara.
Acara pernikahan Andra dan Kiara yang menjadi istri ke tiga, dilakukan di dalam rumah. Mereka mengundang penghulu yang sudah datang sejak satu jam lalu. Beruntung tidak banyak Job untuk acara pernikahan, jika tidak mereka pasti sudah ditinggakan.
Setelah selesai acara ijab khobul, para tamu saksi pernikahan pulang dengan membawa oleh-oleh dan amplop. Mimi dan Andra sudah tidak mempunyai lagi keluarga. Mereka menyewa para tetangga untuk menjadi saksi. Seperti ketika Andra diminta Mimi untuk menikahi Nia, dahulu. Nia gagal menjadi istri ke dua yang baik, dan ketahuan selingkuh dan meninggal karena kecelakaan bersama selingkuhannya.
Mimi membawa Andra dan Kiara ke taman belakang. Tempat itu adalah tempat favorit untuk Mimi setiap hari. Menatap wajah Andra yang sesekali ketahuan melirik kea rah Kiara. Hari ini Kiara Nampak cantik dengan balutan kebaya dan terlihat natural. Berbeda jauh dengan Mimi yang menggunakan riasan tebal dan menyala.
“Mas, mulai sekarang memang sudah sah menjadi suami istri. Tapi ingat semua aku yang atur! Kalian boleh tidur bersama sesuai dengan perintahku, hanya sampai Kiara mengandung anakku nanti,”
Tidak ada yang berani menyela ucapan Mimi, bahkan Andra hanya mencium tangan istri pertamanya itu dengan lembut di hadapan Kiara. Mimi dengan napas terlihat memburu menatap madunya dengan tatapan tajam.
“Ingat Kiara! Posisi kamu hanya orang yang melahirkan anak aku dan Mas Andra. Kamu harus tahu, aku tidak bisa hamil karena punya kanker yang mematikan. Jika sampai kamu ingkar, bahkan sampai matipun aku tidak rela kalian bersama.”
Seketika Kiara menatap wajah Mimi tanpa kedip. Terkejut mendengar pengakuan istri pertama Andra yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali. Meraih tangan kiri Mimi, yang menganggur dan memegangnya dengan erat.
“Mbak Mimi sakit? Sakit apa? Sudah berobat?” rentetan pertanyaan dari Kiara bukan menambah Mimi bersimpati. Tangan putih mulus yang sudah ada cincin kawin itu, dihempaskan dengan keras. Membuat Kiara hampir saja terjatuh. Untung segera ditolong Andra dengan cepat. Hal ini membuat Mimi bertambah geram dan menatap ke arah Andra.
“Mas Andra, maunya apa? Oh, sudah mulai membela gadis kecil ini rupanya,” ucap Mimi dengan nada sinis menatap Andra.
“Sabar, sayang. Kamu sedang emosi, mungkin kecapekan. Ayo kita ke kamar saja,” ucap Andra sambil memberikan kode supaya Kiara diam.
Merekapun masuk ke dalam kamar, suara Mimi terdengar sangat keras memenuhi isi kamar. Andra yang berusaha menenangkan dirinya hampir saja kewalahan. Melihat Mimi semakin histeris, Andra mengambil sesuatu di dalam kotak obat tanpa sepengetahuan istrinya. Dia memasukkan ke dalam gelas yang berisi air putih dan memberikannya kepada Mimi, istrinya.
Tanpa ragu, Mimi meminum air pemberian Andra. Beberapa menit kemudian dia tertidur di ranjang dengan pakaian yang masih lengkap setelah acara pernihakan Andra dengan Kiara siang tadi. Dengan menarik napas lega, Andra segera membuka pakaian istrinya dan menggantikan dengan pakaian tidur. Menatapnya sesaat dengan mata mengembun.
“Maafkan aku Mimi, aku tidak bisa menjaga hatiku hanya untuk kamu. Aku sayang sekali dengan kamu, cepat sembuh sayang, love you,” ucapnya sambil mengulum lembut bibir yang dulu membuatnya tergila-gila.
Kemudian setelah berganti pakaian, Andra keluar dan masuk ke dalam kamar Kiara. Membuat gadis itu terkejut karena baru saja membersihkan diri dan berhanti pakaian. Suasana Nampak canggung, tidak seperti tadi malam yang hangat dan nyaman bagi Kiara. Andra duduk di samping ranjang dan meminta Kiara untuk ikut duduk di sampingnya.
“Kiara, maafkan aku. Mimi berbuat kasar seperti itu kepadamu,” ucap Andra sambil menunduk dan meraih tangan istri ketiganya itu ke dalam genggaman tangannya.
“Maksud, Om a-apa?” ucap Kiara gagap dan bingung. Terlihat sikap yang berbeda dari Andra sejak tadi malam.
“Kamu lupa, jangan panggil aku Om, tapi jangan juga Mas,” pinta Andra menatap Kiara dengan intens.
“Lantas apa? Oh, aku panggil KaKak aja, gimana?” ucap Kiara malu-malu.
Tangan Kiara yang sejak tadi berada di genggaman Andra, beralih ke bibir pria dewasa itu. Pria yang baru saja menikah dengan Kiara beberapa jam yang lalu. “Good, aku suka itu, sekarang kamu bersiap mumpung Mimi sedang tidur.”
“Mak-maksudnya?”
“Masak kamu kagak tahu, malam pertama pengantin baru,” ucap Andra dengan nada tinggi.
“Tapi-tapi ….”
Belum selesai Kiara bicara, Andra sudah menyambar tubuhnya dengan himpitan. Tidak ada kesempatan untuk gadis yang baru beranjak dewasa itu melepas belitan Andra. Bahkan semakin berontak semakin Andra seperti cacing kepanasan. Hingga pada puncaknya, “Shittt … kenapa kamu kagak ngomong sejak tadi kalau sedang palang merah?” ucap Andra dengan napas memburu.
“Tadi Kiara mau ngomong, tapi Kak Andra keburu ….”
“Agrh … sudahlah! Sial betul aku hari ini,” ucap Andra seraya membereskan pakaiannya yang berantakan dan pergi dari kamar Kiara tanpa menutup pintu.
Kiara yang ditinggal sendiri bengong tanpa dapat berbuat apapun. Setelah tersadar akhirnya menutup pintu kamar. Menghempaskan tubuh ke atas ranjang dengan keringat yang dia biarkan kering terkena sapuan AC di dalam kamar.
Sementara Andra sudah keluar dari rumah, dan pergi ingin menuntaskan hasratnya bersama wanita bayaran. Tetapi belum sempat dia menjamah wanita yang dipesan, dia teringat dengan kedua istrinya yang ada di rumah. Selama ini meskipun hasratnya tertahan karena penyakit yang diderita oleh Mimi, Andra tidak pernah bermain dengan wanita yang bukan istri sahnya.
Sementara Mimi yang sudah bangun dari pengaruh obat tidur yang diberikan Andra. Tersadar tidak mendapati suaminya di dalam kamar.
“Ke mana tuh, Mas Andra? Bisa-bisanya aku ditinggal sendirian di dalam kamar. Awas, aku tidak akan tinggal diam jika kamu mengingkari janji, Mas! Akan kubawa sampai mati, jika hal itu sampai terjadi.”
Mimi berjalan sempoyongan ke luar dari kamarnya. Niatnya pergi ke kamar Kiara yang ada di sebelah. Hatinya sudah dipenuhi dengan kobaran api cemburu. Semenjak Andra dan Kiara mengucapkan kata SAH di depan penghulu, sakit dan sesak dadanya. Tidak rela jika Andra tidur bersama dengan Kiara. Padahal awalnya dia sendiri yang mengusulkan untuk menjebak Kiara dengan surat perjanjian.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang membuatnya risih. Dia teringat ketika malam pengantin dengan Andra, memutar lagu kesayangannya itu. Lagu tentang cinta, dari artis Nyndi. Rasa sesak dada Mimi dan kembali ke dalam kamarnya.
“Kurang ajar Kiara. Beraninya menggoda suamiku. Sudah mulai berani dia sekarang. Dasar cewek kegatelan, kagak tahu terima kasih. Awas kamu Kiara! Aku tidak akan main-main dengan ancamanku!” ucap Mimi dengan nada geram.
Kesesokan harinya, Andra yang baru datang dari luar, hanya minum-minum sempoyongan membuka kamar Kiara. Dia tidak sadar, jika Mimi menatap dengan mata tajam ke arahnya.
“Dari mana? Kurang bersenang-senang semalaman?” tuduh Mimi tepat di samping Andra.
Andra mencoba mengerjakan matanya, mengucek berapakali memastikan yang ada di depannya adalah Mimi. “Sayang, kamu sudah bangun? Ayo kita mandi bareng!”
Mimi segera menepis tangan suaminya yang sedang mabuk berat. Membiarkan Andra sempoyongan berulangkali terjatuh dan bangun kembali. Suara racauan yang keluar dari mulut Andra yang tidak berhenti membuat Mimi bertambah geram.
“Awas kamu Kiara! Aku akan buat perhitungan denganmu sekarang juga!” ucapnya sambil memeluk tubuh Andra yang sudah ambruk di ranjang mereka.
Setelah Andra tertidur, Mimi mencoba mencari tahu tentang teman-teman Kiara. Dia menyuruh orang kepercayaan untuk menyelidikinya. Teman yang bisa diajak untuk kerjasama mempengaruhi dan menjauhkan Kiara dari suaminya.