Bab 1

“Kiara, nanti jangan lupa bawakan aku handuk ke kamar mandi. Oh ya, kamu boleh ikut mandi sekalian,” bisik Andra tepat di telinga Kiara. Membuat gadis itu geli tertahan.

“Jangan membuat Kiara gerah, Om. Kita belum sah menikah, dan Om juga tahu. Ini bukan keinginanku. Jadi jangan berharap banyak dariku nanti,” ketus Kiara sambil menyenggol bahu Andra dan berlalu dari hadapan laki-laki dewasa itu.

“Heh, kamu bisa apa? Wanita sombong lihatlah! Kesombonganmu tidak akan lama! Kamu akan memohon di bawah kakiku nanti ingat itu!” ucap Andra dengan tertawa sangat keras. Hal itu selalu dilakukan saat mereka hanya berdua di dalam kamar Andra, ketika Kiara membersihkan kamar itu.

Seorang gadis cantik sedang melamun memikirkan nasib selanjutnya, dia bernama Kiara. Dia ingin sekali menanyakan sesuatu yang membuat penasaran. Mengapa Andra ingin menjadikan Kiara istrinya. Padahal banyak perempuan cantik dan lebih menggoda dari dia yang hanya seorang gadis miskin. Hidup hanya menumpang dan tidak punya kelebihan apapun juga. Sekolah saja baru lulus SMA, hingga sulit mencari pekerjaan.

Andra seorang CEO tampan dari perusahaan ternama, yang masih memiliki istri sah. Hanya karena kondisi ekonomi membuat Kiara harus rela mendapatkan pekerjaan di keluarga itu, demi membayar hutang keluarganya. Usia yang mendekati kepala 3 tidak membuat seseorang bersikap dewasa. Baik Andra maupun Mimi, istri sahnya selalu mengunggulkan harta di atas segalanya.

Saat ini Kiara tinggal di rumah majikan, sekaligus calon suami. Beberapa hari yang lalu, saat dia baru seminggu tinggal di rumah besar itu, istri dari Andra yang bernama Mimi, dengan terang-terangan meminta dirinya untuk menjadi madu. Syok tentunya saat mendengar permintaaan tidak wajar itu. Namun Kiara tidak berdaya dengan kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan keluar dari rumah Andra. Gaji selama lima tahun sudah dia terima untuk melunasi hutang dan membayar kontrakan rumah keluarganya.

“Om, boleh Kiara tanya kepada Om, mumpung Mbak Mimi tidak ada?” tanya Kiara sesudah selesai makan. Sejak awal Kiara memanggil Andra dengan sebutan Om, atas permintaan Andra sendiri.

Sendok yang dipegang Andra turun di atas piring urung masuk ke mulutnya dan menatap tajam ke arah Kiara. Gadis di hadapannya tertunduk merasa sudah salah bicara hingga membuat Andra marah dan menghentikan aktivitas makan paginya.

“Hem, apa? Jangan bilang minta uang! Cepat menikah denganku? Supaya dapat uang belanja yang banyak?” jawab Andra tanpa melihat ke arah Kiara. “Maaf, hanya penasaran saja. Beri aku alasan yang tepat mengapa Om Andra mau menikah denganku? Selain untuk membayar hutang keluarga,” ucap Kiara sambil memainkan jari di atas pangkuan. Kiara kesal, Andra terlalu sombong dengan hartanya.

“Kamu tahu, mengapa aku berniat menikahimu? Aku lihat kamu cukup cantik untuk melahirkan keturunanku. Aku inginkan anak, dan itu tidak dapat Mimi wujudkankan. Jangan puas dulu saat menjadi istriku! Nanti jika sudah punya anak, kamu tetap pada posisi kamu sebagai pengasuh. Bukan istriku!” tegas Andra.

Kalimat Andra cukup membuat Kiara merasa tertohok. Posisinya sekarang bukan sebagai calon istri yang terhormat. Tetapi tidak lebih dari seorang pembantu yang siap dipecat sewaktu-waktu.

“Camkan itu! Sekarang kamu makan dulu! Jika tidak makan akan membuat kami susah!” ucap Andra dengan kasar.

“Susah bagaimana maksudnya?” tanya Kiara masih dalam rasa terkejut mendengar kenyataan yang pahit ini.

“Pikir, Kiara! Kalau kamu kagak makan bakalan sakit, kita yang susah. Ngerti ...!” ucap Andra setengah berteriak kesal menghadapi Kiara yang tidak paham arah bicaranya.

Ruang makan yang sunyi mendadak menggema dengan bentakan Andra . Hampir semua pembantu datang mengintip dari balik cendela skat dapur. Ruang makan yang berbentuk seperti cafe dengan aksen khas Jawa. Ruang yang dingin, namun tidak dengan penghuni yang sekarang sedang duduk di ruangan itu.

“Ayo, sekarang kamu ikut dengan kita ke taman belakang, biar lebih segar!”

Kiara mengikuti langkah Andra yang sudah semakin berani menarik tangannya dengan sengaja. Tepatnya setengah menyeret Kiara untuk segera jalan ke taman belakang. Hal ini tentu saja membuatnya merasa risih. Selama ini ia tidak berpegangan tangan dengan laki-laki dewasa sedikitpun. Hanya mencium tangan kedua orang tuanya saja.

Sampai di taman ternyata Mimi sudah menunggu duduk di kursi kayu. Mereka berhenti dan saling berpandangan. Andra menghampiri istri pertamanya dan mencium lembut rambut yang tergerai sebahu. Pemandangan yang indah bagi Kiara, mengapa mereka harus melibatkan dirinya masuk ke dalam masalah rumah tangganya? Selama beberapa menit tidak ada yang bicara, hingga suara serang kecil dari bibir Mimi yang merah merona terdengar.

“Kalian kenapa saling diam?” tanya Mimi menoleh ke arah Kiara yang tepat berdiri di belakang Andra. “Nggak ada apa-apa sayang. Ini Kiara, hanya butuh penjelasan dan di sini lumayan segar untuk berbicara. Sebaiknya kamu saja yang bicara, dia akan lebih percaya apa maksud kita sebenarnya. Aku pikir dia bodoh, jika tidak mau menerima permintaan kita. Melahirkan anakku dan hidup serba kecukupan. Bukan begitu sayang?” ucap Andra dengan penuh percaya diri sambil melirik sinis ke arah Kiara.

“Baiklah akan aku jelaskan. Setelah nanti kamu melahirkan anak kami, kamu bebas. Kalian harus bercerai. Ingat! Aku adalah istri sah Mas Andra, kami hanya menginginkan anak yang harus kamu lahirkan. Ingat! Tidak boleh ada rasa diantara kalian. Dan jika kamu melanggar, maka aku akan tuntut kamu,” ucap Mimi terdengar kasar di telinga Kiara. Bahkan dia berbicara tanpa melihat ke arah gadis itu.

“Sebentar, saya masing bingung! Sebenarnya berapa banyak uang yang sudah Mbak Mimi dan Om Andra berikan kepada kedua orang tuaku? Mengapa hidupku harus dipertaruhkan? Dan kalian seperti menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Baiklah, sebenarnya kamu bukanlah anak kandung dari kedua orang tua kamu. Lebih tepatnya kamu anak pungut yang ditaruh di bak sampah. Mereka tidak akan merasa kehilangan kamu sedikitpun,” jawab Mimi tanpa beban.

Terasa petir menyambar di siang hari, Kiara bingung dengan ucapan Mimi. Tidak mungkin kedua orang tua membohongi dirinya. Karena semenjak kacil hingga besar tinggal dan diasuh oleh mereka dengan penuh kasih sayang. Kiara saat ini berpikir, jika Mimi dan Andra sedang memprovokasi dirinya, supaya tidak berbakti kepada kedua orang tuanya.

“Jangan bohong denganku, katakan jika ini tidak benar?” sanggah Kiara dengan napas memburu.

“Buat apa kami bohong kepadamu? Apalagi kamu sebentar lagi akan menjadi maduku dan akan tinggal di sini selamanya. Selamanyaaa ...!” ucap Mimi dengan tertawa sangat keras.

“Cepat katakan! Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku!” teriak Kiara dengan napas semakin memburu. “Dengarkan aku! Dengar baik-baik, kuulangi sekali lagi gadis kecil! Kamu bukan anak kandung mereka. Jadi pikirkan masa depan kamu saja. Jangan membuat diri kamu susah!” ketus Mimi dengan tatapan tajam ke arah Kiara.

“I-ni ... ini pasti ada yang salah …! Ada yang salah …! Jangan bohongi aku, jika niat kalian hanya menjadikan aku sebagai budak. Menyesal aku telah menerima permintaan kalian!”

“Kamu akan menyesali perkataanmu barusan jika tahu kenyataan yang sesungguhnya. Tidak ada gunanya kami bohong. Kamu bisa lihat! Besuk aku antar kamu ke rumah kedua orangtuamu. Tapi ingat! Jangan sampai kamu pingsan sebelum tahu kondisi mereka saat ini!” sahut Andra berdiri berjalan mendekat.

“Tidak ...! Aku tetap tidak percaya, akan aku tanyakan ini kepada kedua orang tuaku. Jangan hasut aku!” tuduh Kiara dengan nada tinggi.

“Percayalah, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari mereka. Kami yang akan menyelamatkan kamu. Kamu sama saja sudah dijual kepada kami. Pada akhirnya kamu akan tahu, yang mereka lakukan. Mereka kanya ingin bersenang-senang dengan uang dari kami,” Mimi terdiam sejenak dan mulai melanjutkan bicaranya, “Buka mata kamu, Kiara! Jangan hanya sekedar menyalahkan kami saja!”

“Stop ...! Aku tidak percaya!” teriak Kiara bertambah marah campur kesal. Sekarang giliran Andra yang mendekatkan diri dengan Kiara. Tampak senyum smirk dari bibirnya mengejek.

“Dan mulai sekarang, kamu jangan panggil aku Om lagi, aku juga bukan Om kamu!” tegas Andra sambil mengelus tangan Mimi di depan Kiara. Entah mengapa hati Kiara seperti sakit melihat pemandangan mesra yang ada di depannya.

“Benarkan yang sudah Om katakan, kamu tidak akan lepas dari kami?” lanjut Mimi membalas dengan remasan tangan dari suaminya.

“Tidak ... ini tidak mungkin! Tidak! Kalian jahat!” jerit Kiara dengan napas memburu menatap tajam keduanya.

“Silakan jika kamu tidak percaya, Mas tolong kamu ambil bukti dan tunjukkan kepadanya!” pinta Mimi mendongak ke arah Andra.

Suaminya mengangguk dan mengeluarkan ponsel dari saku. Andra menelpon sesesorang dan dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Sesaat kemudian keluar dengan map di tangan. Dia menyerahkannya kepada Kiara dengan senyum sinisnya.

Seketika mata Kiara terbuka lebar melihat kenyataan jika bukan anak kandung dari ayah dan ibu yang selama ini merawatnya. Berkas pernyataan yang ia lihat dengan tanda tangan yang sudah dihafal milik ayah dan dan ibunya. Tetapi mengapa mereka tidak mengatakannya sejak dahulu? Apa alasan mereka menyembunyikannya. Lantas Kiara anak siapa?

“Sudah! Kamu tidak usah pikirkan lagi. Sekarang yang terpenting kamu sudah ada di sini dan siap melayani kami dengan status baru kamu nanti. Oh ya, satu lagi! Kamu besuk sebaiknya belajar menjadi pelayan yang baik untuk kita. Ingat status kamu sekarang sudah milik kita,” tegas Mimi tanpa menatap wajah Kiara sedikitpun.

“Seburuk inikah nasibku? Apakah tidak ada pilihan lagi?” keluh Kiara lirih terdengar berusaha untuk tetap tegar menghadapi kenyataan.

“Tidak ada! Semuanya sudah jelas ada di kertas yang kamu pegang, yakin diusia kamu saat ini bisa mengerti perkataanku dengan baik,” sahut Mimi dengan tenang.

“Sayang sebaiknya biarkan dia sendiri dulu! Lagi pula kita sudah menang dengan surat perjanjian ini. Kiara akan menjadi budak kita setelah aku menikahinya. Sayang sekali, kenapa bukan kamu saja yang mengandung anak aku?” ucap Andra dengan melirik Kiara sinis.

Sangat aneh juga mengapa Yanti dengan mudahnya menyerahkan suami untuk menikah dengan Kiara. Jika hanya ingin anak, mereka bisa dengan program bayi tabung. Apa sebenarnya yang mereka rencanakan? Kiara masih belum bisa menerka maksud dari sikap kedua pasangan suami istri ini yang sesungguhnya.

“Tidak, kamu lebih baik bersama Kiara. Dia gadis yang bisa diandalkan, apalagi usianya masih muda. Aku rela dari pada bersama ular bertina di luar sana,” tuduh Mimi terlihat kesal kepada suaminya.

“Terserah kamu saja, aku tidak bisa menolak keinginan kamu. Tapi jangan lupa tetap fokus dengan dirimu sayang,” ucap Andra tersenyum ke arah istrinya.

“Tentu, aku sangat mencintaimu. Tidak akan rela melihat Mas tidak bahagia soal nafkah batin. Hatiku lebih sakit jika kamu bersama wanita ular! Kalau dengan Kiara aku bisa kendalikan selama tinggal di sini bersamaku.”

“Tentu ... tentu saja Sayang. Aku juga sudah lelah dengan ingatan tentang wanita ular itu. Tetapi mau bagaimana lagi, kamu tahu kan kebutuhanku tidak bisa dihindari,” lanjut Andra tanpa memperdulikan Kiara yang masih berdiri di dekat mereka dan bergelut dengan pikirannya.

“Maafkan aku Mas, tapi semuanya sekarang sudah beres. Tinggal menunggu waktu saja.”

“Cerdas sekali istriku ini, jadi semakin sayang aku padamu,” ucap Andra sambil mengecup mesra kesukaannya yang masih terlihat merah segar. Tidak perduli di mana tempatnya, mereka melakukan adegan mesra dan mendebarkan. Kiara hanya melirik dan segera berlalu dari tempat itu dengan tubuh bergetar menahan sesuatu yang siap meledak.

Bab 2

Bibir Kiara terkunci ketika mendengar pembicaraan Mimi dan Andra. Tapi mungkinkah kedua orang tuanya memang sudah sudah berbohong selama ini. Rasanya dia tidak percaya jika selama sembilan belas tahun mereka menyembunyikan kenyataan. Kakinya melangkah dengan berat menuju ke dalam kamar. Ruangan yang selalu membuat selalu berkeringat ketakutan setiap malamnya. Membayangkan jika nanti menjadi istri dari Andra yang terlihat sangar menatap pada tubuhnya.

Pintu kamar dibuka, tidak ada gairah sama sekali Kiara membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk dan mematikan lampu. Kamar yang gelap, segelap hatinya kuat menghadapi cobaan. Bersyukur saja masih ada yang mau menampung dirinya, meskipun dengan syarat yang sangat berat, menjadi istri muda. Selama ini Kiara tidak menjalin asmara dengan laki- laki manapun. Karena sadar akan kondisinya seorang gadis miskin.

Ketika mata terpejam, dia teringat dengan kedua orang yang selama ini mengasihi dan menyayangi dirinya. Ternyata semua itu hanya palsu. Setetes air mata mengalir pelan membasahi pipinya yang putih mulus. Meskipun tidak memiliki wajah cantik namun tubuhnya tidak dapat dipungkiri, menarik perhatian para lelaki yang mengenalnya.

Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya terbuka. Suara langkah kaki mendekat ke ranjang. Namun sayang Kiara tidak dapat melihat siapa yang datang karena lampu sudah ia matikan. Tubuhnya juga terasa sangat berat untuk diajaknya bangun. Hanya diam itu yang ia lakukan, karena mulutnya dibungkam oleh kedua tangan yang kekar.

“Belum tidur?” suara serak yang lirih pernah ia dengarkan.

Terdengar saklar lampu tidur dinyalakan. Nampak sosok pria berdiri di depan ranjang dengan gagah. Kiara sangat terkejut ketika tahu siapa yang sudah masuk ke dalam kamarnya saat ini. Andra dengan mengenakan piyama tidur yang terbuka bagian depan. Perutnya yang datar terlihat sangat jelas dan menodai mata Kiara yang selama ini tidak pernah melihat pria tanpa penutup.

“A ... a-ada apa Om masuk ke kamarku?” tanyanya gugup, namun terasa tubuhnya tidak mampu bergerak.

“Sedikit memberi pelajaran buat kamu, yang sudah dengan lancang pergi tanpa pamit,” jawab Andra dengan tegas.

“Apa? Jangan, Om! Jangan ...! Bukannya aku tidak pamit, melihat kalian bermesraan aku tidak mau ganggu aja,“ ucap Kiara bergetar dengan menutup wajah dengan kedua tangan.

“Hahaha ... makanya nurut sama kami, kamu juga tidak akan kesulitan hidup. Besuk kita nikah jangan membuat aku marah lagi!”

Kiara terkejut dan langsung bergerak untuk duduk. Namun sayang, tangan Andra dengan cepat menahan tubuh Kiara supaya tetap dalam posisi tidur terlentang di ranjang. Kiara ketakutan dengan menggigit kedua tangannya.

“Apa Om, besuk?”

“Iya, asal kamu tahu. Jika kamu tidak segera aku nikahi, tidak ada lagi orang yang akan melindungi kamu.”

“Aku belum siap Om.”

“Siap atau tidak, kamu harus siap! Apa kamu tadi tidak mendengarkan apa yang dikatakan istriku?” ucapnya cukup membuat Kiara tersudut.

“I-iya Om, aku bisa apa jika memang ini memang jalan hidupku,” keluh Kiara tanpa sanggup menggerakkan tubuhnya.

“Kamu tahu aku tidak sembarangan dalam memilih calon istri. Kemarin Mimi yang mencarikan istri buatku, tapi kali ini bukan hanya dia yang memilihmu, tapi aku juga aku. Harusnya kamu bangga masih ada orang kaya yang mau dengan tubuh jelekmu itu.”

“Ma-maksud Om Andra apa? Aku tidak mengerti,” tanya Kiara sambil berusaha menggerakkan tubuhnya yang tertindih tubuh kekarnya Andra. Dia mau teriak tapi percuma. Rasa ketakutan sudah mendominasi hati dan pikirannya.

Andra mulai menyentuh rambut Kiara dengan lembut. Matanya menatap tubuh yang tertutup dengan selimut seakan ingin melahapnya. Deg-deg-an jantung Kiara, menerima sentuhan hangatnya. Air mata yang tadi mengembun berganti dengan rasa takut yang hebat.

“Jangan takut, menangislah jika itu bisa mengurangi beban yang ada di dalam hatimu,” lirih terdengar suara Andra membuat Rara sedikit terkejut. Sangat jauh berbeda dengan yang dilakukan di taman belakang.

Entah magnet apa yang membuat Kiara jatuh ke dalam pelukan Andra. Awalnya hanya ingin beristirahat dengan tenang, kini tumpah air matanya karena mengingat nasib buruk yang menanti di depannya.

“Sini! Menangislah sepuasmu, aku akan menjagamu. Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri. Meskipun itu hanya di atas kertas. Ingat kamu sekarang milik kami, jangan coba-coba untuk lari!” ucap Andra dengan nada rendah.

Kiara tidak mampu lagi berkata, karena tangan Andra segera mendongakkan kepalanya dan dengan lembut menyentuh bibir. Kedua bibir menempel dengan hangat tanpa ada penolakan. Perlahan menerima semua perlakuan Andra dengan hati berdebar. Kepala Kiara tertahan dengan kedua tangan Andra hingga sentuhan itu semakin menuntut untuk dibalas.

Pikiran yang buntu dan bingung saat itu sudah tidak dapat cerna kembali. Perlakuan lembut darinya membuat sedikit melupakan kesedihan Kiara. Rupanya Andra memanfaatkan keadaan ini. Kiara begitu nyaman berada di dalam pelukannya bahkan gelora yang ada di dalam sudah membuncah tidak dapat di kendalikan lagi. Semenjak dia tinggal di rumah itu memang terasa ada yang berbeda dengan jiwanya.

“Nikmati saja aku akan membuat kamu sedikit melupakan kesedihan kamu,” ucapnya sangat lembut bahkan tidak sama dengan kemarin saat bersama dengan istrinya.

Hanya anggukan yang dapat ia lakukan karena bibirnya langsung menyambar bibir Kiara tanpa memberi kesempatan untuk menjawabnya. Tentunya ia sangat menikmati perlakuan dari pria dewasa ini sungguh seperti narkoba yang membuat selalu kecanduan.

Tangan yang kekar itu tidak pernah lepas memeluk yang pelahan mulai menyentuh sesuatu yang membuat sangat terkejut. Rasanya seperti malam-malam lalu yang selalu membuatku berkeringat. Rasa yang sama dan itu sangat nyata bukan hanya mimpi.

“Om ... ??”

“Tidak perlu banyak bicara nikmati saja dan diam!”

Kiara begitu terhanyut ke dalam pelukan pria dewasa ini. Begitu menangkan jiwanya yang sedang dilanda kesedihan. Andra yang akan menjadi suami Kiara begitu pintar membuat hati gadis itu merasa diaduk-aduk dengan kenyaman yang diberikan. Mereka tanpa sadar saling menuntut untuk melanjutkan. Di dalam hati Kiara Andra sudah membuat rasa yang berbeda di dalam hatinya tidak bisa dihentikan. Tidak ada paksaan semua dilakukannya dengan penuh kelembutan.

Tidak sedikitpun Andra memberi kesempatan untuk bicara. Kiara juga tidak bisa menolaknya bahkan akan selalu menginginkannya. Hingga merasakan lelah dan tertidur di dalam pelukan Andra. Dia tidak perduli lagi dengan kondisinya, hanya ingin terlelap dalam mimpi dan tidak ingin bangun kembali.

Keesokan harinya Kiara terjaga di bawah selimut tebal karena ada sentuhan lembut yang menyapa bibirnya yang masih dingin.

“Bangun! Sudah siang, kita bersiap ke catatan sipil mendaftarkan pernikahan kita.”

“Hah ...! Se-sekarang Om?” tanya Kiara dengan pupil masih kecil.

“Iya aku tidak mau melakukan hal bodoh jika belum sah menikah dengan kamu.”

“Hah ... apa om? Aku tidak paham.”

“Sudah ayo mandi dulu pasti Mimi sudah menunggu sejak tadi, aku juga mau mandi,” ucapnya tidak lupa menyentuh lagi bibir Kiara sangat lama. “Ma-maaf aku tidak bisa menahannya jika melihat kamu,” ucap Andra sambil mengacak rambut Kiara dengan gemas. Andra kemudian menggendongnya menuju kamar mandi.

“Aku bisa sendiri Om,”pinta Kiara berusaha lepas dari gendongan Andra.

“Jangan membantah! Atau kamu ingin aku melakukannya lebih dari ini?” ucap Andra tepat di telinga Kiara.

Dalam hati Kiara menjerit, antara perasaan suka dan tidak suka. Apalagi mereka belum sah menjadi pasangan suami istri. Kiara membayangkan bagaimana reaksi dari Mimi, istri pertama Andra jika melihat sikap suami di belakangnya. Kiara tidak punya pilihan, hanya bisa bisa pasrah menikmati semua perlakuan dari Andra yang benar-benar lihai dalam memikat perempuan dengan rayuan mautnya.

Sesampainya di dalam kamar mandi, Kiara dibiarkan sendirian membersihkan badan. Demikian pula dengan Andra. Dia memilih membalikan badan saat Kiara mulai aktifitas mandi hingga selesai.

“Mengapa Om Andra nungguin aku?”

“Jangan GR, itu biar kamu cepat saja selesainya. Supaya kita cepat sah nantinya.”

Kembali Andra memeluk erat calon istrinya setelah berpakaian lengkap, ia bahkan melupakan istri pertama yang sudah siap meledak di kamar sebelah. Segera Andra meninggalkan Kiara yang sedang berhias tipis di depan cermin. Dia keluar dengan keadaan rapi. Mimi yang ada di kamar sebelah, mengepalkan tangan dan siap menerkam suaminya.

"Awas kamu, Mas. Aku tidak segan-segan membuat perhitungan dengan kamu dan gadis itu!!"

Bab 3

Memasuki kamar utama milik Andra dan Mimi. Sepasang suami istri yang masih misteri dengan rencana gila mereka. Tetapi kali ini Andra merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat wajah istri yang selama ini mendampinginya itu, berdiri dengan tatapan tajam menghunus ke arahnya.

“Kamu sudah apakan saja Kiara semalam?” suara dingin terdengar dari bibir Mini yang berwarna merah darah.

Andra tersenyum tidak menanggapi amarah Mimi. Mendekati istinya dan mulai memberikan kesenangan yang Mimi suka hingga warna di bibir Mimi pudar. Sejenak tidak ada yang bicara. Mereka terlalu sibuk dengan aktifitasnya hingga terdengar ketukan di pintu.

Pelayan memberitahu jika semua persiapan pernikahan sudah siap. Keduanya lantas bergegas merapikan diri. Andra yang belum siap secepat kilat mandi dan berganti pakaian. Jantungnya berdegup kencang, menantika momen pernikahannya hari ini.”

Berbeda dengan Mimi, wajahnya terlihat cemberut tidak bersinar sama sekali. Andra mendekati istrinya, “Sayang, kamu kenapa? Kog nggak seperti waktu aku nikah dengan Nia dulu. Ini kan permintaan kamu juga.”

“Beda dong, Mas. Entahlah, aku sangat khawatir sekali kali ini. Nia beda dengan Kiara. Dia wanita ular, tidak mencintai kamu.”

“Apa kamu pikir Kiara juga cinta ama aku? Udahlah, jangan banyak pikiran. Ingat kesehatan kamu, aku sayang kamu Mimi,” ucap Andra memeluk Mimi dengan erat.

“Aku takut, takut sekali jika kamu tinggalin aku, Mas,” ucap Mimi hampir terisak.

“Stt … sudah jangan nangis. Nanti luntur semua make upnya. Tidak akan aku tinggalin kamu, percaya sayang.”

Mereka akhirnya keluar dari kamar, karena ketukan di pintu kembali terdengar. Mimi dan Andra berjalan menju ruang makan. Tidak terlihat Kiara di sana, Mimi geram dan memanggil pelayan, “Bik, cepat panggil Kiara! Lama amat nih anak. Baru juga mau jadi pengantin, udah mau melawan kayaknya.”

Andra yang melihat istrinya berteriak hanya terdiam. Duduk di samping Mimi, dan menggenggam erat tangan istrinya itu. Tidak berapa lama, Kiara datang dengan mengenakan gaun yang indah pembelian Mimi. Semuanya sudah mereka persiapkan tanpa menungu persetujuan dari gadis itu. Mereka mulai makan pagi dengan suasana dingin tak satupun yang mengeluarkan suara.

Acara pernikahan Andra dan Kiara yang menjadi istri ke tiga, dilakukan di dalam rumah. Mereka mengundang penghulu yang sudah datang sejak satu jam lalu. Beruntung tidak banyak Job untuk acara pernikahan, jika tidak mereka pasti sudah ditinggakan.

Setelah selesai acara ijab khobul, para tamu saksi pernikahan pulang dengan membawa oleh-oleh dan amplop. Mimi dan Andra sudah tidak mempunyai lagi keluarga. Mereka menyewa para tetangga untuk menjadi saksi. Seperti ketika Andra diminta Mimi untuk menikahi Nia, dahulu. Nia gagal menjadi istri ke dua yang baik, dan ketahuan selingkuh dan meninggal karena kecelakaan bersama selingkuhannya.

Mimi membawa Andra dan Kiara ke taman belakang. Tempat itu adalah tempat favorit untuk Mimi setiap hari. Menatap wajah Andra yang sesekali ketahuan melirik kea rah Kiara. Hari ini Kiara Nampak cantik dengan balutan kebaya dan terlihat natural. Berbeda jauh dengan Mimi yang menggunakan riasan tebal dan menyala.

“Mas, mulai sekarang memang sudah sah menjadi suami istri. Tapi ingat semua aku yang atur! Kalian boleh tidur bersama sesuai dengan perintahku, hanya sampai Kiara mengandung anakku nanti,”

Tidak ada yang berani menyela ucapan Mimi, bahkan Andra hanya mencium tangan istri pertamanya itu dengan lembut di hadapan Kiara. Mimi dengan napas terlihat memburu menatap madunya dengan tatapan tajam.

“Ingat Kiara! Posisi kamu hanya orang yang melahirkan anak aku dan Mas Andra. Kamu harus tahu, aku tidak bisa hamil karena punya kanker yang mematikan. Jika sampai kamu ingkar, bahkan sampai matipun aku tidak rela kalian bersama.”

Seketika Kiara menatap wajah Mimi tanpa kedip. Terkejut mendengar pengakuan istri pertama Andra yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali. Meraih tangan kiri Mimi, yang menganggur dan memegangnya dengan erat.

“Mbak Mimi sakit? Sakit apa? Sudah berobat?” rentetan pertanyaan dari Kiara bukan menambah Mimi bersimpati. Tangan putih mulus yang sudah ada cincin kawin itu, dihempaskan dengan keras. Membuat Kiara hampir saja terjatuh. Untung segera ditolong Andra dengan cepat. Hal ini membuat Mimi bertambah geram dan menatap ke arah Andra.

“Mas Andra, maunya apa? Oh, sudah mulai membela gadis kecil ini rupanya,” ucap Mimi dengan nada sinis menatap Andra.

“Sabar, sayang. Kamu sedang emosi, mungkin kecapekan. Ayo kita ke kamar saja,” ucap Andra sambil memberikan kode supaya Kiara diam.

Merekapun masuk ke dalam kamar, suara Mimi terdengar sangat keras memenuhi isi kamar. Andra yang berusaha menenangkan dirinya hampir saja kewalahan. Melihat Mimi semakin histeris, Andra mengambil sesuatu di dalam kotak obat tanpa sepengetahuan istrinya. Dia memasukkan ke dalam gelas yang berisi air putih dan memberikannya kepada Mimi, istrinya.

Tanpa ragu, Mimi meminum air pemberian Andra. Beberapa menit kemudian dia tertidur di ranjang dengan pakaian yang masih lengkap setelah acara pernihakan Andra dengan Kiara siang tadi. Dengan menarik napas lega, Andra segera membuka pakaian istrinya dan menggantikan dengan pakaian tidur. Menatapnya sesaat dengan mata mengembun.

“Maafkan aku Mimi, aku tidak bisa menjaga hatiku hanya untuk kamu. Aku sayang sekali dengan kamu, cepat sembuh sayang, love you,” ucapnya sambil mengulum lembut bibir yang dulu membuatnya tergila-gila.

Kemudian setelah berganti pakaian, Andra keluar dan masuk ke dalam kamar Kiara. Membuat gadis itu terkejut karena baru saja membersihkan diri dan berhanti pakaian. Suasana Nampak canggung, tidak seperti tadi malam yang hangat dan nyaman bagi Kiara. Andra duduk di samping ranjang dan meminta Kiara untuk ikut duduk di sampingnya.

“Kiara, maafkan aku. Mimi berbuat kasar seperti itu kepadamu,” ucap Andra sambil menunduk dan meraih tangan istri ketiganya itu ke dalam genggaman tangannya.

“Maksud, Om a-apa?” ucap Kiara gagap dan bingung. Terlihat sikap yang berbeda dari Andra sejak tadi malam.

“Kamu lupa, jangan panggil aku Om, tapi jangan juga Mas,” pinta Andra menatap Kiara dengan intens.

“Lantas apa? Oh, aku panggil KaKak aja, gimana?” ucap Kiara malu-malu.

Tangan Kiara yang sejak tadi berada di genggaman Andra, beralih ke bibir pria dewasa itu. Pria yang baru saja menikah dengan Kiara beberapa jam yang lalu. “Good, aku suka itu, sekarang kamu bersiap mumpung Mimi sedang tidur.”

“Mak-maksudnya?”

“Masak kamu kagak tahu, malam pertama pengantin baru,” ucap Andra dengan nada tinggi.

“Tapi-tapi ….”

Belum selesai Kiara bicara, Andra sudah menyambar tubuhnya dengan himpitan. Tidak ada kesempatan untuk gadis yang baru beranjak dewasa itu melepas belitan Andra. Bahkan semakin berontak semakin Andra seperti cacing kepanasan. Hingga pada puncaknya, “Shittt … kenapa kamu kagak ngomong sejak tadi kalau sedang palang merah?” ucap Andra dengan napas memburu.

“Tadi Kiara mau ngomong, tapi Kak Andra keburu ….”

“Agrh … sudahlah! Sial betul aku hari ini,” ucap Andra seraya membereskan pakaiannya yang berantakan dan pergi dari kamar Kiara tanpa menutup pintu.

Kiara yang ditinggal sendiri bengong tanpa dapat berbuat apapun. Setelah tersadar akhirnya menutup pintu kamar. Menghempaskan tubuh ke atas ranjang dengan keringat yang dia biarkan kering terkena sapuan AC di dalam kamar.

Sementara Andra sudah keluar dari rumah, dan pergi ingin menuntaskan hasratnya bersama wanita bayaran. Tetapi belum sempat dia menjamah wanita yang dipesan, dia teringat dengan kedua istrinya yang ada di rumah. Selama ini meskipun hasratnya tertahan karena penyakit yang diderita oleh Mimi, Andra tidak pernah bermain dengan wanita yang bukan istri sahnya.

Sementara Mimi yang sudah bangun dari pengaruh obat tidur yang diberikan Andra. Tersadar tidak mendapati suaminya di dalam kamar.

“Ke mana tuh, Mas Andra? Bisa-bisanya aku ditinggal sendirian di dalam kamar. Awas, aku tidak akan tinggal diam jika kamu mengingkari janji, Mas! Akan kubawa sampai mati, jika hal itu sampai terjadi.”

Mimi berjalan sempoyongan ke luar dari kamarnya. Niatnya pergi ke kamar Kiara yang ada di sebelah. Hatinya sudah dipenuhi dengan kobaran api cemburu. Semenjak Andra dan Kiara mengucapkan kata SAH di depan penghulu, sakit dan sesak dadanya. Tidak rela jika Andra tidur bersama dengan Kiara. Padahal awalnya dia sendiri yang mengusulkan untuk menjebak Kiara dengan surat perjanjian.

Langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang membuatnya risih. Dia teringat ketika malam pengantin dengan Andra, memutar lagu kesayangannya itu. Lagu tentang cinta, dari artis Nyndi. Rasa sesak dada Mimi dan kembali ke dalam kamarnya.

“Kurang ajar Kiara. Beraninya menggoda suamiku. Sudah mulai berani dia sekarang. Dasar cewek kegatelan, kagak tahu terima kasih. Awas kamu Kiara! Aku tidak akan main-main dengan ancamanku!” ucap Mimi dengan nada geram.

Kesesokan harinya, Andra yang baru datang dari luar, hanya minum-minum sempoyongan membuka kamar Kiara. Dia tidak sadar, jika Mimi menatap dengan mata tajam ke arahnya.

“Dari mana? Kurang bersenang-senang semalaman?” tuduh Mimi tepat di samping Andra.

Andra mencoba mengerjakan matanya, mengucek berapakali memastikan yang ada di depannya adalah Mimi. “Sayang, kamu sudah bangun? Ayo kita mandi bareng!”

Mimi segera menepis tangan suaminya yang sedang mabuk berat. Membiarkan Andra sempoyongan berulangkali terjatuh dan bangun kembali. Suara racauan yang keluar dari mulut Andra yang tidak berhenti membuat Mimi bertambah geram.

“Awas kamu Kiara! Aku akan buat perhitungan denganmu sekarang juga!” ucapnya sambil memeluk tubuh Andra yang sudah ambruk di ranjang mereka.

Setelah Andra tertidur, Mimi mencoba mencari tahu tentang teman-teman Kiara. Dia menyuruh orang kepercayaan untuk menyelidikinya. Teman yang bisa diajak untuk kerjasama mempengaruhi dan menjauhkan Kiara dari suaminya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED