Bab 1

Kami baik-baik saja setelah kepergian Ibunda kami tercinta.

Sampai semua menjadi rumit ketika calon Ratu istana ini jatuh cinta. Menentang peraturan kerajaan bahkan dia rela kabur demi pria yang dia cintai.

Tapi ini bukan tentang ku, karena aku hanyalah yang menulis kisah mereka.

Ini tentang kakak ku, Masa depan Fortania ada dalam genggamannya. Namanya Harlein Meera Derson Ozvick.

Ku pikir kalian membutuhkan hati yang kuat dan tegar untuk membaca kisah ini, karena ini lebih rumit dari kisah Zyan dan Meera.

***

Matahari seolah tersenyum kepada wanita yang kini tengah berjalan membelah kerumunan orang di sekitarnya. Menggunakan jubah berwarna putih, wanita itu berjalan dengan sangat anggun.

Tiba dia di atas pentas berhadapan dengan sang Raja. Zyan, pria yang sudah tidak lagi muda itu hari ini sangat bahagia karena dia akan memberikan kekuasaannya kepada putri yang dia cintai.

Harlein, putri sulungnya. Zyan membuka jubah Harlein lalu dengan pedoman dari sang pembawa acara dia memakaikan mahkota Ratu untuk Harlein. Semua orang bertepuk tangan, mereka sangat bahagia karena Harlein memang layak menjadi seorang Ratu.

Meski masih berusia dua puluh dua tahun namun kepintaran dan kecakapannya untuk memimpin tidak perlu di ragukan lagi.

Memiliki wajah yang mirip dengan Ibundanya, dan juga sopan santun kepada semua orang.

Harlein dekat dengan rakyatnya, dia sering ikut dengan Meera jika ada acara amal dan lainnya.

Rakyatnya mencintai Harlein, dan sekarang tanggung jawab untuk membawa Fortania lebih jaya lagi dari sebelumnya ada di tangan Harlein.

Kedua adik kembarnya bertepuk tangan semangat setelah Harlein mengucapkan sumpahnya kepada Kerajaan.

"Jadilah Ratu yang mengutamakan rakyatnya," ucap Zyan lalu merangkul bangga Harlein di sampingnya.

****

Harlein sangat lelah, dia baru saja melewati sidang kedua dalam hidupnya.

Ya sidang, karena sidang pertama asalah saat dia melakukan wawancara untuk kelulusan kuliahnya dan yang kedua adalah dia harus mengucapkan sumpah menjadi Ratu di depan banyak orang.

Harlein masih menggunakan gaun berwarna putih yang tadi dia gunakan. Dia tahu harus segera mengganti pakaiannya karena para keluarga bangsawan akan melakukan makan malam bersama di taman istana.

Ketukan pintu membuat Harlein menarik napas panjang. "Ya masuk," jawabnya dan pelayan pribadinya tersenyum lalu menunduk memberi hormat.

"Ratu, anda diminta bergabung sekarang." Noor nama pelayannya itu yang sudah dianggap sahabat oleh Harlein sendiri.

"Oh Tuhan aku benar-benar lelah Noor, rasanya aku hanya ingin makan keju lalu tidur." Harlein menutup wajahnya dengan bantal.

Noor tertawa kecil lalu menyiapkan gaun baru untuk Harlein kenakan, mau tidak mau Harlein juga harus bersiap dan dia sudah berada di taman istana dengan gaun yang lebih santai berwarna hijau tosca. Mahkota di kepalanya sudah tidak lagi dia gunakan, menggantinya dengan mahkota kecil yang sangat manis.

"Ini dia bintangnya, ayo sayang bergabung bersama kami." Harlein tersenyum mendengar sambutan dari pamannya itu. Akhtar seorang Raja dari Wieldburg, dan juga sudah digantikan posisinya oleh anaknya Aryan.

"Zyan bagaimana jika kita nikahkan saja mereka berdua ?" kata Akhtar yang membuat Harlein dan Aryan langsung serempak menolak.

"No !" kata mereka berdua dan mengundang tawa dari semuanya.

"Pasti akan sangat seru jika kalian menikah," kata sepupu Harlein bernama Afrain.

"Berbicara lagi akan aku rusak wajah tampan dan sombong milikmu itu Afrain," balas Harlein.

Zyan menepuk lembut bahu Harlein membuat semua orang merasakan suasana yang haru.

"Meera pasti sangat bahagia saat ini." Harlein tersenyum lembut lalu memeluk Zyan.

"Besok kau akan memimpin rapat pertama secara resmi Harlein, apa kau sudah menyiapkan siapa anggota parlemen kerajaan ?" Harlein mengangguk mantap.

"Sudah ayah, besok pagi akan aku bahas bersama ayah sebelum rapat di mulai." Zyan mengangguk paham.

Semua orang sibuk dengan perbincangan calon menantu untuk Aryan dan Harlein tau jika Aryan sangat bosan mendengarnya.

Hingga namanya ikut terseret dan dia menjadi bahan tertawaan Aryan.

Kriteria yang harus menjadi pendamping Harlein memang haruslah sesuai dengan dirinya.

Bahkan Zyan menjabarkannya dengan detail.

Mencintai Harlein, Berpendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik, sopan, dan yang paling penting memahami posisi Harlein sebagai seorang Ratu.

Harlein tersenyum miris karena dia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, masa remajanya hanya dia fokuskan untuk mengurus kerajaan dan juga fokus dengan semua pelajaran dan semua bisnis yang harus dia kelola. Harlein menjalani hidupnya lebih seperti seorang pria daripada wanita.

"Harlein, aku ada satu kandidat yang pantas untukmu jika kau mau berkenalan dengannya," suara Vienza membuat Harlein langsung menggelengkan kepala.

"No aunty, but thanks. Aku lebih memilih fokus dengan kerajaan dulu baru akan mencari pasangan."

"Jangan terlalu menunda waktu Harlein, jika kau tua tidak ada lagi yang mau denganmu. Kau tahu, kau pasti sudah tidak menarik lagi." Apa yang dikatakan Afrain langsung membuat Harlein meninju bahu pria itu kuat hingga Afrain mengaduh.

"Ya Tuhan ! kau ini wanita apa pria," gerutu Afrain karena pukulan dari Harlein membuat bahunya nyeri namun semua orang malah tertawa.

"Sudah, sudah. Siapa pun yang akan menikahi putri ku adalah pria yang sangat beruntung." Harlein lagi-lagi memeluk Zyan dengan sayang. Dia tahu disaat berkumpul seperti ini pasti Zyan sangat merindukan ibundanya. Harlein juga merasakan hal yang sama, sudah terlalu lama ibundanya pergi dari mereka.

Harlein menghapus airmata yang jatuh, lalu Axcel ikut memeluk kakak dan ayahnya itu dari belakang. Mereka benar-benar sangat merindukan Meera, rasanya terlalu cepat Meera meninggalkan mereka. Harlein bahkan ingat saat mereka berkumpul seperti ini dulu Meera pernah mengatakan tidak sabar untuk melihat Harlein dan Axcel menikah, dia juga tidak sabar memiliki menantu yang cantik dan merawatnya jika dia tua. Meivo di tempatnya mengusap langsung airmata yang jatuh, dia pria dia tidak akan menunjukkan betapa dia lemah jika itu sudah tentang kerinduannya akan sosok ibundanya.

"Sudah jangan bersedih lagi, kalian harus selalu bahagia agar Meera juga bahagia," ujar Zia yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Sejujurnya dia juga sedang banyak masalah karena Azura belum juga keambali dari persembunyiannya.

"Oh ya, satu minggu lagi kita akan ke Indonesia untuk acara yang ulang tahun perusahaan. Apa kalian semua akan pergi ?" tanya Roland.

"TENTU SAJA !" jawab semua anak muda disana semangat jika sudah pergi ke Indonesia mereka akan sangat bersemangat terutama Afrain dan Axcel.

Bersambung...

Bab 2

Setiap orang punya cerita tersendiri

Begitu juga aku yang hina ini.

Tapi aku tidak mungkin bercerita tentang diriku.

Karena cerita ku terlalu buruk dan menjijikkan.

*****

Suara pecahan kaca kembali didengar oleh Angga, dia langsung menuju dapur takut jika sesuatu yang buruk terjadi. Dan benar saja, dia melihat darah mengalir dari telapak tangan ibu nya. Angga melihat, namun dia tidak ingin bersuara, hanya membantu ibunya berdiri lalu membersihkan serpihan kaca.

"Lihat ! ibu dan anak sama saja. Sama-sama tidak berguna." Angga diam, dia tidak pernah membalas hinaan yang di keluar dari mulut ayah kandungnya.

"Kau lah yang tidak berguna ! Tidak memberikan nafkah dan selalu mabuk-mabukan. Kenapa kau kembali kesini brengsek !" Lisa mendorong tubuh tegap didepannya itu dan tangan suaminya siap terangkat untuk memukulnya namun Angga menahannya.

"Jangan ayah," katanya pelan lalu segera mengajak Lisa masuk kedalam kamar. Baru mereka sampai di ambang pintu Angga sudah melihat adik wanitanya keluar kamar dengan masih menggunakan pakaian minim lalu membanting pintu rumah.

"Angga kemana adikmu pergi ?" tanya Lisa. Namun bukan Angga yang menjawab, Handoko lah yang menjawab.

"Kemana lagi jika bukan menjual dirinya," kata pria itu sarkas.

Handoko adalah pria yang sangat kasar, setelah terkena PHK dia sulit mendapat lagi pekerjaan baru. Sehingga kerjanya hanya menjadi seorang penjudi dan mabuk-mabukkan. Lisa lah yang bekerja serabutan demi bisa menyekolahkan kedua anaknya. Namun Angga mengalah agar adiknya saja yang sekolah, sehingga Angga hanya sekolah sebatas SMP saja, sementara Adiknya Dita melanjutkan sekolah hingga SMA.

Saat memutuskan berhenti sekolah itu, Lisa sedang jatuh sakit sementara Handoko tidak pernah lagi pulang. Sehingga Angga memilih berhenti sekolah agar bisa bekerja di pasar menjadi tukabg bersih-bersih, Angga adalah pria yang pendiam dan juga sangat tertutup. Dia hanya memiliki dua orang sahabat yang juga tetangga di rusun tempat mereka tinggal.

Adit dan Musa. Kedua orang itu adalah sahabat yang sangat mengerti keadaan Angga.

"Ibu masuklah, nanti Angga cari Dita." Angga mengajak ibunya masuk kedalam kamar sementara Handoko pergi entah kemana.

"Angga, kamu nanti malam jadi pergi ?" Angga mengangguk. Angga memang sudah mengatakan kepada ibunya kalau dia akan pergi untuk bermain musik di sebuah acara perayaan.

"Ibu tenang saja, tunggu saja Dita pulang. Angga akan mencarikan kita kontrakan baru dan ibu bisa berobat lagi." Lisa mengusap rambut anaknya itu, dia merasa kasihan kepada Angga yang harus menanggung semua beban. Biaya berobatnya, makan mereka sehari-hari belum lagi mengurusi hutang-hutang Handoko diluar sana."

"Maafkan ibu Angga," kata Lisa menangis.

"Ibu jangan berkata seperti itu, dulu ibu merawat Angga dan Dita. Sekarang saatnya kami yang merawat ibu, Angga cuma minta ibu sehat-sehat terus," katanya dan tersenyum kepada ibunya. Lalu keluar untuk mencari adiknya yang ternyata berada di rumah tetangganya.

Dia tahu adiknya sangat tidak tahan dengan keadaan dirumah mereka dan Dita sangat membenci Handoko, namun apa yang harus mereka lakukan karena Handoko tetaplah orangtua mereka. Angga meminta Dita untuk berbelanja ke pasar dan memasak, saat dia ingin memberikan uang Dita tidak mau menerimanya.

"Loe simpan aja, gue juga punya duit. Yang penting kita harus bawa ibu pergi biar manusia gak berguna itu gak bisa datang lagi." Angga tahu darimana Dita mendapatkan uang itu dan dia tidak suka dengan pekerjaan yang dijalani Dita.

"Loe mending cari pekerjaan baru Dit, loe masih muda dan banyak kerjaan yang bisa loe dapatin."

"Gue gak cantik dan gak pinter, jadi cuman kerja di Bar itu yang bisa gue lakuin. Mudah-mudahan nanti ada om-om kaya yang mau nikahin gue biar kita gak hidup susah lagi." Angga tidak ingin menjawabnya dia hanya menepuk kening Dita tanda tidak setuju.

"Nanti sore gue pergi mungkin pagi baru balik karena langsung ke Club," katanya.

Angga sekarang menjadi pemain musik di salah satu band dan juga menjadi seorang DJ yang gajinya juga tidak seberapa, karena Angga baru masuk ke dunia itu. Semua itu juga dia lakukan karena jam kerja yang bisa dia lakukan di sore hari, sementara jika pagi sampai siang dia akan bekerja sebagai pemotong daging di pasar tradisional.

Wajahnya yang tampan dan tidak banyak bicara membuat banyak orang menyukainya, banyak yang ingin kenal lebih dekat dengan Angga namun pria itu menolak dan tetap menjaga jarak dengan semua orang. Di dalam hidupnya dia hanya ingin membahagiakan ibunya dan hidup dengan tenang, seperti rencana yang dia dan Dita adiknya susun. Mereka akan mengumpulkan uang lalu pergi meninggalkan semua kenangan buruk di rusun tempat mereka tinggal, dan yang paling penting menjauh dari Handoko.

Penyakit jantung ibunya juga harus dia pikirkan, bagi dia yang sangat tahu bagaimana susahnya ibunya menjaga serta bekerja keras demi agar mereka bisa makan dengan layak menjadi cambukan untuk Angga agar terus menjaga ibunya. Tidak ada orang di dunia ini yang ingin hidup di posisinya, memiliki seorang ayah yang hanya memberi mereka kesulitan, tidak ada orang yang ingin namun jika Tuhan sudah menggariskan kehidupannya seperti itu Angga hanya bisa menjalaninya bukan ? dan itulah yang dilakukan Angga, bekerja dan terus berusaha mencapai tujuan mereka.

****

Malam pun menyapa, Angga sudah siap dengan pakaian yang dia kenakan. Dia mengisi posisi sebagai gitaris. Di band itu juga ada Adit dan Musa. Adit sebagai vokalis Bersama dengan satu orang wanita dan Musa yang bermain piano. Ada beberapa orang lagi tapi Angga tidak terlalu dekat dengan mereka.

Job panggung mereka kali ini terbilang sangat mahal, karena mereka mengisi acara untuk perusahaan Derson Groub. Mimpi Angga adalah bisa bekerja di perusahaan itu, namun apa daya dia hanya mampu menjadi seorang gitaris.

Mereka bisa mendapatkan job itu juga tak lain karena Musa berteman dengan salah satu karyawan di Derson Groub dan dengan suara Musa yang sempurna temannya dengan senang hati memberikan job panggung itu pada mereka.

Jeda permainan band pun terhenti ketika beberapa artis mengisi acara itu, dan kesempatan itu di gunakan Angga dan teman-temannya untuk beristirahat dengan makan atau hanya sekedar duduk mengambil minuman.

Angga yang merasa lapar tentu lebih memilih makan, tapi sayangnya dia menabrak salah satu wanita di pesta itu mengakibatkan kemeja yang dipakai Angga harus terkena saus dari makanan si wanita.

"Ups...sorry," kata wanita itu.

Tbc...

Bab 3

Pesta ulang tahun perusahaan Derson Group di Jakarta sangat ramai di hadiri oleh para kolega bisnis, karyawan perusahaan, maupun artis-artis dan politisi. Banyak orang terkenal bahkan pejabat tinggi yang ada di acara itu, acara itu juga menjadi ajang bagi Zyan memperkenalkan Harlein dengan pria-pria tampan dengan segudang kelebihan mereka. Baik dari artis, politisi muda, anak mentri, bahkan CEO muda, tapi Harlein tidak tertarik. Pikirannya hanya tertuju di satu tempat yaitu , kamar. Dia sungguh lelah dan merasa harus beristirahat.

"Ayah aku lapar," kata Harlein membuat Axcel adiknya tertawa.

"Ya sudah kalian pergilah makan, ayah akan menyapa beberapa tamu lainnya."

Harlein dan Axcel tersenyum lebar lalu segera mengisi perut mereka lalu setelahnya berniat langsung kembali ke rumah besar Derson. Tempat seluruh keluarga menginap jika sudah berada di Jakarta.

Saat mengambil makanan Harlein bersiap untuk mencari tempat duduk namun sialnya dia menabrak tubuh seseorang mengakibatkan isi piringnya mengenai kemeja yang dikenakan pria itu.

"Ups sorry," katanya lalu Axcel segera memberikan tisu yang sedang dia pegang. Harlein ingin membantu membersihkan noda di pakaian pria itu namun pria itu tidak mengijinkan dirinya menyentuh sama sekali.

"Tidak apa-apa. Saya bisa membersihkannya," ujar pria itu menatap Harlein dan pandangan teduh dengan mata tajam Angga berhasil membuat Harlein terpaku.

"Permisi," katanya lagi membuat Harlein tersadar. Dia terus mengamati punggung tubuh tegap yang menghilang dari pandangannya itu.

"Kak kau jadi makan atau tidak ?"

"Hah !"

"Ck, makanan mu sudah tumpah. Jadi makan atau tidak ?" tanya Axcel kesal.

"Axcel apa kau kenal pria itu ?" pertanyaan Harlein membuat Axcel menghela napas, bagaimana mungkin dia tahu siapa pemuda itu jelas-jelas dia selalu bersama Harlein sedari tadi.

Harlein mengambil posisi duduk di meja bundar tempat dimana beberapa sepupunya duduk, lalu dia memperhatikan sosok pria yang tadi. Harlein tersenyum begitu saja saat melihat wajah pria itu, kemejanya masih terlihat terkena noda membuat Harlein merasa bersalah.

Memainkan gitar dan terkadang ikut mengisi suara untuk bernyanyi benar-benar pemandangan yang sangat indah dan membuat Harlein betah terus menatapnya. Axcel terus mengamati arah pandang Harlein dan dia menggelengkan kepalanya. Tidak ingin saudara mereka yang lain curiga, Axcel mengirimkan pesan ke ponsel Harlein lalu menyenggol lengan Harlein.

Dia menunjuk ke arah ponsel Harlein yang ada di atas meja dengan pandangan mata. Harlein membaca pesan itu.

Jaga pandangan mu, dia tidak masuk dalam kategori yang di inginkan menjadi pendamping seorang Ratu. Jangan sampai kau tidak bisa berpaling kak.

Harlein berdecak lalu tersenyum ke arah Axcel, dia tahu jika apa yang di sampaikan adiknya itu benar. Lalu Harlein berhenti mengamati pria yang pertama kali membuatnya terpesona itu. Menurut Harlein pria itu sangat keren, seorang anak band yang tampan. Harlein geli sendiri dengan pemikirannya.

*****

Job untuk mengisi acara di kalangan orang kaya itu pun usai, Angga merasa lega karena setidaknya satu tugas yang uangnya lumayan itu sudah selesai dia kerjakan. Tapi sepertinya harus mengeluarkan uang lebih untuk mencuci kemeja yang dia kenakan.

Angga ingin pergi ke club tempat dia menjadi seorang Dj, dia menggunakan toilet hotel untuk mengganti pakaian dan saat keluar dari toilet itu dia lagi bertemu dengan wanita yang tadi menabraknya atau mungkin dia yang menabrak.

"Oh hai," sapa wanita itu terlihat sangat ramah dan Angga hanya memberikan senyuman.

"Bagaimana dengan kemeja mu ? apa kau ingin aku yang membersihkannya, ehm..maksud ku untuk membawanya ke tempat laundry ?" tanya wanita cantik di hadapannya itu.

"Tidak apa-apa, aku bisa mengurusnya sendiri." Angga menunduk sopan untuk pamit dari hadapan Harlein membuat sedikit kecewa di hati wanita itu karena sikap dinging Angga.

****

Club malam adalah salah satu tempat yang paling tidak di sukai Angga sebenarnya, namun mau bagaimana lagi hanya disana dia bisa mendapatkan uang. Asap rokok, wanita yang menggunakan pakaian minim juga menjadi hal yang tidak dia sukai. Namun Angga harus berpura-pura enjoy dengan pekerjaannya itu. Tugasnya adalah untuk menghibur para tamu disana, jadi dia harus terlihat menikmati semuanya.

Tepukan tangan dan suara orang berteriak menikmati musik yang dia mainkan setidaknya menjadi pemicu Angga untuk bertahan berjuang mengikis waktu demi waktu lalu pulang membawa uang.

Tiba dia melihat satu orang wanita duduk sendirian dan dia tadi baru saja bertemu wanita itu. Wanita yang memiliki sorot mata yang begitu berbinar saat bicara, senyuman manis dan wajah yang cantik. Angga langsung menghapus pikirannya akan wanita yang duduk seorang diri di salah satu bangku tamu. Tapi sedetik kemudian dia melihat wanita itu di tarik seorang pria untuk ikut menari bersama membuat wajah wanita itu masam dan sangat menggemaskan.

Tanpa di sadari Angga tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.

Seseorang menepuk pundaknya, "Namanya kalau tidak salah Harlein. Dia jauh dari jangkauan kita bro. Dia salah satu pewaris dari Derson Group tempat kita mengisi acara tadi, dan ini loe liat manusia yang pesan private party ini adalah sepupunya Afrain Derson." Angga mendengar semua fakta tentang wanita itu dari Musa membuat dia berpikir kenapa harus dia tahu semua itu, dia juga tidak berniat mendekati wanita bernama Harlein itu.

Jika ditanya apakah Angga ingin memiliki pasangan, tentu dia ingin memiliki kekasih. Tapi tidak untuk saat ini, dia percaya akan bertemu dengan orang yang tepat dan dia akan membahagiakan wanita itu seumur hidupnya. Wanita yang bisa menerima semua cerita pahit di hidupnya.

Terkadang Angga juga berpikir wanita seperti apa kira-kira yang akan menjadi kekasihnya ?

****

Subuh menjelang dan Angga baru tiba dirumah, dia melihat Dita juga sepertinya baru pulang bekerja. Ruangan yang sempit yang mereka sebut rumah itu terasa semakin sesak ketika mendengar suara Handoko.

Kali ini entah karena apa lagi pria itu marah-marah di dapur, dan segera saja Angga menyusul kesana. Namun saat Angga tiba sebuah pukulan sudah dilayangkan Handoko kepada Lisa, membuat wanita itu terjatuh ke lantai dan langsung tidak sadarkan diri.

"Bu," teriak Angga membuat Dita yang tadinya tidak ingin perduli dengan keributan yang terjadi langsung keluar kamar dan melihat Angga sudah menggendong tubuh Lisa.

"Bawa jaket ibu Dit," kata Angga langsung kepada adiknya. Dita langsung masuk kedalam kamar dan ingin menyusul keluar bersama Angga namun suara Handoko membuatnya geram.

"BIAR AJA ITU WANITA GAK BERGUNA MAMPUS SEKALIAN !"

Dita mengarahkan pisau ke mata Handoko dan dia sudah sangat geram. "Loe keluar dari rumah ini dan jangan pernah balik, kalau loe sampai balik gue bakal langsung bunuh loe !" kata Dita dengan mata yang sangat menantang ayahnya sendiri.

Tapi Handoko tidak takut, dia malah tertawa membuat Dita langsung ingin menancapkan pisau ke perut pria tua tidak tahu diri itu. Namun untungnya Adit yang mendengar keributan dari rumah Angga langsung keluar dan melihat. Di menepis tangan Dita dan langsung berteriak.

"LOE UDAH GILA YA ! LOE BISA MASUK PENJARA TAHU GAK !"

Dita tidak memperdulikannya lagi, dia lalu keluar memilih segera mengikuti Angga. "Dit titip rumah, usir aja itu orang gila."

*****

Angga turun dari dalam taksi langsung membawa tubuh Lisa ke ruangan gawat darurat, beberapa perawat ikut langsung membantu Angga dan seorang dokter langsung mendekati Lisa yang sudah tidak sadarkan diri.

"Maaf anda bisa tunggu diluar dulu ya," kata salah satu perawat yang tadi sempat bertanya-tanya tentang identitas juga tentang apa yang terjadi kepada Lisa.

Dokter tak lama langsung keluar dari ruangan UGD dan menghampiri Angga dan Dita yang terlihat sangat gelisah. "Bagaimana dok ?" tanya Angga dan dokter itu dengan berat hati mengatakan jika Lisa sudah tidak dapat di selamatkan lagi. Dita langsung berteriak histeris dan Angga hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya.

Baru Angga akan mengatakan jika mereka akan pindah dan meninggalkan Jakarta karena uang tabungan Angga sudah cukup, kini ibu yang dia cintai sudah meninggalkan mereka lebih dulu. Dita memeluk tubuh Lisa yang dibawa keluar oleh perawat untuk di bersihkan, dan Angga diminta untuk mengurus semua dokumen dan pembayaran.

Dengan langkah kaki yang berat Angga berjalan pelan untuk mengurus semuanya, dia tidak menyadari ada seorang wanita yang menatapnya dengan senyuman dan ingin melambaikan tangan, tapi ternyata Angga tidak melihatnya.

Harlein kesana dengan Via tantenya, dia menemani Via untuk kontrol kesehatan. Harlein mengatakan kepada Via jika dia ingin ke toilet sebentar, namun yang dia lakukan adalah mengikuti Angga. Harlein tidak berani terlalu dekat dengan Angga saat pria itu sedang berbicara dengan petugas rumah sakit, hingga setelah semua selesai barulah Harlein mengikuti lagi Angga yang berjalan ke ruang jenazah. Harlein melihat seorang wanita yang berlari memeluk Angga, wanita itu meraung kesakitan dan tubuh Lisa pun di bawa keluar oleh perawat, mereka akan langsung membawa jenazah Lisa ke sebuah masjid di dekat rusun untuk di shalat kan. Angga tampak menelpon seseorang sambil masih menenangkan adiknya.

Harlein pun menyadari apa yang terjadi, dia mendekati Angga begitu saja ingin menyentuh bahu pria itu namun urung dilakukan karena Angga berbalik menghadapnya. Pria itu terkejut karena kehadiran Harlein disana namun dia mengabaikannya, ada hal penting yang harus dia urus termasuk melapor kepada polisi tentang apa yang terjadi. Handoko harus di tangkap, dokter yang memeriksa Lisa pertama kali pun sudah memberikan laporan hasil pemeriksaan.

Terdapat luka di bagian perut Lisa dan juga dua memar di wajahnya, semua itu dengan jelas menggambarkan jika Lisa mendapatkan kekerasan dari suaminya sendiri.

****

Masjid di dekat rusun di daerah Jakarta Utara itu ramai dengan orang-orang yang sudah selesai melakukan shalat jenazah lalu mereka akan pergi ke pemakaman umum. Harlein ada disana seorang diri, dia sedih melihat keluarga yang ditinggalkan salah satu anggota keluarga mereka. Tentu Harlein dapat merasakan kesedihan itu, dia pernah mengalaminya.Hari kehilangan Meera adalah hari terburuk didalam hidup Harlein. Harlein memakai kacamata yang dia bawa didalam tasnya, dan juga menutup kepalanya dengan syal. Dia ikut mengantar jenazah Lisa menggunakan taksi yang dia sewa.

Wanita yang dilihat Harlein memeluk Angga tadi tidak henti-hentinya menangis, ada juga beberapa petugas polisi yang hadir disana dan berdiri disebelah Angga. Setelah semua prosesi pemakaman selesai Angga masih disana meski adiknya sudah dibawa tetangga untuk pulang. Polisi masih menunggu Angga untuk keluar dari pemakaman itu, dan saat itulah Harlein mendekat. Dia menaburi kelopak bunga mawar untuk kuburan Lisa.

"Kau harus kuat, disana ibu mu pasti sudah bahagia." Harlein berbicara mengundang perhatian Angga.

"Kau sedang apa disini ?" tanya Angga tanpa basa-basi.

"Maaf jika kau keberatan aku disini, aku hanya melihat mu dan wanita tadi sangat bersedih sehingga aku mengikuti kalian," kata Harlein namun Angga kembali diam dan menatap kuburan ibunya.

"Aku juga kehilangan ibu ku saat usia ku lima belas tahun, dan itu menjadi hari terburuk bagi ku." Harlein terasa sesak saat kembali mengingat hari dimana dia harus rela melepaskan kepergian ibundanya. Tanpa dia duga Angga menatapnya lalu mengusap bahunya.

"Terima kasih sudah ikut mengantarkan ibu ku sampai kesini, aku pergi dulu." Angga lalu bangkit dari posisinya dan pergi dari tempat itu. Dia sempat menoleh kebelakang melihat Harlein yang masih setia memandangi makam ibunya.

Angga kemudian langsung bergegas menemui polisi yang sudah menunggunya sedari tadi.

Ponsel Harlein berbunyi dan itu dari Zyan, dia menepuk jidatnya lalu segera pergi dari makam sambil mengangkat telpon.

"Harlein kau dimana ? kita harus segera kembali ke Fortania apa kau lupa ?"

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

HARLEIN

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED