"Aww, aww, aaa ,,,."
Jerit tertahan terlontar dari gadis berponi bibir lipstik nude ketika kaki mungil terbalut sneakers putih hampir saja terpeleset jatuh menginjak tanah becek sisa genangan air hujan.
"Are you okay?!"
SEERRR!
Aliran darah seakan berdesir begitu cepat ketika mata yang dihiasi bulu-bulu lentik bertabrakan dengan iris mata hitam legam dengan jarak hanya beberapa senti saja.
Detik berikutnya, gadis tersebut baru menyadari tubuh mungilnya sedang melayang di udara dipegang tangan besar melingkari pinggang rampingnya.
"Be careful."
Gadis berponi tersebut cepat-cepat mengatur posisi berdirinya. "Thank you," ucapnya gugup, semburat merah merona langsung menghiasi wajahnya.
"You are welcome."
Setelah hari itu, tidak pernah ada pertemuan kedua, ketiga apalagi keempat dan seterusnya. Tapi bagi gadis berusia 24 tahun tersebut, itu adalah hari yang tak pernah bisa dilupakan seumur hidupnya.
"Loe melamun lagi, Arlyna?!"
Suara cempreng membuyarkan lamunan Arlyna ketika teringat kembali dengan pria berwajah blasteran yang telah menolongnya.
"Yaelah, ck ck ck. Sampai kapan loe akan terobsesi dengan itu orang?!"
"Berisik loe, Bia!" sungut Arlyna.
Sejenak Bia terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu, tak lama kemudian berteriak kegirangan. "OMG!"
"Astaga!" Arlyna mengelus dada, kaget dengan teriakan Bia. "Loe kebiasaan selalu berteriak depan telinga gue! Lama-lama gue bisa mati sebelum waktunya!"
"Yey! Mana ada mati sebelum waktunya. Mati ya mati aja! Drama banget."
"He-he-he," Arlyna terkekeh, didorongnya kepala Bia pelan. "Pinter juga loe!"
"Arlyna, gue punya ide untuk mencari pangeran loe yang misterius itu!" Bia antusias. "Dengerin ya ,,,,"
Belum selesai Bia bicara, Arlyna langsung memotong, "Males gue dengan ide-ide loe! Hasilnya selalu zonk, ogah gue!"
"Yah elu. Ngomong juga belum, udah males!" sungut Bia diakhiri dengan cemberut.
Tak berselang lama datang salah satu teman Arlyna yang terkenal cukup tomboy. Langsung duduk di sebelah Bia.
"Kenapa loe? Datang-datang bawa muka masam. Kasih salam kek pada kita berdua. Sudah datangnya telat, bawa muka begitu lagi. Bikin sepet mata gue!" cerocos Bia.
"Iya, kenapa Jeng Vio?! Apa ada yang mengganggu loe di jalan?!" tanya Arlyna.
"Mana ada yang berani ganggu si Vio. Lihat tangannya ini," Bia yang duduk di sebelah Vio mengangkat tangannya Vio. "Tangan kayak barbel begini mana ada yang berani, orang sudah kabur duluan lihatnya! Ha-ha-ha!"
"Apa sih loe!" Vio menarik tangannya dengan kasar. "Tidak lucu!"
Arlyna dan Bia saling melempar pandang, heran dengan sikap temannya yang tidak biasa, padahal kalau diacak becanda apapun tidak pernah marah. Suasanapun mendadak jadi canggung dan hening.
Ya, mereka bertiga selalu rutin menyempatkan waktu untuk bertemu ditengah kesibukan masing-masing di sebuah cafe yang telah menjadi tempat favorit mereka.
Arlyna merupakan seorang fashion designer yang bekerja di butik cukup terkemuka di kota tempat tinggalnya. Bia, seorang sarjana ekonomi yang bekerja di perbankan sementara Vio seorang instruktur senam dan punya beberapa tempat gym.
"Sebentar lagi jam makan siang habis. Gue harus kembali bekerja," ucap Bia setelah melihat jam yang melingkar di tangan.
Arlyn juga melakukan hal yang sama. "Gue juga harus kembali ke butik. Banyak pesanan baju akhir-akhir ini dari para nyonya sosialita."
"Lah terus gue bagaimana?!" tanya Vio.
"Bagaimana apanya?!" tanya Bia dan Vio berbarengan.
"Gue datang, kalian pada pulang!" protes Vio ketus.
"Salah sendiri! Loe daritadi diam membisu," jawab Arlyn. "Gue cabut dulu. Bye. Sampai ketemu lagi."
"Yaelah! Gue lagi bingung, kalian malah pergi. Tidak ada empati sama sekali!" keluh Vio.
Bia yang belum beranjak dari tempat duduknya melihat Vio. "Loe kagak ngomong dari tadi. Bijimane kita bisa tahu!"
Vio menghela napas. "Ya sudahlah. Nanti saja gue cerita."
Bia kembali melihat jam tangannya. "Gue sudah telat nih. Cabut dulu ya!"
Sementara itu, Arlyna sedang berusaha mencari taksi di jalan depan cafe.
"Ya ampun! Pada ke mana ini taksi?!" gerutu Arlyna menutup kepala dengan majalah dari teriknya matahari.
Satu menit, dua menit berdiri tepi jalan akhirnya taksi terlihat tapi taksi berada di seberang jalan.
"Kok taksinya lewat jalan itu?!" gumam Arjuna heran karena taksi tidak seperti biasanya melewati jalan di depan.
"Mbak!" suara wanita menyapa Arlyna.
"Iya," jawab Arlyna melihat wanita dengan rambut sudah di dominasi warna putih.
"Sedang menunggu taksi mbak?!" tanyanya lagi ramah.
Arlyna mengangguk. "Iya."
"Taksi tidak lewat jalan ini mbak, di depan sana!" tunjuknya ke arah kanan Arlyna berdiri. "sedang ada galian kabel jadi arahnya dialihkan."
"Oh, pantas dari tadi tidak ada taksi lewat," gerutu Arlyna.
Setelah mendapat informasi tersebut, Arlyna akhirnya memutuskan menyeberang. Dilihatnya kiri kanan untuk mencari tempat penyeberangan, tapi tidak ada.
"Ya sudah, menyeberang dari sini saja," ucapnya sendiri.
Suara klakson mobil yang saling bersahutan sedikit membuat nyali Arlyna ciut ketika akan menyeberang. Apalagi dengan kendaraan beroda dua yang saling mendahului.
Dilihatnya jam yang melingkar di tangan, waktu sudah menunjukan lewat dari waktu istirahat jam makan siangnya.
"Gue harus buru-buru ke butik, Nyonya Ratih bisa ngamuk kalau tahu gue telat masuk," gumamnya sendiri.
Satu langkah, dua langkah, kaki dengan pantofel hitam mulai menjajaki jalan beraspal untuk menyeberang.
TIIDH!
Suara klakson mobil berhasil membuat jantungnya hampir lepas ketika lewat depan matanya.
"Sialan!" umpat Arlyna berhenti sejenak.
TIIIIDH!
Suara klakson mobil terdengar panjang dari samping kiri tubuh Arlyna.
SEERR!
Aliran darah di seluruh urat dalam tubuh Arlyna seakan mengalir begitu cepat disertai hangat yang menjalar.
Wajah itu, wajah yang telah mengganggu hari-harinya hanya karena pertemuan pertama yang tidak bisa dilupakan sekarang berada tepat di depan matanya.
Arlyna terpana, di dalam mobil sport merah, pria blasteran yang selalu dicarinya sedang duduk dibelakang setir. Pria blasteran yang telah menolongnya saat dirinya akan jatuh ke genangan air hujan.
TIIIDH!
Klakson panjang kembali terdengar menyadarkan Arlyna dari keterpakuannya.
"Minggir!"
Suara teguran dari kendaraan lain membuat Arlyna harus segera melanjutkan langkah kakinya untuk menyeberang jalan.
"Dia ,,, dia ,,, pria itu. Apa gue tak salah melihat?!" Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Arlyna setelah berdiri di atas trotoar memandang mobil sport merah yang semakin lama semakin menghilang di antara kendaraan yang lain.
....
Sementara itu, pria yang selalu bermain dibenak Arlyna melajukan mobil sport merahnya membelah jalan raya.
"Tuan muda, hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut-ngebut! Mamang takut nabrak orang," tegur sopir pribadinya duduk di samping.
"Tenang saja Mang. Gideon Bastian selalu berhati-hati. He-he-he." Selesai bicara, kecepatan mobil malah ditambah. "Mamang ini kan seorang sopir, masa takut diajak ngebut!"
"Ya beda dong tuan muda," seru Mamang ketakutan memegang seatbelt yang melingkar di tubuh. "Tuan muda hobinya balapan sedangkan mamang hanya sopir biasa, sopir papinya tuan."
Gideon malah terkekeh melihat sopirnya ketakutan. "Pegangan Mang, kita akan terbang!" serunya becanda.
"Jangan, tuan! Jangan! Mobilnya tidak bisa terbang. Mobil ini tidak punya sayap!" wajah pucat langsung menghiasi mamang.
Gideon semakin terbahak, tapi tetap fokus menyetir. "Ha-ha-ha. Memang yang ada sayapnya itu apa mang?!"
"Yang punya sayap mah burung, tuan!" Mamang tetap menjawab walau ketakutan sedang melanda. "Burung bisa terbang."
Kepolosan sopir pribadinya malah menggelitik Gideon untuk becanda. "Tapi ada juga mang, burung yang tidak bisa terbang. Tidak punya sayap, tapi dinamakan burung. Tahu enggak mang, apa nama burung itu?!"
"Mam!" panggil Gideon begitu menjejakkan kaki masuk ke dalam rumah. "Mam! Where are you?!
I am home."
Wanita berpenampilan anggun datang dari arah dalam rumah. "Kamu ini kebiasaan, setiap pulang selalu teriak-teriak."
"Rumah sepi banget mam, pada ke mana orang-orang?!" tanya Gideon.
"Setiap hari juga seperti ini," keluh Mami. "Cepatlah kamu menikah biar ramai rumah kita."
Gideon memutar bola mata ke atas. "Mulai lagi dech bicara menikah."
"Ya iyalah, hanya itu jalan satu-satunya agar rumah kita ini ramai," sergah mami.
"Banyak cara mam agar rumah kita bisa ramai," Gideon tak kehabisan akal. "Contohnya mami bisa adopsi anak yatim piatu."
Mami menghela napas. "Bicara denganmu memang tidak pernah menang. Adopsi anak tidak segampang kamu bicara," ucap mami berlalu pergi ke arah dapur.
"Mam!" panggil Gideon. "I am hungry!"
"Ganti pakaianmu dulu. Mami akan siapkan makan untukmu!" jawab mami dari kejauhan.
Tak berapa lama, mobil Fortuner hitam masuk ke halaman rumah Gideon. Pria cukup umur namun terlihat masih begitu gagah dan wajah berkharismatik ke luar dari dalam mobil langsung masuk ke dalam rumah.
"Mam!" panggilnya dengan suara berat memecah kesunyian. "Mami sayang, istriku! Nyonya Alex, where are you?!"
"Tidak anak, tidak bapak. Setiap pulang pasti teriak-teriak! Apa tidak bisa sehari saja tidak berteriak Tuan Alex!"
Senyum mengembang di bibir Tuan Alex. "Suaminya pulang bukannya disambut dengan senyuman, ini malah diomelin."
Mami mengambil tas kerja yang ada di tangan suaminya. "Tumben sudah pulang?!"
"Bosan di kantor, tidak ada mami!" jawab Alex. "Hari ini juga tidak ada meeting. Daripada gabut lebih baik pulang."
"Mami sudah menyiapkan makan siang untuk Gideon. Cepatlah ganti baju, kita makan siang sama-sama."
"Bocah itu sudah pulang?!" tanya papi. "Tumben, biasanya tengah malam baru ingat rumah."
Gideon yang sedang menuruni anak tangga mendengar papinya bicara langsung nyeletuk. "Pulang tengah malam juga karena pekerjaan, bukan keluyuran. Papi asal saja kalau bicara."
"Sekarang tumben sudah pulang?! Kenapa?!" tanya papi penuh curiga.
"Yaelah! Pulang siang salah, pulang telat salah," keluh Gideon mendelik melihat papinya sambil berlalu pergi ke ruang makan.
Mami langsung bicara begitu melihat suaminya akan bicara lagi. "Sudah pi! Kalian berdua tidak bisa akur kalau bertemu."
.....
Ditempat lain, Arlyna sedang fokus menyelesaikan gaun rancangannya yang terpasang di manekin.
"Wah, cantik sekali!" pujian terdengar dari pemilik butik, Nyonya Ratih.
"Ini belum selesai," jawab Arlyn tanpa mengalihkan perhatiannya dari boneka manekin.
"Tapi sudah terlihat cantik," puji Nyonya Ratih. "Kapan gaun malam ini akan diambil."
"Sabtu depan," jawab Arlyna. "Saya sendiri yang akan mengantarnya ke rumah Nyonya Mela."
Nyonya Ratih manggut-manggut. "Ok! Selesaikan dengan baik gaun malam ini. Nyonya Mela salah satu pelanggan kita yang punya nama di antara nyonya-nyonya sosialita. Jangan sampai dia kecewa."
"Jangan khawatir bos! Saya akan melakukan yang terbaik!"
Pemilik butik melihat gaun rancangan Arlyna satu per satu yang dipasang di boneka manekin. Wajahnya terlihat puas.
"Arlyna!" panggil teman kerjanya, Sirin. "Ada orang mencari loe!"
"Siapa?!"
"Cowok!" jawab Sirin. "Cepatlah temui orangnya! Dia menunggu loe di depan membawa buket bunga!"
Dengan wajah bingung dan penasaran, Arlyn menemui orang tersebut.
"Nona Arlyna Aira?!" tanya pria muda berpakaian rapi yang dimaksud Sirin.
"Iya, saya sendiri."
"Ini ada buket bunga untuk nona." Pria tersebut menyerahkan buket bunga mawar putih.
Setelah tanda tangan sebagai tanda terima, Arlyna kembali ke ruang kerjanya.
"Cantik sekali bunganya." Nyonya Ratih masih berada di antara gaun-gaun malam hasil rancangan Arlyna. "Dari kekasihmu ya?!"
"Saya tidak punya kekasih," jawab Arlyna. Diambilnya kertas kecil putih yang terselip di antara bunga mawar. Tertera sebuah inisial di kertas tersebut, Z.
"Lalu dari siapa bunga itu?!" Nyonya Ratih jadi penasaran.
"Tidak tahu," Arlyn memberikan kertas kecil pada Nyonya Ratih.
"Z?"
Arlyna mengangguk. "Iya dan saya tidak tahu siapa itu?!"
Nyonya Ratih tersenyum. "Wow, kamu punya penggemar tersembunyi."
"Saya bukan artis," Arlyn tersipu malu. "Mana ada penggemar. Bunga ini daripada mubajir dibuang, bagaimana kalau ditaruh di depan?"
"Boleh, atur saja sesukamu."
Setelah itu Nyonya Ratih pergi meninggalkan Arlyna dengan pikiran digelayuti kebingungan, siapa yang mengirimnya bunga dengan inisial Z.
....
Waktu terus berlalu, meninggalkan hari ini untuk menyongsong hari esok. Begitu juga dengan kediaman keluarga Tuan Alex. Pagi-pagi sekali suasana ramai sudah terlihat di dapur.
"Bibi! Jangan sampai ada yang terlewatkan. Periksa semuanya dengan teliti lagi, ok!" seru Nyonya Alex pada asisten rumah tangganya, Bi Iyem yang juga istrinya mamang.
"Iya nyonya!"
"Awas saja kalau ada yang terlewatkan, saya potong gaji bibi selama tiga bulan ke depan!" ancam Nyonya Alex.
"Aduh, jangan dong nyonya! Nanti anak-anak bibi di kampung tidak makan."
"Makanya kerja yang benar!" Setelah itu, Nyonya Alex pergi untuk melihat pekerjaan lainnya.
Gideon baru saja ke luar dari kamar. Wajahnya nampak tidak bersemangat.
"Selamat pagi tuan muda!" sapa mamang ketika berpapasan. "Kusut amat padahal matahari bersinar begitu cerah di luar."
"Matahari tak ada hubungannya denganku!" jawab Gideon kesal.
"Pagi-pagi sudah marah-marah! Nanti jauh jodoh tuan!"
Gideon tidak menggubris lagi mamang, kakinya terus melangkah menuruni tangga.
"Morning, kesayangan mami!" sapa Nyonya Alex begitu melihat putranya turun.
"Morning too mam!" jawab Gideon dengan wajah masam berdiri depan Mami. "Ada apa sih mam, pagi-pagi sudah berisik di luar. Mengganggu tidurku saja!"
"Jangan bilang, kamu lupa dengan hari ulang tahunmu?!" tanya Mami penuh selidik.
"Tidaklah Mam, tapi aku kan sudah bilang, ulang tahunku tidak mau dirayakan. Aku ini bukan bocah lagi yang setiap ulang tahun harus dirayakan!" keluh Gideon. "Aku sudah 25 tahun!"
"Kamu ini, anak mami satu-satunya! Wajar dong kalau mami ingin merayakan nya?! Masa cuma karena ulang tahun, kamu sampai marah begitu?!"
Gideon menghela napas. Berdebat dengan mami sampai kapanpun tidak akan menang. Tanpa bicara lagi, langsung pergi ke kantor.
"Nak, tidak sarapan dulu?!" teriak mami.
Gideon tidak menjawab apalagi menoleh, kakinya terus melangkah menuju garasi yang ada di samping rumahnya.
.....
Di tempat lain, butik tempat Arlyna bekerja terjadi kesibukan juga di pagi-pagi.
"Arlyna, kapan akan pergi ke rumah Nyonya Mela?!" tanya Sirin.
"Setengah jam lagi gue berangkat?!" jawab Arlyna sibuk menaruh peralatan jahitnya ke dalam tas yang nanti sekiranya diperlukan.
"Apa gue harus ikut?!"
"Tidak usah! Kalau loe ikut, siapa nanti yang menjaga butik?! Nanti kalau Nyonya Ratih datang, bilang saja gue yang ingin pergi sendirian. Ok!"
"Ok!"
Kedua gadis cantik itupun sibuk melihat kembali gaun yang dipesan Nyonya Mela.
"Bibi!" panggil Nyonya Mela.
Dengan tergesa-gesa bibi datang. "Iya, Nyonya!"
"Kalau ada orang datang dari butik Nyonya Ratih beritahu saya!"
Bibi mengangguk. "Iya Nyonya."
Setelah itu, Nyonya Mela pergi ke ruang makan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya yang rutin dilakukan nya setiap hari.
"Darimana mam?!" tanya suaminya sedang asyik mengoleskan selai coklat ke roti panggang nya.
"Dari dapur melihat persiapan untuk acara nanti malam," jawab istrinya.
"Di mana yang mau ulang tahunnya?!" tanya suaminya tidak melihat keberadaan putra semata wayangnya sarapan.
"Sudah berangkat ke kantor."
"Pagi-pagi begini sudah berangkat ke kantor?!" tanya papi tak percaya. "Biasanya jam segini masih ngorok."
"Tadi dia ngomel karena di rumah pagi-pagi sudah berisik! Padahal berisik juga untuk acaranya dia nanti malam," jelas mami.
Sementara itu jauh dari kediaman Tuan Alex, Arlyna sedang kebingungan di pinggir jalan. Entah kesialan apa yang sedang menimpanya, mobil butik yang sedang dibawanya tiba-tiba saja mogok.
"Kenapa ada acara mogok segala sih ini mobil? Mana mogoknya ditempat sepi lagi, pilih-pilih kek kalau mau mogok!" gerutu dan omel Arlyna melihat mobil Honda jazz merah yang ada di depannya.
Dilihatnya sekeliling, tak ada satu orangpun untuk dimintai tolong bahkan semut lewatpun tak terlihat batang hidungnya.
"Gue harus bagaimana ini?!" tanyanya pada diri sendiri. "Mana bawaan barang gue banyak banget lagi. Masa iya, gue pikul ini semua ke rumah Nyonya Mela?! Yang benar saja!"
Dilihatnya sekali lagi ke sekitar untuk memastikan ada orang atau tidak, tapi hasilnya tetap sama.
Arlyna akhirnya menyerah. Setelah menghubungi bengkel langganan butik, Arlyna membawa semua barangnya berharap setelah berjalan ke depan akan ada kendaraan yang lewat. Satu tangan kanan membawa kotak box yang cukup besar berisi gaun pesanan Nyonya Mela dan satu kiri membawa paper bag berisi perlengkapan jahit menjahitnya dan beberapa aksesoris bila nanti diperlukan sementara tas selendangnya dibiarkan menggantung di bahu.
"Sial banget! Kalau gue menunggu orang bengkel datang, bisa kena semprot Nyonya Ratih karena telat mengantar gaun ini ke rumah Nyonya Mela. Apes, apes!" gerutuan tak hentinya ke luar dari bibir Arlyna.
Satu meter, dua meter telah terlampaui. Kaki Arlyna yang memakai pantofel hitam melangkah dengan sangat hati-hati karena banyak genangan sisa air hujan di beberapa tempat.
Arlyna berjalan sambil bersenandung untuk mengusir kekesalannya dan tentu saja untuk mengusir kesepian disekitarnya.
"Udaranya segar juga di sini, tapi jalannya tidak bersahabat," gumam Arlyna fokus melihat tanah becek yang dilewatinya agar tidak terpeleset.
Selagi asyik berjalan menghindari genangan air pinggir jalan, tiba-tiba sebuah mobil sport warna merah melaju kencang sehingga menciptakan cipratan air kubangan ke tubuh Arlyna yang sedang berjalan.
Sesaat kedua bola mata Arlyna melebar, tak bisa berkata-kata ketika melihat sebagian tubuh dan rambut panjangnya telah ternoda oleh air kubangan.
"Ya ampun!" teriak Arlyna geram setelah beberapa saat terdiam karena shock.
Mobil sport berhenti setelah menyadari ada orang terkena cipratan air kubangan karena ulahnya. Mundur secara perlahan menghampiri wanita yang sibuk membersihkan noda air kubangan di bajunya.
Arlyna geram, menatap tajam mobil sport merah yang berhenti tepat di depannya. "Menyebalkan! Tidak tahu tempat! Sudah tahu banyak kubangan di sini, bawa mobil seenak jidat sendiri!" omelnya.
Satu detik, dua detik pintu mobil tidak juga terbuka begitu juga dengan kaca mobilnya. Arlyna masih berdiri mematung menatap tajam mobil sport merah yang ada di hadapannya, ingin tahu wajah orang yang ada di dalam mobil.
Detik berikutnya yang ditunggu pun tiba, kaca mobil bagian depan perlahan diturunkan. Seraut wajah blasteran dengan alis tebal dan mata teduh melihat pada Arlyna.
"Hai, nona! Are you okay?!"
Arlyna terpana, suara itu ,,, suara yang pernah didengarnya. Wajah itu ,,, wajah yang selalu mengganggu dan bermain di dalam pikirannya siang malam. Ya, dia ,,, dia, pria itu yang telah menolongnya ketika akan jatuh terpeleset. Walau pertemuan itu singkat, tapi sangat membekas dalam hati dan ingatan Arlyna.
"Hai, nona! Apa kamu baik-baik saja?!" tanya pria itu lagi melihat Arlyna hanya berdiri terpaku.
Setelahnya, pria itu pun turun dari mobil dan berdiri tepat di depan Arlyna.
"OMG!" ucap pria itu melihat noda-noda air kubangan menempel di baju dan rambut Arlyna. "Sorry, saya tidak sengaja!" ucapnya lagi penuh penyesalan.
Arlyna tersadar. Walau senang bisa bertemu dengan pria itu lagi, tapi menyadari keadaan tubuhnya yang bagai tikus baru nyemplung dari got membuatnya seketika emosi.
"Maaf, nona!" Pria itu melihat sorot mata gadis yang telah dibuatnya kotor marah.
"Loe! Bawa mobil tidak pake mata!" nyolot Arlyna marah.
Pria tersebut bukannya takut melihat ekspresi wajah Arlyna yang marah, alisnya malah terangkat dua-duanya ke atas. "Saya memang bawa mobil tidak pake mata," ucapnya. "Saya bawa mobil dengan kaki agar bisa melaju dan tangan untuk setir."
Napas Arlyna naik turun tak beraturan. Kotak baju yang isinya gaun malam pesanan Nyonya Mela sudah basah sebagian luarnya terkena cipratan air kubangan.
"OMG!" jerit tertahan ke luar dari bibir Arlyna. "Gaunnya ,,, gaunnya ,,, bagaimana ini?!" Segera Arlyna mencari tempat kering untuk melihat isi kotak yang ada di tangan kanannya.
Pria itu mengikuti Arlyna dari belakang. Wajahnya terlihat sangat bersalah.
"Untunglah, gaunnya tidak apa-apa," gumam Arlyna melihat isi dalam kotak tidak terkena noda sedikitpun.
Setelah itu, Arlyna kembali berhadapan dengan pria tersebut. Menatap galak.
"Saya benar-benar minta maaf, saya tidak sengaja. Jangan khawatir, saya akan mengganti semua kerugian," ucap pria itu.
"Enak banget loe ngomong!" seru Arlyna galak. "Lalu bagaimana dengan keadaanku ini? Bajuku kotor semua!"
Pria tersebut garuk-garuk kepala tak gatal melihat Arlyna dari atas sampai bawah. Ingin tertawa, tapi tidak etis dong kalau menertawakan keadaan Arlyna karena ulahnya.
"Gue juga harus cepat-cepat pergi ke rumah pelanggan mengantar pesanannya," omel Arlyna. "Tidak mungkin gue datang dengan keadaan begini! Sial banget gue hari ini, mobil mogok eh,, malah kena semburan air kubangan," tak hentinya Arlyna menggerutu karena kesal.
"Kalau begitu ikut denganku," ajak pria tersebut.
"Hah?!"
"Jangan salah paham! Saya akan bertanggung jawab atas kondisi anda itu," jelasnya menahan tawa melihat keadaan Arlyna bagai tikus dalam got. "Nama saya, Gideon Bastian," mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Arlyna terdiam, bagaimana bisa bersalaman kalau kedua tangan penuh dengan barang bawaan.
Pertemuan yang selalu diawali dengan hal tak terduga antara Arlyna dan Gideon membawa cerita tersendiri dalam kehidupan mereka selanjutnya.
"Ini rumah loe?!" tanya Arlyna kaget karena Gideon membawanya ke alamat rumah yang menjadi tujuan Arlyna.
"Iya," jawab Gideon santai, parkir di depan rumahnya yang megah. "Nanti saya akan minta bibi untuk membantumu membersihkan diri," ucapnya. "Dan satu lagi, jangan panggil loe gue, rasanya tidak enak di dengar. Panggil saja Gideon."
Gideon turun dari mobil, berputar membukakan pintu untuk Arlyna yang masih shock dengan apa yang terjadi. Sungguh semuanya menjadi serba kebetulan.