Bab 1

**Siapkan mental, karena hanya di novel ini, kamu akan menemukan sesuatu yang berbeda. Novel ini hanya memuat cerita-cerita unik yang bisa jadi tidak akan pernah ditemukan dalam novel-novel lainnya. Judulnya juga HASRAT AGAK LAEN, tentu saja akan sangat berbeda dengan cerita kebanyakan yang telah ada.

Selamat membaca dan meresapinya. **

Setelah berhasil meraih S2 di bidang pertanian aku ingin bekerja sesuai dengan bidang studiku. Hampir setahun aku mencari kerja, tak satu pun yang cocok. Aku sudah mulai pesimis dan agak frustasi. Sebetulnya banyak lowongan bekerja, tetapi bidangnya jauh dari bidangku.

Orang tuaku juga berusaha membantu mencarikan pekerjaan, sampai akhirnya dia bertemu teman lamanya yang punya kedudukan bagus di sebuah BUMN Perkebunan. Aku dipertemukan dengan teman ayah di sebuah hotel. Dari pertemuan itu, aku ditawari bekerja di perkebunan, tetapi tentu saja letaknya tidak di Jakarta, Perkebunan itu di Kawasan Sumatera Utara.

Aku pada waktu itu langsung saja menerima tawaran, karena kupikir bidang kerjanya sesuai dengan keilmuanku, meskipun tempat kerjanya jauh dari kota. Kedua orang tuaku agak keberatan aku jauh dari mereka, tetapi sebagai anak laki-laki aku ingin merantau dan bekerja sesuai dengan studiku.

Singkat cerita setelah melalui beberapa seleksi aku diterima bekerja di sebuah perkebunan PTP kelapa sawit. Aku langsung ditempatkan sebagai staf di perkebunan yang letaknya sekitar 10 jam dari kota Medan. Kebun itu sangat jauh dan terpencil. Kota kabupaten paling dekat sekitar 2 jam berkendaraan mobil.

Meskipun begitu aku senang, karena kelapa sawit adalah minatku dan skripsi serta tesisku merupakan penelitian soal Kelapa sawit. Aku mendapat rumah yang lumayan bagus jika diukur dengan rumah di kota, halamannya luas. Rumah dengan tiga kamar lengkap dengan perabot, hanya saja rumahnya seperti rumah peninggalan jaman Belanda.

Jadi memang rada horor juga. Tapi bagiku tidak masalah, karena aku tidak takut soal-soal seperti itu. Aku adalah pecinta alam yang sudah terbiasa mendaki puncak gunung sendirian.

Sebelum lebih jauh aku perkenalkan dulu diriku. Nama panggilanku Ferdy Sambodo, tinggi sekitar 178 warna kulit sawo matang, badan agak tegap karena sering fitnes, potongan rambut selalu pendek dan tidak merokok, wajah biasa saja tapi bersih tidak berjerawat, kumis dan jenggot selalu aku cukur bersih.

Aku mendapat fasilitas pembantu, tukang kebun, penjaga malam dan fasilitas mobil. Semuanya aku tidak perlu bayar, karena ditanggung oleh perkebunan. Awal-awal aku bekerja aku diperkenalkan oleh semua staf dan manager perkebunan. Kami cepat akrab, maklumlah karena tempat kami terpencil.

Staf dan manager mendapat rumah di wilayah yang disebut emplasement. Jika digambarkan emplasement itu adalah pusat perkebunan karena disitulah berkumpul rumah-rumah staf, kantor dan pasar.

Selama enam bulan aku belajar mengenal bidang tugasku dan menyesuaikan dengan situasi terpencil. Aku tidak menyangka di daerah terpencil seperti ini masyarakatnya ternyata tidak bisa dikatakan terbelakang. Malah menurutku lebih maju dari masyarakat kota besar. Paling tidak masyarakat di perkebunan tempatku ini sangat terbuka masalah sex.

Mandor-mandor bawahanku sering menawari aku cewek yang merupakan karyawan perkebunan, ada janda banyak juga yang gadis. Penjaga malam di rumahku kalau diajak ngobrol, ujung-ujungnya juga nawari cewek. Maklumlah mereka tau bahwa aku masih single dan bekerja di tempat terpencil yang tidak ada hiburan sama sekali kecuali teve satelit.

Semua tawaran itu belum ada satu pun yang aku terima, karena aku masih takut, mengingat aku masih baru, bukan apa-apa, aku takut nati malah terjebak. Namun kolegaku sesama staf sering mengajakku untuk menggarap karyawan-karyawan yang bisa diembat.

Para mandor pun banyak yang memamerkan perempuan-perempuan simpanan yang di daerah itu disebut gendakan. Kayaknya di perkebunan terpencil ini, hiburan satu-satunya adalah sex.

Di usiaku yang menjelang 26 tahun, tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan sex sering mendesakku. Sejauh ini aku hanya memanfaatkan dengan onani saja. Kalau hari-hari libur aku turun ke Medan dan di kota itulah aku puas-puaskan dengan wanita di sana.

Suatu hari kemudian mandorku menunjuk seorang karyawan cewek. Modelnya bahenol sehingga kelihatan sexy. Meskipun dia menggunakan kain jarik dan kaus oblong, tetapi tonjolan tubuhnya tidak bisa disembunyikan. Wajahnya lumayan ayu. Kata mandorku cewek itu janda, kalau aku berminat dia bisa atur menjadi pembantu di rumahku. Kayaknya menarik juga.

Cewek itu dipanggil oleh sang mandor lalu ditanya apakah mau bekerja sebagai pembantu di rumahku. Dengan mimik malu-malu dia mengangguk. Namun ada kendalanya dia tidak bisa pulang hari seperti pembantuku sekarang, seorang nenek-nenek yang rumahnya dekat dengan emplasement. Rumah perempuan ini jauh dari emplasemen, dengan demikian dia harus menginap atau tinggal di rumahku.

Sebenarnya memang itu yang aku harapkan. Kebetulan di rumahku ada disediakan kamar pembantu di belakang rumah.

Pembantu baruku itu bernama Yanti, umurnya sekitar 25 tahun, bahenol, janda belum punya anak. Dia sudah menjanda dua tahun dan kawin ketika masih umur 18 tahun. Entah mengapa suaminya meninggalkan begitu saja tanpa menceraikan. Kata Yanti suaminya merantau ke Medan dan kerja di sana.

Hari pertama Yanti kerja di tempatku aku agak canggung, karena aku sungkan pada penjaga malamku, yang selalu berada di sekitar rumahku pada waktu malam. Untuk menghilangkan rasa canggungku, sekitar jam 7 malam si Parno penjaga malam aku panggil masuk ke rumah. Aku jelaskan bahwa sekarang ada pembantu yang menginap jadi dia juga harus menjaganya.

Sedang aku asyik bicara dengan parno si Yanti masuk sambil membungkuk-bungkuk lalu mengawali pembicaraan dengan mohon maaf, bahwa dia takut menempati kamarnya di belakang. Yanti ternyata penakut. Dia bermohon-mohon tidur dengan tikar di ruang makan saja.

Aku tidak sampai hati jika dia tidur di ruang makan dengan beralaskan tikar. Aku beri dia kamar yang tidak terpakai di sebelah kamarku. Dia agak ragu, karena tampaknya dia takut pula menempati kamar itu.

Di kamar itu sudah tersedia tempat tidur single, lemari pakaian dan meja tulis. Yanti membereskan bajunya lalu masuk ke kamar itu. Namun dia tidak menutup pintunya. Ketika kuberitahu soal pintunya harus di tutup, Yanti beralasan takut tidur di kamar yang pintunya ditutup. Aku dan Parno saling liat-liatan dan tersenyum.

Jam 9 malam si Parno pamit keluar untuk tugas jaga malam. Aku perintahkan si Yanti mengunci semua pintu. Setelah itu dia kutawari menonton TV bersamaku di ruang tengah. Yanti serta merta bergabung bersamaku. Aku tanyakan dia ingin nonton film apa. Namun dia menyerahkan kepada aku dan dia ikut saja.

Jam 10 malam mata mulai mengantuk, Aku minta diri masuk duluan ke kamar karena ngantuk. Yanti wajahnya agak tegang, mungkin dia merasa sendiri, jadi muncul kembali rasa takutnya. Aku tanya apa dia takut kutinggal sendiri. “iya pak,” katanya.

Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba saja aku punya ide untuk minta dipijat. Ketika kutawarkan untuk memijatku, Yanti langsung menyanggupi dan dia mengatakan bahwa tidak terlalu pandai memijat.

Aku mengenakan sarung dengan celana dalam dan kaos oblong. Aku berbaring di tempat tidur yang lebar. Yanti yang malam itu mengenakan daster kuminta memulai dengan memijat kakiku. Dalam posisi telungkup Yanti mulai memijat kakiku bergantian kiri dan kanan. Lumayan juga pijatannya, paling tidak bisa melemaskan otot-ototku yang tegang.

Sambil memijat aku korek keterangan mengenai kehidupan pribadinya. Dia jadi terlarut bercerita panjang lebar mengenai kehidupan pribadinya. Kami jadi akrab dan Yanti makin terbuka.

Agak iseng kutanyakan mengenai selama menjanda apa gak kepengen kumpul seperti sama suaminya dulu.

“Ah bapak, ada-ada saja nanya gituan, ya pengenlah pak, tapi gimana orang janda gak punya suami, mau sama siapa pak,” katanya.

Aku tanya kenapa gak kawin lagi aja.

“Ah susah pak cari laki yang bertanggung jawab, banyakan maunya dijadikan gendak, mending kalau bagus orangnya, mana udah tua, paling-paling pangkatnya cuma mandor, seberapa sih pak duitnya jadi mandor, kok mau piara gendak,” kata Yanti.

Dia malah balik bertanya kenapa aku belum beristri. Aku jawab sekenanya saja bahwa belum ada yang cocok.

Bab 2

“Apa bapak gak pengen gituan pak,” tanyanya agak menjurus.

“Ah ya pengen juga sih, tapi gimana orang di daerah terpencil gini, mau dilampiaskan sama siapa,” kataku.

“Sayang pak barang canggih gitu cuma dibuat untuk kencing saja,” katanya yang terasa menohokku.

Aku membalas dengan mengatakan, “Kamu punya juga cuma digunakan untuk kencing juga kan,”

“Iya Pak, tapi kan saya perempuan, masak saya cari-cari laki,” kata Yanti.

“Ya udah kalau gitu sekarang kita tes untuk penggunaan yang lain,” kataku polos saja tanpa mikir terlalu rumit. Sebab aku pikir kalau dia tidak mau ya tidak apa-apa, kalau mau yang baguslah.

“Ah bapak ini ada-ada saja, saya kan orang kebon, bapak kan orang Jakarta, Lagian bapak kan staf saya cuma karyawan, kalau saya sih gak masalah, tapi apa benar bapak mau nyoba sama saya,” katanya.

Tanpa banyak omong lagi aku langsung melepas semua pakaianku dan tidur telentang dengan penisku yang sudah tegak mengeras. Yanti terkejut sambil menutup mulutnya.

“Pak bapak punya udah tegang ya pak, besar kali pula pak?” kata Yanti.

Penisku mungkin di atas ukuran rata-rata. Dulu ketika masih zamannya kuliah iseng-iseng aku membeli minyak lintah di pelataran tempat kantor Samsat di Serpong. Katanya minyak lintah bisa membesarkan alat vital. Awalnya aku gak percaya karena kata rubrik kesehatan tidak mungkin penis bisa di perbesar.

Pedagang yang buka lapak di samping pedagang minyak lintah itu meyakinkan aku bahwa minyak itu berkhasiat. Dia mengaku berhasil memperpanjang penisknya. Untuk membuktikan aku dibolehkan melihat barang si penjual minyak lintah. Pedagang minyak lintah itu mengajakku ke wc umum. Di situ kulihat kontolnya memang besar, padahal masih belum tegang. Kata dia panjangnya kalau tegang bisa 23 cm.

Aku di suruh menunggu, karena dia akan memanggil pedagang di sebelah tadi. Tak lama kemudian dia muncul, sambil pura-pura kencing dia memperlihatkan barangnya yang juga besar panjang, meskipun tidak sebesar milik pedagang minyak lintah tadi.

Tergoda juga pada waktu itu aku beli sebotol dan menyimak teknik pemijatan dan penarikan serta penggunaan minyak lintah itu. Pada waktu itu umurku baru 19 tahun. Aku rajin mengikuti petunjuknya ketika ulang tahunku ke 20 aku ukur penisku sudah bertambah panjang menjadi 18 cm dan tambah gemuk serta kerasnya kayak pentungan.

Cewek-cewek teman kampusku yang aku embat pasti termehek-mehek, karena aku pun jadi bisa main cukup lama. Itulah potongan kisah mengapa penisku sampai bisa sebesar 18 cm. Awalnya sih cuma 14 cm.

Aku meminta Yanti melepas semua bajunya juga. Dengan gerakan gak malu-malu dia membuka daster lalu BH dan pelan-pelan celana dalamnya juga diturunkan pelan pelan sambil malu-malu.

Payudaranya lumayan besar dan masih membusung, putingnya berwarna agak hitam kelihatan masih agak terbenam. Mungkin karena payudaranya besar sehingga putingnya terbenam. Dibawah terlihat jembut lebat dan kedua pahanya yang lumayan gempal. Yanti kuminta kencing dan membersihkan vaginanya dengan sabun agar baunya wangi.

Setelah keluar dari kamar mandi yang ada di kamarku, Yanti kuminta menyepong penisku. Dia menolak dengan mengatakan belum pernah melakukan. Dia pun terus terang belum bisa karena masih agak jijik.

Mungkin dia belum pernah mengetahui soal sex oral. Yanti lalu kubaringkan dan kuciumi wajahnya lehernya sambil kuremas payudaranya yang kenyal dan menggunung. Putingnya aku pelintir-pelintir sampai terasa mengeras. Putingnya belum terlalu besar, mungkin karena dia belum pernah melahirkan atau hamil.

Sasaran berikutnya aku sosor kedua payudaranya dan menghisap-hisap pentilnya yang menggemaskan untuk digigit. Yanti sudah lupa statusnya malah mengerang dan mendesis menikmati rangsangan sex. Tanganku menjamah belahan vaginanya dengan menguak rimbunnya jembut. Terasa belahan memeknya sudah berlendir. Itilnya terasa mulai mengeras dan langsung aku gesek-gesek. Yanti merasa keenakan.

Dengan cara sembunyi-sembunyi aku cium tanganku yang terkena lendir memeknya. Tidak terasa bau tidak enak. Pelan-pelan aku melorot kebawah dengan menciumi perutnya lalu makin kebawah sehingga aku tiarap di antara kedua belah pahanya. Aku ciumi vaginanya tidak terasa bau tidak enak. Aku lebarkan belahan memeknya dan mulutku langsung membekap vaginanya yang terlihat berwarna merah.

Yanti terkejut menyadari bahwa mulutku berada di vaginanya.

“Pak jangan pak jijik pak, jangan pak,” katanya sambil berusah menarik kepalaku menjauhi vaginanya.

Aku bertahan terus dan lidahku menyentuh itilnya yang menonjol. Aku langsung jilati itilnya. Yanti agak melemah menarik kepalaku. Dia malah mengerang dan tangannya malah menekan kepalaku ke vaginanya. Aku jilati terus itilnya sampai akhirnya dia mengerang panjang dan terasa vaginanya makin berlendir dan berdenyut-denyut.

“Pak diapakan tadi memek saya kok rasanya enak kali,” katanya.

Selepas itu giliran aku menancapkan senjata kebanggaan. Pelan-pelan aku tancapkan ke vagina yang sudah menengadah siap menerima hunjaman, hangat rasanya dan cukup megang. Aku genjot dengan ritme pelan di awal dan makin lama makin cepat, sampai rasanya aku akan mencapai orgasme.

Menjelang titik puncak aku bertanya apa boleh dilepas di dalam, Yanti mengatakan di dalam saja pak, aku sudah lama tidak merasakan siraman. Aku langsung tancapkan sedalam-dalamnya dan kutembakkan ke dasar vaginanya. Nikmat sekali rasanya. Aku sudah lama tidak melakukan hubungan sex sehingga spermaku keluar banyak sekali dan tidak mampu bermain lama.

Yanti menutup vaginanya dengan tangan begitu aku cabut penisku dia lalu bangkit dan cepat-cepat ke kamar mandi. Aku ikut masuk kamar mandi. Kulihat Yanti jongkok lalu menceboki vaginanya membersihkan sisa sperma dan lendir di vaginanya.

Setelah itu kami berbaring bugil di tempat tidur. Sambil berbaring kemi kembali ngobrol mengenai macam-macam. Sambil itu, tangan Yanti meremas-remas penisku sehingga kemudian pelan-pelan tegang lagi. Aku minta Yanti main dengan posisi di atas.

Yanti paham keinginan ku lalu melangkahi tubuhku dan memegang penisku yang sudah cukup keras lalu diarahkan masuk ke vaginanya. Terasa hangat dan mencekam. Yanti bergerak sesukanya, kadang naik-turun, lalu bergerak berputar seperti gerakan mengulek sambal, di lain waktu bergerak maju mundur.

Aku bisa bertahan tidak segera orgasme, sementara Yanti mulai syur sendiri dan memainkan gerakan sesuai dengan yang dia inginkan. Aku menikmati kedua payudara besarnya yang bergoyang-goyang di depan mataku. Bongkahan payudara yang gempal itu aku remas-remas dan sekali-kali memelintir pentilnya. Akhirnya dia mengerang panjang ambruk dan terasa lubang vaginanya berdenyut-denyut.

Napasnya memburu dan badannya berkeringat. Padahal cuaca di perkebunan ini sejuk. Jika malam begini suhunya sekitar 20 derajat celcius. Aku merasa belum terpuaskan, Yanti kuminta berposisi merangkak karena aku ingin menyodoknya dari belakang. Yanti berposisi merangkak, bongkahan pantatnya montok sekali sementara payudara besarnya menggantung bebas.

Aku tancapkan penisku memasuki gerbang vaginanya. Main pada posisi seperti ini sebenarnya kurang memberi kenikmatan pada jepitan penisku, tetapi pemandangannya yang aku inginkan, yaitu bongkahan pantat yang bergetar-getar jika di tabrak dan payudara bergantung yang bergoyang-goyang.

Aku mengubah posisi dengan duduk bersimpuh menyandar ke kepala tempat tidur, lalu Yanti menaiki tubuhku dan kedua kakinya melingkar pinggangku dengan posisi penisku menancap di vaginanya. Yanti kuminta bergerak berputar. Wah rasanya nikmat sekali sampai akhirnya kami mencapai kepuasan bersama.

Setelah itu kami tidur berdua berselimut dalam keadaan sama-sama bugil. Pagi-pagi sekali Yanti sudah bangun mengerjakan tugasnya membuat kopi dan sarapan. Aku mandi dan siap-siap berangkat ke kebun. Biasanya jam 6 pagi aku sudah di perkebunan mengontrol lahan sawit yang menjadi tanggung jawabku.

Aku ketemu mandor yang menyodorkan si Yanti. “Cemana pak, paten?” tanyanya.

“Belum,” kataku berbohong.

“Pak banyak yang bagus-bagus pak, ayolah ikut saya,” kata si mandor sambil menawariku naik berboncengan motor.

Kami menelusuri perkebunan sawit lalu berhenti di tempat banyak karyawan bekerja. Si mandor behenti lalu dia turun mengamati karyawati yang sedang bekerja. Dia memanggil mandor yang ada di situ lalu minta dipanggilkan karyawati yang dia maksud. Wilayah afdeling ini masih menjadi wewenang pengawasanku. Muncul 3 karyawati mengikuti mandor.

Bab 3

Sang mandor yang mendampingiku lalu menanyakan nama mereka masing-masing. Dengan wajah tertunduk mereka masing-masing menyebutkan namanya masing masing. Santi, Ika dan Tanti. Kelihatannya mereka masih muda dan mungkin juga masih belum kawin.

Aku taksir masih berusia sekitar 17 tahun. Pak mandor memperkenalkan aku sebagai staf yang berwenang di afdeling ini, mandor mengatakan, apa yang sedang dikerjakan. Mereka mengatakan sedang membersihkan gulma di sekitar pohon sawit.

Aku mengangguk memberi isyarat kepada mandor agar mereka bekerja kembali. Mandor lalu memerintahkan ke 3 perempuan itu kembali bekerja. Agar tidak kelihatan aneh aku menanyakan perkembangan kepada mandor di wilayah ini. Dengan penuh rasa hormat si mandor melaporkan perkembangan tanaman sawit yang menjadi wilayah tanggung jawabnya.

Setelah selesai melapor pekerjaan si mandor itu dengan suara setengah berbisik mengatakan kepadaku, kalau aku berminat dia bisa mengatur 3 karyawati, aku pura-pura tidak berminat. Aku kan perlu jaga wibawa juga di depan karyawanku. Aku hanya menkonfirmasi nomor HP si mandor.

Kami meninggalkan wilayah itu lalu kembali ke tempat motorku diparkir. Mandor menjelaskan soal cewek-cewek di perkebunan, Sebenarnya banyak juga karyawati yang bisa dipakai, masalahnya di mana tempat mau dibantai.

Yanti menjadi pelayanku luar dalam. Dia makin pandai menjadi patner sexku, Selain sudah pandai nyepong dia juga makin bagus pijatannya. Setiap malam sebelum tidur aku dipijatnya sampai aku tertidur. Biasanya sebelum acara pijat kami sudah main beberapa ronde.

Nafsu sex ku mungkin terlalu kuat, karena setiap malam si Yanti aku embat sampai dia ampun-ampun. Suatu hari dia berterus terang kepadaku bahwa badannya lemes kali tidak kuat setiap malam menservice aku. “Pak tambah pembantu satu lagi ya pak, untuk membantu saya melayani Bapak,” katanya.

“Siapa yang akan kamu ajak,” tanyaku.

“Bapak ada pandangan mungkin, nanti saya hubungi,” katanya.

“Ada sih pak anak tetangga saya, tapi dia bukan karyawan, karena baru berhenti sekolah, dia kerjanya mocok-mocok bantu emaknya,” katanya. Mocok-mocok adalah part time alias harian lepas.

“Gimana anaknya cantik enggak?” tanyaku mendesak.

“Paten kali pak, cantik kali kalau di jakarta sudah jadi artis dia, namanya Sulastri,” kata Yanti.

“Sulastri itu yang kerja di bawah mandor Paeran, kerjanya nyiangi pohon sawit,” kataku.

“Betul pak bapak tau ya, dia rumahnya di pasar 5 tetangga saya, kalau bapak tarik kerja disini dia bisa diangkat jadi karyawan,” kata Yanti.

“Apa anak itu bisa diembat,” tanyaku langsung.

“Bisalah pak, kan dia punya lobang juga,” kata Yanti tersenyum menggodaku.

“Ah kalau dia tak mau percuma kerja di sini malah jadi perusak acara,” kataku.

“Tenang Pak, saya atur, nanti saya tanya dulu sebelum dibawa kemari,” kata Yanti.

Singkat cerita suatu hari setelah aku pulang kerja, Yanti memperkenalkan aku dengan Lastri.

Aku katakan aku sudah kenal, dulu pernah dikenalkan sama Mandor Paeran di Afdeling. Lastrinya malu-malu sambil tangannya menutup mulut.

“Tenang pak dia sudah jebol, sama pacarnya katanya, aku bilang dari pada kau pacaran gak menentu lebih baik kau kerja di tempat bapak, malah nanti diangkat jadi karyawan, orang tuanya pun setuju pak.” kata Yanti terus terang.

“Anak-anak kebon ini, kecil-kecil sudah lihai pacarannya, mereka suka main di kebon sawit, banyak kali yang bunting tak menentu, tak jelas sapa lakinya saking banyaknya laki-laki yang pake dia,” kata Yanti makin nyablak.

“Kalau lastri,” tanyaku.

Lastri diam saja, Yanti yang menjawab, ”Kata dia baru sekali main sama pacarnya, entah sudah jebol apa belum gak tau lah pak, anak-anak tanggung itu kan tak tau kali cara main, tiba-tiba udah muncrat aja ya langsung pakai celana, takut ketauan mungkin jadi buru-buru “ kata Yanti.

“Betul itu,” tanyaku pada lastri.

“Iya pak,” kata Lastri yang terus menunduk.

Aku kemudian memerintahkan kepada Yanti untuk mengajari Lastri mengerjakan pekerjaan di rumahku. Mereka aku tempatkan di kamar di sebelah kamarku. Sementara itu aku merasa ngantuk sekali, sehingga aku langsung tertidur.

Sekitar jam 8 malam aku dibangunkan Lastri dengan mengguncang-guncang badanku. Makan malam sudah siap. Dia membangunkan aku dengan gestur ragu-ragu dan takut. Aku langsung duduk, lalu kutarik tangannya dan kududukkan disampingku. Kupeluk badannya. Terasa masih terlalu kecil anak ini. Kata dia umurnya 17 tahun, tapi payudaranya masih kecil, badannya pun belum berisi.

Lastri diam saja, lalu kutanya apakah dia takut sama aku. Lastri menggeleng kepala. Karena mengaku tidak takut aku suruh dia duduk dipangkuanku. Mulanya dia diam saja tidak bergerak, setelah tanganku meraih pinggangnya mengarahkan duduk dipangkuanku, dia menurut. Aku peluk tubuhnya dari belakang. Terasa badaannya kaku agak gemetar. “Kau takut ya,” tanyaku.

Lastri menggelengkan kepalanya.

Aku peluk lalu tanganku mencoba meremas payudaranya. Lastri menggelinjang berusaha menghindar remasanku. Aku berhenti berusaha lalu mengajaknya berdiri kami lalu keluar kamar. Di luar Yanti melihat dengan pandangan menyelidik.

Kami makan bertiga satu meja. Lastri masih canggung dan malu. Orang-orang kebon memandang pejabat staf itu adalah orang terhormat, sedang karyawan merasa sebagai rakyat jelata yang beda kasta.

Setelah makan kami bertiga menonton televisi. Aku perintahkan Yanti mengunci semua pintu dan jendela. Aku berpikir Lastri masih terlalu polos, kasihan kalau buru-buru diembat. Kayaknya dia perlu waktu untuk penyesuaian. Aku harus biarkan dulu dia sampai terbiasa dengan lingkungan baru dan menyesuaikan pergaulan di rumah ini.

Aku merasa mulai agak ngantuk sehingga aku berdiri dan mengatakan mau tidur dulu. Yanti ikut bangkit, “Pak saya tidur di kamar bapak ya, saya takut di kamar saya suka ada suara yang aneh-aneh, kadang-kadang pintu sering terbuka sendiri.” mendengar pernyataan Yanti yang aku yakin itu hanya karangan saja si Lastri langsung bangkit memeluk Yanti.

“Kak aku juga takut, aku tidur sama kakak saja lah,” kata Lastri.

“Suka kau lah, tapi kita tidur sama-sama bapak, kau macam mana,” kata Yanti.

“Tak apa-apa lah kak aku takut kali sama hantu,” katanya.

“Tapi kau jangan ganggu kami nanti ya,” kata Yanti.

Lastri mengangguk saja.

Kami lalu berbaring di tempat tidur, Yanti tidur disampingku ditengah antara aku dan Lastri. Lampu sudah diredupkan. Awalnya suasana tenang. Tapi selang 15 menit kemudian Yanti mulai memelukku. Sambil memeluk tangannya meremas-remas penisku yang belum terlalu tegang.

Makin lama makin hot sehingga kami berdua sudah tidak lagi berbusana. Lastri yang belum tidur berusaha mengalihkan pandangan dengan tidur membelakangi kami. Aku dan Yanti tidak perduli dan menganggap dia tidak ada saja.

Yanti mengawali dengan melakukan oral sampai pensiku keras sempurna. Setelah itu dia minta dioral pula. Yanti merintih nikmat sampai akhirnya orgasme. Ronde pertama Yanti memulai menaiki tubuhku dan dia main di atas. Menjelang orgasme suaranya berisik dan akhirnya memekik tapi agak ditahannya.

Setelah itu ambruk. Aku mengambil alih posisi dengan menindihnya dan menggenjotnya terus. Yanti kembali merintih sampai akhirnya meraung pelan karena merasa orgasme. Aku masih belum mencapai puncak, sehingga Yanti aku dera tgerus sampai dia merintih dan minta ampun minta aku menyudahi saja.

Lastri yang awalnya membuang pandangan dari adegan kami dia berbalik melihat Yanti. Mungkin dia takut, kenapa Yanti minta-minta ampun. Akhirnya Lastri melihat permainan kami. Dasar Yanti, sambil merintih minta ampun tapi juga bilang “Tapi enak pak,”

Meski pun penerangan remang-remang tetapi karena mata kami sudah menyesuaikan maka semuanya bisa terlihat dengan jelas. Aku akhirnya mencapai orgasme dan menembakkan spermaku di dalam vagina si Yanti.

Aku turun dari tubuh Yanti tapi posisinya jadi berada di sebelah si Lastri. Aku peluk Lastri, terasa tubuhnya seperti menggigil. Ku cium pipinya lalu keningnya dan terakhir mulutnya aku sergap. Lastri masih pasif diam saja, meski tidak menolak. Lama-lama dia merespon lidahku yang bermain di mulutnya. Kondisiku masih bugil sedang lastri pakai daster dan kain sarung.

Aku menahan diri hanya sampai disitu saja percumbuanku dengan Lastri. Aku rasa terlalu dini jika lastri digarap sekarang.

Jadinya setiap malam aku main sama Yanti di samping ada Lastri. Jika di malam pertama Lastri membuang muka. Setelah lebih dari seminggu dia berani duduk menonton permainan kami. Aku pun mcncumbu dia sudah sampai meremas payudaranya dari luar baju.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED