Tiga tahun kemudian,
Dari balik kaca pemantau di pintu, aku menatap wanita yang masih tampak cantik di usia tua. Dalam kamarnya yang mewah - sudah seperti suite hotel bintang lima saja bentuknya - tampak cairan infus ringer laktat masih terhubung ke pembuluh vena pergelangan tangannya.
Sudah dua minggu beliau dirawat di kamar ini. Usia tua ditambah gaya hidup tidak sehat waktu muda dulu, membuat penyakit antri mendatangi wanita yang belakangan kutahu bernama Nyonya Lim ini. Singkatnya, komplikasi penyakit sudah menyerang organ-organ penting di tubuhnya.
Dari posisiku berdiri, bisa kulihat dia begitu sibuk dengan apapun yang menggoda penglihatannya di bawah sana. Dari sini pula terpampang jelas tampilannya yang sungguh memukau. Mulai dari rambut kelabunya yang disisir rapi ke belakang, pakaian, serta wajah bersih yang dipoles make up tipis. Tak ketinggalan pangkal hidungnya yang tampak mencuat dari salah satu sisi wajahnya. Pendek kata, beliau ini epitome dari kesempurnaan ragawi.
Perlahan kubuka pintu seraya membawa nampan berisi makanan oriental, obat, dan buku status pasien. Di rumah sakit kami, pasien kelas VVIP boleh memilih ragam jenis menu seperti: Western, Indian, Malay, atau oriental, namun tetap disesuaikan dengan diet pasien.
"Selamat pagi, Nyonya Lim", sapaku ramah
"Hai, selamat pagi juga", sahutnya lagi seraya menatapku dengan senyum tipis aristokrat. Jenis senyum yang membuat seseorang tidak nampak jauh namun tak juga akrab, dirimu tetap sungkan mendekatinya. Kalau pernah melihat senyum ratu Letizia atau ratu Rania dari Yordania, pastilah bisa paham maksudku.
"Waktunya sarapan di hari yang indah Nyonya", ujarku ramah sambil membuka tutup nampan lalu menekan tombol pada tempat tidur agar posisi duduknya lebih nyaman.
Sepertinya beliau tidak mau 'membeli' basa-basiku yang murahan, bisa kulihat dari sudut bibirnya yang terangkat sedikit.
"Apa guna makanan ini untukku, suster? Makan apapun pasti jadi racun bagiku sekarang", tukasnya lagi seraya menatap makanan di depannya tanpa minat.
"Makanan ini sudah disesuaikan dengan diet Anda, Nyonya, tak perlu khawatir. Perlu bantuan?", aku menyahut dengan senyum paling ramah yang bisa kuberikan.
Dia hanya mendesah, lalu mulai mengaduk bubur di depannya. Dalam karir sebagai perawat di rumah sakit, kerap kali kutemukan orang lansia seperti pasien di depanku ini. Manusia yang sudah menyerah untuk hidup namun enggan pula mati. Buktinya mereka masih berjuang dengan pengobatan.
Ironisnya, obat yang terkadang diharapkan untuk bikin sehat, malah jadi bumerang khususnya bagi pasien yang sudah komplikasi seperti beliau. Bukannya dokter yang tidak kompeten atau asal-asalan meresepkan obat, bukan itu.
Tetapi kondisi organ pasien lansia banyak yang sudah aus, tak lagi mampu mentolerir efek samping obat. Belum lagi ada obat tertentu yang punya efek melemahkan obat lain atau bahkan menghilangkan khasiatnya. Dalam dunia medis ini menimbulkan situasi yang dikenal sebagai polifarmasi. Alih-alih sehat, penyakit pasien malah makin kronis jika tidak ditangani dengan tepat. Makanya pengobatan komplikasi penyakit pada pasien seperti ini tricky sekali. Butuh skill tingkat dewa.
"Jadi, kau sudah berumah tangga?", tanyanya tiba-tiba seraya menyuap sesendok bubur ke mulutnya.
"Maaf?", ujarku tergagap. Sampai buku status pasien yang sedang kuisi jadi tercoret pulpen. Tak biasanya wanita konglomerat ini menanyakan hal pribadi. "Hmm, saya masih single", ujarku lagi begitu bisa menguasai diri
"Tak ada niatan untuk menikah?"
"Ada, tapi belum ketemu jodohnya. Apa nyonya bisa kasih rekomendasi?", tanyaku lagi basa-basi.
Lagi-lagi dia tersenyum miring seraya mengusap mulut dengan serbet basah. Lekas kuberikan obat yang harus dimakan beserta segelas air hangat. Dalam sekali telan, semua pil ditanganku tadi lenyap dalam tenggorokannya. Tak lama langsung hanyut terbawa segelas air hangat yang menyusul masuk. Aku sungguh takjub melihat kemampuan beliau menelan pil yang besar-besar itu.
"Tak perlu heran begitu", tukasnya lagi waktu melihat roman mukaku. "Kalau sama duda anak dua kamu mau?", tambahnya lagi.
Kembali aku dibuat bingung dengan arah pembicaraannya. Mengapa wanita di depanku ini suka sekali melanjutkan kata-katanya yang terjeda tanpa pembukaan?
"Ehem, kalau duda, yah... Lihat situasinya juga"
Seolah paham keenggananku, Nyonya Lim hanya tertawa kecil. "Kamu tenang saja, dia masih muda juga tampan. Soal materi tak perlu ragu, lebih dari cukup. Lagipula dia duda ditinggal mati bukan duda cerai atau selingkuh"
Aku masih berusaha mencerna tawarannya yang menarik ketika pintu kamar tiba-tiba didobrak dari luar. Diiringi pekik sorak dua bocah yang menghambur memeluk beliau.
"Nainai, sudah sehat?", tanya bocah perempuan yang kelihatannya si sulung.
"Nai, tadi Jiejie marahin Joan", bocah lelaki bertubuh gempal segera melapor sambil duduk di depan sang nenek.
Nyonya Lim tersenyum sabar mendengar ocehan keduanya seraya mengelus-elus sayang rambut mereka. Tak tampak sedikitpun roman tak sabar pada wajahnya yang anggun.
Sementara aku?
Meski sempat trenyuh dengan pemandangan yang hangat ini -bagaimanapun, aku juga seorang ibu, walau tak diakui - segera saja perhatianku teralih pada sosok rupawan berwajah muram di belakang kedua anak kecil ini.
Rahang yang kokoh, tatapan mata yang tajam, hidung yang tinggi, serta tubuh yang atletis, mampu mendebarkan hati kaum Hawa yang menatapnya.
Jangan membayangkannya dalam setelan tiga potong khas CEO sukses dalam kisah roman, absolutely not. Dia hanya mengenakan jins biru gelap, kaos polo putih, sepatu kets, dan baseball cap. Tapi entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku enggan berpaling. Untuk sesaat aku hanya terpaku disana bagai terkena gendam.
"Jadi suster, ini anakku Hartono Lim dan kedua cucuku. Anakku ini sudah ditinggal istrinya tiga tahun silam", ucap Nyonya Lim, memecah keheningan yang melanda pikiranku.
Sesaat aku masih melamun sebelum buru-buru mengulurkan tangan pada pria yang kini berdiri tepat disisiku. "Shanty", ujarku lirih, mencoba tampak berani. Sepanjang yang kutahu, laki-laki sukses tidak menyukai perempuan penakut dan lamban.
"Hartono", sahutnya datar, namun begitu cengkraman yang erat pada jari-jari ini makin menguatkan dugaanku jika dia seorang Alpha Male. Setelahnya aku bergegas membereskan semua peralatan makan pasienku, lalu pamit pada Nyonya Lim yang kini duduk bersandar didampingi cucunya.
Waktu tatapan kami bertemu, ada kilatan tajam di manik matanya. Meski hanya sesaat cukup membuatku paham jika beliau sedang menyiratkan sesuatu.
Duda yang dimaksudnya barusan pastilah Tuan Hartono Lim yang terhormat.
Lekas aku beranjak dari sana dan menutup pintu di belakangku, bersandar pada daun pintu itu sejenak buat menenangkan debaran jantung yang menggila.
"Eureka!", sorakku dalam hati.
Upaya maksimalku dalam dua minggu ini tidak sia-sia. Aku sengaja bekerja di rumah sakit kelas atas dan melayani pasien ruang VVIP, semuanya demi saat ini.
Apa yang begitu sulit didapat orang lain, bisa kudapat agak mudah. Aku berwajah cantik, bisa berbahasa Inggris dan sedikit Mandarin serta memiliki kemampuan diplomasi - alias berpura-pura - yang jempolan. Meski dulu hanya lulusan sekolah perawat dari kampus gurem, asal tidak menyerah meningkatkan branding diri, semua bisa diatasi. Dan yang paling penting, hari ini aku berhasil menangkap 'mangsaku'
Hartono Lim yang kutemui di ruangan tadi, sudah lama jadi incaran. Duda kaya seperti dia tentu tidak akan menuntut istri barunya punya anak -yang mana sangat cocok untuk wanita tanpa rahim sepertiku-, namun jalan menuju beliau harus melalui ibunya yang sakit-sakitan tadi, Nyonya Lim. Pengusaha sukses seperti dirinya tak akan termakan umpan klise; tak sengaja bertabrakan di lorong rumah sakit, misalnya. Namun seperti putranya, nyonya Lim juga tak lantas sembarangan melamar orang meski beliau perlu menantu baru untuk merawat cucunya.
Setelah dua tahun bekerja disini, sudah empat kali Nyonya Lim berobat kemari, dan baru kali inilah beliau mengungkapkan keinginannya - walau tak secara gamblang - untuk mencari ibu baru bagi kedua cucunya. Selama berjalan kakiku seperti mengawang saking senangnya. Hingga tak sadar sudah tiba saja ditempat yang dituju.
Perlahan kuketuk pintu ruangan dokter internis yang menangani pasien VVIP tadi. "Masuk"
Sebuah suara ramah milik pria yang sudah menjadi partner kerjaku setahun belakangan terdengar menyahut. Begitu daun pintu terkuak, kulihat dokter Vincent Kho dalam sebuah kesempatan langka, sedang berbalas pesan di ponselnya.
Biasanya dokter paruh baya ini menghabiskan waktunya yang berharga dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Hampir tak punya kehidupan pribadi. Mungkin ini pula sebabnya beliau digugat cerai tiga tahun lalu.
"Bagaimana? Does she take the medicine?", tanyanya dengan senyum manis terukir di wajah kelimis.
"Beliau sudah lebih baik, Dok. Bahkan obatnya juga dihabiskan dalam sekali tegukan"
"Apa saya cakap? Kalau you yang turun tangan pasti diorang nak dengar. Your charm is not a joke, you know that"
"Apelah dokter ni. I just do my best, only that"
"That's why I like you. Korang kerja serious, muke pun beautiful. It is a rare thing to see"
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan beliau. Bukannya tak paham dengan sinyal yang diberikan dokter Vincent selama ini. Ada rasa tertarik terpancar di matanya setiap menatapku, bahkan beliau juga pernah terang-terangan mengungkap keinginan untuk jadi partnerku.
Sebenarnya rasa tertarik beliau tak bertepuk sebelah tangan. Siapa pula yang tidak suka dengan pria cerdas dan punya pekerjaan mentereng? Namun aku tidak berminat dengan hubungan tak jelas semacam partner. Apa bedanya dengan kumpul kebo terselubung?
"So, have you decided my offer last time?"
"Uhm, yep. I have thought about it and I must say, I can't do it. It's just not to my cup of tea", tolakku sehalus mungkin.
"Hahaha, tak payah feeling guilty. It's okay, no hard feeling", ucapnya dengan gaya jenaka, " Tapi bila-bila you feel regret, I selalu ready buat you", tambahnya lagi
"Baik dokter, thank you. Kalau macam tu, saya kena pergi dulu. Nak taking lunch". Tanpa menunggu lama aku bergegas keluar demi menikmati jam makan siang yang hanya sekejap.
Dulu setelah mengalami guncangan yang berat, kuputuskan untuk melanjutkan kuliah profesi Ners seraya mengambil kelas bahasa mandarin. Begitu pendidikan usai, aku mencoba peruntungan di negeri tetangga, Singapura.
Perjuangan yang berat akhirnya membuahkan hasil. Aku bisa bekerja di rumah sakit bonafide ini. Tujuan utama tentu saja bukan uang.
Kalau hanya uang, aku punya klinik kecantikan dan restoran di kota Batam yang bisa membiayai hidupku. Tapi semua ini pastilah tak cukup. Untuk menepati janji pada mantan suami, aku butuh sesuatu yang lebih besar dari uang: kekuasaan.
"Drrrttttt"
Ponsel disaku seragam bergetar pelan.
Kulihat ada nomor baru mengirim pesan di aplikasi chat-ku.
[Temui aku nanti malam tepat pukul tujuh di Orchard Road]
Begitu kalimat pembuka pesan ini yang diikuti alamat sebuah restoran mewah dan nama si pengirim: Hartono Lim
Begitu singkat dan dominan! Seperti pemiliknya.
Niatku ingin menyantap lunch selesai sudah. Alih-alih ke kantin, aku malah naik ke rooftop untuk menikmati tiupan angin yang mengantarkan terik mentari, dua kombinasi yang bertolak belakang.
Aku berpikir dalam diam. Benakku dipenuhi segala hal absurd, yang berkelindan satu sama lain tak tentu ujung pangkalnya. Sejurus kemudian, sebuah keputusan sudah termaktub dalam hatiku.
Astaga! Jam di pergelangan tangan menunjukkan angka satu , artinya waktu makan siang yang berharga sudah terbuang sia-sia. Buru-buru kuhabiskan soft drink yang tinggal separuh setelah menikmati sandwich tuna dalam dua kunyahan besar.
Aku bergegas turun. Ms. Jane, kepala ruangan kami, tadi pagi memintaku menemuinya. Firasatku tak enak soal panggilan mendadak ini.
Benar saja. Begitu pintu ke ruang kerjanya terbuka, beliau menatapku dengan ekspresi kesal, yang tak mau repot-repot ditutupi.
"Why are you so late?", tanyanya tanpa basa-basi
"Maaf Ma'am, tadi saya kena stomachache ", sahutku sekenanya.
Bukannya menunjukkan rasa simpati, wanita yang awet muda ini hanya mendengus, tak terpengaruh dengan mimik wajahku yang memelas.
"Okay, I will straight to the point. Waktu you pertama kali apply dekat sini, saya dah cakap tak ada romance at work place. Tapi yang saya dengar, you nak dekat doctor Vincent"
"Maksudnya, Ma'am?"
Aku terperangah, sesaat tak bisa menebak arah pembicaraan yang tak disangka-sangka ini. Betul Vincent menaruh hati namun sudah kutepis. Lantas apa masalahnya?
"You memang naif atau stupid? Masih tak paham juga saya cakap apa?", balasnya ketus. Fountain pen ditangannya sampai terlepas.
"Saya nak tegaskan saja, I have no time for romance, I am here for working", sahutku tak mau kalah.
"Are you reasoning with me?"
Do you even reasonable?! Pekikku dalam hati. Rasa suka Ms. Jane pada dokter Vincent sudah jadi rahasia umum, tapi apa iya sampai harus mengintimidasi perawat yang nggak tahu apa-apa sepertiku? Mentang-mentang keponakan direktur.
"Saya tak peduli, you harus move ke ruang lain. Tak boleh di bagian penyakit dalam lagi"
"Baik, but you have to give me time. I need to tidy my things up", balasku santai.
Kulihat kilatan kaget di mata Jane. Mungkin Dia nggak menyangka bisa secepat ini mendepak 'gadis murahan' yang mendekati pria idamannya.
Makan tuh duda! Umpatku lagi. Memang dikira semua orang penyuka duda? Apalagi yang bisanya cuma menjanjikan hubungan tak jelas macam Vincent, cuih!
"Good! I will manage your transfer next week. Kamu akan move ke emergency room, disana kurang tenaga medis"
"Baik Ma'am, kalau begitu saya pamit dulu", ucapku. Tanpa berlama-lama aku pergi meninggalkan wanita angkuh yang tak menarik itu.
Emergency room katanya? Heh, silakan saja dia berlarian kesana. Dikira aku nggak tahu betapa rempongnya bertugas di IGD? Saban hari ada saja pasien kritis yang masuk kesana, membuat petugas IGD selalu sigap dan terburu-buru, sorry that's not my cup of tea.
Lagipun, kalau rencanaku berhasil paling lama lusa aku udah out dari negara tetangga ini. Siapa juga yang mau berlama-lama tinggal di rumah sakit dan menghadapi atasan baper kayak si Jane.
Setelah shift kerja berakhir, tak butuh waktu lama aku sampai di apartment yang letaknya memang tak jauh dari tempat kerja. Selesai mandi, kukenakan night dress simple dipadu dengan riasan sederhana yang menonjolkan kecantikan mata. Ini jadi jurus andalanku malam ini.
Setahuku pria-pria kaya tidak suka dandanan menor, lebih baik riasan yang nude dan classy.
Begitu turun dari taksi, aku segera menghampiri resepsionis yang bertugas dan menyebutkan identitasku. Tak pakai drama, pria muda berseragam gelap itu segera mengantarku ke sebuah private room yang mewah. Meski kagum, aku berusaha berlagak santai, seolah terbiasa dengan tempat seperti ini.
Padahal sejak bercerai dengan Roy sudah lama aku tidak mengunjungi tempat-tempat mewah. Usahaku yang cuma klinik kecantikan dan restoran, belum mampu membuat diri ini hidup seperti kalangan jetset. Lagipula benakku yang sempit masih dipenuhi skenario balas dendam yang belum tuntas, mana mungkin sanggup berleha-leha.
"You late five minutes", tanpa memandang wajahku pria itu menukas begitu aku tiba disisinya.
"Ehm, ya. Maafkan aku", jawabku tanpa merasa bersalah. "Jadi, boleh aku duduk sekarang?", tanyaku lagi waktu melihat tatapan matanya yang menyipit. Mungkin dikiranya nyaliku bakal ciut mendengar tegurannya barusan.
"Tentu, silakan duduk", tanpa basa-basi seperti yang lazim dilakukan manusia fana, pria tampan di depanku ini langsung bertanya, "Jadi kita makan dulu atau langsung ke inti pembicaraan?"
"Sebaiknya makan dulu, aku belum sempat makan", tanpa ragu kusahut. Untuk pria dominan sepertinya, berpura-pura itu hal paling tak berguna.
Dia hanya mengangguk sekilas, tampaknya setuju dengan tindakanku ini. Dengan tangannya, dia memberi isyarat hingga pramusaji yang menunggu di luar tadi segera masuk dan menyerahkan buku menu dengan takzim.
Aku membolak-balik buku menu itu tanpa minat. Semua makanan yang tertera disana terlihat seperti bongkahan emas bagiku, setidaknya untuk saat ini. Bukannya tak pernah makan yang begini, apalagi waktu masih berstatus istri Roy dulu, hanya sudah tak terbiasa. Lagi.
"Sudah diputuskan mau pesan apa? Atau aku aja yang pesan?"
"Ya, kamu saja yang pesan", balasku datar.
Dia menyebutkan makanan yang ingin dia pesan, dan tepat pada saat inilah aku sibuk menatap wajahnya yang rupawan. Rahang kokoh, mata tajam, bibir sensual, serta hidung yang tinggi. Tampaknya Tuhan sedang murah hati waktu membentuk dirinya dalam rahim Nyonya Lim.
Begitu dia selesai bicara dengan pramusaji tadi, cepat-cepat kubuang pandang lewat jendela kaca di depanku. Pemandangan kota Singapura di malam hari tak bisa lebih indah dari ini.
Restoran yang kami datangi memang terletak dalam bangunan hotel bintang lima yang dibangun dalam apartemen mewah, jadi posisinya yang tinggi cukup memanjakan mataku yang memang suka dengan segala yang berkilau, walau itu menipu.
"Apa yang kau tatap di bawah sana?", tanyanya setelah keheningan yang panjang.
"Kepalsuan", balasku lalu menatap dirinya yang tersenyum tipis, "Coba lihat lampu yang berkilauan itu, gedung-gedung yang megah, serta orang berpakaian parlente yang tampak bahagia disana, pasti banyak sekali yang mengidamkan hal itu"
"Lantas?", kali ini dia mencondongkan tubuh ke arahku dan menautkan kesepuluh jemarinya, bahasa tubuh yang konon menunjukkan rasa percaya diri sang pemilik.
"Padahal mereka tidak tahu betapa banyak penderitaan disana. Dibalik gedung-gedung tinggi nan megah itu hidup sekeluarga dalam kondisi berdesakan, didalam kemilau lampu itu mungkin ada orang sepuh yang harus tetap bekerja walau sudah ringkih karena mahalnya biaya hidup disini, dalam gelak tawa para eksekutif muda itu bisa saja tersimpan getir yang tak kentara lantaran membayangkan deadline yang harus dikerjakan besok". Wajahku yang tadinya menatap ke luar, kini berbalik menatap wajahnya, "bukankah itu semua kepalsuan?"
Prok, prok, prok
Terdengar tepukan perlahan.
"Bravo! caramu menarasikan semuanya cukup menarik. Unfortunately, I am not a melancholic person. Lagipula tak seharusnya kamu selalu pesimis. Maksudku, bisa saja orang sepuh yang bekerja itu karena bosan nganggur di rumah, bisa juga orang lembur itu karena kemarin malam sibuk kelayapan, misalnya. Iya nggak?"
"Yah, bisa jadi. Tapi tak ada salahnya juga dengan caraku memandang sesuatu, iya kan?"
Kulihat dia hanya mengedikkan bahu. Mungkin terlalu malas meladeni ucapan perempuan sepertiku yang sama sekali tak bernilai miliaran rupiah, seperti transaksi bisnisnya yang berhasil.
Untunglah disaat aku sudah kehabisan bahan untuk dibicarakan, terdengar ketukan perlahan di pintu. Tak lama pramusaji membawa pesanan yang tadi diminta pria di depanku ini.
Seperti dugaanku, dia memesan hidangan berbahan dasar daging, Beef bourguignon, mashed potatoes, serta salad. Lalu untuk minumannya selain air putih juga ada wine yang kuketahui jenis Sauvignon Blanc. Kurasa ini semua karena dia tak sudi berlama-lama dalam pertemuan yang tak menghasilkan duit ini.
"Ayo dimakan", ujarnya ramah lalu mulai mengambil pisau dan garpu didepannya. Sementara aku sendiri masih menundukkan kepala sejenak, sebelum menyantap hidangan yang menggugah selera ini. Astaga! Dagingnya benar-benar lumer di mulut. Tak sia-sia harganya setara dengan gajiku satu minggu.
"Kamu masih berdoa sebelum makan ya?"
Tersirat nada geli dalam suaranya, seolah-olah tindakanku barusan itu kegiatan paling konyol yang pernah dilihatnya.
"Iya, kenapa? Salah ya?"
"Nggak kok, cuma buang-buang waktu aja"
"Oh, begitu"
Jawabanku singkat saja. Nggak berniat menggurui juga. Siapalah aku hingga berhak menghakimi atau merubah seseorang. Tuhan saja tak lantas mengirimkan api untuk membakar pria ini hidup-hidup hanya karena tidak berdoa.
"Apa kamu suka hidangannya?", tanyanya lagi. Mungkin hendak mengurai kecanggungan diantara kami berdua.
"Ya, sangat enak. Dagingnya benar-benar empuk dan sangat tepat disantap dengan Sauvignon ini", sahutku seraya menyesap wine itu perlahan.
Dia tersenyum paham. Senyum yang berupa lengkungan samar dibibir. Menghilang dalam sekejap, sama seperti hidup yang berlalu tiba-tiba sebelum kamu sempat menyadarinya.
Hanya dua puluh menit waktu yang kami butuhkan untuk menyelesaikan makan malam lezat nan hambar ini. Kalau tidak salah sebentar lagi kami akan membicarakan 'bisnisnya'.
Lagi-lagi dugaanku tidak salah.
Setelah mengusap mulutnya dari wine yang tersisa, dia berdehem kecil dan berucap dalam suara bariton yang dalam.
"Jadi ibu berniat menjadikan kamu menantunya. Setelah mendengar cerita beliau tentang situasimu, kurasa gagasannya bukanlah hal yang konyol. Maksudku, tak buruk menjadikanmu sebagai nyonya di rumahku"
Dia berhenti sejenak, memastikan aku benar-benar paham makna ucapannya. Aku mengangguk tanda mengerti lalu dia melanjutkan lagi, "Seperti yang kamu tahu aku ini seorang duda dengan dua anak, jadi aku tidak lagi menginginkan anak. Kemudian, kudengar kamu juga punya anak dari pernikahan sebelumnya. Jujur saja, Aku tak mau anak itu tinggal dengan kita, apa kamu siap?"
"Ya, aku siap"
"Bagus, sekarang mengenai tunjangan dan fasilitas yang akan kamu dapatkan, bisa dibaca disini"
Ponselku bergetar, lalu sebuah pesan berupa dokumen PDF masuk disana. Walau mataku tak sampai membeliak, tetap saja rasa kaget terbersit di hati waktu membaca rentetan kalimat yang tertera disana.